Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Reproduksi adalah suatu proses biologis suatu individu organism baru diproduksi.
Reproduksi merupakan cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk
kehidupan oleh pendahulu setiap individu organism untuk menghasilkan suatu generasi
selanjutnya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis, yakni seksual dan
aseksual.

Sapi betina tidak hanya memproduksi sel kelamin yang sangat penting untuk mengawali
kehidupan turunannya yang baru, tetapi ia menyediakan pula tempat beserta lingkungan
untuk mengembangkan individu baru itu, dimulai dari waktu pembuahan ovum dan
memeliharanya selama awal kehidupan. Tugas ini dilaksanakan oleh alat reproduksi primer
dan sekunder.

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang organ reproduksi betina. Organ
reproduksi betina terdiri dari organ reproduksi primer, yaitu ovarium memproduksi ovum
dan hormone betina (Estrogen dan Progesteron). Organ reproduksi sekunder terdiri dari tuba
fallopi (Oviduct), uterus (Cornua, Corpus, Cerviks), vagina, dan vulva. Fungsi alat alat ini
adalah menerima dan mempersatukan sel kelamin jantan dan betina, memelihara dan
melahirkan individu baru.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dan organ penyusun system reproduksi betina?

2. Bagaimana struktur histology ovarium dan oviduct?

3. Bagaimana struktur histology uterus, servik, dan vagina?

1.3 TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :

1
1. Mengetahui pengertian dan organ penyusun system reproduksi betina.

2. Mengetahui struktur histology ovarium dan oviduct.

3. Mengetahui struktur histology uterus, servik, dan vagina.

1.4 MANFAAT

Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu :

1. Hasil tugas kami dapat dimananfaatkan oleh kalangan mahasiswa Universitas Udayana
khususnya Kedokteran Hewan.

2. Hasil tugas ini dapat menjadi arsip yang dapat membantu untuk mengerjakan tugas yang
berhubungan denga organ reproduksi betina pada hewan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Organ Reproduksi Betina


Organ reproduksi merupakan sistem genitalia feminim yang mana terdiri dari Ovarium,
Oviduct, Uterus, Vagina, dan Glandula mammae

Organ reproduksi betina pada hewan terdiri dari organ kelamin primer dan organ kelamin
sekunder.

2.2 Organ Kelamin Primer


1. Ovarium

Gambar 2.1 Struktur Histologi Ovarium

Jumlahnya sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung
(mesovarium). Ukuran serta bentuk ovaria pada hewan muda dengan yang dewasa
menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda,
yakni : Kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin karena pada
periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel the graaf) progesteron (korpus
luteum) dan relaksin (korpus luteum).

3
Struktur histologi bangun ovaria dewasa berubah-ubah tergantung pada siklus kelamin,
tetapi bangun umum pada mamalia secara garis besarnya hampir sama, sedangkan pada
kuda dan ayam agak menyimpang. Begitu pula bangun ovaria muda dan dewasa juga
berbeda.

Strukutur histologi nya sebagai berikut :

Kapsula :

Epithel kuboid (germinal epithelium). Pada hewan muda bangun epithel


kubis atau silindris rendah tapi pada yang dewasa kubis rendah. Hampir
seluruh permukaan ovaria dibalut oleh epithel kecambah, kecuali daerah
hilus ovari yang dibalut oleh peritoneum. Pada kuda sebagian besar
ovarium dibalut oleh peritoneum, hanya sebagian kecil disebut ovulation
fossa dibalut oleh epithel kecambah.

Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen tanpa serabut elastis
dan retikuler, sedikit mengandung sel, letaknya langsung dibawah epithel
kecambah.

Korteks :

Gambar 2.2 Struktur Histologi Korteks

4
Disebut juga Korteks ovarii atau Zona parenchymatosa, letaknya
dibagian perifer ovarium langsung dibawah tunika albuginea, kecuali
pada kuda yang terletak di sebelah bagian dalamnya. Pada korteks
terdapat stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel pada
berbagai stadia.

Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak mengandung sel
bebas serabut elastis. Serabut kolagen dan retikuler terdapat didalamnya.
Sel stroma yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan
fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial. Sel tersebut
mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan menyimpan bahan lemak serta zat
warna. Dalam keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag,
ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna dan korpus luteum.

Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu berdifrensiasi dan baru
bersekresi. Stroma ovarii pada kuda sering mengandung sel berpigmen,
tetapi semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada stroma kortikalis
tersebar follikel yang pada hewan dewasa terdapat pada berbagai stadia.
Pada hewan multipara (anjing, kucing dan babi) follikel sering
mengelompok, tetapi pada unipara (kuda, sapi dan kerbau) tersebar
secara merata.

Penelitian yang dilakukan pada anjing menunjukkan bahwa pembentukan follikel


berlangsung hampir sepanjang hidupnya, melalui invaginasi epithel kecambah menembus
tunika albuginea.

Folikel primordial

5
Gambar 2.3 Struktur Histologi Folikel Primordial

Pada hewan yang baru lahir folikel seluruhnya adalah folikel premordial. Folikel yang
belum memasuki siklus pada hewan dewasa sering disebut folikel premordial juga, untuk
membedakan dengan folikel primer yang telah memasuki siklus. Folikel ini terdiri dari sel
telur (oogonium) membran basal yang cukup tipis dan sel folikel (sel granulosa) berbentuk
pipih selapis. Membran basal merupakan batas antara folikel dengan stroma kortikalis.
Diameter oogonium 30-50 m, inti besar, aparatus golgi, mitokhondria dan endoplasmik
retikulum yang jelas.

Folikel primer

Folikel ini telah memasuki siklus, dan dibawah pengaruh hormon FSH dari hiphofisa terjadi
proses pertumbuhan. Pembesaran diameter dari seluruh komponen folikel disebabkan oleh
perubahan pada : Sel telur yang membesar karena intinya sedikit membesar akibat kromatin
bertambah, sitoplasma khususnya kuning telur (para plasma) bertambah secara bertahap sel
telur yang sedang berkembang ini disebut oosit primer.

Sel-sel follikel turut berkembang yang tadinya berbentuk pipih selapis, berubah
menjadi kubis sebaris.

Membran basal masih tetap tipis.

Folikel Sekunder

6
Gambar 2.4 Struktur Histologi Folikel Sekunder

Periode ini disebut Growing follicle dibedakan tiga stadium, yakni :

1. Stadium permulaan

Oosit primer terus berkembang, sel folikel mulai berkembang biak sehingga tampak dua
lapis. Di luar selaput vitelin mulai terjadi zona pelusida yang dihasilkan oleh sel folikel. Di
sebelah dalam selaput vitelin kuning telur bertambah banyak, membran basal sedikit
menebal. Penambahan diameter keseluruhan follikel, demikian juga oosit primer.

2. Stadium pertengahan

Perkembangan oosit primer terus berjalan, dengan bertambahnya kuning telur posisi inti
yang sentris mulai bergeser agak ke tepi. Zona pelusida agak menebal dan sel folikel
berlapis mencapai tiga sampai enam lapis. Membran basal agak menebal.

3. Stadium akhir

Perkembangan oosit primer berakhir, zona pelusida tebal. Sel follkel yang ada ditengah
mulai tampak tanda degenerasi yang berakhir dengan hancur (lisis) sehingga terbentuk
rongga sebagai permulaan dari antrum folikuli.

Folikel Tertier

7
Seperti halnya dengan follikel sekunder, stadium ini dibagi dalam 3 sub stadium :

1. Stadium permulaan

Perkembangan oosit primer telah berhenti, zona pellusia sudah cukup tebal. Sel-sel follikel
yang mengitari zona pellusida mulai teratr letaknya. Pada waktu yang bersamaan sel follikel
yang terdapat ditengah berdegenerasi, handur dan membentuk antrum follikuli yang baru.
Antrum follikuli yang telah terbentuk mulai meluas dan berisi cairan Liquor follikuli.
Membran basal tetap ada, sel-sel stroma diluar membran basal berdiferensiasi menjadi sel-
sel theca folliculi.

