Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MAKALAH

HUKUM KEWARISAN ISLAM


(KALALAH)

NAMA : BARANTANANG

NIM : A01112221

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai
macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa
keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak,
sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh
manfaat.
Dalam tulisan ini hendak diuraikan perihal tentang pengertian dari kalalah sebagai
ahli waris, dan hubungannya dengan kewarisaanya. Kemudian diuraikan perihal kalalah itu
yang akan memuat golongan dalam keluarga pewaris.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa
yang saya susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang
ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul
ini (KEWARGANEGARAAN) sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Garis pokok keutamaan adalah suatu garis hukum yang menentukan perikutan
keutamaan antara golongan-golongan dalam keluarga pewaris atau yang menentukan urut-
urutan keutamaan di antara keluarga pewaris. Sedangkan garis pokok penggantian adalah
setiap orang dalam sekelompok keutamaan di mana antara dia dengan si pewaris tidak ada
penghubung atau tidak ada lagi penghubung yang masih hidup atau telah meninggal lebih
dahulu dari pewaris. atau yang disebut dengan ahli waris pengganti.
Setelah mempelajari pokok-pokok faraidh itu yang telah dibentangkan tuhan dalam
al-Quran, jelaslah bagi kita, bahwa ini telah jadi salah satu cabang ilmu fiqh islam yang
penting. Dengan sendirinya memerlukan kepintaran dalam ilmu hitung, sehingga tidka
mungkin memimpin umat kalau tidak pandai berhitung.
Tentang faraidh ini, bersaabda Raasulullah dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh
al-Hakim dan al-Baihaqi juga dari hurairah, katanya berkata Rasulullah: pelajarilah faraidh
dan ajarkan dia, karena sesungguhnya itu separuh ilmu, yang akan dilupakan orang dan
yang mula-mula akan dicabut dari umatku. Sebagaimana dapat difahami, hadis ini adalah
sebagai tahrib, peringatan dari Nabi, bahwa kalau tidak dipelajari ilmu ini dengan seksama,
dia akan lenyap begitu saja, padahal sangat diperelukan apalagi dalam maslaha kalalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kata Kalalah muncul dua kali dalam al-Quran, yaitu pada Q.S an-Nisa(4) ayat 12
dan 176. [1]1 Hal ini dikarenakan kata ini hanya muncul dalam hubungannya dengan
kewarisan dan dijadikannya sebagai prasyarat keabsahan saudara sebagai ahli waris. Hanya
saja dalam ayat 12 itu tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan kalalah. Penjelasan

arti kalalah itu baru muncul pada ayat 176, dan dinyatakan dalam ayat yang
artinya mereka meminta fatwamu ya Muhammad tentang kalalah sendiri yang dijelaskan oleh
Allah. Hal ini menunjukkan kalalah bukanlah kata yang dipakai secara luas dan karena itu
timbul pembahasan dikalangan ulama apakah lafaz kalalah dihubungkan kepada pewaris atau
ahli waris.
Ada orang yang ayah bundanya tak ada lagi, telah meninggal lebih dahulu dan dia pun
tidak pula mempunyai anak yang akan menerima pusakanya. Ayah bunda telah mati, anakpun
tidak ada. Orang yang dalam keadaan seperti ini dinamakan Kalalah [2]). Baik orang itu laki-
laki ataupun perempuan. Kata kalalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna lemah, kata
ini misalnya digunakan dalam Kalla ar-rajulu yang artinya apabila orang itu lemah dan
hilang kekuatannya.
Memang ada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kalalah itu
adalah seorang yang tidak meninggalkan anak tanpa menyebutkan dan Ayah yang konon
diriwayatkan dari Umar. Namun periwayatan ini dilemahkan oleh Jumhur Ulama.
Berdasarkan pendapat ini (Jumhur ) ayah tidak menutupi kedudukan saudara sebagai ahli
waris. Artinya saudara-saudara si pewaris tetap dapat mewarisi bersama dengan keberadaan
sang ayah. Sebagaimana jumhur ulama tidak menempatkan anak perempuan setara dengan
anak laki-laki dalam menutupi hak saudara-saudara pewaris. Mereka juga tidak menempatkan
ibu setara dengan ayah dalam kasus ini.
Prof.Dr.Hazairin, salah seorang pakar hukum di Indonesia, juga mendukung pendapat
Innu Abbas sehubungan dengan pengertian kalalahyang menjadikan saudara pewaris tetap
mewarisi dengan keberadaan ayah.
2
Ulama sepakat (Ijma) bahwa Kalalah ialah seseorang mati namun tidak mempunyai
ayah dan keturunan, diriwayatkan Dr. Abu Bakar As-Sidiq r.a. ia berkata: saya mempunyai

