Anda di halaman 1dari 15

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biaya

Salah satu data yang diperlukan oleh manajemen perusahaan untuk

menentukan jumlah minimum produksi adalah informasi biaya. Melalui informasi

tersebut manajemen dapat menentukan jumlah minimum produksi agar dapat

menutupi biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Dalam literatur

akuntansi, pada umumnya tidak hanya satu pengertian tentang konsep biaya.

Banyak penulis yang telah mencoba untuk memberikan definisinya masing-

masing.

a. Pengertian biaya
Akuntan mendefinisikan biaya (cost) sebagai suatu sumber daya yang

dikorbankan (sacrificed) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan

tertentu. Suatu biaya (seperti bahan baku atau iklan) biasanya diukur dalam unit

yang harus dikeluarkan dalam rangka mendapatkan barang atau jasa. Biaya aktual

adalah biaya yang terjadi (historical cost), untuk dibedakan dari biaya yang

dianggarkan (budgeted) atau biaya yang diperkirakan (forecasted) (Horngren,

Datar, dan Foster, 2006).


Menurut Hansen dan Mowen (2006), biaya adalah kas atau nilai ekuivalen

kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan

memberi manfaat saat ini atau di masa datang bagi organisasi. Dikatakan sebagai

ekuivalen kas karena sumber nonkas dapat ditukar dengan barang atau jasa yang

diinginkan. Dalam usaha menghasilkan manfaat saat ini dan di masa depan, para

manajer harus melakukan berbagai usaha untuk meminimumkan biaya yang

dibutuhkan dalam mencapai manfaat ini.


Mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk mencapai manfaat ,tertentu

memiliki arti bahwa perusahaan menjadi lebih efisien. Akan tetapi biaya tidak

hanya harus ditekan tetapi juga harus dikelola secara strategis. Para manajer harus

memiliki tujuan menyediakan nilai bagi pelanggan yang sama besar (atau lebih

besar) dengan biaya yang lebih rendah dari para pesaingnya. Dengan cara ini,

posisi strategis perusahaan akan naik, dan terciptalah keungggulan kompetitif.

Biaya dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat di masa depan. Pada perusahaan

yang berorientasi laba, manfaat masa depan biasanya berarti pendapatan.


b. Klasifikasi biaya untuk analisis breakeven point

Klasifikasi biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat

membantu manajemen dalam mencapai tujuannya. Untuk kepentingan analisis

Breakeven Point, maka biaya-biaya yang ada di perusahaan harus digolongkan ke

dalam biaya tetap dan biaya variabel. Jika terdapat biaya yang bersifat

semivariabel maka perusahaan harus memisahkan biaya tersebut menjadi biaya

tetap dan biaya variabel, dengan begitu manajemen akan dapat menyusun laba

yang diinginkan melalui persamaan Breakeven Point (Jumingan, 2008). Biaya

yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Variabel Cost (biaya Variabel)

Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan

perubahan volume penjualan, dimana perubahannya tercermin dalam biaya

variabel total. Biaya variabel adalah biaya yang dalam jumlah total bervariasi

secara proporsional terhadap perubahan output. Sementara biaya tetap tidak

berubah saat terjadi perubahan output, biaya variabel berubah sesuai dengan
perubahan output. Oleh karena itu, biaya variabel naik ketika output naik dan akan

turun ketika output turun (Hansen dan Mowen, 2006).

Menurut Horngren, Datar, dan Foster (2006), biaya variable secara total

berubah proporsional mengikuti perubahan tingkat aktivitas atau volume yang

terkait. Yang termasuk ke dalam kelompok biaya variabel adalah biaya-biaya

langsung seperti pemakaian bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

2. Fixed Cost (biaya tetap)

Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap dan tidak terpengaruh

oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu (function of time)

sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Biaya tetap adalah

suatu biaya yang jumlahnya tetap sama ketika output berubah. Lebih formalnya,

biaya tetap adalah suatu biaya yang dalam jumlah total tetap konstan dalam

rentang yang relevan ketika tingkat output aktivitas berubah (Hansen dan Mowen,

2006).

Menurut Horngren (2006), biaya tetap tidak berubah secara total untuk

jangka waktu tertentu, sekalipun terjadi perubahan yang besar atas tingkat

aktivitas atau volume terkait. Berproduksi atau tidaknya perusahaan, biaya ini

tetap dikeluarkan. Yang termasuk biaya tetap misalnya biaya sewa, biaya

penyusutan, biaya gaji, biaya asuransi, biaya pemeliharaan, bunga.