2. Stadium pertengahan

Pada stadium ini diduga oosit primer telah memasuki stadium pemasukan pertama dan
mengeluarkan benda kutub (polosit) pertama. Dengan demikian sel telur disebut oosit
sekunder. Sel folikel yang langsung mengelilingi zona pelusida telah teratur letaknya disebut
: Corona radiata. Diluar corona radiata, sel folikel selanjutnya disebut sel granulosa,
membentuk dinding antrum folikuli. Dengan bergabungnya antrum folikuli dan
bertambahnya liquor folikuli maka posisi sel telur terhadap folikel jadi semakin eksentris.
Pertautan sel telur dengan dinding folikel berlangsung melalui susunan sel granulosa
berbentuk tangkai disebut : Kumulus ooforus. Pada mamalia lazimnya hanya sebuah tetapi
pada kelinci terdapat beberapa buah disebut : Retinakulum. Membran basal yang
memisahkan sel granulosa dan sel teka folikuli, selanjutnya disebut: Membran
skhalavianski. Teka foliculi terdiri atas : Teka interna dan teka eksterna. Teka interna terdiri
disusun oleh jaringan ikat dengan sel epitheloid mengandung butiran didalamnya, diduga
menjadi sumber hormon estrogen. Pembuluh darah banyak terdapat didalamnya berbentuk
kapiler. Sebagian dari hormon estrogen memasuki pembuluh darah dan sebagian lain
menembus sel jaringan ikat dengan sel memanjang mengelilingi folikel. Perubahan teka
eksterna dengan stroma kortikalispun tidak jelas.

3. Stadium terakhir

Stadium ini sering dikenal sebagai : Folikel renier de graaf suatu folikel yang sudah siap
mengalami ovulasi. Keadaannya hampir sama dengan substadium sebelumnya, hanya pada

8
yang terakhir ini terdapat adanya stigma, berupa dinding folikel yang paling tipis yang
nantinya akan pecah dan merupakan jalan keluar bagi oosit sekunder.

Folikel de graff

Gambar 2.5 Struktur Histologi Folikel de graff

Folikel ini merupakan tingkatan terakhir dalam fase folikuli. Folikel ini terbentuk karena
adanya peningkatan FSH pada ovarium. Folikel de graff yang matang berisi likuor folikel,
mengandung estrogen dan siap berovulasi

Follikel atretis (Korpora atretika)

Selama folikel primordial berkembang menjadi folikel de graaf banyak mengalami


kematian. Kematian folikel pada berbagai stadia dimulai dengan degenerasi pada oosit yang
disusul dengan sel granulosa. Sebaliknya sel teka ber frolifrasi menyerap sisa folikel dan
selanjutnya mengisinya. Proses atresia berbeda untuk tiap jenis hewan. Secara mikroskopis
tampak adanya masa sel yang mengandung lemak diantara folikel pada stroma ovari. Kasus
atresia pada stadium muda lebih mudah lenyap dari pada stadium lanjut yang biasa
memakan waktu agak lama. Ovulasi adalah: Peristiwa pecahnya folikel de graaf dan
terlemparnya ovum dari ovarium. Oosit sekunder yang terlempar keluar selanjutnya
ditangkap oleh fimbriae dari tuba falopii, kemudian menuju uterus.

9
Korpus Luteum

Gambar 2.6 Struktur Histologi Corpus Luteum

Korpus luteum (Yellow body) mulai terbentuk setelah folikel mengalami ovulasi,
pembentukan ini berlangsung terus sampai sempurna, apabila terjadi kebuntingan (korpus
luteum gravidiatatum), tetapi apabila tidak terjadi pembuahan pembentukan korpus luteum
terhenti, sehingga terjadi korpus albikans atau korpus fibrosum, Korpus luteum periodikum
albikans adalah bentuk degenerasi dari korpus luteum yang fungsional. Letaknya lebih
dalam dan ukurannya besar, sehingga hilangnya lambat. Sel luteum masih tampak meskipun
sedikit dengan butir sekreta didalamnya. Warna kuning disebabkan oleh adanya pigmen
lutein yang terkandung dalam sel pembentuk parenkhim. Lutein terdapat pada korpus luteum
kuda, sapi, karnivora dan manusia. Pada domba, kambing dan babi pigmen lutein tidak ada
sehingga warna korpus luteum jadi putih kelabu. Korpus luteum tergolong kelenjar endokrin
dan menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi memelihara kelangsungan
kebuntingan.

Medula ovari

Sering disebut : Zona vaskulosa, karena banyak mengandung pembuluh darah. Stroma ovari
di daerah medula berubah menjadi jaringan ikat fibro-elastis yang banyak mengandung

10
pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, terdapat pula otot polos yang berhubungan
dengan muskulator dari ligamentum suspensorium. Adanya sel interstitial pada kucing dan
rodensia diduga menghasilkan hormon ovarium. Didaerah pertautan mesobarium dilaporkan
adanya sel yang mirip dengan sel interstitial hewan jantang yang disebut : Sel hilus yang
menghasilkan androgen. Pada karnivora dan ruminansia dekat mesovarium sering terlihat
sisa dari rete ovari, sisa mesonefros yakni efooforon dan parooforon. Sisa mesonefros
tersebut berbentuk saluran berliku-liku dengan ujung yang buntu. Epithelnya pipih selapis,
pada epooforon silindris bersilia keduanya kadang membentuk kista.

