Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Profil Tempat Penelitian
Sekolah Tinggi Olahraga Metro merupakan lembaga pendidikan yang

mencetak calon guru-guru olahraga yang berkompeten, beralamat di 16C,

Mulyojati kota Metro, Lampung. Sekolah Tinggi Olahraga Metro memiliki

visi Dalam Rangka Menyongsong Masa Depan yang Lebih Kompleks

Mempersiapkan Pengembangan Lembaga yang Bertumpu pada Tri Dharma

Perguruan Tinggi dan Secara Aktif akan Mengembangkan Kualitas Sumber

Daya Manusia di Bidang Pendidikan. Sekolah Tinggi Olahraga Metro

memiliki dua program studi yaitu Pendidikan Kepelatihan Olahraga dan

Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi.


Penelitian dengan judul Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian

Insomnia pada Atlet di Kelas Sepakbola Sekolah Tinggi Olahraga Metro ini

dilakukan pada bulan 27-28 Mei 2016, penelitian direncanakan dilakukan

pada 70 orang atlet kelas sepakbola, namun pada saat pelaksanaan penelitian

data yang berhasil dikumpulkan hanya 68 orang atlet. Pelaksanaan penelitian

ini berupa pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dilakukan pada

masing-masing responden penelitian.

2. Analisa Data
a. Analisis Univariat

50
51

Penelitian ini memberikan data dari variabel independen yaitu perilaku

merokok dan variabel dependen yaitu kejadian insomnia. Data masing-

masing variabel ditampilkan pada tabel-tabel berikut :


1) Perilaku Merokok
Data perilaku merokok responden dalam penelitian terdiri dari

gambaran kejadian merokok dan perilaku merokok yang meliputi

perilaku merokok kadang-kadang dan harian yang disajikan tabel-tabel

berikut :
Tabel 4.1
Distribusi Responden berdasarkan Gambaran Kejadian Merokok
pada Atlet di Kelas Sepakbola STO Metro Tahun 2016

Kejadian Merokok Jumlah


N %
Tidak Merokok 25 36.8
Merokok 43 63.2
Total 68 100

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 68 atlet yang

menjadi responden pada penelitian, sebagian besar atlet yaitu 43 orang

atlet di Kelas Sepakbola STO Metro memiliki perilaku merokok

(63.2%).

2) Kejadian Insomnia
Data kejadian insomnia responden dalam penelitian disajikan

pada tabel berikut :


Tabel 4.3
Distribusi Responden berdasarkan Gambaran Kejadian Insomnia
pada Atlet di Kelas Sepakbola STO Metro Tahun 2016

Kejadian Insomnia Jumlah


N %
Tidak Insomnia 31 45.6
Insomnia 37 54.4
52

Total 68 100

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa persentase

responden yang mengalami insomnia sebanyak 37 orang (54.4%)

dibanding responden yang tidak mengalami insomnia.

b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

hubungan antara variabel independent (perilaku merokok) dan variabel

dependent (kejadian insomnia). Analisis bivariat pada penelitian ini dapat

dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4
Distribusi Hubungan antara Perilaku Merokok dengan
Kejadian Insomnia pada Atlet di Kelas Sepakbola STO Metro
Tahun 2016

Tidak
Perilaku Insomnia Jumlah P
Insomnia
Merokok
N % n % n %
Tidak Merokok 20 5 25 0.00
Merokok 11 32 43 1
Total 31 37 68 10
0

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara

perilaku merokok dengan kejadian insomnia pada atlet di kelas sepakbola

Sekolah Tinggi Olahraga Metro (p<0,05). Dari total responden yang

memiliki kebiasaan merokok yaitu 43 orang, sebagian besar responden

yang merokok mengalami insomnia yaitu 32 orang atlet (74.4%). Perilaku

merokok kadang-kadang mengalami insomnia sebanyak 8 orang (47.1%)

dari total 17 orang perokok yang memiliki perilaku merokok kadang-


53

kadang. Sedangkan perilaku merokok harian mengalami insomnia

sebanyak 24 orang (92.3%) dari total 26 orang atlet yang memiliki

perilaku merokok harian.

