Anda di halaman 1dari 10

Lemon grass

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tidak
Angiospermae
termasuk):
(tidak
Monokotil
termasuk):
(tidak
Commelinids
termasuk):
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Cymbopogon
Spesies: C. citratus
Nama binomial
Cymbopogon citratus
(DC.) Stapf,[1] 1906
Serai atau sereh adalah tumbuhan anggota suku rumput-rumputan yang dimanfaatkan sebagai
bumbu dapur untuk mengharumkan makanan.

Minyak serai adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan jalan menyuling bagian atas tumbuhan
tersebut. Minyak serai dapat digunakan sebagai pengusir (repelen) nyamuk, baik berupa tanaman
ataupun berupa minyaknya. Kandungan serai antara lain adalah sitronela, yang tidak disukai oleh
nyamuk. Maka dari itu, serai dapat dibuat menjadi obat nyamuk dan serangga lainnya.
Adas / Jintan

Adas, dari Koehler


Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Apiales
Famili: Apiaceae
Genus: Foeniculum
Spesies: F. vulgare
Nama binomial
Foeniculum vulgare
Mill.
Adas atau adas pedas (Foeniculum vulgare Miller, suku adas-adasan atau Apiaceae) telah lama
dikenal sebagai salah satu komponen pengobatan tradisional. Minyak adas yang dikandung
bijinya menjadi salah satu komponen minyak telon. Adas berasal dari daerah Laut Tengah timur
(Italia ke timur hingga Suriah).Tumbuhannya berbentuk herba yang berbau harum, berwarna
hijau terang, tegak, dan tingginya dapat mencapai dua meter . Daun tumbuh hingga 40 sentimeter
panjang, berbentuk pita, dengan segmen terakhir dalam bentuk rambut, kira-kira selebar 0,5mm.
Bunga yang dihasilkan di ujung tangkai adalah bunga majemuk yang berdiameter 5 hingga
15cm. Setiap bagian umbel mempunyai 20-50 kuntum bunga kuning yang amat kecil pada
pedikel-pedikel yang pendek. Buahnya adalah biji kering dengan panjang dari 4 hingga 9
milimeter , dan lebar separuh panjangnya, dan mempunyai alur. Bijinya yang dikeringkan
disebut biji adas. Daun adas menjadi sumber makanan larva beberapa spesies Lepidoptera,
seperti ngengat Amphipyra tragopoginis dan Papilio zelicaon. Adas juga merupakan salah satu
komoditi ekspor.
(Dialihkan dari Cengkeh)

Cengkih

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Angiospermae
(tidak
Eudikotils
termasuk):
(tidak
Rosids
termasuk):
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Syzygium
Spesies: S. aromaticum
Nama binomial
Syzygium aromaticum
(L.) Merrill & Perry

Cengkih

Cengkih (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut
cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkih adalah
tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara
Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkih ditanam terutama di
Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar; nokia di budidayakan di Zanzibar, India, & Sri
Lanka.

Temu hitam
bunga temu hitam
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Curcuma
Spesies: C. aeruginosa
Nama binomial
Curcuma aeruginosa
Roxb.

Temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) adalah sejenis tumbuhanan yang rimpangnya
dimanfaatkan sebagai campuran obat/jamu. Temu hitam dikenal pula sebagai temu erang, temu
ireng, atau temu lotong.