1[1] . Dr. Rahman Facthur, 1975, Ilmu Waris, PT. Al Maarif, Bandung, hlm 62
[2] . Prof. Dr. Hamka, 1980, Tafsir al-Azhar VI, Jakarta: Pustaka Panjimas, hlm 286-
287
2[3] IBID.. hlm. 95-96
[4] . Prof. Dr. Syafruddin Amir, 2004, Hukum Kewarisan Islam, Kencana Jakarta, hlm 106
pendapat mengenai Kalalah. Apabila pendapat saya benar maka dari Allah semata dan tidak
ada sekutu baginya, adapun apabila pendapat ini salah, maka karena diriku dan dari setan,
dan Allah terbatas dari kekeliruan tersebut.

B. Ketentuan Warisan Al- Hawasyiy


Ada beberapa riwayat tentang sebab turunnya fatwa Tuhan tentang system bagi waris
seseorang yang telah meninggal dalam keadaan Kalalahini. Menurut sebuah hadis riwayat
Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan keempat penyusun As-Sunnah, dll. Bahwa asal mula
turun ayat tentangKalalah adalah ketika Jabir sedang sakit keras dan dia tidak sadarkan diri.
Datanglah Rasulullah SAW dan langsung mengambil air wudhu lalu dipercikannya air ke
wajah Jabir hingga sadarlah dia. Ketika Jabir sadar ia bertanya kepada Rasulullah tidak ada
yang mewarisiku kecuali Kalalah,bagaimana pembagian warisnya ?
Hadis yang lain juga menegaskan bahwa Jabir bertanya bolehkah mewariskan untuk
saudara-saudaraku sepertiga? lalu Nabi menjawab Amat baik! kemudian Jabir bertanya
lagi Bagaimana kalau separuh? Nabi menjawab Amat baik! kemudian Rasulullah pun
keluar lalu beliau masuk kembali dan berkata Pada penglihatanku, engkau belum akan mati
karena sakitmu yang ini. Allah telah menurunkan firmannya bahwa saudara-saudaramu itu
mendapatkan dua pertiga.[3])
Tentang kalalah, menurut riwayat Abd bin Humaid, Abu Daud, al-Baihaqi, dari Abu
Salamah barangsiapa yang tidak meninggalkan anak dan tidak pula bapak, maka pewarisnya
itu adalah kalalah.
Kemudian tentang Al- Hawasyiy, yaitu saudara, paman, beserta anak mereka masing-
masing. Hubungan nasab antara orang yang meninggal dunia dengan mereka itu adalah
hubungan nasab kearah menyamping. [4]), yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Saudara laki-laki sekandung


