Anda di halaman 1dari 14

PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN

ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK


MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK (Spodoptera litura)
PADA TANAMAN CABE

Warsi Rahmat Atmadja


Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
Jl. Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111

ABSTRAK

Penelitian pemanfaatan lima jenis insektisida nabati untuk mengendalikan


ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman cabe, dilakukan di sawah
petani Cipanas Jawa Barat, sejak bulan Januari sampai Desember 2010.
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan 1-2 formula yang efektif terhadap
S. litura. Insektisida nabati yang digunakan adalah nilam, serai wangi, serai
dapur, cengkeh, pala dan sebagai pembanding digunakan Emamektin
benzoat 5% serta kontrol. Insektisida nabati masing-masing konsentrasi 10
ml/ l air, pembanding konsentrasi 1 ml/ l air. Penelitian menggunakan
rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Ukuran
petak 8 x 5 m, jarak tanam 50 x 80 cm, populasi tanaman per petak 100
tanaman, tanaman contoh per petak 10 tanaman. Metode pengambilan
contoh dilakukan secara diagonal. Pengamatan dilakukan dengan cara
menghitung populasi S. litura, dilakukan sebelum dan sesudah aplikasi pada
setiap perlakuan. Aplikasi pertama dilakukan satu hari setelah pengamatan
pendahuluan, yaitu apabila populasi hama telah mencapai ambang kendali.
Interval aplikasi satu minggu. Aplikasi terakhir dilakukan dua minggu
sebelum panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua insektisida
nabati yang diuji efektif untuk mengendalikan S. litura dengan konsentrasi
10 ml/l air, hal ini dibuktikan dengan nilai efikasi insektisida nabati 50%.
Kata kunci : Pemanfaatan, insektisida nabati, Spodoptera litura, tanaman
cabe.

PENDAHULUAN

Salah satu faktor yang dapat menurunkan produksi tanaman


budidaya antara lain adalah organisme pengganggu tanaman (OPT),
disamping dapat menyebabkan rendahnya kualitas tanaman yang
dibudidayakan, OPT juga mengakibatkan produksi per satuan luas menjadi
rendah.

163
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

Organisme Pengganggu tanaman (OPT) yang sering menimbulkan


kerusakan tanaman hortikultura baik buah-buahan maupun sayuran adalah
ulat grayak (Spodoptera litura), yang merupakan salah satu hama penting
yang menyerang tanaman palawija dan sayuran. Hama ini sering
mengakibatkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen karena
menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpotong-potong dan
berlubang.
Gejala serangan yang diakibatkan oleh stadia larva ulat grayak yang
masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis pada
bagian atas dan tinggal tulang-tulang daun saja. Larva yang besar memakan
tulang daun dan buahnya. Gejala serangannya tidak beraturan, bahkan
hama ini juga memakan tunas dan bunga. Pada serangan berat
menyebabkan daun menjadi gundul (Samsudin 2008).
Ulat grayak (S. litura) hama penting yang dapat merusak hampir
semua tanaman pertanian seperti kedelai, tembakau, jagung, cabai, kacang
hijau dan lain-lain (Sudarmo 1992). Menurut Tengkano dan Soehardjan
(1985), larva S. litura dapat merusak seluruh bagian tanaman khususnya
pada daun yang mengakibatkan proses fotosintesis daun menjadi terhambat
sehingga menurunkan produksi tanaman pertanian.
Untuk menghindari kerugian yang disebabkan oleh hama tersebut
perlu dilakukan upaya pengendalian hama, baik secara kimiawi maupun non
kimiawi. Penggunaan insektisida kimiawi (sintetis) yang kurang bijaksana
menyebabkan terbunuhnya musuh alami dan mengakibatkan pencemaran
terhadap lingkungan (Marwoto et al. 1991). Akibat adanya dampak-dampak
negatif tersebut maka akhir-akhir ini masyarakat cenderung menggunakan
bahan-bahan alami (insektisida nabati) yang ramah terhadap lingkungan
(Mardiningsih et al. 1998).
Berdasarkan informasi tersebut penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan 1-2 formula yang efektif terhadap ulat grayak (S. litura).

