Anda di halaman 1dari 8

DISINTEGRASI MASYARAKAT PRA

REFORMASI
A. LATAR BELAKANG

Indonesia sebagai negara kesatuan pada dasarnya dapat mengandung potensi kerawanan
akibat keanekaragaman suku bangsa, bahasa, agama, ras dan etnis golongan. Hal tersebut
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik sosial. Dengan
semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu pertanda
menurunnya rasa nasionalisme di dalam masyarakat.
Kondisi seperti ini dapat terlihat dengan disintegrasi pada zaman pra reformasi, adanya
kerusuhan Mei 1998 akibat Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Suharto selama
32 tahun, ternyata tidak konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan cita-cita Orde Baru.
Hal ini menimbulkan adanya aksi unjuk rasa besar-besar dikalangan para mahasiswa dan
terjadinya kerusuhan diberbagai penjuru tanah air Indonesia. Masalah disintegrasi masyarakat
merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan kelangsungan hidup bangsa ini. Bangsa
Indonesia yang kaya dengan keragaman yang dimiliki masyarakatnya menempatkan dirinya
sebagai masyarakat yang plural. Masyarakat yang plural juga berpotensi dan sangat rentan
kekerasan etnik, baik yang dikonstruksi secara kultural maupun politik. Bila etnisitas, agama,
atau elemen premordial lain muncul di pentas politik sebagai prinsip paling dominan dalam
pengaturan negara dan bangsa, apalagi berkeinginan merubah sistem yang selama ini berlaku,
bukan tidak mungkin ancaman disintegrasi bangsa dalam arti yang sebenarnya akan terjadi di
Indonesia.

B. LANDASAN TEORI

Disintegrasi secara harfiah dipahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-
bagian yang saling terpisah (Websters New Encyclopedic Dictionary 1994). Bila dicermati
adanya gerakan pemisahan diri sebenarnya sering tidak berangkat dari idealisme untuk
berdiri sendiri akibat dari ketidak puasan yang mendasar dari perlakuan pemerintah terhadap
wilayah atau kelompok minoritas seperti masalah otonomi daerah, keadilan sosial,
keseimbangan pembangunan, pemerataan dan hal-hal yang sejenis.
Kekhawatiran tentang perpecahan (disintegrasi) masyarakat di Indonesia ini yang dapat
digambarkan sebagai penuh konflik dan pertikaian, gelombang reformasi yang tengah
berjalan menimbulkan berbagai kecenderungan dan realitas baru. Segala hal yang terkait
dengan Orde Baru termasuk format politik dan paradigmanya dihujat dan dibongkar.
Bermunculan pula aliansi ideologi dan politik yang ditandai dengan menjamurnya partai-
partai politik baru. Seiring dengan itu lahir sejumlah tuntutan daerah-daerah diluar Jawa agar
mendapatkan otonomi yang lebih luas atau merdeka yang dengan sendirinya makin
menambah problem, manakala diwarnai terjadinya konflik dan benturan antar etnik dengan
segala permasalahannya.
Bahaya Disintegrasi Masyarakat
Keanekaragaman di Indonesia mengandung potensi konflik yang jika tidak dikelola
dengan baik dapat mengancam keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa, Potensi disintegrasi
masyarakat di Indonesia sangatlah besar hal ini dapat dilihat dari banyaknya permasalahan
yang kompleks yang terjadi dan apabila tidak dicari solusi pemecahannya akan berdampak
pada meningkatnya konflik. Kondisi ini dipengaruhi pula dengan menurunnya rasa
nasionalisme yang ada didalam masyarakat dan dapat berkembang menjadi konflik yang
berkepanjangan yang akhirnya mengarah kepada disintegrasi masyarakat. Nasionalisme yang
melambangkan jati diri bangsa Indonesisa yang selama ini demikian kukuh, kini mulai
memperlihatkan keruntuhan. Asas persamaan digerogoti oleh ketidakadilan pengalokasian
kekayaan yang tidak berimbang antara pusat dan daerah selama ini. Menurut Aristoteles,
persoalan asas kesejahteraan yang terlalu diumbar, merupakan salah satu sebab ancaman
disintegrasi bangsa, di samping instabilitas yang diakibatkan oleh para pelaku politik yang
tidak lagi bersikap netral. Hal ini tetap bisa dijadikan sebagai acuan untuk melihat sebab-
sebab munculnya disintegrasi masyarakat. Maka menyikapi berbagai kasus dan tuntutan yang
mengemukakan dari berbagai daerah sudah tentu diperlukan konsekuensi politik dan
legitimasi bukan janji-janji sebagaimana yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan.
Upaya Mencegah Disintegrasi
Indonesia akan disintegrasi atau tidak pasti akan menimbulkan pro dan kontra yang
disebabkan dari sudut pandang mana yang digunakan. Reformasi sudah berjalan kurang lebih
10 tahun, rakyat kecil sudah mulai menilai bahwa kehidupan di masa Orde Baru lebih baik
bila dibandingkan dengan saat ini. Kemudian ada kelompok masyarakat yang selalu menuntut
kebebasan. Lalu timbul kembali pertanyaan apa itu reformasi? Yang jelas bangsa Indonesia
semua menginginkan kehidupan yang lebih baik melalui reformasi setelah hidup di era Orde
Baru. Dengan demikian bangsa ini sudah mendekati disintegrasi kalau tidak memiliki
pegangan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh bangsa dan negara ini dalam upaya
untuk bangkit kembali, yaitu :
-Pancasila dan UUD1945 harus digemakan lagi sampai ke rakyat yang paling bawah, dalam
rangka pemahaman dan penghayatan.
-GBHN dapat digunakan sebagai pedoman dalam membangun bangsa dan negara perlu
dihidupkan kembali.
-Para tokoh dan elit bangsa harus dapat memberi contoh dan menjadi cintoh rakyat, tidak
berkelahi dan saling caci maki hanya untuk kepentingan kelompok atau partai politiknya.
-Budaya bangsa yang berbudi luhur hendaknya dilaksanakan oleh bangsa ini yaitu budaya
saling hormat menghormati.
-TNI dan POLRI dibangun dengan tahapan yang jelas yang ditentukan oleh DPR. Tidak ada
rasa saling mencurigai antar unsur bangsa karena keselamatan bangsa dan negara sudah
terancam.
Cara Menanggulangi Disintegrasi Masyarakat
Kebijakan yang tepat guna memperkukuh integrasi nasional antara lain :
-Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran dan kehendak untuk bersatu.
-Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk selalu membangun konsensus.
-Membangun kelembagaan (pranata) yang berakarkan nilai dan norma (nilai-nilai Pancasila)
yang menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa.
-Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam aspek kehidupan
dan pembangunan bangsa yang mencerminkan keadilan bagi semua pihak, semua wilayah.
-Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan yang arif dan
bijaksana, serta efektif.
C. KAJIAN FAKTA & TEORI

