Anda di halaman 1dari 22

ISLAM AJARAN KOMPREHENSIF DAN

AKIDAH EKONOMI ISLAM


Oleh: Usman Chatib, SHI., MA.

A. Pendahuluan

Ekonomi Islam adalah ekonomi yang di dalamnya terjelma cara Islam


mengatur kehidupan perekonomian dengan apa yang dimiliki dan ditujukan oleh
sistem ekonomi Islam, yaitu tentang cara berpikir yang terdiri dari nilai-nilai
sejarah yang berhubungan dengan masalah-masalah perekonomian.1

Hal ini merupakan konsekuensi logis dari petunjuk dan rahmat yang dibawa
oleh ajaran Islam itu sendiri, yaitu menyeluruh untuk manusia dalam artian
mencakup segala segi kehidupan.

Islam menegakkan peraturan-peraturan dalam kemasyarakatan atas keadilan


yang merata, begitu juga dalam masalah ekonomi. Unsur kezaliman dan
ketidakadilan tidak akan mendapat tempat dalam kehidupan. Oleh sebab itu dalam
memenuhi kebutuhan manusia yang tidak berkecukupan dan berkesudahan itu
tidak akan terjadi pertentangan dan permusuhan seperti yang terjadi di dunia
Barat, disebabkan mereka memakai sistem ekonomi yang didasarkan atas materil
semata yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Akibatnya, terjadi persaingan
yang menghancurkan, antara blok-blok berbagai negara dengan maksud untuk
menguasai perekonomian, dan memonopoli pasar-pasar dan sumber-sumber bahan
baku.

Al-Quran merupakan sumber penggalian dan pengembangan ajaran


Islam. Untuk melakukan penggalian dan pengembangan dipersyaratkan suatu
kualifikasi dan keyakinan kuat untuk menghasilkan pemahaman yang tepat
mengenai perilaku kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi.
Pengembangan ilmu ekonomi Islam yang bersumber dari al-Quran mempunyai
peluang yang sama dengan pengembangan keilmuan lainnya. Sayang, ilmu ini
1 Muhammad Abdul Mannan, Islamic Economics Theory and Practice,
diterjemahkan oleh Drs. Nastangin dengan judul Teori dan Praktek Ekonomi
Islam (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1993), h.19.

1
dirasakan tertinggal, walaupun kebutuhan terhadap suatu sistem ekonomi baru
yang lebih menjanjikan kesejahteraan dan kemaslahatan sudah sangat mendesak.
Dengan demikian pengembangan ilmu ekonomi Islam menjadi sesuatu yang
bersifat dharuriyah.

Dalam makalah ini Penulis akan mengurai dan menjelaskan bahwa Islam
bukanlah agama yang parsial melainkan agama yang komprehensif, sebuah agama
yang mencakup dan melingkupi semua bidang dan lini kehidupan, termasuk
bidang ekonomi. Selain itu, Penulis juga akan menjelaskan bagaima sistem
perekonomian dalam kacamata Islam.

B. Islam Agama Komprehensif


Sebagaimana telah disinggung pada pendahuluan di atas bahwa Islam
datang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ajaran Islam yang notabenenya
dibawa oleh baginda Rasulullah merupakan angin segar bagi seluruh alam.
Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al-Anbiya [21]:107:

()




Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam. (Qs. Al-Anbiya [21]:107)

Kehadiran Islam adalah untuk menegakkan peraturan-peraturan dalam


kemasyarakatan atas keadilan yang merata, begitu juga dalam masalah ekonomi,
dimana unsur kezaliman dan ketidakadilan tidak akan mendapat tempat dalam
kehidupan.

Kesempurnaan Islam telah dijamin oleh Allah SWT. sebagaimana firmaNya


dalam Qs. Al-Maidah [5]:3







()



Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi
agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Qs. Al-Maidah [5]:3)

2
Ayat di atas tidak hanya menjelaskan kesempurnaan ajaran Islam, tetapi juga
menjelaskan bahwa satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah hanyalah Islam.
Hal ini menjadi konsekuensi logis bagi umat Islam bahwa seluruh aspek
kehidupannya mesti bercermin dan bepedoman kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Rasulullah bersabda:




:


2
( )
Dari Ibn Abbas RA, bahwa Rasulullah berkhutbah di depan
manusia pada saat haji Wadha, dia bersabda Wahai umat
manusia, sungguh telah kutinggalkan bagimu suatu
pegangan yang tidak akan pernah tersesat jika kamu selalu
berpegang padanya yaitu kitab Allah dan Sunnah NabiNya
(HR. Baihaqi)
1. Islam adalah Agama Universal
Ajaran Islam tidak pernah memisahkan antara urusan dunia dan urusan
akhirat. Semuanya adalah urusan agama yang ada nilaiannya di akhirat nanti.
Manusia mesti melakukan urusan keduniaan menepati dasar-dasar Islam. Ibadah
kepada Allah tidak boleh dikhususkan kepada ibadah khusus berkaitan hubungan
dengan Allah saja seperti sembahyang zikir dan lain-lain, tetapi ia merangkum
semua ibadah umum seperti bekerja, melaksanakan amanah dan tanggungjawab,
dakwah dan jihad, ekonomi dan kenegaraan.
Keseimbangan kehidupan ini dilansir secara tegas oleh Allah SWT dalam
Qs. Al-Baqarah [2]: 143





()



Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat
Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi

2 Ahmad ibn Husain ibn Ali ibn Musa Abu Bakr al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi al-
Kubra Jilid 10, (Makkah : Maktabah Dar al-Baz, 1994),

3
atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Qs. Al-Baqarah [2]:
143)
Sesungguhnya keseimbangan Islam berkaitan dunia dan akhirat tidak boleh
dilihat dengan nombor dan bilangan tetapi melihat keseimbangan yang telah
ditetapkan oleh Allah swt. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara dunia dan
akhirat bahkan kedua-duanya saling berkait antara satu sama lain.

