Anda di halaman 1dari 48

BAB II

KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA, EKONOMI, KEADAAN


LINGKUNGAN, KEADAAN PERILAKU DAN DERAJAT
KESEHATAN PROVINSI SUMATERA UTARA

2.1 Lokasi dan Keadaan Geografis

Provinsi Sumatera Utara berada dibagian barat Indonesia, terletak pada


garis 10 40 Lintang Utara, dan 980 1000 Bujur Timur. Provinsi ini berbatasan
dengan daerah perairan dan laut serta dua provinsi lain yaitu; sebelah Utara
perbatasan dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), sebelah Timur
dengan Negara Malaysia di selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan
Provinsi Riau dan Sumatera Barat, dan di sebelah Barat berbatasan dengan
Samudera Hindia.
Luas daratan Provinsi Sumatera Utara adalah 72.981,23 km2 sebagian
besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil di Pulau Nias, pulau-
pulau Batu, serta beberapa pulau kecil baik dibagian barat maupun bagian timur
pantai Pulau Sumatera. Berdasarkan luas daerah menurut kabupaten/kota di
Sumatera Utara, luas daerah terbesar adalah Kabupaten Langkat dengan luas
6.262,00 km2 atau sekitar 8,58% dari total luas Sumatera Utara, diikuti kabupaten
Mandailing Natal dengan luas 6.134,00 km2 atau sekitar 8,40% kemudian
Kabupaten Tapanuli Selatan dengan luas 6.030,47 km2 atau sekitar 8,26%.
Sedangkan luas daerah terkecil adalah Kota Tebing Tinggi dengan luas 31,00 km2
atau 0,04% dari total luas wilayah Sumatera Utara. Berdasarkan kondisi letak dan
kondisi alam, Sumatera Utara dibagi dalam 3 (tiga) kelompok wilayah yaitu
Pantai Barat, Dataran Tinggi dan Pantai Timur.

Provinsi Sumatera Utara tergolong ke dalam daerah beriklim tropis,


kisaran suhu antara 150C 330C, mempunyai musim kemarau (Januari s/d Juli)
dan musim hujan (Agustus s/d Desember), diantara kedua musim itu diselingi
oleh musim pancaroba.

Secara administratif, Sumatera Utara pada tahun 2015 memiliki 33


Kab/Kota yaitu 8 kota dan 25 Kabupaten dengan total kecamatan sebanyak 440

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 7


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
kecamatan serta 6.112 desa/kelurahan, dengan letak ketinggian dari permukaan
laut untuk masing masing kabupaten/kota adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1.1 Ketinggian Kabupaten/Kota dari Permukaan Laut di
Sumatera Utara

KETINGGIAN DARI
NO NAMA KABUPATEN/KOTA
PERMUKAAN LAUT

1 Gunung Sitoli 0 - 600 m

2 Padang Sidempuan 260 - 1.100 m

3 Binjai 0 - 28 m

4 Medan 2,5 - 37,5 m

5 Tebing Tinggi 26 - 34 m

6 Pematang Siantar 400 - 500 m

7 Tanjung Balai 0 - 3 m

8 Sibolga 0 - 50 m

9 Nias Barat 0 - 800 m

10 Nias Utara 0 - 478 m

11 Labuhan Batu Utara 0 - 700 m

12 Labuhan Batu Selatan 0 - 500 m

13 Padang Lawas 0 - 700 m

14 Padang Lawas Utara 0 - 1.915 m

15 Batubara 0 - 50 m

16 Serdang Bedagai 0 - 500 m

17 Samosir 904 - 2.157 m

18 Pakpak Bharat 700 - 1.500 m

19 Humbang Hasundutan 330 - 2.075 m

20 Nias Selatan 0 - 800 m

21 Langkat 0 - 1.200 m

22 Deli Serdang 0 - 500 m

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 8


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
23 Karo 120 - 1.420 m

24 Dairi 400 - 1.600 m

25 Simalungun 0 - 369 m

26 Asahan 0 - 1.000 m

27 Labuhan Batu 0 - 700 m

28 Toba Samosir 900 - 2.200 m

29 Tapanuli Utara 150 - 1.700 m

30 Kabupaten Tapanuli Tengah 0 - 1.266 m

31 Tapanuli Selatan 0 - 1.915 m

32 Mandailing Natal 0 - 1.000 m

33 Nias 0 - 800 m

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

Tabel 2.1.2 Luas Daerah menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara

LUAS / AREA RASIO


NO NAMA KAB/KOTA
(Km2) (%)

1 Nias 1.842,51 2,52

2 Mandailing Natal 6.134,00 8,40

3 Tapanuli Selatan 6.030,47 8,26

4 Tapanuli Tengah 2.188,00 3,00

5 Tapanuli Utara 3.791,64 5,20

6 Toba Samosir 2.328,89 3,19

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 9


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
7 Labuhan Batu 2.156,02 2,95

8 Asahan 3.702,21 5,07

9 Simalungun 4.369,00 5,99

10 Dairi 1.927,80 2,64

11 Karo 2.127,00 2,91

12 Deli Serdang 2.241,68 3,07

13 Langkat 6.262,00 8,58

14 Nias Selatan 1.825,20 2,50

15 Humbang Hasundutan 2.335,33 3,20

16 Pakpak Bharat 1.218,30 1,67

17 Samosir 2.069,05 2,84

18 Serdang Bedagai 1.900,22 2,60

19 Batu Bara 922,20 1,26

20 Padang Lawas Utara 3.918,05 5,37

21 Padang Lawas 3.892,74 5,33

22 Labuhan Batu Selatan 3.596,00 4,93

23 Labuhan Batu Utara 3.570,98 4,89

24 Nias Utara 1.202,78 1,65

25 Nias Barat 473,73 0,65

71 Sibolga 41,31 0,06

72 Tanjung Balai 107,83 0,15

73 Pematang Siantar 55,66 0,08

74 Tebing Tinggi 31,00 0,04

75 Medan 265,00 0,36

76 Binjai 59,19 0,08

77 Padang Sidempuan 114,66 0,16

78 Gunung Sitoli 280,78 0,38

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 10


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumatera Utara 72.981,23 100,00

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

Jarak ibukota Provinsi ke ibukota kabupaten / kota adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1.3 Jarak dari Ibukota Kabupaten/Kota ke Ibukota Provinsi


Sumatera Utara

JARAK KE
IBU KOTA
NO NAMA KAB / KOTA IBUKOTA
KAB/KOTA
PROVINSI (KM)

1 Nias Gunung Sitoli 349 + 80 mile

2 Mandailing Natal Penyabungan 468

3 Tapanuli Selatan Sipirok 360

4 Tapanuli Tengah Pandan 364

5 Tapanuli Utara Tarutung 283

6 Toba Samosir Balige 230

7 Labuhanbatu Rantau Prapat 288

8 Asahan Kisaran 160

9 Simalungun Raya 155

10 Dairi Sidikalang 153

11 Karo Kabanjahe 78

12 Deli Serdang Lubuk Pakam 29

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 11


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
13 Langkat Stabat 43

14 Nias Selatan Teluk Dalam 456 + 80 mile

15 Humbang Hasundutan Dolok Sanggul 230

16 Pakpak Bharat Salak 198

17 Samosir Pangururan 230

18 Serdang Bedagai Sei Rampah 61

19 Batu Bara Limapuluh 120

20 Padang Lawas Utara Gunung Tua 428

21 Padang Lawas Sibuhuan 495

22 Labuhan Batu Selatan Kota Pinang 341

23 Labuhan Batu Utara Aek Kanopan 220

24 Nias Utara Lotu 389 + 80 mile

25 Nias Barat Sirombu 415 + 80 mile

71 Sibolga Sibolga 349

72 Tanjung Balai Tanjung Balai 186

73 Pematang Siantar Pematang Siantar 128

74 Tebing Tinggi Tebing Tinggi 81

75 Medan Medan 0

76 Binjai Binjai 22

77 Padang Sidempuan Padang Sidempuan 395

78 Gunung Sitoli Gunung Sitoli 349 + 80 mile

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

2.2 Kependudukan

Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat yang terbesar jumlah


penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Berdasarkan Data dari BPS Provinsi Sumatera Utara, jumlah penduduk Sumatera

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 12


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Utara tahun 2015 tercatat sebesar 13.937.797 jiwa, dengan tingkat kepadatan
penduduk sebesar 191 per km2 .

Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat adalah tiga
Kabupaten/Kota dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak
yang masing-masing berjumlah 2.117.224 orang (16,16%), 1.807.173 orang
(13,79%) dan 976.582 orang (7,45%). Sedangkan Kabupaten Pakpak Barat
merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk paling sedikit yang berjumlah
40.884 orang (0,31%). Dengan luas wilayah Provinsi Sumatera Utara sekitar
71.680,68 km2 yang didiami oleh 13.103.596 orang maka rata-rata tingkat
kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak 183 orang/km2.
Kabupaten/Kota yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota
Medan yakni sebanyak 7.987 orang/km2 sedangkan yang paling rendah adalah
Kabupaten Pakpak Barat yakni sebanyak 34 orang/km2. (Profil Kesehatan
Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011).

Jumlah penduduk laki-laki di Sumatera Utara lebih sedikit dibandingkan


dengan penduduk perempuan. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 6.954.552
jiwa dan perempuan sebanyak 6.983.245 jiwa, dengan sex ratio sebesar 99,59.
Bila dilihat berdasarkan rata-rata banyaknya anggota keluarga di Sumatera Utara
pada tahun 2015 adalah sebesar 4,28 (yang berarti rata-rata pada setiap keluarga
terdiri dari 4-5 anggota keluarga). Kabupaten yang rata-rata jumlah anggota
keluarganya paling banyak adalah Kabupaten Nias Barat yaitu 5,07 dan yang
paling sedikit adalah Kabupaten Karo yaitu 3,71 orang.

Berikut ini akan disajikan perkembangan penduduk Provinsi Sumatera Utara


tahun 1961 s/d 2015

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 13


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.2.1 Jumlah Penduduk Provinsi Sumatera Utara Tahun 1961 - 2015

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

Grafik 2.2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis


Kelamin Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

Komposisi penduduk Sumatera Utara menurut kelompok umur,


menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 32,03%,
yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 63,95% dan yang berusia tua (>65
tahun) sebesar 4,02%. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan
(Dependency Ratio) penduduk Sumatera Utara tahun 2015 sebesar 56,37%.
Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,25% bila dibandingkan dengan tahun
2014 sebesar 56,62%.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 14


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Permasalahan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi
masyarakat. Sejak terjadinya krisis moneter jumlah penduduk miskin meningkat
secara drastis mencapai 30,77% tahun 1998. Walaupun angka ini sudah dapat
diturunkan secara signifikan sejak tahun 1999, namun data terakhir menunjukkan
bahwa jumlah penduduk miskin tahun 2012 mengalami penurunan dari tahun
2011 yaitu 1.490.900 jiwa atau 11,31% menjadi 1.378.400 jiwa (10,41%)
sedangkan pada tahun 2013 jumlah penduduk miskin sebesar 1.416.400 (10,39%),
serta pada September 2015 diketahui bahwa jumlah masyarakat miskin sebesar
1,51 Juta (10,79%).

2.3 Sosial Budaya

2.3.1 Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam


mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Pendidikan berkontribusi
terhadap perubahan perilaku masyarakat. Pendidikan menjadi pelopor utama
dalam rangka penyiapan sumber daya manusia dan merupakan salah satu aspek
pembangunan yang merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan tujuan
pembangunan nasional. Untuk peningkatan peran pendidikan dalam
pembangunan, maka kualitas pendidikan harus ditingkatkan salah satunya dengan
meningkatkan rata-rata lama sekolah. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus (predisposing) yang berperan
dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat.

Peningkatan kualitas dan partisipasi sekolah penduduk tentunya harus


diimbangi dengan penyediaan sarana fisik pendidikan maupun tenaga guru yang
memadai. Di tingkat pendidikan dasar, jumlah sekolah dasar (SD)/Madrasah
Ibtidiyah pada tahun 2015 ada sebanyak 9.524 unit dengan jumlah guru 89.280
orang, murid sebanyak 1.785.562 orang sehingga ratio murid SD terhadap sekolah
sebesar 187 murid/sekolah.

Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)/Madrasah Tsnawiyah ada


sebanyak 2.424 sekolah dengan jumlah guru 38.637 orang dan jumlah murid ada
sebanyak 657.676 orang, dan ratio murid SLTP terhadap sekolah sebesar 271 per

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 15


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
sekolah. Pada tahun yang sama jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
(SLTA)/Madrasah Aliyah ada sebanyak 1.029 sekolah dengan jumlah guru 19.566
orang dan jumlah murid 344.668 dengan ratio murid terhadap sekolah sebesar 334
murid persekolah. Jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada sebanyak 934
unit dengan jumlah guru 16.283 orang dan jumlah murid 278.820 orang, dengan
ratio murid terhadap sekolah sebesar 298 murid/sekolah. Sedangkan jumlah
perguruan tinggi swasta pada tahun 2015 adalah sebanyak 264 PTS, yang terdiri
dari 33 universitas, 96 sekolah tinggi, 4 institut, 115 akademi dan 16 politeknik
(SUDA 2016) dengan jumlah dosen 11.396 orang (dosen tetap & tdk tetap) dengan
jumlah mahasiswa sebanyak 231.938 orang. Ratio mahasiswa terhadap dosen
sebesar 20.

2.3.2 Agama

Sesuai dengan falsafah negara pelayanan kehidupan beragama dan


kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa senantiasa dikembangkan dan
ditingkatkan untuk membina kehidupan masyarakat dan mengatasi berbagai
masalah sosial budaya yang mungkin menghambat kemajuan bangsa. Berdasarkan
data BPS Sumatera Utara, sarana ibadah umat beragama juga mengalami kenaikan
setiap tahun. Pada tahun 2015, jumlah Mesjid di Sumatera Utara terdapat
sebanyak 10.573 unit, Langgar/Musollah 6.610 unit, Gereja Protestan 12.371 unit,
Gereja Katolik 1.930 unit, Kuil 73 unit dan Wihara 267 unit. (SUDA 2016).

2.3.3 Ketenagakerjaan

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) penduduk umur 15 tahun ke


atas mengalami fluktuasi. Pada tahun 2011 TPAK sebesar 72,09%, kemudian
menurun menjadi 70,67% pada tahun 2013. Pada tahun 2015 kembali terjadi
penurunan menjadi 67,28%.

Pada tahun 2015 di Sumatera Utara angkatan kerja berumur 15 tahun keatas
sebagian besar adalah tamatan SMA (37,59%). Selanjutnya angkatan kerja yang
berpendidikan setingkat SD kebawah sebesar 29,53% serta setingkat SMP sebesar
21,87% sedangkan sisanya sebesar 11,02% berpendidikan diatas SMA (SUDA
2016), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 16


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.3.3.1 Persentase Angkatan Kerja 15 Tahun keatas berdasarkan
Pendidikan Tertinggi Yang ditamatkan di Provinsi Sumatera
Utara Tahun 2015

Sumber : BPS Sumatera Utara; SUDA 2016

Jika dilihat dari status pekerjaan utama, lebih sepertiga (36,81%)


penduduk berusia 15 tahun ke atas bekerja sebagai buruh atau karyawan, sebesar
18,65% adalah penduduk yang bekerja sendiri dan sebesar 17,27% sebagai
pekerja keluarga. Hanya 3,05% penduduk Sumatera Utara yang menjadi
pengusaha dengan mempekerjakan buruh tetap/karyawan.

Jumlah penduduk sampai dengan Agustus 2015 yang merupakan angkatan


kerja sebanyak 6,39 juta jiwa, yang terdiri dari 5,96 juta jiwa terkategori bekerja
dan sebesar 428,79 ribu jiwa terkategori pengangguran. Berdasarkan lapangan
usaha, penduduk Sumatera Utara yang terbanyak adalah di sektor pertanian (tdd;
perkebunan, perikanan dan peternakan) yaitu 41,30%, kemudian diikuti di sektor
perdagangan, hotel dan restoran sebesar 21,33%, jasa (perorangan, perusahaan
dan pemerintahan) sebesar 15,46%, bekerja di sektor industri hanya sekitar
7,55%, selebihnya bekerja disektor Penggalian dan Pertambangan, sektor listrik,

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 17


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
gas dan air minum, bangunan, angkutan dan komunikasi dan sektor keuangan
(SUDA, 2016).

