Anda di halaman 1dari 7

Dokter yang dapat dimintai bantuannya

Dalam proses pembuatan VeR, dokter forensic berkoordinasi dengan dokter umum,
dokter bedah, dokter radiologi dan dokter patologi klinik yang telah berinteraksi dan merawat
pasien untuk melengkapi deskripsi luka, jenis tindakan diagnostik, jenis tindakan, jenis
tindakan terapeutik dan menyusun kesimpulan VeR. Adanya permasalah terbut menimbulkan
pendapat yang berebeda-beda di kalangan dokter. Perbedaan tersebut meliputi siapa yang
harus menandatangani VeR dan fakta-fakta yang bagaimanakah yang boleh atau tidak boleh
ditulis pada VeR.
Terdapat dua pendapat mengenai siapa yang harus menandatangani VeR. Pendapat
pertama, sebagian dokter menganggap bahwa hanya dokter yang melihat dan memeriksa
yang pasien/korban yang harus menandatangani VeR. Menurut pendapat ini, VeR adalah
suatu dokumen yang berisi fakta-fakta dan kesimpulan dokter yang memeriksa dan melihat
sendiri fakta-fakta tersebut.
Ada beberapa alasan yang mendasari pendapat ini, salah satunya adalah berdasarkan
Statsbald 350 Tahun 1937 Pasal 1 sebagai berikut : visa reperta dari dokter-dokter, yang
dibuat atas sumpah jabatan yang diikrarkan pada waktu menyelesaikan pelajaran kedokteran
di negeri Belanda atau di Indonesia, atau atas sumpah khusus sebagai dimaksud dalam pasal
2, mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana, sejauh itu mengandung keterangan
tentang yang dilihat oleh dokter pada benda yang diperiksa.
Berdasarkan naskah Statsbald 350 Pasal 1 tersebut, penulis menilai bahwa VeR hanya
dapat dibuat dan ditandatangani oleh dokter dalam kapasitasnya sebagai saksi mata dan
dokter telah mengikrarkan sumpah. Meskipun era Statsbals sudah berakhir sejak Indonesia
merdeka dan selanjutnya berganti dengan era KUHAP namun sebagian kalangan dan penegak
hukum masih meyakini bahwa VeR hanya berisi fakta yang dilihat sendiri oleh dokter sesuai
dengan nama bentuk keterangan tertulis tersebut, yaitu : visa yang berarti melihat dan reperta
yang berarti melaporkan.
Keunggulan pendapat ini adalah setiap dokter bertanggung jawa atas fakta-fakta yang
dilihatnya sendiri, tidak lebih dan tidak kurang. Hasil pemeriksaan penunjang yang tidak
dilihat sendiri proses pengerjaannya oleh dokter baik pemeriksaan penunjang yang dilakukan
internal maupun eksternal sarana kesehatan tidak boleh dimasukkan di dalam VeR.
Namun kekurangannya adalah sarana kesehatan yang akan menerbitkan beberapa VeR
untuk satu orang pasien. Terdapat VeR yang disusun oleh dokter di UGD, VeR yang disusun
oleh dokter bedah, VeR yang disusun oleh dokter radiologi, dan seterusnya sesuai dengan
jenis spesialisasi dokter yang telah merawat atau berinteraksi dengan pasien. Selain itu, suatu
saat sarana kesehatan akan mengalami gangguan pelayanan kepada pasien lainnya, jika
penyidik dan jaksa melakukan pemanggilan kepada seluruh dokter pembuat VeR untuk
didengar keterangannya di kantor polisi dan sidang.
Kekurangan tersebut di atas bisa diatasi dengan menugaskan salah satu dokter,
misalnya dokter jaga UGD atau dokter spesialis forensic, untuk bertugas melakukan
pendampingan pemeriksaan pasien/korban sejak pasien berada di UGD hingga pasien
meninggalkan rumah sakit. Beban tambahan untuk dokter UGD ini tentunya akan sangat
merepotkan tugas mereka yang sudah sangat berat di UGD.
