Anda di halaman 1dari 9

TUGAS EVALUASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

Menskor Nilai Afektif dan Memasukkannya ke Nilai Akhir

Disusun Oleh

Afif Risti Rachmah (K4310002)

Desi Purnama Putri (K43100)

Fitriana Dwi Utari (K4310031)

Linasif Sari Dewi

Wahyu Fitri Lestari K4310088

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2013
Bagaimana menskor nilai afektif dan memasukkannya ke nilai akhir??

Jawab:
Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar
seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai
keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran
diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua
pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai
kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk
membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial,
dan sebagainya. Untuk itu semua dalam merancang program pembelajaran, satuan pendidikan
harus memperhatikan ranah afektif.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh
kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif
terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat
mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini,
namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk
meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang
optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta
didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.
Langkah-Langkah Menyusun Instrumen Penilaian Afektif
Dalam kaitan untuk mengetahui sejauh mana sikap dan minat siswa terhadap suatu
mata pelajaran atau materi pelajaran, yang kedua termasuk bagian penting dari ranah afektif,
maka guru perlu menyusun instrumen penilaian afektif. Untuk menyusun instrumen penilaian
afektif, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pemilihan ranah afektif yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap
suatu materi pelajaran.
2. Penentuan indikator apa yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana
sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran
3. Beberapa contoh indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui
bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu: (1) persentase
kehadiran atau ketidakhadiran di kelas; (2) aktivitas siswa selama kegiatan
pembelajaran berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam diskusi,
aktif memperhatikan penjelasan guru, dsb.; (3) penyelesaian tugas-tugas belajar yang
diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau tugas lainnya; (4) kerapian buku
catatan dan kelengkapan bahan belajar lainnya terkait materi pelajaran tersebut.
4. Penentuan jenis skala yang digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti
ada 5 rentang skala, yaitu: (1) tidak berminat; (2) kurang berminat; (3) netral; (4)
berminat; dan (5) sangat berminat.
5. Penulisan draft instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner)
berdasarkan indikator dan skala yang telah ditentukan.
6. Penelaahan dan meminta masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen
penilaian ranah afektif yang telah dibuat.
7. Revisi instrumen penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat,
bila memang diperlukan
8. Persiapan kuisioner untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang
diberikan siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
9. Pemberian skor inventori kepada siswa
10. Analisis hasil inventori minat siswa terhadap materi pelajaran

Pemberian skor dalam penilaian afektif


Teknik penskoran untuk penilaian ranah afektif dapat dilakukan secara sederhana.
Contoh, pada instrumen penilaian minat siswa terhadap suatu materi pelajaran terdapat 10 item
(berarti ada 10 indikator), maka bila skala yang digunakan adalah skala Likert (1 sampai 5),
berarti skor terendah yang mungkin diperoleh seorang siswa adalah 10 (dari 10 item x 1) dan
skor paling tinggiyang mungkin diperoleh siswa adalah 50 (dari 10 item x 5). Maka kita dapat
menetukan median-nya, yaitu (10 + 50)/2 atau sama dengan 30. Bila kita membaginya menjadi
4 kategori, maka skor 10 -20 termasuk tidak berminat; skor 21 30 termasuk kurang berminat;
skor 32 40 berminat, dan skor 41 50 termasuk kategori sangat berminat.

Skala Instrumen Penilaian Afektif


Skala yang sering digunakan dalam instrumen penelilaian afektif adalah Skala
Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran sejarah
7 6 5 4 3 2 1
1. Saya senang belajar Sejarah
2. Pelajaran sejarah bermanfaat
3. Saya berusaha hadir tiap ada jam
pelajaran sejarah
4. Saya berusaha memiliki buku pelajaran
Sejarah
5. Pelajaran sejarah membosankan
Dst

Contoh skala Likert: Sikap terhadap pelajaran matematika


1 Pelajaran matematika bermanfaat SS S TS STS
2 Pelajaran matematika sulit SS S TS STS
3 Tidak semua harus belajar matematika SS S TS STS
4 Pelajaran matematika harus dibuat mudah SS S TS STS
5 Sekolah saya menyenangkan SS S TS STS

Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
Contoh skala beda Semantik:
Pelajaran ekonomi

a B c d e f g
Menyenangkan Membosankan
Sulit Mudah
Bermanfaat Sia-sia
Menantang Menjemukan
Banyak Sedikit
Contoh Instrumen Penilaian Afektif
Berikut ini diberikan contoh instrumen penilaian sikap siswa terhadap materi
pelajaran evolusi pada mata pelajaran IPA di kelas IX
Kata Kerja
Operasional untuk Ranah Afektif
Dalam penyusunan instrumen penilaian afektif, kita harus menggunakan kata
kerja operasional dalam indikatornya. Ini dilakukan (sama seperti instrumen penilaian
kognitif dan psikomotor) agar indikator dapat diamati / terukur. Menurut taksonomi
Bloom, ada 5 tingkatan ranah afektif yaitu: (1) A1 menerima; (2) A2 menanggapi; (3)
A3- menilai; (4) A4 mengelola; dan (5) A5 menghayati. Berikut ini disajikan contoh-
contoh kata kerja operasional untuk kelima tingkatan dalam ranah afektif.

A1 Menerima
Contoh kata kerja operasional:

Memilih

Mempertanyakan

Mengikuti

Memberi

Mematuhi

Meminati
menganut

A2 menanggapi
Contoh kata kerja operasional:

Menjawab

Membantu

Mengajukan

Mengkompromikan

Menyenangi

Menyambut

Mendukung

Menyetujui

Menampilkan

Melaporkan

Memilih

Memilah

Mengatakan

Menolak

A3 menilai
Contoh kata kerja operasional:

Mengasumsikan

Meyakini

Melengkapi

Meyakinkan

Memperjelas

Memprakarsai

Mengimani
Mengundang

Menggabungkan

Memperjelas

Mengusulkan

Menyumbang

A4 mengelola
Contoh kata kerja operasional:

Menganut

Mengubah

Menata

Mengklasifikasikan

Mengkombinasikan

Mempertahankan

Membangun

Memadukan

Mengelola

Menegosiasikan

Merembukkan

A4 menghayati
Contoh kata kerja operasional:

Mengubah perilaku

Berakhlak mulia

Mempengaruhi

Mendengarkan

Mengkualifikasi

Melayani
Menunjukkan

Membuktikan

Memecahkan

PENSKORAN DAN KONVERSI NILAI


PENSKORAN DAN KONVERSI NILAI HASIL PENGUKURAN ASPEK AFEKTIF

Jika suatu instrumen Afektif memiliki 10 Aspek, skor maksimal tiap aspek 3 dan
skor minimal 1, maka skor maksimal yang dapat dicapai oleh peserta didik adalah 10 x 3
= 30 dan skor minimal adalah 10 x 1 = 10. Selanjutnya skor yang diperoleh dihitung
nilainya seperti contoh di bawah ini;
Skor Perolehan
------------------- X 100 = N
Skor Maksimal

30

Misal Ali Skornya 25, maka nilainya 25 X 100 = 83

Sehingga dari hasil nilai diatas dapat dibuat Rentang Nilai, Kriteria Perilaku dan
Pengukuran Akhlak Mulia dan Kepribadian (Aspek Afektif) sbb. ;

No
Rentang Nilai
Kriteria Perilaku
Mengukur Akhlak Mulia dan Kepribadian
1
80 100
Positif
Sangat Baik (SB)
2
66 79
Netral
Baik (B)
3
33 65
Negatif
Kurang Baik (KB)
Jadi Hasil Nilai Ali = 83, termasuk Kriteria Perilaku = Positif,
Akhlak Mulia dan Kepribadiannya = Sangat Baik ( SB )

Sumber:

Syaikhu, Akhmad. 2010. PENSKORAN DAN KONVERSI NILAI diakses dari


http://agpaii.blogspot.com/2010/04/penskoran-dan-konversi-nilai.html

Faiq, Muhammad.2013. Langkah-Langkah Menyusun dan Contoh Instrumen Penilaian


Afektif

diakses dari http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/01/penilaian-afektif.html