Ovarium adalah organ primer (atau esensial) reproduksi pada betina seperti halnya
testes pada hewan. Ovari dapat dianggap bersifat endokrin atau sitogenik (menghasilkan sel)
karena mampu menghasilkan hormon yang akan diserap langsung ke dalam peredaran darah,
dan juga ovum.

Ovarium merupakan sepasang kelenjar yang terdiri dari ovari kanan yang terletak di
belakang ginjal kanan dan ovari kiri yang terletak di belakang ginjal kiri. Ovarium seekor
sapi betina bentuknya menyerupai biji buah almond dengan berat rata-rata 10 sampai 20
gram. Sebagai perbandingan, pada sapi jantan dimana biji pejantan berkembang di tubulus
seminiferus yang letaknya di dalam pada betina jaringan yang menghasilkan ovum (telur)
berada sangat dekat dengan permukaan ovari.

Ovarium terletak di dalam rongga perut berfungsi untuk memproduksi ovum dan
sebagai penghasil hormon estrogen, progesteron dan inhibin. Ovarium digantung oleh suatu
ligamentum yang disebut mesovarium yang tersusun atas syaraf-syaraf dan pembuluh darah,
berfungsi untuk mensuplai makanan yang diperlukan oleh ovarium dan sebagai saluran
reproduksi. Ovarium pada preparat praktikum ini berbentuk lonjong bulat.

Fungsi ovarium sendiri adalah memproduksi ovum, penghasil hormon estrogen,


progesteron dan inhibin.

Pada semua hewan menyusui mempunyai sepasang ovarium dan mempunyai ukuran
yang berbeda-beda tergantung pada species, umur dan masa (stadium) reproduksi hewan
betina. Bentuk ovarium tergantung pada golongan hewan:

11
1. Pada golongan hewan yang melahirkan beberapa anak dalam satu kebuntingan disebut
Polytocous, ovariumnya berbentuk seperti buah murbei, contoh: babi, anjing, kucing

2. Pada golongan hewan yang melahirkan satu anak dalam satu kebuntingan disebut
Monotocous, ovariumnya berbentuk bulat panjang oval, contoh: sapi, kerbau, sedang
pada ovarium kuda bebentuknya seperti ginjal.

Ovarium mengandung folikel-folikel yang di dalamnya terdapat masing-masing satu


ovum. Pembentukan dan pertumbuhan folikel ini dipengaruhi oleh hormon FSH (Folicle
stimulating hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipofise. Folikel di dalam ovarium
terdiri dari beberapa tahap yaitu folikel primer, terbentuk sejak masih dalam kandungan dan
mengandung oogonium yang dikelilingi oleh satu lapis sel folikuler kecil; folikel sekunder,
terbentuk setelah hewan lahir dan sel folikulernya lebih banyak; folikel tertier, terbentuk
pada saat hewan mencapai dewasa dan mulai mengalami siklus birahi; dan yang terakhir
adalah folikel de Graaf, merupakan folikel terbesar pada ovarium pada waktu hewan betina
menjelang birahi.

Folikel de Graaf inilah yang akan siap diovulasikan (peristiwa keluarnya ovum dari
folikel) dan jumlahnya hanya satu karena sapi merupakan hewan monotokosa yang
menghasilkan satu keturunan setiap kebuntingan. Peristiwa ovulasi diawali dengan robeknya
folikel de Graaf pada bagian stigma dipengaruhi oleh hormon LH (Luteinizing hormone)
yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipifise. LH menyebabkan aliran darah di sekitar folikel
meningkat dan menyebabkan dinding olikel pecah. Bekas tempat ovum yang baru keluar
disebut corpus haemorragicum yang dapat kemasukan darah akibat meningkatnya aliran
darah dan menjadi merah, setelah itu terbentuk corpus luteum (berwarna coklat) yang akan
menghasilkan hormon progesteron untuk mempertahankan kebuntingan dan menghambat
prostaglandin. Sehingga pada saat bunting tidak terjadi ovulasi karena prostaglandin yang
mempengaruhi hormon estrogen dan FSH.