Hal lain yang menjadi masalah adalah dokter tidak bisa memperkirakan pasien yang
manakah yang akan dimintakan VeR nya oleh penyidik sehingga dokter harus mengikuti
pemeriksaan pasien dari awal masuk sarana kesehatan hingga keluar dari saran kesehatan.
Tidak semua pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas akan dimintakan VeRnya oleh
penyidik. Padahal dasar penugasan dokter untuk pendampingan pasien/korban ditandai
dengan adanya surat permintaan VeR dari penyidik. Berdasarkan data di RSUP NTB, 98,3%
surat permintaan VeR diterima Direktur RSUP NTB setelah pasien tidak berada di RSUP
NTB. Oleh karena itu, penugasan kepada salah satu dokter untuk mendampingi pasien yang
berpotensi dibuatkan VeR, dianggap sebagai kebijakan yang tidak efektif.
Sementara itu, pendapat kedua mengatakan bahwa VeR merupakan suatu dokumen
yang berisi fakta-fakta hasil pemeriksaan medis baik fakta-fakta hasil pemeriksaan dokter
sendiri maupun fakta-fakta hasil pemeriksaan medis oleh dokter lainnya, yang selanjutnya
dijadikan dasar penyusunan kesimpulan oleh dokter.
Dasar pemikiran yang menjadi rujukan pendapat ini adalah bahwa sejak era KUHAP
berlaku di Indonesia, tidak ditemukanlagi istilah VeR atau visa reperta pada KUHAP. Namun
demikian, kemungkinan-kemungkinan bentuk keterangan dokter yang bernilai sebagai alat
bukti yang sah di pengadilan dapat ditelaah pada KUHAP Pasal 184 yang berbunyi sebagai
berikut : Alat bukti yang sah ialah : a). Keterangan saksi; b). Keterangan ahli; c). Surat ; dD.
Petunjuk; e). Keterangan terdakwa.
Berdasakan pernyataan KUHAP Pasal 184 tersebut di atas, muncullah pendapat bahwa
dokter dapatm memberikan keterangan lisan dan atau keterangan tertulis perihal korban
tindak pidana kepada penegak hukum yang berwenang. Sebagai saksi, dokter dapat
menjelaskan secara lisan dengan jujur dan objektif mengenai fakta-fakta yang ditangkap oleh
panca inderanya di sidang pengadillan, tanpa memberikan suatu interpretasi/kesimpulan atas
fakta-fakta tersebut. Hal ini sesuai dengan KUHAP Pasal 185 ayat 1 dan 5 sebagai berikut :
1). Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang sasi nyatakan di sidang peradilan; ... 5).
Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan
keterangan saksi.
Jika dokter menganggap perlu, dokter bisa mengajukan hak undur diri sebagai saksi
jika keterangannya menyangkut rahasia medis pasiennya. Namun hakim menentukan sah atau
tidaknya segala alasan untuk mengundurkan diri tersebut. Hal ini sesuai dengan KUHAP
Pasal 170 ayat 1 dan 2 sebagai berikut : 1). Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat,
atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat diminta dibebaskan dari kewajiban
untuk memebri ketrangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka;
2). Hakim menentukan sah atau tidaknya segaala alasan untuk permintaan tersebut.
Keunggulan pendapat tersebut di atas adalah efektif dan praktis tanpa melanggar
ketentuan KUHAP karena seorang dokter bertanggung jawab untuk membuat dna
menandatangani VeR, satu VeR diperuntukkan bagi satu kasus. Jika dokter dipanggil
menghadiri pemeriksaan penyidik dan persidangan maka hanya satu orang dokter yang hadir
sehingga pelayanan sara kesehatan tidak terbengkalai.
Kekurangan pendapat ini adalah satu orang dokter pembuat VeR mempunyai tanggung
jawa yang besar karena dia harus menguasai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan oleh
Tim dokter lainnya. Selain itu, terdapat berbagai model tata cara penulisan hasil pemeriksaan
pasien yang tidak seragam dan kurang lengkapnya rekam medis sehingga VeR tidak lengkap.
