Anda di halaman 1dari 7

MPR bahas perubahan tata tertib MPR RI

Kamis, 14 Agustus 2014 14:30

Menjelang habis masa jabatannya anggota MPR RI tengah membahas perubahan tata tertib MPR RI berkaitan dengan perubahan UU
MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), dan akan disahkan pada Sidang Umum MPR bulan September mendatang.

"Pembahasan ini karena implipikasi perubahan UU MD3 sebagai bahan persiapan MPR untuk mengadakan sidang umum untuk
mengubah peraturan tatib MPR.

Perubahan ini akan dilaksanakan pada sidang umum MPR bulan September," kata Ketua Fraksi PKB MPR RI, Lukman Edy di Jakarta,
Kamis.

Adapun poin penting dari tatib adalah penguatan kelembagaan MPR, misalnya penambahan fungsi MPR seiring dengan bertambahnya
tugas yang diberikan dalam UU MD3.

"Tugas tambahan itu adalah internalisasi nilai-nilai kebangsaan, kajian ketatanegeraan dan menyerap aspirasi masyarakat dan daerah,"
kata Lukman Edy.

Tatib MPR RI yang sedang dibahas di Hotel Santika Jakarta itu, tidak membahas tentang amandemen UUD 45.

"Rencana amandemen UUD 45 tidak dibahas karena tidak cukup waktu, jadi tidak jadi bagian dari Sidang Umum MPR. Amandemen itu
bisa dilakukan minimal 6 bulan masa jabatan anggota MPR," katanya.
DPR gabungkan RRI-TVRI melalui UU RTRI
Selasa, 22 Juli 2014 08:28

DPR RI menggabungkan dua lembaga penyiaran publik (LPP) RRI dan TVRI melalui Undang Undang tentang Radio dan Televisi
Republik Indonesia (RTRI) yang akan disetujui pada Agustus mendatang.

"RUU RTRI sudah selesai dibahas dan dijadwalkan akan disetujui DPR RI pada masa persidangan berikutnya, pada Agustus 2014,"
kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tantowi Yahya, pada diskusi "Forum Legislasi: RUU RTRI" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta,
Selasa.

Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah Direktur Utama RRI Niken Widiastuti dan Direktur Teknik TVRI Syahrullah.

Menurut Tantowi Yahya, dengan digabungkannya dua LPP yakni RRI dan TVRI diharapkan dapat menjadi lembaga penyiaran negara
yang kuat dan profesional sehingga dapat tetap menjalankan tugas dan fungsinya sekaligus mengimbangi lembaga penyiaran swasta.

Lahirnya RUU RTRI, kata dia, berangkat dari kondisi RRI dan TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang semakin ditinggalkan publik
menyusul semakin maraknya siaran dari lembaga penyiaran swasta.

Padahal, peran dan fungsi RRI dan TVRI sebagai lembaga penyiaran publik diharapkan dapat mengimbangi siaran-siaran dari lembaga
penyiaran swasta, baik radio maupun televisi swasta, sekaligus dapat berkontribusi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).

"Peran RRI dan TVRI menjaga keutuhan NKRI melalui siaran-siaran dari negara yang penting dan perlu disiarkan kepada publik serta
siaran-siaran budaya dari berbagai daerah," katanya.

Menurut Tantowi, sesuai peran dan fungsinya, RRI dan TVRI diutamakan menyiarkan hal-hal yang penting dan perlu bagi negara untuk
disiarkan kepada publik serta keaneragaman budaya daerah di Indonesia.

RRI dan TVRI saat ini, kata dia, banyak menyiarkan konten komersial tapi tetap kalah dengan lembaga penyiaran swasta yang
didukung oleh teknologi lebih maju serta anggaran lebih besar.

Setelah RRI dan TVRI digabung menjadi satu lembaga, menurut Tantowi, maka teknologinya akan diperbaharui menjadi teknologi
digital serta siarannya akan dikemas secara menarik sehingga tidak kalah dengan siaran dari lembaga pentiaran swasta.
Panja DPR : RUU perbankan batasi bank asing
Selasa, 22 Juli 2014 09:22

Panitia Kerja Rancangan Undang-undang Perbankan DPR RI sepakat untuk membatasi bank asing yang beroperasi di Indonesia dan
mengharuskan seluruh bank berbadan hukum Indonesia.

"Bank asing tidak boleh bentuk cabang, harus PT Indonesia yang berbadan hukum Indonesia," kata Ketua Panitia Kerja RUU
Perbankan Harry Azhar Azis di Batam, Minggu.

