Anda di halaman 1dari 15

Pengaruh Tindakan Dokter Terhadap Prinsip Justice

Disusun Oleh:

Anisa Aulia Reffida (102013553)

Albert Arifin (102014019)

Desmonda (102014053)

Yussi Septiana (102014079)

Try Satrio Wicaksono (102014140)

Herlina Juliani B (102014145)

Christanti Elliavani (102014212)

Yohana Sidabalok (102014250)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510

1
Daftar Isi

Halaman Judul.......................................................................................................................... 1

Daftar Isi................................................................................................................................... 2

Pendahuluan............................................................................................................................. 3

1. Latar Belakang................................................................................................................... 3
2. Rumusan masalah .............................................................................................................. 4
3. Tujuan penulisan ............................................................................................................... 4
4. Hipotesis ............................................................................................................................ 4
5. Kajian teori ........................................................................................................................ 5

Pembahasan............................................................................................................................. 14

Kesimpulan.............................................................................................................................. 17

Daftar Pustaka......................................................................................................................... 18

2
Pendahuluan

1. Latar Belakang
Di dalam dunia ini, kita sering menemukan masalah dalam menentukan
apakah perbuatan yang kita lakukan itu baik atau buruk, benar atau salah. Apabila kita
melakukan sesuatu yang dianggap salah oleh masyarakat, seringkali tindakan kita
tersebut dikatakan tidak etis atau tidak sesuai dengan etika. Apakah etika itu? Etika
berasal dari kata Yunani ethos yang berarti akhlak, adat kebiasaan, watak, perasaan,
sikap yang baik, yang layak. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia
(Purwadarminta, 1953), etika adalah ilmu pengetahuan tentang azas dan akhlak.
Di dalam dunia pekerjaan/profesi, tentunya sangat dibutuhkan etika itu. Di
dalam dunia kedokteran kita mengenal istilah etika kedokteran. Etika kedokteran
merupakan seperangkat perilaku dokter dalam hubungannya dengan pasien, sesama
dokter, keluarga,masyarakat, dan lainnya. Di dalam etika kedokteran, terdapat pula
istilah bioetika.
Penerapan kaidah bioetik merupakan sebuah keharusan bagi seorang dokter
yang berkecimpung didalam dunia medis, karena kaidah bioetik adalah sebuah
panduan dasar dan standar, tentang bagaimana seorang dokter harus bersikap atau
bertindak terhadap suatu persoalan atau kasus yang dihadapi oleh pasiennya.
Kaidah bioetik harus dipegang tegush oleh seorang dokter dalam proses
pengobatan pasien, sampai pada tahap pasien tersebut tidak mempunyai ikatan lagi
dengan dokter yang bersangkutan.
Pada kasus kali ini, penulis akan membahas sebuah kasus yang dialami oleh
seorang dokter yang menerapkan prinsip Justice.

2. Rumusan Masalah
Dokter menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa kondisi pasien kurang baik
sehingga kemungkinan sembuh sangat kecil, tapi dokter tersebut tidak mengintervensi
pihak keluarga agar tidak membeli obat.

3. Tujuan Penulisan
Agar mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA dapat memahami dan mengerti
dengan baik dan juga mampu menerapkan 4 Kaidah Dasar Bioetik yaitu, Beneficence,

3
Non Maleficence, Autonomy dan Justice ; Aspek-aspek KODEKI dan profesionalisme
di bidang medis.

4. Hipotesis

Tindakan dokter dalam skenario D sudah memenuhi KDB Justice dan tidak melanggar
etika maupun sumpah profesi.