Kekurangan tersebut dapat diatasi dengan melakukan standardisasi model tata cara
penulisan hasil pemeriksaan pasien kepada segenap dokter di sarana kesehatan. Selain itu,
dokter pembuat VeR sebaiknya melakukan konsultasi kesesuaian isi VeR dengan rekam
medis kepada Tim dokter yang merawat pasien.
Cara dokter dalam menyampaikan keterangannya
Sebagai ahli, dokter dapat memeberikan keterangan lisan di sidang pengadilan. Hal ini
sesuai dengan KUHAP Pasal 186 sebagai berikut : keterangan ahli ialah apa yang seorang
ahli nyatakan di sidang pengadilan. Selanjutnya pada keternagan ahli dapat juga sudah
diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik yang dituangkan dalam suatu bentuk
laporan (Berita Acara Pemeriksaan).
Sebagai ahli, dokter dapat menjelaskan kesimpulannya terhadap suatu fakta sehingga
perkara pidana menjadi jelas. KUHAP Pasal 1 butir 28 menjelaskan bahwa keterangan ahli
adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal
yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidan aguna kepentingan pemeriksaan.
Perihal keterangan ahli, juga dapat ditemukan pada KUHAP Pasal 133 Ayat 1 yang berbunyi :
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan mengenai seorang korban baik luka,
keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli lainnya.
Dari askpek hukum, KUHAP sama sekali tidak mencantumkan apakah kesimpulan
yang dibuat oleh dokter harus merujuk pada fak-fakta yang dilihatnya sendiri. Dari sisi
praktis, tidak bisa dipungkiri akan perkambangan spesialisasi ilmu kedokteran dan
pembagian kewenangan masing-masing sepsialis sehingga satu kasus bisa ditangani oleh
lebih dari satu orang dokter menurut spesialisasinya. Bahkan pemeriksaan medis yang
lengkap dilakukan oleh beberapa laboratorium baik di dalam maupun di luar suatu sarana
kesehatan. Dengan demikian, secara praktis sangat tidak mungkin satu orang dokter mampu
melihat rangkaian penanganan pasien secara keseluruhan, tentunya hal ini berhubungan
dengan ketidak mampuannya menguasai seluruh ilmu kedokteran dan pemeriksaan medis
tanpa bantuan dari sejawat dokter lainnya.
Selain dokter sebagai Ahli dapat mengemukakan pendapatnnya secara lisan, mereka
juga dapat menuliskan pendapatnya pada kesimpulan VeR sehingga keternagnnya bernilai
sebagai alat bukti Surat. Hal ini sesuai dengan KUHAP Pasal 187 butir c sebagai berikut :
Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat 1 huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau
dikuatkan dengan sumpah, adalah : ...c). surat keterangan dari seorang ahli yang memuat
pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta
secara resmi dari padanya. Menurut pendapat sebagai dokter, kesimpulan VeR didasarkan
atas hasil pemeriksaan medis korban baik pemeriksaan yang dilakukan sendiri oleh dokter
maupun hasil pemeriksaan dokter lainnya.

Tata cara dan sikap dokter dalam persidangan


Pemanggilan atau pemberitahuan oleh pihak berwenang kepada saksi ahli, dalam hal ini
dokter, disampaikan selambat-lambatnya tiga hari sebelum tanggal hadir yang ditentukan
oleh hakim di tempat tinggal saksi ahli dan disampaikan secara langsung. Kemudian petugas
membuat catatan bahwa panggilan telah diterima oleh yang bersangkutan dengan
membubuhkan tanggal serta tandatangan petugas dan saksi ahli beserta alasan apabila saksi
ahli tersebut tidak mau menandatangani catatan tersebut. Surat pemanggilan ini juga dapat
disampaikan melalui kepala desa apabila yang bersangkutan tidak ada di tempat tinggalnya
dan melalui perwakilan Republik Indonesia tempatnya berada apabila sedang di luar negeri
(pasal 227 KUHAP).
Dokter yang dipanggil untuk menjadi saksi ahli kemudian memeriksa surat panggilan
tersebut dan dapat menghubungi jaksa yang berwenang dalam kasus ini untuk meminta
penjelasan mengenai kasusdan korban yang akan dibahas di persidangan. Dokter kemudian
dianjurkan memperkirakan pertanyaan yang akan diajukan agar lebih siap dalam
menjawabnya.