Apabila pembuahan tidak terjadi, corpus luteum bertambah ukurannya di bawah


hormon pituitari anterior yaitu prolaktin dan dibentuklah hormon progesteron yang menekan
birahi yang berkepanjangan dan memepertahankan kebuntingan (Blakely and Bade, 1998).

12
2.3 Organ Kelamin Sekunder
1. Oviduct

Pada mammalia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai : Menangkap oosit sekunder
yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi lingkungan yang baik untuk pembuahan dan
menyalurkan oosit sekunder atau embrio menuju uterus.

Secara morfologis dibagi menjadi : Infundibulum dan fimbriae, ampulla dan istmus.
Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama hanya berbeda dalam struktur selaput
lendirnya serta ketebalan lapisan otot.

Mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan adanya lipatan primer,
sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah.
Lamina epitelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, kecuali pada ruminansia dan babi yang
memiliki daerah epitel silindris banyak baris.

Pada epitel terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni : Sel yang memiliki silia yang
aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel ini menjamin kelancaran transport oosit embrio
menuju uterus. Sel tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga
menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas epithel ini ternyata sejalan
dengan aktivitas seluruh saluran kelamin meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria
terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot polos
sering tampak didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar berbatasan
langsung dengan mukosa sebab muskularis mukosa tidak ada.

Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan lapis luarnya
longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah yang
dikenal sebagai stratum vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir
tidak tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos semakin jelas
bahkan membentuk dua lapis yang berbeda susunannya.

13
Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas mendorong oosit atau
embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan
kelanjutan dari serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx).

Oviduct merupakan saluran yang bertugas untuk menghantarkan sel telur (ovum) dari
ovarium ke uterus. Oviduct digantung oleh suatu ligamentum yaitu mesosalpink yang
merupakan saluran kecil yang berkelok-kelok dari depan ovarium dan berlanjut di tanduk
uterus.

Oviduct terbagi menjadi 3 bagian. Pertama adalah infundibulum, yaitu ujung oviduct
yang letaknya paling dekat dengan ovarium. Infundibulum memiliki mulut dengan bentuk
berjumbai yang berfungsi untuk menangkap ovum yang telah diovulasikan oleh ovarium.
Mulut infundibulum ini disebut fimbria. Salah satu ujungnya menempel pada ovarium
sehinga pada saat ovulasi dapat menangkap ovum. Sedangkan lubang infundibulum yang
dilewati ovum menuju uterus disebut ostium. Setelah ovum ditangkap oleh fimbria,
kemudian menuju ampula yaitu bagian oviduct yang kedua, di tempat inilah akan terjadi
fertilisasi. Sel spermatozoa akan menunggu ovum di ampula untuk dibuahi. Panjang ampula
merupakan setengah dari panjang oviduct. Ampula bersambung dengan bagian oviduct yang
terakhir yaitu isthmus. Bagian yang membatasi antara ampula dengan isthmus disebut
ampulary ismich junction. Isthmus dihubungkan langsung ke uterus bagian cornu (tanduk)
sehingga di antara keduanya dibatasi oleh utero tubal junction.

Dinding oviduct terdiri atas 3 lapisan yaitu membrana serosa merupakan lapisan terdiri
dari jaringan ikat dan paling besar, membrana muscularis merupakan lapisan otot dan
membrana mucosa merupakan lapisan yang membatasi lumen.

Fungsi oviduct :

1. menerima sel telur yang diovulasikan oleh ovarium,

2. transport spermatozoa dari uterus menuju tempat pembuahan

3. tempat pertemuan antara ovum dan spermatozoa (fertilisasi)

4. tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa

14
5. memproduksi cairan sebagai media pembuahan dan kapasitasi spermatozoa

6. transport yang telah dibuahi (zigot) menuju uterus.

Menurut Bearden and Fuquay (1997) panjang oviduct untuk kebanyakan spesies
ternak adalah 20 sampai 30 cm.

2. Uterus

Gambar 2.7 Struktur Histologi Uterus

Bentuk uterus pada berbagai hewan piara tidak sama, hal ini berhubungan dengan
perkembangan embriologi. Perbedaannya terletak pada derajat penyatuan bagian kaudal
buluh Muller. Secara umum uterus dibagi dalam 4 bagian yaitu :

Uterus simplex : uterus hanya satu, ditemukan pada primata (bangsa kera) termasuk
manusia.
Uterus dupleks (uterus bipartius) : tipe ini memiliki dua uterus yang terpisah, sehingga
memiliki dua serviks yang masing-masing bermuara kedalam uterus. Tipe ini terdapat
pada rodentia seperti : kelinci dan marmut.
Uterus Bipartius : mempunyai dua buah kornu yang panjang, yang bersatu di daerah
istmus dekat servik, kemudian bermuara pada vagina tunggal. Tipe ini terdapat pada :
karnivora dan babi.