5. Kajian Teori

a. Pengertian Bioetik
Ada banyak pandangan mengenai bioetika, beberapa diantaranya:
Daniel Callagan, dalam : Encyclopedia of Bioethics, vol.1, 1995, s.v.
Bioethics: Bioethics is the intercesction of ethics and the life sciences.
(Bioetika adalah wilayah silang menyilang antara etika dan ilmu-ilmu
hayati.)
Webstes New Universal Unabridged Dictionary (1979) : bioethics : the
study of the ethical problems arising from scientific advance, especially in
biology and medicine. (Bioetika: studi tentang masalah-masalah etis yang
timbul karena kemajuan ilmiah, khususnya dalam biologi dan kedokteran.)
Samuel Gorovitz (1977) : Bioethics : the critical examination of the moral
dimensions of decisions making in health-related contexts and in contexts
invloving the biological science. (Bioetika: pemeriksaan kritis tentang
dimensi-dimensi moral dari pengambilan keputusan dalam konteks yang
menyangkut kesehatan dan konteks yang melibatkan ilmu pengetahuan
biologis.)

Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma
atau nilai-nilai moral. Bioetika atau bioetika medis merupakan studi interdisipliner tentang
masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik
skala mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang (Bertens, 2001). Bioetika
mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi dan hukum bahkan politik. Bioetika selain

4
membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi
reproduksi buatan dan rekayas genetik, membahas pula masalah kesehatan, faktor budaya
yang berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas penyembuhan
tradisional, lingkungan kerja dan lainnya.

Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah yang


ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya memperhatikan
masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya
masalah pada masa yang akan datang.

b. Kaidah Dasar Bioetik


Kaidah bioetik merupakan merupakan sebuah hukum mutlak bagi seorang dokter. Seorang
dokter wajib mengamalkan prinsip-prinsip yang ada dalam kaidah tersebut. Ada 4 dasar
kaidah bioetik yaitu :

Beneficence

Prinsip ini memiliki arti bahwa seorang dokter dan tenaga medis lainnya harus memenuhi
kebutuhan pasien dengan mengutamakan keuntungan pasien sebesar-besarnya. Keuntungan
dari pasien harus lebih besar daripada kerugian mereka. Dokter harus bekerja dengan
semaksimal mungkin untuk membuat pasien puas atas pelayanan kesehatannya.Prinsip ini
memiki arti umum untuk memberikan pelayanan dengan mencegah kerugian dan
menghilangkan kondisi penyebab kerugian tersebut, dan arti khusus dari prinsip ini adalah
memberikan yang terbaik bagi masyarakat secara luas seperti menyelamatkan orang dari
bahaya, memberikan vaksinasi, pencegahan penyakit menular,dll. Prinsip ini juga
menekankan pada pengobatan yang murah tetapi tetap memiliki khasiat yang baik dan juga
minimalisasi dari efek samping obat tersebut yang merupakan sebuah kerugian bagi pasien.

Non-maleficence

Maleficence sendiri memiliki arti sifat mencelakakan. Jadi, non-maleficence


adalahkebalikannya, yaitu sifat yang tidak mencelakakan atau memperburuk keadaan
pasien.Dokter tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien. Dokter
dituntut untuk mencegah bahaya dan resiko pasien akan kehilangan sesuatu yang penting

5
(kesadaran, anggota tubuh) dengan tindakan yang segera dan tepat dilakukan dalam keadaan
tersebut. Dokter harus mengobati dengan proporsional dan tidak lalai saat bertindak. Dokter
juga tidak boleh memanfaatkan kesempatan untuk melakukan whitecollar crime terhadap
pasien. Prinsip ini biasanya dilakukan saat menemukan pasien yang gawat.

Autonomy

Prinsip ini adalah bukti bahwa dokter tetap menghargai otoritas pasien terhadap dirinya
sendiri (tubuhnya) dan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya. Hal yang paling
ditekankan dalam prinsip autonomy ini adalah mengenai adanya informed concent yang
merupakan sebuah persetujuan, yang biasanya dalam bentuk surat pernyataan, antara pasien (yang
kompeten dalam mengambil keputusan sendiri) atau keluarga pasien (bagi pasien yang tidak
kompeten) dan dokter. Surat ini berisi persetujuan atas tindakan-tindakan apa saja yang akan
dilakukan oleh dokter. Biasanya informed concent ini diberikan padasaat dokter akan melakukan
tindakan yang berbahaya atau pasien akan kehilangan sesuatu, seperti pembedahan, amputasi,dll. Dalam
pemberian informed concent ini, pihak yang menyetujui harus membuat keputusan dari
dirinya sendiri, tidak ada intervensi dari pihak-pihak lain. Dokter pun harus tetap menghargai
keputusan tersebut.