Deskripsi
Temu hitam adalah terna yang tingginya dapat mencapai 2 m. Batangnya semu, dan tersusun atas
kumpulan pelepah daun[1] yang basah dan berwarna hijau. Daunnya berwarna merah lembayung-
kecoklatan yang berwarna lebih gelap pada sepanjang tulang daunnya.[2] Daunnya tunggal,
panjang, dan terdiri atas 2-9 helai. Helaiannya berbentuk bundar memanjang sampai lanset,
ujung dan pangkalnya runcing, berwarna hijau tua pada kiri-kanan tulang daun. Panjang daun
3184 cm, dengan lebar 1018 cm.[1]

Jahe
Status konservasi
Aman
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tidak
Angiospermae
termasuk):
(tidak
Monokotil
termasuk):
(tidak
Commelinids
termasuk):
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Zingiber
Spesies: Z. officinale
Nama binomial
Zingiber officinale
Roscoe[1]
Jahe (Zingiber officinale), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah
dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa
dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Jahe termasuk suku Zingiberaceae
(temu-temuan). Nama ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh dari kata Yunani zingiberi,
dari Bahasa Sanskerta, singaberi. Jahe dikenal dengan nama umum (Inggris) ginger atau garden
ginger. Di Indonesia jahe memiliki berbagai nama daerah. Di Sumatra disebut halia (Aceh),
beuing (Gayo), bahing (Karo), pege (Toba), sipode (Mandailing), lahia (Nias), sipodeh
(Minangkabau), page (Lubu), dan jahi (Lampung). Di Jawa, jahe dikenal dengan jahe (Sunda),
jae (Jawa), jhai (Madura), dan jae (Kangean). Di Sulawesi, jahe dikenal dengan nama layu
(Mongondow), moyuman (Poros), melito (Gorontalo), yuyo (Buol), siwei (Baree), laia
(Makassar), dan pace (Bugis). Di Nusa Tenggara, disebut jae (Bali), reja (Bima), alia (Sumba),
dan lea (Flores). Di Kalimantan (Dayak), jahe dikenal dengan sebutan lai, di Banjarmasin disebut
tipakan. Di Maluku, jahe disebut hairalo (Amahai), pusu, seeia, sehi (Ambon), sehi (Hila), sehil
(Nusalaut), siwew (Buns), garaka (Ternate), gora (Tidore), dan laian (Aru). Di Papua, jahe
disebut tali (Kalanapat) dan marman (Kapaur).

Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30 hingga 100 cm. Akarnya berbentuk
rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga kemerahan dengan bau menyengat. Daun
menyirip dengan panjang 15 hingga 23 mm dan panjang 8 hingga 15 mm. Tangkai daun berbulu
halus.
Kencur

Kencur (Kaempferia galanga L.) .


Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Subfamili: Zingiberoideae
Genus: Kaempferia
Spesies: K. galanga
Nama binomial

Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon-empon/tanaman


obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Rimpang atau
rizoma tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan
sebagai stimulan. Nama lainnya adalah cekur (Malaysia) dan pro hom (Thailand).
Dalam pustaka internasional (bahasa Inggris) kerap terjadi kekacauan dengan
menyebut kencur sebagai lesser galangal (Alpinia officinarum) maupun zedoary
(temu putih), yang sebetulnya spesies yang berbeda dan bukan merupakan rempah
pengganti. Terdapat pula kerabat dekat kencur yang biasa ditanam di pekarangan
sebagai tanaman obat, temu rapet (K. rotunda Jacq.), namun mudah dibedakan dari
daunnya.

Kencur (nama bahasa Jawa dan bahasa Indonesia) dikenal di berbagai tempat dengan nama yang
berbeda-beda: cikur (bahasa Sunda); ceuko (bahasa Aceh); kaciwer (bahasa Karo); kencor
(Madura) ; cekuh (bahasa Bali); Sekuh atau Sekur (bahasa Sasak), kencur, sukung (bahasa
Melayu Manado); asauli, sauleh, soul, umpa (bahasa-bahasa di Maluku); serta cekir (Sumba).
Berbagai masakan tradisional Indonesia dan jamu menggunakan kencur sebagai bagian resepnya.
Kencur dipakai orang sebagai tonikum dengan khasiat menambah nafsu makan sehingga sering
diberikan kepada anak-anak. Jamu beras kencur sangat populer sebagai minuman penyegar pula.
Di Bali, urap dibuat dengan menggunakan daun kencur.