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai Desember 2010, di


sawah petani Cipanas Jawa Barat. Insektisida nabati yang digunakan adalah
nilam, serai wangi, serai dapur, cengkeh, pala, masing-masing konsentrasi
164
PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN
ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

10 ml/ l air dan sebagai pembanding digunakan Emamektin benzoat 5%


konsentrasi 1 ml/l air serta kontrol. Penelitian menggunakan rancangan acak
kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Ukuran petak per
perlakuan 8 x 5 m, jarak tanam 50 x 80 cm, populasi tanaman per petak 100
tanaman, tanaman contoh per petak 10 tanaman. Metode pengambilan
contoh dilakukan secara diagonal. Pengamatan dilakukan dengan cara
menghitung jumlah populasi S. litura, dilakukan sebelum dan sesudah
aplikasi pada setiap perlakuan. Aplikasi pertama dilakukan satu hari setelah
pengamatan pendahuluan, yaitu apabila populasi hama telah mencapai
ambang kendali. Interval aplikasi satu minggu sekali, dan aplikasi terakhir
dilakukan dua minggu sebelum panen dengan volume semprot 500 l/ ha.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Populasi Spodoptera litura sebelum aplikasi


Berdasarkan hasil pengamatan minggu ke satu sebelum aplikasi,
populasi S. litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji rata-rata
antara 15,50-27,0 ekor, sedangkan pada kontrol mencapai 47,50 ekor. Pada
perlakuan insektisida nabati yang diuji semuanya tidak menunjukkan
perbedaan yang nyata tetapi menunjukkan perbedaan yang nyata dengan
kontrol.
Pengamatan minggu ke dua sebelum aplikasi, terjadi penurunan
jumlah populasi S. litura yaitu berkisar antara 13,0-22,25 ekor, juga pada
kontrol populasinya menurun sehingga populasinya mencapai 41,0 ekor.
Perlakuan insektisida nabati nilam menunjukkan perbedaan yang nyata
dengan perlakuan insektisida Emamektin benzoat dan kontrol, tetapi tidak
berbeda nyata dengan perlakuan insektisida nabati lainnya. Walaupun
demikian perlakuan insektisida nabati yang diuji semuanya menunjukkan
perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke tiga sebelum aplikasi, populasi S. litura pada
semua perlakuan insektisida nabati yang diuji dan kontrol mengalami
penurunan, populasi S. litura pada perlakuan insektisida nabati berkisar
antara 11,0-16,0 ekor dan kontrol sebesar 27,75 ekor. Pada semua
perlakuan insektisida nabati yang diuji dan perlakuan insektisida Emamektin

165
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

benzoat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi berbeda nyata


dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke empat sebelum aplikasi, populasi S. litura
masih rendah pada semua perlakuan insektisida nabati yang diuji, juga pada
perlakuan insektisida Emamektin benzoat dan kontrol. Pada perlakuan
insektisida nabati populasi S. litura berkisar antara 11,50-15,50 ekor,
sedangkan pada kontrol 26,0 ekor. Pada perlakuan insektisida nabati
cengkeh menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan insektisida
nabati nilam, serai wangi, serai dapur, insektisida Emamektin benzoat dan
kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan insektisida nabati pala.
Namun demikian semua perlakuan insektisida nabati yang diuji dan
insektisida Emamektin benzoat menunjukkan perbedaan yang nyata dengan
kontrol.
Pengamatan minggu ke lima sebelum aplikasi, populasi S. litura
masih kelihatan rendah pada semua perlakuan insektisida nabati yang diuji
dan perlakuan insektisida Emamektin benzoat serta kontrol. Pada perlakuan
insektisida nabati populasi S. litura berkisar antara 13,50-14,25 ekor,
sedangkan pada kontrol mencapai 25,50 ekor. Semua perlakuan insektisida
nabati yang diuji dan insektisida Emamektin benzoat tidak menunjukkan
perbedaan yang nyata tetapi berbeda nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke enam sebelum aplikasi, populasi S. litura
mengalami kenaikan, semua insektisida nabati yang diuji populasinya
berkisar antara 16,50-22,50 ekor sedangkan pada kontrol 31,25 ekor. Pada
perlakuan insektisida nabati nilam menunjukkan perbedaan yang nyata
dengan perlakuan insektisida nabati serai wangi, serai dapur dan pala tetapi
tidak berbeda nyata dengan perlakuan insektisida Emamektin benzoat dan
perlakuan insektisida nabati cengkeh. Pada pengamatan ini semua
perlakuan insektisida nabati yang diuji dan insektisida Emamektin benzoat
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke tujuh sebelum aplikasi, populasi S. litura
pada semua perlakuan insektisida nabati berkisar antara 12,25-14,25 ekor,
sedangkan pada kontrol populasinya mencapai 22,50 ekor. Perlakuan
insektisida Emamektin benzoat dan semua perlakuan insektisida nabati yang
diuji menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol.

