Anda di halaman 1dari 30

ACARA 2

KOMPETISI INTERSPESIFIK DAN ANTARSPESIFIK SEBAGAI FAKTOR


PEMBATAS ABIOTIK

I. TUJUAN

1. Mengetahui pengaruh faktor biotik terhadap pertumbuhan tanaman.

2. Mengetahui tanggapan tanaman terhadap tekanan kompetisi interspesifik dan


antarspesifik

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kompetisi merupakan interaksi antar dua organisme untuk hal yang sama.
Kompetisi tanaman ada beberapa macam yaitu kompetisi inter spesifik, intraspesifik,
dan interplant. Interaksi biasanya interspesifik berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan proses bertahan hidup oleh dua atau lebih spesies populasi. Interaksi kompetisi
biasanya melibatkan ruang lingkup, makanan, nutrisi, cahay matahari, dan tipe-tipe
lain dari interaksi. Kompetisi interspesifik dapat menghasilkan penyesuaian
keseimbangan oleh dua spesies atau dari satu populasi menggantikan yang lain
(Odum, 1983 ). Intraspesifik adalah perssaingan antara organisme yang sama dalam
hal yang sama. Kompetisi interplaantt adalah persaingan antaar organ tanaman.
Penyebab utama dari adanya kompetisi adalah diantara tanamaan dengan spesies
yang sama yang akan mengakibatkan perbedaan tinggi tanaman, jumlah daun, dan
diameter laterar akar. Dengan demikian akan berpengaruh terhadap pembentukan
karakter maupun kemampuan untuk memproduksi buah. Berbeda dengan tanaman
yang berbeda spesies, tanaman yang sama spesiesnya memiliki kebutuhan tanaman
yang sama antara yang satu dengan yang lainnya, mereka tidak dapat mengatur
kebutuhan mereka sendiri dari kebutuhan tanaman yang sama spesiesnya (Weafer dan
Federic, 1938). Interaksi terjadi karena makhluk hidup akan selalu membutuhkan
bahan untuk bertahan hidup, sebagai contoh tanaman tidak sekedar membutuhkan
cahaya matahari untuk tumbuh, namun juga memerlukan unsur hara dari dalam tanah
untuk dapat tumbuh secara optimal. Interaksi antar organisme dapat memberikan
keuntungan atau bahkan kerugian bagi organisme yang melakukan interaksi.
Interaksi atau hubungan antar makhluk hidup dapat berlangsung secara beragam.
Salah satu di antaranya adalah kompetisi merupakan suatu bentuk hubungan antar
mahkluk hidup yang terjadi akibat adanya keterbatasan sumber daya alam pada suatu
tempat (Elfidasari,2009).

Mangla (2011) mengatakan bahwa kompetisi dapat berpengaruh terhadap


struktur tanaman, pada lingkungan yang minim unsur hara.. Tanaman yang menang
dalam kompetisi akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan
tanaman yang kalah dalam persaingan memperebutkan unsur hara bahkan mungkin
mengalami kematian. Pengaturan jarak tanam antar tumbuhan sangat perlu
diperhatikan untuk dapat mengoptimalkan hasil budidaya tanaman. Tanaman
mempunyai insting untuk mengoptimasi pertumbuhannya sendiri.
Tanaman memaksimalkan pertumbuhannya melalui pertumbuhan
akar sehingga dapat memiliki jangkauan maksimal terhadap unsur
hara yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Di samping itu,
tanaman juga berusaha menjalin kerjasama dengan mikroba untuk
membantu mengoptimasi memenuhi kebutuhan haranya dan untuk
membentengi dirinya terhadap serangan organisme pengganggu
tanaman. Untuk keperluan tersebut tanaman mengeluarkan
eksudat akar yang dimaksudkan untuk mengundang mikroba yang
dikehendaki atau mengusir mikroba lain yang mengganggu
pertumbuhan tanaman. Menurut beberapa ilmuwan, area kontak
antara mikroba dengan tanaman
dibedakan menjadi dua, filosfir merupakan area kontak tanaman
dengan mikroba udara dan rizosfir merupakan kontak mikroba
dengan tanaman yang berada di dalam tanah. Mikroba yang
berinteraksi dengan bagian atas tanah tanaman dibedakan menjadi
filosfir (berada di permukaan bagian tanaman) dan efifit
(mengkoloni bagian jaringan dalam tanaman), sedangkan mikroba
dalam tanah dibedakan menjadi rizoplen (yang menempel pada
akar) dan endofit (yang berada dalam sel-sel akar). Peranan utama
mikroba tersebut adalah membantu tanaman mendapatkan unsur
hara dan sebagai anti mikroba bagi patogen yang merugikan
tanaman inangnya. Keuntungan yang didapat oleh mikroba adalah
mendapat habitat dan memperoleh suplai makanan dari tanaman
(Enny, 2012 ).