Saudara laki-laki sekandung berhak mewarisi harta peninggalan saudaranya yang
meninggal dunia, sebagaimana yang diterangkan oleh firman Allah:
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai
anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu
dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta
saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua
orang, Maka bagi keduanya 2/3 dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika
mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian
seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah
menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui
segala sesuatu.
Analisisnya adalah halaka berarti wafat, laisa lahu walad adalah sifat
dari amruu atau hal dari dhamir halaka. Jadi kalimat tersebut berarti bahwa seseorang yang
wafat dan tidak mempunyai anak atau selain anak, maka keadaan orang yang wafat tadi
mempunyai saudara sekandung atau seayah saja, maka mereka mendapat warisan.[5])
Kemudian al-Suyuthi menambahkan bahwa kata ummrun menjadi marfu dengan fiil yang
menafsirkannya sehingga orang yang wafat kalalah yang tidak meninggalkan anak dan
orangtua, ia memungkinkan saudara sekandung atau seayah[6]) sebagai ahli waris.
Kedudukan mereka sebagai ahli waris juga didasarkan pada sabda Rasulullah saw.
Serahkanlah bagian-bagian harta peninggalan kepada orang-orang yang berhak.
Kemudian sisanya adalah untuk orang laki-laki yang terdekat (hubungan nasabnya kepada
orang yang meninggal dunia). (H.R. Al-Bukhori dan Muslim dari Ibnu Abbas).

b. Saudara perempuan sekandung


Seorang yang sedang dalam keadaan kalalah, baik orang itu laki-laki ataupun
perempuan, maka peraturan pembagian warisnya ada lagi. Kita gambarkan terlebih dahulu.
Ada seorang suami atau seorang istri mati. Ayah dan bundanya tak ada lagi dan anaknyapun
tak ada, yang ada hanya istri, atau yang ada hanya suami. Keluarga mereka yang terdekat
hanyalah saudara. Baik saudara itu seorang laki-laki maupun perempuan. Maka saudara itu,
baik dia laki-laki maupun perempuan mendapat 1/6. Sama saja bagian itu, baik yang
meninggal laki-laki atau yang meninggal perempuan. Dapatlah kita bay 3angkan,
bahwasannya bagian yang 1/6 itu jika ibunya masih hidup, ibulah yang harus mendapat.
Sekarang sebab tidak ada lagi saudara yang seorang itulah yang menerima bagian 1/6 itu. Jika
suami perempuan itu masih ada, niscaya mudahlah kita membagi harta warisan itu menjadi
12 bagian. untuk si suami, menjadi 6 bagian dan 1/6 bagi saudara yang seorang itu (baik
laki-laki taupun perempuan) menjadi 2 bagian. Yang lebihnya (empat), serahkan kepada
Ashabah.

3[5] . Ali Parman, 1995, Kewarisan dalam Al-quran,cet 1, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, hlm
52
[6] . Ibid
Tetapi jika mereka lebih dari itu, maka bersekutulah mereka pada yang 1/3 itu.
Jelaslah, bahwa kalau saudara yang tinggal itu hanya satu orang laki-laki atau satu
orang perempuan, dia mendapat 1/6. Tetapi kalau mereka lebih dari satu orang, yaitu berdua
atau lebih, mereka itu mendapat 1/3. Yang sepertiga itu mereka bagi-bagi dengan ketentuan
yang laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan.
Niscaya akan timbul keraguan kalau ayat ini yang menentukan satu saudara
yang kalalah mendapat 1/6 dan kalau lebih dari satu mendapat1/3, padahal di akhir surat an-
Nisa ini juga telah disebutkan tentang pembagiannya.
Sebab turunnya ayat 12 adalah berkaitan dengan turunnya ayat 11. An-Nisa At-
Thobari memaparkan beberapa riwayat yang menjadi sebab langsung turunnya ayat 12 yaitu
pengaduan istri Saad kepada Nabi Saw, karena saudara Saad mengambil seluruh harta
peninggalan dan tidak menyisakan barang sedikitpun untuk anak-anak perempuan Saad
(peristiwa ini terjadi setelah perang Uud).
At-Thabathabai meluaskan arti kalalah dengan orang yang tidak mempunyai
keturunan dan orang tua. Ketiadaan keturunan diambil dari ayat 176 yang diperluas dengan
qiyas melalui Ilat hubungan langsung sebagaimana dinyatakan dalam ayat 12 maka ibu
atau anak perempuan dapat menghijab secara mutlak semua garis sisi, perbedaan cara
pandang tersebut berakar pada pemahaman kata kata kunci yang terdapat dalam ayat ( 12
dan 176 ) yang apabila ditinjau dari sisi usul maka kata kalalah termasuk kedalam kategori
mujmal. Abu bakar ra dan sahabat pada umumnya hanya menggunakan ayat 12 dengan
langsung mencari hadist hadist sebagai penafsirnya. Sehingga kata kalalah sesuai dengan
arti Istimal yaitu hanya mencakup pada ketiadaan anak laki laki dan ayah.

