Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Malu bertanya sesat dijalan. Demikianlah pepatah kuno: Orang yang ingin

mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya, dapat menempuh jalan dengan

bertanya pada orang yang dianggap lebih tahu. Lalu bagaimana makna pepatah

ini dalam konteks pembelajaran IPA? Pembelajaran IPA berpusat pada siswa,

guru lebih berperan sebagai pembimbing yang berfungsi mengarahkan siswa

untuk memperoleh pengetahuan. Guru sebagai penyampai dan penerus

pengetahuan telah lama ditinggalkan, karena kurang bermakna dalam

pembelajaran. Mengharapkan siswa aktif bertanya dalam pembelajaran IPA

mungkin agak sulit, terutama bagi siswa yang latar belakang keluarga dan

masyarakatnya kurang biasa mengajukan pertanyaan dan mengeluarkan

pendapatnya. Oleh karenanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru

diharapkan dapat menjadi pemicu terjadinya interaksi dalam pembelajaran, yang

pada gilirannya akan berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar dan

peningkatan cara berpikir siswa.

Dapat dibayangkan jika dalam suatu pembelajaran di kelas tidak ada

pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari guru maupun dari murid. Pembelajaran

terasa kering, guru hanya berperan sebagai penyampai informasi, tidak terjalin

diskusi, dan akhirnya pembelajaran menjadi membosankan dan kurang

bermakna. Pertanyaan seyogianya dimulai dari guru. Guru di kelas ibarat seorang

sutradara yang mengatur dan mengarahkan siswanya untuk aktif dalam

1 | Page
pembelajaran. Salah satu cara yang dilakukan guru adalah melalui pertanyaan-

pertanyaan yang harus dijawab siswa. Mengajukan pertanyaan perlu teknik.

Teknik bertanya ini dapat dipelajari kemudian dilatih. Pertanyaan tidak hanya

dilakukan saat mengukur evaluasi hasil belajar siswa, tetapi juga dalam

pembelajaran.

P.E. Bloser (1973), mengemukakan jika salah satu produk akhir dari

pengetahuan ilmiah seperti yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan adalah

pengembangan individu yang berpikir kritis (menilai dan menganalisa sumber

informasi), mampu membedakan antara observasi dan inferensi serta antara sebab

dan akibat, maka guru sains harus menggunakan teknik mengajar dan strategi

yang membantu dalam proses ini.

Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menekankan pada

pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar

menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Dari penggambaran

tersebut dapat ditekankan bahwa sasaran pembelajaran IPA tidak hanya sekedar

dikuasinya pengetahuan IPA oleh siswa, tetapi melalui pembelajaran IPA siswa

juga dituntut dapat mengembangkan kemampuan mereka yang meliputi

kemampuan bernalar/berpikir rasional, keterampilan proses sains, kemampuan

dasar-dasar teknologi, wawasan lingkungan, serta sikap dan nilai. Oleh sebab itu

bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan

menilai kemampuan berpikir siswa untuk mengembangkan potensi-potensi yang

diharapkan pada peserta didik.

2 | Page
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dijalin kehangatan dan

kemanusiaan dalam kelas. Kehangatan ini dapat terlihat dari gaya guru, suara,

ekspresi wajah, gerakan dan posisi badan, termasuk juga cara guru menerima

jawaban siswa dan menggunakan jawaban itu sebagai titik tolak uraian

selanjutnya. Untuk pembahasan lebih lanjut akan dibahas dalam makalah ini

terkait teknik bertanya dalam kelas IPA.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud teknik bertanya?
2. Bagaimana pentingya teknik bertanya dalam pembelajaran IPA?
3. Bagaiamana penerapan teknik bertanya dalam pembelajaran IPA?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud teknik bertanya?
2. Untuk mengetahui pentingya teknik bertanya dalam pembelajaran IPA
3. Untuk mengetahui penerapan teknik bertanya dalam pembelajaran IPA

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknik Bertanya

3 | Page
Bertanya dalam proses belajar mengajar merupakan salah

satu keterampilan operasional yang harus dimiliki guru,

mengingat sebagian besar proses belajar mengajar di kelas

dipergunakan guru untuk mengajukan pertanyaan.