3. Semi Varibel Cost


Semi variabel cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan

sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Menurut

Hansen dan Mowen (2006), biaya campuran adalah biaya yang memiliki

komponen tetap dan variabel. Misalnya, agen penjualan sering dibayar dengan

gaji yang ditambah dengan komisi penjualan. Contoh biaya semi variable yaitu

selling expenses, administrasi dan umum, biaya perawatan dan perbaikan.

2.4 Biaya produksi penambangan bijih nikel

Fitriani (2016:52) Dalam menghitung biaya produksi penambangan bijih

nikel di PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. UBPN Sultra, biaya yang dimasukan

hanyalah biaya yang digunakan dalam proses penambangan tanpa memasukan

biaya produksi pengelolaan bijih nikel menjadi feronikel, yang meliputi :

Biaya bahan yaitu biaya pembelian safety shoes, safety helmet, masker debu,

kacamata safety, handuk kecil, rompi, kaus tangan, jas hujan.


Biaya pegawai yaitu biaya pembayaran gaji pokok, tunjangn tetap, tunjangan

lokasi kerja, resiko kerja, pengawas, uang makan, transport, bpjs, jaminan

kecelakaan, jaminan kematian, jaminan pelayanan kesehatan, jaminan hari

tua, tunjangan hari raya, pakaian kerja


Biaya jasa yaitu biaya penyusutan alat, asuransi, bahan bakar, pelumas,

gemuk, dan saringan, pemeliharaan, dan biaya ban.


Iuran, Pajak dan Retribusi
Biaya lainnya yang berhubungan dengan proses produksi

Pada saat ini PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. UBPN Sultra melakukan

produksi bijih nikel dengan menggunakan peralatan sewa dari salah satu

kontraktor alat berat di Pomalaa yaitu PT. Satri Jaya Sultra. Pada penyewaan alat,

biaya kepemilikan, biaya penyusutan alat, dan asuransi alat berat tidak
diperhitungkan karena sudah termasuk dalam biaya sewa itu sendiri (Fitriani.

2016)

1. Peralatan Penambangan

Alat-alat berat merupakan alat yang digunakan untuk membantu manusia

dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur. Alat berat meruapakan

faktor penting pada sebuah proyek, terutama proyek-proyek konstruksi maupun

pertambangan dan kegiatan lainnya dengan skala besar. Tujuan dari penggunaan

alat-alat berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan

pekerjaannya, sehingga hasil diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah

dengan waktu yang relatif lebih singkat.

Penggunaan alat-alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi

lapangan pekerjaan akan berpengaruh pada produksi. Kerugian yang dapat

disebabkan oleh kesalahan pemilihan dan penggunaan alat berat antara lain

rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal atau target yang telah ditentukan

dan kerugian dalam segi biaya. Saat ini PT. ANTAM (Persero) Tbk UBPN Sultra

menggunakan alat-alat berat berupa Bulldozer, Backhoe excavator, Dump truck,

Motor grader, Breaker excavator dan Water truck untuk memenuhi target produksi

penambangan. Fitriani (2016;25).

2. Biaya Operasional Alat

Biaya operasional alat akan timbul setiap saat alat berat diopersikan. Biaya

pengoperasian alat berat meliputi biaya bahan bakar, gemuk, pelumas, perawatan
dan perbaikan, serta alat penggerak atau roda. Operator yang mengerjakan alat

juga termasuk dalam biaya pengoperasian alat. Biaya tersebut meliputi :

1. Bahan bakar
Kebutuhan bahan bakar (fuel) pada masing-masing alat berbeda berdasarkan

mesin yang digunakan oleh alat tersebut. Data kebutuhan bahan bakar ini biasanya

dapat diperoleh dari pabrik produsen alat atau dealer yang bersangkutan.

Pemakaian bahan bakar setiap jam akan bertambah bila mesin bekerja lebih berat

atau berkurang bila mesin bekerja lebih ringan. Biaya bahan bakar dapat dihitung

dengan menggunakan rumus dibawah ini :


Fuel=Kebutuhan per jam x hargabahan bakar per liter

Bahan bakar yang digunakan oleh alat-alat penambangan di PT. Aneka

Tambang (Persero) Tbk, UPBN Sultra adalah bahan bakar bio solar.
2. Pelumas, Gemuk, dan Saringan
Biaya ini sama dengan biaya bahan bakar. Untuk kebutuhan bahan-bahan

pelumas, masing-masing alat berat memimiliki spesifikasi tertentu sesuai dengan

kondisi pekerjaan. Bahan pelumas terdiri dari oli mesin, oli transmisi, oli hidrolik,

oli final drive, dan gemuk. Biaya pelumas dinyatakan dalam rumus berikut :

Lubricant=kebutuhan per jam x harga pelumas per liter

Sedangkan biaya saringan (filter) biasanya diambil 50% dari jumlah biaya

pelumas diluar bahan bakar yang dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :
Jumlah filter x harga filter
Filter Per Jam=
lama penggantian filter ( jam)

3. Ban
Umur ban dari alat sangat dipengaruhi oleh medan kerja alat selain

kecepatan dan tekanan udara. Selain itu kualitas ban yang digunakan juga

berpengaruh. Umur ban biasanya diperkirakan sesuai dengan kondisi medan kerja.

