Anda di halaman 1dari 4

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


JULI 2013

LEPTOSPIROSIS

OLEH :
AYU MERDEKAWATY PUTRI
110 206 133

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2013
LEPTOSPIROSIS

DEFINISI
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Leptospira dan berpotensi menjadi infeksi yang serius.

PENYEBAB

Penyebab leptospirosis adalah bakteri Leptospira. Leptospirosis terdapat pada


banyak binatang liar maupun binatang peliharaan. Beberapa binatang berperan
sebagai pembawa bakteri (karier) dan mengeluarkan bakteri di dalam air kencingnya.
Binatang lainnya bisa menjadi sakit dan mati.

Manusia mendapatkan infeksi ini melalui kontak langsung dengan binatang


yang terinfeksi atau secara tidak langsung melalui tanah atau air yang terkontaminasi
air kencing binatang yang terinfeksi.

Leptospirosis merupakan suatu penyakit akibat pekerjaan pada petani, pekerja


di tempat pemotongan hewan, dan pembersih selokan. Namun, kebanyakan orang
terkena infeksi ini akibat kegiatan di luar ruangan yang menyebabkan adanya kontak
dengan tanah atau air yang terkontaminasi, misalnya saat berenang atau
menyeberangi daerah banjir. Karena leptospirosis yang ringan biasanya hanya
menyebabkan gejala yang tidak jelas, seperti gejala flu yang kemudian hilang dengan
sendirinya, maka banyak infeksi yang mungkin tidak terdeteksi.

GEJALA

Pada sekitar 90% orang yang terinfeksi, gejala-gejala yang muncul bersifat
ringan. Tetapi penderita lainnya dapat mengalami penyakit yang berat hingga
mengenai banyak organ dan berisiko untuk terjadinya kematian, yang disebut
sindroma Weil.

Leptospirosis biasanya terjadi dalam dua fase :

Fase pertama : Sekitar 2-20 hari setelah terjadi infeksi, tiba-tiba muncul gejala-
gejala berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot yang hebat pada
betis dan punggung, serta menggigil. Mata biasanya menjadi sangat merah
pada hari ketiga atau keempat. Beberapa penderita mengalami batuk,
adakalanya sampai terjadi batuk darah, dan nyeri dada. Kebanyakan penderita
pulih dalam waktu 1 minggu.
Fase kedua : Pada beberapa orang, gejala-gejala dapat muncul kembali
setelah beberapa hari kemudian. Hal ini disebabkan oleh peradangan yang
terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang mengeliminasi bakteri dari dalam
tubuh. Demam muncul kembali, dan seringkali terjadi peradangan pada ruang
di antara jaringan yang melapisi otak dan medula spinalis (meninges) yang
menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan sakit kepala.

Sindroma Weil

Sindroma Weil ini dapat terjadi pada fase kedua. Pada sindroma Weil
terjadi jaundice (kuning pada kulit dan dan bagian putih mata), gagal ginjal, dan
kecenderungan untuk terjadi perdarahan. Penderita dapat mengalami
perdarahan pada hidung atau batuk darah, atau dapat juga terjadi perdarahan
pada jaringan-jaringan di kulit, paru-paru, dan lebih jarang di saluran
pencernaan. Dapat terjadi anemia. Beberapa organ, seperti jantung, paru-paru,
dan ginjal dapat berhenti berfungsi.

Kebanyakan orang yang tidak mengalami jaundice dapat pulih. Sekitar 5-10%
penderita dengan jaundice (yang menandakan adanya kerusakan pada hati)
meninggal. Angka kematian tampaknya lebih tinggi pada penderita dengan sindroma
Weil dan penderita yang berusia di atas 60 tahun. Jika leptospirosis terjadi saat awal
masa kehamilan, maka risiko terjadinya keguguran meningkat.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya bakteri pada biakan darah, air
kemih atau cairan serebrospinal; atau dengan ditemukannya antibodi terhadap bakteri
di dalam darah.

PENGOBATAN

Bila terjadi wabah, bisa diberikan antibiotik Doxycycline sebagai pencegahan pada
orang-orang yang juga mengalami paparan bakteri. Infeksi yang ringan dapat diobati
dengan pemberian antibiotik, seperti amoxicillin atau doxycycline, melalui mulut. Untuk
kasus yang berat, dapat diobati dengan antibiotik, seperti penicillin, doxycycline, atau
erythromycin, secara intravena (melalui pembuluh darah). Penderita dengan sindroma
Weil dapat membutuhkan transfusi darah dan hemodialisa.

PENCEGAHAN

Penderita tidak perlu diisolasi, tetapi harus berhati-hati pada saat menangani
dan membuang air kemihnya. Pekerja di luar ruangan atau pertanian yang berisiko
tinggi untuk terkena infeksi perlu menggunakan pakaian pelindung saat bekerja,
sehingga mencegah kontak terhadap kontaminan.

Pada daerah-daerah endemik, angka kejadian leptospirosis meningkat saat


musim hujan. Untuk itu hindari berenang atau berada pada air yang terkontaminasi,
misalnya saat terjadi banjir.