Menurut Dwikoranto (2005), Teknik bertanya adalah

pertanyaan yang dirumuskan dan digunakan dengan tepat dan

meruapakan alat komunikasi yang ampuh antara guru dan siswa.

Oleh karena itu seharusnya guru menguasai teknik bertanya

sebab penguasaan teknik bertanya merupakan keberhasilan

dalam pembelajaran aktif. Sedangkan menurut Mansur (2015), Teknik

bertanya adalah metode atau cara pengajuan pertanyaan di dalam kelas. Bertanya

dalam pembelajaran memiliki peran yang sangat penting, sebab melalui

pertanyaan, guru dapat mendorong, membimbing dan mengarahkan peserta didik

untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.

Kemampuan guru dalam mengajukan dalam mengajukan

pertanyaan ditinjau dari dua aspek, yaitu jenis pertanyaan yang

diajukan dan teknik guru dalam mengajukan pertanyaan

tersebut. Kuantitas dan kualitas suatu pertanyaan akan

mempengaruhi kuantitas dan kualitas interaksi siswa dalam

pembelajaran (Cullen dalam Ragawanti, 2006). Sementara itu,

teknik bertanya guru juga akan mempengaruhi partisipasi siswa

dalam proses pembelajaran.

4 | Page
Teknik bertanya yang baik akan memunculkan banyak jawaban kreatif dan

memunculkan pertanyaan lain yang luar biasa. Tetapi baik tidak selalu efektif.

Teknik bertanya yang efektif sangat penting dikuasai oleh guru untuk mengontrol

proses pembelajaran agar mencapai tujuan yang telah direncanakan. Teknik

bertanya sama pentingnya dengan teknik menjawab pertanyaan, tetapi hakekat

belajar selalu dimulai dari ingin mengetahui baru kita mendapat jawaban dari

apa yang kita cari.

Teknik bertanya guru dalam mengajukan pertanyaan

menjadi aspek yang penting untuk diperhatikan. Tujuan dari

penggunaan teknik bertanya yang efektif adalah untuk

meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.

Terdapat beberapa teknik bertanya yang perlu diperhatikan guru

dalam mengajukan pertanyaan misalnya penggunaan

pertanyaan yang jelas, pemberian waktu tunggu, penyebaran

pertanyaan, pemberian tanggapan terhadap jawaban siswa, dan

keterampilan menghilangkan kebiasaan yang mengganggu

proses diskusi (Ragawanti, 2006).

B. Pentingnya Teknik Bertanya dalam Pembelajaran IPA

Bertanya merupakan ciri dalam pembelajaran IPA,

menemukan merupakan kegiatan inti dari pembelajaran IPA.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa hendaknya

bukan hasil mengigat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil

menemukan dan menggeneralisasi sendiri. Berdasarkan hasil

5 | Page
penelitian Widodo (2006) mengemukakan bahwa sedikitnya jumlah pertanyaan

guru yang sifatnya terbuka dan menuntut pemikiran tingkat tinggi menunjukan

bahwa pembelajaran sains di sekolah masih belum melatih siswa untuk

mengembangkan pemikiran dan penalaran tingkat tinggi serta hasil tersebut juga

mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan bertanya guru masih

diperlukan.

Aktivitas verbal adalah salah satu aktivitas kelas yang paling sering

ditemui dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini digunakan dengan tujuan

memperlancar kegiatan pembelajaran. Metode tanya jawab banyak digunakan

dalam proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan tanya jawab dalam pembelajaran

IPA digunakan untuk mengetahui atau mengecek pemahaman peserta didik

mengenai suatu konsep dan merangsang peserta didik untuk berfikir kritis serta

memperoleh umpan balik. Melalui penerapan metode tanya jawab, baik guru guru

maupun peserta didik sama sama aktif, namun perlu diperhatikan dengan baik

agar pemanfaatan metode tanya jawab dalam pembelajaran IPA lebih bermakna

(Nurhayati, 2011).