c. Saudara laki-laki seayah


Saudara laki-laki seayah dapat mewarisi dari harta peninggalan saudaranya yang
seayah yang meninggal dunia. Dalam hal ini para Ulama sepakat bahwa yang dimaksud
saudara laki-laki oleh firman Allah dalam suarat an-Nisa;4 dan 176, ialah saudara laki-laki
sekandung dan saudara laki-laki seayah. Kedudukannya sebagai ahli waris juga didasarkan
pada sabda Rasulullah saw. Yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari Ibnu abbas
yang telah disebutkan di depan.

d. Saudara perempuan seayah


Saudara perempuan seayah dapat mewarisi harta peninggalan saudaranya seayah yang
meninggal dunia. Begitu pula para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan saudara
perempuan poleh firman Allah dalam surat 4 (an-Nisa) :176, ialah saudara perempuan dan
saudara perempuan seayah.

e. saudara laki-laki seibu


Jika seorang perempuan kawin dengan dua kali atau lebih, dan dari masing-masing
perkawinan melahirkan anak, maka hubungan nasab antara anak yang lahir hasil perkawinan
dari suami yang satu dengan anak yang lahir hasil perkawinan dari suami yang lain, ialah
hubungan nasab seibu atau disebut dengan saudara seibu.
Saudara laki-laki seibu dapat mewarisi dari harta peninggalan saudaranya seibu
yangmeninggala dunia, sebagaimana dijelaskan oleh Allah:




Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan
ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seseorang saudara laki-laki (seibu
saja) atau saudara seibu saja maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu
seperenam harta... (An nisa 12).

f. Saudara perempuan seibu


Berdasarkan ayat yang baru disebutkan di atas, jelaslah bahwa saudara perempuan seibu
dapat mewarisi dari harta peninggalan saudaranya yang seibu yang meninggal dunia.

g. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung dan anak laki-laki keturunan seterusnya
sampai betapapun jauhnya ke bawah, tanpa diselingi oleh anak perempuannya.

h. Paman sekandung, yaitu saudara laki-laki seayah dan anak laki-laki seayah dan anak laki-
laki kakak shahih yang sekandung betapapun jauhnya keatas.

i. Paman seaayah, yaitu saudara laki-laki ayah atau saudara laki-laki shahih yang seayah
betapapun jauhnya ke atas.
j. Anak laki-laki dari paman sekandung dan anak laki-laki keturunan seterusnya sampai
betapapun jauhnya kebawaah, tanpa diselingi oleh anka perempuannya.

