Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan


kesehatan perorangan secara paripurna, yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan
dan rawat darurat (UU RS no 44 tahun 2009). Seiring dengan perkembangan zaman, maka
rumah sakit yang dulunya mempunyai misi charity (sosial) sekarang harus dapat
menyeimbangkan antara misi bisnis yang berorientasi profit serta misi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tanpa melupakan misi sosialnya. Hal ini sesuai dengan ketentuan
Departemen Kesehatan yang mengharuskan rumah sakit untuk mengalokasikan 20-30%
pendapatan rumah sakit bagi masyarakat kurang mampu (Depkes RI Dirjen Yanmed, 2005).
Kenyataan yang ada berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah karena
berdasarkan telaah beberapa rumah sakit masih mengabaikan hal tersebut. Hasil survei yang
dilakukan oleh Indonesian Corruption Wath (ICW) pada November 2009 di rumah sakit
daerah Jabodetabek menyebutkan bahwa setidaknya ada 13 rumah sakit dari 23 rumah sakit
yang masih memberikan pelayanan yang kurang memadai, ditambah pula bahwa 74,9% dari
378 warga tidak mampu di wilayah Jabodetabek mengeluhkan layanan rumah sakit baik
swasta maupun negeri yang dinilai sangat tidak memadai seperti sikap kurang manusiawi,
diskriminatif, menelantarkan, dan menolak klien miskin kendati mengantongi surat
keterangan tidak mampu serta meminta uang muka pembiayaan rumah sakit. Peningkatan
kinerja petugas kesehatan yang ada di rumah sakit mutlak dilakukan guna memperbaiki citra
yang terbentuk di masyarakat dikarenakan kurang optimalnya pelayanan yang diberikan oleh
pihak rumah sakit. Kinerja perawat menerapkan prinsip etik penting untuk dilakukan
mengingat perawat yang dalam melakukan asuhan keperawatan berperilaku tidak etik dapat
menimbulkan kerugian bagi klien sebagai penerima asuhan keperawatan yaitu dapat
mengalami injury atau bahaya fisik seperti nyeri, kecacatan atau kematian, serta bahaya
emosional seperti perasaan tidak berdaya atau terisolasi (CNA,2004). Kerugian yang dialami
klien tersebut akan menyebabkan ketidakpuasan klien yang pada akhirnya akan berdampak
pada citra dan pendapatan rumah sakit (Okpara & College, 2002). Sebaliknya perawat yang
mengetahui tentang prinsip etik dan menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan
pada klien akan menimbulkan kepuasan kepada klien dan mempertahankan hubungan antara
perawat, klien, dan petugas kesehatan lain sehingga klien merasa yakin akan mendapatkan
pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas (Malau, 2008). Faktor yang mempengaruhi
kinerja perawat adalah dalam menerapkan prinsip etik dalam asuhan keperawatan adalah
perilaku caring perawat. Caring adalah komponen penting dalam keperawatan dan
merupakan inti dalam praktek keperawatan karena mengandung nilainilai humanistic,
menghormati kebebasan manusia terhadap suatu pilihan, menekankan pada pada peningkatan
kemampuan dan kemandirian, peningkatan pengetahuan dan menghargai setiap manusia.
Perawat yang mempunyai nilai dan jiwa caring akan mempunyai perilaku kerja yang sesuai
dengan prinsip etik dikarenakan kepedulian perawat yang memandang klien sebagai makhluk
humanistic sehingga termotivasi untuk memberikan pelayanan keperawatan yang bermutu
tinggi. Namun dalam beberapa tahun belakangan banyak ditemukan kasus pelanggaran etik
yang terjadi baik di puskesmas maupun rumah sakit. Beberapa faktor kesenjangan yang
terjadi tidak hanya dilakukan oleh perawat namun tenaga medis lainnya baik yang dilakukan
secara sengaja maupun tidak sengaja.

B. TUJUAN

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang terkait antara kasus
kesenjangan sosial yang ditemukan di rumah sakit dengan pelanggaran nilai etik, maupun
moral yang terjadi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KASUS
Ketika saya dinas di suatu rumah sakit X di kota Palangka Raya dulu, Saya menemukan
kejadian yang mungkin melanggar aturan SOP yang terjadi di suatu bangsal. Singkat cerita,
sepanjang shift malam yang saya lalui ketika pukul 12 keatas tiba terkadang saya
mendapatkan intruksi dari perawat ruangan untuk memperlambat laju infus (asnet) tiap pasien
yang dirawat di ruangan tanpa memberitahu pasien atau keluarganya apa maksud dan tujuan
dari tindakan tersebut. Karena hal ini terlalu sering saya alami, saya lantas memberanikan diri
untuk bertanya kepada perawat ruangan mengapa hal ini seharusnya dilakukan. Padahal hal
ini tentunya tidak sesuai SOP pemakaian infus dan tidak sesuai nilai etik dalam tindakan
keperawatan yang seharusnya dilakukan. Dan yang mengherankan ternyata jawaban perawat
ruangan terhadap maksud dari hal tersebut adalah agar para perawat yang jaga dapat
beristirahat dengan nyenyak pada malam hari tanpa ada gangguan (panggilan) dari keluarga
pasien untuk meminta pergantian botol infus yang telah habis.