Untuk mengefektifkan pertanyaan guru dalam

pembelajaran IPA dapat dipilih suatu alternatif yaitu penggunaan

teknik probing/beberapa pertanyaan berseri yang terprogram,

saling berhubungan dan berkesinambungan agar konpetensi

siswa dapat tercapai.

C. Penerapan Teknik Bertanya pada Kelas IPA

6 | Page
Menurut Depdikbud (dalam Mansur, 2015) untuk menciptakan

suatu dinamika dalam kegiatan pembelajaran, hendaknya guru mengetahui

hal-hal tertentu didalam mengajukan suatu pertanyaan agar secara langsung

berlaku komunikasi segitiga yakni komunikasi antara guru dengan siswa dan

antara siswa dengan siswa yang mencerminkan keaktifan siswa dan guru. Hal-

hal yang dimaksud antara lain:

Pertama: Pertanyaan diajukan untuk seluruh kelas, bukan

untuk perorangan, kemudian menawarkan kepada siswa siapa

yang akan menjawab, atau menunjuk langsung salah seorang

siswa. Hal ini dimaksudkan agar semua siswa ikut berfikir

memecahkan jawaban pertanyaan guru. Pertanyaan yang agak

sulit jangan diperuntukkan atau ditunjuk siswa yang lemah.

Kedua: Jawaban hendaknya oleh perorangan, bukan oleh seluruh kelas.

Siswa yang menjawab adalah siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai jawaban

individu ataupun sebagai wakil kelompok.

Ketiga: Usahakan pertanyaan diajukan secara merata (random).

Maksudnya setelah pertanyaan diajukan ke seluruh kelas, yang ditunjuk untuk

menjawab penyebarannya secara merata, jangan menurut pola tertentu, misalnya

hanya ditunjuk siswa yang pandai atau siswa yang bandel atau siswa sesuai

absen atau berurutan. Jadi hendaknya menggunakan pola acak, tetapi merata.

Maksudnya supaya setiap siswa merasa siap untuk menjawab pertanyaan.

Keempat: Jika perlu berikan dorongan kepada siswa yang lemah dan

pemalu untuk mau menjawab. Disini guru bertindak tidak membedakan antara

7 | Page
siswa- siswinya, atau tidak pilih kasih, tetapi memperhatikan semua siswa

untuk diajak terlibat dalam proses belajar yang aktif;

Kelima: Perhatian guru hendaknya kepada seluruh kelas

walaupun konsentrasinya kepada jawaban siswa. Jadi sementara

siswa menjawab yang lain masih dalam jangkauan perhatian

guru.

Menurut Alma, dkk (2010) pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan

pembelajaran dapat dibagi atas 2 (dua) kategori, yakni: 1) low order question,

yaitu pertanyaan yang bersifat recall yakni pertanyaan yang meminta siswa

untuk mengingat kembali, ini merupakan pertanyaan mudah, misalnya apa ibu

kota provinsi Sulawesi Selatan?; 2) higher order question, pertanyaan ini agak

sulit, dengan memakai kata bagaimana, mengapa, misalnya mengapa

Makassar ditunjuk sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan?

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa hendaknya tidak

selalu yang mudah saja, atau yang sukar saja, tapi harus bervariasi. Namun jika

pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab oleh siswa, maka menurut Alma, dkk

(2010) yang harus dilakukan oleh guru adalah: 1) memberikan informasi

tambahan agar murid dapat

menjawab; 2) merubah pertanyaan dalam bentuk lain, 3) memecah

pertanyaan semula menjadi beberapa sub pertanyaan sehingga akhirnya semua

dapat terjawab. Dengan demikian siswa akan lebih mudah memahami materi

pelajaran dan daya serap siswa akan lebih tinggi.