III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Praktikum Dasar-Dasar Ekologi acara 2 Kompetisi Interspesifik dan


Antarspesifik sebagai Faktor Pembatas Biotik dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 5
Maret 2015 di Laboratorium Ekologi Tanaman dan Rumah kaca, Jurusan Budidaya
Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Bahan yang diperlukan
dalam praktikum ini adalah benih tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea), jagung
(Zea mays), dan kedelai (Glycine max), dan pupuk kandang. Sedangkan alat yang
dibutuhkan adalah timbangan analitik, penggaris, peralatan tanam, oven, polybag,
kantong kertas, dan kertas label.

Langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu, pertama, polybag
disiapkan dan diisi tanah sebanyak polybag. Kedua, benih yang sehat dipilih dari
jenis tanaman yang akan ditanam dengan jumlah 5 benih didalam setiap polybag
sesuai perlakuan, yakni, pertama, monokultur kacang tanah sejumlah 2, 4, dan 6
tanaman, kedua, polikultur kacang tanah-jagung sejumlah (1+1, 2+2, dan 3+3)
tanaman, ketiga, polikultur kacang tanah-kedelai sejumlah (1+1, 2+2, dan 3+3)
tanaman. Selanjutnya, setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan setiap
polybag diberi label sesuai perlakuan. Penyiraman dilakukan setiap hari dan
pengamatan dilakukan 2 kali sehari mulai dari tanaman berumur 7 hari hingga 21
hari, pengamatan yang dilakukan meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun. Setelah
21 hari, tanaman dipanen dan diamati panjang akar, bobot segar, dan bobot kering
tanaman. Terakhir, seluruh data yang terkumpul dihitung nilai rerata dari tiap ulangan
pada tiap perlakuan. Lalu, dibuat grafik tinggi tanaman pada masing-masing
perlakuan kacang tanah vs hari pengamatan, grafik jumlah daun pada masing-masing
perlakuan kacang tanah vs hari pengamatan, histogram panjang akar pada masing-
masing perlakuan kacang tanah tiap komoditas, dan histogram bobot segar dan bobot
kering pada masing-masing perlakuan kacang tanah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGAMATAN

a. Data Monokultur tanaman Kacang Tanah

1. Tinggi tanaman kacang tanah

Tabel 1.1. Tabel tinggi tanaman kacang tanah

perlakua Tinggi Tanaman Pada Pengamatan Ke-


n 1 2 3 4 5 6 7 8
1+1 4.53 6.8 9.108 12.31 14.75 16.01 17.9 18.53
2+2 4.38 7.63 10.29 13.45 15.34 17.55 18.91 19.42
3+3 4.24 6.63 8.982 12.57 15.05 16.73 17.69 18.37

2. Jumlah daun kacang tanah

Tabel 2.1. Tabel jumlah daun tanaman kacang tanah

perlakua Jumlah Daun Pada Pengamatan Ke-


n 1 2 3 4 5 6 7 8
1+1 3.17 4.46 4.53 4.53 6 6.92 7.95 8.58
2+2 3.08 4.65 5.5 6.17 6.5 7.08 8.13 8.83
3+3 2.78 4.39 4.92 5.61 6 6.64 7.31 7.86
3. Berat segar, berat kering, panjang akar, dan luas daun tanaman kacang tanah

Tabel 3.1. Tabel berat segar, berat kering, panjang akar, dan luas daun tanaman
kacang tanah
luas
perlakua BS BK PA
daun
n (gram) (gram) (cm)
(cm2)
1+1 8.34 0.9775 18.292 200.52
2+2 8.94 2.192 17.1 185.42
3+3 7.66 2.9192 14.63 136.3

b. Data Polikultur tanaman Kacang Tanah-Jagung

1. Tinggi tanaman kacang tanah-jagung

Tabel 1.2. Tabel tinggi tanaman kacang tanah-jagung

perlakua Tinggi Tanaman Pada Pengamatan Ke-


n 1 2 3 4 5 6 7 8
1+1 4.28 6.31 9.47 13.7 15 16.8 18.5 19.2
2+2 4.72 6.82 10.5 14.9 15.8 18.7 21.6 23.1
3+3 4.54 6.58 9.44 13.4 15 16.4 18.5 19.7

2. Jumlah daun kacang tanah-jagung

Tabel 2.2. Tabel jumlah daun tanaman kacang tanah-jagung

perlakua Jumlah Daun Pada Pengamatan Ke-


n 1 2 3 4 5 6 7 8
1+1 2.88 3.12 3.72 4.67 7.2 7.17 8.28 8.98
2+2 3.17 3.67 4.9 5.83 6.2 7.17 7.98 8.5
3+3 2.61 3.28 3.97 4.58 5.2 5.62 6.75 7.3

3. Berat segar, berat kering, panjang akar, dan luas daun tanaman kacang tanah-
jagung

Tabel 3.2. Tabel berat segar, berat kering, panjang akar, dan luas daun tanaman
kacang tanah-jagung

perlakua BS BK PA luas
daun
n (gram) (gram) (cm)
(cm2)
1+1 6.75 0.55 20.9 141.67
2+2 6.33 0.47 15.5 134.87
3+3 4.32 0.65 13.8 130.48

c. Data Polikultur tanaman Kacang Tanah-Kacang Hijau

1. Tinggi tanaman kacang tanah-kacang hijau

Tabel 1.3. Tabel tinggi tanaman kacang tanah-kacang hijau

perlakua Tinggi Tanaman Pada Pengamatan Ke-


n 1 2 3 4 5 6 7 8
1+1 4.46 6.3 9.63 13.6 13.9 16.7 18.1 19.1
2+2 4.17 6 10.4 14.2 14.7 16.2 18.6 19.6
3+3 4.23 6.1 8.75 13.3 15 16.6 18.4 19.2