15
Uterus Bikornis : Kornua uteri yang tidak begitu panjang, karena penyatuan korpus uteri
berlangsung agak jauh dari servik. Servik hanya sebuah dan bermuara kedalam vagina.
Tipe ini terdapat pada : kuda dan ruminansia.

Struktur histologi :

a. Endometrium

Istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena muskularis mukosa
memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, pada babi dan
ruminansia sering tampak adanya bentuk epithel silindris banyak baris.

Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut Stratum
selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut : Zona
spongiosa. Pada waktu birahi (estrus) zona spongiosa mengandung banyak cairan sehingga
menggembung (edematus), sebaliknya setelah estrus pada ruminansia besar dan anjing
sering terjadi perdarahan kecil dan berakhir pada diestrus.

b. Karunkula (carunculae)

Merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung


sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat
warna sehingga tampak jelas. Pada uterus yang tidak bunting karunkula ini kecil, tapi pada
yang bunting sangat membesar, bahkan pada sapi dapat sebesar ketan, jumlahnya tidak
tentu, berkisar antara 60-120 buah. Pada uterus bunting khorion melekat bahkan
membenamkan vili kedalamnya.

Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel jadi jelas dapat
dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar kelenjar dari uterus (glandula uterina)
terdapat dalam submukosa khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada
tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan ujung kelenjar
menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh siklus kelamin.

c. Myometrium

16
Sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang
tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat
stratum vaskulare. Pada uterus yang pernah bunting stratum vaskulare ini memiliki
pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara.

Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari peritoneum (serosa) hanya
saja sub serosa relatip tebal dan mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus
(ligamentum lata uteri).

Uterus merupakan struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk menerima ovum
yang telah dibuahi dan perkembangan zigot. Uterus digantung oleh ligamentum yaitu
mesometrium yaitu saluran yang bertaut pada dinding ruang abdomen dan ruang pelvis.
Dinding uterus terdapat 3 lapisan, lapisan dalam disebut endometrium, lapisan tengah
disebut myometrium dan lapisan luar disebut perimetrium.

Uterus terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah cornu uteri atau tanduk uterus.
Cornu uteri ini jumlahnya ada 2 dan persis menyerupai tanduk yang melengkung. Cornu
uteri merupakan bagian uterus yang berhubungan dengan oviduct. Kedua cornu ini memiliki
satu badan uterus yang disebut corpus uteri dan merupakan bagian uterus yang kedua.
Corpus uteri berfungsi sebagai tempat perkembangan embrio dan implantasi. Selain itu pada
corpus uteri terbentuk PGF2 alfa. Bagian uterus yang ketiga adalah cervix atau leher uterus.

Bentuk-bentuk uterus ada 3, yaitu: 1) uterus bicornus: cornu uteri sangat panjang tetapi
corpus uteri sangat pendek. Contoh pada babi. 2) uterus bipartinus: corpus uteri sangat
panjang dan di antara kedua cornu terdapat penyekat. Contoh pada sapi cornunya
membentuk spiral. 3) uterus duplex: cervixnya terdapat dinding penyekat. Contoh: uterus
pada kelinci dan marmut. 4) uterus simple: bentuknya seperti buah pir. Contoh: uterus pada
manusia dan primata.

Fungsi uterus: 1) saluran yang dilewati gamet (spermatozoa). Spermatozoa akan


membuahi sel telur pada ampula. Secara otomatis untuk mencapai ampulla akan melewati
uterus dahulu. 2) tempat terjadinya implantasi. Implantasi adalah penempelan emrio pada
endometrium uterus. 3) tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio. 4) berperan pada

17
proses kelahiran (parturisi). 5) pada hewan betina yang tidak bunting berfungsi mengatur
siklus estrus dan fungsi corpus luteum dengan memproduksi PGF2 alfa.

Di dalam uterus terdapat curuncula yang berfungsi untuk melindungi embrio pada saat
ternak bunting. Hasil pengukuran uterus pada praktikum ini, panjang corpus uteri adalah 20
cm, panjang cornu uteri adalah 13 cm. Menurut Lindsay et al., (1982) bahwa uterus pada
sapi yang tidak bunting memiliki diameter 5 sampai 6 cm. Perbedaan ini dipengaruhi oleh
umur, bangsa ataupun kondisi ternak.