Teknik pertanyaan Menurut S.L. La Sulo( 1984) sebagai berikut:

8 | Page
1 Pertanyaan hendaknya ditunjukan kepada seluruh siswa dalam kelas,

sehingga perlu diperhitungkan :

a. Suara cukup keras untuk didengar seluruh siswa; hendaknya dihindari

suara yang lemah, tetapi tidak terlalu keras.

b. Pertanyaan diajukan dengan ucapan yang jelas dan tidak terlalu cepat.

2 Setelah pertanyaan diajukan, siswa diberi waktu untuk menangkap makna

pertanyaan dan mencari jawabannya, setelah itu ditunjuk seorang siswa

untuk mengemukakan jawabannya.

3 Mengilirkan kesempatan untuk menjawab sedemikian rupa, sehingga

merata keseluruh kelas agar semua siswa mendapat kesempatan yang

sama.

4 Jangan mengulangi pertanyaan, agar siswa terbiasa utuk selalu

memusatkan perhatiannya; hal ini dapat pula menumpuk kebiasaan siswa

untuk menjadi pendengar yang baik. Disamping itu, pertanyaan yang

diulang dengan redaksional yang lain akan membingungkan siswa yang

telah mulai menyusun jawabannya. Demikian pula: jangan mengulangi

jawaban siswa.

5 Agar memberi reaksi positif terhadap jawaban siswa yang tepat. Guru

harus dapat mengarahkan siswa untuk membetulkan/menyempurnakan

jawabannya.

9 | Page
6 Agar mendorong partisipasi siswa dalam memberi kesempatan kepada

siswa yang kurang spontan atau pemalu.

7 Sedapat mungkin kalimat pertanyaan jangan terlalu panjang yang

mungkin akan menyulitkan siswa untuk menangkapnya.

8 Biasakan memberikan pertanyaan mengarahkan dan atau menggali kepada

siswa yang memberikan jawaban yang salah/tidak sempurna. Apabila

siswa tidak dapat menjawab, berikanlah pertanyaan lain yang

berhubungan dengan pertanyaan yang pertama tetapi lebih mudah, dan

apabila pertanyaan yang kedua telah dapat dijawab dengan benar,

kembalilah kepada pertanyaan semula.

9 Sebaliknya bagi siswa yang dengan tepat menjawab pertanyaan

pertama, dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang kedua yang lebih

tinggi tingkatannya, hal ini akan memperluas wawasan dan

mempertajam analisis siswa terhadap masalah yang dihadapinya.

10 Jangan anda menjawab sendiri pertanyaan yang anda ajukan, kecuali pada

pertanyaan teoritis, meskipun tidak seorang pun siswa yang dapat

menjawabnya dengan no. 8.

11 Berikanlah kesempatan untuk menjawab satu pertanyaan pada beberapa

orang siswa.

12 Hindari pertanyaan yang :

10 | P a g e
a. Mengandung sugesti,

b. Hanya menuntut jawaban ya atau tidak.

c. Pertanyaan yang kompleks, yang meminta berbagai halsekali jawab.

13 Pertanyaan siswa yang diajukan kepada guru sedapat mungkin

dipantulkan kembali kepada siswa lainnya untuk dijawab, apabila tak

seorangpun yang dapat menjawabnya, barulah guru yang menjawabnya.

Dan apabila guru tidak siap untuk menjawabnya, sebaiknya dikatakan

terus terang, dan pada kesempatan berikutnya barulah pertanyaan itu

dijawabnya.

14 Menggunakan teknik penguatan (reinforcement) dengan bijaksana dan

baik dengan verbal (ya, betul, baik sekali) maupun dengan nonverbal

(ekspresi wajah, anggukan kepala, berjalan mendekati) kadang-kadang

reaksi non verbal lebih berpengaruh dari pada reaksi verbal.

