Anda di halaman 1dari 16

Pendekatan Klinis dengan Keluhan Demam Tifoid

Verimai Dona Sandora (102011260), Oscar Wiradi Putera (102011404), Anisa Aulia Reffida
(102013553), Andres Vidianto Salim (102014048), Irena (102014054), Ria Novelina
(102014150), Vania Christy (102014201), Muhammad Imran Amin Bin Md Jelani
(102014233)/E7

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telepon : (021) 5694-2061 (hunting), Fax: (021) 563-1731

Abstrak
Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang
terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini dapat ditularkan melalui
makanan atau air yang terkontaminasi. Pada permulaan penyakit, biasanya tidak tampak
gejala atau keluhan dan kemudian timbul gejala seperti demam sore hari dan serangkaian
gejala infeksi pada saluran cerna. Diagnosis demam tifoid ditegakkan berdasarkan gambaran
klinis dan pemeriksaan tambahan dari laboratorium. Terapi untuk demam tifoid meliputi
istirahat, pemberian antimikroba, serta nutrisi dan cairan yang adekuat. Strategi pencegahan
meliputi higiene perorangan , sanitasi lingkungan, penyediaan air bersih sampai dengan
penggunaan vaksin.

Kata kunci : demam tifoid

Abstract
Typhoid fever is a systemic infectious disease caused by Salmonella typhi are still
found widely in many developing countries which are mainly located in the tropics and
subtropics. This disease can be transmitted through contaminated food or water. At the onset
of the disease usually do not appear symptoms or complaints and then symptoms like fever
afternoon and a series of symptoms of infection in the gastrointestinal tract. Diagnosis of
typhoid fever is confirmed by clinical features and additional checks of the laboratory.
Treatment of typhoid fever include rest, giving antimicrobials, as well as adequate nutrition
and fluids. Preventive strategies include personal hygiene, environmental sanitation, clean
water supply through the use of vaccines.

Keywords : typhoid fever

1 | Page
Pendahuluan
Demam merupakan kenaikan suhu tubuh di atas variasi sirkardian yang normal
sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus
anterior. Suhu tubuh normal dapat dipertahankan, ada perubahan suhu lingkungan, karena
adanya kemampuan pada pusat termoregulasi untuk mengatur keseimbangan panas yang
diproduksi oleh jaringan, khususnya oleh otot dan hati, dengan panas yang hilang. Dalam
keadaan demam, keseimbangan tersebut bergeser hingga terjadi peningkatan suhu dalam
tubuh. Hipertermia merupakan kenaikan suhu di atas titik penyetelan (set point) hipotalamus
sebagai akibat dari kehilangan panas yang tidak memadai. Dalam keadaan normal, suhu
tubuh adalah 36,8 0,4C.1

Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang
terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi,
kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar
higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.2

Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan
penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis pasti.
Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan
laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak
ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit
lain pada anak, terutama pada minggu pertama sakit. Hal ini menunjukkan perlunya
pemeriksaan penunjang laboratorium untuk konfirmasi penegakan diagnosis demam tifoid.2,3

Anamnesis
Dokter sebagai petugas medis, dalam mengobati pasiennya wajib mengetahui apa
yang dikeluhkan oleh pasien hingga pasien datang kepada dokter. Untuk mengetahui apa
yang dikeluhkan pasien serta data-data pendukung yang diperlukan dari pasien, maka dokter
melakukan anamnesis. Anamnesis lebih baik dilakukan dalam suasana nyaman dan santai.
Anamnesis dapat dilakukan secara auto-anamnesis atau alo-anamnesis. Pada auto-anamnesis,
dokter dapat langsung bertanya kepada pasien. Sedangkan alo-anamnesis, dokter bertanya
pada keluarga terdekat ataupun orang terdekat yang mengetahui kondisi pasien.3

Anamnesis sendiri terdiri dari beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan kita
untuk dapat mendiagnosa penyakit apa yang diderita oleh pasien. Pertanyaan tersebut
meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
riwayat kesehatan keluarga dan riwayat pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya,
kebiasaan, obat-obatan, lingkungan).4

Dalam anamnesis, dokter wajib mengetahui mengenai identitas yang meliputi nama,
umur, jenis kelamin pasien. Jika pasien tersebut tidak sadar, maka tanyakan identitas pasien
terhadap orang yang dekat dengan pasien. Setelah menanyakan identitas, dokter bertanya

2 | Page
tentang keluhan utama yang membuat pasien tersebut datang ke dokter dan juga bertanya
sejak kapan keluhan tersebut diderita pasien. Pertanyaan selanjutnya mengenai riwayat
penyakit yang diderita pasien. Pertanyaan tersebut mengenai penyebab yang dikeluhkan
pasien, adanya perbaikan ataupun perburukan keadaan, jika ada perbaikan keadaan
ditanyakan juga penyebab keadaan membaik dan jika semakin buruk, tanyakan juga
penyebabnya, dan tanyakan pula waktu keluhan seperti keluhan pada setiaap saat atau hanya
waktu tertentu. Pertanyaan tentang riwayat penyakit dahulu, dokter bertanya tentang
pernahkah dahulu pasien mengalami keluhan yang sama. Dokter juga wajib menanyakan
kesehatan keluarga pasien untuk mengetahui lingkungan keluarga pasien. Selain itu, dokter
menanyakan keadaan sosial pasien serta gaya hidup ataupun makanan yang biasa pasien
makan.4,5

Selanjutnya, dokter mulai mengarahkan pertanyaan-pertanyaan. Beberapa pertanyaan


yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk pasien tersebut, ialah :

1. Kapan mulai timbul demam?


2. Sudah berapa lama demam berlangsung?
3. Apakah demamnya timbul secara mendadak atau perlahan?
4. Apakah demamnya timbul di pagi hari, sore hari atau malam hari?
5. Apakah demam naik turun?
6. Apakah demamnya disertai pusing, nyeri perut, mual dan muntah, serta mimisan?
7. Apakah sebelumnya ada kegiatan berpergian ke suatu tempat?
8. Apakah bapak/ibu pernah berobat sebelumnya atau sudah pernah dirawat sebelumnya
dengan demam seperti ini?
9. Apakah ada gejala-gejala lain yang menyertai demam?
10. Apakah disertai dengan susah buang air besar?
11. Apakah sebelumnya bapak/ibu makan makanan di pinggir jalan?
12. Bagaimana sanitasi lingkungan di sekitar tempat tinggal? Apakah bersih atau tidak?

I. Tifoid

Pada kasus tifoid, pasien akan datang dengan keluhan demam, demamnya menurun pada
pagi hari dan meninggi pada sore hari. Selain itu, merasa sakit perut, pusing mual dan muntah
yang sakitnya pada bagian perut sebelah kiri.

II. Malaria

Pada kasus Malaria, pasien akan demam dengan disertai menggigil. Berkeringat dan
dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot dan pegal - pegal.

III. Demam Berdarah

Pada demam berdarah dengue (DBD) ditemukan demam yang pada awalnya akut, cukup
tinggi dan kontinu. Demam ini berlangsung selama dua hingga tujuh hari. Selain itu, didapat
juga manifestasi pendarahan seperti ptekie (bercak merah dalam yang merupakan pendarahan
kecil di bawah kulit), ekimosis (lesi berukuran lebih besar), purpura (area kecil pendarahan
kulit, dilihat sebagai bintik merah keunguan yang tidak hilang bila ditekan), epitaksis
(pendarahan hidung), gusi berdarah, hematemesis (gejala muntah darah) atau melena

3 | Page
(keluarnya feses disertai darah berwarna gelap). Terjadi juga pembesaran hati (hepatomegali),
dan syok yang ditandai dengan denyut nadi yang cepat dan lemah, kulit yang lembap dan
dingin, serta kesadaran yang menurun.

Ada juga pasien yang mengadu mengalami nyeri kepala, nyeri retro-orbital terutama
apabila menggerakkan bola mata, penurunan nafsu makan (anoreksia), lemah badan
(malaise), nyeri sendi dan tulang, serta wajah yang kemerah-merahan (flushing), dan juga
terdapat ruam kulit.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat dimulai dengan mengetahui tingkat kesadaran pasien,
pemeriksaan tanda vital pasien seperti suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan,
tekanan darah, pemeriksaan abdomen.

1. Pemeriksaan kesadaran
Tingkat kesadaran pasien ada enam yaitu compos mentis (sadar sepenuhnya, baik
terhadap dirinya maupun terhadap lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan
pemeriksa dengan baik), apatis (kurang memberikan respon terhadap sekelilingnya atau
bersifat acuh tak acuh terhadap sekelilingnya), delirium (penurunan kesadaran disertai
kekacauan motorik dan siklus tidur bangun yang terganggu. Pasien tampak gaduh,
gelisah, kacau, disorientasi dan meronta-ronta), somnolen (keadaan mengantuk yang
masih dapat pulih penuh bila dirangsang, tetapi bila rangsang berhenti, pasien akan
tertidur kembali), sopor (keadaan mengantuk yang dalam. Pasien masih dapat
dibangunkan dengan rangsang yang kuat, misalnya rangsang nyeri, tetapi pasien tidak
terbangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawaban verbal yang baik), semi koma
(penurunan rangsangan yang tidak memberikan respon terhadap rangsangan verbal, dan
tidak dapat dibangunkan sama sekali, tetapi refleks pupil dan kornea masih baik), coma
(tidak sadar, dan tidak ada reaksi terhadap rangsangan apapun juga). 5
2. Pemeriksaan suhu tubuh
Pemeriksaan suhu tubuh dapat diukur melalui oral, rektal, aksila maupun telinga. Suhu
tubuh pada manusia, normalnya 36,5C sampai 37,5C.
3. Pemeriksaan nadi
Pemeriksaan nadi merupakan pemeriksaan gelombang aliran darah yang dipompa oleh
jantung. Denyut jantung normal pada manusia dewasa adalah 70 - 80 kali per satu menit.
Diatas 80 (takikardia) atau dibawah 70 (brakikardia).
4. Pemeriksaan tekanan darah
Pemeriksaan tekanani darah untuk mengetahui jumlah darah yang diedarkan oleh jantung
setiap terjadi kontraksi. Normalnya tekanan darah manusia adalah 120/70 mmHg.
5. Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terdapat pada
organ-organ di daerah perut. Pemeriksaan abdomen dibagi menjadi empat yaitu inspeksi,
palpasi, perkusi, auskultasi. Pemeriksaan abdomen biasanya dilakukan berdasarkan
kuadran-kuadran yang terdapat di daerah perut, yaitu epigastriurn, umbilical dan pubic.

Pemeriksaan Penunjang

4 | Page
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menunjang hasil anamnesis kita terhadap
pasien. Pemerikasaan laboratorium juga dapat digunakan sebagai bukti penguat diagnosis
kita. Seperti pada kasus yang diduga terkena infeksi dari Salmonella thypi, pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan antara lain adalah uji widal, uji tubex, uji typidot, uji IgM
dipstick dan kultur darah.

Uji widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman Salmonella thypi.
Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antar antigen kuman Salmonella thypi dengan
antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Uji widal adalah untuk
menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita demam tifoid yaitu : Aglutinin O (dari
tubuh kuman), aglutinin H (flagella kuman), dan c aglutinin Vi ( simpai kuman). Dari ketiga
aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid.
Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan terinfeksi. Pembentukan aglutinin mulai
terjadi pada akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai
puncak pada minggu ke-empat, dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut
mula-mula timbul O, kemudian diikuti aglutinin H. Pada orang yang telah sembuh aglutinin
O masih dijumpai setelah 4-6 bulan, sedang aglutinin H menetap lebih lama antara 9-12
bulan. Oleh karena itu uji widal bukan untuk menentukan kesembuhan penyakit.6

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal yaitu :

1. Pengobatan dini dengan antibiotik


2. Gangguan pembentukan antibodi dan pemberian kortikosteroid
3. Waktu pengambilan darah
4. Daerah endemik atau non endemik
5. Riwayat vaksinasi
6. Reaksi anamnestik, yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi bukan demam tifoid
akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi
7. Faktor teknik pemeriksaan laboratorium, akibat aglutinasi silang, dan strain salmonella
yang digunakan untuk suspensi antigen. Saat ini belum ada kesamaan pendapat mengenai
titer aglutinin yang bermakna diagnostik.

Uji tubex merupakan uji semi kuantitatif kolometrik yang cepat (beberapa menit) dan
mudah untuk dikerjakan. Uji ini mendeteksi antibodi anti-Styphi O9 pada serum pasien,
dengan cara menghambat ikatan antara IgM anti O9 yang terkonjugasi pada partikel latex
yang berwarna dengan lipopolisakarida Salmonella thypi yang terkonjugasi pada partikel
magnetic latex. Hasil positif uji tubex ini menunjukkan terdapat infeksi salmonella serogroup
D walau tidak spesifik menunjukkan pada Salmonella thypi. Infeksi oleh Salmonella
parathypi akan member hasil negative.

Uji typhidot dapat mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang terdapat pada protein
membran luar Salmonella typhi. Hasil positif pada uji typhidot didapatkan 2-3 hari setelah

5 | Page
infeksi dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM dan IgG terhadap antigen
Salmonella thypi seberat 50 KD, yang terdapat pada strip nitroselulosa.

Uji IgM Dipstick secara khusus mendeteksi antibody IgM spesifik terhadap
Salmonella thypi pada spesimen serum atau whole blood. Uji ini menggunakan strip yang
mengandung antigen lipopolisakarida (LPS) Salmonella thypi dan anti IgM (sebagai kontrol),
reagen deteksi yang mengandung anti IgM yang dilekati dengan lateks berwarna, cairan
membasahi strip sebelum diinkubasi dengan reagen dan serum pasien , tabung uji. Komponen
perlengkapan ini stabil untuk disimpan selama dua tahun pada suhu 4-25 0C di tempat kering
tanpa paparan sinar matahari. 6,7

Kultur Darah merupakan salah satu dari sekian banyak tes yang dilakukan untuk
mengetahui adanya salmonella. Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid,
akan tetapi hasil negative tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin disebabkan
beberapa hal sebagai berikut : 1) telah mendapat terapi antibiotik. Bila pasien sebelum
dilakukan kultur darah telah mendapat antibiotik, pertumbuhan kuman dalam media biakan
terhambat dan hasil mungkin negative, 2) volume darah yang kurang (diperlukan kurang
lebih 5cc darah). Bila darah yang dibikkan sedikit maka hasil negative. Darah yang diambil
sebaiknya secara bedside langsung dimasukan ke dalam media cair empedu untuk
pertumbuhan kuman, 3) riwayat vaksinasi. Vaksinasi di masa lampau menimbulkan antibodi
dalam darah pasien. Antibodi (aglutinin) dapat menekan bakteremia hingga biakan darah
dapat negative ,4) saat pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat aglutinin
semakin meningkat.7
Etiologi
Demarn tifoid timbul akibat infeksi oleh bakteri golongan Salmonella (Salmonella
thypi yang memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan. Bakteri Salmonella dapat
menyebar dari kotoran penderita dernam tifoid saat sakit maupun yang dalam masa
penyembuhan.
Pada masa penyembuhan, penderita masih mengandung Salmonella sp di dalam
kandung empedu atau di dalarn ginjal. Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak akan
menjadi karier sementara, sedangkan 2% yang lain akan menjadi karier yang menahun.
Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal type) sedangkan
yang lain termasuk urinary type.
Salmonella thypi merupakan basil gram (-), bergerak dengan rambut getar, tidak
berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen :

6 | Page
1. Antigen O Somatik, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida
2. Antigen H Flagel, menyebar dan bersifat termolabil
3. Antigen V Kapsul, merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O
antigen terhadap fagositosis.7

Epidemiologi

Surveilans Departemen Kesehatan RI, frekuensi kejadian demam tifoid di Indonesia


pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan frekuensi menjadi 15,4
per 10.000 penduduk. Dari survey berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981 sampai
dengan 1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8% .

Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi
lingkungan; di daerah rural (Jawa Barat) 157 kasus per 100.000 penduduk, sedang di daerah
urban ditemukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedaan insiden di perkotaan
berhubungan erat dengan persediaan air bersih yang belum memadai serta sanitasi
lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi syarat kesehatan
lingkungan.

Case fatality rate (CFR) demam tifoid di tahun 1996 sebesar 1.08% dari seluruh
kematian di Indonesia. Namun demikian berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga
Departemen Kesehatan RI tahun 1995 demam tifoid tidak termasuk dalam 10 penyakit
dengan mortalitas tinggi.8
Patogenesis
Masuknya kuman Salmonella thypi ke dalam tubuh manusia terjadi melalui makanan
yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos
masuk dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa
(IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel (terutama sel-M) dan
selanjutnya ke lamina propria. Di lamina propria kuman berkembang biak dan difagosit oleh
sel-sel fagosit terutama makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak dalam
makrofag. Dan selanjutnya dibawa ke plak peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar
getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di
dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama)
yang asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikulo endothelial tubuh terutama hati
dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian
berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi

7 | Page
darah lagi mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya dengan desertai tanda-tanda dan
gejala penyakit infeksi sistemik.
Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, dan
bersama cairan empedu diekskresikan secara intermiten ke dalam lumen usus. Sebagian
kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah
menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktifasi
dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator
inflamasi sistemik seperti demam, malaise, myalgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas
vaskular, gangguan mental, dan koagulasi.
Di dalam plak peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hyperplasia jaringan
(Salmonella thypi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat,
hyperplasia jaringan dan nekrosis organ). Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi
pembuluh darah sekitar plak peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hyperplasia akibat
akumulasi sel-sel mononuclear di dinding usus. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat
berkembang hingga ke lapisan otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi.
Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya
komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular, pernapasan, dan gangguan
organ lainnya.8
Prognosis
Penegakan diagnosis sedini mungkin sangat bermanfaat agar bias terapi yang tepat
dan meminimalkan komplikasi. Pengetahuan gambaran klinis penyakit ini penting untuk
membantu mendeteksi secara dini. Walaupun pada kasus tertentu dibutuhkan pemeriksaan
tambahan untuk membantu menegakkan diagnosis.
Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang
timbul sangat bervariasi dari ringan sampai berat, dari asimptomatik hingga gambaran
penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian.
Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa
dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot,
anoreksi, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, dan
epiktasis.
Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat. Sifat deman adalah
meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua
gejala-gejala semakin jelas berupa demam, bradikardia relative (peningkatan suhu 1 0 C tidak

8 | Page
diikuti peningkatan denyut nadi 8 kali permenit), lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi
dan ujung merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, ganguan mental
berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis. Roseolae jarang ditemukan pada
orang Indonesia.
Gambaran Klinik
Minggu Pertama (awal terinfeksi)
Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit itu pada awalnya sama
dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang berkepanjangan yaitu
setinggi 39c hingga 40c, sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk,
dengan nadi antara 80-100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin cepat dengan
gambaran bronkitis kataral, perut kembung dan merasa tak enak, sedangkan diare dan
sembelit silih berganti. Pada akhir minggu pertama, diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada
penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta bergetar atau tremor. Epistaksis
dapat dialami oleh penderita sedangkan tenggorokan terasa kering dan meradang. Jika
penderita ke dokter pada periode tersebut, akan menemukan demam dengan gejala-gejala di
atas yang bisa saja terjadi pada penyakit-penyakit lain juga. Ruam kulit (rash) umumnya
terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen disalah satu sisi dan tidak merata,
bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari, kemudian hilang dengan sempurna.
Roseola terjadi terutama pada penderita golongan kulit putih yaitu berupa makula merah tua
ukuran 2-4 mm, berkelompok, timbul paling sering pada kulit perut, lengan atas atau dada
bagian bawah, kelihatan memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat, purpura kulit yang
difus dapat dijumpai. Limpa menjadi teraba dan abdomen mengalami distensi. 8,9
Minggu Kedua
Jika pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, yang
biasanya menurun pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena itu,
pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam keadaan tinggi (demam). Suhu
badan yang tinggi, dengan penurunan sedikit pada pagi hari berlangsung. Terjadi perlambatan
relatif nadi penderita. Yang semestinya nadi meningkat bersama dengan peningkatan suhu,
saat ini relatif nadi lebih lambat dibandingkan peningkatan suhu tubuh. Gejala toksemia
semakin berat yang ditandai dengan keadaan penderita yang mengalami delirium, somnolen,
stupor, koma dan psikosis. Gangguan pendengaran umumnya terjadi. Lidah tampak kering,
merah mengkilat. Nadi semakin cepat sedangkan tekanan darah menurun, sedangkan diare
menjadi lebih sering yang kadang-kadang berwarna gelap akibat terjadi perdarahan.

9 | Page
Pembesaran hati dan limpa. Perut kembung dan sering berbunyi. Gangguan kesadaran.
Mengantuk terus menerus, mulai kacau jika berkomunikasi dan lain-lain.
Minggu Ketiga
Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu
jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan
berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi
perdarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus.
Sebaliknya jika keadaan makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya
tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi dan
inkontinensia urin.
Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen sangat meningkat
diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps. Jika denyut nadi sangat
meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah
terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin, gelisah, sukar bernapas dan kolaps dari
nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial
toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid pada
minggu ketiga.
Minggu keempat
Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai
adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.
Relaps
Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan demikian juga hanya
menghasilkan kekebalan yang lemah, kekambuhan dapat terjadi dan berlangsung dalam
waktu yang pendek. Kekambuhan dapat lebih ringan dari serangan primer tetapi dapat
menimbulkan gejala lebih berat daripada infeksi primer tersebut. Sepuluh persen dari demam
tifoid yang tidak diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps.9

I. Demam dengue berdarah


Pada bayi dan anak-anak : demam dan munculnya ruam.
Remaja dan dewasa :
demam tinggi
sakit kepala parah
nyeri di belakang mata
nyeri pada sendi dan tulang

10 | P a g e
mual dan muntah
ruam pada kulit.
Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah
atau trombosit (trombositopenia)
Pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna
Kencing berdarah (hematuria)
Pendarahan berat saat menstruasi (menorrhagia)
II. Malaria
demam
arthralgia (sakit sendi)
muntah
anemia disebabkan hemolysis dan hemoglobinuria
kejang (convulsion)
perasaan mencucuk pada kulit
pengulangan berkala rasa sejuk diikuti dengan kekejangan dan demam serta
berpeluh selama empat hingga enam jam, berlaku setiap dua hari bagi jangkitan P. vivax dan
P. ovale, sementara setiap tiga hari bagi P. malariae.
Komplikasi

1. Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
b. Perforasi Usus
c. Ileus paralitik
2. Komplikasi Ekstra Intestinal
a. Komplikasi Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan septik), miokarditis,
trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, dan /atau Disseminted intravascular
Coagulation (DIC)
c. Komplikasi paru : Pneumonia,empiema,dan pleuritis
d. Komplikasi hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis
e. Komplikasi ginjal : glomerulonefritis,pielonefritis, dan perinefritis
f. Komplikasi tulang : osteomielitis,periostitis,spondilitis dan Artritis
g. Komplikasi Neuropsikiatrik : Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer,
sindrom guillain-barre, psikosis dan sindrom katatonia9,10
Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan cara menguji sampel darah untuk memastikan


keberadaan bakteri Salmonella sp dalam darah penderita, dengan membiakkan darah pada

11 | P a g e
hari 14 yang pertama dari penyakit. Selain itu tes widal (O dah H agglutinin) mulai positif
pada hari kesepuluh dan titer akan semakin meningkat sampai berakhirnya penyakit.
Pengulangan tes widal selang 2 hari menunjukkan peningkatan progresif dari titer agglutinin
(diatas 1:200) menunjukkkan diagnosis positif dari infeksi aktif demam tifoid.
Biakan tinja yang dilakukan pada minggu kedua dan ketiga serta biakan urin pada
minggu ketiga dan keempat dapat mendukung diagnosis dengan ditemukannya Salmonella.
Gambaran darah juga dapat membantu menentukan diagnosis. Jika terdapat lekopeni
polimorfonuklear dengan limfositosis yang relatif pada hari kesepuluh dari demam, maka
arah demam tifoid menjadi jelas. Sebaliknya jika terjadi lekositosis polimorfonuklear, maka
berarti terdapat infeksi sekunder bakteri di dalam lesi usus. Peningkatan yang cepat dari
lekositosis polimorfonuklear ini mengharuskan kita waspada akan terjadinya perforasi dari
usus penderita.10
Diagnosis Banding
1. Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah
suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes
aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk
tersebut. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3
dan DEN-4. Pada DBD terjadi demam, nyeri kepala, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai
leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diathesis hemoragik. Akan tetapi
demam pada demam berdarah dengue bersifat bifasik yang naik turun tidak teratur, berbeda
dengan demam tifoid yang demamnya sepanjang hari. Pada DBD terjadi perembesan plasma
yang ditandai dengan hemokosentrasi (peningkatan hematokrit) atau pengumpulan cairan di
rongga tubuh . sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah
dengue yang ditandai oleh renjatan / syok.
Dengan beratnya DBD secara klinis dibagi sebagai berikut :
1) Derajat I (ringan), terdapat demam mendadak selama 2-7 hari disertai gejala klinis
lain dengan manifestasi perdarahan teringan, yaitu uji torniquet positif.
2) Derajat II (sedang), ditemukan pula perdarahan kulit dan manifestasi perdarahan lain.
3) Derajat III, ditemukan tanda-tanda dini renjatan.
4) Derajat IV, terdapat syok berat dengan nadi tidah dapat teraba dan tekanan darah tidak
dapat diukur.
2. Malaria

12 | P a g e
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang
menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah.
Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles dengan gambaran penyakit
berupa demam yang sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan
gejala oleh karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati dan ginjal.
Demam pada malaria adalah demam intermitten, dimana suhu badan turun ke tingkat
normal selama beberapa jam dalam satu hari. Berbeda dengan demam tifoid yang
tergolong demam kontinyu, demam sepanjang hari. 10,11
3. Demam Chikungunya
Chikungunya adalah sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang disebarkan
oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Gejala utama terkena penyakit
chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian.
Bahkan karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga
timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau
flu tulang. Gejala-gejalanya memang mirip dengan infeksi virus dengue dengan sedikit
perbedaan pada hal-hal tertentu. Virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita
lain melalui nyamuk, antara lain aedes aegypti. Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes
aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia,
baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan
mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima
hari. Pada orang dewasa, gejala nyeri dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan
kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual
sampai muntah. Meskipun sama-sama disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk
aedes aegypti pula, tetapi berbeda dengan demam berdarah dengue. Pada chikungunya
tidak ada perdarahan hebat, renjatan, maupun kematian. Dengan istirahat cukup, obat
demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini biasanya sembuh
sendiri dalam 7 hari.
4. Leptospirosis
Salah satu penyakit yang dapat terjadi setelah banjir adalah leptospirosis. Leptospirosis
adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang manusia dan hewan. Penyakit menular ini
adalah penyakit hewan yang dapat menjangkit manusia yang disebabkan oleh spirocheta
dari genus leptospira. Leptospirosis sama-sama mengalami demam, tetapi pada
leptospirosis terdapat nyeri tiba-tiba di kepala, terutama bagian frontal, nyeri otot yang
hebat terutama pada paha, betis, dan pinggang disertai nyeri tekan.11
Penatalaksanaan

13 | P a g e
Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu:
1. Istirahat dan perawatan.
Dengan tirah baring dan perawatan profesinal bertujuan untuk mencegah komplikasi.
Dalam perawatan perlu dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perklengkapan
pakaian yang di pakai.
2. Diet dan terapi penunjang.
Makanan yang kurang akan menurukan keadaan umum dan gizi penderita akan semakin
turun dan proses penyembuhan akan menjadi lama. Beberapa peneliti menunjukkan
dengan makan padat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (menghindari
sementara sayuran berserat) dapat di beri dengan aman pada pasien demam tifoid
3. Pemberian antimikroba
Obat-obat anti mikroba yang sering digunakan untuk mengobati demam tifoid adalah
kloramfenikol, tiamfenikol, kotrimoksazol, ampisilin dan amoksilin, golongan
fluorokuinon, azitromisin.
Kombinasi obat anti mikroba atau lebih diindikasi hanya pada keadaan tertentu saja
antara lain toksik tifoid, peritonitis atau perforasi, serta syok septic, yang pernah terbukti
ditemukan 2 macam organism ddalam kultur darah selain kuman salmonella. Pada
wanita hamil obat yang dianjurkan adalah ampisilin, amoksilin, dan sefriakson selainnya
dikawatirkan dapat terjadi partus premature, kematian fetus intrauterine dan grey
sindrom pada neonates.12

Pencegahan
Vaksin tifoid per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%. Vaksin ini
hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella
typhi dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi (termasuk petugas laboratorium dan para
pelancong).
Pencegahan demam tifoid diupayakan melalui berbagai cara : umum dan
khusus/imunisasi. Termasuk cara umum antara lain adalah peningkatan higiene dan sanitasi
karena perbaikan higiene dan sanitasi saja dapat menurunkan insidensi demam tifoid
(penyediaan air bersih, pembuangan dan pengelolaan sampah).
Menjaga kebersihan pribadi dan menjaga apa yang kita minum atau makan tidak
tercemar Salmonella typhi. Pemutusan rantai transmisi juga penting yaitu pengawasan
terhadap penjual (keliling) minuman/makanan.

14 | P a g e
Pada saat ini telah ada di pasaran berbagai vaksin untuk pencegahan demam tifoid.
Vaksin chotypa dan kuman dimatikan (whole cell) tidak digunakan lagi karena efek samping
yang terlalu berat dan daya lindungnya pendek.12
Kesimpulan
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Salmonella Thypi.
Penyakit ini dapat menular melalui makanan maupun minuman. Tifoid dapat didiagnosa
dengan mudah melalui uji widal. Namun komplikasi dari tifoid dapat menimbulkan kematian.
Sehingga tifoid masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia.

Daftar Pustaka
1. Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci & Kasper. Harrison : Prinsip prinsip
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 13. Jakarta : EGC; 1999. h.97-104.
2. Cleary TG. Salmonella. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Eds.
Nelson Textbook of Pediatrics, edisi 16. Philadelphia : WB Saunders; 2005.p.842-8.
3. Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Demam berdarah dengue. Dalam:
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-5. Jakarta : Interna Publishing; 2009. h. 2773-9.
4. Tumbelaka AR, Retnosari S. Imunodiagnosis Demam Tifoid. Dalam : Kumpulan
Naskah Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XLIV. Jakarta :
BP FKUI; 2005.h.65-73.
5. Davey P. At a glance medicine. Jakarta : Erlangga; 2005.h.5.
6. Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics
Update. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2003.h. 37-46.

15 | P a g e
7. Brooks GF, Butel JS, Ornston LN. Mikrobiologi kedokteran. Edisi 20. Jakarta:
penerbit buku kedokteran EGC; 2006.
8. Widodo D. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan
Penyakit Tropis. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI; 2008.h. 367-375.
9. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam jilid 3. Edisi 5. Jakarta : Interna Publishing; 2009.h.2767-993.
10. Pawitro UE, Noorvitry M, Darmowandowo W. Demam Tifoid. Dalam : Soegijanto S,
Ed. Ilmu Penyakit Anak : Diagnosa dan Penatalaksanaan, edisi 1. Jakarta : Salemba
Medika; 2005.h.1-43.
11. Masjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : media aesculapius;
2005.
12. Gunawan SG, Nafrialdi RS, Elysabeth. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta:
departemen farmakologi dan terapeutik FKUI; 2009.

16 | P a g e