Temulawak

Bunga temu lawak


Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Subdivisi: Angiospermae
Kelas: Monocotyledonae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Curcuma
Curcuma
Spesies:
xanthorrhiza
Nama binomial
Curcuma xanthorrhiza
Roxb.
Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-
temuan (Zingiberaceae)[1]. Ia berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kemudian menyebar
ke beberapa tempat di kawasan wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya
temu lawak berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina[2] tanaman ini selain di Asia
Tenggara dapat ditemui pula di China, Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika
Serikat dan beberapa negara Eropa. Nama daerah di Jawa yaitu temulawak, di Sunda disebut
koneng gede, sedangkan di Madura disebut temu labak.

Terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1 m tetapi kurang dari 2 m. Batang semu
merupakan bagian dari pelepah daun yang tegak dan saling bertumpang tindih[4], warnanya hijau
atau coklat gelap. Rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berukuran besar,
bercabang-cabang, dan berwarna cokelat kemerahan, kuning tua atau berwarna hijau gelap. Tiap
tunas dari rimpang membentuk daun 2 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai
bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 cm
84 cm dan lebar 10 cm 18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 cm 80 cm, pada
setiap helaian dihubungkan dengan pelepah dan tangkai daun agak panjang. Bunganya berwarna
kuning tua, berbentuk unik dan bergerombol yakni perbungaan lateral,[1]. tangkai ramping dan
sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9cm 23cm dan lebar 4cm 6cm, berdaun pelindung
banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga
berwarna putih berbulu, panjang 8mm 13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan
panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan
ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25cm 2cm dan lebar 1cm, sedangkan
daging rimpangnya berwarna jingga tua atau kecokelatan, beraroma tajam yang menyengat dan
rasanya pahit.

Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temu lawak untuk dibuat
jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-
1,63 % minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Manfaat
lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti
kolesterol, antiinflamasi, anemia, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba.

Kandungan utama rimpang temulawak adalah protein, karbohidrat, dan minyak atsiri yang terdiri
atas kamfer, glukosida, turmerol, dan kurkumin[2]. Kurkumin bermanfaat sebagai anti inflamasi
(anti radang) dan anti hepototoksik (anti keracunan empedu).

Tempuyung yang mempunyai nama Latin ''Sonchus Arvensis'' merupakan salah satu tanaman
obat yang berkhasiat.[1] Selain nama Latin, tempuyung juga memilki nama daerah seperti lobak
air, lempung jombang, galibug, lampenas, dan rayana.[1] Tanaman ini sering kita temukan di
sekitar kita karena dapat tumbuh di antara puing-puing bangunan, tembok, ataupun pinggir jalan.
[1]
Tempuyung termasuk dalam suku Asteraceae yang tumbuh di ketinggian 50-1.600m dpl dan
sangat cocok berada di lingkungan yang memiliki curah hujan merata sepanjang tahun atau
daerah dengan musim kemarau pendek.[1] Sebagai tanaman liar, tempuyung dapat juga
dibudidayakan di dalam pekarangan.[1] Tanaman ini tergolong dalam tumbuhan tak berkayu atau
terna dan menyukai tempat yang langsung terkena sinar matahari serta mudah berkembang biak
dengan biji yang terbawa oleh angin.[2] Adapun tumbuhan ini mengandung kalium, flafonoid,
taraksasterol, inositol, dan yang lain.

Daunnya tunggal berbentuk lonjong dan mempunyai ujung runcing serta berwarna hijau
keunguan, permukaannya licin dan tepinya berombak juga bergigi tak beraturan.[1] Panjang
daunnya kira-kira 6-48 cm dan mempunyai lebar sekitar 3-12 cm.[5] Di dekat pangkal batang,
daun yang bergigi terpusat membentuk roset dan yang terletak di bagian atas berselang-seling
memeluk batang.[1] Daun inilah yang berkhasiat sebagai penghancur batu ginjal.