Anda di halaman 1dari 5

C.

Komponen Komunikasi

1. Orang-orang

Orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi dapat memainkan dua


peran, baik sebagai sumber yang fungsinya menyampaikan pesan maupun
sebagai penerima pesan yang berfungsi sebagai sasaran pesan (Singgih,
2009).

2. Pengirim pesan

Pengirim adalah pihak yang mengode dan menyampaikan pesan. Pesan


bertindak sebagai referen bagi penerima, yang bertanggung jawab untuk
menangani, menerjemahkan, dan memberikan respons terhadap pesan itu
(Potter Perry, 2009). Individu atau kelompok yang mengirimkan pesan
harus memiliki ide atau alasan untuk berkomunikasi (sumber) dan harus
memasukkan ide atau perasaan tersebut ke dalam bentuk yang dapat
ditransmisikan (Kozier, 2010). Selain itu, pengirim juga harus bertanggung
jawab atas ketepatan isi dan emosi pesan tersebut (Potter Perry, 2009).

3. Penerima
Penerima adalah adalah pihak yang menerima dan menguraikan kode
pesan. Individu yang berperan sebagai penerima pesan merupakan
decoder, yang harus mempresepsikan apa yang dimaksudkan pengirim
pesan (interpretasi). Persepsi menggunakan semua indra yang ada untuk
menerima pesan verbal dan non-verbal (Kozier, 2010).
4. Pesan
Pesan adalah bentuk verbal dan nonverbal ide, pikiran, atau perasaan
bahwa satu orang (sumber) ingin berkomunikasi dengan orang lain atau
sekelompok orang (penerima). Pesan berisi simbol-simbol yang digunakan
untuk berkomunikasi yang dapat berupa ide-ide, ekspresi wajah, gerakan,
kontak fisik, nada suara, dan kode nonverbal lainnya (Singgih, 2015).
5. Saluran atau media
Komunikasi yang terjadi memerlukan saluran atau media yang berperan
sebagai sarana penyampaian pesan dari sumber ke penerima pesan.
Saluran atau media dapat melalui gelombang suara dan gelombang cahaya
yang memungkinkan penerima untuk melihat dan mendengar apa yang
disampaikan sumber (Singgih, 2015). Media yang digunakan untuk
menyampaikan pesan adalah alat komunikasi dan tersebut dapat mengenai
setiap indra individu. Alat komunikasi harus mempunyai kesesuaian
dengan pesan yang akan disampaikan dan harus membantu memperjelas
maksud dari pesan tersebut (Kozier,2010).
6. Umpan Balik
Setiap komunikasi selalu memiliki umpan balik, bahkan diam ataupun
tidak ada tanggapan termasuk dalam umpan balik. Umpan balik adalah
respon penerima baik verbal maupun nonverbal untuk pesan yang
disampaikan (Singgih, 2015). Umpan balik juga memungkinkan pengirim
pesan untuk memperbaiki atau mengganti kata-kata dalam sebuah pesan
(Kozier, 2010).
7. Kode
Kode adalah susunan sistematis simbol yang digunakan untuk membuat
makna dalam pikiran orang lain (Singgih, 2015). Komunikasi memiliki
dua jenis kode yaitu: kode verbal dan nonverbal. Kode verbal terdiri atas
simbol dan peraturan tata bahasa. Kode non-verbal terdiri dari semua
simbol yang bukan kata-kata, termasuk gerakan tubuh, penggunaan ruang
dan waktu, pakaian serta ornamen lainnya, dan suara selain kata-kata.

8. Encoding dan Decoding

Encoding dan decoding merupakan komunikasi yang melibatkan


penggunaan kode. Encoding didefinisikan sebagai proses menerjemahkan
ide atau pemikiran ke kode (Potter Perry, 2009). Encoding dalam
prosesnya dilakukan penyeleksi tanda dan simbol khusus (kode) untuk
menyampaikan pesan, seperti bahasa dan huruf apa yang akan digunakan,
bagaimana menyusun kata-kata dan nada suara serta gestur seperti apa
yang akan digunakan (Kozier, 2010). Decoding adalah bagian dari proses
untuk meneruskan pesan yang diterima ke tempat penyimpanan
pengetahuan dan pengalaman penerima pesan, serta untuk memcahkan
makna pesan (Kozier, 2010).