B. SKEMA

KASUS
Takut
perawat Perawat junior
Berani Tidak berani
senior
marah

Veracity Tangung jawab

Beneficience Non malficience

Memberi saran DILEMA ETIK Melanggar sop

lapor Melanggar Etik

SOP berjalan Pasien rugi & tidak


Dengan baik puas

Pasien tidak rugi &


Etik Benar
puas Mutu RS baik
C. TELAAH KASUS

Menurut kasus yang telah diceritakan bahwa dilema etik terjadi pada perawat junior
yang berdampak buruk bagi rumah sakit jika dibiarkan terus menerus, jika perawat junior
hanya berdiam diri dan tidak berani untuk memberikan saran atau melaporkan tindakan
senior kepada kepala ruangan maka perawat junior sama dengan perawat senior yaitu
tidak jujur dan tidak melakukan perbuatan yang baik karena tidak melaksanakan tugas
dan merugikan klien, yang akibatnya akan akan melangar kode etik perawat dan
memperburuk rumah sakit.
Mungkin perawat junior memiliki niat baik dengan jujur untuk memberikan solusi
yaitu dengan memberikan saran bahwa yang dilakukan perawat senior merupakan
kesalahan , tetapi jika saran tersebut tidak dihiraukan bisa dengan melaporkan ke kepala
ruangan untuk diberikan pencerahan kepada perawat senior sehingga SOP berjalan
dengan baik, perawat pun tidak melanggar kode etik , pasien pun tidak rugi dan merasa
puas sehingga akan berdampak baik bagi Rumah Sakit. Akan tetapi untuk memberikan
solusi tersebut tidak gampang bagi perawat junior disini pasti ada rasa hirarki terhadap
perawat senior sehingga tumbulah ketakutan untuk berpendapat hal ini lah yang disebut
dengan dilema etik.

D. DEFINISI ETIK

Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia,


baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah tujuannya.
Etika juga berasal dari bahasa yunani, yaitu Ethos, yang menurut Araskar dan David
berarti kebiasaaan . model prilaku atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu
untuk suatu tindakan. Penggunaan istilah etika sekarang ini banyak diartikan sebagai
motif atau dorongan yang mempengaruhi prilaku. (Mimin. 2002).
Dari pengertian di atas, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana
sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau
prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : baik dan buruk serta
kewajiban dan tanggung jawab. Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu
pola atau cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang
yang mempengaruhi perilaku profesional. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan
bahwa etik merupakan istilah yang digunakan untuk merefleksikan bagaimana
seharusnya manusia berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap
orang lain. Sehingga juga dapat disimpulkan bahwa etika mengandung 3 pengertian
pokok yaitu : nilai-nilai atau norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu
kelompok dalam mengatur tingkah laku, kumpulan azas atau nilai moral, misalnya kode
etik dan ilmu tentang yang baik atau yang buruk (Ismaini, 2001)

E. TIPE-TIPE ETIKA
1. Bioetik
Bioetika merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam
etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetika difokuskan
pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan,
bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan theology. Pada lingkup yang lebih
sempit, bioetik merupakan evaluasi etika pada moralitas treatment atau inovasi
teknologi, dan waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang
lebih luas, bioetik mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin
membantu atau bahkan membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan
takut dan nyeri, yang meliputi semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan
dan biologi. Isu dalam bioetik antara lain : peningkatan mutu genetik, etika
lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan.

2. Clinical ethics/Etik klinik


Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada
masalah etik selama pemberian pelayanan pada klien. Contoh clinical ethics : adanya
persetujuan atau penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon
permintaan medis yang kurang bermanfaat (sia-sia).