2. Jumlah daun kacang tanah-kacang hijau

Tabel 2.3. Tabel jumlah daun tanaman kacang tanah-kacang hijau

perlakua Jumlah Daun Pada Pengamatan Ke-


n 1 2 3 4 5 6 7 8
1+1 3.6 3.6 4.2 5.5 5.8 7 7.8 8.1
2+2 3 3.3 4.6 5.3 5.8 6.7 7.7 8.3
3+3 2.7 3.3 3.8 4.3 4.7 5.2 5.9 6.4

3. Berat segar, berat kering, panjang akar, dan luas daun tanaman kacang tanah-
kacang hijau

Tabel 3.3. Tabel berat segar, berat kering, panjang akar, dan luas daun tanaman
kacang tanah-kacang hijau
luas
perlakua BS BK PA
daun
n (gram) (gram) (cm)
(cm2)
1+1 5.02 0.478 18 123.95
2+2 5.05 0.622 17.7 140.41
3+3 4.06 0.64 16.2 143.81

B. PEMBAHASAN

kompetisi adalah hubungan antara dua individu untuk memperebutkan satu


macam ssumber daya, sehingga hubungan itu bersifat merugikan bagi salah satu
pihak. Kompetisi dapat terjadi antar individu dalam satu populasi dan individu dari
populasi lain yang berbeda. Sumber daya yang diperebutkan dalam kompetisi ini
dapat berupa makanan, energy, tempat tinggal, bahkan pasangan kawin. Persaingan
dalam hal sumber daya rumah atau tempat tinggal terjadi jika terdapat ledakan
populasi. Kompetisi juga dapat terjadi apabila tanaman mencapai tingkat
pertumbuhan tertentu dan akan semakin keras dengan pertambahan ukuran tanaman
dengan umur. Kemampuan suatu tanaman dipengaruhi oleh kemampuan suatu organ
yang melakukan kompetisi. Daun dan akar merupakan bagian yang berperan aktif
dalam kompetisi. Akar yang memiliki luas permukaan lebar, daun yang banyak, lebar,
dan tersebar di seluruh tubuh tanaman akan meningkatkan kompetisi, akibatnya
kompetisi tanaman pun tinggi.

Pada dasarnya, kompetisi memiliki dua macam, yaitu kompetisi berdasarkan


organisme yang berkompetisi dan kompetisi berdasarkan dampak kompetisi. Adapun
kompetisi berdasarkan organisme yang berkompetisi adalah sebagai berikut :

Tumbuhan dengan pathogen


Tumbuhan dengan tumbuhan
Antar organ tumbuhan
Sedangkan jenis kompetisi berdasarkan dampak kompetisi dibagi menjadi tiga yaitu :

Mutual inhibition
Mutual cooperation
Kompensasi

Akan tetapi, bentuk kompetisi yang secara umum diketahui adalah bentuk
kompetisi tumbuhan dengan tumbuhan. Kompetisi tumbuhan dengan tumbuhan
dibedakan menjadi dua. yaitu kompetisi inter spesifik dan kompetisi intra spesifik.
Kompetisi inter spesifik adalah persaingan yang terjadi diantara dua individu atau
lebih dalam spesies yang berbeda. Sedangkan, kompetisis intra spesifik adalah
persaingan yang terjadi pada dua individu atau lebih dalam spesies yang sama.

Tanaman tumbuh dengan baik pada jarak tanam lebar dan akan buruk pada
jarak tanam sempit, sehingga tekanan kompetisi akan relative konstan. Dalam lahan
yang hanya terdapat sedikit tanaman, tanaman dapat tumbuh subur, karena antar
individu satu dengan yang lainnya tidak terjadi persaingan yang ketat. Sehingga
semakin banyak tanaman dalam lahan, maka antar satu individu dengan individu lain
akan saling bersaing ketat untuk memperoleh unsur hara atau unsur pertumbuhan.
Apabila unsur pertumbuhan ini belum terpenuhi secara optimal, maka bisa saja
pertumbuhan tanaman akan terhambat.