Menurut Nana sumarna (2010), terdapat tiga aspek penting yang perlu

dipertimbangkan dalam mengkontruksi dan mengimplementasikan pertanyaan

yang efektif yaitu : a) bentuk, b) waktu; dan c) isi. Ketiga aspek tersebut

dikonstruksi dan berkomfigurasi secara efektif dalam pembelajaran. Bentuk dan

waktu pertanyaan dalam implementasinya lebih dikenal dengan istilah teknik

bertanya yang meliputi empat teknik yaitu :

1 Teknik jeda/ waktu tunggu

11 | P a g e
Setelah memahami bagaimana seharusnya guru bertanya dalam

kegiatan pembelajaran, hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam

bertanya menurut Depdikbud (dalam Mansur, 2015) adalah waktu

tunggu. Waktu tunggu adalah waktu yang diberikan guru kepada

siswa untuk menjawab pertanyaan. Ada dua jenis waktu tunggu

dalam bertanya, yaitu:

Pertama: Waktu tunggu untuk memberi kesempatan berfikir dan

menyusun kalimat jawaban dengan baik. Waktu tunggu ini panjang

pendeknya sesuai dengan tingkat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan,

pertanyaan yang bersifat ingatan tentu waktu tunggunya lebih singkat

bila dibandingkan dengan waktu tunggu dalam pertanyaan yang bersifat

pemahaman atau penerapan. Waktu tunggu rata-rata ditentukan 3-5

sekon. Untuk waktu tunggu pertanyaan tingkat lebih tingi ditentukan

sampai 10 sekon.

Kedua: Waktu tunggu setelah siswa menjawab, dimakudkan

untuk memberi kesempatan siswa lain untuk menanggapi jawaban

temannya, sebelum guru memberi penguatan atau mengklarifikasi

jawaban siswa dan melanjutkan pelajaran. Waktu tunggu ini juga 3 5

sekon.

Menurut Alma, dkk (2010), pemberian waktu tunggu dalam

kegiatan bertanya bertujuan untuk:

a. Memberikan kesempatan berpikir mencari jawaban.


b. Untuk memperoleh jawaban yang komplit
c. Memahami pertanyaan/menganalisa pertanyaan
d. Agar banyak murid yang bisa menjawab.

12 | P a g e
Dengan demikian pemberian waktu tunggu membuat siswa lebih

aktif, kreatif, produktif sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih

efektif.

2 Teknik pengarahan ulang

Teknik pengarahan ulang dapat dilakukan apabila

guru bertujuan ingin melibakan banyaksiswa dalam proses

pembelajaran. Cara yang dapat dilakukan adalah

mengajukan satu pertanyaan yang ditujukan kepada

bebrapa siswa (Indarwati, 2005).

Contoh:

Guru : Dimas, dapatkah kamu menjelaskan faktor-faktor

yang menyebabkan perubahan pada benda?

Dimas : Panas bu!

Guru : Lisa, dapatkah kamu menambahkan faktor lainnya?

Lisa : Udara bu!

Guru : Coba sebutkan yang lebih spesifik lagi, Maksud

Lisa?

Lisa : Hmm

Guru : Coba Andi, dapatkah kamu menolong Lisa?

Andi : Mungkin maksud Lisa oksigen bu!

Guru : Dapatkah kamu mmberi contoh bagaimana

pengaruh osigen terhadap perubahan benda?

3 Teknik membimbing/probing

13 | P a g e
Pertanyaan yang bersifat probing digunakan guru

untuk menggunakan jawaban siswa agar lebih jelas. Teknik

membimbing digunakan jika siswa dalam menjawab

bertanyaan guru kurang lengkap atau hanya mejawab

sebagian-sebagian (Indarwati, 2005). Wijaya (dalam

Supriyadi, 2009) menjelaskan teknik probing adalah suatu

teknik dalam pembelajaran dengan cara mengajukan satu

seri pertanyaan untuk membimbing pebelajar/siswa

menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya

guna memahami gejala atau keadaan yang sedang diamati

sehingga terbentuk pengetahuan baru. Penggunaan teknik

probing/beberapa pertanyaan berseri yang terprogram, saling berhubungan

dan berkesinambungan agar konpetensi siswa dapat tercapai. Pengertian

probing dalam pembelajaran di kelas didefinisikan sebagai suatu teknik

membimbing dengan mengajukan satu seri pertanyaan pada seorang siswa.