9. Kebisingan
Kebisingan pada proses komunikasi adalah setiap gangguan pada proses
encoding dan decoding yang mengurangi kejelasan pesan. Kebisingan
dapat berupa fisik, seperti suara keras, hal kecil yang menggangu
pemandangan, seperti sepotong makanan di antara gigi depan seseorang
atau perilaku yang tidak biasa, seperti seseorang berdiri terlalu dekat
sehingga mengganggu kenyamanan (Singgih, 2015).

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi

1. Gender

Pria dan wanita memiliki cara dalam berkomunikasi yang berbeda. Cara
komunikasi yang berbeda sudah dimulai ketika masa kanak-kanak. Anak laki-laki
menggunakan bahasa untuk membentuk kemandirian menggunakan bahasa untuk
membentuk kemandirian dan merundingkan status dalam suatu kelompok. Anak
perempuan cenderung menggunakan bahasa untuk mengonfirmasi, meminimalkan
perbedaan, dan membangun kedekatan. Perbedaan tersebut berlanjut hingga masa
dewasa, sehingga komunikasi yang sama dapat diinterpretasikan secara berbeda
oleh pria dan wanita (Kozier, 2010).

2. Nilai dan Persepsi

Setiap orang memiliki karakteristik kepribadian, nilai-nilai dan


pengalaman hidup yang unik sehingga mempersepsikan dan menginterpretasikan
pesan dan pengalaman secara berbeda. Nilai adalah standar yang memengaruhi
perilaku. Nilai dapat mempengaruhi interpretasi terhadap suatu pesan. Persepsi
adalah pandangan pribadi mengenai suatu kejadian (Kozier, 2010).

3. Kejelasan pesan
Faktor kejelasan pesan sangat mempengaruhi keefektifan dalam proses
komunikasi. Kejelasan meliputi, kejelasan kata-kata yang dipergunakan, dan
kejelasan dalam menggunakan bahasa tubuh. Komunikan dan komunikator dapat
berbeda persepsi terhadap pesan yang disampaikan apabila pesan yang
disampaikan kurang jelas. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan
komunikasi yang dijalankan. Oleh karena itu, komunikator harus memahami
pesan sebelum menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti komunikan
dan menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas (Fetty,2014).

4. Peran dan Hubungan

Peran dan hubungan antara pengirim dan penerima pesan berpengaruh


pada proses komunikasi yang dilakukan. Peran seperti mahasiswa keperawatan
dan pembimbing, klien dan dokter, atau orang tua dan anak memengaruhi isi serta
respons yang muncul dalam proses komunikasi. Selain itu, hubungan yang khusus
antar-komunikator juga signifikan. Sebagai contoh, perawat yang bertemu dengan
klien untuk pertama kali berkomunikasi dengan cara yang berbeda dengan
perawat sebelumnya yang sudah membina hubungan dengan klien (Kozier, 2010).

5. Lingkungan

Lingkungan yang nyaman dapat memengaruhi komunikasi menjadi lebih efektif.


Ventilasi yang buruk, suhu yang ekstrim, dan suara yang bising dapat
mengganggu komunikasi. Selain itu, distraksi lingkungan dapat mengganggu dan
menghambat komunikasi (Kozier, 2010).

6. Kejelasan pesan

Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pesan yang


kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan, sehingga antara
komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang
disampaikan. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi
yang dijalankan. Oleh karena itu, komunikator harus memahami pesan sebelum
menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti komunikan dan
menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas.

References
Fetty. (2014, Desember 18). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KOMUNIKASI. Retrieved from
http://fetty.note.fisip.uns.ac.id/2014/12/18/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi-komunikasi/

Kozier, B. et al. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,


& Praktik. (Ed. 7). (Alih Bahasa: Pamilih Eko Karyuni, dkk.). Jakarta:
EGC (Buku Asli diterbitkan di New Jersey: Pearson Education, 2004)

Potter, P.A & Perry, A.G. (2009). Fundamental Keperawatan. (Ed. 7). (Alih
Bahasa: Adrina Ferderika). Jakarta: Penerbit Salemba Medika. (Buku
Asli diterbitkan di Singapore: Elsevier, 2009)