Pada sistem pertanian, terdapat istilah monokultur dan polikultur. Monokultur


adalah pola penanaman dengan satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.
Kelebihan sistem ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang
ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Di sisi lain, kelemahan sistem ini
adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit. Pada sistem
monokultur, jarak tanaman yang terlalu dekat akan mengakibatkan kompetisi akan air
dan hara. Bila jarak tanam diperlebar, maka besar tingkat kompetisi berkurang.
Sedangkan, polikultur adalah pola penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada
lahan dan waktu yang sama. Dengan pemilihan tanaman yang tepat, sistem ini dapat
memberikan beberapa keuntungan,antara lain sebagai berikut : mengurangi serangan
OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi
serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids danulat
pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin. Menambah kesuburan tanah.
Dengan menanam kacang-kacangan- kandungan unsur Ndalam tanah bertambah
karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar.Dengan menanam
yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkalditanam
berdampingan dengan tanaman berakardalam, tanah disekitarnya akan lebihgembur.c.
Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus, karena sistem ini dibarengi dengan
rotasitanaman dapat memutus siklus OPT. Memperoleh hasil panen yang beragam.
Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akanmenghasilkan panen yang beragam. Ini
menguntungkan karena bila harga salah satukomoditas rendah, dapat ditutup oleh
harga komoditas lainnya.Kekurangan sistem polikultur adalah : Apabila pemilihan
jenis tanaman tidak sesuai, sistem polikultur dapat memberi dampak negatif,
misalnya Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman, dan OPT banyak sehingga
sulit dalam pengendaliannya.

Cara mengatasinya sendiri ada banyak hal seperti melakukan penjarangan,


agar tanaman tersebut letaknya agak berjauhan sehingga tanaman tersebut tercukupi
kebutuhannya tanpa adanya saingan untuk mendapatkan makanan yang ia butuhkan.
Lalu, kita juga bisa memberikan pupuk tambahan agar kebutuhan yang diperlukan
tanaman dapat terpenuhi walaupun letaknya agak berdekatan. Selain itu, kita juga
bisa menambahkan zat-zat yang memungkinkan untuk membantu memenuhi
kebutuhan yang diperlukan tanaman, seperti menambahkan bakteri mikoriza. Bakteri
mikoriza disini berpengaruh untuk pergerakan akar, karena jika ditambahkan bakteri
mikoriza, maka akar bisa bergerak lebih jauh untuk mencapai atau mendapatkan zat-
zat yang diperlukan tanaman, seperti unsur hara maupun air.
A. Hasil Tinggi Tanaman

1. Monokultur kacang tanah

Tinggi Tanaman Monokultur Kacang Tanah


30
monokultur 1+1
20
monokultur 2+2
Tinggi (cm) 10
monokultur 3+3
0
1 2 3 4 5 6 7 8
Pengamatan Hari Ke-

Gambar 1.1. Grafik pertumbuhan tinggi tanaman kacang tanah vs hari pada perlakuan
monokultur

Dari grafik diatas dapat diijelaskan bahwa, tinggi tanaman pada perlakuan
monokultur dengan 2tanaman memiliki tinggi yang maksimal yaitu dengan rata-rata
ketinggian 18,53 cm. apabila dibandingkan dengan perlakuan monokultur 4 tanaman
dan 6 tanaman yang hanya memiliki rata-rata ketinggian 19,42 dan 18,37 cm. hal ini
disebabkan karena semakin banyaknya tanaman yang ada didalam media tanam atau
tingkat kompetisi didalam habitat akan semakin tinggi dengan pertambahan jumlah
tanamn yang ditanamn. Tanaman akan saling berebut unsur-unsur yang dibutuhkan
untuk hidup dan juga akan saling berebut ruang tumbuh.

Sedangkan apabila ditinjau dari rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman kacang


tanah dalam setiap pengamatan, hasil yang didapat daari beberapa perlakuan
memiliki surplus yang hampir sama. Apalagi jika dilihat dari garis grafik yang hampir
sama sehingga tinggi tanamannya tidak jauh berbeda. Berdasarkan hasil grafik yang
diperoleh dari perlakuan monokultur diperoleh urutan pertumbuhan tinggi tanaman
dari yang paling optimum yaitu monokultur 4, monokultur 2 dan yang terakhir adalah
perlakuan monokultur 6

2. Polikultur kacang tanah-jagung

Tinggi Polikultur Kacang Tanah-jagung


25

20
polikultur 1+1
15
polikultur 2+2
Tinggi (cm) 10
polikultur 3+3

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Pengamatan Hari Ke-

Gambar 1.2. grafik pertumbuhan tinggi tanaman kacang tanah vs hari pada perlakuan
polikultur dengan jagung

Tanaman jagung merupakan tanaman yang aktif mengambil nitrogen di dalam


tanah. Selain itu tanaman jagung juga termasuk tanaman yang rakus akan unsur hara.
Biasanya di dalam pertanian, untuk membudidayakan tanaman jagung dengan subur
biasanya di sekitarnya sering kali ditanami palawija yang dapat memproduksi
nitrogen lebih banyak, sehingga dapat menyuplai untuk pertumbuhan jagung.
Pertumbuhan kacang tanah yang ditumpang sarikan dengan tanaman jagung memang
akan menurun drastis, karena adanya naungan dari tanaman jagung sehingga jumlah
cahaya yang diperoleh untuk pertumbuhan tanaman kacang tanah berkurang.
Fotosintesis yang dilakukan oleh kacang tanaha menjadi terganggu dan akhirnya
kacang tanah tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan daunnya pun bis menjadi lebih
tipis dari yang biasanya. Tanaman kacang yang paling rendah adalah tanaman kacang
dengan perlakuan 2 dan 6, hal ini dapat terjadi karena faktor cahaya matahari, kacang
tanah kurang mendapatkan cahaya matahari karena terhalangi oleh tanaman jagung,
sehingga kacang tanah tidak dapat tumbuh dan berfotosintesis secara lebih optimal.