3. Nursing ethics/Etik Perawatan


Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan
dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan
keputusan etik. Etika keperawatan dapat diartikan sebagai filsafat yang mengarahkan
tanggung jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktek keperawatan. Inti
falsafah keperawatan adalah hak dan martabat manusia, sedangkan fokus etika
keperawatan adalah sifat manusia yang unik (k2-nurse, 2009)

F. TEORI ETIK
Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan suatu
tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau perspektif yang
berlainan. Beberapa teori etik adalah sebagai berikut :
1. Utilitarisme
Sesuai dengan namanya Utilitarisme berasal dari kata utility dengan bahasa latinnya
utilis yang artinya bermanfaat. Teori ini menekankan pada perbuatan yang
menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat tetapi manfaat yang banyak
memberikan kebahagiaan kepada banyak orang. Teori ini sebelum melakukan perbuatan
harus sudah memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.

2. Deontologi
Deontology berasal dari kata deon dari bahasa yunani yang artinya kewajiban. Teori
ini menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari
atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban sudah melakukan
kebaikan. Teori ini tidak terpatok pada konsekuensi perbuatan dengan kata lain teori ini
melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan akibatnya. (Aprilins, 2010)

G. PRINSIP-PRINSIP ETIK
1. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis
dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki
kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang
harus dihargai oleh orang lain. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan
individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat
perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.

2. Berbuat baik (Beneficience)


Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan
kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi

3. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain
yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan
dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum,
standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan.

4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)


Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.

5. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi
akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan
materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan.

6. Menepati janji (Fidelity)


Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang perawat untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya kepada pasien.

7. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasinya. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya
boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. (Geoffry
hunt. 1994)

F. DEFINISI DAN KODE ETIK KEPERAWATAN


Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam bertingkah
laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan
keperawatan yang bersifat professional. Perilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari
pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan. Tujuan dari etika keperawatan
adalah :
1. Mengidentifikasi, mengorganisasikan, memeriksa dan membenarkan tindakan-
tindakan kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu
2. Menegaskan tentang kewajiban-kewajiban yang diemban oleh perawat dan mencari
informasi mengenai dampak-dampak dari keputusan perawat.
Sedangkan Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari
profesi yang memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek
keperawatan, baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman
sejawat, diri sendiri dan tim kesehatan lain. Pada dasarnya, tujuan kode etik keperawatan
adalah upaya agar perawat, dalam menjalankan setiap tugas dan fungsinya, dapat
menghargai dan menghormati martabat manusia. Tujuan kode etik keperawatan tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau pasien, teman
sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi keperawatan maupun
dengan profesi lain di luar profesi keperawatan.
2. Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang silakukan oleh praktisi
keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya.
3. Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya diperlakukan
secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.
4. Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan kepoerawatan agar dapat
menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional keperawatan.
5. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai / pengguna tenaga keperawatan
akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas praktek keperawatan. (
PPNI, 2000 )

G. DILEMA ETIK

Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai
perilaku yang layak harus di buat. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan untuk
menghadapi dilema etika tersebut. Enam pendekatan dapat dilakukan orang yang sedang
menghadapi dilema tersebut, yaitu:
1. Mendapatkan fakta-fakta yang relevan
2. Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta
3. Menentukan siap dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi dilemma
4. Menentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema
5. Menentukan konsekwensi yang mungkin dari setiap alternative
6. Menetapkan tindakan yang tepat.
Dengan menerapkan enam pendekatan tersebut maka dapat meminimalisasi atau
menghindari rasionalisasi perilaku etis yang meliputi: (1) semua orang melakukannya, (2)
jika legal maka disana terdapat keetisan dan (3) kemungkinan ketahuan dan
konsekwensinya. Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan
dapat menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi
banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai
perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan
dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson dilema etik merupakan
suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana
alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Kerangka pemecahan
dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka
proses keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain:
1. Model pemecahan masalah
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil

2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )


a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak
mungkin meliputi:
1) Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
2) Apa tindakan yang diusulkan
3) Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
4) Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan
dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusanyang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan

3. Model Murphy dan Murphy


a. Mengidentifikasi masalah kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah etik
c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untuk perawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.

4. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel


Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan

5. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson


a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Kasus diatas menjadi suatu dilema etik bagi perawat dimana dilema etik itu
didefinisikan sebagai suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan moral suatu
tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana setiap
alternatif tindakan memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk
menentukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan kebingungan pada tim medis yang
dalam konteks kasus ini khususnya pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Menurut Thompson & Thompson dilema etik
merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi
dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Untuk membuat
keputusan yang etis, seorang perawat harus bisa berpikir rasional dan bukan emosional.
Perawat tersebut berusaha untuk memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai
dengan etika dan legal yaitu dia menghargai keputusan yang dibuat oleh pasien dan keluarga.
Selain itu dia juga harus melaksanakan kewajibannya sebagai perawat dalam memenuhi hak-
hak pasien salah satunya adalah memberikan informasi yang dibutuhkan pasien atau informasi
tentang kondisi dan penyakitnya. Hal ini sesuai dengan salah satu hak pasien dalam pelayanan
kesehatan menurut American Hospital Assosiation dalam Bill of Rights. Memberikan
informasi kepada pasien merupakan suatu bentuk interaksi antara pasien dan tenaga
kesehatan. Sifat hubungan ini penting karena merupakan faktor utama dalam menentukan
hasil pelayanan kesehatan. Keputusan keluarga pasien yang berlawanan dengan keinginan
pasien tersebut maka perawat harus memikirkan alternatif-alternatif atau solusi untuk
mengatasi permasalahan tersebut dengan berbagai konsekuensi dari masing-masing alternatif
tindakan.
Dalam pandangan Etika penting sekali memahami tugas perawat agar mampu
memahami tanggung jawabnya. Perawat perlu memahami konsep kebutuhan dasar manusia
dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut tidak hanya berfokus pada
pemenuhan kebutuhan fisiknya atau psikologisnya saja, tetapi semua aspek menjadi tanggung
jawab perawat. Etika perawat melandasi perawat dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut.
Dalam pandangan etika keperawatan, perawat memilki tanggung jawab (responsibility)
terhadap tugas-tugasnya.
Penyelesaian kasus dilema etik seperti ini diperlukan strategi untuk mengatasinya
karena tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan pendapat antar tim medis yang
terlibat termasuk dengan pihak keluarga pasien. Jika perbedaan pendapat ini terus berlanjut
maka akan timbul masalah komunikasi dan kerjasama antar tim medis menjadi tidak optimal.
Hal ini jelas akan membawa dampak ketidaknyamanan pasien dalam mendapatkan pelayanan
keperawatan. Berbagai model pendekatan bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah
dilema etik ini antara lain model dari Megan, Kozier dan Erb, model Murphy dan Murphy,
model Levine-ariff dan Gron, model Curtin, model Purtilo dan Cassel, dan model Thompson
dan thompson.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam upaya mendorong kemajuan profesi keperawatan agar dapat diterima dan dihargai
oleh pasien, masyarakat atau profesi lain, maka perawat harus memanfaatkan nilai-nilai
keperawatan dalam menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam
mengemban peran profesionalnya. Dengan demikian perawat yang menerima tanggung
jawab, dapat melaksanakan asuhan keperawatan secara etis profesional. Sikap etis profesional
berarti bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut akan dapat
memberi jaminan bagi keselamatan pasien, penghormatan terhadap hak-hak pasien, dan akan
berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan. Selain itu dalam
menyelesaikan permasalahan etik atau dilema etik keperawatan harus dilakukan dengan tetap
mempertimbangkan prinsip-prinsip etik supaya tidak merugikan salah satu pihak.

B. SARAN
Pembelajaran tentang etika dan moral dalam dunia profesi terutama bidang keperawatan
harus ditanamkan kepada mahasiswa sedini mungkin supaya nantinya mereka bisa lebih
memahami tentang etika keperawatan sehingga akan berbuat atau bertindak sesuai kode
etiknya (kode etik keperawatan).
DAFTAR PUSTAKA

Aprilins. 2010. Teori Etika. Diakses 26 Desember 2011 pukul 21.00 WIB. Diposkan 23
Februari 2010 pukul 10.02 PM. URL : http://aprillins.com/2010/1554/2-teori-etika-
utilitarisme-deontologi/

Ismaini, N. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta : Widya Medika

k_2 nurse. 2009. Etika Keperawatan. Unpad Webblog. Diakses tanggal 13 November 2011.
Diposkan tanggal 16 Januari 2009. http://blogs.unpad.ac.id/k2_nurse/?tag=etika-keperawatan

Kozier B., Erb G., Berman A., & Snyder S.J. 2004. Fundamentals of Nursing Concepts,
Process and Practice 7th Ed., New Jersey: Pearson Education Line

Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC

PPNI. 2000. Kode Etik Keperawatan Indonesia. Keputusan Munas VI.

Rubenfeld, M. Gaie. K. Scheffer, B. 2006. Berpikir Kritis dalam Keperawatan. Edisi 2.


Jakarta : EG

Suhaemi,M. 2002. Etika Keperawatan aplikasi pada praktek. Jakarta : EGC


MAKALAH VALUE ETHICS
KASUS PELANGGARAN ETIK DALAM KEPERAWATAN

DI SUSUN OLEH :

1. JAMES PARDOMUAN 113063C216007


2. YUSSISKA 113063C216016
3. YULIA 113063C216015

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN

BANJARMASIN

2016