166
PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN
ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

Pengamatan minggu ke delapan sebelum aplikasi, populasi S. litura


mengalami penurunan pada semua perlakuan insektisida nabati yang diuji
dan perlakuan insektisida Emamektin benzoat serta kontrol. Pada perlakuan
insektisida nabati populasi S. litura berkisar antara 10,0-15,25 ekor,
perlakuan Emamektin benzoat mencapai 8,75 ekor dan kontrol 20,0 ekor.
Perlakuan insektisida nabati serai dapur menunjukkan perbedaan yang nyata
dengan perlakuan insektisida nabati serai wangi dan insektisida Emamektin
benzoat, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan insektisida nabati
nilam, cengkeh dan pala. Walaupun demikian semua perlakuan insektisida
nabati yang diuji dan insektisida Emamektin benzoat menunjukkan
perbedaan yang nyata dengan kontrol (Tabel 1).

Tabel 1. Populasi S. litura sebelum diaplikasi dengan insektisida nabati pada


tanaman cabe. Cipanas 2010.
Perlakuan/ Populasi rata-rata per petak (ekor) Minggu ke ...
Konsentrasi 1 2 3 4 5 6 7 8
Nilam 25,5 b 13,0 c 12,8 b 12,3 c 13,8 b 16,5 d 12,3 b 12,5 bc
10 cc/l
Serai wangi 27,0 b 21,8 bc 11,0 b 11,5 c 14,5 b 22,5 b 14,3 b 10,0 c
10 cc/l
Serai dapur 15,5 b 18,8 bc 11,0 b 12,3 c 13,5 b 21,5 bc 13,8 b 15,3 b
10 cc/l
Cengkeh 26,5 b 21,0 bc 16,0 b 15,5 b 13,8 b 17,5 cd 12,8 b 10,5 bc
10 cc/l
Pala 20,0 b 22,3 bc 13,8 b 13,3 bc 14,3 b 21,5 bc 12,5 b 12,5 bc
10 cc/l
E. benzoat 5% 19,3 b 23,3 b 15,8 b 12,8 c 12,5 b 13,8 d 12,8 b 8,8 c
1 cc/l
Kontrol 47,5 a 41,0 a 27,8 a 26,0 a 25,5 a 31,3 a 22,5 a 20,0 a
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama dan huruf yang sama tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% Uji DMRT

Populasi S. litura setelah aplikasi


Hasil pengamatan pada minggu ke satu setelah aplikasi, populasi S.
litura rata-rata pada perlakuan insektisida nabati yang diuji berkisar antara
4,75-11,50 ekor dan pada kontrol mencapai 36,75 ekor. Pada pengamatan
ini semua perlakuan insektisida yang diuji dan perlakuan insektisida
Emamektin benzoat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata tetapi
berbeda nyata dengan kontrol.

