Anda di halaman 1dari 8

I.

LATAR BELAKANG

Kota merupakan suatu wadah aktivitas mega kompleks baik antara manusia dengan
manusia maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Pertumbuhan kota berbanding lurus
dengan pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi, dan peningkatan tuntutan gaya hidup
serba praktis dan modern. Akibatnya, kota menjadi tidak ramah dengan penduduknya, terjadi
kesenjangan ekonomi dan sosial di setiap sudut kota, timbul kemacetan, polusi menyebar
menyelubungi kota, dan lain sebagainya.

Perencanaan kota merupakan suatu desain dan pengaturan penggunaan ruang yang
berfokus pada bentuk fisik, fungsi ekonomi, dan dampak sosial dari lingkungan perkotaan
serta lokasi kegiatan yang berbeda di dalamnya. Sejak ratusan tahun yang lalu, bukti-bukti
perencanaan kota telah ditemukan di banyak reruntuhan kota-kota kuno di dunia. Hal ini
membuktikan bahwa perencanaan kota merupakan suatu tatanan ilmu yang sudah dipelajari
oleh nenek moyang kita, meski dalam taraf yang masih sangat rendah.

Salah satu cabang dari perencanaan kota adalah perencanaan tata guna lahan (land use
planning). Semakin banyaknya keragaman aktivitas perkotaan menarik banyak masyarakat
untuk mengadu nasib di perkotaan sehingga meninggikan arus urbanisasi. Hal ini
mengakibatkan banyaknya permintaan akan penyediaan lahan untuk menampung penduduk
kota yang jumlahnya terus meningkat. Di sisi lain, lahan merupakan sumberdaya yang sangat
terbatas dan tidak dapat diciptakan atau diperbarui, sehingga masalah yang sering muncul
adalah menjamurnya slum and squatter area pada kawasan perkotaan. Keitidaksiapan
pemerintah kota dalam mengantisipasi pertumbuhan dan perkembangan kota terutama dalam
hal kependudukan ini juga turut menjadi factor utama munculnya area permukiman liar dan
kumuh di kota.

Meningkatnya kebutuhan akan sumberdaya lahan untuk menunjang pembangunan dan


sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan tekanan terhadap pemanfaatan
sumberdaya lahan di Indonesia. Selain itu, pengembangan sumberdaya lahan juga
menghadapi timbulnya konflik kepentingan berbagai sektor yang pada akhirnya masalah
ekonomi menjadi kontra produktif satu dengan lainnya.Keadaan ini diperburuk lagi dengan
sistem peraturan yang dirasakan sangat kompleks dan seringkali tidak relevan lagi dengan
tingkat kesesuaian dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Keadaan ini dapat menyebabkan
sistem pengelolaan sumberdaya lahan yang tidak berkelanjutan dan menyebabkan suatu lahan
menjadi tidak produktif.
Maka dari itulah diperlukan pemahaman mengenai teori-teori mengenai perencanaan
tata guna lahan wilayah untuk dapat menyusun rencana tata guna lahan bagi rencana
pengembangan kota ke depannya. Dengan demikian diharapkan produk rencana terkait guna
lahan dapat dirumuskan dengan memperhatikan keberlanjutan dan produktivitas lahan yang
akan direncanakan.

II. ISI
1. Pengertian Dasar

Lahan adalah keseluruhan kemampuan muka daratan beserta segala gejala di bawah
permukaannya yang bersangkut paut dengan pemanfaatannya bagi manusia. Pengertian
tersebut menunjukan bahwa lahan merupakan suatu bentang alam sebagai modal utama
kegiatan, sebagai tempat di mana seluruh makhluk hidup berada dan melangsungkan
kehidupannya dengan memanfaatkan lahan itu sendiri. Sedangkan penggunaan lahan adalah
suatu usaha pemanfaatan lahan dari waktu ke waktu untuk memperoleh hasil. Lahan
merupakan kesatuan berbagai sumberdaya daratan yang saling berinteraksi membentuk suatu
sistem yang struktural dan fungsional. Sifat dan perilaku lahan ditentukan oleh berbagai
macam sumberdaya serta intensitas interaksi yang berlangsung antar sumberdaya. Faktor-
faktor penentu sifat dan perilaku lahan tersebut terbatas ruang dan waktu. Pengembangan
lahan adalah pengubahan guna lahan dari suatu fungsi menjadi fungsi lain dengan tujuan
untuk mendapat keuntungan dari nilai tambah yang terjadi karena perubahan guna lahan
tersebut.

Tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan
dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsifungsi
tertentu,misalnya fungsi pemukiman, perdagangan, industri, dll. Rencana tata guna lahan
merupakankerangka kerja yang menetapkan keputusan-keputusan terkait tentang lokasi,
kapasitas dan jadwalpembuatan jalan, saluran air bersih dan air limbah, gedung sekolah,
pusat kesehatan, taman dan pusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum lainnya. Tata guna
lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pengelolaan lingkungan.
Keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan konservasi merupakan kunci dari
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Tata guna lahan dan
pengembangan lahan dapat meliputi:
a. Kota, menurut definisi universal, adalah sebuah area urban sebagai puast pemukiman
yang berbeda dari desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk,
kepentingan, kegiatan dan atau status hukum.
b. Perkotaan, merupakan pusat pemukiman yang secara administratif tidak harus berdiri
sendiri sebagai kota, namun telah menunjukkan kegiatan kota secara umum dan berperan
sebagai wilayah pengembangan .
c. Wilayah, merupakan kesatuan ruang dengan unsur-unsur terkait yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan pengamatan administratif pemerintahan ataupun
fungsional.
d. Kawasan, merupakan wilayah yang mempunyai fungsi dan atau aspek/pengamatan
fungsional tertentu.
e. Perumahan, adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal
atau lingkungan hunian yang dilengkapi sarana dan prasarana lingkungan.
f. Permukiman, adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasn lindung ,baik yang
berupa perkotaan maupu pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal
atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yangmendukung kehidupan.

Perencanaan tata guna lahan adalah inti praktek perencanaan perkotaan. Sesuai dengan
kedudukannya dalam prencanaan fungsional, perencanaan tata guna lahan merupakan kunci
untuk mengarahkan pembangunan kota. Hal itu ada hubungannya dengan anggapan lama
bahwa seorang perencana perkotaan adalah seorang yang berpengetahuan secara umum
tetapi memiliki suatu pengetahuan khusus. Pengetahuan khusus kebanyakan perencana
perkotaan ialah perencana tata guna lahan. Pengembangan tata guna lahan yang disesuaiakan
dengan meningkatkan perekonomian suatu kota atau wilayah.

Catanesse (1988: 281), mengatakan bahwa secara umum ada 4 kategori alat-alat
perencanaan tata guna lahan untuk melaksanakan rencana, yaitu:

a. Penyediaan Fasilitas Umum


Fasilitas umum diselenggarakan terutama melalui program perbaikan modal dengan cara
melestarikan sejak dini menguasai lahan umum dan daerah milik jalan (damija).
b. Peraturan-peraturan Pembangunan
Ordonansi yang mengatur pendaerahan (zoning), peraturan tentang pengaplingan, dan
ketentuan-ketentuan hukum lain mengenai pembangunan, merupakan jaminan agar
kegiatan pembangunan oleh sektor swasta mematuhi standar dan tidak menyimpang dari
rencana tata guna lahan.
c. Himbauan, Kepemimpinan, dan Koordinasi
Sekalipun sedikit lebih informal daripada program perbaikan modal atau
peraturanperaturan pembangunan, hal ini dapat menjadi lebih efektif untuk menjamin
agar gagasan-gagasan, data-data, informasi dan risat mengenai pertumbuhan dan
perkembangan masyarakat daat masuk dalam pembuatan keputusan kalangan developer
swasta dan juga instansi pemerintah yang melayani kepentingan umum.
d. Rencana Tata Guna Lahan
Rencana saja sebenarnya sudah merupakan alat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan
serta saran-saran yang dikandungnya selama itu semua terbuka dan tidak basi sebagai
arahan yang secara terus-menerus untuk acuhan pengambilan keputusan baik bagi
kalangan pemerintah maupun swasta. Suatu cara untuk melaksanakan hal itu adalah
dengan cara meninjau, menyusun dan mensahkan kembali rencana tersebut dari waktu ke
waktu. Cara lain adalah dengan menciptakan rangkaian bekesinambungan antara rencana
tersebut dengan perangkat-perangkat pelaksanaan untuk mewujudkan rencana tersebut.