B. Pembahasan
1. Variabel Independen (Perilaku Merokok)
Pedoman standar untuk mengukur kejadian merokok secara umum

membagi individu ke dalam dua kategori yaitu perokok dan bukan perokok.

Seorang perokok adalah orang yang pada saat survei, merokok produk

tembakau setidaknya sekali sehari (perokok yang tidak merokok pada hari-hari

puasa agama tertentu, masih diklasifikasikan sebagai perokok harian),

sedangkan perokok kadang-kadang adalah orang yang merokok tapi tidak

setiap hari (Najmah dkk. 2014).


Responden total yang mengikuti pengumpulan data pada penelitian ini

berjumlah 68 orang atlet di kelas sepakbola Sekolah Tinggi Olahraga Metro.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar atlet dikelas

sepakbola Sekolah Tinggi Olahraga Metro memiliki kebiasaan merokok yaitu

sebanyak 43 orang (63.2%), sedangkan jumlah atlet yang tidak merokok yaitu

25 orang (36.8%). Dari jumlah atlet yang memiliki kebiasaan merokok,

terdapat 12 orang atlet atau sekitar 39.5% yang memiliki perilaku merokok

kadang-kadang dan sisanya yaitu 26 orang atau sejumlah 60.5% memiliki

perilaku merokok harian.


Jumlah ini cukup banyak mengingat Sekolah Tinggi Olahraga Metro

merupakan lembaga pendidikan yang menerapkan kebijakan dilarang

merokok dikawasan kampus dan lapangan tempat berlatih atlet. Berdasarkan


54

wawancara yang dilakukan terhadap pelatih atlet yang mengatakan bahwa

peringatan tidak merokok telah dilakukan untuk mengingatkan kebiasaan atlet

dan tanda peringatan dilarang merokok juga telah dipasang dibeberapa tempat

di kampus, namun dilingkungan selain saat latihan merupakan diluar

tanggungjawab dari pelatih.


Faktor-faktor seperti pengaruh teman, bahwa semakin banyak seseorang

merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok

juga dan demikian sebaliknya. Hal ini selaras dengan hasil penelitian dari Tri

Sulati, (2015) yang berjudul dinamika perilaku merokok pada remaja yang

menunjukkan hasil sebanyak 59% dari 78 siswa membuktikan bahwa perilaku

merokok terjadi karena faktor eksternal seperti interaksi teman sebaya dan

bentuk solidaritas.
Disebutkan juga faktor lain seperti faktor kepribadian, misalnya orang

mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri

dari kebosanan. Satu sifat kepribadian yang melekat pada pengguna obat-

obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial, yaitu pengaruh sosial yang

membentuk perubahan sikap dan tingkah laku seseorang agar dapat diterima

orang disekitarnya, sejalan juga dengan hasil penelitian dari Samrotul

Fikriyah, (2012) dengan judul penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi

perilaku merokok pada mahasiswa laki-laki di asrama putra menunjukkan

sebanyak 33,3% dari 33 orang memiliki faktor psikologi beresiko dan

perilaku merokok yang ringan, ini berarti bahwa ada pengaruh antara faktor

psikologi terhadap perilaku merokok pada responden. Merokok dapat menjadi

sebuah cara bagi remaja agar mereka tampak bebas dan dewasa saat mereka
55

menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya yang merokok, tekanan-

tekanan teman sebaya, penampilan diri, sifat ingin tahu, kebosanan, ingin

kelihatan gagah atau diakui lingkungan sebaya.


