Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN MORBILI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Keperawatan Anak

Dosen Pengampu : Hj. RR. Sri Sedjati.Skep.Ns.Mkes

Disusun Oleh :

Khairunisa P1337420314051

Arie Helsa Sahara P1337420314052

Safira Uswatun Nimah P1337420314053

Icha Safitri Dewi P1337420314054

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

PRODI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN

2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat
dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik dan tepat
waktu.

Makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Morbili disusun untuk memenuhi


tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak tahun pelajaran 2015/2016.

Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini tanpa adanya bimbingan,


dorongan, motivasi, dan doa, makalah ini tidak akan terwujud. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :

1 Ibu RR. Sri Sedjati.Skep.Ns Mkes , selaku dosen mata kuliah Keperawatan anak
yang telah membimbing dalam kegiatan belajar mengajar.
2 Semua pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan makalah yang tidak
bisa penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis menyadari makalah ini masih banyak kesalahan, baik dalam
penulisan maupun informasi yang terkandung didalam makalah ini, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik maupun saran yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan
dimasa yang akan datang.

Pekalongan,15 Agustus 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

JUDUL.................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR.............................................................................. 2

DAFTAR ISI........................................................................................... 3

BAB I PEMBAHASAN.......................................................................... 4

A. Latar Belakang.................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah............................................................................. 5
C. Tujuan Penulisan............................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN........................................................................ 6

A. Definisi.............................................................................................. 6
B. Etiolgi................................................................................................ 6
C. Menifestasi Klinis............................................................................. 7
D. Patofisiologi...................................................................................... 8
E. Patways.............................................................................................. 9
F. Komplikasi........................................................................................ 10
G. Pemeriksaan dianostic....................................................................... 10
H. Penatalaksanaan................................................................................ 10
I. Asuhan Keperawatan......................................................................... 11

BAB III PENUTUP................................................................................. 24

A. Kesimpulan........................................................................................ 24

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 25

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini mudah
menular kepada anak anak sekitarnya, oleh karena itu, anak yang menderita Campak
harus diisolasi untuk mencegah penularan. Campak disebabkan oleh kuman yang
disebut Virus Morbili. Anak yang terserang campak kelihatan sangat menderita, suhu
badan panas, bercak bercak seluruh tubuh terkadang sampai borok bernanah.
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita
morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6
bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat
menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2
bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili
pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan
kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang
kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.
Morbili / campak adalah penyakit akut yang disebabkan virus campak yang
sangat menular pada umumnya menyerang anak-anak. Menurut kriteria
diagnostiknya, ada 4 stadium campak meliputi stadium tunas, stadium prodormal /
kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Gejala klinis morbili meliputi
demam mencapai 400C, pilek, batuk, konjungtivitis, ruam erupsi makulopapular, dan
kopliks spot (merupakan tanda pathognomonis penyakit campak, bentuk bintik tidak
teratur dan kecil berwarna merah terang, pada pertengahan di dapat noda putih
keabuan, mula-mula 2-6 bintik). Pada pasien ini masih di observasi febris hari ke-2
dengan suspek morbili. Untuk terapi medikamentosa diberikan infus KAEN 3A,
antipiretik (parasetamol), ambroxol, vitamin A dan C. Sedangkan untuk Supportifnya,
pasien diminta untuk istirahat, dan pasien dirawat di bangsal isolasi untuk mencegah
penularan ke pasien lain.

B. Rumusan Masalah

4
1. Apa definisi penyakit morbili?
2. Bagaimana etiologi dari penyakit morbili?
3. Bagaimana menisfestasi klinik dari penyakit morbili?
4. Bagaimana patofisiologi penyakit morbili?
5. Bagaimana patways penyakit morbili?
6. Apa komplikasi penyakit morbili?
7. Bagaimana pemeriksaan diagnostic dari penyakit morbili?
8. Bagaimana penatalaksaan penyakit morbili?
9. Bagaimana asuhan keperawatan dari penyakit morbili?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi penyakit morbili.
2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit morbili
3. Untuk mengetahui menisfestasi klinik dari penyakit morbili
4. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit morbili
5. Untuk mengetahui patways penyakit morbili
6. Untuk mengetahui komplikasi penyakit morbili
7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic dari penyakit morbili
8. Untuk mengetahui penatalaksaan penyakit morbili
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari penyakit morbili
10.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Morbili atau campak adalah penyakit akut yang sangat menular yang
disebabkan oleh infeksi virus umumnya menyerang anak. Campak memiliki gejala
klinis khas yaitu 3 stadium, (1) stadium masa tunas berlangsung kira-kira 10-12 hari,
(2) stadium prodomal (kataral) dengan gejala pilek dan batuk yang meningkat dan
ditemukan enantem pada mukosa pipi (bercak koplik), faring dan peradangan mukosa
konjungtiva, (3) stadium akhir dengan keluarnya ruam mulai dari belakang telinga
menyebar ke muka, badan, lengan dan kaki. (Sumarno, 2002)
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan
gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet,
pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000)
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang sangat menular, ditandai
dengan gejala prodromal panas; batuk; radang mata & bercak koplik, disertai
timbulnya bercak merah makulopapuler yang menyebar ke seluruh tubuh; menghitam
& mengelupas ( Ngastiyah, 1997 : 351 )

B. Etiologi
Virus campak termasuk golongan paramyxovirus, penyebabnya ialah virus
morbili yang penularan dengan doplet dan kontak, penularan secara doplet melalui
udara-udara, sejak 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul
ruam dan sedikit virus sudah dapat menimbulkan infeksi. Virus campak tidak
memiliki daya tahan tinggi dan berada disekret nasofaring dan didalam darah,
minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam.
Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperature kamar, 15 minggu didalam
pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperature 350c, dan beberapa
hari pada suhu 00c. Virus tidak aktif pada PH rendah. (Sumarno, 2002)

C. Menifestasi Klinis
Stadium penyakit campak :
1. Stadium ktaral (prodormal)
a. Stadium berlangsung 4-5 hari
b. Panas

6
c. Malaise
d. Batuk
e. Fotofobia
f. Konjungtiva
g. Koriza
h. Akhir stadium (24 jam) timbul bercak koplik berwarna putih kelabu,
dikelilingi oleh eritema
i. Lokasi di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah
j. Gambaran darah tapi ialah limfositosis dan leukopenia
2. Stadium erupsi
a. Koriza dan batuk-batuk bertambah
b. Timbul enantema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole
c. Muncul eritema berbentuk macula-papula disertai naiknya suhu badan
d. Eritema timbul dibelakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang
rambut dan bagian belakang bawah
e. Rasa gatal
f. Muka bengkak
g. Pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher
belakang
h. Diare
i. Muntah
j. Black measles yaitu morbili yang disertai pendarahan pada kulit, mulut,
hidung, dan traktus digestivus
3. Stadium konvalensi
a. Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lam kelamaan akan hilang sendiri
b. Kulit bersisi
c. Suhu turun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi

D. Patofisiologi
Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili,
familiparamyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH
asam, ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus
campak ditularkan lewat droplet, menempel dan berkembang biak pada epitel
nasofaring. Virus ini masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga
kemungkinan melalui kelenjar air mata.
Dua sampai tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada
kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua
sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi
awal. Adanya giant cells dan proses peradangan merupakan dasar patologik ruam dan
infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang

7
tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan
batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang
makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan
pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi)
mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan.
Virus dapat berkembang biak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan
gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi
mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi
dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan
perivaskuler dan infiltrasi limfosit

E. Pathway

8
9
F. Komplikasi
a. Otitis media akut
b. Pneumonia / bronkopneumoni
c. Encefalitis
d. Bronkiolitis
e. Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

G. Pemeriksaan diagnostic
Pada pemeriksaan darah didapatkan jumlah leukosit normal atau meningkat
apabila ada komplikasi infeksi bakteri. Pemeriksaan antibodi IgM merupakan cara
tercepat untuk memastikan adanya infeksi campak akut. Karena IgM mungkin belum
dapat dideteksi pada 2 hari pertama munculnya rash, maka untuk mengambil darah
pemeriksaan IgM dilakukan pada hari ketiga untuk menghindari adanya false
negative. Titer IgM mulai sulit diukur pada 4 minggu setelah muncul rash.
Sedangkan IgG antibodi dapat dideteksi 4 hari setelah rash muncul, terbanyak
IgG dapat dideteksi 1 minggu setelah onset sampai 3 minggu setelah onset. IgG masih
dapat ditemukan sampai beberapa tahun kemudian. Virus measles dapat diisolasi dari
urine, nasofaringeal aspirat, darah yang diberi heparin, dan swab tenggorok selama
masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus dapat tetap aktif
selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.

H. Penatalaksanaan
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam
tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin
diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan
lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
Penatalaksanaan Teraupetik :
a. Pemberian vitamin A
b. Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
c. Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
d. Pemberian obat batuk dan sedativum

I. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas diri
b. Riwayat Imunisasi
c. Kontak dengan orang yang terinfeksi
d. Pemeriksaan Fisik :
1) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
2) Kepala : sakit kepala

10
3) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan
hidung (pada stad eripsi ).
4) Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
5) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler
pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas
(demam).
6) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum.
7) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
8) Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
9) Status Nutrisi : intake output makanan, nafsu makanan
e. Keadaan Umum : Kesadaran, TTV
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Kriteria Hasil Interverensi


Ketidak efektifan jalan nafas Setelah dilakukan tindakan
berhubungan dengan adanya keperawatan selama 3x24 Berikan 02 dengan
batuk Jam diharapkan jalan nafas menggunakan nasal
pasien efektif Monitor status oksigen

Kriteria Hasil: pasien


Atur posisi pasien semi
Mampu bernafas
fowler
dengan mudah Auskultasi suara nafas
Pasien mampu
sebelum dan sesudah
mendemonstrasika
suctioning
n batuk efektif Informasikan pada klien
Suara nafas yang
dan keluarga tentang
bersih, tidak ada
suctioning
sianosis Minta klien nafas dalam
Mampu
sebelum suction
mengeluarkan
dilakukan
sputum Gunakan alat yang steril
Menunjukan jalan
setiap melakukan
nafas yang paten
tindakan
(klien tidak merasa Ajarkan keluarga dan
tercekik, irama pasien bagaimana cara
nafas, frekuensi melakukan suction
pernafasan dalam Hentikan suction dan
rentang normal, berikan oksigen apabila
tidak ada suara pasien menunjukan

11
nafas abnormal) brakikardia, peningkatan
Mampu saturasi o2 dll
mengidentifikasi
dan mencegah
faktor yang dapat
menghambat jalan
nafas
Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan tindakan Anjurkan pasien untuk
berhubungan dengan adanya keperawatan selama 3x24 menggunakan pakaian
rash jam intergritas kulit yang longgar
menjadi normal Hindari kerutan pada

Kriteria Hasil : tempat tidur


Jaga kebersihan kulit
Integritas kulit
agar tetap bersih dan
yang baik bisa di
kering
pertahankan Mobilisasi pasien (ubah
(sensasi, elastis, posisi pasien) setiap dua
temperatur, hidrasi, jam sekali
pigmentasi) Monitor kulit akan
Tidak ada luka atau
adanya kemerahan
lesi pada kulit Oleskan lotion atau
Perfusi jaringan
minyak/baby oil pada
baik daerah yang tertekan
Menunjukan Monitor aktivitas dan
pemahaman dalam mobilisasi pasien
proses perbaikan Monitor status nutrisi
kulit dan mencegah pasien
terjadinya sedera Memandikan pasien

berulang dengan sabun dan air


Mampu hangat
melindungi kulit Biarkan luka tetap

dan terbuka (tidak dibalut)

mempertahankan sesuai program

kelembaban kulit
dan perawatan
alami

12
Resiko ketidak seimbangan Setelah dilakukan tindakan Timbang popok/
elektrolit berhubungan keperawatan selama 2x24 pembalut jika diperlukan
dengan Jam diharapkan resiko Monitor status cairan

ketidak seimbangan termasuk intake dan


elektrolit dapat teratasi output cairan
Monitor respon pasien
dengan
terhadap penambahan
Kriteria Hasil :
cairan
Mempertahankan Monitor status hidrasi
urine output sesuai (kelembaban membran
dengan usia dan mukosa, nadi adekuat,
BB, BJ, urine tekanan darah ortostatik),
normal, HT normal jika diperlukan
Tekanan darah, Monitor tanda-tanda vital
nadi, suhu tubuh Kolaborasi pemberian
dalam batas normal cairan IV
Tidak ada tanda- Monitor status nutrisi
tanda dehidrasi, Dorong masukan oral
Berikan penggantian
elastisitas tugor
nesogatrik sesuai output
kulit baik, Dorong keluarga untuk
membran mukosa membantu pasien makan
lembab, tidak ada Tawarkan snack (jus
rasa haus yang buah, buah segar)
berlebih Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
semakin buruk
Atur kemungkinan
tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Monitor berat badan
Monitor adanya tanda
gagal ginjal
Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan tindakan Kaji secara verbal dan
berhubungan dengan keperawatan selama 1x24 non verbal respon klien
perubahan funngsi tubuh jam diharapkan gangguan terhadap tubuhanya
citra tubuh dapat teratasi Monitor frekuensi
mengkritik dirinya

13
Kriteria Hasil : Jelaskan tentang
Body image positif pengobatan, kemajuan
Mampu dan prognosis penyakit
mengidentifikasi Dorong klien
kekuatan personal mengungkapkan
Mendiskripsikan perasaannya
secara faktual Fasilitasi kontak dengan
perubahan fungsi individu lain dalam
tubuh kelompok kecil
Mendiskripsikan
secara faktual
perubahan fungsi
tubuh
Perubahan
interaksi sosial
Ketidak efektifan termogulasi Setelah dilakuukan Monitor suhu minimal 2
tubuh tindakan keperawatan jam
selama 3x24 jam Rencanakan monitoring

diharapkan suhu secara kontinue


Monitor TD, nadi, RR
ketidakefektifan
Monitor warna dan suhu
termogulasi tubuh dapat
kulit
teratasi. Monitor tanda-tanda
Kriteria hasil : hipertermi dan hipotermi
Keseimbangan Tingkatkan intake cairan

antara produksi dan nutrisi


Slimuti pasien untuk
panas, panas yang
mencegah hilangya
diterima, dan
kehangatan tubuh
kehilangan panas Ajarkan pada pasien cara
Temperature
mencegah keletihan
stabil : 36,5-370c
Tidak ada kejang akibat panas
Tidak ada Diskusikan tentang

perubahan warna pentingnya pengaturan

kulit suhu dan kemungkinan


Glukosa darah efek negatif dari
stabil kedinginan

14
Pengendalian Beritahu tentang indikasi
resiko : hipertemia terjadinya keletihan dan
Pengendalian penanganan emergency
resiko : yang diperlukan
hypertermia Ajarkan indikasi dari
Pengendalian hipotermi dan
resiko : proses penanganan yang
menular diperlukan
Pengendalian Berikan anti piretik jika
resiko : paparan perlu
sinar matahari

Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan tindakan gunakan pendekatan


keperawatan selama 2x24 yang menenangkan
jam gangguan rasa nyatakan dengan jelas

nyaman dapat teratasi harapan terhadap pelaku


Kriteria Hasil : pasien
jelaskan semua prosedur
Mampu
dan apa yang dirasakan
mengontrol
selama prosedur
kecemasan pahami prespektiv pasien
Status lingkungan
terhadap situasi stres
yang nyaman temani pasien untuk
Mengontrol nyeri
Kualitas tidur dan memberikan keamanan

istirahat adekuat dan menurangi takut


Agresi dorong keluarga untuk

pengendalian diri menemani anak


Respon terhadap dengarkan dengan penuh

pengobatan perhatian
Kontrol gejala identifikasi tingkat
Status kenyamanan kecemasan
meningkat bantu pasien mengenal
Dapat mengontrol situasi yang
kekuatan menimbulkan kecemasan
Suuport social dorong pasien unuk
Keinginan untuk mengungkapkan
hidup perasaan , ketakutan,

15
persepsi
instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
berikan obat unuk
mengurangi kecemasan

Diare Setelah dilakukan tindakan Evaluasi efek samping


keperawatan selama 3x24 pengobatan terhadap
jam diharapkan diare dapat gastrointestinal
teratasi Ajarkan pasien untuk

Kriteria Hasil : menggunakan obat anti

Feses berbentuk, diare


Instruksikan pasien atau
BAB sehari sekali
keluarga untuk mencatat
selama 3 hari
Menjaga daerah warna, jumlah, frekuensi

sekitar rektal dari dan konsistensi dari feses


Evaluasi intake makanan
iritasi
Tidak mengalam yang masuk
Identifikasi faktor
diare
Menjelaskan penyebab dari diare
Monitor tanda dan gejala
penyebab diare dan
diare
rasional tindakan Observasi turgor kulit
Mempertahankan Ukur diare/ keluaran
turgor kulit BAB
Hubungi dokter jika ada
kenaikan bisisng usus
Instruksikan pasien
untuk makan rendah
serat, tinggi protein, dan
tinggi kalori jika
memungkinkan
Instruksikan untuk
menghindari laksatif
Ajarkan teknik
menurunkan stres

16
Monitor persiapan
makanan yang aman

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Morbili atau campak adalah penyakit akut yang sangat menular yang
disebabkan oleh infeksi virus umumnya menyerang anak. Campak memiliki gejala
klinis khas yaitu 3 stadium, (1) stadium masa tunas berlangsung kira-kira 10-12 hari,
(2) stadium prodomal (kataral) dengan gejala pilek dan batuk yang meningkat dan
ditemukan enantem pada mukosa pipi (bercak koplik), faring dan peradangan mukosa
konjungtiva, (3) stadium akhir dengan keluarnya ruam mulai dari belakang telinga
menyebar ke muka, badan, lengan dan kaki. (Sumarno, 2002)
Virus campak termasuk golongan paramyxovirus, penyebabnya ialah virus
morbili yang penularan dengan doplet dan kontak, penularan secara doplet melalui
udara-udara, sejak 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul
ruam dan sedikit virus sudah dapat menimbulkan infeksi. Virus campak tidak
memiliki daya tahan tinggi dan berada disekret nasofaring dan didalam darah,
minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam.
Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperature kamar, 15 minggu didalam
pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperature 350c, dan beberapa
hari pada suhu 00c. Virus tidak aktif pada PH rendah. (Sumarno, 2002)
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam
tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin
diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan
lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Nur arif amin huda dan kusuma hardi (2013). Aplikasi Asuhan

Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC,

mediaction publising: Yogyakarta.

Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan

Proses Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.

http://asuhankeperawatankesehatan.blogspot.com/2013/02/askep-anak-dengan-
morbili.html

19