Kebijakan itu dibuat untuk melindungi konsumen bank asing agar tidak dirugikan bila tiba-tiba bank itu mengalihkan asetnya ke luar
negeri.

"Kalau terjadi sesuatu di kantor pusat, maka mereka bisa gampang mengalihkan aset, sehingga merugikan konsumen Indonesia," kata
Harry.

Memang, katanya, sudah sudah ada Peraturan Bank Indonesia, bank harus menyimpan modal di Indonesia, tidak bisa dikeluarkan
tanpa memenuhi syarat tertentu.

Namun itu belum cukup, karena PBI berada di bawah UU, kata Harry.

Dengan langsung membatasi cabang bank asing beoperasi dalam UU, katanya, maka akan memberikan perlindungan sekaligus
kepastian hukum.

Meski sepakat untuk melarang cabang bank asing beroperasi, namun Panja belum menyepakati pemberlakuannya, apakah surut atau
tidak.

"Kami belum putuskan apakah peraturan bank asing harus badan hukum Indonesia itu berlaku surut atau bagaimana. Karena saat ini
ada 11 bank cabang asing yang beroperasi," kata dia.

Selain mengharuskan seluruh bank berbadan hukum Indonesia, Panja juga sepakat untuk membatasi kepemilikan modal asing dalam
bank nasional.

"Kami putuskan kepemilikan asing maksimal 40 persen," kata dia.

Bank-bank nasional yang kepemilikannya dikuasai asing, maka diharuskan meng-divestasi dalam waktu 10 tahun.

Sementara itu Harry mengatakan RUU Perbankan ditargetkan selesai sebelum periode keanggotaan DPR 2009-2014 berakhir.

Hingga kini, Panja sudah menyepakati 85 persen dari dim RUU, hanya tinggal 15 persen yang masih harus dibahas.
RUU Keinsinyuran segera disahkan
Kamis, 13 Februari 2014 08:45

RUU Keinsinyuran segera dibawa ke pembicaraan Tingkat II dalam Rapat Paripurna DPR untuk disahkan menjadi UU
Keinsinyuran. RUU ini sangat penting dan strategis untuk penguasaan IPTEK oleh para tenaga insinyur Indonesia. Penguatan
daya saing dan standardisasi insinyur pun telah dirumuskan secara konfrehensif.

Rapat terakhir yang dipimpin Ketua Pansus RUU Keinsinyuran Rully Chairul Azwar (F-PG), di DPR, Jakarta, Rabu,
mendengarkan pandangan akhir mini fraksi-fraksi yang hadir.

Menurut laman DPR, semua fraksi menyatakan setuju agar RUU ini segera disahkan menjadi UU. Selama ini, kata Rully,
tenaga insinyur Indonesia belum sepenuhnya dihargai dan disetarakan dengan para insinyur luar negeri. Di sinilah pentingnya
kehadiran RUU Keinsinyuran untuk meningkatkan daya saing dan kompetensi para insinyur dalam negeri.

"Profesi insinyur belum menjadi minat banyak mahasiswa kita dan para insinyur yang ada pun lari ke luar negeri karena lebih
dihargai," ungkap Rully usai memimpin rapat Pansus.

Kini, tenaga insinyur segera mendapat kesetaraan dengan insinyur luar negeri. Tarif jasa insinyur Indonesia yang selama ini
selalu lebih rendah dibandingkan dengan insinyur luar negeri, akan segera disetarakan. Dengan begitu penghargaan terhadap
tenaga insinyur Indonesia cukup mendapat perhatian.

Yang juga penting dalam RUU Keinsinyuran ini adalah adanya sertifikasi insinyur sebagai kompetensi keahlian untuk
menciptakan daya saing di era globaliasi.

Sertifikasi tersebut ditujukan untuk menjaga produk jasa para insinyur. Dengan begitu, ada semacam jaminan mutu kerja para
insinyur. Kelak, pemerintah juga dihimbau menyediakan lapangan kerja yang luas bagi para insinyur.

Rully berharap, dengan pemberdayaan tenaga insinyur yang menguasai IPTEK, Indonesia tidak lagi menjadi negara konsumen
yang menikmati produk-produk teknologi negara maju. Dengan memberdayakan para insinyur dalam negeri, Indonesia harus
menjadi negara produsen teknologi. "Kita tidak ingin menjadi bangsa kuli di negeri sendiri," kata Rully.
Legislator desak pemerintah revisi Perpres 15/2012
Jumat, 07 Februari 2014 12:42

Anggota Komisi VII DPR RI, Dewi Aryani, mendesak Pemerintah untuk segera merevisi Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun
2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu karena merugikan nelayan.