Peneliti berasumsi bahwa faktor tingginya frekuensi interaksi antar teman

sebaya pada atlet di kelas sepakbola di Sekolah Tinggi Olahraga Metro turut

mempengaruhi responden untuk memiliki perilaku merokok, karena dalam

hal merokok, seseorang yang bergaul dilingkungan perokok akan cenderung

terpengaruh dengan lingkungannya, demikian sebaliknya seseorang yang

merokok akan cenderung memberikan pengaruh kepada lingkungan sekitar

untuk merokok. Merokok bagi atlet di kelas sepakbola Sekolah Tinggi

Olahraga Metro dapat digunakan sebagai pengalihan dari berbagai

permasalahan ataupun mengatasi kebosanan.


Faktor-faktor seperti yang disebutkan diatas dapat menjadi pengaruh

yang kuat bagi atlet untuk memiliki kebiasaan merokok walaupun kebijakan

dan peringatan telah dilakukan.


2. Variabel Dependen (Kejadian Insomnia)
Variabel berikutnya yang diukur pada penelitian ini adalah kejadian

insomnia dengan alat pengumpulan data berupa pengisian kuesioner baku

KSBPJ-IRS yang membagi kejadian insomnia menjadi insomnia dan tidak

insomnia. Insomnia didefinisikan sebagai kesulitan memasuki fase tidur,

kesulitan untuk tetap tidur, atau kondisi dimana tidur tidak dapat menyegarkan

seseorang padahal ia mempunyai kesempatan untuk tidur malam normal, yaitu

7-8 jam.
Tabel distribusi responden berdasarkan gambaran kejadian insomnia di

Sekolah Tinggi Olahraga Metro menunjukkan bahwa persentase responden


56

yang tidak mengalami insomnia (45.6%) atau sekitar 31 orang atlet lebih

rendah dibanding dengan responden yang mengalami insomnia sebanyak 37

orang (54.4%). Jumlah ini perlu menjadi perhatian mengingat dampak yang

akan diakibatkan insomnia yaitu dapat menurunkan kemampuan dalam

memenuhi tugas harian serta gangguan konsentrasi, kehilangan motivasi,

depresi, dan sebagainya.


Hal tersebut sejalan dengan penelitian Noerma Shovie dan Elis Hartati

(2012) dengan judul pengalaman mahasiswa yang mengalami insomnia

selama mengerjakan tugas akhir menunjukkan sebanyak 10 dari 25 mahasiswa

mengalami insomnia, dari 10 mahasiswa tersebut dilakukan deepth interview

terhadap 5 orang mahasiswa dan didapatkan hasil bahwa dampak negatif

insomnia yaitu penurunan aktivitas, gangguan kesehatan dan penurunan

mood.
Penurunan aktivitas yang dialami oleh informan pada penelitian tersebut

ditunjukkan oleh beberapa hal, yaitu ketidakteraturan manajemen waktu,

mengantuk di siang hari, dan gangguan konsentrasi. Gangguan kesehatan

yang dialami oleh informan ditandai dengan menurunnya kekebalan tubuh.

Penurunan mood diidentifikasi menjadi dua, yaitu perasaan tidak menentu dan

aktivitas tidak optimal.


Bagi atlet yang terus dituntut mempersiapkan dirinya untuk dapat

berprestasi, insomnia bisa menyebabkan menurunnya kemampuan konsentrasi

saat berlatih ataupun bertanding, insomnia dapat juga mengakibatkan

penurunan aktivitas fisik akibat tidak tercapainya kebutuhan tidur yang


57

optimal, hal ini bisa saja menjadi ancaman bagi keadaan fisik atlet yang dapat

berpengaruh kepada prestasi atlet.


3. Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Insomnia
Perilaku merokok dan kejadian insomnia yang dipaparkan dalam tabel

distribusi hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian insomnia pada

atlet di kelas sepakbola Sekolah Tinggi Olahraga Metro menunjukkan bahwa

p value setelah dilakukan uji statistik chi square yaitu p= 0,001 (p<0,005)

yang berarti bahwa H1 diterima menunjukkan ada hubungan yang bermakna

antara perilaku merokok dengan kejadian insomnia pada atlet di kelas

sepakbola Sekolah Tinggi Olahraga Metro.


