Anda di halaman 1dari 2

a.

Prognosis dan Komplikasi (2, 11)


Prognosis
Prognosis elefantiasis tidak baik,karena tidak ada obatnya. Dapat dilakukan bebat
tekan atau operasi plastik tetapi hasilnya kurang memuaskan.
Dapus : Masrizal. Penyakit Filariasis. Jumal Kesehatan Masyarakat, Vol. 7, No. 1
September 2012-Maret 2013.

Bagaimana pengendalian vektor filariasis? (2, 7)

Prinsip utama agar terhindar atau mencegah infeksi mikrofilaria positif dan filariasis
adalah menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vektor infektif atau berusaha seminimal
mungkin kontak dengan nyamuk vektor menggunakan spraying dan antimosquito
1
fumigants. Pengurangan populasi vektor perlu mendapatkan perhatian dengan cara :
1) reduction of vector breeding habitats dengan perbaikan keadaan lingkungan; dan
2) reductionvector densities dengan pengendalian kimiawi (insektisida) maupun biologis
Di Thailand telah dicoba pengendalian vektor filariasis berfokus perbaikan
lingkungan sebagai berikut :
1) memperbaiki sistem drainage di perkotaan dengan maksud mengurangi penyebaran
filariasis bancrofti tipe urban;
2) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha mencegah timbulnya man-made
container breeding site mosquito;
3) menghilangkan tanaman air (Pistia, Eichornia) di rawa- rawa sangat bermanfaat dalam
pengendalian populasi nyamuk Mansonia spp ; dan
4) meningkatkan penggunaan polystylene balls sebagai usaha membunuh/mencegah
perkembangan larva menjadi pupa terutama nyamuk Culex quenquefasciatus.
Usaha pengendalian vektor filariasis cara seperti tersebut di atas ternyata dapat
menurunkan angka infeksi filariasis dari 16,65% menjadi 0,9% 1.
Menurut Permenkes RI No. 374 tahun 2010 tentang Pengendalian Vektor ada
beberapa metode pengendalian vektor antara lain metode pengendalian fisik dan mekanis
(modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan, pemasangan kelambu,
memakai baju lengan panjang, pemasangan kawat kasa dan lain-lain), metode
pengendalian dengan menggunakan agen biotik (predator pemakan jentik, manipulasi
gen), metode pengendalian secara kimia (kelambu berinsektisida, larvasida, fogging,
penggunaan repelen, penggunaan obat anti nyamuk, dan lain-lain)2
1. Dapus : Soeyoko, 2002. Penyakit Kaki Gajah (Filariasis Limfatik) Permasalahan dan
Alternatif Penanggulangannya, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada FK-
UGM, Yogyakarta
2. Kemenkes RI, 2010a. Rencana Nasional Program Akselerasi Eliminasi Filariasis Di
Indonesia 2010-2014, Jakarta : Subdit Filariasis & Schistomiasis Direktorat P2B2
Ditjen PP & PL