Justice

Prinsip ini menekankan keadilan. Keadilan yang dimaksud dalam prinsip ini adalah
bagaimana seorang dokter bertindak secara adil terhadap pasiennya. Dokter harus menghargai
hak sehat pasien dan juga tetap menjaga hak orang lain. Dokter tidak boleh membeda-
bedakan pasien atas dasar SARA, status sosial,dll. Namun, dalam keadaan tertentu, seperti
musibah bencana alam, dokter harus memberikan pelayanan kepada pasien kritis terlebih
dahulu. Dokter juga harus memberikan kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dalam memberikan pelayanan, dokter harus memberikan sesuai dengan keadaan ekonomi
pasien.

c. KODEKI
Sejak permulaan sejarah peradaban umat manusia, sudah dikenal hubungan kepercayaan
(Fiduciary Relationship) antara 2 insan yaitu sang pengobat dan penderita yang melahirkan

6
konsep profesi. Manusia penderita atau pasien yang sangat memerlukan pertolongan fisik,
mental, sosial dan spritual mempercayakan bulat-bulat dirinya, khususnya kelangsungan
kehidupan, penderitaan, ketergantungan dan kerahasiaannya kepada sang pengobat.
Kepercayaan bulat yang teramat besar ini sebagai inti jaminan proses hubungan pengobat-
pasien tersebut memunculkan tanggung jawan pengobat sebagai profesi.universalitas
tanggung jawab profesi pengobat yang kemudian di era modern dikenal sebagai dokter adalah
tetap abadi, sepanjang masa. Dokter bahkan dikenal sebagai pelopor profesi luhur tertua
dalam sejarah karena dimensi tanggung jawabnya di bidang kemanusiaan yang membuahkan
akhlak peradaban budaya sejagat. Budaya ini diyakini akan abadi sepanjang sejarah manusia
sebagai mahluk sosial karena moralitas luhur kedokteran sebagai sisi deontologi dan tipe
ideal manusia penolong kemanusiaan senantiasa meneguhkan semata-mata kewajiban atau
tanggung jawab dan tidak segera atau bahkan selamanya tidak akan mengedepankan hak-hak
profesi ketika melaksanakan pengabdian profesinya.
Imhotep dari mesir, Hippocrates dari Yunani, Galenus dari Roma, sebagai perintis peletak
dasar moralitas dan tradisi luhur kedokteran sebagai suatu janji publik sepihak yang dibuat
oleh kaum pengobat/dokter yang akan mengusung model keteladanan tokoh panutan yang
seragam dan diakui di dunia ini. Selain itu, suara batin atau nurani dokter sebagai manusia
bio-psiko-sosio-kultural-spiritual, akan melambangkan ajaran keteladanan dan kebaikan
sosial budaya agama masing-masing. Kumpulan janji publik penuh keteladanan dan
kesejawatan tersebut kemudian dirumuskan oleh organisasi profesi dari negara tempat
berpijak pengabdian profesi mennjadi norma etika dan disiplin.
Di Indonesia, perumusan norma dan penerapan nyata etika kedokteran kepada perseorang
pasien/klien atau kepada komunitas/masyarakat di segala bentuk fasilitas pelayanan
kesehatan/kedokteran juga didasarkan azas-azas ideologi bangsa dan negara yakni pancasila,
UUD 1945. Dokter Indonesia seyogyanya memiliki keseluruhan kualitas dasariah manusia
baik dan bijaksana, yaitu sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati,
kesungguhan dan ketuntasan kerja, integritas ilmiah dan sosial, serta kesejawatan dan cinta
indonesia.
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), diuraikan dalam pasal-pasal berikut :
Kewajiban umum
Pasal 1
Setiap dokter menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dan atau janji
dokter.
Pasal 2
Setiap dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar
profesi yang tinggi.