Dengan teknik bertanya membimbing, guru mengajukan satu seri

pertanyaan pada seorang murid dengan tujuan untuk meningkatkan respon

pertama murid itu menuju ke jawaban benar atau lebih luas.

Contoh:

Guru : Anak-anak hari ini kalian akan mempelajari tentang

berbagai warna dan bentuk di dalam dunia

tumbuhan dan hewan. Tujuan pembelajaran kita

adalah untuk mengetahui apakah manfaat dari

14 | P a g e
keanekaragaman ini. (guru mempelihatkan gambar-

gambar tumbuhan yang dihinggapi kupu-kupu)

Rina, apa yang kamu lihat di dalam gambar ini?

Rina : Yahh.. ada beberapa kupu-kupu bu

Guru : Berapa kupu-kupu, mana kupu-kupu itu? Dapatkah

kamu tunjukkan?

Rina : Disini dan disini (sambil menunjukkan gmabar

kupu-kupu)

Guru : Bagus, apakah hanya itu yang dapat kamu lihat di

gambar?

Rina : Tidak, ada daun, dahan, dan bunga

Guru : Bagus, dan Joni, menurutmu bagaimana dengan

kupu-kupu ini, apakah sulit menemukannya?

Joni : Ohh... kupu-kupu dalam gambar itu tidak langsung

dapat dilihat

Guru : Mengapa demikian?

Joni : Sebab kupu-kupu keliahtan seperti daun

Guru : Betul, kupu-kupu itu sayapnya seperti daun

4 Teknik pelacakan

Teknik melacak adalah sejumlah seri pertanyaan

yang dimaksudkan guru untuk mengetahui sejauh mana

15 | P a g e
penguasaan murid terhadap suatu permasalahan.

Pertanyaan melacak diberikan jika jawaban yang diberikan

peserta didik masih kurang tepat. Menurut Kusuma

Wardani (2007) sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan

pelacak, yaitu klarifikasi, meminta peserta didik memberi

alasan, meminta kesepakatan pandangan, meminta

ketepatan jawaban, meminta jawaban yang lebih relevan,

meminta contoh, dan meminta jawaban yang lebih

kompleks. Ketujuh hal tersebut dijelaskan berikut ini:

a Klarifikasi Jika jawaban yang diajukan peserta didik

belum begitu jelas, maka guru dapat melacak jawaban

peserta didik dengan pertanyaan lanjutan atau

pertanyaan lacakan agar peserta didik tersebut

mengungkapkan kembali dengan kalimat lain.

Misalnya:

Apakah kamu dapat mengungkapkan kembali

dengan kalimat lain?


Apakah kamu dapat mengungkapkannya dengan

kalimat yang singkat?


b Meminta peserta didik memberikan alasan. Pertanyaan

ini diajukan guru untuk meminta peserta didik

memberikan alasan terhadap jawaban yang

diajukannya. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung

jawaban yang telah dikemukakannya.

16 | P a g e
Misalnya :

Apakah kamu dapat memberikan alasan yang

menunjang jawaban tersebut?


Apakah kamu dapat memberikan contoh yang

menunjang jawaban tersebut?


Apakah kamu dapat mengajukan bukti yang

mendukung jawaban tersebut?


c Meminta kesepakatan jawaban. Pertanyaan ini diajukan

kepada peserta didik lain untuk memperoleh

kesepakatan bersama tentang jawaban yang telah

diajukan.

Misalnya:

Apakah kalian setuju dengan jawaban Diana?


Siapa yang memiliki pendapat lain?
Siapa yang tidak setuju dengan jawaban tadi?
d Meminta ketepatan jawaban. Apabila jawaban yang

diajukan peserta didik belum mencapai sasaran yang

diharapkan, maka guru dapat mengajukan pertanyaan

lanjut untuk memperoleh jawaban yang lebih tepat.

