Anda di halaman 1dari 5

Narkoba yang Menjerat Raffi Ahmad

Nama : Irham Miftahul Rizky

NPM : 3016210157

Kelas : B

I. PENDAHULUAN

Permasalahan mengenai penggunaan Narkotika semakin hari semakin memprihatinkan


terlebih di Indonesia. Narkotika seakan sudah menjadi barang yang sangat mudah didapatkan
oleh berbagai kalangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dari waktu ke waktu jumlah pengedar,
pecandu, dan juga korban penyalahgunaan Narkotika semakin bertambah jumlahnya. Hal
tersebut menunjukkan bahwa penggunaan Narkotika dalam kehidupan masyarakat seakan sudah
menjadi suatu hal yang biasa. Penggunaan Narkotika terjadi secara merata di semua lapisan
masyarakat tanpa memandang status dan kedudukan soisal masyarakat. Narkotika sebenarnya
mempunyai manfaat yang baik dibidang medis apabila dipergunakan sesuai dengan ketentuan
yang ada.

Masyarakat seharusnya tidak menyalahgunakan narkoba untuk hal hal negatif yang
berkelanjutan demi menjaga kesehatan tubuh kita. Narkotika sebenarnya merupakan sejenis zat
kimia atau obat yang dibutuhkan untuk kepentingan medis dan ilmu pengetahuan. Menurut
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang
berasal dari tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan
atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan.

Selain manfaat yang baik tersebut, narkotika juga dapat membawa dampak yang buruk.
Penggunaan Narkotika akan bermanfaat apabila digunakan dengan sewajarnya sesuai dengan
ketentuan dan kepentingan medis. Pada perkembangannya, penggunaan Narkotika justru
semakin melenceng dari apa yang seharusnya menjadi manfaat dari Narkotika itu. Banyak orang

1
yang menggunakan Narkotika bukan untuk kepentingan medis namun justru
menyalahgunakannya untuk berbagai kepentingan.

Salah satu contoh bentuk perdebatan mengenai kewenangan penentuan sanksi rehabilitasi
bagi pelaku penyalahgunaan narkotika adalah kasus yang dialami oleh Raffi Ahmad. Raffi
Ahmad telah ditetapkan sebagai tersangka. Adapun pasal-pasal yang dikenakan untuknya itu
adalah 111 ayat (1), 112 ayat (1), 132, 133, Jo 127 Undang-undang Nomor 35, Tahun 2009,
tentang Narkotika.

Dalam kasus tersebut, raffi oleh penyidik BNN diharuskan untuk menjalani rehabilitasi
padahal perkara tersebut belum mulai disidangkan apalagi diputus oleh Hakim. Berdasarkan No.
35 Tahun Undang-Undang 2009 tentang Narkotika, jelas hal tersebut merupakan suatu
penyimpangan, karena dalam No. 35 Tahun Undang-Undang 2009 Tentang Narkotika jelas tidak
disebutkan bahwa penyidik berwenang dalam penentuan rehabilitasi bagi pelaku penyalahgunaan
Narkotika.

Pada pembahasan kali ini, saya selaku penulis ingin mencerminkan ketidakadilan hukum
yang terjadi di dalam kasus Raffi ini, bagaimana tidak seharusnya raffi mendapatkan rehabilitasi
di BNN namun pada kenyataannya, karena Raffi adalah artis terkenal dan memiliki uang banyak,
hukum pun dapat dibeli olehnya. Dengan tebang pilihnya penegak hukum dalam menangani
perkara, Indonesia yang dikenal sebagai Negara hukum pun tidak dapat berjalan dengan
semestinya, teorinya cukup baik, namun pada prakteknya belum bisa memberikan keadilan untuk
masyarakat.

II. PENJABARAN IDE

Wanda Hamidah menghabiskan malam panjang di Kafe Parc Lounge di bilangan


Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu malam, 26 Januari 2013. Wanda, saat itu sedang bersama
delapan temannya. Tak lama kemudian, datanglah Raffi Ahmad bersama sejumlah teman. Raffi
duduk di meja berbeda, meskipun berdekatan dengan Wanda. Kedua kelompok ini pun akhirnya
bergabung, pindah duduk ke kafe Umbra, persis di seberang Parc Lounge. Tak terasa jam demi
jam berlalu, obrolan hangat terjalin di antara belasan orang itu. Lewat tengah malam, Raffi
mengantar Wanda dan para rekannya itu ke rumah orang tua Wanda di Jakarta Selatan. Mereka

2
menitipkan mobilnya di sana. Lalu Raffi, Wanda, dan satu temannya, menuju Apartemen
Bonavista, tempat Wanda tinggal.

Tapi di tengah jalan, rencana berubah. Lajang asal Bandung ini malah mengajak Wanda
mampir ke rumahnya, di komplek rumah bandar di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Wanda tak
keberatan. Apalagi, sebagai politikus Partai Amanat Nasional, dia memang hendak mengajak
Raffi ikut membantu acara bakti sosial bagi korban banjir Jakarta. Jadilah, belasan orang menuju
rumah Raffi.