3. Cervix

Merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Bangun umum hampir mirip
dengan uterus, selaput lendirnya (sesuai dengan peranannya) membentuk lipatan primer,
sekunder dan tersier. Epithelnya silindris sebaris, tetapi bersifat sekretoris menghasilkan
lendir. Beberapa sel tampak memiliki silia.

Tunika propria terdiri atas jaringan ikat longgar, dan pada waktu estrus bersifat
odematus, pada submukosa terdapat kelenjar (anjing dan kambing), bersifat tubulus dan
mukus. Tunika muskularis yang sirkuler tebal, bahkan berlapis-lapis dibatasi oleh jaringan
ikat, lapis lungitudinal bersatu dengan vagina. Serosa merupakan kelanjutan dari uterus
mengandung lebih sedikit sel otot polos tapi lebih banyak mengandung ujung saraf perifer.

Cervix terletak di antara uterus dan vagina sehingga dikatakan sebagai pintu masuk ke
dalam uterus. Cervix ini tersusun atas otot daging sphincter. Terdapat lumen cervix yang
terbentuk dari gelang penonjolan mucosa cervix dan akan menutup pada saat terjadi estrus
dan kelahiran. Cervix menghasilkan cairan yang dapat memberi jalan pada spermatozoa
menuju ampula dan untuk menyeleksi sperma.

Selama birahi dan kopulasi, serviks berperan sebagai masuknya sperma. Jika
kemudian terjadi kebuntingan saluran uterin itu tertutup dengan sempurna guna melindungi
fetus. Beberapa saat sebelum kelahiran, pintu itu mulai terbuka, serviks mengembang,
hingga fetus dan membran dapat melaluinya pada saat kelahiran (Blakeli and Bade, 1998).

Fungsi dari cervix adalah menutup lumen uterus sehingga menutup kemungkinan
untuk masuknya mikroorganisme ke dalam uterus dan sebagai tempat reservoir spermatozoa.

18
4. Vagina

Gambar 2.8 Struktur Histologi Vagina

Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan
dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam
rongga perut yang dibalut oleh serosa, dan sisi selebihnya terdapat dalam ruang pelvis
dibalut oleh adentitia.

Sebagaimana pada saluran kelamin yang lain, vagina pun mengikuti perubahan sesuai
dengan siklus kelamin. Perubahan mana tampak jelas pada epithel vagina yang penting
untuk identifikasi siklus kelamin khusunya pada rodensia dan karnivora. Fungsi vagina
adalah : pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi
berlangsung.

Struktur histologi:

Mempunyai epithel pipih banyak lapis, pada pengenalan siklus kelamin epitel ini
mendapat sorotan khusus. Pada ruminansia besar epithel vagina kranial sering tampak
adanya sel mangkok, yang jelas dan besar pada waktu esterus, sel ini penghasil lendir,
dikeluarkan pada waktu metestrus.

19
Pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel pada ruminansia besar tidak jelas,
hanya sel permukaan jumlahnya meningkat. Pada karnivora anjing pertandukan tampak
jelas pada waktu estrus, banyak sel permukaan lepas dan tercampur dengan eritrosit
berasal dari endometrium.

Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan dengan sub mukosa,
semakin menuju vestibulum jumlah folikel getah bening semakin meningkat, pembuluh
darah banyak terdapat didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar yang
lebih sedikit mengandung sel jaringan ikat

Tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang. Pada anjing tampak
adanya tiga lapis yakni lapis longitudinal luar dan dalam dan lapis melingkar disebelah
dalam, pada hewan piara yang lain lapis longitudinal dalam jarang tampak.

Tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak,
pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening serta kelenjar di daerah
vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial.

Vagina adalah organ reproduksi hewan betina yang terletak di dalam pelvis di antara
uterus dan vulva. Vagina memiliki membran mukosa disebut epitel squamosa berstrata yang
tidak berkelenjar tetapi pada sapi berkelenjar. pada bagian kranial dari vagina terdapat
beberapa sel mukosa yang berdekatan dengan cervix.

Vagina terdiri dari 2 bagian yaitu vestibulum yang letaknya dekat dengan vulva serta
merupakan saluran reproduksi dan saluran keluarnya urin dan yang kedua adalah portio
vaginalis cervixis yang letaknya dari batas antara keduanya hingga cervix. Vestibulum dan
portio vaginalis cervixis dibatasi oleh suatu selaput pembatas yang disebut himen.