2.4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil


pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan
sebagainya. IPM dibentuk oleh 3 (tiga dimensi dasar yaitu, umur panjang dan hidup
sehat, pengetahuan dan standar hidup layak. Berikut ini akan disajikan Komponen
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara
tahun 2015.

Tabel 2.4.1 Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menurut


Kabupaten/Kota Tahun 2015

Rata- Pengelu
Harapan
Angka Rata aran per
NAMA Lama
No Harapan Lama Kapita IPM
KAB/KOTA Sekolah
Hidup Sekolah
(Thn) (Rp.000)
(Thn)

1 Nias 68,97 11,77 4,76 6.234 58,85

2 Mandailing Natal 61,58 12,77 7,63 9.096 63,99

3 Tapanuli Selatan 63,74 13,06 8,27 10.623 67,63

4 Tapanuli Tengah 66,59 12,40 8,02 9.555 67,06

5 Tapanuli Utara 67,55 13,19 9,31 11.079 71,32

6 Toba Samosir 69,14 13,18 10,08 11.535 73,40

7 Labuhan Batu 69,36 12,57 8,75 10.356 70,23

8 Asahan 67,37 12,49 8,32 10.067 68,40

9 Simalungun 70,34 12,69 8,80 10.728 71,24

10 Dairi 67,78 12,80 8,69 9.708 69,00

11 Karo 70,62 12,22 9,50 11.800 72,69

12 Deli Serdang 71,00 12,52 9,48 11.359 72,79

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 18


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
13 Langkat 67,63 12,70 7,92 10.364 68.53

14 Nias Selatan 67,66 11,96 4,64 6.454 58,74

Humbang
15 68,10 13,15 8,90 6.889 66,03
Hasundutan

16 Pakpak Bharat 64,85 13,80 8,45 7.496 65,53

17 Samosir 70,26 13,41 8,84 7.698 68,43

18 Serdang Bedagai 67,47 12,31 8,08 10.110 68,01

19 Batu Bara 65,80 11,96 7,74 9.692 66,02

Padang Lawas
20 66,50 11,87 8,91 9.363 67,35
Utara

21 Padang Lawas 66,31 12,91 8,40 7.955 65,99

Labuhan Batu
22 68,09 12,73 8,68 10.319 69,67
Selatan

Labuhan Batu
23 68,70 12,12 8,31 11.201 69,69
Utara

24 Nias Utara 68,59 12,40 6,06 5.627 59,88

25 Nias Barat 67,94 12,33 5,74 5.207 58,25

26 Sibolga 67,70 13,10 9,85 10.765 71,64

27 Tanjung Balai 61,90 12,40 9,12 10.326 66,74

28 Pematang Siantar 72,29 13,99 10,73 11.388 76,34

29 Tebing Tinggi 70,14 12,23 10,06 11,393 72,81

30 Medan 72,28 13,97 11,00 14.191 78,87

31 Binjai 71,59 13,56 10,28 10.098 73,81

Padang
32 68,32 14,48 10,47 9.668 72,80
Sidempuan

33 Gunung Sitoli 70,29 13,65 8,18 6.742 66,41

Sumatera Utara 68,29 12,82 9,03 9.563 69,51

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 19


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Tabel 2.4.2 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2011 - 2015

Indeks Pembangunan Manusia ( IPM )


No NAMA KAB/KOTA
2011 2012 2013 2014 2015

1 Nias 55,55 56,50 57,43 57,98 58,85

2 Mandailing Natal 61,60 62,26 62,91 63,42 63,99

3 Tapanuli Selatan 65,14 65,65 66,75 67,22 67,63

4 Tapanuli Tengah 65,16 65,43 65,64 66,16 67,06

5 Tapanuli Utara 69,24 69,83 70,50 70,70 71,32

6 Toba Samosir 71,39 71,89 72,36 72,36 73,40

7 Labuhan Batu 67,88 68,64 69,45 70,06 70,23

8 Asahan 65,87 66,23 66,58 67,51 68,40

9 Simalungun 69,03 69,79 70,28 70,89 71,24

10 Dairi 66,62 66,95 67,15 67,91 69,00

11 Karo 71,12 71,40 71,62 71,84 72,69

12 Deli Serdang 70,25 70,88 71,39 71,98 72,79

13 Langkat 65,77 66,18 67,17 68,00 68.53

14 Nias Selatan 55,50 55,97 56,78 57,78 58,74

15 Humbang Hasundutan 64,06 64,54 64,92 65,59 66,03

16 Pakpak Bharat 63,11 63,88 64,73 65,06 65,53

17 Samosir 65,81 66,31 66,80 67,80 68,43

18 Serdang Bedagai 65,28 66,14 67,11 67,78 68,01

19 Batu Bara 63,95 64,45 65,06 65,50 66,02

20 Padang Lawas Utara 65,22 65,65 66,13 66,50 67,35

21 Padang Lawas 63,28 64,05 64,62 65,50 65,99

22 Labuhan Batu Selatan 65,77 67,06 67,78 68,59 69,67

23 Labuhan Batu Utara 67,37 67,84 68,28 69,15 69,69

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 20


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
24 Nias Utara 57,53 57,87 58,29 59,18 59,88

25 Nias Barat 55,43 56,20 56,20 56,58 58,25

26 Sibolga 69,17 69,71 70,45 71,01 71,64

27 Tanjung Balai 64,13 64,89 65,40 66,05 66,74

28 Pematang Siantar 73,61 74,51 75,05 75,83 76,34

29 Tebing Tinggi 70,84 71,34 71,85 72,13 72,81

30 Medan 77,54 77,78 78,00 78,26 78,87

31 Binjai 70,85 71,54 72,02 72,55 73,81

32 Padang Sidempuan 71,08 71,38 71,68 71,88 72,80

33 Gunung Sitoli 63,71 64,34 65,25 65,91 66,41

Sumatera Utara 67,34 67,74 68,36 68,87 69,51

Sumber : SUDA-BPS Sumatera Utara 2016

Dari tabel diatas diketahui bahwa IPM yang tertinggi di Kabupaten/Kota


secara berturut adalah Medan sebesar 78,87, Pematang Siantar sebesar 76,34 dan
Binjai sebesar 73,81. Sedangkan 3 (tiga) Kabupaten/Kota dengan IPM terendah
yaitu; Nias Barat sebesar 58,25, Nias Selatan sebesar 59,74 dan Nias sebesar 58,85.

2.5 Keadaan Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu variabel yang sering mendapat


perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat, variabel lainnya
adalah faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik. Keempat variable di atas
dapat menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat. Untuk
menggambarkan keadaan lingkungan, berikut ini akan disajikan indikator-
indikator yaitu Persentase Rumah Sehat, persentase rumah tangga memiliki akses
terhadap air minum, persentase rumah tangga menurut sumber air minum,
persentase rumah tangga yang memiliki sarana penampungan akhir
kotoran/tinja/BAB.

2.5.1 Rumah Sehat

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 21


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan, yaitu memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan
sampah, sarana pembuangan limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian
rumah yang sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah.

Ukuran rumah yang relatif kecil dan berdesak-desakan dapat


mempengaruhi tumbuh kembang mental atau jiwa anak-anak. Anak-anak
memerlukan lingkungan bebas, tempat bermain luas yang mampu mendukung
daya kreativitasnya. Dengan kata lain, rumah bila terlampau padat disamping
merupakan media yang cocok untuk terjadinya penularan penyakit khususnya
penyakit saluran nafas juga dapat mempengaruhi perkembangan anak.

Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi jumlah anggota rumah


tangga dengan luas lantai rumah dalam meter persegi. Hasil perhitungan
dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat, yaitu memenuhi
syarat bila 8 m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila
<8m2/kapita (padat).

Pada tahun 2014, dari 3.518.531 unit rumah, yang sudah memenuhi syarat
kesehatan sebanyak 2.115.666 (60,13%). Pada tahun 2015, ada sebanyak 555.326
rumah yang dibina (39,65%), dari jumlah tersebut yang memenuhi syarat
kesehatan ada sebanyak 295.798 rumah (53,275%), sehingga total rumah yang
memenuhi syarat sampai dengan akhir 2015 (termasuk yg memenuhi syarat tahun
2014) adalah sebesar 2.411.464 unit (68,54%) (Lampiran Tabel 58).