2. Paradigma Penggunaan Lahan

Dalam perencanaan penataan ruang suatu kawasan sangat perlu memperhatikan


perencanaan penggunaan lahannya, karena dalam hakikatnya pada suatu lahan di dalamnya
terjadi interaksi langsung dengan aktivitas manusia (biologis, sosial, budaya) dengan
lingkungannya. Paradigma yang terjadi dalam penggunaan lahan bergeser dari waktu ke
waktu karena adanya beberapa faktor, antara lain:

a. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman


b. Perkembangan kapasitas teknologi
c. Pertumbuhan kesadaran sosial

Begitu pula dalam perencanaan tata guna lahan, paradigma-paradigma yang terjadi di
dalam konteks perencanaan ruang suatu kawasan antara lain:

a. Pemujaan
Suatu penghormatan terhadap fitur-fitur alam (gunung, bukit, hutan, laut) di mana
menganggap hal tersebut sesuatu yang sakral dan dipercaya mempunyai suatu nilai adat
yang dianggap baik dalam kalangan masyarakatnya. Ketika lahan tersebut dianggap
suci/sakral maka akan memunculkan polemik bahwa lahan tersebut tidak dapat diganggu
gugat pemanfaatannya.
b. Eksploitasi
Tingginya permintaan masyarakat akan kebutuhan lahan yang terus meningkat
sedangkan ketersediaan akan lahan yang terbatas sehingga memaksa akan adanya
perubahan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah yang ada.
c. Apresiasi
Suatu penghargaan atau penilaian terhadap suatu lahan yang ada dengan cara mengenali,
menilai dan membandingkan suatu lahan tersebut akan nilai guna lahan tersebut.
d. Konservasi
Upaya untuk mempertahankan, memelihara, memperbaiki atau merehabilitasi, dan
meningkatkan jumlah daya tanah, agar berdayaguna optimum sesuai dengan
pemanfaatan atau fungsinya. Konservasi meliputi masalah-masalah sebagai berikut:
- Benefisiasi, yaitu mempertahankan serta mempertinggi fungsi, manfaat, atau faedah
sumberdaya tertentu.
- Preservasi, yaitu pemeliharaan untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas
sumberdaya tertentu sepanjang waktu.
- Restorasi, yaitu pemeliharaan dan perbaikan untuk meningkatkan manfaat serta
perkembangan sumber-sumber biotik.
- Reklamasi, yaitu mengubah sumber-sumber yang tidak produktif atau tidak berguna
menjadi produktif dan bermanfaat kembali.
- Efisiensi, yaitu pemanfaatan atau pengeluaran sesuatu sumber yang tidak berlebihan
tetapi sesuai dengan keperluan atau kebutuhan.

3. Urgensi Land Use Planning

Mengingat pentingnya tanah bagi kelangsungan hidup manusia karena adanya beberapa
nilai yang terkandung di dalamnya, maka penting pula dilakukan penataan atas segala jenis
aktivitas di dalamnya. Berbagai macam aktivitas manusia, yang seringkali bertentangan satu
sama lain, dapat mengakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam penggunaan lahan.
Pengembangan sebuah kawasan yang mulanya merupakan kawasan pertanian menjadi
kawasan industri tentu saja akan membawa dampak yang tidak ringan. Selain dari segi
lingkungan, dampak yang kemudian muncul adalah adanya perubahan jumlah bangkitan di
kawasan tersebut, perubahan sosial masyarakatnya, hingga kesenjangan fungsi antara
kawasan industri baru dengan kawasan permukiman penduduk di sekitarnya.