167
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

Pengamatan minggu kedua setelah aplikasi, populasi S. litura pada


perlakuan insektisida nabati yang diuji rata-rata mencapai 4,25-10,0 ekor
sedangkan pada kontrol 35,25 ekor. Perlakuan insektisida nabati nilam
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan insektisida
Emamektin benzoat dan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan
perlakuan insektisida nabati serai wangi, serai dapur, cengkeh dan pala.
Walaupun demikian semua perlakuan insektisida nabati yang diuji dan
insektisida Emamektin benzoat menunjukkan perbedaan yang nyata dengan
kontrol.
Pengamatan minggu ke tiga dan ke empat setelah aplikasi, populasi
S. litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji rata-rata berkisar
antara 5,0-7,50 ekor dan 4,50-6,0 ekor, sedangkan pada kontrol dari kedua
pengamatan tersebut mencapai 20,0 ekor dan 25,0 ekor. Perlakuan
insektisida nabati dan perlakuan insektisida Emamektin benzoat dari kedua
pengamatan tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi
berbeda nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke lima setelah aplikasi, populasi S. litura pada
semua perlakuan insekstisida nabati rata-rata mencapai antara 4,50-7,50
ekor dan kontrol mencapai 21,50 ekor. Pada pengamatan ini perlakuan
insektisida nabati nilam tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan
perlakuan insektisida nabati serai wangi, serai dapur, cengkeh dan
insektisida Emamektin benzoat tetapi berbeda nyata dengan perlakuan
insektisida nabati pala dan kontrol.
Pengamatan minggu ke enam setelah aplikasi, populasi S. litura
pada perlakuan insektisida nabati rata-rata berkisar antara 7,0-11,25 ekor
sedangkan pada kontrol 26,25 ekor. Perlakuan insektisida nabati serai
wangi, serai dapur, nilam, cengkeh dan pala tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata tetapi berbeda nyata dengan insektisida Emamektin benzoat dan
kontrol. Namun keseluruhannya insektisida nabati yang diuji dan insektisida
Emamektin benzoat menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke tujuh dan ke delapan setelah aplikasi,
populasi S. litura kelihatan menurun. Pada kedua pengamatan tersebut
populasi S. litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji mencapai
antara 4,75-7,0 ekor dan 5,75-7,75 ekor sedangkan pada kontrol mencapai

168
PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN
ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

20,0 dan 18,75 ekor. Dari kedua pengamatan tersebut perlakuan insektisida
nabati yang diuji dan insektisida Emamektin benzoat semuanya
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol (Tabel 2).
Berdasarkan nilai Ei rata-rata dari lima kali pengamatan terakhir
ternyata semua perlakuan insektisida nabati yang diuji dan perlakuan
insektisida Emamektin benzoat 5% semuanya efektif terhadap S. litura
dengan nilai rata-rata untuk perlakuan insektisida nabati yang diuji berturut-
turut : nilam 74,96%, serai wangi 69,80%, serai dapur 70,68%, cengkeh
73,20%, pala 67,19% dan sebagai pembanding insektisida Emamektin
benzoat 5% mencapai rata-rata 77,51%, karena menurut ketentuan nilai Ei
yang efektif adalah 50%.
Menurut Grainge dan Ahmed (1988), pala bersifat sebagai
penghambat makan terhadap Callosobrochus maculatus, sebagai penolak
pada serangga Cochlimya homini Vorax, minyak biji pala sebagai
penghambat pertumbuhan Bombyx morii dan minyak pala sebagai sinergis
dan insektisidal terhadap Molusca domestica.
Berdasarkan hasil penelitian Mardiningsih et al. (1997), pengaruh
toksisitas minyak pala pada stadia imago hama gudang Oryzaephilus
mercator yang merupakan hama gudang pada beras dan tanaman rempah
(biji-bijian) dengan konsentrasi 1.250 ppm dan 2.500 ppm menimbulkan
mortalitas 93.7% dan 95.0% pada hari ke lima setelah aplikasi. Dari hasil
penelitian Michelia dan Baringbing (2006), minyak pala konsentrasi 7,5%
efektif menimbulkan toksisitas dan mortalitas pada larva Exopholis
hypoleuca instar 3 sebesar 90%, juga menimbulkan kematian pada larva I
muda 100%, larva I tua 100%, larva II muda 90%, larva II tua 87,5%, larva
III muda 85% dan larva III tua 82,5%. Minyak biji pala memiliki daya bunuh
yang hebat terhadap stadia larva serangga yang dapat menyebabkan
penyakit seperti nyamuk atau serangga hama tanaman (Lutony dan
Rahmawati 1994).