3. Polikultur kacang tanah-kacang hijau

Tinggi Batang polikultur Kacang Tanah-Kacang Hijau


25

20
polikultur 1+1
15 polikultur 2+2
Panjang (cm) 10 polikultur 3+3

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Pengamatan Hari Ke-

Gambar 1.3. grafik pertumbuhan tinggi tanaman kacangtanah vs hari perlakuan


polikultur dengan kacang hijau

Pada grafik polikultur tanaman kacang tanah dengan kacang hijau dapat
diketahui bahwa perlakuan 1+1, 2+2, dan 3+3 memiliki tingkat pertumbuhan tinggi
tanaman yang hampir sama. Hal tersebut dapat dilihat dari ketiga grafik yang saling
berhimpian. Hal ini terjadi karena kompetisi yang terjadi antar spesies tidak terlalu
besar, sehingga kacang tanah dan kacang kacang hijau dapat tumbuh dengan normal.
Hanya saja pada kacang kacang hijau memiliki keunggulan morfologi yaitu memiliki
tinggi batang yang lebih tinggi dibandingkan kacang tanah, sehingga kacang tanah
terhalangi untuk mendapatkan cahaya matahari, akibatnya kacang tanah mengalami
penghambatan untuk melakukan fotosintesis dan pertumbuhan.
B. Hasil Jumlah Daun Tanaman

1. Monokultur kacang tanah

Tinggi Batang polikultur Kacang Tanah-Kacang Hijau


25

20
polikultur 1+1
15 polikultur 2+2
Panjang (cm) 10 polikultur 3+3

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Pengamatan Hari Ke-

Gambar 2.1. grafik jumlah daun tanaman kacang tanah vs hari perlakuan monokultur

Pada grafik jumlah daun tanaman monokultur kacang tanah yang dilakukan
menunjukkan bahwa pada perlakuan kacang tanah 2 memiliki pertumbuhan yang
sama dengan perlakuan 4 kacang tanah. Kompetisi antar spesies akan terjadi jika
jarak tanam diantara keduanya terlalu berdekatan, karena pada spesies yang sama
pasti akan memebutuhkan kebutuhan yang sama, dalam jumlah yang sama dan dalam
saat yang bersamaan pula. Perlakuan kacang tanah 2 merupakan perlakuan dengan
jumlah daun terbanyak, hal ini sesuai dengan teori yang di atas. Urutan jumlah daun
terbanyak beriktnya adalah pada perlakuan 4, dan diikuti oleh perlakuan 6. Pada
grafik di atas dapat kita lihat bahwa selisih jumlah daun antara perlakuan kacang
tanah 2 dengan kacang tanah 4 hampir sama dan dengan perlakuan 6 berbeda jauh.
Hal itu dikarenakan pada perlakuan kacang tanah 2 kompetisi yang terjadi antara dua
tanaman ini tidak terlalu besar, sehingga kacang tanah dapat tumbuh dengan normal
tanpa mengalami perebutan sumber makanan yang ada di dalam tanah.

2. polikultur kacang tanah-jagung

Jumlah Daun Polikultur Kacang Tanah-Jagung


10

8
polikulur 1+1
6
polikultur 2+2
jumlah daun 4 polikultur 3+3

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Pengamatan Hari Ke-

Gambar 2.2. grafik jumlah daun tanaman kacang tanah vs hari pada perlakuan
polikultur dengan jagung

Pada grafik jumlah daun tanamn polikultur tanaman kacang tanah dengan
jagung dapat kita lihat bahwa jumlah daun yang terbanyak terjadi pada perlakuan
kacang tanah-jagung 1+1, sedangkan pada kacang tanah-jagung 2+2 dan 3+3
memiliki selisih jumlah daun yang banyak. Jumlah daun terbanyak pada perlakuan
1+1 ini dikarenakan jagung yang menjadi kompetitor kacang tanah hanya ada satu,
sehingga tidak terlalu berpengaruh pada tanaman kacang tanah, dan kacang tanah
dapat tumbuh dengan normal. Jadi apabila semakin banyak kompetitor pada suatu
tanaman, maka tanaman tersebut akan mengalami penurunan pertumbuhan, jumlah
daun, tinggi tanaman, dan tebal atau tipisnya daun.

