Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya

dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1.5 m2 dengan berat

kira-kira 15% dari berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital

serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat

kompleks, elastis dan sensitive, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras

dan juga bergantung pada lokasi tubuh.


Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel

pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri.

Gambaran klinis akne vulgaris sering polimorfi yang terdiri atas berbagai

kelainan kulit berupa komedo, papul, pustule, nodus, dan jaringan parut yang

terjadi akibat kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik

maupun yang hipertrofik.


Akne vulgaris (AV) merupakan penyakit kulit yang umum dijumpai

termasuk di masyarakat kita Indonesia. Menurut laporan Kelompok Studi

Dermatologi Kosmetika Indonesia, terdapat 60% penderita AV pada tahun

2006 dan 80% pada tahun 2007. Etiologi pasti AV masih belum diketahui,

namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seperti: keratinisasi

abnormal, infeksi Propionibacterium acnes, dan inflamasi. Faktor lain seperti


usia, ras, familial, makanan dan cuaca/musim secara tidak langsung dapat

memicu peningkatan proses patogenesis.


Komplikasi yang akan terjadi jika tidak segera ditangani, yaitu adanya

bekas luka jerawat, depresi, dan timbul rasa tidak percaya diri.
PROMOTIF PREVENTIF KURATIF REHAB

1.2 Tujuan
1 Mengetahui apakah yang dimaksud Akne Vulgaris
2 Mengetahui etiologi dan patogenesis penyakit Akne Vulgaris
3 Mengetahui klasifikasi penyakit Akne Vulgaris
4 Mengetahui epidemiologi penyakit Akne Vulgaris
5 Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit Akne Vulgaris
6 Mengetahui patofisiologi dari penyakit Akne Vulgaris
7 Mengetahui pathway yang ada pada penyakit Akne Vulgaris
8 Mengetahui bagaimana pencegahan pada penyakit Akne Vulgaris
9 Mengetahui bagiamana penatalaksanaan pada penyakit Akne Vulgaris
10 Mengetahui komplikasi yang ada pada penyakit Akne Vulgaris
11 Mengetahui bagiamana pemeriksaan fisik dan diagnostik pada penyakit

Akne Vulgaris

1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari makalah ini yaitu, agar mahasiswa atau

mahasiswi dapat mengetahui penyakit Akne Vulgaris dan bahaya dari penyakit

tersebut, dan juga Asuhan Keperawatan dari penyakit Akne Vulgaris.

Memperoleh dan memperluas wawasan untuk mengaplikasikan asuhan

keperawatan khusunya untuk pasien Akne Vulgaris.


BAB II

KONSEP DASAR

2. 1 Definisi
Akne adalah penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun

folikel polisebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustule,

nodus, dan kista pada tempat predileksinya. (Wasitaatmadja, 2006)


Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel

pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri.

Gambaran klinis akne vulgaris sering polimorfi yang terdiri atas berbagai

kelainan kulit berupa komedo, papul, pustule, nodus, dan jaringan parut yang

terjadi akibat kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik

maupun yang hipertrofik. (Wasitaatmadja, 2006)


2. 2 Etiologi Dan Patogenesis
Meskipun etiologi yang pasti pada penyakit ini belum diketahui, namun ada

beberapa faktor yang berkaitan dengan pathogenesis penyakit.


1. Perubahan pola keratinisasi dalam folikel. Keratinisasi dalam folikel yang

biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga suka lepas

dari saluran folikel tersebut.


2. Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur

komedogenik dan inflamatogenik penyebab terjadinya lesi akne.


3. Terbentuknya fraksi asam lemak bebas penyebab terjadinya proses

inflamasi folikel dalam sebum dan kekentalan sebum yang penting pada

patogenesis penyakit.
4. Peningkatan jumlah flora folikel (Propionibacterium acnes, dulu:

corynebacterium acnes pityrosporum ovale dan Staphylococcus

epdermidis) yang berperan pada proses kemotaktik inflamasi serta

pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum.


5. Terjadinya respons hospes berupa pembentukan circulating antibodies yang

memperberat akne
6. Peningkatan kadar hormon androgen, anabolic, kortikosteroid, gonadotropin

serta Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) yang mungkin menjadi faktor

penting pada kegiatan kelenjar sebasea.


7. Diet, Pada penderita yang makan banyak karbohidrat dan zat lemak, tidak

dapat dipastikan akan terjkadi perubahan pada pengeluaran sebum atau

komposisinya karena kelenjar lemak bukan alat pengeluaran lemak yang

kita makan.
8. Obat obatan tertentu, antara lain kortikosterodid, glukokortiroid, halogen,

phenobarbital, phenhytoin (Dilantin), isoniazid (Laniazid), dan litium

(William and Wilkins, 2008). Konsumsi obat kortikosteroid, baik oral (obat

minum) maupun topical (obat oles), yang mengakibatkan daya tahan tubuh

menurun, juga meningkatkan potensi timbulnya jerawat karena aktivitas

bakteri patogen yang meningkat.


9. Kosmetik, Penyumbatan pori-pori seringkali terjadi oleh penggunaan

kosmetik yang mengandung banyak minyak atau penggunaan bedak yang

menyatu dengan foundation. Foundation yang terkandung pada bedak

menyebabkan bubuk bedak mudah menyumbat pori-pori, pelembab

(moisturiser), krem penahan sinar matahari (sunscreen), dan krem malam.

Yang mengandung bahan-bahan, seperti lanolin, pektrolatum, minyak


tumbuh-tumbuhan dan bahan-bahan kimia murni (butil stearat, lauril

alcohol, dan bahan pewarna merah D &C dan asam oleic).


Jenis kosmetika yang dapat menimbulkan akne tidak tergantung pada

harga, merk, dan kemurnian bahannya. Suatu kosmetika dapat bersifat lebih

komedogenik tanpa mengandung suatu bahan istimewa, tetapi karena

kosmetika tersebut memang mengandung campuran bahan yang bersifat

komedogenik atau bahan dengan konsentrasi yang lebih besar. Penyelidikan


10. Stress emosional, sebenarnya, stres tidak secara langsung menyebabkan

jerawat. Masalahnya, ada hormon tertentu yang keluar saat seseorang stres,

yang memungkinkan tumbuhnya jerawat. Tak hanya itu, stres membuat

orang tersebut mempunyai pola makan yang cenderung banyak

mengkonsumsi makanan manis dan berlemak, sebagai "pelarian" dari stres.


11. Paparan senyawa industri, biasanya disebabkan oleh dioksin yang

merupakan produk sampingan utama dari proses-proses industri, tetapi juga

dapat merupakan hasil dari proses alam, seperti letusan gunung berapi dan

kebakaran hutan. Paparan jangka pendek dioksin kadar tinggi pada manusia

dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat

paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit,

dan gangguan fungsi hati.


12. Trauma atau gesekan dengan pakaian ketat, Menurut Acne Resource Center

ada beberapa penyebab lainnya dalam pertumbuhan jerawat di punggung

antara lain, pakaian ketat, keringat yang berlebihan dan memakai ransel

yang berat. Dengan perawatan yang teratur jerawat di punggung dapat di

hilangkan
13. Iklim, di daerah yang mempunyai empat musim, biasanya akne bertambah

hebat pada musim dingin, sebaliknya kebanyakan membaik pada musim

panas. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai efek membunuh bakteri pada

permukaan kulit. Selain itu, sinar ini juga dapat menembus epidermis

bagian bawah dan bagian atas dermis sehingga berpengaruh pada bakteri

yang berada dibagian dalam kelenjar palit. Sinar UV juga dapat

mengadakan pengelupasan kulit yang dapat membantu menghilangkan

sumbatan saluran pilosebasea.

v Usia
Ras
Familia
lCuaca Hormonal Keratinisasi
abnormal

Kelenjar
Asam lemak Kenta Sumbat
palit
bebas an
Trigiliserida
komedo
Lipas

kemotaktik Papul
Flora
Pustul
eNodu
Jaringan parut
s,Kista
Hiperpigment
Respons
2. 3 Klasifikasi
Akne meliputi berbagai kelainan kulit yang hampir mirip satu dengan

lainnya, sehingga diperlukan penggolongan atau klasifikasi untuk

membedakannya. Gradasi yang menunjukkan berat ringannya penyakit

diperlukan bagi pilihan pengobatan. Ada berbagai pola pembagian gradasi

penyakit akne vulgaris yang dikemukakan.


Pillsbury (1963) membuat gradasi sebagai berikut :
1. Komedo di muka
2. Komedo, papul, pustule, dan peradangan lebih dalam di muka
3. Komedo, papul, pustule, dan peradangan lebih dalam di muka, dada, dan

punggung
4. Akne konglobata

Frank (1970) :

1. Akne komedonal non-inflamator


2. Akne komedonal inflamator
3. Akne popular
4. Akne papulo pustular
5. Akne agak berat
6. Akne berat
7. Akne nodul kistik/konglobata

Burke dan Cunliffe (1984) :

1. Akne minor yang terdiri atas gradasi , ,


2. Akne major yang terdiri atas gradasi 1, 1 , 1 1 3/4gradasi , ,
3. Akne major yang terdiri atas gradasi 1, 1 , 1 1 , 2, 2 , 3, 4, 5, 6, 7.

Plewig dan Kligman (1975) :

1. Komedonal yang terdiri atas gradiasi :


a. Bila ada kurang dari 10 komedo dari satu sisi muka
b. Bila ada 10 sampai 24 komedo
c. Bila ada 25 sampai 50 komedo
d. Bila ada lebih dari 50 komedo
2. Papulopustul yang terdiri atas 4 gradasi :
a. Bila ada kurang dari 10 lesi papulopustul dari satu sisis muka
b. Bila ada 10 sampai 20 lesi papulopustul
c. Bila ada 21 sampai 30 lesi papulopustul
d. Bila ada lebih dari 30 lesi papulopustul
3. Konglobata
Penulis (1982) di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSUPN

Dr. Cipto Mangunkusumo membuat gradasi akne vulgaris sebagai berikut:


A. Ringan, bila :
a. Beberapa lesi tak beradang pada 1 predileksi
b. Sedikit lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi
c. Sedikit lesi beradang pada 1 predileksi
B. Sedang, bila :
a. Banyak lesi tak beradang pada 1 predileksi
b. Beberapa lesi tak beradang lebih dari 1 predileksi
c. Beberapa lesi beradang pada 1 predileksi
d. Sedikit lesi beradang pada lebih dari 1 predileksi
C. Berat, bila :
a. Banyak lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi
b. Banyak lebih beradang pada 1 atau lebih predileksi

Catatan :

- Sedikit <5, beberapa 5-10, banyak 10 lesi


- Tak beradang : komedo putih, komedo hitam, papul
- Beradang : pustul, nodus dan kista
2. 4 Epidemiologi
Karena hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini, maka

sering dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. Penyakit

ini memang jarang terdapat pada waktu lahir, namun ada kasus yang terjadi

pada masa bayi. Betapa pun baru pada masa remajalah akne vulgaris menjadi

salah satu problem. Umumnya insiden terjadi pada sekitar usia 14-17 tahun

pada wanita dan 16-19 tahun pada laki-laki dan pada masa itu lesi yang

predominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi beradang.
Pada seorang gadis, akne vulgaris dapat terjadi premenarke. Setelah

masa remaja kelainan ini berangsur berkurang. Namun kadang-kadang pada

perempuan, akne vulgaris menetap sampai decade usia 30-am atau bahkan

lebih. Meskipun pada pria umumnya akne vulgaris lebih cepat berkurang,

namun pada penelitian diketahui bahwa gejala akne vulgaris yang berat

biasanya terjadi pada pria.

2. 5 Manifestasi Klinis
Tempat predileksi akne vulgaris adalah di muka , bahu,dada bagian atas dan

punggung bagian atas gejala predominan salah satunya ,komedo, papul yang

tidak meradang dan pustule nodus dan kista yang meradang, isi komedo

adalah sebum yang kental atau padat. Isi kista biasanya pus atau darah .

Dapat disertai rasa gatal ,namun umumnya keluhan penderita adalah keluhan

estetis. Selain itu manifestasi klinis lainnya, yaitu:


- Gejala lokal termasuk nyeri (pain) atau nyeri jika disentuh (tenderness).
- Biasanya tidak ada gejala sistemik pada acne vulgaris.
- Akne yang berat (severe acne) disertai dengan tanda dan gejala sistemik

disebut sebagai acne fulminans.


- Acne dapat muncul pada pasien apapun sebagai dampak psikologis, tanpa

melihat tingkat keparahan penyakitnya.


- Komedo tertutup (whitehead) merupakan lesi obstruktif yang terbentuk

dari lipid atau minyak terjepit dan keratin yang menyumbat folikel yang

melebar. Komedo tertutup merupakan papula kecil berwarna keputihan

dengan lubang folikuler yang halus sehingga umumnya tidak terlihat.

Komedo tertutup dapat menjadi komedo terbuka, dimana isi saluran

memiliki hubungan yang terbuka dengan dunia dunia luar. Komedo


terbuka (blackhead) bukan terjadi karena kotoran atau bakteri melainkan

karena akumulasi lipid, bakteri serta debris epitel.


- Meskipun penyebabnya yang pasti tidak diketahui, sebagai komedo

tertutup dapat mengalami rupture dan menimbulkan reaksi inflamasi yang

disebabkan karena perembesan isi folikel.


- Inflamasi yang ditimbulkan terlihat secara klinis papula eritematosa,

pustule, dan kista inflamatorik. Papula serta kista yang ringan akan kempis

dan sembuh sendiri. Papula dan kista yang lebih parah akan menimbulkan

jaringan parut.
2. 6 Patofisiologi
Selama usia kanak kanak, kelenjar sebasea berukuran kecil dan pada

hakekatnya tidak berfungsi, kelenjar ini berada dibawah kendali endokrin,

khususnya hormon - hormon androgen. Dalam usia pubertas, hormon

androgen menstimulasi kelenjar sebasea dan menyebabkan kelenjar tersebut

membesar serta mensekresikan suatu minyak alami ,yaitu sebum yang

merembas naik hingga puncak folikel rambut dan mengalir keluar pada

permukaan kulit.
Pada remaja yang berjerawat, stimulasi androgen akan meningkatkan daya

responsive kelenjar sebasea sehingga akne terjadi ketika duktus pilosebaseus

tersumbat oleh tumpukan sebum. Bahan bertumpuk ini akan membentuk

komedo.
2. 7 Pathway
KURANG
PENGETAHUAN
Diet, hygiene, dan

GANGGUAN
Stimulasi kelenjar Peningkatan hormone
RASA NYAMAN
androgen, genetic, ras
Kelenjar sebasea stres
Gatal
Sekresi
Sekresi
mediator kimia
Sebum mencapai folikel
Respon
Masuk ke permukaan pada
kulit Faktor mekanik: Jaringan kulit
Duktus pilosebaseus mengusap,
menggaruk, dan
TERBENTUK

Inflamasi di dalam jaringan Sebum bergabung dengan Penipisan dinding


kulit keratin folikuler
Terbentuk Terbentuk whitehead Terbentuk

Whitehead Pustule
comedo pecah
Isi folikuler pecah
Terbentuk blackhead
dan mengiritasi
comedo
dermis

Terbentuk
KERUSAKAN Terkonsente GANGGUA
INTEGRITAS rasi dalam N CITRA Membentuk lesi
KULIT jumlah yang TUBUH baru
2. 8 Pencegahan
1. Menghindari banyak
terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi
RESIKO
INFEKSI
sebum dengan cara :
a. Diet rendah lemak dan karbohidrat
b. Melakukan perawatan kulit untuk membersihkan permukaan kulit dari

kotoran dan jasad renik yang mempunyai peran pada etiopatogenesis

akne vulgaris
2. Menghindari terjadinya faktor pemicu terjadinya akne, misalnya :
a. Hidup teratur dan sehat, cukup istrahat, olahraga sesuai kondisi tubuh

hindari stress
b. Penggunaan kosmetika secukupnya, baik banyaknya maupun lamanya
c. Menjauhi terpacunya kelenjar minyak, misalnya minuman keras,

pedas, rokok, lingkungan yang tidak sehat dan sebagainya


d. Menghindari polusi debu, pemecahan lesi, yang dapat memperberat

erupsi yang telah terjadi

Memberikan informasi yang cukup pada penederita mengenai penyebab

penyakit, pencegahan dan cara maupun lama pengobatannya serta

prognosisnya. Hal ini penting agar penderita tidak underestimate atau

overestimate terhadap usaha penatalaksanaan yang dilakukan yang akan

membuatnya putus asa atau kecewa.

2. 9 Penatalaksanaan
2. 10 Komplikasi
Komplikasi yang akan muncul jika acne vulgaris tidak segera ditangani
a Adanya bekas luka jerawat
b Depresi
c Tidak percaya diri
2. 11 Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik
a. Pemeriksaan Fisik
Acne vulgaris bercirikan adanya komedo, papula, pustula, dan nodul pada

distribusi sebaceous. Komedo dapat berupa whitehead (komedo tertutup)

atau blackhead (komedo terbuka) tanpa disertai tanda - tanda klinis dari

peradangan apapun. Papula dan pustula terangkat membenjol (bumps)


disertai dengan peradangan yang nyata. Wajah dapat menjadi satu-satunya

permukaan kulit yang terserang jerawat, namun dada, punggung, dan

lengan atas juga sering terkena jerawat.


- Pada akne komedo (comedonal acne), tidak ada lesi peradangan. Lesi

komedo (comedonal lesions) merupakan lesi akne yang paling awal,

sedangkan komedo tertutup (closed comedones) merupakan lesi

precursor dari lesi peradangan (inflammatory lesions)


- Akne peradangan yang ringan (mildinflammatory acne) bercirikan

adanya komedo dan papula peradangan.


- Akne peradangan yang sedang (moderate inflammatory acne)

memiliki komedo, papula peradangan, dan pustula. Akne ini memiliki

lebih banyak lesi dibandingkan dengan akne peradangan yang lebih

ringan.
- Acne nodulocystic bercirikan komedo, lesi-lesi peradangan, dan nodul

besar yang berdiameter lebih dari 5 mm. Seringkali tampak jaringan

parut (scarring).
b. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis akne vulgaris ditegakkan atas dasar klinis dan pemeriksaan

ekskokleasi sebum, yaitu pengeluaran sumbatan sebum dengan komedo

ekstraktor (sendok Unna). Sebum yang menyumbat folikel tampak

sebagai massa padat seperti lilin atau massa lebih lunak bagai nasi yang

ujungnya kadang berwarna hitam.


Pemeriksaan Laboratorium
Penegakan diagnosis acne vulgaris berdasarkan diagnosis klinis.
c. Pada pasien wanita dengan nyeri haid (dysmenorrhea) atau hirsutisme,

evaluasi hormonal sebaiknya dipertimbangkan. Pasien dengan

virilization haruslah diukur kadar testosteron totalnya. Banyak ahli juga


mengukur kadar free testosterone, DHEA-S, luteinizing hormone (LH),

dan kadar follicle-stimulating hormone (FSH).


d. Kultur lesi kulit untuk me-rule out gram-negative folliculitis amat

diperlukan ketika tidak ada respon terhadap terapi atau saat perbaikan

tidak tercapai.
Pemeriksaan Histopatologis
Microcomedo dicirikan oleh adanya folikel berdilatasi dengan a plug

of loosely arranged keratin. Seiring kemajuan (progression) penyakit,

pembukaan folikular menjadi dilatasi dan menghasilkan suatu

komedo terbuka (open comedo). Dinding follicular tipis dan dapat

robek (rupture). Peradangan dan bakteri terlihat jelas, dengan atau

tanpa follicular rupture. Follicular rupture disertai reaksi badan asing

(a foreign body reaction). Peradangan padat (dense inflammation)

menuju dan melalui dermis dapat berhubungan dengan fibrosis dan

jaringan parut (scarring).


Pemeriksaan mikrobiologis terhadap jasad renik yang mempunyai

peran pada etiologi dan patogenesis penyakit dapat dilakukan

laboratorium mikrobiologi yang lengkap untuk tujuan penelitian,

namun hasilnya sering tidak memuaskan.


Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit (skin

surface lipids) dapat pula dilakukan untuk tujuan serupa. Pada akne

vulgaris kadar asam lemak bebas (free fatty acid) meningkat dan

karena itu pada pencegahan dan pengobatan digunakan cara untuk

menurunkannya.
e.
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Kasus
Nn. X siswa SMA kelas X berusia 17 tahun mengeluh banyak

komedo, jerawat dimuka serta punggungnya. Oleh ibunya Nn. X dibawa

berobat, sudah mendapatkan krim dan pembersih kulit. Didalam keluarga Nn.

X ayahnya juga pernah mengalami seperti keluhan ini ketika masih remaja.

Nn. X dirawat oleh dokter kulit di polikinik. Dari kasus tersebut, Nn. X di

diagnosis medis kelainan kulit berupa acne.


3.2 Asuhan Keperawatan Acne Vulgaris
A. Pengkajian

1 Identitas Klien

- Nama : Nn. X

- Usia : 17 tahun

- Jenis kelamin: Perempuan

- Pekerjaan : Pelajar

2 Status Kesehatan

a Status Kesehatan Saat Ini

- Keluhan utama

Klien mengeluh adanya banyak komedo, jerawat dimuka serta

punggungnya.

- Alasan masuk Rumah Sakit dan perjalanan Penyakit saat ini

Klien mengeluh adanya banyak komedo, jerawat dimuka serta

punggungnya.

- Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya

Klien sudah dibawa berobat dan sudah mendapatkan krim dan

pembersih kulit

- Status kesehatan masa lalu


Tidak terkaji

- Penyakit yang pernah dialami

Tidak terkaji

- Pernah dirawat
Tidak terkaji

- Riwayat transfusi

Tidak terkaji

3 Riwayat Penyakit Keluarga

Ayah Nn. X pernah mengalami keluhan seperti Nn.X

B. Analisa Data

No. Data Problem Etiologi


1. Data subjektif: Kerusakan Integritas Inflamasi bakteri

- Pasien mengatakan kulit menjadi Kulit

kehitaman akibat bekas jerawat.


- Pasien mengatakan kulit menjadi

tidak rata akibat banyak cekungan

bekas jerawat.
- Pasien mengatakan saat

jerawatnya sedang tumbuh

biasanya disertai dengan adanya

nanah di jerawat.

Data Objektif:

- Kulit pasien tampak memerah dan

kehitaman di daerah wajah dan

punggung.
- Kulit wajah pasien tampak tidak

rata dan banyak terdapat cekungan


- Terdapat beberapa komedo,
pustula meradang dan papula di

wajah pasien.
2. Data Subjektif: Gangguan Rasa Gejala Penyakit: Rasa

- Pasien mengatakan merasa gatal di Nyaman gatal

daerah wajah dan punggungnya

terutama di daerah jerawatnya


- Pasien mengatakan terkadang

wajah dan punggungnya terasa

panas dan agak nyeri.

Data Objektif:

- Kulit pasien tampak memerah di

beberapa bagian seperti wajah dan

punggung.
- Pasien tampak tidak nyaman

dengan kondisi tubuhnya dan

tampak menggaruk punggung dan

wajahnya beberapa kali.


3. Data Subjektif: Gangguan Citra Tubuh Perubahan Penampilan

- Pasien mengatakan merasa tidak Tubuh

percaya diri dengan penampilan

tubuhnya.
- Pasien mengatakan sering

menutupi wajahnya dengan

rambut dan masker untuk

menutupi jerawat dan bekasnya.


- Pasien mengatakan tidak percaya

diri dan kesulitan berbaur dengan

teman sebayanya karena merasa

tidak percaya diri atas wajah dan

punggungnya.

Data Objektif:

- Pasien tampak menutupi wajahnya

dengan telapak tangan, terkadang

memalingkan muka saat berbicara.

4. Data Objektik: Resiko Infeksi Gangguan Integritas

- Kulit pasien tampak memiliki luka Kulit

terbuka berupa pustula


- Kulit pasien tampak memerah di

area sekitar jerawat di wajah dan

punggung.
- Pasien kadang tampak menggaruk

punggung dan wajahnya.

A. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan sebum di dalam

kulit.
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit: rasa gatal dan

nyeri.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.

B. Intervensi Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan

sebum dalam kulit

Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x

24 jam. Diharapkan klien :

a Pigmentasi jaringan : kulit


- Pigmentasi abnormal ditingkatkan ke 4(ringan)
- Lesi pada kulit ditingkatkan ke 4 (ringan)
b Respon pengobatan
- Perubahan gejala yang diharapkan ditingkatkan ke 4 (sedikit

terganggu)

Intervensi

a pemberian obat kulit :


- Ikuti prinsip 5 benar pemberian obat
- Catat riwayat medis pasien dan riwayat alergi
- Tentukan kondisi kulit pasien diatas area dimana obat akan

diberikan
- Buang sisa obat sebelumnya dan bersihkan kulit
- Monitor adanya efek samping lokal dan sistemik dari

pengobatan

b Perawatan kulit : Pengobatan Topikal


- Bersihkan dengan sabun anti bakteri dengan tepat
- Pakaikan pasien pakaian yang longgar
- Berikan antibiotic topical untuk daerah yang terkena dengan

tepat
- Berikan anti inflamasi topical untuk daerah yang terkena

dengan tepat

2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit rasa

gatal dan nyeri


Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x

24 jam. Diharapkan klien :


a Status kenyamanan : fisik
- Gatal gatal ditingkatkan ke 4 (ringan)

Intervensi

a Pemberian obat
- Ikuti prosedur 5 benar dalam pemberian obat
- Beritahukan klien mengenai jenis obat, alasan pemberian

obat, hasil yang diharapkan dan efek lanjutan yang akan

terjadi sebelum pemberian obat


b Peningkatan tidur
- Tentukan pola tidur/ aktivitas pasien
- Tentukan efek dari obat (yang dikonsumsi) pasien terhadap

pola tidur
- Bantu untuk menghilangkan situasi stress sebelum tidur

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan

tubuh
Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x

24 jam. Diharapkan klien :


a Citra tubuh:
- Kesesuain antara realitas tubuh dan ideal tubuh dengan

penampilan tubuh ditingkatkan ke 2 ( jarang positif)


- Deskripsi bagian tubuh yang terkena ditingkatkan ke 2

(jarang positif)
- Kepuasan dengan fungsi tubuh ditingkatkan ke 2 (jarang

positif)

Intervensi

a Peningkatan citra tubuh


- Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan- perubahan

bagian tubuh yang disebabkan adanya penyakit atau

pembedahan dengan cara yang tepat


- Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan- perubahan

disebabkan oleh pubertas dengan cara yang tepat


- Bantu pasien untuk mengindentifikasi tindakan tindakan

yang akan meningkatkan penampilan


b Peningkatan perkembangan remaja
- Dorong remaja untuk aktif terlibat dalam pengambilan

keputusan kesehatan terkait dengan dirinya


- Diskusikan dengan remaja dan keluarganya mengenai

tingkatan- tingkatan pertumbuhan dan perkembangan yang

normal pada remaja serta perilaku yang sesuai


- Kaji masalah kesehatan yang relevan pada remaja dan / lihat

dari rekam medis


- Tingkatkan upaya kesehatan diri dan berhias
- Tingkatkan upaya diet yang sehat
c Bantuan perawatan diri
- Pertimbangkan usia pasien ketika meningkatkan aktivitas

perawatan diri
- Monitor kemampuan perawatan diri, alat bantu untuk

berpakaian, berdandan, eliminasi dan makan


Gak pakai rasional ya......................................
-
4. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan infeksi kulit
Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x

24 jam. Diharapkan klien :


a Keparahan infeksi :
- Kemerahan ditingkatkan ke 4 (ringan)
- Vesikel yang tidak mengeras permukaannya ditingkatkan ke

4 (ringan)
b Respon pengobatan
- Interaksi pengobatan ditingkatkan ke 4 (ringan)

Intervensi
a Kontrol infeksi
- Anjurkan pasien mengenai tehnik mencuci tangan dengan

tepat
- Pastikan tehnik perawatan luka yang tepat
- Berikan terapi antibiotic yang sesuai
- Anjurkan pasien untuk minum antibiotic seperti yang

diresepkan
b Manajemen Nutrisi
- Atur diet yang diperlukan (menyediakan makanan protein

tinggi, mengurangi kalori)


-
Monitor kalori dan asupan makanan
c Perawatan Luka
- Oleskan salep yang sesuai dengan kulit atau lesi
- Bandingkan dan catat setiap perubahan luka
- Anjurkan pasien atau anggota keluarga pada prosedur

perawatan luka
- Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengenal tanda dan

gejala infeksi
- Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan tampilan
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
Acne vulgaris adalah penyakit integument yang menyebabkan munculnya

komedo, pustule, dan papula pada area tubuh seperti wajah, punggung,

dada, kaki, tangan, dll. Berdasarkan sumber literature yang kami dapatkan,

acne vulgaris dapat aktif terjadi saat usia remaja sampai dewasa. Pada

wanita dapat terjadi hingga usia diatas 30 tahun sedangkan pada pria dapat

menghilang di usia 30 tahun. Hal ini sesuai dengan kondisi kasus

kelompok kami kali ini yaitu penderita merupakan gadis remaja berusia 17

tahun yang menderita jerawat dan komedo di daerah wajah dan

punggungnya. Pada pengkajian fisik ditemukan area kemerahan pada

wajah dan punggung pasien. Banyak terdapat cekungan dan bekas

kehitaman pada wajah pasien. Pasien mengatakan merasa gatal pada area

pustule dan papula. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, pasien terkadang

memalingkan mukanya dan menutupi sebagian mukanya dengan tangan.

Pasien juga mengatakan merasa malu dengan keadaan wajahnya saat ini

dan sulit berbaur dengan teman sebayanya.


B. Analisa Data
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada pasien, didapatkan data

bahwa pasien mengeluh kulitnya tidak rata, banyak bekas jerawat

kehitaman, memerah di beberapa tempat dimana jerawat sedang

meradang, terasa gatal, panas dan sedikit nyeri di area yang ditumbuhi

jerawat yaitu di wajah dan punggung. Keluhan-keluhan ini sesuai dengan

tanda gejala acne vulgaris yang terdapat dalam referensi literature.

Literature mengatakan komedo yang terdapat pada acne vulgaris adalah

sebum yang menutupi pori-pori kulit. Ada komedo yang tertutup yaitu

komedo yang masih berwarna putih dan umumnya tidak terlihat dan ada

komedo yang terbuka yaitu komedo yang memiliki saluran terbuka ke

dunia luar dan berwarna kehitaman. Hal ini disebabkan penumpukan

sebum dan terbukanya debris epitel.

Komedo tertutup dapat mengalami rupture dan peradangan akibat

penumpukan bakteri sehingga membentuk pustule dan papula.

Penumpukan bakteri juga menyebabkan rasa gatal dan panas di area

sekitar papula dan pustule. Hal inilah yang terjadi pada pasien di kasus

ini. Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami pasien yaitu terdapat

komedo, pustule dan papula, maka dapat disimpulkan pasien mengalami

moderate inflammatory acne (akne peradangan yang sedang).


Selain kerusakan jaringan kulit dan rasa gatal, pasien juga mengeluhkan

tentang rasa percaya dirinya yang menurun dan kesulitannya untuk

berbaur dengan teman-teman sebayanya karena ia tidak menyukai kondisi

kulitnya saat ini. Pasien mengatakan selalu menutupi wajahnya dengan


telapak tangan atau masker saat berbicara dengan orang lain. Pasien juga

tampak memalingkan wajahnya beberapa kali saat berbicara.


Dari hasil pengkajian dan pemeriksaan, didapat data warna kemerahan di

area pustule dan papula. Bahkan terlihat ada beberapa papula yang

mengalami rupture. Pasien juga tampak menggaruk area wajah dan

punggungnya.

C. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang didapat dari pengkajian dan pemeriksaan fisik,

maka diagnosa keperawatan yang dapat diambil adalah antara lain

kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan penumpukan sebum,

gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit rasa gatal dan

nyeri, gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan perubahan

penampilan tubuh dan resiko infeksi berhubungan dengan gangguan

integritas kulit.
Beberapa diagnosa keperawatan yang terdapat dalam kasus sesuai dengan

diagnosa keperawatan yang ditemukan dalam literature walaupun ada

diagnosa yang tidak terdapat dalam kasus. Diagnosa yang sesuai antara

kasus dan sumber literature adalah antara lain kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan penumpukan sebum. Penumpukan sebum yang

terjadi akan menyumbat saluran folikel sehingga menyebabkan gangguan

fungsi integument dan peradangan/infeksi pada integument.


Diagnosa keperawatan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala

penyakit rasa gatal dan nyeri yang terjadi pada kasus sesuai dengan

diagnosa serupa yang terdapat pada literature. Hal ini terjadi sebagai salah

satu dampak peradangan akibat bakteri yang berkumpul di area papula


dimana bakteri memicu reaksi antibody antigen berupa rasa gatal dan

nyeri di area inflamasi.


Diagnosa keperawatan gangguan citra tubuh berhubungan dengan

perubahan penampilan tubuh yang terdapat pada literature dan kasus

merupakan hal yang umum terjadi pada pasien dengan penyakit acne

vulgaris, terutama pasien yang berjenis kelamin perempuan dan masih

berusia reamaja tentu akan lebih memperhatikan penampilannya

dihadapan teman-teman sebayanya. Dengan adanya gangguan integritas

kulit tentu akan membuat pasien kurang percaya diri dengan

penampilannya. Jika hal ini diabaikan atau dianggap remeh, dapat

menyebabkan penurunan harga diri pasien yang lebih signifikan dan dapat

menyebabkan harga diri rendah.

Pustule dan papula yang rupture memudahkan bakteri untuk memasuki

tubuh dan hal ini menjadi penyebab diagnosa keperawatan resiko infeksi

berhubungan dengan kerusakan integritas kulit yang terdapat pada

literature dan kasus. Resiko infeksi semakin diperbesar dengan kebiasaan

pasien menggaruk area yang terinflamasi sehingga dapat memperparah

keadaan integumen pasien.

Sementara diagnosa keperawatan yang tidak sesuai antara literature dan

kasus kali ini adalah diagnosa keperawatan kurang pengetahuan. Diagnosa

ini tidak terdapat pada kasus karena orangtua pasien telah memiliki

pengetahuan dan pengalaman dengan penyakit serupa sehingga langsung


datang ke pelayanan kesehatan untuk mendapat perawatan yang benar dan

sesuai dengan kondisi pasien.

D. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan yang kami buat dalam kasus ini berdasarkan

sumber literature NIC dan NOC dimana tujuan, kriteria hasil dan

intervensi keperawatan yang kami buat disesuaikan dengan kondisi dan

kebutuhan pasien.
Pada diagosa keperawatan kerusakan integritas kulit kami

merencanakan tindakan keperawatan berupa pemberian obat kulit juga

tindakan perawatan kulit pengobatan topical yang sesuai dengan langkah-

langkah yang tepat agar hasil pemulihan integument sesuai dengan yang

diharapkan.
Untuk diagnosa keperawatan gangguan rasa nyaman intervensi yang

kami rencanakan adalah pemberian obat dan peningkatan tidur yang

bertujuan dengan pemberian obat yang sesuai maka akan mengurangi rasa

tidak nyaman yang dialami pasien dan peningkatan tidur akan mengurangi

stress yang merupakan salah satu faktor penyebab acne vulgaris.


Pada diagnosa keperawatan gangguan citra tubuh kami merencanakan

intervensi peningkatan citra tubuh yang akan membantu pasien menyadari

dan mengetahui keadaan tubuhnya yang sebenarnya, peningkatan

perkembangan remaja yang bertujuan membantu pasien menyadari

kondisi nya sebagai remaja dan hal-hal yang normal untuk dilakukan dan

terjadi pada remaja, dan intervensi bantuan perawatan diri yang dilakukan

sesuai dengan kebutuhan pasien jika pasien mengalami kesulitan dalam

memenuhi kebutuhan nya sendiri.


Untuk diagnosa keperawatan resiko infeksi kami merencanakan

intervensi keperawatan yang berfokus pada mempertahankan dan

meningkatkan kondisi pasien seperti intervensi control infeksi yang

bertujuan mempertahankan dan meningkatkan kondisi integument pasien.

Intervensi manajemen nutrisi bertujuan membantu proses pemulihan

integument pasien dengan asupan nutrisi yang tepat. Sementara untuk

mempertahankan dan meningkatkan kondisi integument pasien maka perlu

dilakukan intervensi perawatan luka agar integument pasien dapat dirawat

dengan cara dan langkah yang tepat, sesuai dengan kondisi pasien.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Acne vulgaris merupakan salah satu penyakit integument yang menyebabkan

munculnya komedo, pustule, dan papula pada area tubuh seperti wajah,

punggung, dada, kaki, tangan, dll. Acne vulgaris dapat aktif terjadi saat usia

remaja sampai dewasa. Pada wanita dapat terjadi hingga usia diatas 30 tahun

sedangkan pada pria dapat menghilang di usia 30 tahun.


Selain menyebabkan rasa gatal dan kerusakan integritas pada kulit, acne

vulgaris juga dapat menyebabkan kepercayaan diri menurun terutama pada wanita

jika acne vulgaris timbul di bagian wajah. Keluhan pasien seperti, kulitnya tidak

rata, banyak bekas jerawat kehitaman, memerah di beberapa tempat dimana

jerawat sedang meradang, terasa gatal, panas dan sedikit nyeri di area yang

ditumbuhi jerawat merupakan tanda dan gejala dari Acne Vulgaris.


Beberapa daignosa keperawatan yang dapat diambil pada asuhan keperawatan

acne vulgaris, yaitu kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan penumpukan

sebum, gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit rasa gatal dan

nyeri, gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan perubahan

penampilan tubuh dan resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas

kulit.
5.2 Saran