Perhitungan depresiasi alat berat beroda ban dengan alat beroda crawler berbeda.
Umumnya crawler mempunya depresiasi sama dengan depresiasi alat sedangkan

ban mempunyai depresiasi lebih pendek daripada umur alat. Biaya ban yang dapat

dihitung yaitu biaya penggunaan ban pada Dump truck, Water tank truck, dan

Motor grader, . Berikut adalah rumus untuk menghitung kebutuhan ban :


Harga ban( Rp)
Kebutuhan Ban=
Umur Kegunaanban( jam)

4. Perbaikan
Biaya perbaiakan (maintenance) merupakan biaya perbaikan dan

perawatan alat sesuai dengan kondisi operasinya. Makin berat pekerjaan alat maka

makin besar pula biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat alat tersebut. Biaya

perbaikan alat dapat ditentukan dengan rumus berikut :

faktor perbaikan x (h arga alath argaban)


Biaya Perbaikan=
umur kegunaan alat ( jam)

Dengan faktor perbaikan biasanya ditentukan berdasarkan pengalaman


2.2 Laba

Menurut Hansen dan Mowen (2001), laba adalah perbedaan antara

pendapatan dan biaya. Laba dapat digunakan untuk mengukur kinerja manajerial.

Dalam hal ini laba menunjukkan efisiensi dalam menggunakan sumber daya,

karena biaya dijaga tetap di bawah laba. Laba merupakan ukuran yang

membedakan antara apa yang perusahaan masukkan untuk membuat dan menjual

produk dengan apa yang diterimanya, merupakan tingkat dimana perusahaan

menjadi sejahtera dengan transaksi-transaksi yang dilakukannya.

Menurut Horngren, Datar, dan Foster (2006), laba operasi adalah selisih

antara pendapatan operasi total dengan harga pokok penjualan dan biaya operasi.

Laba bersih (net income) adalah laba operasi ditambah pendapatan nonoperasi
(seperti pendapatan bunga) dikurangi biaya nonoperasi (seperti biaya bunga)

dikurangi pajak.

Menurut Warren, Reeve, dan Fess (2006), kelebihan pendapatan terhadap

beban-beban yang terjadi disebut laba bersih atau keuntungan bersih (net income

atau net profit). Jika beban melebihi pendapatan, maka disebut rugi bersih (net

loss).

2.3 Analisis Titik Impas (Breakeven Point)


a. Pengertian Analisis Titik Impas (Breakeven Point)

Menurut Ricketts dan Gray (1988) breakeven point is the sales volume at

which total sales revenue equals total costs and there is no profit or loss.

Sedangkan menurut Horngren, Datar, dan Foster (2006), titik impas adalah jumlah

penjualan output yang akan menyamakan pendapatan total dengan biaya total,

yaitu jumlah penjualan output yang akan menghasilkan laba operasi 0 (nol).

Analisis titik impas atau analisis Breakeven Point diperlukan untuk

mengetahui hubungan antara volume produksi, volume penjualan, harga jual,

biaya produksi, biaya lainnya baik yang bersifat tetap maupun variabel, dan laba

atau rugi. Suatu perusahaan dikatakan dalam keadaan impas, yaitu apabila setelah

disusun laporan perhitungan laba rugi untuk periode tertentu perusahaan tersebut

tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugian. Dengan

perkataan lain labanya sama dengan nol atau ruginya sama dengan nol. Hasil

penjualan (sales revenue) yang diperoleh untuk periode tertentu sama besarnya

dengan keseluruhan biaya (total cost), yang telah dikorbankan sehingga

perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau menderita kerugian (Jumingan,

2008).
Analisis titik impas adalah suatu cara yang digunakan oleh perusahaan

untuk mengetahui atau untuk merencanakan pada volume produksi atau volume

penjualan berapakah perusahaan yang bersangkutan tidak memperoleh

keuntungan atau tidak menderita kerugian. Dengan diketahuinya titik impas

tersebut dapatlah direncanakan tingkat-tingkat volume produksi atau volume

penjualan yang akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan yang

bersangkutan. Agar terhindar dari kerugian perusahaan harus dapat mengusahakan

jumlah penjualan pada titik impas tersebut. Apabila volume penjualan tidak

mencapai titik impas tersebut bararti perusahaan akan menderita rugi (Jumingan,

2008).