Total responden yang memiliki kebiasaan merokok yaitu 43 orang,

hampir semua responden yang merokok mengalami insomnia yaitu 32 orang

atlet (74.4%). Perilaku merokok kadang-kadang mengalami insomnia

sebanyak 8 orang (47.1%) dari total 17 orang perokok yang memiliki perilaku

merokok kadang-kadang. Sedangkan perilaku merokok harian mengalami

insomnia sebanyak 24 orang (92.3%) dari total 26 orang atlet yang memiliki

perilaku merokok harian.


Adanya hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian insomnia

terjadi dikarenakan pada saat merokok zat stimulan yang terkandung dalam

rokok yaitu nikotin diserap tubuh melalui reseptor penerima nikotin,

kemudian nikotin bekerja menstimulasi otak untuk meningkatkan

aktivitasnya. Aktivitas otak akibat kerja nikotin akan mengakibatkan

seseorang kesulitan memasuki fase tidur atau bahkan tidak adanya

kemampuan untuk tidur (initial insomnia) pada pecandu rokok fase akut,

pecandu rokok dapat juga mengalami ketidakmampuan untuk


58

mempertahankan tidur karena sering terbangun (intermitten insomnia).

Setelah merokok seseorang akan sulit untuk tidur kembali (terminal insomnia)

karena efek stimulan dari nikotin, hal ini sehubungan dengan teori yang

dikemukakan oleh Najmah dkk. (2014) dan Tarwoto dan Wartonah (2011).
Penelitian dari Angga Anggriawan (2015) berjudul faktor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian insomnia pada mahasiswa Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar menunjukkan hasil adanya

hubungan yang bermakna antara perilaku merokok (p=0,000) dengan kejadian

insomnia menguatkan teori diatas bahwa nikotin yang diserap tubuh tersebut

akan diterima oleh reseptor indera perasa di dalam lidah dan akan diteruskan

ke otak melalui batang otak yaitu hipotalamus. Nikotin yang melalui

hipotalamus memicu pengeluaran hormon dopamine yang merangsang otak

dengan memberikan rasa tenang, meningkatkan mood, memacu otak untuk

lebih keras bekerja, memberi rasa segar dan menghilangkan rasa kantuk serta

memacu aktivitas kognitif lainnya. Secara psikologis seseorang akan

merasakan kenyamanan dan bebas dari rasa tertekan atau depresi. Akibat dari

aktivitas kognitif dalam otak yang meningkat, maka syaraf-syaraf pun akan

ikut bekerja dan berkontraksi. Kondisi ini mengakibatkan seseorang kesulitan

untuk mendapatkan fase tidurnya karena proses mental atau aktifitas

kognitifnya tidak bisa diistirahatkan, sehingga akan terus terjebak dalam

kondisi sadar.
Hasil penelitian pada perokok kadang-kadang yang mengalami insomnia

sebanyak 47,1%. Hal ini berkaitan dengan teori dari Niyogi (2011) bahwa

nikotin yang diserap tubuh hanya membutuhkan waktu sekitar 10 detik untuk
59

diterima reseptor dan diteruskan ke otak. Artinya bahwa nikotin yang diserap

tubuh dapat secara singkat mempengaruhi otak untuk memberikan efek

menyenangkan dan menstimulasi otak aktif bekerja, mengaktifkan kegiatan

kognitif tubuh sehingga menghilangkan rasa kantuk. Efek dari nikotin

terhadap pola tidur sendiri bersifat akut, yaitu hanya akan menimbulkan efek

apabila perokok aktif menghisap rokok, sedangkan pada waktu perokok

sedang tidak merokok maka efek yang ditimbulkan nikotin terhadap pola tidur

juga berkurang bahkan hilang.