3. polikultur kacang tanah-kacang hijau

Jumlah Daun polikultur Kacang Tanah-Kacang Hijau


10

8
polikultur 1+1
6 polikultur 2+2
jumlah daun 4 polikultur 3+3

0
12345678

Pengamatan Hari Ke-

Gambar 2.3. grafik jumlah daun tanaman kacang tanah vs hari pada perlakuan
polikultur dengan kacang hijau

Pada grafik polikultur tanaman kacang tanah dengan kacang hijau dapat
diketahui bahwa perlakuan 1+1, 2+2, dan 3+3 memiliki tingkat pertumbuhan tinggi
tanaman yang hampir sama. Hal tersebut dapat dilihat dari ketiga grafik yang saling
berhimpian. Hal ini terjadi karena kompetisi yang terjadi antar spesies tidak terlalu
besar, sehingga kacang tanah dan kacang kacang hijau dapat tumbuh dengan normal.
Hanya saja pada kacang kacang hijau memiliki keunggulan morfologi yaitu memiliki
tinggi batang yang lebih tinggi dibandingkan kacang tanah, sehingga kacang tanah
terhalangi untuk mendapatkan cahaya matahari, akibatnya kacang tanah mengalami
penghambatan untuk melakukan fotosintesis dan pertumbuhan.

C. Hasil Panjang Akar Tanaman

1. Monokultur kacang tanah

Panjang Akar Mnokultur Kacang Tanah


20
18
16
14 monokultur 1+1
12 monokultur 2+2
10
Panjang (cm) monokultur 3+3
8
6
4
2
0
Perlakuan

Gambar 3.1. histogram panjang akar tanaman kacang tanah pada perlakuan
monokultur

Pada histogram panjang akar tanaman monokultur kacang tanah menunjukan


bahwa perlakuan kacang tanah 2 lebih panjang dibandingkan perlakuan 4 dan
perlakuan 6. Secara teori hal tersebut dapat terjadi karena adanya pengaruh beberapa
faktor. kandungan air dalam tanah. Pada daerah yang tidak memiliki air, maka akar
tanaman yang ada akan terus berusaha mencari air dimana saja sehingga ada
kemungkinan bahwa akar akan timbuh semakin panjang untuk masuk ke dalam tanah
dengan tujuan mendapatkan air tanah yang ada di dalam tanah. Jika jumlah tanaman
yang ada di satu polibag banyak, maka daya serap air oleh tanaman juga semakin
besar sehingga tanah akan menjadi semakin kering. Seharusnya akar tanaman lebih
panjang pada perlakuan kacang tanah 6, karena jika kompetitor semakin banyak maka
aan semakin memperbesar persaingan untuk mendapatkan air, otomatis akar akan
memanjang untuk terus mencari air. Namun pada kenyataannya akar tanaman lebih
panjang pada perlakuan monokultur 2. Hal tersebut mungkin dikarenakan karena
persaingan antar individu pada monokultur 2 lebih besar.

2. Polikultur kacang tanah-jagung

Panjang Akar polikultur Kacang Tanah-Jagung


25

20
polikultur 1+1
15 polikultur 2+2
Panjang(cm) polikultur 3+3
10

0
Perlakuan

Gambar 3.2. histogram panjang akar tanaman kacang tanah pada perlakuan polikultur
dengan jagung

Pada histogram di atas dapat kita lihat bahwa akar yang terpanjang dialami
oleh tanaman polikultur kacang tanah jagung pada perlakuan polikultur 1+1 jika
dibandingkan dengan panjang akar pada perlakuan 2+2 dan 3+3. Panjang akar pada
perlakuan 1+1 lebih panjang dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini tidak
sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa semakin banyak kompetitor maka
panjang akar pun semakin panjang, karena adanya kompetisi dalam kebutuhan air.
Seharusnya urutan akar terpanjang adalah perlakuan 3+3, perlakuan 2+2, dan
perlakuan 1+!. Namun kenyataanya perlakuan 1+1 merupakan akar yang terpanjang.
Hal ini mungkin terjadi karena kompetisi yng terjadi pada perlakuan 3+3 tidak terlalu
besar dan pemakaian air yang sama banyak antara satu sama lain.

3. Polikultur kacang tanah-kacang hijau

Panjang Akar Polikultur Kacang Tanah-Kacang Hijau


18.5

18

17.5 polikultur 1+1


17 polikultur 2+2

Panjang (cm) 16.5 polilkultur 3+3

16

15.5

15
perlakuan

Gambar 3.3. histogram panjang akar tanaman kacang tanah pada perlakuan polikultur
dengan kacang hijau

Pada histogram ini dapat diketahui bahwa panjang akar pada tanaman
polikultur kacang tanah-kacang hijau dialami oleh polikultur 1+1. dan akar yang
paling pendek adalah pada perlakuam polikultur 3+3 jika dibandingkan dengan
panjang akar pada polikultur 1+! dan polikultur 3+3. Hal ini dapat terjadi karena
kedua jenis kacang-kacangan ini saling mempengaruhi satu sama lain. Kacang hijau
memiliki sumber makanan dan kebutuhan akan nutrisi yang sama dengan kacang
tanah sehingga keduanya saling berebut makanan. Seperti yang telah dibahas pada
histogram sebelmnya bahwa secara teori searusnya akar terpanjang adalah pada
perlakuan 3+3 karena keadaan yang kering suatu tanaman akan memperpanjang
akarnya untuk mencari suplai air. Akan tetapi panjang akar kemungkinan dapat terjadi
pada perlakuan 1+1 lebih tinggi seperti yang ada pada histigram. Hal ini dikarenakan
pada perlakuan 1+1 kompetisi yang terjadi tidak terlalu besar, sehingga akar lebih
leluasa untuk menyebar dalam menyerap air dibandingkan dengan perlakuan 3+3.