169
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

Tabel 2. Populasi S. litura setelah diaplikasi dengan insektisida nabati pada tanaman cabe
Rata-rata populasi per petak (ekor) Minggu ke ... Rata-
Perlakuan/
Ei Ei Ei Ei Ei Ei Ei Ei rata
konsentrasi 1 2 3 4 5 6 7 8
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Ei (%)
Nilam 11,5 b 68,7 4,3 c 87,9 6,5 b 67,5 4,8 b 82,0 4,5 c 79,1 7,0 bc 73,3 5,3 b 73,8 6,3 b 66,7 74,96
10 cc/l
Serai wangi 7,5 b 79,6 7,0 bc 80,1 5,0 b 75,0 5,0 b 80,0 5,3 bc 75,6 11,3 b 57,1 6,3 b 68,8 6,0 b 68,0 69,80
10 cc/l
Serai dapur 4,8 b 87,1 7,3 bc 79,4 5,3 b 73,8 4,5 b 82,0 5,8 bc 73,3 7,8 bc 70,5 7,0 b 65,0 7,0 b 62,7 70,68
10 cc/l
Cengkeh 8,0 b 78,2 9,8 bc 72,3 6,3 b 68,8 6,0 b 76,0 5,8 bc 73,3 7,5 bc 71,1 4,8 b 76,3 5,8 b 69,3 73,20
10 cc/l
Pala 10,5 b 71,4 10,0 bc 71,6 7,5 b 62,5 4,5 b 82,0 7,5 b 65,1 9,8 b 63,9 6,8 b 66,3 7,8 b 58,7 67,19
10 cc/l
E. benzoat 8,0 b 78,2 12,3 b 65,3 8,3 b 58,8 5,3 b 79,0 5,3 bc 75,6 5,0 c 80,9 5,0 b 75,0 4,5 b 77,0 77,51
5% 1 cc/l
Kontrol 36,8 a 0 35,3 a 0 20,0 a 0 25,0 a 0 21,5 a 0 26,3 a 0 20,0 a 0,0 18,8 a 0,0 0,0

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama dan huruf yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% Uji DMRT
Rata-rata Ei = n + 1 dari pengamatan terakhir
Ei (%) = kontrol perlakuan insektisida X 100%
Kontrol
Nilai Ei yang efektif 50%