7
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun
fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh
persetujuan pasien.
Pasal 6
Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan atau menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan terhadap hal-hal
yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter wajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenerannya.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus mengutamakan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi
masyarakat yang sebenarnya.
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.
Kewajiban dokter terhadap pasien
Pasal 10
Seorang dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan semua ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada
dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
Pasal 11
Setiap dokter wajib memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasihatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bersedia dan lebih mampu memberikan.
Kewajiban dokter terhadap teman sejawat
Pasal 14

8
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya bagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.
Kewajiban dokter terhadap diri sendiri
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran / kesehatan.

Sumpah dokter :
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan
2. saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai
dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter
3. saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi
kedokteran
4. saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya
5. saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan peri kemanusiaan sekalipun diancam
6. saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan
7. saya akan selalu mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan
kepentingan masyarakat
8. saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh
pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial
dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien
9. saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima
kasih yang selayaknya
10. saya akan memperlakukan temat sejawat saya seperti saudara kandung
11. saya akan mentaati dan mengamalkan kode etik kedokteran Indonesia
12. saya ikrarkan sumpah saya ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan
kehormatan diri saya

d. Profesionalisme di bidang medis


Profesionalisme di bidang medis artinya para dokter dituntut untuk profesional atau ahli
dalam bidang yang digeluti. Seorang profesional harus terdidik bukan hanya terlatih, artinya
memiliki kemampuan teoritis yang digunakan dalam pekerjaannya selain keterampilan teknis.
Kemudian dituntut terus menerus meningkatkan kemampuan dan keahliannya supaya hasil
pekerjaannya menjadi lebih baik. Nilai-nilai seorang profesional antara lain:
Confidence

9
Kepercayaan pasien terhadap dokter dapat diketahui melalui tingkat kepuasan pasien
yang berobat kepadanya, ini di dapatkan dari kemampuan dokter untuk menyediakan
layanan kesehatan yang baik.
Confidentiality
Kerja kedokteran melibatkan banyak pihak. Maka kerahasiaan pasien harus tetap
disimpan oleh organisasi kerja.
Competence
Mengasah pengetahuan keterampilan dokter melalui akreditas ulang, audit dan
pengujian untuk menjaga mutu pelayanan kesehatan kepercayaan dan rasa hormat
masyarakat.
Contract
Dokter sebagai profesinal memiliki kontrak yang tidak tertulis dengan pasiennya
untuk memberikan pelayanan terbaik dengan fasilitas yang tersedia.
Community responsibility
Dokter memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat yang terjalin melalui
kontrak tidak tertulis.
Commitment
Komitmen untuk pelayanan yang sempurna, selalu belajar dan mengikuti
perkembangan ilmu.

Sikap profesional dokter adalah sikap pribadi yang berkaitan dengan etika profesi, sikap
bertanggung jawab, terhadap ddiri sendiri, pribadi, masyarakat dan pemerintah, empati dan
altruisme.

Penilaian profesionalisme

1. Hati-hati, bertanggung jawab


2. Sesuai prioritas
3. Pasien merasa nyaman
4. Menghormati keputusan pasien
5. Rujuk

10
Pembahasan
Skenario D
Seorang laki-laki berusia 10 tahun dirawat di sebuah rumah sakit. Pasien dirawat dengan
keadaan penyakit kanker stadium lanjut. Setelah dilakukan pembedahan, pasien tersebut
dirawat untuk pengobatan selanjutnya. Orangtuanya bukanlah orang kaya dan tak mampu
membeli obat-obatan kemoterapeutik yang mahal. Kondisi orangtuanya tidak bisa
diharapkan. Tetapi orangtuanya ingin terapi berlanjut. Dokter telah menjelaskan bahwa
kondisi anakanya tidak bisa ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka untuk membeli obat-
obatan mahal tersebut. Dokter tidak yakin apakah ia harus mengatakan pada mereka untuk
tidaj usah membeli obat itu. Karena berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya pada
penyakit ini, beberapa pasien meninggal walaupun telah diterapi dengan kemoterapi. Tetapi
pada kasus yang jarang, mereka dapat juga sembuh. Pada kasus ini, kondisi pasien semakin
parah. Akhirnya dokter menjelaskan kepada orangtua pasien bahwa kondisinya kurang baik
dan kemungkinan untuk sembuh sangat kecil walau di terapi dengan obat-obatan, tetapi
dokter tidak mengatakan kepada orang tua pasien untuk tidak membeli obat tersebut.
Pada kasus ini KDB yang digunakan adalah Justice. Sesuai dengan Prima Facie nya yaitu
memberikan perlakuan sama kepada pasien untuk kebahagiaan pasien dan umat manusia.
Yang dokter itu lakukan sudah sesuai dengan KDB Justice. Kaidah Bioetik Justice:

n
Keadilan (Justice) Ada Tidak ada
o
1 Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2 Mengambil porsi terakhir dari porsi membagi yang telah ia lakukan
3 Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yg sama
Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accesibility,
4
availability, quality)
5 Menghargai hak hukum pasien
6 Menghargai hak orang lain
7 Menjaga kelompok rentan (yang paling merugikan)
8 Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial, dll.
9 Tidak melakukan penyalahgunaan
1
Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
0
11 Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
1 Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)

11
2 secara adil
1
Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
3
1
Memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan yang sah/tepat
4
1 Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan

5 kesehatan
1
Bijak dalam makroalokasi
6

Dari checklist dapat dilihat bahwa tindakan dokter sesuai dengan kaidah dasar bioetik Justice.
Karena dokter tersebut memberlakukan pasien secara universal dan juga dokter tersebut
mengembalikan hak kepada pemiliknya dengan menghormati keputusan keluarga yang ingin
meneruskan terapi dan dokter tersebut juga tidak megintervensi pihak keluarga agar tidak
membeli obat-obatan.

KODEKI yang terkait dalam skenario D ini adalah sebagai berikut:


- Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjug tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
- Pasal 2
Setiap dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi.
- Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamakan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) serta berusaha menjadi pendidik dan
pengabdi masyarakat yang sebenarnya.
- Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran atau kesehatan.

Dokter tersebut juga tidak mengingkari sumpah profesi dokter yang telah ia ikrarkan
(khususnya pada point 1,2,6,7,8,11) dengan terus mengobati pasien tersebut sesuai
permintaan keluarganya dan tidak melakukan euthanasia.

Keprofesionalisme sangat diperhatikan dan dibutuhkan dalam menjalankan peran sebagai


seorang dokter. Seorang dokter dituntut untuk dapat bekerja dengan baik dan menjunjung
tinggi pelayanan terhadap pasien. Dan dokter yang berada dalam skenario tersebut sudah

12
membuktikan profesionalisme nya dalam bekerja dan dalam pengabdiannya untuk
masyarakat.

13
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan skenario diatas, sesuai dengan konteks kaidah dasar bioetik yaitu
Justice. Apa yang dilakukan oleh dokter tersebut tidak melanggar dan sudah sesuai dengan
kaidah bioetik yang ada.
Dokter tersebut juga tidak melanggar sumpah profesi yang telah ia ikrarkan, khususnya pada
sumpah 1,2, 6, 7,8 dan 11 masing-masing:
o Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan
o Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai
dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
o Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan
o Saya akan selalu mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan
kepentingan masyarakat
o Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh
pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial
dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.
o Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.

Dokter tersebut sudah menunjukan sikap yang profesional di bidangnya sebagai dokter. Dia
sudah melakukan tanggung jawab sosial untuk melayani pasiennya dengan sepenuh hati.

14
Daftar Pustaka

1. Hanafiah, M.Jusuf, Amri Amir. 2009. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
2. K. Bertens. 2009. Perspektif Etika Baru: 55 Esai tentang masalah aktual. Yogyakarta:

Kanisius
3. Chang, William. 2009. Bioetika : Sebuah Pengantar . Yogyakarta :Kanisius.
4. Sachrowardi, Qomariyah S., Ferryal Basbeth. 2011. Bioetika : Isu & Dilema.

Jakarta :Pensil-324

15