Misalnya :

Guru : Siapakah yang memproklamasikan

kemerdekaan bangsa Indonesia ?

Siswa : Soekarno dan Hatta

Guru : Apakah atas namanya sendiri ?

Siswa : Tidak, tetapi atas nama bangsa Indonesia,

dan seterusnya.

17 | P a g e
e Meminta jawaban yang lebih relevan. Jika jawaban yang

diajukan oleh peserta didik kurang relevan dengan

materi standar, maka guru dapat mengajukan

pertanyaan lanjutan memperoleh jawaban yang lebih

relevan.

Misalnya :

Guru : (Guru baru saja menerangkan masalah banjir

yang melanda beberapa wilayah, lalu ia

mengajukan pertanyaan kepada peserta didik).

Apakah yang menyebabkan terjadinya banjir?

Siswa : Penjualan kayu kepada oknum-oknum yang

tidak bertanggung jawab

Guru : Bagaimana hubungan jawabanmu itu dengan

banjir yang telah kita bahas tadi? dan seterusnya.

f Meminta contoh. Jika pertanyaan yang diajukan peserta

didik belum jelas maksudnya, maka guru dapat

mengajukan pertanyaan lanjutan untuk meminta

contoh atau ilustrasi atas jawaban yang diajukannya.

Misalnya :

Apakah kamu dapat memberikan contohnya?


Apakah ada peristiwa yang mendukung jawabanmu

itu?
g Meminta jawaban yang lebih kompleks. Jika pertanyaan

yang diajukan peserta didik masih sederhana, maka

18 | P a g e
guru dapat memberikan pertanyaan lanjutan untuk

memperoleh jawaban yang lebih luas.

Misalnya :

Apakah kamu dapat memberikan jawaban yang lebih

luas lagi?
Apakah kamu dapat melengkapi jawabanmu itu?

Menanggapi jawaban siswa merupakan suatu hal yang ikut menentukan

efektifitas dari kegiatan bertanya dalam pembelajaran. Jika guru mampu

memberikan tanggapan dengan tepat terhadap jawaban siswa, maka motivasi

belajar siswa akan meningkat dan tentunya akan berpengaruh positif terhadap

hasil belajarnya. Hal-hal yang perlu dilakukan guru dalam menanggapi jawaban

yang diberikan siswa menurut Depdikbud (dalam Mansur, 2015) adalah sebagai

berikut:

1 Bila jawaban siswa benar, maka guru dapat melakukan salah satu

tindakan berikut: a) Membenarkan jawaban dan menyuruh teman

yang lain mengulang jawaban tersebut, kemudian melanjutkan

pelajaran; b) Menulis jawaban siswa tadi di papan tulis atau menyuruh

siswa untuk mencatatnya, kemudian melanjutkan pelajaran; c) Mencari

jawaban dari siswa lain untuk mengetahui beberapa yang setuju

dengan jawaban yang benar tersebut, kemudian membenarkan dan

melanjutkan pelajaran; d) Meminta siswa mengajukan alasan mengenai

jawaban tersebut.
2 Bila jawaban siswa tidak benar, guru dapat melakukan salah satu tindakan

berikut: a) Menyederhanakan pertanyaan agar mudah dimengerti; b)

19 | P a g e
Menguraikan pertanyaan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih

sederhana dengan tujuan membimbing siswa kepertanyaan semula; c)

Mencari jawaban dari siswa yang lain dengan mengatakan siapa yang

setuju dan tidak setuju dengan jawaban yang diberikan temannya; d)

Menanyakan alasan dari jawaban yang tidak benar, yang

memungkinkan siswa itu tahu sendiri kesalahannya.


3 Bila jawaban tidak lengkap atau kurang lengkap maka dapat meminta

jawaban tambahan atau keterangan lebih lanjut kepada siswa yang

menjawab atau kepada siswa lain.