Untuk mendapatkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat


hendaklah mengikut pertunjuk syariat Islam yang menjadi dasar kehidupan dan
cara hidup (al-Din) manusia. Apabila kita mengabaikan tuntutan syariat Islam
maka akan berlaku ketidak-seimbangan dalam kehidupan manusia. Dalam sebuha
hadis dikhabarkan:


:







)


3

Daripada Anas Bin Malik, Tiga orang lelaki datang berjumpa isteri-isteri
nabi dan mempertanyakan tentang ibadah Nabi saw, ketika diceritakan,
mereka berkata sesama mereka Bagaimana kita dibandingkan dengan
Nabi saw?, Allah swt telah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan
akan datang Lalu salah seorang daripada mereka berkata Aku akan

3 Muhammad ibn Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Jafiy, al-Jami al-Shahih al-
Mukhtashar Jilid 6, (al-Yamamah (Beirut): Dar Ibn Katsir, 1987)., h. 1949

4
shalat malam selama-lamanya dan yang kedua berkata Aku akan
berpuasa sepanjang tahun tanpa berbuka dan yang ketiga berkata Aku
akan tinggalkan perempuan dan tidak akan menikah selama Lalu
Rasulullah saw datang dan bertanya adakah kamu yang berkata demikian?
Ingatlah demi Allah Aku adalah yang paling takut di kalanganmu kepada
Allah dan paling bertaqwa kepadaNya, tetapi aku berpuasa dan berbuka,
aku sembahyang dan aku tidur, dan aku mengawini perempuan..!! Maka
siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan daripada umat ku. (HR.
Bukhariy)
Semua kegiatan dan apapun yang dilakukan di muka bumi ini, kesemuannya
merupakan perwujudan ibadah kepada Allah SWT. Islam sebagai landasan
berpijak dalam kehidupan mengajarkan keadilan dan selalu menuntun ke arah
terwujudnya tatanan sosial yang adil dan makmur. Bahkan Islam sangat
mengecam setiap aksi dan perilaku yang selalu membawa kepada tindak
kesewenang-wenangan dan permusuhan. Sebagaimana Allah telah mencela
bangsa Yahudi karena suka bermusuh- musuhan. Firman Allah dalam Qs. Al-
Baqarah [2]: 185






)
(
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar
terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat
demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.
Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Qs. Al-Baqarah [2]: 185)
Uraian di atas menegaskan bahwa dalam Islam, tidak dibenarkan manusia
bersifat sekuler yaitu, memisahkan kegiatan ibadah/ukhrowi dan kegiatan
duniawi. Islam menginginkan kehidupan manusia dijalani dengan damai, tidak
terkecuali juga mengenai bagaimana manusia harus berbuat dan berusaha dalam
memenuhi kebutuhan hidup sehari- harinya.

2. Kemestian Menyandarkan Analisa Ekonomi kepada


Islam

5
Islam menegakkan peraturan-peraturan dalam kemasyarakatan atas keadilan
yang merata, begitu juga dalam masalah ekonomi, dimana unsur kezaliman dan
ketidakadilan tidak akan mendapat tempat dalam kehidupan. Oleh sebab itu dalam
memenuhi kebutuhan manusia yang tidak berkecukupan dan berkesudahan itu
tidak akan terjadi pertentangan dan permusuhan seperti yang terjadi di dunia
barat, disebabkan mereka memakai sistem ekonomi yang didasarkan atas materil
semata yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Akibatnya terjadi persaingan
yang menghancurkan, antara blok-blok berbagai negara dengan maksud untuk
menguasai perekonomian, dan memonopoli pasar-pasar dan sumber-sumber bahan
baku.
Allah sangat mengecam kondisi ini, sebagaimana yang diabadikan dalam
Qs. Huud [11]: 84-86






( )




( )
()
84. dan kepada (penduduk) Mad-yan (kami utus) saudara mereka, Syu'aib.
ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu
selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan,
Sesungguhnya aku melihat kamu dalam Keadaan yang baik (mampu) dan
Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang
membinasakan (kiamat)." 85. dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku,
cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu
merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu
membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. 86. sisa
(keuntungan) dari Allah[734] adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-
orang yang beriman. dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu" (Qs.
Huud [11]: 84-86)

Ada perbedaan besar antara mendapatkan keuntungan material sebagai


tujuan dan cita-cita, dengan hanya sebagai perantara dari tujuan yang lebih besar
dan cita-cita yang lebih luhur, yakni memakmurkan bumi dan mempersiapkan
bagi kehidupan insani, serta merealisasikan kesejahteraan hidup dan harta
kekayaan untuk seluruh manusia.