Dalam suatu perkara pidana yang menimbulkan korban, dokter diharapkan dapat
menemukan kelainan yang terjadi pada tubuh korban, bagaimana kelainan tersebut timbul,
apa penyebabnya serta akibat yang timbul terhadap kesehatan korban. Dalam hal korban
meninggal, dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab kematian yang bersangkutan,
bagaimana mekanisme terjadinya kematian tersebut, serta membantu dalam perkiraan saat
kematian dan perkiraan cara kematian.1 Dokter sebagai saksi ahli memberikan penilaian atau
penghargaan tentang hasil akhir, bukan prosesnya sehingga perlu diingat bahwa dokter itu
bertindak sebagai saksi ahli bukan saksi mata.
Sebagai saksi yang akan diajukan dalam persidangan, terlebih dahulu harus
menyampaikan curriculum vitae kepada kepaniteraan mahkamah sebelum pelaksanaan
sidang. Pemeriksaan ahli dalam bidang keahlian yang sama yang diajukan oleh pihak-pihak
dilakukan dalam waktu yang bersamaan.
Dokter sebagai saksi ahli di pengadilan wajib mengenakan pakaian rapi dan sopan.9
Dokter juga harus berpenampilan yang tidak melecehkan dirinya sendiri ataupun lawan
bicaranya. Ia harus hadir tepat waktu, berpakaian rapi, sikap yang santun, menyiapkan data
kasusnya, bersikap tegas dan yakin, mengutarakan sesuatu yang benar dan obyektif serta
menyeluruh.
Dokter sebagai saksi ahli yang hadir untuk mengikuti persidangan wajib mengisi daftar
hadir, menempati tempat duduk yang telah disediakan, duduk tertib dan sopan selama
persidangan serta menunjukkan sikap hormat kepada Majelis Hakim. Hakim ketua sidang
menanyakan kepada saksi keterangan tentang nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal
lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan, selanjutnya apakah ia
kenal terdakwa sebelum terdakwa melakukan perbuatan yang menjadi dasar dakwaan serta
apakah ia berkeluarga sedarah atau semenda dan sampai derajat keberapa dengan terdakwa,
atau apakah ia suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau terikat hubungan
kerja dengannya (pasal 160 KUHAP butir 2). Menyangkut hal ini saksi atau ahli wajib
membawa KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah, Ijazah dan dokumen lainnya yang menyangkut
data dirinya karena hakim dapat saja meminta saksi atau ahli untuk menunjukkannya di awal
persidangan. Sebelum memberikan keterangan, saksi atau ahli wajib mengucapkan sumpah
atau janji menurut agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang
sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya (pasal 160 KUHAP butir 3).
Di dalam berbagai dasar hukum dikatakan bahwa segala sesuatu yang diketahui dokter
dalam melakukan pekerjaannya adalah rahasia kedokteran dan setiap dokter dalam
melaksanakan praktik kedokteran secara khusus dibebankan kewajiban hukum untuk
menyimpan rahasia kedokteran (pasal 1 PP no. 10 tahun 1966, pasal 170 KUHAP, pasal 53
undang-undang no. 23 tahun 1992, pasal 48 undang-undang no. 29 tahun 2004). Namun,
rahasia kedokteran tidak bersifat absolut dan dapat dibuka tanpa dianggap melanggar etika
maupun hukum, salah satunya pada keadaan memenuhi permintaanaparatur penegak hukum
dalam rangka penegakan hukum. Dalam hal ini dokter terpaksa membuka rahasia tanpa izin
pasien karena adanya dasar penghapusan pidana (straifuitsluitingsgroden) yang diatur dalam
pasal 48 KUHP, pasal 50 KUHP, dan pasal 51 KUHP. Penyampaian rahasia ini dapat
dilakukan di persidangan, di depan hakim.