D. hasil Berat Segar dan Berat Kering Tanaman Kacang Tanah

1. Monokultur kacang tanah

Berat Segar & Berat Kering Monokultur Kacang Tanah


10
9
8
7
6
5
4 Berat Segar
3 Berat Kering
massa (gram) 2
1
0

Gambar
4.1. histogram berat segar dan berat kering tanaman kacang tanah pada perlakuan
monokultur

Histogram di atas menunjukkan bobot segar dan bobot kering tanaman


mnonkultur kacang tanah. Bobot segar kacang tanah pada perlakuan 4 lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan 2 dan perlakuan 6. Seharusnya, perlakuan 2
merupakan perlakuan yang memiliki bobot kering dan bobot basah paling tinggi. Hal
ini dikarenakan kompetisi yang terjadi pada tiap-tiap perlakuan berbeda-beda
sehingga pada perlakuan 2 hanya terdiri dari dua tanaman kacang tanah dapat
memperoleh makanan yang lebih baik daripada perlakuan 4 dan perlakuan 6. Dengan
demikian perlakuan 2 akan memiliki bobot segar paling tinggi, sedangkan perlakuan
6 yang memiliki kompetisi besar menyebabkan penyerapan air dan asupan nutrisinya
menjadi berkurang jika dibandingkan dengan perlakuan 2. Hal tersebut menyebabkan
pada perlakuan 6 bobot segarnya lebih rendah dibandingkan perlakuan 2 dan 4. Hal
tersebut dapat disebabkan tingkat kesuburan pada polibag berbeda. Pada tanaman
perlakuan 4 memiliki pertumbuhan yang lebih optimal karena sumber unsur hara
yang cukup untuk tanaman tersebut dibandingkan perlakuan lainnya.

2. Polikultur kacang tanah-jagung

Berat Segar & Berat Kering Polikultur Kacang Tanah-Jagung


8
7
6
5
4 Berat Segar
3 Berat Kering
2
Massa (gram)
1
0

Gambar 4.2. histogram berat segar dan berat kering tanaman kacang tanah pada
perlakuan polikultur dengan jagung

Pada histogram ini menunjukkan bahwa bobot segar untuk polikultur kacang
tanah-jagung pada perlakuan 1+1 merupakan bobot segar tertinggi. bobot segar
perlakuan 1+1 memiliki selisish yang cukup tinggi dibandingkan dengan bobot segar
pada perlakuan 2+2 dan 3+3. Hal ini dapat dikarenakan jagung yang berkompetisi
dengan kacang tanah dalam menyerap unsur hara dan air menyebabkan kacang tanah
tidak dapat menyerap air dan unsur hara dengan baik, sehingga pertumbuhannya
terhamabat. Oleh sebab itu bobot segar yang didapatkan oleh kacang tanah pada
perlakuan 3+3 merupakan bobt segar terendah dibandingkan yang lainnya. Disisi
lain, yaitu pada bobot kering kacang tanah jagung pada perlakuan 2+2 menjadi
bobot kering yang terendah dan perlakuan 3+3 menjadi bobot kering yang tertinggi.
Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa perlakuan 3+3 memiliki simpanan kandungan
air yang rendah. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa kacang tanah pada
perlakuan 3+3 tidak dapat tumbuh dengan baik dan tidak memiliki cadangan
makanan serta kandungan air yang dimilikinya rendah.

3. Polikultur kacang tanah-kacang hijau

Berat Segar & Berat Kering polikultur Kacang Tanah-Kacang Hijau


6

5
Berat Segar
4
Berat Kering
3
Massa ( gram)
2

0
1 2 3

Gambar 4.3. histogram berat segar dan berat kering tanaman kacang tanah pada
perlakuan polikultur dengan kacang hijau

Histogram di atas menunjukkan bobot segar dan bobot kering tanaman


polikultur kacang tanah-kacang hijau. Bobot segar kacang tanah - kacang hijau pada
perlakuan 2+2 lebih lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 1+1 dan perlakuan
3+3. Hal ini dikarenakan kompetisi yang terjadi pada tiap-tiap perlakuan berbeda-
beda. Seharusnya pada perlakuan 1+1 memiliki bobot segar yang paling tinggi. Akan
tetapi, yang paling tinggi adalah 2+2. Padahal, 1+1 hanya terdiri dari dua tanaman
kacang tanah dan dapat memperoleh makanan yang lebih baik daripada perlakuan
2+2 dan perlakuan 3+3. Dengan demikian perlakuan 1+1 akan memiliki bobot segar
paling tinggi, sedangakan perlakuan 3+3 yang memiliki kompetisi besar
menyebabkan penyerapan air dan asupan nutrisinya menjadi berkurang jika
dibandingkan dengan perlakuan 1+1. Hal tersebut menyebabkan pada perlakuan 3+3
bobot segarnya lebih rendah dibandingkan perlakuan 1+1 dan 2+2.