6
Perbedaan itu dalam suasana sistem ekonomi pertama, kalau cita-citanya
adalah memperoleh keuntungan material, maka yang ada hanya egoism, monopoli
dan usaha mengumpulkan harta kekayaan dunia dan mencegahnya dari orang lain,
seperti yang terjadi dalam sistem ekonomi yang mengutamakan pertarungan.
Inilah yang menyebabkan terjadinya macam-macam peperangan dan kehancuran.

Adapun dalam suasana kedua, yang mencita-citakan kemakmuran seluruh


bumi, maka persaingan, egoisme, dan monopoli akan berubah menjadi saling
pengertian dan saling menolong antara negara untuk memakmurkan bumi dan
mengeksploitasikan kekayaan dengan cara terbaik demi kemaslahatan seluruh
umat manusia.

Jadi cita-cita kegiatan ekonomi menurut Islam bukanlah menciptakan


persaingan, monopoli, maupun sikap mementingkan diri sendiri dengan usaha
mengumpulkan semua harta kekayaan dunia dan mencegahnya dari orang lain,
seperti yang terjadi dalam lingkungan sistem ekonomi penemuan manusia. Akan
tetapi cita-citanya adalah merealisasikan kekayaan, kesejahteraan hidup, dan
keuntungan umum bagi seluruh masyarakat disertai niat melaksanakan hak
khilafat dan mematuhi perintah Allah SWT.

Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk berusaha selama usaha


yang dilakukan itu bersifat halal dan tidak menimbulkan kerugian bagi orang
banyak. Berbagai bentuk usaha dibolehkan sebagaimana firman Allah SWT dalam
Qs. Al-Jumuah [62]:10






()


Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi;
dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung. (Qs. Al-Jumuah [62]:10)

Kata bertebaran adalah perintah bagi manusia untuk berusaha mencari


rezeki guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan mendapatkan karunia dari-Nya.
Apa yang dilakukan oleh manusia akan disaksikan oleh Allah dan Rasul serta
kaum muslimin yang lain. Dalam Qs. Al-Taubah [9]:105, Allag berfirman:

7







()
Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata. (Qs. At-Taubah: 105).
Dalam ayat lain Allah berfirman




( )





()
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang
baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui
batas sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah
telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu
beriman kepadanya. (QS. Al-Maidah [5]: 87-88)

Ayat-ayat di atas memberi pemahaman kepada kita bahwa Islam mendorong


penganutnya untuk menikmati karunia yang telah diberikan oleh Allah. Karunia
tersebut harus dipergunakan untuk meningkatkan pertumbuhan baik materi
maupun nonmateri. Meskipun perintah kepada manusia agar senantiasa berusaha
tetapi ia harus menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi. Firman Allah
SWT dalam Qs. Al-Qashash [28]: 77:









()

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat. Dan janganlah kamu melupakan
kebahagiaanmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu

8
berbuat kerusakan (di muka) bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al-Qashash [28]: 77)
Keseimbangan aspek dunia dan akhirat tersebut merupakan karakteristik
unik sistem ekonomi Islam. Perpaduan unsure material dan spiritual ini tidak
dijumpai dalam sistem perekonomian lain seperti kapitalis maupun sosialis.

Meskipun kebebasan ekonomi diakui oleh Islam namun terikat sebagaimana


yang dikatakan oleh Ahmah Muhammad Assal dan Fathi Abdul Karim: tiang
ekonomi Islam yang kedua ialah kebebasan ekonomi yang terikat. Artinya bahwa
sistem ini tidak memberikan kepada individu-individu kebebasan ekonomi yang
mutlak, tetapi mengikat kemerdekaan ini dengan batas-batas dari nilai-nilai yang
dipercaya Islam. Sebab meluasnya prinsip kebebasan ekonomi secara mutlak
mempunyai pengaruh yang paling buruk terhadap nasib kaum miskin.

Secara tegas Rasul melalui sabda kamulah yang lebih mengetahui tentang
urusan duniamu, memberikan simbol kebebasan untuk meniti kehidupan di
dunia. Kebebasan dalam beraktivitas haruslah disesuaikan dengan landasan-
landasan aqidah, moral, dan yuridik.

Landasan aqidah adalah wujud penegasan manusia sebagai khalifah Allah


yang berfungsi untuk mengemban amanah Allah dalam memakmurkan kehidupan
di bumi yang kelak akan diminta pertanggung jawabannya. Untuk itu manusia
dibekali dengan profesionalitas (kemampuan) serta diberikan kemudahan oleh
Allah dalam mengelola potensi alam dan memanfaatkannya untuk pemenuhan
kebutuhan.

Landasan moral adalah perwujudan pertanggung jawaban manusia dalam


mencari rezeki untuk dirinya serta keluarga yang menjadi tanggung jawabnya
dengan kekuatannya sendiri tanpa menggantungkan diri pada orang lain.
Pengerahan segala daya dan upaya untuk memenuhi kebutuhan diperbolehkan asal
tidak bermotifkan untuk memperkaya diri dan membanggakan kepada orang lain.
Islam sangat melarang hal seperti itu. Sebaliknya harus senantiasa membantu
meringankan beban orang lain dan memberikan dorongan sesuai dengan
kemampuannya.