Perencanaan tata guna lahan juga diperlukan agar fungsi-fungsi yang direncakan dapat
saling menunjang keberadaannya. Contohnya adalah lahan yang dimanfaatkan sebagai
kawasan perkantoran berada di dekat kawasan komersil atau pemerintahan yang relatif lebih
mudah dijangkau.

Perencanaan tata guna lahan juga diharapkan mampu meminimalkan besarnya bangkitan
pergerakan dari satu tempat ke tempat lain karena adanya aktivitas-aktivitas yang tidak bisa
dipenuhi dalam satu tempat. Karena itulah perencanaan tata guna lahan tidak dapat
dipisahkan dengan sistem transportasi sebab dari adanya suatu guna lahan tertentu sering
diikuti oleh adanya bangkitan transportasi di sekitarnya.

4. Proses Dasar Land Use Planning


Survey pendahuluan untuk memperoleh data dasar, yang meliputi studi pustaka, survey
primer di lapangan, dan mengkompilasi data dasar menggunakan paduan peta tematik. Studi
pustaka ini dipergunakan untuk mengetahui tujuan, prinsip, dan standar minimal terkait
penggunaan suatu guna lahan. Misalnya guna lahan perumahan, perdagangan, industri,
perkantoran, dsb yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Melakukan penilaian kapabilitas lahan dari hasil survey dan menganalisis kesesuaian
lahan dengan aktivitas. Hal ini dilakukan melalui analisis SKL (satuan kemampuan lahan)
yang melihat kondisi fisik dasar suatu wilayah, persebaran sarana, dan tata guna lahan
eksisting untuk mengetahui pola aktivitas eksisting.

Identifikasi sifat dan pola perkembangan kota. Apakah terpusat atau bisa jadi meloncar
(leap-frog). Selain itu juga mengidentifikasi kawasan yang belum berkembang dan pusat-
pusat aktivitas untuk membaca pola pertumbuhan kota dan memprediksi perkembangan di
masa mendatang. Menyiapkan rencana lokasi dan tujuan untuk peruntukkan guna lahan