Sejalan dengan penelitian dari Conway et al (2008), bahwa efek rokok

terhadap gangguan tidur menyebabkan perokok mengalami kesulitan untuk

tertidur setelah mengkonsumsi rokok, nikotin yang terkandung dalam rokok

secara langsung mempengaruhi responden hingga mengalami kesulitan untuk

jatuh tertidur dan kesulitan menjaga tidurnya.


Dampak merokok terhadap kesehatan lain seperti diungkapkan oleh Wake

Forest School of Medicine (2012) dalam Tobacco-Free Campaign bahwa

perokok harian dan kadang-kadang memiliki resiko kesehatan yang sama

terhadap penyakit akibat rokok, misalnya kanker paru-paru, penyakit hati,

infeksi saluran pernapasan dan kualitas hidup secara keseluruhan akan lebih

rendah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 92,3% perokok harian

mengalami insomnia. Seperti yang dijabarkan sebelumnya, bahwa nikotin

pada rokok bertindak sebagai stimulan yang berhubungan langsung terhadap

pola tidur. Salah satu teori yang disampaikan oleh Sitepoe, (2000) bahwa

merokok setiap hari juga dapat mengurangi kadar vitamin C dalam darah yang
60

mampu mengurangi kerja nikotin dalam rokok. Berkurangnya kadar vitamin

C dalam darah dapat memperburuk efek dari nikotin yang mempengaruhi

seseorang dalam memasuki fase tidurnya.


Teori serta hasil pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa dugaan

penelitian benar mengenai hubungan perilaku merokok dengan kejadian

insomnia. Apabila seorang memiliki perilaku merokok harian maka akan

beresiko lebih tinggi untuk mengalami insomnia, dikarenakan tubuh individu

ini terpapar nikotin secara kontinu dan kadar vitamin C didalam tubuhnya

terus berkurang setiap hari akibat perilaku merokoknya, padahal vitamin C

ini dapat membantu mengurangi kerja nikotin pada tubuh.


Peneliti berasumsi bahwa memiliki kebiasaan merokok baik kadang-

kadang ataupun harian berarti sama-sama memiliki peluang untuk menderita

bermacam penyakit akibat zat yang terkandung dalam rokok. Berlainan

dengan hal bahwa zat nikotin pada rokok yang menstimulasi otak bersifat

akut, artinya bahwa perokok yang saat merokok memiliki kemungkinan besar

akan kesulitan untuk memasuki fase tidur. Kesulitan ini akan terus terjadi

selama perokok kontinu merokok setiap harinya.


Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada sebagian kecil responden

yaitu 5 orang yang tidak merokok namun mengalami insomnia, hal ini dapat

saja disebabkan oleh faktor lain misalnya stress, depresi, obat-obatan, kondisi

medis tertentu, kafein atau konsumsi alkohol seperti hasil penelitian yang

dilakukan oleh Lydia Susanti, (2015) dengan judul penelitian faktor-faktor

yang mempengaruhi kejadian insomnia di Poliklinik Saraf RS Dr. M. Djamil

Padang menunjukkan bahwa penderita yang mengalami stress dan depresi


61

lebih banyak mengalami insomnia dibanding penderita tanpa depresi,

penderita depresi mempunyai risiko 9 kali lebih besar mengalami insomnia

dibanding dengan individu tanpa depresi. Hasil penelitian juga menjelaskan

bahwa faktor nyeri kronik atau dapat dikatakan individu dengan kondisi medis

tertentu merupakan keluhan yang cukup sering ditemukan pada pasien

insomnia dan berhubungan dengan kondisi yang tidak nyaman akibat nyeri.
4. Keterbatasan Penelitian
Adapun keterbatasan penelitian selama pelaksanaan penelitian yaitu :
a. Penelitian yang dilakukan hanya pada populasi pada atlet di kelas

sepakbola, kurang mampu menemukan permasalahan yang terjadi pada

atlet lainnya.
b. Masih banyak variabel yang dapat mempengaruhi kejadian insomnia pada

atlet yang tidak diteliti pada penelitian ini.