9
Landasan moral tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:4
a. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan haruslah berhubungan dengan hal-hal yang
halal dan bukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
b. Kegiatan-kegiatan yang halal dilakukan dengan cara yang tidak menimbulkan
kerugian ataupun kemudharatan dalam kehidupan masyarakat.
c. Nilai-nilai keadilan haruslah senantiasa dipelihara agar tidak merugikan orang
lain. Apabila bertentangan dengan nilai-nilai keadilan maka itu tidak dapat
dibenarkan.
Landasan yuridik sebagai alat untuk melegalisasi usaha dalam kegiatan
ekonomi sangatlah mendesak. Landasan tersebut adalah Al-Quran, Hadits, Rayu
atau ijtihad.
Islam mengakui hak milik perorangan dan diberi kekuasaan penuh bertindak
atas haknya itu untuk kepentingan sendiri, selagi tidak mengganggu kepentingan
orang lain. Namun di dalam pemberian kebebasan tersebut Islam juga mengekang
kebebasan itu dengan menentukan beberapa kewajiban yang harus dipatuhi, di
antaranya adalah kewajiban membayar zakat apabila harta seseorang telah
mencapai nisab. Kewajiban ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap jiwa
seseorang, karena ia harus rela mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi
kebahagiaan saudara-saudaranya yang kekurangan. Di sini jelaslah bahwa dasar
ekonomi dalam Islam itu disamping mengakui hak perorangan juga harus
memelihara kepentingan umum.5
Dengan kata lain Islam mengakui kepentingan individu dan kepentingan
orang banyak selama tidak ada pertentangan antara keduanya atau selama masih
mungkin mempertemukan keduanya, buktinya dalam soal hak milik, Islam masih
mengakui hak milik individu dan pada saat yang sama, masih mengakui hak milik

4 Yusuf Qardhawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, (Jakarta:
Rabbani Press, 1995), h. 87

5 M.A. Mannan, The Behaviour of The Firm and Its Objective in an Islamic
Framework, Readings in Microeconomics: An Islamic Perspektif, (Malaysia:
Longman, 1992)., h. 120-130

10
orang banyak. Satu di antara keduanya tidak diabaikan. Apabila terjadi
pertentangan antara keduanya dan tak mungkin diselenggarakan keseimbangan
atau pertemuan maka Islam akan mengutamakan kepentingan orang banyak
daripada kepentingan individu. Hal ini sangat berbeda dengan sistem kapitalis
yang sifatnya individual semata dan sosialis yang mementingkan masyarakat saja
serta mengabaikan individu.
Islam juga membolehkan kita untuk berlomba dalam mencari harta dan
mengumpulkannya, tetapi harus dihindari cara-cara yang merugikan orang lain
seperti melakukan perbuatan penipuan, melakukan kecurangan dan sebagainya.
Islam membenarkan seseorang memiliki kekayaan lebih dari yang lain
sepanjang kekayaan tersebut diperoleh secara benar dan yang bersangkutan
menjalankan kewajibannya demi kesejahteraan masyarakat baik dalam bentuk
zakat maupun amal kebajikan lainnya.

3. Al-Quran sebagai Dasar Jawaban Hipotesis Ekonomi


Dalam Islam, diyakini bahwa segala sesuatu itu telah ada kadar dan
ketentuannya. Hal ini disinyalir oleh firman Allah dalam Qs. At-Thalaq [65]:3







()


Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan
Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. At-Thalaq [65]:3)

Dalam dunia ekonomi Islam, sesuai dengan kaidah fiqih diterangkan


bahwasa segala sesuatu yang berhubungan dengan muamalah dasar hukumnya
adalah boleh kecuali apabila ada dalil yang mengharamkannya. Sebagaimana
kaidah yang berbunyi:6

6 Muchlis Bahar, Jual Beli MLM Menurut Hukum Islam dalam Jurnal al-Ahkam,
Vol. 1 No. 2 th. 2010, (Padang: Prodi Syariah PPs IAIN Imam Bonjol, 2010)., h.
263

11

Maksud kaidah ini adalah bahwa dalam setiap muamalah dan transaksi,
pada dasarnya boleh, seperti jual beli, sewa menyewa, gadai, kerja sama
(mudharabah dan musyarakah), perwakilan, dll. Kecuali yang tegas- tegas
diharamkan, seperti yang mengakibatkan kemudaratan, tipuan, judi, dan riba. 7

Firman Allah dalam Qs. Al-Baqarah [2]:275













()


orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya
(terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil
riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya. (Qs. Al-Baqarah [2]:275)

C. Akidah Ekonomi Islam


1. Kaya dan Miskin dalam Islam
Islam menghendaki supaya manusia selalu berada pada martabat yang tinggi
dan luhur. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang hanya mempunyai
rasa indera, seperti alam tetumbuhan, kepada alam hewani dan meningkatkannya
terus sehingga menjadi makhluk yang berakal, berperasaan dan rasa indera. Islam
juga menghendaki agar manusia menjadi anggota yang berdaya guna bagi
masyarakatnya.8 Dalam Qs. An-Nisaa[4]:71, Allah sangat mendorong setiap
individu agar berdaya guna.