b. Persyaratan Analisis Breakeven Point

Menurut Jumingan (2008) diperlukan sejumlah persyaratan tertentu agar

analisis titik impas dari suatu perusahaan dapat dilakukan. Syarat-syarat tersebut

harus dipenuhi terlebih dahulu agar kita dapat menentukan tingkat atau volume

penjualan atau produksi yang akan menghasilkan pulang pokok, artinya tidak

memberikan laba atau rugi. Syarat-syarat yang diperlukan untuk menentukan titik

impas adalah sebagai berikut:

1. Bahwa prinsip variabilitas biaya dapat diterapkan dengan tepat (principle of

cost variability is valid).


2. Bahwa biaya-biaya yang dikorbankan harus dapat dipisahkan menjadi dua

kelompok biaya, yakni biaya tetap dan biaya variabel. Biaya-biaya yang

bersifat meragukan, yaitu bersifat semi tetap atau semi variabel harus

ditegaskan kelompoknya sehingga akhirnya hanya ada dua kelompok biaya

saja, yakni biaya tetap dan biaya variabel.


3. Bahwa yang dikelompokkan sebagai biaya tetap tersebut akan tinggal konstan

sepanjang kisaran periode kerja atau kapasitas produksi tertentu, akhirnya

tidak mengalami perubahan walaupun volume produksi atau volume kegiatan

berubah. Apabila dihitung per unit biaya tetap ini berarti akan semakin

menurun dengan meningkatnya volume produksi.


4. Bahwa yang dikelompokkan sebagai biaya variabel tersebut akan berubah

sebanding dengan perubahan volume produksi, yakni meningkat atau

menurun secara sebanding dengan perubahan volume produksi. Dengan

demikian, biaya variabel itu akan tetap sama bila dihitung per unit, berapapun

jumlah unit barang yang diproduksikan.


5. Bahwa harga jual per unit barang itu akan tetap saja, tidak naik atau tidak

turun, berapapun jumlah unit barang yang dijual. Harga per unit tidak akan

menurun walaupun volume penjualan meningkat, dan sebaliknya volume

penjualan barang tidak akan mempengaruhi harga jual atau harga pasarnya.

Persyaratan ini berlaku bagi pasar barang yang bersaing sempurna di mana

perusahaan secara individual tidak dapat mempengaruhi harga pasar.


6. Bahwa tingkat harga umum tidak akan mengalami perubahan selama kisaran

tertentu yang dianalisis.


7. Bahwa perusahaan yang bersangkutan hanya memproduksi dan menjual satu

jenis barang saja. Bagi perusahaan yang memproduksi dan menjual lebih dari

satu jenis barang maka produk-produk itu harus dianggap sebagai satu jenis

produk saja dengan perbandingan (mix) yang selalu konstan.


8. Bahwa produktivitas tenaga kerja pada perusahaan yang bersangkutan akan

tinggal tetap atau tidak berubah.


9. Bahwa dalam perusahaan yang bersangkutan harus ada sinkronisasi antara

volume produksi dengan volume penjualan, artinya bahwa barang yang


diproduksi harus terjual semua pada periode yang bersangkutan (tidak ada

sisa atau persediaan). Dengan adanya persyaratan tersebut, dalam gambar titik

impas, garis hasil penjualan, garis biaya total (biaya variabel ditambah biaya

tetap) akan berupa garis lurus karena perusahaan dianggap sebanding dengan

volume penjualan. Grafik titik impas dapat dilihat pada Gambar 1.


c. Diagram Titik Impas

Pada metode grafik, biaya total dan pendapatan total digambarkan dalam

grafik. Masing-masing ditunjukkan dengan sebuah garis pada grafik. Titik dimana

garis berpotongan menunjukan titik impas (Horngren, Datar, dan Foster, 2006).

Untuk menggambarkan titik impas perlu digambarkan adanya garis penjualan.