E, Hasil Luas Daun Kacang Tanah

1. Monokultur kacang tanah

Luas Daun Monokultur Kacang Tanah


250

200
monokultur 1+1
150 monokultur 2+2
Luas (cm2) monokultur 3+3
100

50

0
Perlakuan

Gambar 5.1. histogram luas daun tanaman kacang tanah pada perlakuan monokultur
Dalam grafik tersebut, yang memiliki luas daun paling besar adalah
monokultur perlakuan 2. Sedangkan, perlakuan 4 pada posisi kedua dan perlakuan 6
pada posisi ketiga. Hal tersebut dapat disebabkan oleh tingkat kompetisi yang minim
pada perlakuan 2 membuat tanaman pada perlakuan 2 memiliki luas daun yang lebih
besar dibandingkan dengan perlakuan 4 dan 6. Semakin besar luas daun maka
semakin banyak fotosintesis yang ada pada tanaman.

2. Polikultur kacang tanah-jagung

Luas Daun polikultur Kacang Tanah-Jagung


144
142
140
138 polikultur 1+1
136 polikultur 2+2
134 polikultur 3+3
Luas (cm2)
132
130
128
126
124
Perlakuan

Gambar 5.2. histogram luas daun tanaman kacang tanah pada perlakuan polikultur
dengan jagung
Dalam grafik tersebut, yang memiliki luas daun paling besar adalah perlakuan
1+1. Sedangkan, perlakuan 2+2 pada posisi kedua dan perlakuan 3+3 pada posisi
ketiga. Hal tersebut dapat disebabkan oleh tingkat kompetisi yang minim pada
perlakuan 2 membuat tanaman pada perlakuan 1+1 memiliki luas daun yang lebih
besar dibandingkan dengan perlakuan 2+2 dan 3+3. Semakin besar luas daun maka
semakin banyak fotosintesis yang ada pada tanaman.

3. Polikultur kacang tanah-kacang hijau

luas Daun Polikultur Kacang Tanah-Kacang Hijau


150
145
140
polikultur 1+1
135 polikultur 2+2
130 polikultur 3+3
Luas Daun (cm2)
125
120
115
110
perlakuan
Gambar 5.3. histogram luas daun tanaman kacang tanah pada perlakuan polikultur
dengan kacang hijau

Dalam grafik tersebut, yang memiliki luas daun paling besar adalah perlakuan
3+3. Sedangkan, perlakuan 2+2 pada posisi kedua dan perlakuan 1+1 pada posisi
ketiga.

V. KESIMPULAN

1. Faktor biotik dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta


hasil produksi tanaman yaitu seperti adanya pengaruh kompetisi yang dapat
menurunkan dan meningkatkan pertumbuhan tanaman, tergantung dari ketersediaan
nutrisi dan kebutuhan hidupnya. Jumlah kompetitor menentukan tingkat kesuburan
tanaman, semakin sedikit kompetitor maka pertumbuhan akan semakin baik.

2. kompetisi interspesifik dan intraspesifik dapat menyebabkan adanya kemampuan


bersaing antara tanaman yang membutuhkan nutrisi dan zat-zat hara yang cukuo dan
sesuai dengan jenis tanaman tersebut. Pada sistem pertanaman polikultur, kompetitor
beda spesies akan berpengaruh pada tingkat kompetisinya karena masing-masing
spesies memiliki kecepatan dalam menyerap unsur hara yang berbeda-beda, sehingga
yang paling cepat menyeraplah yang akan lebih banyak mendapat unsur hara.
Kompetisi intraspesifik terjadi pada penanaman monokultur dan kompetisi
interspesifik terjadi pada penanaman polikultur. Dimana semakin banyak jumlah
tanaman maka akan semakin tinggi tingkat kompetisinya.
DAFTAR PUSTAKA

Elfidasari, D.2009. Jenis Interaksi Intraspesifik dan Interspesifik pada Tiga Jenis
Kuntul saat Mencari Makan di Sekitar Cagar Alam Pulau Dua Serang,
Propinsi Banten. Jurnal Biodiversitas 8:266-269.

Enny, W. 2012. Memahami interaksi tanaman-mikroba. Jurnal Tekno Hutan Tanaman


6(1): 13-20

Mangla Seema, Roger L. Sheley, Jeremy J. James dan Steven R. Radosevich.2011.


Intra and Interspesific Competition among Invasive and Native Spesies during
Early Stages of Plant Grow. Jurnal Plant Ecol 212:531-542.

Odum, E. P. 1983. Basic Ecology. CBS College Publishing, United State of America
Weafer, J. E. and E.C. Frederic. 1928. Plant Ecology Second Edition. Mc. Grow-hill
Book Company, New York

LAMPIRAN
12 MARET 2015 18 MARET 2015

20 MARET 2015 21 MARET 2015


22 MARET 2015 23 MARET 2015

01 APRIL 2015 02 APRIL 2015