170
PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN
ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

Hasil penelitian di laboratorium hama dan penyakit Balittro, minyak


pala konsentrasi 6% efektif terhadap Helopeltis antonii dengan tingkat
kematian 83,3% (Atmadja 2008). Hasil penelitian dengan menggunakan
minyak cengkeh konsentrasi 4% efektif terhadap H. antonii dengan tingkat
kematian mencapai 95% sedangkan pada H. theivora dengan konsentrasi
yang sama tingkat kematian sebesar 100% (Atmadja et al. 2006). Menurut
Kenese (2009) bahwa insektisida nabati serai wangi konsentrasi 3,2 %
efektif terhadap H. theivora dengan tingkat kematian 83,3%. Hasil penelitian
Suriati dan Atmadja (2010) di laboratorium, bahwa nilam, serai wangi, serai
dapur, cengkeh dan pala efektif terhadap S. litura dengan konsentrasi
masing-masing 5%.
Minyak cengkeh yang diaplikasikan pada hama pengetam janur
kelapa (Brontispa longissima) konsentrasi 4% tingkat kematiannya antara
67,5 74,14%, minyak cengkeh konsentrasi 2% tingkat kematian antara
17,5 41,5%, dan minyak cengkeh konsentrasi 1% tingkat kematian antara
9,2 34,7% (Rumini et al. 2006). Formula minyak serai wangi dan cengkeh
konsentrasi 5% efektif untuk mengendalikan rayap kayu kering
(Cryptotermes cynocephalus) dengan tingkat kematian 92% dan derajat
proteksi 9,8 (Atmadja et al. 2009).
Sebelumnya minyak nilam dikenal bersifat repelen/ menolak
kehadiran hama serangga, namun dalam penelitian Michelia dan Atmadja
(2010) ternyata minyak nilam dapat menimbulkan mortalitas pada hama H.
theivora. Menurut Mardiningsih et al. (1993), minyak dan serbuk nilam
bersifat menolak terhadap ngengat kain (Thysanura:Lepismatidae) dan
Sitophilus zeamays (Coleoptera: Cucurlinoidae), hama pada gudang
penyimpanan (beras, jagung dan serealia lain). Michelia dan Suhirman
(2008) melaporkan bahan pelarut dapat mempengaruhi daya racun minyak
nilam.
Penelitian pemanfaatan minyak serai wangi lebih banyak dilakukan
terhadap pengendalian pathogen penyakit tanaman. Hartati et al. (1993)
menyatakan aktivitas antibiotik minyak serai wangi efektif menghambat
pertumbuhan beberapa isolat Pseudomonas solanacearum yaitu bakteri
penyebab penyakit layu pada beberapa jenis tanaman. Hasil penelitian

171
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

Miptahurohmah et al. (2008) menunjukkan formula minyak serai wangi dan


cengkeh yang diuji memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur/
kapang kontaminan Geotrichum sp., Fusarium culmorum, Ulocladium sp.
dan Fusarium sp. dengan daya hambat sebesar 16 66,7% pada hari ke
tujuh setelah aplikasi.

Kerusakan tanaman cabe akibat S. litura


Berdasarkan hasil pengamatan minggu ke satu, kerusakan tanaman
cabe akibat S. litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji rata-rata
berkisar antara 22,50- 26,25%, sedangkan pada kontrol 27,50%. Pada
pengamatan ini insektisida nabati yang diuji dan perlakuan insektisida
Emamektin benzoat semuanya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke dua, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji dan kontrol mengalami
kenaikan. Pada perlakuan insektisida nabati yang diuji rata-rata kerusakan
tanaman cabe mencapai antara 28,75-35,75% sedangkan pada kontrol
mencapai 41,0%. Perlakuan insektisida nabati pala menunjukkan perbedaan
yang nyata dengan kontrol tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan
insektisida nabati nilam, serai wangi, serai dapur, cengkeh dan Emamektin
benzoat.
Pengamatan minggu ke tiga, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura masih tinggi. Pada perlakuan insektisida nabati yang diuji rata-rata
berkisar antara 33,0-35,0% dan kontrol mencapai 45%. Pada pengamatan
ini semua perlakuan insektisida nabati yang diuji dan Emamektin benzoat
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke empat, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji mencapai antara 28,75-
31,25% sedangkan pada kontrol mencapai sebesar 45,0%. Perlakuan
insektisida nabati nilam, serai wangi, serai dapur, cengkeh, pala dan
insektisida Emamektin benzoat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
tetapi berbeda nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke lima, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura pada perlakuan insektisida nabati yang diuji mencapai antara 23,75-