Berdasarkan teori tentang disintegrasi masyarakat pra reformasi diatas ditemukan fakta
dari kerusuhan Mei 1998 yaitu tentang gerakan reformasi. Pemerintahan Orde Baru dinilai
tidak mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur
dalam keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu, tujuan lahirnya
gerakan reformasi adalah untuk memperbaiki tatanan perikehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok
merupakan faktor atau penyebab utama lahirnya gerakan reformasi. Namun, persoalan itu
tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak faktor yang mempengaruhinya, terutama ketidakadilan
dalam kehidupan politik, ekonomi, dan hukum. Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin
Presiden Suharto selama 32 tahun, ternyata tidak konsisten dan konsekuen dalam
melaksanakan cita-cita Orde Baru. Pada awal kelahirannya tahun 1966, Orde Baru bertekad
untuk menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintahan Orde Baru banyak melakukan
penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam
UUD 1945 yang sangat merugikan rakyat kecil. Bahkan, Pancasila dan UUD 1945 hanya
dijadikan legitimasi untuk mempertahankan kekuasaan. Penyimpangan-penyimpangan itu
melahirkan krisis multidimensional yang menjadi penyebab umum lahirnya gerakan
reformasi, seperti berikut ini:

a. Krisis Politik

Krisis politik yang terjadi pada tahun 1998 merupakan puncak dari berbagai kebijakan
politik pemerintahan Orde Baru. Berbagai kebijakan politik yang dikeluarkan pemerintahan
Orde Baru selalu dengan alasan dalam kerangka pelaksanaan demokrasi Pancasila. Namun
yang sebenarnya terjadi adalah dalam rangka mempertahankan kekuasaan Presiden Suharto
dan kroni-kroninya. Ciri-ciri kehidupan politik yang represif, di antaranya:

1. Setiap orang atau kelompok yang mengkritik kebijakan pemerintah dituduh sebagai
tindakan subversif (menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia).
2. Pelaksanaan Lima Paket UU Politik yang melahirkan demokrasi semu atau demokrasi
rekayasa.
3. Terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang merajalela dan masyarakat tidak
memiliki kebebasan untuk mengontrolnya.
4. Pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI yang memasung kebebasan setiap warga negara (sipil)
untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan.
5. Terciptanya masa kekuasaan presiden yang tak terbatas. Meskipun Suharto dipilih menjadi
presiden melalui Sidang Umum MPR, tetapi pemilihan itu merupakan hasil rekayasa dan
tidak demokratis.
b. Krisis Hukum