2.5.2 Persentase Rumah Tangga memiliki akses terhadap air minum

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015 yang


diterbitkan oleh BPS Sumatera Utara, diketahui persentase terbesar rumah tangga
berdasarkan sumber air minum adalah air kemasan (32,92%). Disisi lain masih
ada sebesar 5,34 % penduduk di Sumatera Utara yang sumber air minumnya dari
sungai maupun air hujan. Peningkatan akses rumah tangga terhadap sumber air
minum akan berdampak pada penurunan kasus-kasus penyakit infeksi penularan
melalui air (water borned diseases), yang juga akan mempengaruhi peningkatan
status kesehatan masyarakat.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 22


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Berikut ini akan disajikan persentase rumah tangga menurut sumber air
minum berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2015.

Tabel 2.5.2.1. Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum


berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun 2015

Lainnya
NAMA Air Mata
No Ledeng Pompa Sumur (Sungai,
KAB/KOTA Kemasan Air
hujan)

1 Nias 2,83 0,51 0,80 60,87 31,44 3,56

2 Mandailing Natal 12,75 1,09 2,17 45,17 30,44 8,39

3 Tapanuli Selatan 8,34 0,54 2,23 25,36 62,55 0,97

4 Tapanuli Tengah 13,32 10,05 3,78 23,88 42,01 6,97

5 Tapanuli Utara 2,59 11,78 23,84 14,56 40,38 6,86

6 Toba Samosir 15,22 12,28 28,19 13,78 25,50 5,03

7 Labuhan Batu 31,12 1,90 13,06 26,44 1,24 26,24

8 Asahan 37,27 5,73 43,65 10,61 0,26 2,49

9 Simalungun 7,05 26,75 44,73 3,83 16,31 1,33

10 Dairi 7,89 14,10 7,98 6,66 38,85 24,51

11 Karo 8,63 31,23 18,26 2,97 37,97 0,94

12 Deli Serdang 58,58 7,80 9,59 20,15 1,99 1,89

13 Langkat 28,59 6,16 32,18 31,06 1,00 1,01

14 Nias Selatan 4,76 1,06 1,32 27,44 45,61 19,81

15 Humbang 0,94 6,91 32,84 16,14 32,00 11,17


Hasundutan

16 Pakpak Bharat 2,02 8,84 3,47 3,26 58,96 23,45

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 23


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
17 Samosir 4,38 9,61 8,49 3,30 30,27 43,95

18 Serdang Bedagai 28,12 0,44 56,67 11,85 2,83 0,10

19 Batu Bara 33,76 12,01 44,70 9,18 0,08 0,28

20 Padang Lawas 17,49 0,00 4,79 55,89 8,19 13,65


Utara

21 Padang Lawas 14,04 0,00 5,43 57,17 8,26 15,09

22 Labuhan Batu 39,50 0,15 15,91 36,86 0,00 7,58


Selatan

23 Labuhan Batu 24,24 1,61 22,93 27,43 1,72 22,08


Utara

24 Nias Utara 3,12 2,37 0,61 42,21 28,19 23,51

25 Nias Barat 0,00 0,00 0,00 48,26 19,28 32,46

26 Sibolga 35,46 48,38 0,25 0,82 15,09 0,00

27 Tanjung Balai 45,61 49,35 0,69 0,21 0,00 4,13

28 Pematang Siantar 17,72 68,95 10,40 0,84 1,94 0,14

29 Tebing Tinggi 51,78 8,37 35,62 4,24 0,00 0,00

30 Medan 60,45 33,72 3,32 2,51 0,00 0,00

31 Binjai 52,59 6,40 3,12 37,64 0,25 0,00

32 Padang 28,74 21,48 1,66 41,0 7,06 0,00


Sidempuan 6

33 Gunung Sitoli 40,07 9,40 3,73 18,36 23,95 4,49

Sumatera Utara 32,92 14,34 17,98 18,28 11,13 5,34

Sumber : BPS Sumatera Utara 2016 Susenas 2015

Bila dibandingkan dengan hasil rekapitulasi profil kesehatan


kabupaten/kota tahun 2015 di Provinsi Sumatera Utara diketahui bahwa sumur
gali terlindungi merupakan jenis sumber air minum yang paling banyak dimiliki
oleh masyarakat di Sumatera Utara yaitu sebanyak 910.929 buah dan yang
memenuhi syarat kesehatan sebanyak 625.544 buah (68,67%). Sedangkan jenis
sumber air minum yang paling sedikit yaitu terminal air sebanyak 2.833 buah dan

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 24


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
yang memenuhi syarat kesehatan ada sebanyak 2.056 buah (72,57%). Untuk lebih
jelasnya akan disajikan jenis sumber air minum rumah tangga di Provinsi
Sumatera Utara tahun 2014 pada table berikut ini.

Tabel 2.5.2.2 Jumlah dan Jenis Sarana Air Minum Di Provinsi Sumatera
Utara Tahun 2015
JLH SARANA

JUMLAH YG
NO JENIS SARANA SARANA MEMENUHI %

SYARAT

1 Sumur Gali Terlindung 755.419 521.962 69,09

2 Sumur Gali dgn Pompa 120.723 94.082 77,93

3 Sumur Bor dengan 365.301 269.428 73,75


Pompa

4 Terminal Air 21.543 2.794 12,96

5 Mata Air Terlindung 58.118 30.202 51,96

6 Penampungan Air Hujan 89.876 52.842 58,79

7 Perpipaan 579.836 443.673 76,51

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten/Kota 2015

2.5.3 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan


Kotoran/Tinja

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015,


diketahui bahwa rumah tangga di Sumatera Utara telah menggunakan tempat
pembuangan tinja berupa tangki septik/SPAL sebesar 69,76%, lobang
tanah/pantai/tanah lapang/kebun sebesar 17,33%, kolam/sawah/sungai/danau/laut
sebesar 10,78% dan lainnya sebesar 2,13%, untuk lebih jelasnya berikut ini akan

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 25


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
disajikan persentase RT menurut tempat pembuangan tinja menurut
kabupaten/kota sebagai berikut:

Tabel 2.5.3.1 Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan


Tinja berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun 2015

Lobang
Tangki/se Kolam/
tanah/
ptik/ Sawah/
NAMA pantai/ Lain
No SPAL sungai/
KAB/KOTA tanah nya Jumlah
danau/
lapang/
laut
kebun

1 Nias 11,97 19,21 58,51 10,30 100

2 Mandailing Natal 20,84 64,11 13,24 1,81 100

3 Tapanuli Selatan 29,86 59,06 6,23 4,85 100

4 Tapanuli Tengah 35,59 38,69 17,20 8,53 100

5 Tapanuli Utara 55,40 11,29 31,18 2,13 100

6 Toba Samosir 79,38 5,04 13,45 2,13 100

7 Labuhan Batu 53,35 7,15 37,71 1,80 100

8 Asahan 79,37 4,60 15,60 0,44 100

9 Simalungun 71,92 9,76 15,99 2,34 100

10 Dairi 62,20 8,81 28,41 0,58 100

11 Karo 78,80 9,45 7,40 4,35 100

12 Deli Serdang 91,50 1,47 6,36 0,66 100

13 Langkat 62,15 4,04 33,20 0,61 100

14 Nias Selatan 13,54 13,31 64,54 8,60 100

15 Humbang 62,69 5,86 29,56 1,90 100


Hasundutan

16 Pakpak Bharat 66,17 3,48 27,10 1,25 100

17 Samosir 60,32 2,00 35,10 2,58 100

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 26


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
18 Serdang Bedagai 81,58 3,33 14,24 0,84 100

19 Batu Bara 69,45 6,65 23,04 0,86 100

20 Padang Lawas 45,76 24,46 27,72 2,06 100


Utara

21 Padang Lawas 32,92 48,61 17,71 0,76 100

22 Labuhan Batu 56,94 7,47 31,98 3,61 100


Selatan

23 Labuhan Batu 55,66 9,16 35,10 0,08 100


Utara

24 Nias Utara 19,56 17,44 58,85 4,15 100

25 Nias Barat 21,96 6,28 66,10 5,66 100

26 Sibolga 44,95 24,80 3,93 26,32 100

27 Tanjung Balai 84,79 9,69 5,14 0,38 100

28 Pematang Siantar 91,51 5,33 2,99 0,16 100

29 Tebing Tinggi 85,14 2,59 5,09 7,18 100

30 Medan 94,53 1,75 1,82 1,90 100

31 Binjai 90,91 2,74 6,09 0,26 100

32 Padang Sidempuan 43,90 44,50 11,60 0,00 100

33 Gunung Sitoli 20,82 26,03 45,00 8,15 100

Sumatera Utara 69,76 10,78 17,33 2,13 100

Sumber : BPS Sumatera Utara 2016 Susenas 2015

Sedangkan bila dilihat pada lampiran tabel no. 62 profil kesehatan


kabupaten/kota tahun 2015, jumlah penduduk dengan akses terhadap fasilitas
sanitasi yang layak menurut jenis jamban yang digunakan dapat disajikan dalam
grafik berikut ini.
Grafik 2.5.3.1 Penduduk Dengan Jenis Tempat Pembuangan Tinja (Jamban)
Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 27


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten/Kota 2015

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat


Sumatera Utara telah memiliki jamban leher angsa yaitu sebanyak 1.935.641 buah
dan 1.405.916 buah (72,63%) telah memenuhi syarat kesehatan.