"Kami mendesak Pemerintah segera merevisi Perpres No. 15/2012 serta Surat Edaran Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas
Bumi (BPH Migas) yang melarang penggunaan solar bersubsidi untuk kapal nelayan ukuran di atas 30 gross tonnage karena
sangat memberatkan nelayan," kata anggota Komisi Bidang Energi dari Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu, melalui pesan
singkatnya kepada ANTARA di Semarang, Kamis pagi.

Doktor Dewi Aryani, M.Si. lantas mengasumsikan jika harga solar industri akan mencapai Rp13 ribu per liter, berarti nelayan
yang sekali melaut dengan menggunakan kapal ukuran di atas 30 gross tonnage akan mengeluarkan biaya untuk bahan bakar
minyak (BBM) sebesar Rp325 juta.

Dewi yang juga Duta Universitas Indonesia (Duta UI) untuk Reformasi Birokrasi mengemukakan bahwa seharusnya pemerintah
tidak sampai hati membiarkan nelayan menggunakan solar dengan harga tinggi sebagaimana diatur dalam perpres tersebut.

"Pemerintah seharusnya tidak membiarkan nelayan yang sudah hidup dalam keterbatasan menjadi makin terpuruk dengan
adanya Perpres No. 15/2012," kata Dewi yang juga calon anggota tetap DPR RI periode 2014-2019 dari Daerah Pemilihan
Jawa Tengah IX (Kabupaten Brebes, Kota/Kabupaten Tegal).

Jika perpres tersebut tidak segera direvisi, menurut Dewi, sama saja membunuh perlahan keluarga nelayan Indonesia.

Oleh karena itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan itu mendesak Pemerintah segera menyadari bahwa revisi Perpres No. 15/2012
sangatlah penting untuk kesejahteraan nelayan Indonesia.

Saat ini, katanya, sedang terjadi musim barat, cuaca buruk, dan banjir. Hal itu membuat banyak nelayan yang saat ini
menganggur dan banyak kapal yang melaut, belum kembali pulang karena menghindari cuaca yang buruk.

"Dapat kita bayangkan beratnya kehidupan nelayan saat ini, ditambah lagi adanya pelarangan tersebut sehingga menambah
beban bagi nelayan," katanya.

Dewi yang juga Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menilai kebijakan tersebut tidak berpihak
kepada nelayan. Pasalnya, harga solar akan membumbung tinggi, sementara harga ikan tidak mengalami penaikan.

"Nelayan kita saat ini sudah dibebani tiga pungutan, yakni retribusi daerah, pungutan hasil perikanan (PHP) berdasarkan
ukuran kapal, serta pajak pengusaha perikanan (PPP)," katanya.

Beban yang diterima nelayan itu, menurut dia, dampaknya tidak habis hanya di tingkat nelayan dan keluarganya.

Akan tetapi, katanya, berefek domino di sektor perikanan. Misalnya, tukang gerobak ikan, tukang becak ikan, para bakul ikan,
pengolah ikan fillet, ikan basah, dan pengolah ikan asin yang jumlahnya ribuan orang.
RUU Perdagangan disepakati, lompatan besar bagi Indonesia
Jumat, 07 Februari 2014 09:48

Rancangan Undang-Undang Perdagangan merupakan lompatan besar dan sejarah baru bagi bangsa Indonesia dalam
mendorong perdagangan nasional yang lebih maju dan berkeadilan.

Demikian disampaikan Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan dalam siaran pers yang diterima ANTARA News, Kamis setelah
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyepakati isi substansi Rancangan Undang-Undang Perdagangan

Gita menegaskan RUU perdagangan ini mengedepankan kepentingan nasional dan ditujukan untuk melindungi pasar domestik
dan produk ekspor Indonesia, memperkuat daya saing dan nilai tambah produk dalam negeri, membuat regulasi perdagangan
dalam negeri dan memberikan perlindungan kepada konsumen.

"Dalam perspektif yang lebih strategis, maka RUU Perdagangan ini berangkat dari konsepsi untuk mengamankan seluruh
wilayah perdagangan Indonesia guna memaksimalkan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian nasional," ujarnya.