7 Djazuli, Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah- masalah


yang Praktis, (Jakarta: Kencana, 2006), Ed.1, cet.1, h.128-137.

12

)







(
Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke
medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!
(Qs. An-Nisaa[4]:71)
Kemiskinan sungguh merupakan bencana, yakni dapat membuat kepala
tegak menjadi tunduk, merendah jiwa manusia yang mulanya luhur, memudarkan
pancaran hati, mengacaukan pikiran, menghamburkan cita harapan, menyeret
manusia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan dan banyak meninggalkan akhlak
dan budi pekerti serta nilai-nilai mulia, kemudian terjerumus ke dalam perbuatan
dan tindakan tercela serta bergelimang dalam dosa.9
Islam membuat seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, yaitu
bertanggung jawab atas kewajiban membebaskannya dari perangai rendah,
mencegah diri dari perbuatan khianat, dan mengarahkannya kepada kegiatan
bekerja untuk soal-soal keduniaan, serta mengarahkannya kepada ketekunan
beribadah. Islam bukan hanya agama kerohanian semata-mata yang
mengantarkan manusia dari kehidupan dunia kepada kehidupan akhirat, tetapi
juga merupakan tuntutan hidup yang sempurna bagi manusia, termasuk segala
dasar dan landasannya. Islam adalah agama akhirat dan juga agama dunia, agama
yang mengandung kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat menuntut
adanya kekuatan jasmani,akal pikiran, rajin melakukan pekerjaan yang baik dan
gemar berbuat kebajikan.
Tugas manusia adalah berusaha dan bertanggungjawab. Persoalan rezki
adalah hak Allah untuk memberikan:



()






8 Shalah Abdul Qadir al-Bakriy, Al-Quran Wabina al-Insan, diterjemahkan ole
Abu Laila dan Muhammad Tohir dengan judul Al-Quran dan Pembinaan Insan
(Bandung: Al-Maarif, 1993), h. 128.

9 Yusuf Qardhawi, Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan (Jakarta: Gema Insani


Press, 1995), h. 26.

13
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu
dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata
(Lauh Mahfuzh).
Islam membuat seseorang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, yaitu
bertanggung jawab atas kewajiban membebaskannya dari perangai rendah,
mencegah diri dari perbuatan khianat, dan mengarahkannya kepada kegiatan
bekerja untuk soal-soal keduniaan, serta mengarahkannya kepada ketekunan
beribadah. Islam bukan hanya agama kerohanian semata-mata yang
mengantarkan manusia dari kehidupan dunia kepada kehidupan akhirat, tetapi
juga merupakan tuntutan hidup yang sempurna bagi manusia, termasuk segala
dasar dan landasannya. Islam adalah agama akhirat dan juga agama dunia, agama
yang mengandung kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat menuntut
adanya kekuatan jasmani,akal pikiran, rajin melakukan pekerjaan yang baik dan
gemar berbuat kebajikan.10 Kemiskinan dapat berakibat, yakni:

1. Membahayakan akidah, kemiskinan merupakan ancaman yang serius


terhadap akidah, tertama kaum miskin yang hidup di lingkungan kaum
berada yang berlaku aniaya. Terlebih jika kaum miskin tersebut bekerja
dengan susah payah sementara golongan kaya hanya bersenang-senang.
Kondisi seperti ini, dapat menebarkan benih keraguan terhadap
kebijaksanaan Allah mengenai pembagian rezki.11

2. Membahayakan akhlak dan moral, yaitu selain berbahaya terhadap


akidah dan keimanan, kemiskinan pun berbahaya terhadap moral.12

3. Membahayakan keluarga, yaitu merupakan ancaman terhadap keluarga.


Baik terhadap pembentukan, kelangsungan, maupun keharmonisannya.

10 Ibid.

11 Ibid., h. 27

12 Ibid

14
Kemiskinan merupakan salah satu rintangan besar bagi para pemuda
untuk melangsungkan perkawinan seperti terpenuhinya berbagai syarat
dan sebagainya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa agama tidak menghendaki adanya


kemiskinan, karena kemiskinan merupakan bencana, yakni membuat kepala
menjadi tunduk, merendahkan jiwa yang mulanya luhur, menghancurkan cita-cita
harapan dan sebagainya. Kemiskinan juga dapat berbahaya terhadap akidah,
akhlak, kelangsungan keluarga dan sebagainya; sehingga agama Islam
menganjurkan untuk menghindarinya dengan jalan berusaha, bekerja dan
sebagainya.

Salah satu perkembangan positif yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini


ialah kendaraan yang semakin besar dari para pemimpin atau pemerintah tentang
pentingnya melaksanakan keadilan sosial sebagai bagian dari kegiatan
pembangunan.

Salah satu aspek keadilan sosial tersebut ialah pembagian kekayaam


nasional yang lebih murah, seperti pembangunan rumah atau panti-panti asuhan,
pemberian kredit kepada mereka atau warga yang membutuhkan dan sebagainya.

Berabad-abad manusia memikirkan masalah tersebut, dan untuk itu telah


ditulis berjilid-jilid buku yang tidak semua memahaminya. Namun kesadaran di
timbulkan hampir merata di seluruh dunia, yaitu bahwa kepincangan sosial yang
terpenting ialah menyangkut distribusi rejeki, tujuannya yang pokok ialah
bagaimana menghilangkan kemiskinan. Dan kemiskinan itu ada karena di situ ada
kekayaan: tidak ada orang miskin dalam suatu masyarakat jika di situ tidak
terdapat orang kaya.