2.5.4 Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan


(TPM)

Yang termasuk TTU adalah sarana pendidikan, sarana kesehatan dan hotel.
Sedangkan TPM adalah tempat pengelolaan makanan yang memenuhi syarat
higiene dan sanitasi yaitu penjamah makananan yang sehat, memiliki sarana air
bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi
yang baik, luas lantai yang sesuai dengan banyaknya pengunjung dan memiliki
pencahayaan ruang yang sesuai. Yang termasuk TPM adalah jasa boga, rumah
makan/restoran, depot air minum dan makanan jajanan.

Pada tahun 2015, dari 15.644 TTU yang ada , yang memenuhi syarat
kesehatan ada sebanyak 11.232 (71,79%), bila dibandingkan dengan tahun 2014,
dari 15.271 TTU yang ada, yang memenuhi syarat kesehatan hanya 9.937 buah
(65,07%). Hal ini menunjukkan bahwa , pada tahun 2015 jumlah TTU yang
memenuhi syarat kesehatan mengalami peningkatan sebesar 6,72% dari tahun
sebelumnya.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 28


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.5.4.1 Jumlah Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat
Pengelolaan Makanan (TPM) Di Di Provinsi Sumatera Utara
Tahun 2014 & 2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota 2015

Begitu juga halnya dengan TPM, pada tahun 2015 terdapat 27.327 unit,
mengalami peningkatan sebanyak 3.393 unit dibandingkan tahun 2014. Di tahun
2015 yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 17.789 buah (65,10%).
Dibandingkan dengan tahun 2014, dari 23.943 unit TPM, yang memenuhi syarat
kesehatan sebanyak 14.689 buah (61,41%) ada peningkatan sebesar 3,69% TPM
yang memenuhi syarat tahun 2015. (lampiran tabel 65 ).

Pencapaian persentase TTU dan TPM yang memenuhi syarat kesehatan


dan institusi yang dibina kesehatan lingkungannya di Sumatera Utara belumlah
maksimal oleh karena itu perlu upaya yang lebih maksimal dari program terkait
untuk meningkatan pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan, khususnya
kerjasama lintas sektoral.

2.6 Keadaan Perilaku Manusia

Untuk mengambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh


terhadap derajat kesehatan, dapat kita lihat dari persentase masyarakat di
Sumatera Utara yang berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Ada 10
indikator PHBS ditatanan rumah tangga (RT) yaitu 1)Persalinan di RT harus
ditolong oleh tenaga kesehatan, 2) Menimbang Balita, 3) RT yang memiliki bayi
harus memberikan ASI Eksklusif, 4) Cukup makan buah dan sayur setiap hari, 5)

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 29


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
menggunakan air yang memenuhi syarat kesehatan, 6) menggunakan jamban yang
memenuhi syarat kesehatan, 7) memberantas jentik nyamuk di dalam rumah, 8)
mencuci tangan dengan sabun, 9) beraktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit,
10) tidak merokok di dalam ruangan. Penilaian RT ber-PHBS baik adalah rumah
tangga yang melaksanakan 6 indikator dari 10 indikator PHBS RT yang
mempunyai balita dan 5 indikator yang tidak punya balita.

Pencapaian rumah tangga ber-PHBS cenderung fluktuatif dari tahun 2008-


2014 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Grafik 2.6.1 Persentase Rumah Tangga ber PHBS di Kabupaten/Kota


Tahun 2010-2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2010-2015

Dari grafik 2.6 diatas dapat dilihat bahwa jumlah rumah tangga yang ber-
PHBS cenderung fluktuatif, bila dilihat dari pencapaian tahun 2015, mengalami
penurunan sebesar 2,86% dari tahun 2014.

2.7 Derajat Kesehatan

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 30


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Untuk menilai derajat kesehatan masyarakat, digunakan beberapa indicator
yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas
(kesakitan). Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah Angka
Harapan Hidup Waktu Lahir. Untuk mortalitas telah disepakati tiga indikator,
yaitu Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian
Balita (AKABA) per1.000 Kelahiran Hidup, dan Angka Kematian Ibu (AKI)
per100.000 Kelahiran Hidup. Untuk morbiditas disepakati 14 (empat belas)
indikator, yaitu, Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) pada anak Usia <15
Tahun per100.000 Anak, Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA +,
Persentase Balita dengan pneumonia ditangani, Persentase HIV/AIDS ditangani,
Prevalensi HIV (Persentase Kasus terhadap Penduduk Beresiko), Persentase
Infeksi Menular Seksual (IMS) diobati, Angka Kesakitan Demam Berdarah
Dengue (DBD) per100.000 Penduduk, persentase DBD ditangani, Angka
Kesakitan Malaria per1.000 Penduduk, persentase penderita malaria diobati,
persentase penderita kusta selesai berobat, kasus penyakit filaria ditangani, jumlah
kasus dan angka kesakitan penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD3I). Sementara itu untuk status gizi telah disepakati 5 (lima) indikator, yaitu
Persentase Kunjungan Neonatus, Persentase Kunjungan Bayi, Persentase BBLR
ditangani, Persentase Balita dengan Gizi Buruk dan Persentase Kecamatan Bebas
Rawan Gizi.

2.7.1 Mortalitas (Angka Kematian)


Mortalitas adalah angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan
tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit
maupun sebab lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan
melakukan survei dan penelitian. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-
penyakit penyebab utama kematian yang terjadi di Sumatera Utara sampai akhir
2015 akan diuraikan dibawah ini.
2.7.1.1 Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah bayi yang meninggal


sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup
pada tahun yang sama.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 31


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Berdasarkan laporan profil kesehatan kab/kota tahun 2015 (lampiran tabel
4), dari 280.955 bayi lahir hidup, jumlah bayi yang meninggal ada sebanyak
1.219 bayi sebelum usia 1 tahun. Berdasarkan angka ini, diperhitungkan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Sumatera Utara tahun 2015 hanya 4,3/1.000 Kelahiran
Hidup (KH). Rendahnya angka ini mungkin disebabkan karena kasus-kasus yang
terlaporkan adalah kasus kematian yang terjadi di sarana pelayanan kesehatan,
sedangkan kasus-kasus kematian yang terjadi di masyarakat belum seluruhnya
terlaporkan.

Berikut ini akan dipaparkan Angka Kematian Bayi di Provinsi Sumatera


Utara berdasarkan Sensus Penduduk (SP). Berdasarkan Sensus Penduduk, Angka
Kematian Bayi di Sumatera Utara mengalami penurunan yang cukup siknifikan
dari 2 (dua) kali sensus terakhir yaitu , SP tahun 2000, AKB di Sumatera Utara
adalah 44/1.000 KH, turun menjadi 25,7 atau dibulatkan menjadi 26/1.000 KH
pada hasil SP 2010. Bila dilihat trend AKB kurun waktu 2001-2010,
diperhitungkan terjadi penurunan sekitar 1,37 per 1.000 KH, maka diperkirakan
AKB Sumatera Utara tahun 2012 sebesar 22,96/1.000 KH, tahun 2013 sebesar
21,59/1.000 KH dan tahun 2014 sebesar 20,22/1.000 KH. Berikut ini akan
digambarkan grafik AKB berdasarkan Sensus Penduduk periode 1971-2010 di
Provinsi Sumatera Utara.