Penjualan ini merupakan hasil perkalian antara volume produksi/penjualan dengan

harga jual per unit. Grafik titik impas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Titik Impas (Jumingan, 2008)

Keterangan :

OS = Garis penjualan-dalam rupiah

OP = Garis produksi/penjualan-dalam unit


OV = Garis biaya variabel-dalam rupiah

R1T = Garis biaya total (biaya tetap + biaya variabel)-dalam rupiah

BEP = Titik impas-merupakan titik potong antara garis penjualan dengan garis

biaya total

Titik impas (breakeven point) tercapai pada penjualan OP2 unit dengan

harga jual per unit tertentu yang sama pada berbagai tingkat penjualan. Hasil

penjualan ditunjukkan dengan garis vertikal P2S2 atau OR2. Hasil penjualan

P2S2 digunakan untuk menutup biaya variabel P2V2 dan sisanya (pendapatan

marginal) hanya cukup untuk menutup biaya tetap V2T2. Jadi, labanya adalah nol

(beradanya titik impas). Apabila perusahaan menghendaki untuk memperoleh

euntungan, penjualan harus diusahakan melebihi OP2 unit. Misalnya, penjualan

dapat mencapai OP3 unit. Dengan harga jual yang sama hasil penjualan yang

dapat dicapai adalah P3S3. Hasil penjualan ini digunakan untu menutup biaya

variabel yang meningkat secara proporsional P3V3 dan biaya tetap V3T3. Sisanya

sebanyak P3S3 merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Pada

penjualan yang lebih banyak lagi misalnya OP4 unit, keuntungan yang diperoleh

juga semakin besar, yakni T4S4. Sebaliknya bila penjualan berada dibawah OP2

unit perusahaan akan menderita rugi. Misalnya penjualan hanya mencapai OP1

unit. Pada penjualan sebanyak ini hasil penjualan yang diperoleh hanya mencapai

P1S1. Hasil ini digunakan untuk menutupi biaya variabel yang menurun secara

proporsional P1V1. Sisanya tidak cukup untuk menutupi keseluruhan biaya tetap

V1T1. Rugi yang diderita adalah sebesar S1T1. Kerugian akan bertambah besar

apabila penjualan berada dibawah OP1 unit. Dengan demikian, dapat isimpulkan
bahwa daerah yang terletak di sebelah kanan BEP adalah daerah laba, dan daerah

yang terletak di sebelah kiri BEP merupakan daerah rugi (Jumingan, 2008).

d. Perhitungan Breakeven Point

Menurut Jumingan (2008), terdapat berbagai metode dalam menghitung

titk impas (pendekatan matematis). Data atau informasi yang diperlukan dalam

menghitung titik impas adalah :

1. Hasil keseluruhan penjualan atau harga jual per unit


2. Biaya variabel keseluruhan atau biaya variabel per unit
3. Jumlah biaya tetap keseluruhan

Terdapat dua metode atau rumus dalam menghitung titik impas, yakni :

1. Perhitungan breakeven point atas dasar sales dalam rupiah dapat dilakukan

dengan menghitung rumus :

FC
BEP ( Rp )=
VC
1
S

Dimana:

BEP (Rp) = Penjualan pada titik impas-dalam rupiah

FC = Biaya tetap keseluruhan (fixed cost)

VC = Biaya variabel keseluruhan (variabel cost)

S = Hasil penjualan keseluruhan

2. Perhitungan breakeven point atas dasar unit dapat dilakukan dengan

menghitung rumus:

FC
BEP ( Unit )=
PVC

Dimana:
BEP unit= Penjualan pada titik impas-dalam unit

P = Harga jual per unit (sales price per unit)

V = Biaya variabel per unit

2.4 Margin of Safety

Margin of safety (batas keamanan) merupakan hubungan antara volume

penjualan yang dianggarkan dengan volume penjualan pada titik impas. Apabila

volume penjualan pada titik impas telah diketahui, dan kemudian dihubungkan

dengan penjualan yang dianggarkan, akan diketahui batas keamanan, yaitu berapa

besar volume penjualan boleh turun asal perusahaan tidak menderita kerugian.

Selisih antara volume penjualan yang dianggarkan atau tingkat penjualan tertentu

dengan volume penjualan pada titik impas merupakan margin of safety (MOS)

bagi perusahaan yang bersangkutan (Jumingan, 2008). Dapat dinyatakan dengan

rumus sebagai berikut :

Penjualan DianggarkanPenjualan BEP


MOS= 100
Penjulan Dianggarkan

Margin of safety adalah kelebihan dari anggaran penjualan atau penjualan

yang aktual diatas penjualan titik impas. Margin of safety dapat digunakan untuk

menentukan sejauh mana jumlah penurunan penjualan sampai titik impas atau

titik dimana tidak terjadi kerugian dan juga laba. Margin of safety digunakan

sebagai alat ukur resiko operasi. Semakin besar rasionnya, maka semakin aman

situasinya karena hanya terdapat sedikit resiko dalam mencapai titik impas.

Margin ini merupakan persentase dimana pendapatan penjualan dapat terus turun

sebelum merugi (Fridayanti. 2014).