Anda di halaman 1dari 2

KOMPETENSI ABSOLUTE DAN RELATIVE PTUN

Dalam pada itu kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu kompetensi absolute dan kompetensi relative. Kompetensi absolut pengadilan
adalah kewenangan badan pengadilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu dan secara mutlak
tidak dapat diperiksa badan pengadilan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Sebagai contoh adalah Kompetensi absolut Pengadilan Pajak.
Pengadilan Pajak merupakan badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi
Wajib Pajak atau penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak. Meskipun
Pengadilan Pajak masuk dalam lingkungan Peradilan TUN, akan tetapi kompetensi absolutnya
berbeda dengan kompetensi Pengadilan TUN. Kompetensi absolut Peradilan TUN berbeda
dengan lingkungan peradilan lainnya, misalnya dengan Peradilan Umum yang memiliki
kompetensi untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara perdata dan pidana. Dalam
pada itu, kompetensi absolut Pengadilan Tata Usaha Negara adalah memeriksa, memutus dan
menyelesaikan perkara atau Sengketa Tata Usaha Negara. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan
dalam Pasal 4 UU PTUN, yaitu: Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana
kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap Sengketa Tata Usaha Negara.
Sebagaimana dikemukakan diatas, bahwa Sengketa TUN memiliki ruang lingkup yang lebih
sempit dan lebih khusus bila dibandingkan dengan sengketa yang timbul dalam lapangan hukum
publik, karena Sengketa TUN itu sendiri hanya dapat timbul manakala terdapat Keputusan Tata
Usaha Negara. Sementara itu, masih pula terdapat pembatasan-pembatasan tertentu yang dibuat
oleh UU PTUN mengenai KTUN manakah yang dapat digugat di PTUN.

Kompetensi relative pengadilan adalah kewenangan mengadili antar pengadilan dalam


satu lingkungan peradilan. Kewenangan tersebut terletak pada pengadilan manakah yang
berwenang memeriksa, memutus dan meneyelesaikan perkara tertentu. Kompetensi relatif PTUN
diatur dalam Pasal 54 ayat (1) sampai ayat (6). Pada dasarnya gugatan didaftarkan pada tempat
kediaman Tergugat (actor sequitur forum rei) dengan pengecualian-pengecualian sebagaimana
diatur dalam Pasal 54, sebagai berikut:
(1) Gugatan sengketa Tata Usaha Negara diajukan kepada Pengadilan yang berwenang yang
daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan tergugat.
(2) Apabila tergugat lebih dari satu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan berkedudukan
tidak dalam satu daerah hukum Pengadilan, gugatan diajukan kepada Pengadilan yang
daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan salah satu Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara.
(3) Dalam hal tempat kedudukan tergugat tidak berada dalam daerah hukum Pengadilan tempat
kediaman penggugat, maka gugatan dapat diajukan ke Pengadilan yang daerah hukummnya
meliputi tempat kediaman penggugat untuk selanjutnya diteruskan kepada Pengadilan yang
bersangkutan.
(4) Dalam hal-hal tertentu sesuai dengan sifat sengketa Tata Usaha Negara yang bersangkutan
yang diatur dengan Peraturan Pemerintah, gugatan dapat diajukan kepada Pengadilan yang
berwenang yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman penggugat.
(5) Apabila penggugat dan tergugat berkedudukan atau berada di luar negeri, gugatan diajukan
kepada Pengadilan di Jakarta.
(6) Apabila tergugat berkedudukan di dalam negeri dan penggugat di luar negeri, gugatan
diajukan kepada Pengadilan di tempat kedudukan tergugat.