Grafik 2.7.1.1 Angka Kematian Bayi (AKB)/Infant Mortality Rate (IMR)


Di Provinsi Sumatera Utara (Hasil SP 1971 2010)

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 32


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara 2013

Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB, diantaranya


pemerataan pelayanan kesehatan serta fasilitasnya. Hal ini disebabkan AKB
sangat sensitive terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu, perbaikan
kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat
juga punya kontribusi dalam perbaikan gizi yang berdampak positif pada daya
tahan bayi terhadap infeksi penyakit.
2.7.1.2 Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka kematian balita adalah jumlah anak yang meninggal sebelum
mencapai usia 5 (lima) tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran
hidup.
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012 diperoleh bahwa angka kematian balita (AKABA) di Sumatera Utara
sebesar 54/1.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka rata-rata nasional pada tahun
2012 sebesar 43 per 1.000 kelahiran hidup. Angka nasional ini mengalami sedikit
penurunan dibandingkan AKABA pada tahun 2007 yang sebesar 44 per 1.000
kelahiran hidup. Gambaran perkembangan AKABA pada tahun 1991-2012
disajikan pada grafik 3.4 berikut ini.
Grafik 2.7.1.2Estimasi Angka Kematian Balita Per 1.000 Kelahiran Hidup di
Indonesia Tahun 1991 2012

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 33


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2013

Secara umum AKABA di Indonesia dari tahun ketahun cenderung


mengalami penurunan.

2.7.1.3 Angka Kematian Ibu (AKI)


AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab
kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk
kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa
nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per
100.000 kelahiran hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian
terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara
umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitivitas
AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator
keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.
Berdasarkan laporan dari profil kab/kota (tabel 6) AKI maternal yang
dilaporkan di Sumatera Utara tahun 2015 hanya 93/100.000 kelahiran hidup,
namun ini belum bisa menggambarkan AKI yang sebenarnya di populasi.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, AKI di Sumatera Utara sebesar
328/100.000 KH, angka ini masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan angka
nasional hasil SP 2010 sebesar 259/100.000 KH. Berdasarkan hasil Survey AKI &
AKB yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan
FKM-USU tahun 2010 menyebutkan bahwa AKI di Sumatera Utara sebesar 268
per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan estimasi maka angka kematian ibu ini

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 34


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
tidak mengalami penurunan sampai tahun 2013. Berikut ini akan ditampilkan
Angka Kematian Ibu di Sumatera Utara periode 2009-2013.

Grafik 2.7.1.3.1 Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup di


Sumatera Utara Tahun 2009 2013

Sumber: Survey FKM-USU 2010 (2011-2013 angka estimasi)


Jumlah kematian ibu maternal per Kab/Kota di Sumatera Utara dapat dilihat pada
lampiran tabel 6.

2.7.1.4 Umur Harapan Hidup (UHH)


Umur Harapan Hidup (UHH) digunakan juga untuk menilai derajat
kesehatan dan secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya
peningkatan kualitas hidup masyarakat baik di kabupaten/kota, provinsi maupun
negara. Adanya perbaikan pada pelayanan kesehatan melalui keberhasilan
pembangunan pada sektor kesehatan dapat diindikasikan dengan adanya
peningkatan angka harapan hidup saat lahir.
Angka harapan hidup penduduk Sumatera Utara diperkirakan mengalami
peningkatan dalam 3 (tiga) tahun terakhir (2013 -2015), seperti yang disajikan
pada grafik berikut ini.

Grafik 2.7.1.4.1 Estimasi Angka Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) di


Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 2015

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 35


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumber ; BPS-Sumatera Utara 2016

Berdasarkan Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada tabel dibawah ini;


Tabel 2.7.1.4.1 Perkiraan Angka Harapan Hidup (AHH) Menurut
Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013
2015
ANGKA HARAPAN HIDUP
No NAMA KAB/KOTA
2013 2014 2015

1 Nias 68,77 68,87 68,97

2 Mandailing Natal 61,08 61,18 61,58

3 Tapanuli Selatan 63,04 63,14 63,74

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 36


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
4 Tapanuli Tengah 66,47 66,49 66,59

5 Tapanuli Utara 67,15 67,25 67,55

6 Toba Samosir 68,94 69,04 69,14

7 Labuhan Batu 69,24 69,26 69,36

8 Asahan 67,17 67,27 67,37

9 Simalungun 70,14 70,24 70,34

10 Dairi 67,38 67,48 67,78

11 Karo 70,38 70,42 70,62

12 Deli Serdang 70,78 70,80 71,00

13 Langkat 67,23 67,33 67,63

14 Nias Selatan 67,06 67,16 67,66

15 Humbang Hasundutan 67,70 67,80 68,10

16 Pakpak Bharat 64,42 64,45 64,85

17 Samosir 69,56 69,66 70,26

18 Serdang Bedagai 67,17 67,27 67,47

19 Batu Bara 65,40 65,50 65,80

20 Padang Lawas Utara 66,38 66,40 66,50

21 Padang Lawas 65,97 66,01 66,31

22 Labuhan Batu Selatan 68,03 68,06 68,09

23 Labuhan Batu Utara 68,40 68,50 68,70

24 Nias Utara 68,39 68,49 68,59

25 Nias Barat 67,54 67,64 67,94

26 Sibolga 67,30 67,40 67,70

27 Tanjung Balai 61,30 61,40 61,90

28 Pematang Siantar 71,59 71,69 72,29

29 Tebing Tinggi 69,94 70,04 70,14

30 Medan 72,13 72,18 72,28

31 Binjai 71,34 71,39 71,59

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 37


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
32 Padang Sidempuan 68,22 68,27 68,32

33 Gunung Sitoli 70,13 70,19 70,29

Sumatera Utara 67,94 68,04 68,29

Sumber : BPS Sumatera Utara 2016

Dari tabel diatas diketahui bahwa perkiraan angka harapan hidup 3 (tiga)
tertinggi secara berturut-turut pada tahun 2015 adalah, Kota Pematang Siantar
( 72,29 tahun), Medan (72,28 tahun) dan Binjai (71,59 tahun). Sedangkan 3 (tiga)
kabupaten/kota yang perkiraan angka harapan hidup terendah adalah; Mandailing
Natal (61,58 tahun), Tanjung Balai (61,90 tahun) dan Tapanuli Selatan (63,74
tahun).

2.8 MORBIDITAS (ANGKA KESAKITAN)

Morbiditas adalah angka kesakitan, dapat berupa angka insiden maupun


angka prevalens dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian
penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Tingkat kesakitan suatu
negara juga mencerminkan situasi derajat kesehatan masyarakat yang ada
didalamnya. Bahkan tingkat angka kesakitan penyakit menular tertentu yang
terkait dengan komitmen internasional senantiasa menjadi sorotan dalam
membandingkan kondisi kesehatan antar negara.

Berikut ini akan disajikan gambaran morbiditas penyakit-penyakit menular


dan tidak menular yang dapat menggambarkan keadaan derajat kesehatan
masyarakat di Sumatera Utara sepanjang tahun 2015.

2.8.1 Penyakit-penyakit Menular


2.8.1.1 Diare
Pada tahun 2015, jumlah perkiraan kasus ada sebanyak 752.642 kasus
(20% x 270/1.000 x Jlh Penduduk), yang ditemukan dan ditangani sebanyak
250.808 (33,32%), sehingga angka kesakitan (IR) diare per 1.000 penduduk
mencapai 90. Pencapaian IR ini jauh di bawah target program yaitu 270 per 1.000
penduduk. Rendahnya IR dikhawatirkan bukan merefleksikan menurunnya

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 38


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
kejadian penyakit diare pada masyarakat tetapi lebih dikarenakan banyaknya
kasus yang tidak terdata (under- reporting cases).

Dari 33 kabupaten/kota yang ada, Penemuan dan penanganan kasus diare


tertinggi di 3 (tiga) Kabupaten yaitu Tapanuli Tengah (100 %), Padang Lawas
(72,34%), dan Samosir (64,60%).