Fungsi dari vagina adalah sebagai alat kopulasi dan tempat sperma dideposisikan;
berperan sebagai saluran keluarnya sekresi cervix, uterus dan oviduct; dan sebagai jalan
peranakan saat proses beranak. Vagina akan mengembang agar fetus dan membran dapat
keluar pada waktunya.

20
Menurut Toelihere (1981), pada hewan yang tidak bunting panjang vagina sapi
mencapai 25,0 sampai 30,0 cm. Variasi ukuran vagina ini tergantung pada jenis hewan, umur
dan frekuensi beranak (semakin sering beranak, vagina semakin lebar).

2.4 Organ Kelamin Luar

1. Glandula Mamae

Gambar 2.8 Struktur Histologi Kelenjar Mammae

Keterangan :
1. Adenomer
2. Lobuli
3. duktus intralobularis (kuboid simplek)
4. Sinus Laktiferous
5. Septa interlobularis

Setiap glandula mammae memiliki satu puting dengan dua saluran yang menerima
aliran dari daerah sekretoris yang terpisah pada masing-masing glandula. Glandula mammae
dapat dibagi menjadi:

21
1. Jaringan-jaringan penunjang

2. Jaringan-jaringan yang terlibat dalam sintesis dan pengangkutan air susu.

Struktur-struktur penunjang adalah: kulit, ligamenta dan jaringan ikat. Penunjang


utama berasal dari : ligamentum suspensorius lateralis. Berada diluar ambing tepat di bawah
kulit juga mengirimkan lamella ke dalam ambing, lamella-lamella ini melanjutkan diri
dengan kerangka interstitial ambing sehingga penunjang menjadi bertambah. Ligamentum
suspensorius medialis membentang longitudinal diantara dua bagian ambing dan menyatu
pada abdomen karena elastisnya, ligamentum ini teregang ketika ambing terisi dengan air
susu.

Glandula mamae terdiri atas 15-20 lobus yang dipisah-pisahkan oleh jaringan lemak.
Setiap lobus dibagi lagi oleh jaringan ikat menjadi lobulus-lobulus. Pada setiap lobulus
terdapat kumpulan kelenjar- kelenjar keringat yang disebut alveoli. Saluram-saluran kelenjar
payudara pada satu lobus berkumpul menjadi duktus mamilaris. Dekat putting susu saluran
ini melebar menjadi ampulla yang berfungsi sebagai tempat penampungan air susu.

BAB III

PENUTUP

22
3.1 Kesimpulan

Organ reproduksi betina terdiri dari organ reproduksi primer, yaitu ovarium
memproduksi ovum dan hormone betina (Estrogen dan Progesteron). Organ reproduksi
sekunder terdiri dari tuba fallopi (Oviduct), uterus (Cornua, Corpus, Cerviks), vagina, dan
vulva. Fungsi alat alat ini adalah menerima dan mempersatukan sel kelamin jantan dan
betina, memelihara dan melahirkan individu baru.

3.2 Saran

Saran yang dapat diambil dari makalah ini adalah :

Agar dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai organ-organ reproduksi pada


hewan betina.

Harus lebih memahami perbedaan struktur dan fungsi organ reproduksi betina.

DAFTAR PUSTAKA

23
1. Aswin. 2009. Anatomi Perkembangan Sistem Uropoetika. http://nemalz88
veterinerblog.blogspot.com/2009/06/i.html. Diakses pada tanggal 12 April 2016.

2. Brown. 1992. Buku Teks Histology Veteriner. UI Press, Jakarta

3. Frandson. 1986. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.

4. Iqbal. 2007. Sistem Reproduksi. http://iqbalali.com/biologi/sistem_reproduksi.dtml.


Diakses pada tanggal 12 April 2016.

5. Nuryadi. 2010. Serviks dan klitoris . http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/


teaching/chap3.html. Diakses pada tanggal 12 April 2016.

6. Marawali dkk. 2010. Ovarium. . http://bubblehousebandryfarm.blogspot.comDiakses


pada tanggal 12 April 2016.

7. Partodiharjo,S. 1980. Ilmu Reproduksi Ternak. Prduksi Mutiara. Jakarta.

8. Mozez. 2006. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. UI Press, Jakarta.

9. Salisbury. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan. UGM Press, Yogyakarta.

24
25