Dalam bidang hukumpun, pemerintah melakukan intervensi. Artinya, kekuasaan


peradilan harus dilaksanakan untuk melayani kepentingan para penguasa dan bukan untuk
melayani masyarakat dengan penuh keadilan. Bahkan, hukum sering dijadikan alat
pembenaran para penguasa. Kenyataan itu bertentangan dengan ketentuan pasa 24 UUD 1945
yang menyatakan bahwakehakiman memiliki kekuasaan yang merdeka dan terlepas dari
kekuasaan pemerintah (eksekutif).
c. Krisis Ekonomi

Ekonomi Indonesia tidak mampu menghadapi krisis global yang melanda dunia.
Krisis ekonomi Indonesia diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika Serikat. Pada tanggal 1 Agustus 1997, nilai tukar rupiah turun dari Rp 2,575.00
menjadi Rp 2,603.00 per dollar Amerika Serikat. Pada bulan Desember 1997, nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika Serikat turun menjadi Rp 5,000.00 per dollar. Bahkan, pada
bulan Maret 1998, nilai tukar rupiah terus melemah dan mencapai titik terendah, yaitu Rp
16,000.00 per dollar Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tidak dapat dipisahkan dari
berbagai kondisi, seperti: Hutang luar negeri Indonesia yang sangat besar menjadi penyebab
terjadinya krisis ekonomi. Meskipun, hutang itu bukan sepenuhnya hutang negara, tetapi
sangat besar pengaruhnya terhadap upaya-upaya untuk mengatasi krisis ekonomi.

d. Krisis Sosial

Ketimpangan perekonomian Indonesia memberikan sumbangan terbesar terhadap


krisis sosial. Pengangguran, persediaan sembako yang terbatas, tingginya harga-harga
sembako, rendahnya daya beli masyarakat merupakan faktor-faktor yang rentan terhadap
krisis sosial.

e. Krisis Kepercayaan

Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia telah mengurangi


kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Suharto. Ketidakmampuan
pemerintah dalam membangun kehidupan politik yang demokratis, menegakkan pelaksanaan
hukum dan sistem peradilan, dan pelaksanaan pembangunan ekonomi yang berpihak kepada
rakyat banyak telah melahirkan krisis kepercayaan. Kronologi Peristiwa Reformasi Secara
garis besar, kronologi gerakan reformasi dapat dipaparkan sebagai berikut:

1. Sidang Umum MPR (Maret 1998) memilih Suharto dan B.J. Habibie sebagai Presiden dan
Wakil Presiden RI untuk masa jabatan 1998-2003. Presiden Suharto membentuk dan melantik
Kabinet Pembangunan VII.
2. Pada bulan Mei 1998, para mahasiswa dari berbagai daerah mulai bergerak menggelar
demonstrasi dan aksi keprihatinan yang menuntut penurunan harga barang-barang kebutuhan
(sembako), penghapusan KKN, dan mundurnya Suharto dari kursi kepresidenan.
3. Pada tanggal 12 Mei 1998, dalam aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta
telah terjadi bentrokan dengan aparat keamanan yang menyebabkan empat orang mahasiswa
(Elang Mulia Lesmana, Hery Hartanto, Hafidhin A. Royan, dan Hendriawan Sie) tertembak
hingga tewas dan puluhan mahasiswa lainnya mengalami luka-luka. Kematian empat
mahasiswa tersebut mengobarkan semangat para mahasiswa dan kalangan kampus untuk
menggelar demonstrasi secara besar-besaran.
4. Pada tanggal 13-14 Mei 1998, di Jakarta dan sekitarnya terjadi kerusuhan massal dan
penjarahan sehingga kegiatan masyarakat mengalami kelumpuhan. Dalam peristiwa itu,
puluhan toko dibakar dan isinya dijarah, bahkan ratusan orang mati terbakar.
5. Pada tanggal 19 Mei 1998, para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan
sekitarnya menduduki DPR dan MPR Pada saat yang bersamaan, tidak kurang dari satu juta
manusia berkumpul di alunalun utara Keraton Yogyakarta untuk menghadiri pisowanan
agung, guna mendengarkan maklumat dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paku
Alam VII.
6. Pada tanggal 19 Mei 1998, Harmoko sebagai pimpinan MPR/DPR mengeluarkan
pernyataan berisi anjuran agar Presiden Suharto mengundurkan diri.
7. Pada tanggal 20 Mei 1998, Presiden Suharto mengundang tokoh-tokoh agama dan tokoh-
tokoh masyarakat untuk dimintai pertimbangan dalam rangka membentuk Dewan Reformasi
yang akan diketuai oleh Presiden Soeharto.
8. Pada tanggal 21 Mei 1998, pukul 10.00 di Istana Negara, Presiden Suharto meletakkan
jabatannya sebagai Presiden RI di hadapan Ketua dan beberapa anggota Mahkamah Agung.
Berdasarkan pasal 8 UUD 1945, kemudian Suharto menyerahkan jabatannya kepada Wakil
Presiden B.J. Habibie sebagai Presiden RI. Pada waktu itu juga B.J. Habibie dilantik menjadi
Presiden RI oleh Ketua MA.
Beberapa sebab lahirnya gerakan reformasi adalah krisis moneter, ekonomi, politik,
hukum, sosial, budaya, dan kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Suharto. Kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara telah sampai pada titik yang paling kritis. Oleh
karena itu, krisis kehidupan masyarakat Indonesia sering disebut sebagai krisis
multidimensional. Demonstrasi bertambah gencar dilaksanakan oleh para mahasiswa.
Setelah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998,
seluruh lapisan masyarakat Indonesia berduka dan marah. Akibatnya, tragedi ini diikuti
dengan peristiwa anarkis di Ibu kota dan di beberapa kota lainnya pada tanggal 13 14 Mei
1998, yang menimbulkan banyak korban baik jiwa maupun material. Semua peristiwa
tersebut makin meyakinkan mahasiswa untuk menguatkan tuntutan pengunduran Soeharto
dari kursi kepresidenan. Pilihan aksi yang kemudian dipilih oleh kebanyakan kelompok
massa mahasiswa untuk mendorong turunnya Soeharto mengerucut pada aksi pendudukan
gedung DPR/MPR. Pendudukan Gedung DPR/MPR RI adalah peristiwa monumental dalam
proses pelengseran Soeharto dari tampuk kekuasaan Presiden dan tuntutan reformasi. Dalam
peristiwa ini, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus bergabung menduduki gedung
DPR/MPR untuk mendesak Soeharto untuk mundur.

D.KESIMPULAN

Disintegrasi masyarakat akibat akumulasi permasalahan politik, ekonomi dan keamanan


yang saling tumpang tindih sehingga perlu penanganan khusus dengan pendekatan yang arif
serta mengutamakan aspek hukum, keadilan, sosial budaya. Reformasi merupakan gerakan
moral untuk menjawab ketidakpuasan dan keprihatinan atas kehidupan politik, ekonomi,
hukum, dan social. Reformasi bertujuan untuk menata kembali kehidupan berma-sayarakat,
berbangsa, dan bernegara yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan
demikian, hakikat gerakan reformasi bukan untuk menjatuhkan pemerintahan orde baru,
apalagi untuk menurunkan Suharto dari kursi kepresidenan Namun, karena pemerintahan
orde baru pimpinan Suharto dipandang tidak mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara,
maka Suharto diminta untuk mengundurkan secara legawa dan ikhlas demi perbaikan
kehidupan bangsa dan Negara Indonesia yang akan dating. Reformasi yang tidak terkontrol
akan kehilangan arah, dan bahkan cenderung menyimpang dari norma-norma hukum.
maupun harta akan gagal. Pertarungan elit politik yang diimplementasikan kepada
penggalangan massa yang dapat menciptakan konflik horizintal maupun vertical harus dapat
diantisipasi. Kepemimpinan dari elit politik nasional hingga kepemimpinan daerah sangat
menentukan meredamnya konflik pada skala dini. Namun pada skala kejadian diperlukan
profesionalisme aparat kemanan secara terpadu. Efek global, regional dengan faham
demokrasi yang bergulir saat ini perlu diantisipasi dengan penghayatan wawasan kebangsaan
melalui edukasi dan sosialisasi. Dengan demikian, cita-cita reformasi yang telah banyak
sekali menimbulkan korban baik jiwa Untuk itu, kita sebagi pelajar Indonesia harus dan
wajib penjaga kelangsungan reformasi agar berjalan sesuai dengan harapan para pahlawan
reformasi yang gugur.

E. DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme
http://pormadi.wordpress.com/2007/10/01/nilai-nilai-pancasila-dan-uud-1945/
http://ideologipancasila.wordpress.com/2007/08/14/perda-syariat-mengancam-integrasi-
bangsa/
http://klubhausbuku.wordpress.com/2008/05/16/ancaman-bahaya-disintegrasi/
http://id.shvoong.com/social-sciences/1696931-disintegrasi-nasional/
https://emshaliha.wordpress.com/masa-reformasi/