2.8.1.2 Pneumonia

Pada tahun 2015 cakupan penemuan kasus Pneumonia pada balita relatif
masih rendah dan mengalami penurunan dari tahun 2014. Dari jumlah perkiraan
kasus pada tahun 2015 sebesar 156.604 kasus, yang ditemukan dan ditangani
sebesar 22.703 kasus (14,50%) sedangkan tahun 2013, dari 157.625 perkiraan
kasus balita yang menderita penemonia; yang ditemukan dan ditangani hanya
26.545 balita atau 16,84%. Dari 33 kabupaten/kota, terdapat 5 kabupaten/kota
yang melaporkan 0 (nol) kasus yaitu Kabupaten Nias, Mandailing Natal, Tapanuli
Selatan, Karo dan Nias Utara. Kabupaten dengan jumlah penderita kasus
ditemukan dan ditangani terbanyak adalah Kabupaten Tapanuli Tengah sebesar
84,67%, Deli serdang sebesar 41,88%, disusul dengan Nias Barat sebesar 29,96%.

Cakupan penemuan dan penanganan kasus pnemonia pada balita


mengalami fluktuatif setiap tahunnya, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada
grafik berikut ini.

Grafik 2.8.1.2.1 Cakupan Penemuan Kasus ISPA pada Balita Tahun 2010
2015

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 39


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumber : BPS Sumatera Utara 2016

Rendahnya cakupan penemuan kasus disebabkan antara lain pengiriman


dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota belum mencapai 100% serta masih
lemahnya kerjasama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan RSUD sehingga
banyak kasus yang dirawat tidak dilaporkan. Hal ini diperberat dengan rendahnya
alokasi dana untuk pelaksanaan kegiatan pencegahan dan penanggulangan ISPA
khususnya anggaran untuk pelatihan tatalaksana penderita ISPA bagi petugas
puskesmas di kabupaten/kota.

2.8.1.3 TB Paru

Pada tahun 2015, CNR (kasus baru) TB Paru BTA (+) di Sumatera Utara
baru mencapai 122,56/100.000 penduduk. Bila dilihat pencapaian per Kab/Kota, 3
(tiga) tertinggi adalah Tapanuli Tengah sebesar 270,56/100.000, Sibolga sebesar
260/100.000 dan Padang Lawas sebesar 189/100.000). Sedangkan 3 (tiga)
terendah adalah Kabupaten Toba Samosir sebesar 37,28/100.000, Labuhan Batu
Selatan sebesar 46,20/100.000 dan Nias Utara sebesar 61,24/100.000. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 40


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.8.1.3.2 Angka Penemuan Kasus (CNR) TB PARU BTA (+) Menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2015

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 41


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2015

Ket: Warna Hijau CNR 160/100.000 penduduk dan Warna Merah CNR <
160/100.000 penduduk

Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2015, angka


keberhasilan pengobatan (Success Rate) rata-rata ditingkat provinsi mencapai

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 42


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
89,61%, dengan perincian persentase kesembuhan 82,83% dan persentase
pengobatan lengkap 6,78%. Angka succes rate pada tahun 2015 ini telah mampu
melampaui target nasional yaitu 85%. Dari 33 Kabupaten/Kota, terdapat 5
Kabupaten/Kota yang belum mampu mencapai angka success rate 85%, seperti
yang terlihat pada grafik berikut ini.

Grafik 2.8.1.3.3 Angka Success Rate TB Paru BTA (+) Menurut


Kabupaten/Kota Tahun 2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2015

2.8.1.4 Acute Flaccid Paralyses (AFP)

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 43


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Pada tahun 2015, jumlah kasus AFP (Non Polio) yang ditemukan
sebanyak 98 kasus dari 4.463.851 jiwa penduduk berumur < 15 tahun. AFP rate
(Non Polio) sebesar 2,20 per 100.000 penduduk berumur < 15 tahun, mengalami
peningkatan dibandingkan tahun 2014 yaitu 1,26 per 100.000, angka ini belum
mampu mencapai target nasional yaitu 2 per 100.000 penduduk berumur < 15
tahun.

Dari 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, ada 20 kabupaten/kota


yang menemukan kasus AFP, grafik berikut ini menggambarkan pencapaian AFP
rate per kabupaten/kota secara lebih rinci.

Grafik 2.8.1.4.1 AFP Rate (Non Polio) berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun


2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015

2.8.1.5 HIV/AIDS

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 44


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Berdasarkan data dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2015 ada
penambahan kasus HIV sebesar 838 kasus dan AIDS sebanyak 344 kasus. Dengan
peningkatan ini maka sampai dengan tahun 2015 jumlah kasus HIV secara
keseluruhan menjadi 4.858 kasus dan AIDS sebanyak 5.233 kasus. Perkembangan
kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2015
dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Grafik 2.8.1.5.1 Jumlah Kasus HIV-AIDS DI Provinsi Sumatera Utara


Tahun 2003 - 2015

Sumber : Laporan Program P2P Dinkes Provsu

Peningkatan penemuan kasus HIV/AIDS yang terjadi pada tahun 2015


sebanyak 1.182 kasus, berarti setiap bulannya ada penambahan sekitar 98-99 kasus.
Keberhasilan penemuan penderita ini salah satunya disebabkan bertambahnya
jumlah layanan VCT (Voluntary Counselling and Testing) di Sumatera Utara. VCT
merupakan pintu masuk bagi penemuan kasus disamping pelaksanaan pengobatan
dan perawatan pasien serta penyampaian informasi ke masyarakat khususnya
mereka yang termasuk dalam kelompok populasi berisiko tinggi. Sampai dengan
tahun 2015, terdapat 45 layanan VCT di 18 Kab/Kota Sumatera Utara.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 45


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Pada tahun 2015, Kabupaten/Kota dengan penderita baru HIV/AIDS
tertinggi berturut-turut adalah Kota Medan yaitu 436 kasus atau sekitar 36,88%,
Kabupaten Deli Serdang sebanyak 171 kasus (14,47%) dan Kota Pematang Siantar
sebanyak 71 kasus (6%) dari total seluruh penderita baru. Sampai dengan akhir
tahun 2015, terdapat 27 Kabupaten/Kota telah melaporkan ditemukannya kasus
baru HIV/AIDS.

2.8.1.6 Kusta
Pada akhir tahun 2015 prevalensi rate kusta di Provinsi Sumatera Utara
sudah relatif sangat rendah yakni 1,47 per 100,000 penduduk (Lihat lampiran
tabel 14). Jumlah kasus kusta terbanyak tercatat di Kota Medan yaitu 32 kasus,
diikuti dengan Asahan sebanyak 15 kasus dan Labuhan Batu Utara serta Labuhan
Batu sebanyak 13 kasus.

Proporsi kasus baru kusta pada anak < 15 tahun dan kasus baru cacat
tingkat 2 , merupakan indikator penting dalam rangka memantau kinerja program
P2 Kusta di Provinsi Sumatera Utara. Dengan mengetahui angka tersebut,
pertama, kita mengetahui kemungkinan adanya sumber penularan di lingkungan
tempat tinggal penderita yang harus ditemukan; kedua, dengan kasus baru cacat
tingkat 2 kita mengetahui ada kasus yang terlambat terdeteksi dan ditangani yang
kemungkinan juga akan menjadi sumber penularan baru.

Pada tahun 2015, tercatat 206 penderita baru kusta, 15 kasus baru kusta
pada anak berumur < 15 dan 40 kasus baru cacat tingkat 2, distribusinya per
kabupaten/kota seperti yang tergambar pada grafik berikut ini.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 46


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.8.1.6.1 Jumlah Penderita Baru Kusta, Penderita<15 Tahun dan
Cacat Tingkat 2 Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015.

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2015

Distribusi kasus kusta baru pada anak < 15 tahun cenderung berfluktuasi
dalam 5 tahun terakhir, tahun 2011 sebesar 9,55%, meningkat menjadi 13,81% di
tahun 2012. Selanjutnya pada tahun 2013 turun menjadi 7,56%, kemudian tahun
2014 naik kembali menjadi 11,17% dan di tahun 2015 turun lagi menjadi 10,14%.
Angka tersebut masih diatas indikator nasional yakni <5% dari total kasus pada
seluruh kelompok umur. Sehingga berdasarkan fakta tersebut maka diperlukan
upaya yang lebih giat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan
penyakit kusta karena diperkirakan masih terdapat sumber penularan di sekitar
tempat tinggal kasus yang mestinya harus ditemukan.