Kemiskinan tidaklah mengakibatkan ketidakbahagiaan. Banyak orang yang


melarat dalam hidupnya ternyata lebih gembira dan bahagia daripada orang kaya.
Tapi kemiskinan mengakibatkan degradasi, sehingga membahayakan bagi suatu
masyarakat. Kejahatan yang ditimbulkan bersifat menular, dan tidak dapat
dihindari hanya dengan pengasingan diri orang-orang kaya dalam bentuk apapun.

15
Islam menjamin kemerdekaan setiap individu dan mengakui hak milik atas
harta kekayaan, hak untuk mengatur dirinya sendiri dan keluarganya, dan
kebebasan untuk melakukan kegiatan yang baik untuk kebajikan, menuntun orang
yang sesat ke jalan yang lurus, bahkan wajib berjuang dan berperang untuk
menangkal agresi. Islam menuntut supaya setiap orang memberikan
sumbangannya sedapat mungkin dalam segala bidang kehidupan, dan menetapkan
kewajiban agar setiap orang menginfakkan sebagian dari harta kekayaan di jalan
yang benar, menolong kaum fakir miskin, dan untuk melawan kezaliman serta
membasmi kedurhakaan.

Zakat yang telah diwajibkan oleh Islam merupakan cara untuk


memperkokoh hubungan yang paling baik antara kaya dan kaum fakir miskin.
Islam tidak hanya membebani kewajiban atas individu terhadap masyarakatnya,
tetapi juga membebani atas masyarakat kewajiban terhadap individu dengan
kewajiban para pemegang kekuasaan supaya memelihara, mendidik, melindungi
keselamatan jiwa, harta benda dan kehormatannya, serta apa saja yang menjadi
miliknya.13

Sebagai makhluk Allah swt. manusia memiliki kemampuan yang berbeda


satu sama lainnya. Kesabaran ditujukan Tuhan kepada si miskin, sedang
kesyukuran dan kedermawanan ditujukan kepada si kaya.

Harta menurut pengertian Islam ialah amanat yang harus disalurkan sesuai
dengan petunjuk Allah swt. karena itu, harta dalam Islam berfungsi sosial dan
tidak boleh bermewah-mewah berlebihan yang dimilikinya.

Dengan menunjukkan solidaritas di bidang sosial, maka hubungan yang


tadinya putus dapat di sambung kembali karena telah terjelma adanya tenggang
rasa. Meskipun nilainya tidak seberapa, akan tetapi secara kejiwaan seakan-akan
mereka juga diperhatikan. Bila perasaan telah terjalin, maka terjadilah apa yang
disebut mawaddah fil qurba (jembatan rasa). Hal tersebut akan menghilangkan

13 Imam Munawwar, Mengapa Umat Islam Dilanda Perpecahan (Surabaya: PT.


Bina Ilmu, 1985), h. 238.

16
dugaan-dugaan dan perasan yang tidak enak antara satu sama lainnya hingga sulit
melakukan komunikasi.

Islam senantiasa mencita-citakan rumah tangga yang aman dan tenteram,


masyarakat yang kasih sayang, serta negara yang paripurna. Kehidupan semacam
itu dapat tercapai, bila satu sama lain dapat melakukan hubungan yang harmonis,
bantu membantu sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Tidak semua orang miskin berkeinginan agar harta orang kaya itu dibagi
rata, tetapi yang ditekankan adalah menjalin perasaan sesama makhluk Allah. Jadi
bukan besar kecilnya harta, akan tetapi nilai kasih sayang.

Dengan demikian dapat dipahami perlindungan sosial dalam Islam


merupakan suatu hal yang harus diterapkan, yakni bagi mereka yang mampu
termasuk hartawan dan sebagainya hendaknya memberi bantuan kepada kaum
fakir miskin, agar terhindari dari kemelaratan, kesengsaraan, penderitaan dan
sebagainya, agar tercipta kasih sayang, masyarakat yang aman, tentram dan
bahagia.
2. Keseimbangan Sumber Ekonomi dan Kebutuhan
Manusia
Diakui bahwa aktifitas ekonomi berawal dari kebutuhan manusia untuk
terus hidup (survive) di dunia. Segala keperluan untuk bertahan untuk hidup akan
sekuat tenaga diusahakan sendiri, namun ketika keperluan hidup tidak dapat
dipenuhi sendiri menyebabkan adanya berbagai interaksi untuk proses pemenuhan
keperluan hidup manusia. Interaksi inilah yang sebenarnya merepresentasikan
interaksi permintaan dan penawaran, interaksi konsumsi dan produksi, sehingga
memunculkan pasar sebagai wadah interaksi ekonomi.

Pemenuhan keperluan hidup manusia secara kualitas memiliki tahapan-


tahapan pemenuhan. Berdasarkan teori Maslow, keperluan hidup berawal dari
pemenuhan keperluan yang bersifat dasar (basic needs), kemudian pemenuhan
keperluan hidup yang lebih tinggi kualitasnya seperti keamanan, kenyamanan dan
aktualisasi. Sayang teori Maslow ini merujuk pada pola pikir individualistic-
materialistik.