4 Bila tidak ada jawaban sama sekali dari siswa, guru dapat mengubah

bentuk kalimat pertanyaan agar mudah dimengerti oleh siswa atau

menguraikan pertanyaan menjadi beberapa pertanyaan sederhana yang

dapat membimbing siswa kepertanyaan semula. Bila tindakan itu tidak

berhasil guru menjelaskan kembali muatan materi pelajaran dari

pertanyaan tersebut.

Jika guru menerapkan teknik bertanya dengan tepat, maka kegiatan

pembelajaran akan berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,

menantang, dan memotivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dikatakan

inetraktif karena melalui kegiatan bertanya akan terbangun interaksi antara guru

dan siswa serta antara siswa dengan siswa. Disebut inspiratif karena dengan

bertanya, memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan melakukan

sesuatu sehingga dapat menimbulkan inspirasi bagi siswa, sedangkan disebut

menyenangkan karena pembelajaran lebih hidup dan bervariasi. Adapun

dianggap menantang karena dengan bertanya akan mengembangkan rasa ingin

20 | P a g e
tahu siswa, serta disebut memotivasi karena akan mendorong siswa untuk

berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Teknik bertanya adalah pertanyaan yang dirumuskan dan

digunakan dengan tepat dan meruapakan alat komunikasi

yang ampuh antara guru dan siswa sehingga dapat

mendorong, membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk

menemukan setiap materi yang dipelajarinya.


2. Bertanya merupakan ciri dalam pembelajaran IPA,

menemukan merupakan kegiatan inti dari pembelajaran

IPA. Teknik bertanya dalam pembelajaran merupakan salah satu unsur

dalam ranah kompetensi pedagogik yang harus dipahami oleh guru dalam

mengelola kegiatan pembelajaran di kelas.


3. Penerapan teknik bertanya yang tepat, akan berdampak pada terciptanya

pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,

memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang

yang cukup bagi prakarsa dan kreativitas. Dengan demikian pembelajaran

akan lebih produktif dan efektif.


B. Saran

Setiap Guru baik guru pemula ataupun guru professional sebaiknya harus

menerapkan teknik bertanya sehingga dalam proses umpan balik pemebelajaran

21 | P a g e
(materi atau tanya jawab) dapat menggugah perhatian siswa, memotivasi cara-

cara berfikir siswa untuk belajar dan melatih dalam mengutarakan pendapatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari, dkk. 2010. Guru profesional. Bandung: Alfabeta.

Dwikoranto. 2005. Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan


Penerapan MIPA: Penerapan Teknik Bertanya dalam
Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.Yogyakarta: UNS

http://www.kompasiana.com/nastitirahayu/teknik-bertanya-
efektif-memunculkan-jawaban-
kreatif_54f3ba37745513942b6c7ef1 (diakses tanggal 13
Maret 2017)

Indarwati. 2005. Modul Teknik bertanya. Bandung: PPPG IPA

Kusuma Wardani. 2007. Keterampilan bertanya.


http://www.academia.edu/Documents /in/
Keterampilan_Bertanya (diakses tanggal 13 Maret 2017)

La Sulo. S.L. 1984. Pengajaran Mikro. Jakarta: Depdikbud

Mansur, HR. 2015. Artikel: Teknik Bertanya Dalam Pembelajaran.


E-Buletin LPMP Sul-Sel. Makassar.

Nurhayati B, 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar: Badan


Penerbit Universitas Negeri Makassar.

P.E.Blosser. 1973. Hand Book of Effective Question Techniques. Colombus Ohio.


The Ohio State University.

Ragawanti, D. T. 2009. Questions and Questioning Techniques: A


View of Indonesian Students Preferences. K@ta 11(2):
155-170.

Supriyadi. 2009. Memperkenalkan (kembali) Teknik Probing


dalam Pembelajaran IPA

22 | P a g e
di SD/MI. https://apakabarpsbg.wordpress.com/2009/07/
(diakses tanggal 13 Maret 2017)

23 | P a g e