2.8.1.7 Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)


PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan
dengan pelaksanaan program imunisasi. PD3I yang dibahas di bawah ini
mencakup penyakit Difteri, Pertusis (Batuk Rejan), Tetanus, Tetanus Neonatorum,
Campak, Polio dan Hepatitis B.

a) Difteri
Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif rendah.
Rendahnya kasus difteri ini sangat dipengaruhi dengan adanya program

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 47


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
imunisasi. Pada tahun 2015 tidak ditemukan kasus difteri, sedangkan pada
tahun 2014 yang lalu dilaporkan ada 5 (lima) kasus.

b) Pertusis (Batuk Rejan)


Pada tahun 2015, dilaporkan ada 7 kasus pertusis yang terdiri dari 3 orang
penderita laki-laki dan 4 orang penderita perempuan. Sedangkan dua tahun
sebelumnya yaitu tahun 2013 pada tahun 2014, tidak satupun daerah
Kabupaten/Kota yang melaporkan terjadinya kasus pertusis (batuk rejan).

c) Tetanus Non Neonatorum


Pada tahun 2015, hanya 1 (satu) kabupaten yang melaporkan ditemukan kasus
tetanus non neonatorum sebanyak 11 kasus, yaitu di Kabupaten Mandailing
Natal. Sedangkan pada tahun 2014 yang lalu, kasus tetanus non neonatorum
ini tidak ada ditemukan/dilaporkan dari seluruh kabupaten/kota.

d) Tetanus Neonatorum (TN)


Pada tahun 2015, hanya Kota Gunung Sitoli yang melaporkan kasus tetanus
neonatorun dengan jumlah 1 (satu) kasus. Jumlah ini terus mengalami
penurunan bila dibandingkan dengan, 2014 sebanyak 2 kasus, tahun 2012
sebanyak 3 kasus dan tahun 2011 sebanyak 11 kasus, 2010 yaitu 5 kasus dan
tahun 2009 yaitu 6 kasus. Pencegahan terhadap terjadinya kasus tetanus
neonatorum dapat dilakukan dengan pertolongan persalinan harus secara
higienis serta ditunjang dengan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) sewaktu ibu
hamil.

e) Campak
Pada tahun 2015, jumlah kasus Campak merupakan kasus terbanyak kategori
PD3I yaitu sebanyak 819 yang terjadi di 19 Kabupaten/Kota. Jumlah kasus
terbesar secara berturut Kabupaten Toba Samosir sebanyak 286 kasus,
Mandailing Natal sebanyak 79 kasus dan Kota Tanjung Balai sebanyak 72
kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun 2014 yaitu sebanyak 268 kasus di 9
kabupaten/kota. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 48


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.8.1.7.1 Kasus Campak Berdasarkan Kabupaten/Kota 2014 & 2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015

f) Polio
Pada tahun 2015, ditemukan 7 (tujuh) kasus Polio di Kabupaten Mandailing
Natal. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2014, dimana hanya
ditemukan 1 (satu) kasus di Kabupaten Karo.

g) Hepatitis B
Pada tahun 2015, berdasarkan data profil kesehatan kabupaten/kota tidak ada
dilaporkan kasus Hepatitis B di Provinsi Sumatera Utara.

2.8.1.8 Demam Berdarah Dengue (DBD)

Pada tahun 2015, dilaporkan bahwa jumlah seluruh kasus DBD di


Sumatera Utara sebanyak 5.695 kasus dengan Insidance Rate (IR) sebesar
41,4/100.000 penduduk, sedangkan case fatality rate (CFR) sebesar 0,79%.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 49


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Jumlah kasus tertinggi ada di Kota Medan sebanyak 1.362 kasus dengan CFR
0,66%, Deli Serdang sebanyak 981 kasus dengan CFR 0,82% dan Simalungun
sebanyak 740 kasus dengan CFR 0%. Ada 3 (tiga) Kabupaten yang melaporkan
tidak ada kasus DBD, yaitu Kabupaten Nias Selatan, Humbang Hasundutan dan
Mandailing Natal. Bila dibandingkan dengan tahun 2014, maka ada penurunan
angka kasus (IR) sebesar 10,5/100.000 penduduk serta penurunan angka kematian
(CFR) sebesar 0,6%. Berikut ini akan disajikan angka kasus dan angka kematian
dalam 6 (enam) tahun terakhir dari tahun 2010-2015.

Grafik 2.8.1.8.1 Angka Kasus (IR) dan Angka Kematian (CFR) DBD di
Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010 - 2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015

Bila dibandingkan dengan angka indikator keberhasilan program dalam


menekan laju penyebaran DBD, yaitu Insidens Rate DBD adalah sebesar
5/100.000 penduduk, angka Sumatera Utara masih sangat jauh diatas indikator
tersebut.
Disisi lain, Case Fatality Rate (CFR) tahun 2015 sebesar 0,79% sudah
mampu mencapai target nasional yaitu <1%.

2.8.1.9 Filariasis

Pada tahun 2015 jumlah kasus baru filariasis ditemukan sebanyak 44


kasus, jumlah ini meningkat dari tahun 2014 sebanyak 19 kasus. Total jumlah
kasus sampai dengan 2015 ada sebanyak 154 kasus dengan angka kesakitan
1,12/100.000 penduduk.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 50


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
2.9 Status Gizi Masyarakat

Provinsi Sumatera Utara memiliki 4 (empat) masalah gizi utama, yaitu


masalah gizi makro, khususnya Balita dengan Kurang Energi Protein (KEP) yang
ditandai dengan balita gizi kurang dan balita gizi buruk, masalah gizi mikro
terutama Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan
Akibat Kurang Yodium (GAKY).

2.9.1 Balita dengan KEP (Balita Gizi Kurang & Buruk)

Berdasarkan data pada Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2015,


dari 1.218.718 balita yang timbang, terdapat 14.839 balita (1,22%) yang berat
badannya dibawah garis merah (BGM), sedangkan yang menderita gizi buruk ada
sebanyak 1.279 balita (0,10%). Bila dibandingkan dengan data gizi buruk tahun
2014 sebanyak 1.228 kasus (0,09%) ada peningkatan kasus sebesar 0,01 %.

2.9.2 Anemia Gizi Besi (AGB)


Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi anemia
adalah dengan pemberian tablet besi (Fe) sebanyak 90 tablet selama masa
kehamilan. Cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet besi di Sumatera Utara
pada tahun 2015 sebesar 80,13%. Bila dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar
80,82%, ada penurunan sebesar 0,69%. Walaupun mengalami penurunan angka
cakupan pemberian tablet besi ini sudah mampu mencapai target nasional yaitu
80%.

2.9.3 Kurang Vitamin A (KVA)


Cakupan pemberian vitamin A pada balita dalam lima tahun terakhir
cenderung naik, walaupun tahun 2014 mengalami penurunan sebesar, 0,42%,
namun tahun 2015 naik kembali sebesar 2,3%, sehingga cakupan di tahun 2015
mencapai 78,5%.. Berikut akan digambarakan cakupan pemberian Vitamin A pada
anak balita tahun 2011-2015.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 51


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.9.3.1 Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Balita di Provinsi
Sumatera Utara Tahun 2011 2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015

Berikut ini akan disajikan persentase pemberian kapsul vitamin A pada


balita per kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara tahun 2015.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 52


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Grafik 2.9.3.2 Persentase Pemberian Kapsul Vitamin A Pada Balita
Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2015.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 53


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017
Dari grafik terlihat bahwa dari 33 kabupaten/kota yang menyediakan
pelayanan pemberian kapsul vitamin A pada anak balita, terdapat 18
kabupaten/kota yang mampu mencapai target 80%, 6 kabupaten/kota dengan
cakupan antara 60% sampai <80% dan 9 kabupaten/kota dengan cakupan <60%,
namun ada 1 kab cakupannya 0 yaitu Dairi.

2.9.4 Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 diketahui bahwa hampir 90% rumah


tangga(RT) di Sumatera Utara telah mengkonsumsi garam yang mengandung
cukup iodium. Konsumsi garam mengandung cukup iodium merupakan upaya
prevalensi penderita GAKY.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat 54


Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Periode 06 Maret 2017 s/d 15 April 2017