k. Anak laki-laki ari paman seayah dan anak laki- laki keturunann seterusnya smpai
betapapun jauhnya ke bawah, tanpa diselingi anak perempuannya.
Lanjutan ayat : katakanlah: Allah akan memberi fatwa kepada kamu dari
hal kalalah. Yaitu jika Jabir bin Abdullah itu meninggal, tetapi dia tidak mempunyai anak
dan ayahnyapun sudah tidak ada lagi karena lebih dahulu meninggal dari dia. Tetapi dia
memiliki beberapa orang saudara padahal di dalam keterangan-keterangan yang sudah
tentang Faraidh belum ada tersebut bahwa saudara-saudara itu mendapat bagian. Yang
tersebut barulah saudara seibu saja, kalau saudara seibu seorang dapatlah seperenam. Kalau
lebih dari seorang dapatlah ia sepertiga lalu dibagi-bagi. Lalu bagaimana tentang saudara
yang bukan seibu hanya sebapa ? maka datanglah fatwa Tuhan sebagai jawabannya jika
seseorang meninggal tidak ada baginya anak, padahal baginya ada seorang saudara
perempuan, maka untuk dia separuh dari apa yang dia tinggalkan itu.[7]
Jika yang meninggal tidak meninggalkan anak, yang ada hanya seorang saudara
perempuan yang seibu sebapa atau sebapa saja, maka saudara perempuan itu mendapat
separuh dari harta peninggalannya. Disini hanya disebut tidak meninggalkan anak, tidak
disebut tidak meninggalkan bapak. Sebab meskipun tidak disebut sudah jelas
arti Kalalah ialah bapaknya sudah meninggal lebih dahulu.
Dan dialah, yaitu saudara laki-laki yang mewarisinya, yaitu mewarisi saudara
perempuan itu. Jika takdir mengatakan saudara perempuan itu yang meninggal terlebih
dahulu tentu saja dalam keadaan kalalah juga.
Misalnya ada dua orang bersaudara, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ayah
mereka telah meninggal terlebih dahulu dan di kemudian hari saudara perempuan itu
meninggal terlebih dahulu dan dia tidak meninggalkan anak, maka saudara laki-laki itulah
yang mewarisi seluruh harta perempuan yang mati itu. Berbeda dengan saudara laki-laki yang
meninggal tidak meninggalkan anak, maka saudara perempuan itu mend 4apat separuh dari
hartanya. maka jika mereka berdua yaitu saudara perempuan itu berdua, sedang yang
meninggal ialah yang laki-laki maka untuk keduanya itu dua pertiga dari apa yang dia
tinggalkan kalau seorang dapat separuh, kalau berdua dapat dua pertiga, bahkan kalau
mereka lebih dari dua pun mendapat dua pertiga. Sebagai saudara-saudara Jabir bin Abdullah

4[7]Op, Cit..
itu, menurut setengah riwayat mereka ada bertujuh tetapi ada lagi riwayat mereka adalah
sembilan. Yang selebihnya diserahkan kepada ashabah. dan jika mereka bersaudara, ada
yang laki-laki dan ada yang perempuan , maka untuk yang laki-laki adalah dua bagian dari
perempuan. Kecuali saudara yang hanya seibu, sebab mereka sudah mendapat seperenam
sebagaimana yang telah ditentukan pada ayat Kalalah. sebab yang seperenam yang mereka
terima itu adalah menggantikan pembagian dari ibu mereka yang sudah meninggal lebih
dahulu. Kalau bukan begitu niscaya mereka tidak dapat karena mereka bukan ashabah yang
meninggal.[8])
Se5bagian dari hukum-hukum ini sudah dibicarakan pada permulaan surat, yaitu
bagian yang berhubungan dengan warisan kalalah dari keluarga ketika tidak ada ashabah
keluarga laki-laki yang berhak mewarisi seluruh harta peninggalan yang tersisa.[9]
Jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan ayah itu mempunyai saudara wanita
sekandung atau seayah, maka ia mendapatkan separo dari harta peninggalan saudaranya itu.
Jika saudara itu laki-laki, maka ia mewarisi seluruh peninggalannya setelah dibagikan kepada
ashabul furudh ahli waris yang berhak menerima bagian tertentu bila yang meninggal tidak
meninggalkan ayah dan anak. Jika saudara yang ditiggalkan itu dua orang saudara wanita
kandung atau seayah, maka mereka mendapatkan dua pertiga dari peninggalan yang
meninggal. Jika saudaranya itu jumlahnya banyak, baik laki-laki dan perempuan maka
saudara laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan sesuai dengan aqidah umum dalam
warisan. [10]