Penyampaian pendapat oleh saksi dan ahli terlebih dahulu harus meminta dan/atau
mendapat izin Ketua Sidang dan setelah diberikan kesempatan oleh Ketua Sidang.11 Seorang
dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya (pasal 7 KODEKI). Saksi ahli haruslah bersikap jujur, obyektif, menyeluruh,
ilmiah dan tidak memihak (imparsial). Ia juga diharapkan untuk menghindari berbicara
terlalu banyak, berbicara terlalu dini, dan berbicara dengan orang yang tidak berhak
mendengar.12 Penyerahan alat bukti atau berkas perkara lainnya melalui panitera
pengganti/petugas persidangan yang ditugaskan untuk itu.
Dalam pelaksanaan persidangan, dokter berhak tidak menjawab pertanyaan yang
diajukan kepadanya apabila pertanyaan tersebut dianggap tidak sesuai ataupun tidak berada
dalam ruang lingkup (wewenang) ilmu kedokteran. Jawaban dari pertanyaan yang tidak
sesuai tersebut disampaikan dalam bahasa yang sopan dan tegas. Sebagai contoh: Maaf Pak
hakim, saya bukan tidak bisa menjawab, namun pertanyaan tersebut untuk saksi mata, bukan
untuk dokter.
Setelah saksi memberi keterangan, ia tetap hadir di sidang kecuali hakim ketua sidang
member izin untuk meninggalkannya (pasal 167 KUHAP butir 1). Sebagai saksi atau ahli
yang telah hadir memenuhi panggilan dalam rangka memberikan keterangan di semua tingkat
pemeriksaan, dokter berhak mendapat penggantian biaya menurut perundang-undangan yang
berlaku. Hak ini disampaikan oleh pejabat yang melakukan pemanggilan kepada dokter
(pasal 229 KUHAP).
Tata cara menjadi saksi ahli
1. Hanya menghadiri peradilan yang mengeluarkan panggilan tertulis untuk perintah
menghadap sidang.
2. Membawa file atau dokumen lengkap yang dibutuhkan di pengadilan sesuai dengan
instruksi yang diberikan.
3. Memperjelas apa bidang keahlian yang diharapkan saat persidangan.
4. Menanyakan dan memperjelas laporan tertulis apa yang dibutuhkan peradilan.
5. Meninjau kembali file dan informasi yang relevan terkait kasus untuk menyegarkan
ingatan, memusatkan perhatian pada fakta-fakta penting dan isu-isu untuk meningkatkan
kredibilitas kesaksian.
6. Memastikan waktu untuk menghadiri persidangan.
7. Menanyakan, apabila dibutuhkan, kapan pertemuan sebelum sidang bisa dilakukan
untuk mencari tahu dibawah kasus apa kesaksian ini dibutuhkan dan siapa yang mengambil
keputusan.
8. Menanyakan apakah terdapat saksi ahli lain yang juga dipanggil di persidangan yang
sama dan kapan waktu mereka ditunjuk untuk hadir. Hal ini untuk mempersiapkan
pertentangan pendapat apabila terdapat perbedaan pemahaman di antara saksi. Sebagai saksi
ahli yang diminta untuk memberikan keterangan, boleh mengajukan waktu menghadiri
persidangan yang berbeda dari saksi ahli lainnya.
9. Mempersiapkan curriculum vitae dan dokumen lain yang berkaitan dengan
pendidikan, pelatihan, pengalaman dan pengetahuan yang terkait saat ini untuk membuktikan
kredibilitas keahlian saksi ahli.
10. Karena saksi ahli bertindak dibawah kode etik dan kerahasiaan, diperlukan
pemahaman yang jelas mengenai perlindungan pengadilan yang dapat diberikan kepada saksi
ahli dan bagaimana penyediaannya untuk menghindari pelanggaran kode etik yang mungkin
timbul selama memberikan kesaksian.

Sumber
Syamsun, A. 2014. Panduan Penulisan Visum et Repertum. Mataram : Arga Puji Press
Susanti, R. 2013. Peran Dokter sebagai Saksi Ahli di Persidangan. [pdf].
http://jurnal.fk.unand.ac.id. Diakses pada tanggal 26 Desember 2014.