17
Dalam Islam tahapan pemenuhan keperluan hidup boleh jadi seperti yang
Maslow gambarkan, namun pemuasan keperluan hidup setelah tahapan pertama
(kebutuhan dasar) akan dilakukan ketika secara kolektif yaitu kebutuhan dasar
masyarkat sudah pada posisi yang aman. Ketika masyarakat sudah terpenuhi
kebutuhan dasarnya, maka tidak akan ada implikasi negatif yang muncul. Dengan
demikian diperlukan peran negara dalam memastikan hal ini. Di akui ada
beberapa mekanisme dalam system ekonomi Islam yang tidak akan berjalan
efektif jika tidak ada campur tangan negara.

Parameter kepuasan dalam ekonomi Islam bukan hanya terbatas pada


benda-benda konkrit (materi), tapi juga tergantung pada sesuatu yang bersifat
abstrak, seperti amal shaleh yang manusia perbuat. Kepuasan dapat timbul dan
dirasakan oleh seorang manusia muslim ketika harapan mendapat kredit poin dari
Allah SWT melalui amal shalehnya semakin besar. Pandangan ini tersirat dari
bahasan ekonomi yang dilakukan oleh Hasan Al- Banna.14 Beliau mengungkapkan
firman Allah yang mengatakan:











()

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk
(kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan bathin. (Qs.
Lukman[31]: 20)
Apa yang diungkapkan Hasan Al Banna, menegaskan bahwa ruang lingkup
keilmuan ekonomi Islam lebih luas dibandingkan dengan ekonomi konvensional.
Ekonomi Islam bukan hanya berbicara tentang pemuasan materi yang bersifat
fisik, tapi juga berbicara cukup luas tentang pemuasan materi yang bersifat
abstrak, pemuasan yang lebih berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba
Allah SWT.

14 Hasan Al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, (Jakarta:


Intermedia, 1997), h. 387-409.

18
Dari pembahasan keperluan hidup manusia, penting untuk di bahas
perbedaan kebutuhan dan keinginan. Islam memiliki nilai moral yang ketat dalam
memasukkan keinginan (wants) dalam motif aktifitas ekonomi. Mengapa?
Dalam banyak ketentuan perilaku ekonomi Islam, motif kebutuhan (needs)
lebih mendominasi dan menjadi nafas dalam roda perekonomian dan bukan
keinginan.

Kebutuhan (needs) didefinisikan sebagai segala keperluan dasar manusia


untuk kehidupannya. Sementara keinginan (wants) didefinisikan sebagai desire
(kemauan)15 manusia atas segala hal. Ruang lingkup keinginan lebih luas dari
kebutuhan. Contoh sederhana menggambarkan perbedaan kedua kata ini dapat
dilihat dalam perilaku konsumsi pada air untuk menghilangkan dahaga.
Kebutuhan seseorang untuk menghilangkan dahaga mungkin cukup dengan
segelas air putih, tapi seseorang dengan kemampuan dan keinginannya dapat saja
memenuhi kebutuhan itu dengan segelas wishky, yang tentu lebih mahal dan lebih
memuaskan keinginan.

Namun perlu diingat bahwa konsep keperluan dasar dalam Islam sifatnya
tidak statis, artinya keperluan dasar pelaku ekonomi bersifat dinamis merujuk
pada tingkat ekonomi yang ada pada masyarakat. Pada tingkat ekonomi tertentu
sebuah barang yang dulu dikonsumsi akibat motifasi keinginan, pada tingkat
ekonomi yang lebih baik barang tersebut telah menjadi kebutuhan. Dengan
demikian parameter yang membedakan definisi kebutuhan dan keinginan tidak
bersifat statis, ia bergantung pada kondisi perekonomian serta ukuran
kemashlahatan. Dengan standar kamashlahatan, konsumsi barang tertentu dapat
saja dinilai kurang berkenan ketika sebagian besar ummat atau masyarakat dalam
keadaan susah.

Dengan demikian sangat jelas terlihat bahwa perilaku ekonomi Islam tidak
didominasi oleh nilai alamiah yang dimiliki oleh setiap individu. Terdapat nilai
diluar diri manusia yang kemudian membentuk perilaku ekonomi. Nilai ini
diyakini sebagai tuntunan utama dalam hidup dan kehidupan manusia.
15 Meskipun kata kamauan ini juga kurang tepat untuk menggambarkan desire.

19
3. Kepemilikan dalam Islam

Islam hadir dengan membolehkan kepemilikan individu (private property)


serta membatasi kepemilikan dengan mekanisme tertentu, bukan dengan cara
pemberangsuran (perampasan). Cara tersebut sesuai dengan fitrah manusia serta
mampu mengatur hubungan antar personal diantara sesama manusia Islam juga
telah menjamin manusia agar bias memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara
menyeluruh. Kepemilikan individu (private property) bukan merupakan hal yang
baru dalam ajaran islam, bahkan keberadaannya sejalan dengan keberadaan
manusia. Bangsa dan umat terdahulu telah memiliki tata cara kepemilikan yang di
sepakati, seperti kaum bani Israel, Yunani dan bangsa Arab sebelum Islam
menggariskan ketentuan yang mengatur masalah kepemilikan pribadi.

Milkiyah berasal dari kata ( )berarti sesuatu yang berada


dalam kekuasaannya, sedangkan menurut istilah milkiyah (kepemilikan) adalah
suatu harta atau barang yang secara hukum dapat dimiliki seseorang untuk
dimanfaatkan dan dibenarkan untuk dipindah penguasaannya kepada orang lain.
Misalnya, hewan yang dimiliki seseorang, dapat dimanfaatkan untuk dijual
kepada orang lain. Firman Allah dalam Qs. Al-Mukminun [23]:6

()






Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;
Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (Qs. Al-Mukminun
[23]:6)
Rasulullah mensitir dalam sebuah sabdanya, bahwa mempertahankan harta
(hak milik) adalah merupakan syahid.

-





16

.
-
Abdullah ibn Umar berkata tidakkah engkau ketahui
Rasulullah pernah bersabda Orang yang mati

16 Abu Husain Muslim al-Hajjaj ibn Muslim al-Qusairiy al-Naisaburiy, al-Jami


al-Shahih Jilid 2, (Beirut: Dar al-Afaq, t.th)., h. 87

20
mempertahankan harta (miliknya) merupakan syahid (HR.
Muslim).
Dalam mendefinisikan kemilikan (harta) dapat dipahami dari
definisi berikut:

Pertama, segala yang dimintai dan dapat dihadirkan ketika diperlukan, atau
segala yang dapat dimiliki, disimpan dan dapat dimanfaatkan.17
Definisi ini dikemukakan oleh ulama Hanafiyah, dalam definisi ini tersirat
bahwa manfaat tidak termasuk harta, karena manfaat termasuk milik.
Kedua, segala sesuatu yang mempunyai nilai, dan dikenakan ganti rugi
bagi orang yang merusak dan melenyapkannya. 18
Dalam kandungan dua definisi di atas, terdapat perbedaan esensi harta yang
dikemukakan jumhur ulama dengan ulama Hanafiyah, menurut jumhur ulama,
harta itu tidak saja bersifat materi, melainkan juga termasuk manfaat dari suatu
benda. Akan tetapi, ulama Hanafiyah berpendirian bahwa yang dimaksud harta itu
hanya yang bersifat materi, sedangkan manfaat termasuk ke dalam pengertian
milik.
Seseorang berkuasa penuh terhadap hartanya, ia dapat berbuat semaunya,
ia memberikan kepada orang lain ataukah harta tersebut tetap ditangannya.
Harta atau barang yang dimiliki seseorang dapat disebabkan hal-hal sebagai
berikut :
a. Harta itu umum, yaitu harta yang memang menurut kebiasaannya dapat
dimiliki bagi yang mendapatkannya. Contoh : Ikan di laut, hewan buruan,
harta Nkaz, pepohonan dihutan belantara, dan lain-lain. Benda-benda
tersebut boleh dimiliki siapa saja yang mendapatkannya.
b. Barang atau harta yang dimiliki dengan melaksanakan akad, yaitu barang-
barang atau harta yang kepemilikannya harus didahului oleh adanya akad,

17Ibn Abidin, Op.cit, hal. 255

18Mustafa Ahmad az-Zarqa, Al-Madkhal al-Fiqh al-Am al-Islam fi Tsanbilu al-Jadid,


Jilid I, (Beirut : Dar al-Fikr, 1968), hal. 329.

21
seperti harta diperoleh lewat akad jual beli, hibah pinjam meminjam,
hutang piutang dan lain sebagainya.
c. Barang atau harta yang diperoleh lewat pewarisan, yaitu harta-harta atau
barang yang dapat menjadi milik karena ia bagian harta pusaka yang
ditinggalkan oleh ahli waris, atau mendapat wasiat untuk memiliki harta
dari seseorang pemberi wasiat kepadanya.
d. Harta atau barang yang dapat menjadi milik karena hasil pembiakan dari
harta yang dimiliki sebelumnya. Contoh anak kambing yang dipelihara,
pepohonan dari menebarnya biji pohon induk yang semula dimiliki kebun
miliknya.

D. Penutup

Ajaran Islam tidak pernah memisahkan antara urusan dunia dan urusan
akhirat. Semuanya adalah urusan agama yang ada nilaiannya di akhirat nanti.
Manusia mesti melakukan urusan keduniaan menepati dasar-dasar Islam. Islam
menegakkan peraturan-peraturan dalam kemasyarakatan atas keadilan yang
merata, begitu juga dalam masalah ekonomi. Unsur kezaliman dan ketidakadilan
tidak akan mendapat tempat dalam kehidupan. Oleh sebab itu dalam memenuhi
kebutuhan manusia yang tidak berkecukupan dan berkesudahan itu tidak akan
terjadi pertentangan dan permusuhan seperti yang terjadi di dunia Barat,
disebabkan mereka memakai sistem ekonomi yang didasarkan atas materil semata
yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.
Prinsip-prinsip ajaran al-Quran tentang ekonomi, pada
intinya adalah membawa keadilan, kerja sama, serta
keseimbangan dan lain-lain. Semua itu tercakup dalam
larangan melakukan transaksi apa pun yang berbentuk batil,
eksploitasi atau segala bentuk penganiayaan.

22