C. Perbedaan Ayat 12 dan 176 Surat An-Nisa tentang Kalalah


Terjadinya perbedaan arti dari kedua ayat tersebut dikarenakan oleh beberapa hal:
1. Dari sebab turunnya ayat, menurut Rashid ridha, ayat 12 turun di musim dingin dan ia
bersifat zahir karena ahli waris disebut secara jelas, yakni saudara laki-laki dan saudara
perempuan seibu dengan saham yang pasti. Ayat 176 turun dimusim panas yang bersifat
bayan, yakni ahli waris yang disebut dalam ayat hanya saudaraperempuan sekandung,
perempuan dan saudara laki-laki seayah termasuk dalam pengertian ayat itu.
2. Qari segi qiraat, pendapat dalam memahami maksud kata akhun, ukhtun dan
ikhwatun (saudara) mutawatir dialeknya dari sahabat. Dan keduaa kata itu dimaksudkan
saudara seibu. Hanya kata min al-ummi tidak masuk kedalam redaksi ayat karena kata

5[8] Ibid, hlm.97


[9] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Quran, (Jakarta : Gema Insani, 2004), hlm.152
[10] Ibid,
trersebut tidak langsung dari nabi, tetapi sahabat memahaminya berdasarkan sebab turunnya
ayat tersebut.
3. Dari segi analisis keabsahan, kedudukan kalalah pada ayat 12 adalah khabar dan ayat 176
adalalah hal. Ini berarti, Tuhan memberitahukan kepada manusia dengan tujuan ganda, yakni
agar ahli waris tidak mudarat dan pewaris tidak sesat.
4. Hal lain yang membedakan sehingga kata kalalah pada ayat 12 dipahami saudara seibu dan
ayat 176 dipahami saudara sekandung dan seayah adalah terletak pada perbedaan redaksi.
Pada ayat 12 disebut yuratsu kalalah dan pada ayat 176 disebut yuftikum fi al-kalalah. Kata
yang pertama tanpadhamir kum dan huruf jar, tetapi kata yang kedua sebaliknya. Hal ini
mengandung isyarat bahwa pada ayat 12, Tuhan memeperjelas masalah terhadap ahli
warisnnya sekalipun jauh. Unyuk ayat 176, tuhan sebagi Itibar bahwa pelaksanaan kewarisan
dapat dilaksanakan setelah terjadi peristiwa.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kalalah adalah suatu persoalan yang banyak menyita perhatian semenjak dari masa
sahabat Jumhur Ulama mengartikannya dengan menunjuk orang yang tidak mempunyai anak
laki laki dan ayah.
Dengan demikian kewarisan yang berkenaan dengan kalalah secara umum adalah sebagai
berikut :
1. Saudara berhak atas warisan sesuai dengan turunnya, selama tidak ada anak (laki-laki atau
perempuan) dan ayah.
2. Ketentuan bagi saudara kandung atau seayah adalah bila sendiri, 2/3 jika ia berserikat
lebih dari seorang, bila mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, maka bagiannya 2/3
dengan ketentuan yang jelas yaitu (2:1) antara laki dan perempuan.
3. Ketentuan bagi saudara seibu adalah 1/6 bila mereka sendiri baik laki-laki maupun
perempuan, dan 1/3 bila mereka lebih dari seorang baik itu laki-laki maupun perempuan
dengan ketentuan yang pasti (2 : 1) antara laki dan perempuan.
Dengan demikian persoalan kalalah pada dasarnya adalah mendudukkan saudara
sebagai ahli waris dan yang dapat menghijabnya adalah ahli waris dari sisi keturunan anak
dan ayah. Yang kemudian pembagian warisan tersebut dilakukan setelah dikeluarkan harta
untuk memenuhi wasiat dan hutang si mayit.

Daftar pustaka

Facthur, Dr. Rahman, 1975, Ilmu Waris, PT. Al Maarif, Bandung


Hamka, 1980, Tafsir al-Azhar VI, Jakarta: Pustaka Panjimas
Amir, Syafruddin, 2004, Hukum Kewarisan Islam, Kencana Jakarta
Quthb, Sayyid, 2004, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Jakarta : Gema Insani,
Parman, Ali, 1995, Kewarisan dalam Al-quran,cet 1, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada