Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH MIKROBIOLOGI INDUSTRI

SIFAT DAN PERANAN ALGAE

Disusun oleh:
Armiaji Pribadi 062114102
Bayu Setiyo Raharjo 062114107
Farham Mubyam 062114105
Hanifa Legitha 062114
Iqbal Rafsanjani 062114
Mohammad Arief Rachman 062114057
Raden Adinda Kusuma Putri 062114076
Wiembi Kristi Kalista 062114091
Wiwit Prihandini 062114097
Yani Lusiana 062114100

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya, penyusun dapat menyelesaikan makalah Mikrobiologi
Industri dengan tema Sifat dan Peranan Algae ini tepat pada waktunya. Teriring
selalu shalawat beserta salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, rahmat
semesta alam.
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Mikrobiologi Industri.
Makalah ini terdiri dari tiga bab. Bab pertama berisi tentang pendahuluan,
seperti latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penulisan. Bab selanjutnya
berisi tentang isi mengenai algae, habitat algae, morfologi algae, reproduksi algae,
fisiologis algae, klasifikasi algae, manfaat dan peranan algae, dan Botryococcus
braunii sebagai Alga Mikro Penghasil Bahan Bakar Cair. Lalu, makalah ini ditutup
dengan sebuah kesimpulan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca guna
memperbaiki makalah ini.
Penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penambahan
wawasan penyusun khususnya dan seluruh mahasiswa Universitas Pakuan serta
pembaca pada umumnya.

Bogor, Mei 2015

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................1

BAB II ISI
2.1 Algae ...........................................................................................2
2.2 Habitat Algae...............................................................................3
2.3 Morfologi Algae ...........................................................................3
2.4 Reproduksi Algae ........................................................................4
2.5 Fisiologis Algae ...........................................................................5
2.6 Klasifikasi Algae ..........................................................................5
2.7 Manfaat dan Peranan Algae ...................................................... 14
2.4.5 Botryococcus braunii sebagai Alga Mikro Penghasil
Bahan Bakar Cair. ..................................................................... 23

KESIMPULAN ............................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 27

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jenis Hidrokarbon Dominan......................................................... 25

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Chlorella sp dan pembiakannya.....................................................6


Gambar 2 Euglena, Chlamydomonas, Volvox ................................................7
Gambar 3 Skema Reproduksi Spyrogyra .......................................................8
Gambar 4 Chara sp ........................................................................................9
Gambar 5 Skema Reproduksi Ulva ................................................................9
Gambar 6 Bermacam macam Algae Coklat............................................... 10
Gambar 7 Bermacam macam Ganggang Merah ....................................... 11
Gambar 8 Jenis Jenis Ganggang Keemasan ............................................ 12

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.


Indonesia dikenal sebagai negara yang subur dan kaya akan sumber
daya alam. Sebagai negara dengan luas wilayah lebih dari 70 %, salah
satu kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan adalah sumber daya alam
hayati. Selain ikan, hasil laut alternative yang dapat diolah adalah alga
meskipun tidak semua alga bisa digunakan.
Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang
merupakan tumbuhan talus karena belum memiliki akar, batang dan daun
sejati. Tumbuhan ganggang merupakan tumbuhan talus yang hidup di air,
baik air tawar maupun air laut, atau dengan kata lain selalu menempati
habitat yang lembab atau basah. Jenis yang hidup bebas di air terutama
yang bersel satu dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun plankton,
tepatnya fitoplankton. Yang melekat pada sesuatu yang ada di dalam air
disebut bentos. Jenis yang bergerak aktif mempunyai alat untuk bergerak
berupa bulu cambuk atau flagel.
Ganggang mempunyai manfaat, terutama dalam industri-industri
makanan. Selain itu juga ganggang mempunyai peranan sebagai
penyusun plankton di laut.

1.2 Rumusan Masalah.


Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dihasilkan
perumusan masalah yang harus segera dibahas, yaitu:
1. Sifat, morfologi, habitat, fisiologi dan reproduksi algae.
2. Klasifikasi algae.
3. Manfaat dan peranan algae dalam berbagai bidang.

1.3 Tujuan Penulisan.


Penulisan makalah ini memiliki beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut.
1. Mengetahui sifat, habitat, morfologi, fisiologi dan reproduksi algae.
2. Mengetahui klasifikasi algae.
3. Mengetahui manfaat dan peranan algae dalam berbagai bidang.

1
BAB II
ISI

2.1 Algae.
Algae (ganggang), bukan lagi merupakan nama formal sebuah
kelompok taksonomik, nama tersebut hanya merupakan nama umum bagi
sejumlah organisme yang berfotosintesis secara sederhana. Kebanyakan
ahli botani mengelompokkan ke dalam dunia tumbuhan, tetapi karena
semua ganggang tidak memiliki sebagian ciri-ciri pokok dunia tumbuhan
maka ia dikelompokkan ke dalam dunia tersendiri, yaitu Protista.
Sebagai organisme bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak
(multiseluler) algae memiliki klorofil yang dapat berfungsi untuk fotosintesis.
Selain klorofil, algae juga memiliki pigmen lain, seperti fikosianin (warna
biru), fikoeritrin (warna merah), fikosantin (warna coklat), xantofil (warna
kuning) dan karotena (warna keemasan).
Beberapa algae ada yang berthalus, yaitu struktur tubuhnya yang
berupa akar, batang, dan daun tidak sejati. Reproduksi vegetative alga
secara membelah diri, fragmentasi atau membentuk spora. Sedangkan,
secara generatif dengan menyatukan dua sel gamet jantan dan betina.
Hasil peleburan dua gamet yang berukuran sama disebut dengan isogami,
dan peleburan dua gamet dengan ukuran yang berbeda disebut anisogami.
Sebagai vegetasi perintis, algae menempel pada makhluk hidup lain
atau di tempat-tempat basah dan lembab. Sedangkan, beberapa jenis
algae banyak ditemukan di perairan, baik air tawar maupun air laut sebagai
plankton.
Berdasarkan pigmen atau zat warna yang dikandungnya, alga
dikelompokkan menjadi 5 divisio, sebagai berikut.
1. Ganggang hijau (Chlorophyta).
2. Ganggang coklat (Phaeophyta).
3. Ganggang merah (Rhodophyta).
4. Ganggang keemasan (Chrysophyta).
5. Ganggang hijau biru (Cyanophyta).

2
2.2 Habitat Algae.
Pertumbuhan dan penyebaran alga seperti halnya biota perairan
lainnya sangat dipengaruhi oleh toleransi fisiologi dari biota tersebut untuk
beradaptasi terhadap faktor-faktor lingkungan, seperti substrat, salinitas
(kadar garam), suhu, intensitas cahaya, tekanan dan nutrisi. Secara umum,
alga dijumpai tumbuh di daerah perairan yang dangkal atau di daerah
pasang surut (intertidal dan sublitorral) yang masih dapat ditembus oleh
sinar matahari dengan kondisi dasar perairan berpasir, sedikit lumpur, atau
campuran keduanya. Alga memiliki sifat benthic (melekat) dan disebut juga
benthic algae. Di samping itu, alga juga hidup sebagai fitobentos dengan
cara melekatkan talus pada substrat pasir, lumpur, karang, fragmen karang
mati, kulit kerang, batu atau kayu (Anggadiredja, dkk., 2010).
Daerah sebaran beberapa jenis alga di Indonesia sangat luas, baik yang
tumbuh secara alami maupun yang dibudidayakan. Wilayah sebaran alga
yang tumbuh alami terdapat di hampir seluruh perairan dangkal laut
Indonesia yang mempunyai rataan terumbu karang (Anggadiredja, dkk.,
2010).

2.3 Morfologi Algae.


Algae uniseluler (mikroskopik) dapat betul-betul berupa sel tunggal, atau
tumbuh dalam bentuk rantaian atau filamen. Ada beberapa jenis algae yang
sel-selnya membentuk koloni, misalnya pada Volvox, koloni terbentuk dari
500-60.000 sel. Koloni - koloni inilah yang dapat dilihat dengan mata biasa.
Algae multiseluler (makroskopik) mempunyai ukuran besar, sehingga
dapat dilihat dengan mata biasa. Pada algae makroskopik biasanya
mempunyai berbagai macam struktur khusus. Beberapa jenis algae
mempunyai struktur yang disebut hold fast, yang mirip dengan sistem
perakaran pada tanaman, yang berfungsi untuk menempelnya algae pada
batuan atau substrat tertentu, tetapi tidak dapat digunakan untuk menyerap
air atau nutrien. Algae tidak memerlukan sistem transport nutrien dan air,
karena nutrien dan air dapat dipenuhi dari seluruh sel algae. Struktur khusus
yang lain adalah bladder atau pengapung, yang berguna untuk
menempatkan algae pada posisi tepat untuk mendapatkan cahaya
maksimum. Tangkai atau batang pada algae disebut stipe, yang berguna

3
untuk mendukung blade, yaitu bagian utama algae yang berfungsi
mengabsorbsi nutrien dan cahaya.

2.4 Reproduksi Algae.


Perkembangbiakan secara aseksual terjadi melalui proses yang disebut
mitosis. Kebanyakan algae bersel tunggal berkembang biak dengan
membelah diri, seperti pada bakteri (prokariot). Perbedaannya, pada
pembelahan sel prokariot terjadi replikasi DNA, dan masing-masing sel hasil
pembelahan mempunyai setengah DNA awal dan setengah DNA hasil
replikasi. Sedangkan pada algae eukariot, terjadi penggandaan kromosom
dengan proses yang lebih kompleks yang disebut mitosis. Masing-masing
sel hasil pembelahan mempunyai kromosom turunannya.
Algae lain, khususnya yang berbentuk multiseluler, berkembang biak
dengan berbagai cara. Beberapa jenis algae dapat mengadakan
fragmentasi, yaitu pemotongan bagian filamen yang kemudian dapat
tumbuh menjadi individu baru. Algae yang lain berkembang biak dengan
menghasilkan spora. Spora algae mempunyai struktur yang berbeda
dengan endospora pada bakteri. Spora ada yang dapat bergerak aktif, yang
disebut zoospora, dan ada yang tidak dapat bergerak aktif (nonmotil)
disebut autospora.
Perkembangbiakan secara aseksual pada algae seperti pada jasad
eukariotik lain, yaitu dengan terbentuknya dua jenis sel khusus yang disebut
gamet yang bersifat haploid. Dua sel gamet tersebut melebur dan
menghasilkan zygot yang bersifat diploid. Zygot mempunyai dua turunan
masing-masing kromosom (2n). Gamet hanya mempunyai satu turunan
kromosom (1n). Proses reduksi jumlah kromosom ini disebut meiosis.
Meiosis terjadi dalam masa-masa yang berbeda pada berbagai siklus
hidup algae. Beberapa jenis algae selama siklus hidupnya terutama berada
pada fase diploid, tetapi algae lain mempunyai fase zygot sampai meiosis
yang sangat singkat, sehingga dalam siklus hidupnya terutama berada pada
fase haploid. Pada algae yang berukuran besar (makroskopik) ada yang
mempunyai 2 macam struktur reproduktif yang berbeda, yaitu gametofit
(haploid) dan sporofit (diploid). Sebagai contoh adalah pada Ulva yang
termasuk algae hijau.

4
2.5 Fisiologis Algae.
Pada umumnya algae bersifat fotosintetik, menggunakan H2O sebagai
donor elektron, pada keadaan tertentu beberapa algae dapat menggunakan
H2 untuk proses fotosintesa tanpa menghasilkan O2. Sifat fotosintetik pada
algae dapat bersifat mutlak (obligat fototrof), jadi algae ini tumbuh di tempat-
tempat yang terkena cahaya matahari. Beberapa algae bersifat
khemoorganotrof, sehingga dapat mengkatabolisme gula-gula sederhana
atau asam organik pada keadaan gelap. Senyawa organik yang banyak
digunakan algae adalah asetat, yang dapat digunakan sebagai sumber C
dan sumber energi. Algae tertentu dapat mengasimilasi senyawa organik
sederhana dengan menggunakan sumber energi cahaya (fotoheterotrof).
Pada algae tertentu dapat tidak terjadi proses fotosintesa sama sekali,
dalam hal ini pemenuhan kebutuhan nutrisi didapatkan secara heterotrof.
Pada umumnya algae yang dapat melakukan fotosintesa normal, dapat
tumbuh baik dengan cepat dalam keadaan gelap, dengan menghabiskan
berbagai senyawa organik hasil fotosintesa. Pada keadaan gelap, proses
fotosintesa berubah menjadi proses respirasi. Pada algae heterotrof,
pemenuhan kebutuhan energi berasal dari bahan organik yang ada di
sekitarnya. Algae yang tidak berdinding sel dapat memakan bakteri secara
fagotrofik. Algae leukofitik adalah algae yang kehilangan kloroplas.
Hilangnya kloroplas tersebut bersifat tetap, atau tidak dapat kembali seperti
semula. Hal ini banyak terjadi pada algae bersel tunggal seperti diatomae,
flagelata, dan algae hijau nonmotil. Algae leukofitik dapat dibuat, misalnya
Euglena yang diperlakukan dengan streptomisin atau sinar ultra violet.

2.6 Klasifikasi Algae.


Berdasarkan pigmen atau zat warna yang dikandungnya, algae
dikelompokkan menjadi 5 divisio, sebagai berikut.
1. Ganggang hijau (Chlorophyta).
2. Ganggang coklat (Phaeophyta).
3. Ganggang merah (Rhodophyta).
4. Ganggang keemasan (Chrysophyta).
5. Ganggang hijau biru (Cyanophyta).

5
2.6.1 Ganggang hijau (Chlorophyta).
Ganggang hijau merupakan ganggang uniseluler maupun
multiseluler yang memiliki klorofil yang dominan sehingga berwarna
hijau. Selain klorofil a dan klorofil b terdapat juga pigmen karotin dan
xantofil. Jenis ganggang ini hampir 90 % hidup di air tawar dan 10 %
hidup di laut sebagai plankton, menempel pada batuan atau
tumbuhan lain. Jenis-jenis ganggang hijau dikelompokkan menjadi:
a. Ganggang bersel satu tidak bergerak.
1) Chlorella sp. berbentuk bulat, hidup di air tawar atau air laut,
reproduksi secara vegetative dengan membelah diri, banyak
digunakan untuk mempelajari fotosintesis.

Gambar 1:Chlorella sp. dan pembiakannya.

2) Cholococcum sp. berbentuk bulat, hidup di air tawar, reproduksi


secara vegetative dengan membentuk zoospora secara
generatif dengan isogami.
b. Ganggang bersel satu bergerak.
1) Chlamydomonas sp, berbentuk bulat telur, memiliki dua flagel,
kloroplasnya berbentuk mangkok atau pita mengandung
pyrenoid dan sigma. Reproduksinya dengan membelah diri dan
konjugasi.
2) Euglena viridis, bentuknya seperti mata, memiliki sebuah flagel,
klorofil dan sigma. Reproduksinya dengan membelah diri.
Euglena ada juga mengelompokkannya ke dalam protozoa.

6
Gambar 2: Euglena, Chlamydomonas, Volvox

c. Berbentuk koloni yang bergerak.


Volvox globator, bentuk koloninya menyerupai bola yang
tersusun atas ribuan volvox yang satu dengan yang lain
dihubungkan oleh benang-benang sitoplasma. Volvox juga
dikelompokan ke dalam protozoa.
d. Berbentuk koloni yang tidak bergerak.
Hydrodiction sp, koloninya berbentuk jala, banyak ditemukan di
air tawar, reproduksinya secara vegetatif dengan fragmentasi dan
secara generatif dengan konjugasi.
e. Berbentuk benang.
Spirogyra sp., kloroplasnya berbentuk spiral, hidup di air tawar,
reproduksinya secara vegetatif dengan konjugasi.
Spirogyra plasmogami kariogami zigospora individu
baru

7
Gambar 3: Skema Reproduksi Spyrogyra.

f. Berbentuk lembaran.
Ulva, hidup di laut menempel pada batu, dapat dimakan.
Reproduksinya secara vegetatif dengan membentuk zoospore
dan secara generatif dengan isogami.
Chara, bentuknya seperti tumbuhan tinggi, memiliki batang-
batang dan cabang yang beruas-ruas, hidup di air tawar.
Reproduksinya secara vegetative dengan fragmentasi dan secara
generatif dengan pertemuan sel telur yang dihasilkan oleh
oogonium dan sel sperma yang dihasilkan oleh anteridium.

8
Gambar 4:Chara sp.

Gambar 5:Skema Reproduksi Ulva

2.6.2 Ganggang Coklat (Phaeophyta).


Umumnya ganggang coklat bersel banyak (multiselluler), dengan
pigmen coklat (fukosantin) yang dominan disamping memiliki klorofil
a dan b. Bentuk tubuhnya yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi
karena memiliki bagian menyerupai akar, batang, dan daun membuat
ganggang ini mudah dikenali. Banyak ditemukan di pantai atau

9
perairan laut dangkal. Cara reproduksi ganggang coklat secara
vegetatif dengan fragmentasi dan generatif melalui isogami atau
oogami.
Jenis-jenis alga coklat, antara lain:
a) Laminaria, memiliki batang, daunnya berbentuk lembaran,
mengandung yodium dan asam alginat.
b) Macrocystis, menghasilkan yodium dan asam alginat yang
berfungsi sebagai bahan industri.
c) Sargasum, daunnya berbentuk lembaran, di antara batang dan
tangkainya terdapat gelembung udara.
d) Fucus, bentuk daun berupa lembaran dan pada bagian tepi
daun terdapat gelembung. Ada cara reproduksi vegetatif alga
coklat mirip dengan tumbuhan tinggi yaitu, pada ujung daun
fertil terbentuk reseptakel, yaitu badan yang mengandung alat
pembiak. Alat pembiaknya disebut konseptakel yang
menghasilkan ovum dan spermatozoid.

Gambar 6: Bermacam - macam Algae Coklat.

2.6.3 Ganggang Merah (Rhodophyta).


Merupakan ganggang yang tubuhnya bersel banyak
(multiselluler), memilki klorofil a dan b dengan pigmen dominan

10
merah (fikoeritrin) dan karotin. Bentuk tubuh yang menyerupai
tumbuhan tinggi dan hidup di laut banyak dimanfaatkan manusia
untuk bahan makanan agar-agar. Cara reproduksi ganggang merah
secara vegetative dengan membentuk spora dan secara generative
dengan anisogami.
Jenis-jenis alga merah yang terkenal antara lain:
a. Euchema spinosum, sebagai bahan pembuat agar-agar,
banyak terdapat di perairan Indonesia.
b. Gelidium sp. dan Gracilaria sp, sebagai bahan pembuatan
agar-agar banyak terdapat di perairan negara yang agak
dingin.
c. Batracnospermum.

Gambar 7:Bermacam - macam Ganggang Merah.

2.6.4 Ganggang Keemasan (Chrysophyta).


Ganggang ini ada yang bersel satu (uniselluler) dan bersel banyak
(multiselluler). Memiliki klorofil a dan b serta pigmen dominan
keemasan (karotin) dan fukosantin. Dapat dijumpai hidup di air tawar
maupun air laut. Secara sederhana reproduksi vegetatif alga ini
dengan membelah diri atau dengan zoospora spermatozoid.
Jenis-jenis alga keemasan antara lain sebagai berikut.

11
a. Bersel tunggal.
1. Ochromonas, bentuknya seperti bola, memiliki flagel yang
panjangnya tidak sama, reproduksinya dengan membelah
diri.
2. Navicula, sering disebut dengan diatome atau ganggang
kersik, bentuk tubuhnya kotak atau elips, jika mati fosilnya
akan membentuk tanah diatome yang berfungsi sebagai
bahan penggosok, campuran semen atau penyerap
nitrogliserin pada bahan peledak. Reproduksinya membelah
diri dengan memisahkan bagian tubuhnya yang terdiri dari
hipoteka (kotak) dan epiteka (tutup).
3. Pinnularia, mirip dengan diatome.
b. Bersel banyak.
Vaucheria, tubuhnya berbentuk benang, hidupnya di air
tawar, reproduksinya secara vegetatif dengan membentuk
zoospora dan secara generatif dengan pertemuan sel telur
yang dihasilkan oleh oogonium dan sel sperma yang dihasilkan
oleh antheridium.

Gambar 8:Jenis - Jenis Ganggang Keemasan.

2.6.5 Ganggang hijau biru (Cyanophyta).


Ganggang hijau biru termasuk kedalam monera, karena struktur
selnya sama dengan struktur sel bakteri, yaitu bersifat prokariotik.

12
Ganggang hijau biru berukuran mikroskopis. Ganggang hijau biru
tersebar luas, banyak ditemukan di perairan tanah yang lembab,
permukaan dinding tembok, pot, batu karang yang lembab. Bahkan
ditemukan pula di tempat yang kurang menguntungkan
lingkungannya. Beberapa jenis dijumpai pada sumber air panas
seperti mata air panas Yellow Stone Park di Amerika.
Ganggang hijau biru merupakan tumbuhan bersel satu, benang
(filamen) dan hidup berkoloni. Memiliki klorofil, karotenoid serta
pigmen fikobilin yang terdiri dari fikosianin dan fikoeritin (sering
disebut ganggang hijau biru). Dinding sel mengandung peptida,
hemiselulosa dan selulosa, kadang -kadang berlendir. Inti sel tidak
memiliki membran (prokarion)
Contoh:
a. Bentuk unisel (satu sel) yaitu Chroococcus, Gloeocapsa
b. Bentuk koloni yaitu Polycystis
c. Bentuk filament yaitu Oscilatoria, Nostoc, Anabaena, Rivularia.
Cara perkembangbiakan ganggang hijau biru, dilakukan dengan
tiga cara, yaitu:
a. Pembelahan sel.
Melalui cara ini sel dapat langsung terpisah atau tetap
bergabung membentuk koloni. Misal: Gloeocapsa.
b. Fragmentasi.
Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh
tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru.
Fragmentasi terutama pada ganggang Oscillatoria. Pada
filamen yang panjang, bila salah satu selnya mati, maka sel
mati itu membagi filamen menjadi dua bagian atau lebih.
Masing-masing bagian disebut Hormogonium.
c. Spora.
Pada keadaan yang kurang menguntungkan akan terbentuk
spora yang sebenarnya merupakan sel vegetatif. Spora
membesar dan tebal karena penimbunan zat makanan.
Contoh: Chamaesiphon comfervicolus.

13
2.7 Manfaat dan Peranan Algae.
Manfaat ganggang atau algae banyak sekali, baik manfaat bagi
organisme lain, ekosistem, maupun manusia sebagai makhluk yang banyak
sekali memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di dunia ini.
Ganggang sebagai organisme protista fotosintetik merupakan penyusun
utama fitoplankton di perairan tawar maupun laut, di mana fitoplankton
merupakan sumber makanan utama bagi ikan dan hewan-hewan
invertebrata lain yang hidup di perairan tersebut. Ini adalah salah satu
manfaat ganggang bagi makhluk hidup lain selain manusia. Manfaat lain
misalnya sebagai organisme simbion bagi organisme lain seperti pada
lichen, yaitu hasil simbiosis jamur dengan ganggang hijau, di mana
ganggang hijau berperan sebagai penghasil zat organik yang dimanfaatkan
jamur simbion ganggang tersebut untuk makanannya. Sedangkan manfaat
dari lichen (simbiosis ganggang dengan jamur) ini pun banyak sekali,
misalnya untuk bahan pembuat obat, sebagai bahan penambah rasa dan
aroma makanan, sebagai bahan pewarna kertas pH atau kertas lakmus,
sebagai organisme perintis, dan sebagai indikator pencemaran udara.
Bagi ekosistem atau lingkungan, ganggang berperan terutama sebagai
komponen produsen, juga sebagai konsumen (dalam hal ini sebagai
makhluk parasitik) dalam ekosistem air tawar dan air laut. Selain itu
ganggang juga berperan sebagai penghasil oksigen pada air yang dapat
dimanfaatkan ikan dan hewan lain untuk bernafas, sebagai tempat hidup
dan penyedia makanan bagi ikan maupun hewan lain.
Bagi manusia, ganggang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai
kebutuhan hidup manusia yang tak terhitung jumlahnya. Ganggang pun tak
hanya sebagai pemenuh kebutuhan pangan saja, akan tetapi berkembang
menjadi bahan pemenuh kebutuhan kesehatan, bermacam industri serta
kemajuan ilmu pengetahuan. Berikut ini dijelaskan berbagai manfaat
ganggang bagi manusia dalam berbagai bidang atau aspek kehidupan.

A. Manfaat Ganggang Hijau Biru.


Spirulina/ganggang Hijau Biru merupakan gangggang-ganggang
mikro hasil budidaya, mengandung konsentrasi bahan gizi terhebat
yang dikenal di setiap makanan, tumbuhan, bijian atau herba. Spirulina
adalah makanan yang tinggi protein, dengan lebih dari 60% protein

14
nabati yang mudah dicerna dengan sempurna. Alga berwarna hijau
kebiruan itu awalnya hanya diketahui sebagai penurun kolesterol.
Pengujian ilmiahnya dilakukan oleh Nayaka dari Tokai
University,Jepang. Sebanyak 30 pria sehat berkolesterol tinggi dan
hiperlipidemia yang diberi asupan spirulina menunjukkan penurunan
4,5% jumlah serum kolesterol, trigliserida, dan LDL. Mereka
mengkonsumsi 4,2 gram spirulina selama 4 minggu tanpa mengubah
pola makan.
J. E. Piero Estrada dari Departament Farmakolog, Fakultas Farmasi,
Universitas Madrid, Spanyol mengungkap spirulina kaya antioksidan
lantaran kandungan 3 pigmen kaya protein yaitu phykosianin, klorofil,
dan zeasantin. Phykosianin, antioksidan larut air, penunjang kesehatan
hati dan ginjal. Zeasantin, antioksidan pelindung mata terutama saat tua.
Sedangkan klorofil, antioksidan bersifat antikanker dan antiracun.
Selain antikanker dan antiracun, penelitian Laboratory of Viral
Pathogenesis, Dana-Farber Cancer Institute and Harvard Medical
School, Massachusetts, Amerika Serikat pada 1996 membuktikan,
spirulina dalam konsentrasi 5-10 g/ml mampu menghambat
pembelahan sel HIV-1. Itu disebabkan spirulina memiliki kandungan
kalsium spirulan, molekul polimerisasi gula berisi kalsium dan sulfur.
Konsumsi spirulina terbukti memberikan masa hidup lebih lama pada
pasien AIDS.
Sedangkan Armida Hernindez-Corona dari Departamento de
Microbiologi, Escuela Nacional de Ciencias Biologicas, IPN, Meksiko,
menunjukkan ekstrak spirulina memiliki sifat antiviral. Ia efektif melawan
virus herpes simpleks tipe 2,pseudorabies virus (PRV), human
cytomegalovirus (HCMV), dan HSV-1, dengan dosis efektif (ED50)
masing-masing sebesar 0,069, 0,103, 0,142, dan 0,333 mg/ml.Karena
manfaat yang luar biasa, Arthrospira platensis kini banyak
dibudidayakan di seluruh dunia. Berjuta-juta pil spirulina pun telah
diproduksi lantaran terbukti menghadang dan menggempur berbagai
penyakit.
Fungsi:
1. Menyeimbangkan pH tubuh.
2. Mengandung Besi yang menyembuhkan Anemia.

15
3. Mencegah infeksi bakteri dan menyembuhkan luka.
4. Menurunkan tingkat Kolesterol.
5. Mencegah penyebaran kanker.
6. Memperkuat sistem kekebalan tubuh.
7. Membantu melembutkan kulit dan membuatnya nampak lebih
berseri.
8. Menjaga bakteria menguntungkan dalam jumlah yang cukup di
usus.
9. Meningkatkan sistem pencernaan tubuh.
10. Mendorong detoksifikasi ginjal.
11. Memulihkan kesehatan penderita kurang gizi.
12. Menurunkan tingkat Kolesterol dan mengendalikan masalah berat
badan.
13. Mengendalikan tekanan darah dan mencegah diabetes.
Sejumlah ganggang hijau biru berfilamen (bentuk benang) dapat
mengikat nitrogen (N2) bebas dari atmosfer dan diubah menjadi amoniak
(NH3). Hal ini dilakukan juga di dalam heterokista, sehingga dapat
berperan dalam proses menyuburkan tanah. Jenis ganggang hijau biru
yang bermanfaat di antaranya adalah:
1. Nostoc.
Perendaman sawah selama musim hujan mengakibatkan
Nostoc tumbuh subur dan memfiksasi N2 dan udara sehingga dapat
membantu penyediaan nitrogen yang digunakan untuk
pertumbuhan padi.

2. Anabaena azollae.
Hidup bersimbiosis dengan Azolla pinata (paku air). Paku air
mendapat keuntungan berupa amonia hasil fiksasi nitrogen oleh
Anabaena azollae.
3. Spirullina.
Ganggang ini mengandung kadar protein yang tinggi, sehingga
dijadikan sumber makanan.

16
B. Manfaat Ganggang Hijau.
Beberapa manfaat ganggang hijau adalah sebagai berikut.
1) Sebagai plankton dan merupakan komponen penting dalam rantai
makanan air tawar.
2) Dapat dipakai sebagai makanan, misal Ulva dan Chlorella.
3) Penghasil O2 dari proses fotosintesis yang diperlukan oleh hewan-
hewan air.
Namun ganggang hijau dapat mengganggu bila perairan terlalu subur,
sehingga air akan berubah warna dan berbau.

C. Manfaat Ganggang Coklat.


Beberapa manfaat ganggang coklat adalah sebagai berikut.
1) Penghasil asam alginat, sebagai bahan campuran es krim, cat, obat-
obatan, lateks sintetis.
2) Sumber I2 (iodium) dan K (kalium).
3) Sebagai makanan ternak.

D. Manfaat Ganggang Merah.


Ganggang merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah
banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga
menjadi bahan makanan bagi manusia misalnya Chondrus crispus
(lumut Irlandia) dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan
Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk
penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut.
Ganggang merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema
spinosum, Gelidium dan Agardhiella menghasilkan bahan bergelatin
yang dikenal sebagai agar-agar. Gelatin ini digunakan oleh para peneliti
sebagai medium bakteri, untuk pengental dalam banyak makanan,
perekat tekstil dan sebagai obat pencahar (laksatif), atau makanan
lainnya. Euchema spinosum banyak dibudidayakan masyarakat karena
merupakan bahan pembuat agar-agar.

17
E. Manfaat Ganggang Keemasan.
Diatome (ganggang kersik) dapat dipakai sebagai penyerap
nitrogliserin pada bahan peledak, sebagai campuran semen dan
sebagai bahan penggosok.

F. Manfaat Ganggang di Berbagai Bidang.


1. Bidang Pangan
Di bidang pangan, ganggang memegang peranan yang cukup
besar. Kandungan gizinya yang tinggi dan rasanya yang khas
membuat ganggang menjadi makanan favorit di berbagai negara,
seperti Korea, Jepang, China, dan juga Irlandia. Contohnya adalah
kombu, yaitu ganggang cokelat spesies Laminaria japonica yang
banyak dikonsumsi orang di negara-negara Asia Timur seperti
Tiongkok, Korea, dan Jepang. Di Jepang, kombu dipakai dalam
masakan Jepang sebagai bahan dasar kaldu yang disebut dashi,
dimasak bersama sayur-sayuran dan daging, atau diproses menjadi
makanan olahan sebagai lauk teman makan nasi.
Di kota Sakai (Prefektur Osaka), Jepang, yang dikenal sebagai
pusat perajin benda tajam, permukaan kombu diserut setelah
sebelumnya direndam dengan campuran cuka dan gula. Produk
akhir serutan tipis kombu yang berwarna putih krem disebut oboro
kombu yang rasanya sedikit asin dan manis. Oboro kombu digunakan
sebagai penyedap berbagai jenis masakan Jepang yang berupa sup
bening, ditaburkan di atas udon, atau sebagai pembungkus onigiri
dan baterazushi. Serutan bagian hitam kombu yang banyak terkena
campuran cuka dan gula disebut kuroi oboro. Serutan bagian dalam
kombu yang cuma sedikit terkena cuka dan sering dianggap sebagai
bagian terlezat disebut futo shiro oboro. Bagian inti kombu yang
sudah tidak dapat diserut lagi disebut shiroita kombu dan digunakan
pada oshizushi. Kombu juga diproses menjadi berbagai macam
makanan olahan untuk teman makan nasi atau bahan isi onigiri.
Berikut ini bermacam hasil olahan kombu di Jepang:
a) Shio kombu, yaitu kombu berasa asam-asin yang dipotong
persegi empat dan biasanya dinikmati sebagi teman minum teh
hijau.

18
b) Kombu tsukudani, yaitu kombu yang dimasak dengan gula, kecap
asin, atau berbagai jenis bahan lainnya seperti jamur shiitake,
jamur matsutake, dan ikan teri.
c) Nishin (ayu) no kombu maki yaitu ikan hering atau ikan ayu yang
dibungkus kombu dan dimasak cara tsukudani.
d) Di Hokkaido, kombu mentah dimakan sebagai sashimi.
e) Su kombu, yaitu makanan ringan berbentuk potongan-potongan
kecil kombu yang diproses dengan campuran gula dan bahan-
bahan lain.
f) Permen kombu.
Kombu dikenal sebagai makanan yang kaya akan serat, zat besi,
kalsium, dan iodium. Selain kombu, ganggang lain yang banyak
dimanfaatkan sebagai bahan makanan, tidak hanya di Jepang,
namun di berbagai negara di dunia yaitu:
a) Chlorella sp. (Chlorophyta) yang bermanfaat sebagai sumber
makanan suplemen bergizi tinggi atau biasa digunakan untuk
PST (Protein Sel Tunggal).
b) Ulva, Caulerpa, Enteromorpha (Chlorophyta) untuk sumber
makanan berupa sayur.
c) Eucheuma spinosum, Gelidium sp., Gracilaria lichenoides,
Agardhiella sp. (Rhodophyta) sebagai penghasil bahan serupa
gelatin yang disebut agar dan karagenan yang bermanfaat untuk
campuran pembuatan kue kering, pengental berbagai makanan
olahan, makanan penutup, dan untuk membuat es rumput laut.
d) Laminaria, Macrocystis, Fucus vesiculosus,dan Ascophyllum
sebagai penghasil algin (C6H8O6) dan alginat untuk campuran es
krim, pengental makanan (sirup, cokelat, permen, saus salad,
keju).
e) Macrocystis sp. sebagai bahan makanan suplemen yang kaya
unsur nitrogen, natrium, fosfor, dan kalsium.
f) Rhodymenia palmata sebagai sumber makanan yang kaya akan
gizi.
g) Porphyra tenerakijellum dikonsumsi sebagai lauk pauk atau
makanan olahan dan sebagai pembungkus sushi atau biasa
disebut nori.

19
2. Bidang Industri
Ganggang banyak dimanfaatkan dalam berbagai macam industri.
Seperti Chlorella yang dimanfaatkan dalam industri kosmetik,
Eucheuma spinosum, Gelidium, Gracilaria lichenoides, dan
Agardhiella yang menghasilkan agar dan karagenan dan
dimanfaatkan dalam industri tekstil sebagai perekat tekstil.
Selain ganggang yang telah disebutkan tadi, masih ada pula
ganggang lain yang dimanfaatkan dalam industri, yaitu ganggang
keemasan (misal: diatom) yang sisa-sisa cangkangnya yang
membentuk tanah diatom digunakan untuk bahan peledak, penyekat
dinamit, campuran semen, bahan alat penyadap suara, bahan
penggosok, bahan isolasi, bahan pembuat cat dan pernis, bahan
dasar pembuatan kaca, dan dalam pembuatan saringan. Dulu, ketika
piringan hitam masih digunakan, diatom ini pun digunakan untuk
membuat piringan hitam. Laminaria sp. juga digunakan sebagai
pengental dalam industri lem, tekstil, pelapis kertas, dan pasta gigi.
Chondrus sp. digunakan sebagai bahan pembuat lem, Chondrus
crispus dan Gigortina mamilosa digunakan sebagai penghasil
karagenan, untuk bahan penyamak kulit, bahan pembuat krim, dan
obat pencuci rambut (shampoo).
Baru-baru ini ditemukan pula manfaat ganggang sebagai bahan
bakar. Seorang peneliti Indonesia, Mujizat Kawaroe, menemukan
bahwa mikroalga yang melimpah di laut mengandung senyawa dasar
pembentuk bahan bakar, blue energy yang sebenarnya. Mujizat
menemukan bahwa dalam salah satu lipid mikroalga ini ternyata
terdapat hidrokarbon, senyawa dasar pembentuk bahan bakar.
Kandungan lipid dalam mikroalga diketahui 20 persen, namun dapat
ditingkatkan menjadi 50 persen melalui rekayasa genetik.
Protista fotosintetik yang dapat dijadikan bahan bakar ini yaitu
Chrysophyta dan Chlorophyta. Cyanophyta atau ganggang hijau-biru
yang merupakan anggota kingdom Monera bersama bakteri pun
dapat dijadikan sumber bahan bakar bioenergi. Tetapi di sini hanya
akan dibahas mengenai ganggang yang merupakan protista.
Spesies yang memiliki potensi terbesar yaitu dari genus Chlorella
dan Dunaliella yang memiliki kandungan lemak tinggi, adaptif

20
terhadap perubahan lingkungan, dan cepat laju pertumbuhannya.
Chlorella memiliki kandungan lemak 1422 persen dan karbohidrat
17 persen. Dunaliella memiliki kandungan lemak 6 persen dan
karbohidrat 32 persen. Dalam penelitian lain diketahui bahwa minyak
mentah mikroalga (crude alga oil) ternyata mengandung isochrysis
galbana 2035 persen dan nano-chloropsis oculata 3168 persen.
Proses pembuatan mikroalga tidaklah terlalu sulit. Langkah awal
yang dilakukan adalah identifikasi dan isolasi mikroalga, kemudian
dilakukan pengembangbiakan (kultivasi) selama 710 hari dan
setelah itu dapat dilakukan pemanenan. Selanjutnya, mikroalga
disaring, dikeringkan, dan diekstraksi menggunakan pelarut hexan
atau diethyl ether untuk menghasilkan natan. Tahap berikutnya
dilakukan pemurnian dan esterifikasi untuk mengurai lemak menjadi
hidrokarbon. Dalam 1 ton air kultivasi dapat dipanen 1 liter natan, dari
1 liter ini bisa dihasilkan 150 gram alga bioenergi atau jika digunakan
untuk proses pembuatan ekstrak akan didapat 22 mililiter minyak.
Jika diproses lagi,hasil ekstrak ini setara dengan 200 mililiter. Biaya
yang dibutuhkan pun cukup murah, hanya mulai dari 2.000 rupiah
untuk menghasilkan 1 liter natan. Hasil penelitian yang sangat
menjanjikan bagi dunia perindustrian dan bisnis ini masih
dikembangkan lagi untuk dapat menghasilkan bioenergi yang benar-
benar dapat digunakan secara global.

3. Bidang Kesehatan.
Dalam bidang kesehatan, protista fotosintetik telah dikenal
memiliki berbagai khasiat dan digunakan dalam pembuatan berbagai
obat-obatan. Misalnya Chlorella yang telah diketahui mengandung
klorofil 23 persen dari beratnya, protein 5560 persen, vitamin C,
vitamin E, kalsium, kalium, dan magnesium serta berkhasiat
meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi,
memperbaiki pencernaan, mendorong pertumbuhan bakteri yang
bermanfaat dalam usus, menanggulangi sembelit, mencegah sakit
maag, dan mencegah tumor. Ada pula Porphyra tenerakijellum yang
bermanfaat untuk suplemen kesehatan, Laminaria digitalis dan
Macrocystis pyrifera sebagai penghasil iodium untuk mengobati

21
penyakit gondok, Laminaria sp. sebagai bahan pembuatan pil, tablet
antibiotik, dan salep, Eucheuma spinosum, Gelidium, Gracillaria
lichenoides, Agardhiella sebagai obat pencahar (laksatif), dan
Dunaliella sp. yang digunakan sebagai sumber beta-karoten yang
bermanfaat untuk mencegah berbagai kanker termasuk kanker paru-
paru. Kombu yang berasal dari Laminaria japonica memiliki
kandungan serat, zat besi, kalsium dan iodium yang cukup tinggi
serta konon dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan mencegah
diabetes melitus.

4. Bidang Lainnya.
Di bidang pertanian, Laminaria sp. digunakan untuk pupuk
pertanian. Spirogyra dan Chara braunii dalam bidang sains
digunakan sebagai bahan percobaan fotosintesis, sedangkan
beberapa ganggang merah seperti Eucheuma spinosum dan
Agardhiella digunakan sebagai dasar pembentukan gel untuk media
biakan mikrobiologis serta fase padat pada elektroforesis gel.
Dalam budidaya ternak, Laminaria lavaniea digunakan untuk
makanan ternak karena banyak mengandung kalium. Di California,
Macrocystis pyrifera atau kelp dipanen untuk memberi makan kerang
abalone yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat. Di
Indonesia sendiri ganggang jenis Gracilaria sp. yang digunakan
untuk memberi makan kerang abalone yang banyak dibudidayakan
masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Dalam bidang ekonomi, ganggang memegang peranan yang
cukup penting, terutama bagi masyarakat pesisir dan negara-negara
kepulauan yang memiliki daerah laut lebih luas dibanding wilayah
daratannya. Masyarakat yang demikian banyak membudidayakan
ganggang maupun memanfaatkannya untuk makanan berbagai
hewan budidaya mereka. Melihat sekian banyaknya manfaat
ganggang di bidang industri dan pangan, sekiranya cukuplah bukti
dan alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa peranan ganggang
cukup besar di bidang ekonomi.

22
2.8 Botryococcus braunii sebagai Alga Mikro Penghasil Bahan Bakar Cair.
Botryococcus braunii merupakan alga mikro yang termasuk ke dalam
family Chlorophyta (alga hijau). Alga ini umunya ditemukan tersebar luas di
danau-danau dan di daerah perairan payau dengan membentuk koloni yang
terlihat seperti bunga air. Koloni alga ini mengapung di atas permukaan air
danau dan mampu membentuk endapan yang mudah terbakar pada daerah
perbatasan antara danau dengan daratan.
Endapan semacam ini diyakini sebagai asal-usul dari batubara dan
deposit aspal yang ditemukan di berbagai lokasi, biasa dikenal sebgai
torbanite,coorongite, atau balkaschite (Bachocen, 1982).
Koloni alga hijau Botryococcus braunii diyakini memiliki potensi tersendiri
sebagai sumber bahan bakar cair terbaharukan. Hali ini berkaitan dengan
kemampuannya dalam mengakumulasi senyawa hidrokarbon dalam
jumlah yang banyak. Botryococcus braunii merupakan organisme
uniselluler, namun pada umumnya ditemukan dalam keadaan berkoloni.
Koloninya memiliki diameter sekitar 0,5 mm dan memiliki bentuk yang tak
beraturan. Koloni ini terdiri dari satu hingga beberapa kumpulan sel yang
disatukan oleh matriks yang kaya akan hidrokarbon. Sel tunggalnya
tertanam di dalam sejumlah massa gelatin yang mengandung minyak dan
karotenoid.
Alga ini diketahui memilki tiga fasa pertumbuhan yang berbeda, yaitu
fasa pertumbuhan eksponential (logarithmic growth state), fasa
pertumbuhan stasioner, dan fasa kematian. Perkembangbiakannya
dilakukan secara fragmentasi. Sepanjang masa pertumbuhan eksponensial,
koloni alga ini memilki warna hijau karena mengandung klorofil a dan b,
serta memiliki kandungan hidrokarbon antara 20-32% dari berat tubuhnya
(Brown, Knight, and Conway, 1969; Wolf, 1983). Umumnya hidrokarbon
yang dihasilkan Botryococcus braunii selam masa pertumbuhan
eksponensial memilki jumlah karbon antara C27-C31, dengan mayoritas
berupa olefin rantai lurus. Tiga senyawa dominan yang hadir dalam
campuran senyawa hidrokarbon pada masa pertumbuhan eksponensial
adalah heptakodsa-1,18-diene (C27H52), nonakosa-1,20-diene (C29H56) dan
hentriakonta-1,22-diene (C31H52).
Hasil eksperimen dengan menggunkan senyawa asam lemak yang
mengandung radioaktif menunjukkan bahwa asam oleat berfungsi sebagai

23
prekursor untuk pembentukan senyawa-senyawa tersebut. Dari eksperimen
juga diperoleh bahwa ketiga senyawa tersebut diperoleh melalui mekanisme
elongasi-dekarboksilasi pada lintasan biosintesis Botryococcus braunii.
Ketika memasuki masa pertumbuhan stasioner, koloni sel mengalami
perubahan warna kuning menjadi oranye. Hal ini disebabkan oleh akumulasi
karotenoid yang sangat besar di dalam koloni tersebut. Pada saat yang
bersamaan, komposisi lemak akan berubah secara drastis, dan kadar
unsaponificable lipids meningkat hingga 80-90% dari berat kering. Jenis
hidrokarbon yang dihasilkan Botryococcus braunii pada fasa ini memiliki
kandungan 27-86% hidrokarbon dari berat keringnya (Wolf, 1983).
Hidrokarbon ini terdiri dari campuran monoenes, dienes, dan trienes.
Hidrokarbon tersebut dapat digolongkan sebagai olefin yang bercabang dan
golongan terpenoid yang tidak ditemukan semasa alga berada dalam fasa
perumbuhan logaritmik.
Sejauh ini, belum diketahui faktor penyebab utama yang mengakibatkan
pergantian produksi hidrokarbon dari fasa pertumbuhan eksponensial ke
fasa pertumbuhan stasioner. Namun, perubahan warna pada koloni alga
dapt dijadikan sebagai indikasi adanya perubahan fasa pertumbuhan pada
koloni tersebut. Telah dilaporkan juga bahwa campuran hidrokarbon yang
dihasilkan oleh Botryococcus braunii dapat direngkah menjadi produk
distilasi yang serupa dengan petroleum (Jassby, 1988).
Penumbuhan kultur alga dalam skala laboratorium umumnya memiliki
waktu generasi selama satu minggu. Waktu generasi ini dapat dipersingkat
menjadi dua setengah hari dengan meningkatkan pengadukan, temperatur
(menjadi 26C), dan kadar CO2 (menjadi sekitar 1%) dalam kultur.
Peningkatan parameter pertumbuhan ini dapat diindikasikan dengan
meningkatnya produksi hidrokarbon oleh jasad alga hijau tersebut, dari
0,011 menjadi 0,084 gram per liter per hari. Dengan mikroskop elektron,
dapat terlihat bahwa tetesan minyak terakumulasi secara
dominan di dinding luar sel. Minyak tersebut mengandung 95% dari
seluruh hidrokarbon yang dihasilkan sel. Selain itu, tetesan minyak juga
ditemukan di dalam sitoplasma. Hasil eksperimen dengan menggunakan
prekusor yang mengandung unsur radioaktif memang menunjukkan bahwa
kedua pool tersebut mengandung hidrokarbon dalam jumlah yang
berbeda. Walaupun sebagian besar hidrokarbon diproduksi di dinding luar

24
sel, namun kedua pool tersebut memiliki komposisi hidrokarbon yang
serupa, hanya saja sitoplasma lebih banyak mengandung hidrokarbon
dengan jumlah atom karbon antar C27-C29, sedangkan hidrokarbon
dengan jumlah atom karbon antar C29-C31 terakumulasi secara dominan
di dinding luar sel. Diduga hidrokarbon-hidrokarbon tersebut diproduksi di
dalam sel, kemudian disekresi ke dinding luar sel sehingga terbentuk
lapisan minyak di sekitar sel dalam koloni Botryococcus braunii.
Fakta yang menarik adalah bahwa sel-sel alga ini tidak mampu
memetabolisir lebih lanjut hidrokarbon yang dihasilkannya karena
hidrokarbon tersebut merupakan produk metabolit sekunder yang bersifat
toksik bagi alga jika tidak dikeluarkan dari dalam sel.
Jenis-jenis hidrokarbon dominan yang dihasilkan Botryococcus braunii
ditampilkan pada tabel 1 berikut ini.
Tabel 1: Jenis Hidrokarbon Dominan
Sumber: Bachofen. The Production of Hydrocarbon by Botryococcus braunii. 1982.
No. Jenis Hidrokarbon
Heptakosa-1,18-dien (C27H52)
1. CH2-CH-(CH2)15-CH-CH-(CH2)7-CH3

Nonakosa-1,20-dien (C29H56)
2. CH2-CH-(CH2)17-CH-CH-(CH2)7-CH3

Hentriakonta-1,22-dien (C31H60)
3. CH2-CH-(CH2)19-CH-CH-(CH2)7-CH3

Walaupun banyak jurnal-jurnal yang telah membahas mengenai


Botryococcus braunii, namun sedikit sekali ilmuwan yang mencoba untuk
mengembangbiakkan Botryococcus braunii dalam skala yang lebih besar
dari skala laboratorium. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu generasi
Botryococcus braunii (normalnya 7 hari, tanpa ada manipulasi temperatur,
agitasi, kadar CO2, dan lain-lain). Karena hidrokarbon merupakan bentuk
energi yang dibutuhkan dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang
banyak, maka dikhawatirkan hidrokarbon yang dihasikan dari Botryococcus
braunii tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Hal ini diperkuat dengan
adanya fakta bahwa jumlah hidrokarbon tertinggi diperoleh ketika
Botryococcus braunii telah memasuki fasa pertumbuhan stasioner.

25
KESIMPULAN

Ganggang (algae) adalah organisme bersel satu dan bersel banyak yang
memiliki klorofil untuk berfotosintesis. Berdasarkan pigmen atau zat warna yang
dikandungnya, alga dikelompokkan menjadi 5 divisio, sebagai berikut.
1. Ganggang hijau (Chlorophyta).
2. Ganggang coklat (Phaeophyta).
3. Ganggang merah (Rhodophyta).
4. Ganggang keemasan (Chrysophyta).
5. Ganggang hijau biru (Cyanophyta).
Ganggang atau algae memiliki peran dan manfaat penting bagi organisme lain,
ekosistem, maupun manusia dalam bidang pangan, industri, kesehatan dan
lainnya.

26
DAFTAR PUSTAKA

Anshori, Moch, dkk. 2009. Biologi 1: Untuk SMA dan MA. Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Subardi, dkk. 2009. Biologi 1: Untuk Kelas X SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.

Sumarsih, Sri. 2003. Buku Ajar Mikrobiologi. Yogyakarta: UPN Veteran


Yogyakarta.

27