5. Teori Perencanaan Tata Guna Lahan


5.1 Teori Konsentris
Teori konsentris dikemukakan oleh E.W. Burgess dalam analisisnya pada Kota Chicago
pada tahun 1925 dengan analogi dari dunia hewan di mana suatu daerah akan didominasi
oleh suatu spesies tertentu. Seperti halnya pada wilayah perkotaan akan terjadi
pengelompokan tipe penggunaan lahan tertentu.
5.2 Teori Ketinggian Bangunan
Teori Ketinggian Bangunan dikemukakan oleh Bergel pada tahun 1955 yang
menyebutkan bahwa penggunaan lahan tidak hanya dipertimbangkan dari jaraknya dari
pusat kota saja (distance decay principle from the center) melainkan juga jaraknya dari
tanah (height decay principle from the ground).
5.3 Teori Sektor
Homer Hoyt pada tahun 1939 menyebutkan bahwa pola sektoral yang terjadi pada suatu
wilayah bukanlah suatu hal yang kebetulan tetapi merupakan asosiasi keruangan dari
beberapa variabel yang ditentukan oleh masyarakat. Variabel yang dimaksud merupakan
kecenderungan masyarakat dalam menempati daerah yang mereka anggap nyaman dalam
menjalani kehidupannya sehari-hari.
5.4 Teori Poros
Teori Poros dicetuskan oleh Babcock pada tahun 1932 sebagai respon akan Teori
Konsentris Burgess. Teori ini mendasarkan penggunaan lahan pada peranan sektor
transportasi. Keberadaan jalur transportasi akan menyebabkan distorsi pada pola
konsentris, sehingga daerah yang dilalui oleh jalur transportasi akan memiliki
perkembangan fisik yang berbeda dengan daerah yang tidak dilalui oleh jalur
transportasi.
5.5 Teori Pusat Kegiatan Banyak
Teori Pusat Kegiatan Banyak (Multi Nuclei) dikemukakan oleh Harris and Ulmann pada
tahun 1945 yang menyebutkan bahwa pusat kegiatan tidak selalu berada pada posisi di
tengah-tengah suatu wilayah (center). Lokasi-lokasi keruangan yang terbentuk tidak
ditentukan dan dipengaruhi oleh factor jarak dari CBD sehingga membentuk persebaran
zona-zona yang teratur namun berasosiasi dengan sejumlah faktor yang akan
menghasilkan pola-pola keruangan yang khas.
5.6 Teori Ukuran Kota
Teori Ukuran Kota menyebutkan bahwa kota memiliki 5 tingkatan pertumbuhan sebagai
berikut:
a. Infantile Towns, ditandai dengan distribusi pertokoan dan perumahan yang belum
tertata rapi dan belum ada pabrik-pabrik maufaktur.
b. Juvenile Towns, ditandai dengan adanya gejala difirensiasi zona dan toko-toko serta
perumahan sudah mulai terpisah.
c. Adolescent Towns, ditandai dengan kemunculan pabrik-pabrik manufaktur tetapi
belum ada perumahan kelas tinggi.
d. Early Mature Towns, ditandai dengan sudah adanya segregasi yang jelas antara
perumahan kelas tinggi dengan zona lainnya.
e. Mature Towns, ditandai dengan adanya pemisahan daerah perdagangan, industri,
serta daerah perumahan dengan kelas yang bervariasi.
5.7 Teori Historis
Dalam Teori Historis, perkembangan suatu kota dikaitkan dengan ageing structures,
sequent occupancy, population growth, serta available land. Perkembangan kota terjadi
dalam 3 fase, yaitu:
a. Fase 1, perkembangan transportasi dan komunikasi namun perkembangan kota
terjadi kea rah periphery atau pinggiran.
b. Fase 2, mulai merasakan dampak negative dari desentralisasi seperti pemborosan
infrastruktur, spekulan tanah, dsb.
c. Fase 3, terjadi urban renewal yaitu perpindahan penduduk kembali ke pusat kota.
5.8 Teori Lokasi Von Thunen
Von Thunen mencetuskan teori mengenai lahan kota dalam perspektif ekonomi yaitu
dengan pemodelan lokasi pertanian. Dasar dari Teori Von Thunen adalah konsep sewa
ekonomi (economic rent), yang menyebutkan bahwa:
a. Sewa ekonomi berbanding lurus dengan jarak, sehingga sewa ekonomi juga bisa
disebut sebagai sewa lokasi (location rent).
b. Tipe lahan yang berlainan akan menghasilkan hasil bersih (sewa) yang berlainan
pula.
c. Semua petani akan memproduksi jenis tanaman yang memungkinkannya
menghasilkan sewa tertinggi dan memberikan keuntungan maksimal.
5.9 Teori Nilai Lahan
Teori nilai lahan menyebutkan klasifikasi tinggi rendahnya suatu jenis penggunaan lahan
berdasarkan beberapa faktor, sebagai contoh:
a. Lahan Pertanian, tinggi rendahnya nilai lahan bergantung pada:
- Faktor kesuburan;
- Faktor drainase;
- Faktor aksesibilitas, dsb
b. Lahan Perkotaan, tinggi rendahnya nilai lahan bergantung pada:
- Faktor aksesibilitas lokasi (kemudahan pergerakan);
- Faktor potential shopper;
- Faktor kelengkapan infrastruktur, dsb.
III. KESIMPULAN