Di rumah Raffi pada dini hari itu, Wanda merasa tak ada yang janggal. Dia tak melihat
obat obatan, atau bahan mencurigakan. Hanya ada minuman ringan, dan makanan kecil. Kami
hanya mengobrol. Ada yang main piano, main laptop, kata Wanda, anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Jakarta itu. Tapi sekitar pukul 05.00, Ketua RT 009/04 Lebak Bulus didatangi
petugas yang mengaku dari Markas Besar Kepolisian. Masum, sang ketua RT, rupanya diajak
polisi menggerebek rumah seorang warga. Ada kecurigaan narkoba pada warga saya, ujar
Masum. Tapi saat itu, sang ketua RT tak diberitahu polisi rumah siapa yang dituju. Masum hanya
ikut saja bersama 15 petugas berbaju preman. Rupanya itu rumah Raffi Ahmad. Begitu Masum
masuk, Raffi tampak santai duduk-duduk di ruangan dalam. Kata Sumirat, kegiatan Raffi sudah
dipantau petugas sejak dari Kafe Parc Lounge itu.

Polisi lalu memeriksa rumah Raffi, kemudian Raffi mempersilahkan para polisi
menggeledah rumahnya, ada 17 orang di rumah itu. Empat di lantai dua, sepuluh di ruang tamu,
dan tiga laki-laki teman Raffi yang malam itu baru datang dari Jawa Timur sedang tertidur.
Begitu pula Mira, asisten Raffi, yang juga sedang tertidur di kamar atas. Saat polisi menggeledah
rumah itu, artis Zaskia Sungkar dan suaminya, Irwansyah, justru datang bertamu. Zaskia dengan
percaya diri masuk ke dalam rumah. Dia hendak mencari sopir Raffi.

Ketika masuk ke garasi Raffi yang gelap, lalu, ada yang berbisik kepada Zazkia, Jangan
masuk dulu mbak sampai aku masuk kata Zaskia. Namun terlambat. Zaskia dan Irwansyah,
yang katanya subuh itu hendak berbicara bisnis dengan Raffi, pun ditangkap petugas BNN. Bagi
petugas, ada temuan penting hasil sergapan fajar itu. Mereka menyita dua linting ganja, dan 14
kapsul, yang belakangan diketahui di dalamnya terkandung zat turunan katinona. Itu zat
termasuk Golongan I menurut Undang-undang Nomor 35 tentang Narkotika, namun turunannya

3
belum. Ada pula beberapa botol minuman bersoda yang juga termasuk Golongan I di UU
Narkotika.

Kapsul-kapsul itu ditemukan di laci ruang makan. Saya lihat bentuk botol seperti botol
vitamin. Ada bacaannya Vit On, ujar Masum. Sedangkan dua linting ganja, ditemukan di kamar
Raffi di lantai satu. Saat itu Raffi sempat mengelak. Itu bukan punya saya, katanya. Pagi itu,
polisi mengangkut 17 orang, beserta aneka bukti itu, ke markas BNN di Cawang, Jakarta Timur.
Polisi pun menjerat Raffi, enam temannya dan sopir pribadi Raffi. "Yang pakai cathinone ini ada
semuanya tujuh orang, 2 ganja cathinone, 2 ekstasi cathinone, dan 1 ganja ekstasi cathinone,"
ujar Sumirat. Ke delapan orang tersebut terjerat sejumlah pasal di Undang-undang Narkotika.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Raffi Ahmad akan ditahan selama 20 hari di rumah tahanan
BNN, Cawang. "Telah diterbitkan surat penahanan selama 20 hari terhitung hari ini, ujar
Sumirat, Jumat 1 Februari 2013.

Raffi Ahmad telah ditetapkan sebagai tersangka. Adapun pasal-pasal yang dikenakan
untuknya adalah 111 ayat (1), 112 ayat (1), 132, 133, Juncto 127 Undang-undang Nomor 35,
Tahun 2009 tentang Narkotika. Namun terlihat tidak adil rasanya ketika mengetahui Raffi
ternyata tidak ditahan, hukum itu tidak pandang bulu, seharusnya Raffi ditahan agar hukum dapat
ditegakkan dengan benar. Jika seperti ini masyarakat akan mempunyai stigma yang buruk kepada
para penegak hukum di Indonesia ini.

III. KESIMPULAN

Bercermin pada kasus Raffi terlihat jelas keadilan tidak dapat ditegakkan kepada orang
yang terbukti bersalah dan melanggar undang undang yang telah ada, aparatur penegak hukum
dalam menangkap seseorang yang melakukan perbuatan melanggar hukum dalam prakteknya
cukup baik, namun pada proses penahanan terlihat sekali lemahnya penegak hukum kita yang
bisa disuap oleh orang yang mempunyai uang banyak, dengan kata lain hukum dapat dibeli,
seharusnya dalam menangani perkara para penegak hukum bisa selektif dan tidak pandang bulu.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya asas equality before the law atau semua orang
sama di depan mata hukum. Seharusnya tindakan yang bertentangan dengan hukum harus
diproses demi memberikan efek jera kepada pelaku hukum.

4
DAFTAR PUSTAKA

Sabtu, 10 Desember 2016

Engkas Kasmadin, 2013 Pasal yang Menjerat Raffi Ahmad / diunduh 10 12 2016

http://www.engkas.com/2013/02/pasal-yang-menjerat-raffi-ahmad-dan.html

Ray ferdian, 2013 Kronologis Penangkapan Kasus Narkoba / diunduh 10 12 2016

http://raytkj.blogspot.com/2013/01/kronologi-penangkapan-kasus-narkoba.html

Hery Bastyani, 2013 Analisis Kasus Raffi Ahmad / diunduh 10 12 2016

http://herybastyani.blogspot.co.id/2013/06/analisis-kasus-raffi-ahmad.html