Menurutnya, melalui RUU ini pemerintah ingin memastikan sejumlah hal. Pertama, produk-produk yang diperdagangkan di
dalam negeri semaksimal mungkin diproduksi di dalam negeri.

"Diharapkan perekonomian nasional dapat ditopang tidak hanya oleh kegiatan konsumsi, tetapi juga oleh kegiatan produksi,"
kata Gita.

Kedua, RUU ini dapat menopang ketahanan ekonomi nasional melalui ketahanan pangan dan ketahanan energi, serta menjaga
keseimbangan kepentingan di hulu dan hilir.

Ketiga, kerangka perlindungan konsumen perlu ditegaskan melalui kewajiban penggunaan label berbahasa Indonesia untuk
barang-barang yang diperdagangkan di dalam negeri dan ketentuan pemenuhan SNI.

Keempat, pelaku usaha di seluruh penjuru tanah air terutama pelaku KUM KM dapat bekerja lebih efisien dan berkembang
lebih maju.

Kelima, RUU ini akan menjadi dasar dan payung hukum bagi ketertiban dan tumbuh kembangnya pelaku usaha yang bergerak
dalam sistem perdagangan melalui elektronik (e-commerce).

Keenam, melalui RUU ini kedaulatan rakyat dilindungi dengan dilibatkannya DPR dalam Ratifikasi Perjanjian Kerjasama
Perdagangan Internasional.

Terakhir, pembentukan Komite Perdagangan Nasional diperlukan untuk membantu pemerintah dalam percepatan pencapaian
pelaksanaan kebijakan perdagangan. Komite akan membantu pemerintah memberikan advokasi, rekomendasi dan sosialisasi.

Pembahasan RUU Perdagangan ini telah dimulai sejak Oktober 2013 dan diharapkan dapat disahkan dalam rapat paripurna
DPR pada 7 Februari 2014. Saat ini sedang dilakukan finalisasi legal drafting untuk sinkronisasi dan harmonisasi pada RUU ini.
RUU Perdagangan bersih dari konten liberalisasi
Kamis, 30 Januari 2014 07:21

Wakil Ketua Komisi VI Aria Bima mengklaim Rancangan Undang-undang Perdagangan sudah tidak lagi memuat pasal-pasal
yang sangat memihak liberalisasi ekonomi, setelah dilakukannya revisi naskah akademis rancangan itu.

"Dari hasil revisi naskah akademis itu ada acuan DIM (Daftar inventarisasi masalah) per DIM. Sesuatu yang tidak kita sangka,
ternyata liberalisasi itu telah berubah menjadi kepentingan nasional," kata Aria di Gedung DPR, Jakarta, Rabu.

Aria mengatakan, pemerintah, sejak pembahasan pada Oktober 2013, telah menyetujui semua usulan fraksi di DPR. Salah
satu usulan itu yakni tentang perjanjian perdagangan internasional yang harus melewati konsultasi dengan DPR.

"Ini telah disarankan para ahli. Yang awalnya hanya wewenang eksekutif, akhirnya harus lewat DPR. Ini agar Dewan bisa
mencermati dan mengaudit," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, beberapa poin dalam RUU Perdagangan yang krusial adalah mengenai daya saing produk domestik dan
pengamanan stok barang pokok dan penting.

Salah satu contohnya pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta Koperasi. Pemerintah dan DPR sepakat
menetapkan peraturan dalam RUU itu untuk memperlebar akses produk UKM ke pasar modern dan memberikan kemudahan
pembiayaan.

Selanjutnya, kata Aria, adalah pengaturan barang pokok dan penting. Untuk komoditas pokok dan penting yang sebelumnya
hanya diatur keputusan presiden, akan dirubah dengan pemberian kewenangan langsung ke Menteri.

"Jadi misalkan ada 'over supply' di petani, menteri bisa langsung awasi impor barang tersebut, ini adalah komitmen kita di hilir,"
ujar dia.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan tidak menampik bahwa sebelumnya banyak anggapan tentang
keberpihakan pada liberalisme pada RUU Perdagangan ini. Namun, dia menekankan, naskah RUU ini sudah mengalami
banyak perubahan dengan titik penting untuk mengutamakan ketahanan nasional.

"Salah satu yang ditekankan adalah bagaiamana menyambut semanngat nasional dimana adanya keseimbangan sektor hulu
dan hilir. Dimana produk yang dikonsumsi dalam negeri itu diproduksi di dalam negeri," ujarnya.