172
PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN
ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

28,75% dan pada kontrol mencapai 37,50%. Pada pengamatan ini


perlakuan insektisida nabati nilam, serai dapur, pala dan insektisida
Emamektin benzoat menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol,
sedangkan perlakuan insektisida nabati serai wangi dan cengkeh tidak
berbeda nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke enam, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura mengalami kenaikan pada setiap perlakuan insektisida nabati yang
diuji dan perlakuan insektisida nabati Emamektin benzoat. Kerusakan
tanaman cabe tersebut berkisar antara 32,50-38,75% sedangkan pada
kontrol 40,0%. Perlakuan insektisida nabati yang diuji dan perlakuan
insektisida Emamektin benzoat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
dengan kontrol.
Pengamatan minggu ke tujuh, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura menurun drastis, pada perlakuan insektisida nabati yang diuji berkisar
antara 12,50-20,0% dan pada kontrol sebesar 37,50%. Pada pengamatan
ini perlakuan insektisida nabati yang diuji dan perlakuan insektisida
Emamektin benzoat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan
kontrol.
Pengamatan minggu ke delapan, kerusakan tanaman cabe akibat S.
litura masih tetap rendah. Pada perlakuan insektisida nabati yang diuji
kerusakan rata-rata mencapai 12,50-20,0%. Perlakuan insektisida nabati
serai wangi menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan
insektisida Emamektin benzoat dan kontrol. Perlakuan insektisida nabati
nilam tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan
insektisida nabati serai wangi, serai dapur, cengkeh dan pala tetapi berbeda
nyata dengan kontrol (Tabel 3).

173
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

Tabel 3. Persentase kerusakan tanaman cabe akibat serangan S. litura.


Cipanas 2010.
Perlakuan/ Kerusakan tanaman rata-rata per petak (%), minggu ke ...
Konsentrasi 1 2 3 4 5 6 7 8

Nilam 25,0 a 35,0 ab 35,0 b 30,0 b 25,0 b 33,8 a 20,0 b 15,0 bc


10 cc/l
Serai wangi 25,0 a 33,0 ab 33,8 b 31,3 ab 27,5 ab 38,8 a 20,0 b 20,0 b
10 cc/l
Serai dapur 22,5 a 35,8 ab 33,0 b 28,8 b 23,8 b 35,0 a 20,0 b 15,0 bc
10 cc/l
Cengkeh 25,0 a 34,8 ab 33,8 b 31,3 ab 28,8 ab 32,5 a 12,5 b 15,0 bc
10 cc/l
Pala 26,3 a 28,8 b 34,5 b 31,3 ab 25,0 b 32,5 a 15,0 b 12,5 bc
10 cc/l
E. benzoat 5% 21,3 a 35,0 ab 33,0 b 30,0 b 23,8 b 27,5 a 12,5 b 10,0 c
1 cc/l
Kontrol 27,5 a 41,0 a 45,0 a 43,8 a 37,5 a 40,0 a 37,5 a 36,3 a

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama dan huruf yang sama tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% Uji DMRT

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semua insektisida


nabati nilam, serai wangi, serai dapur, cengkeh dan pala dengan konsentrasi
10 ml/l air dan insektisida berbahan aktif Emamektin benzoat konsentrasi 1
ml/l air efektif mengendalikan S. litura pada tanaman cabe.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, W.R. 2008. Pengaruh minyak jahe merah, pala dan selasih
terhadap H. antonii Sign. pada inang alternatif. Buletin Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat. 19: 154-163.
Atmadja, W.R., S. Suriati dan Sri Yuliani. 2006. Keefektifan minyak cengkeh
terhadap mortalitas H. antonii Sign. dan H. theivora Waterh.
(Hemiptera: Miridae). Proseding Seminar Nasional Entomologi dalam
Perubahan Lingkungan dan Sosial. Bogor, Oktober 2006. 279-284
Hal..
Atmadja, W.R., A. Ismanto dan Supriadi. 2009. Efikasi formula minyak serai
wangi dan cengkeh terhadap rayap kayu kering (C. cynocephalus).
Proseding Simposium Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Bogor, 14 Agustus 2009. 228-232 Hal.

174
PEMANFAATAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN
ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN CABE

Grainge, M. and S. Ahmed. 1988. Handbook of Plant With Pest Control


Properties. John Willey and Sons. 477 p.
Hartati, S.Y., E.M. Adhi dan N. Karyani. 1993. Uji efikasi cengkeh dan serai
wangi terhadap Pseudomonas solanacearum. Proseding Seminar
Hasil Penelitian dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor,
1-2 Desember 1993.
Kenese, K. 2009. Uji pestisida nabati terhadap H. theivora Waterh. pada
inang alternatif. Laporan Praktikum Lapang. 31 Hal.
Marwoto, E. Wahyuni dan K.E. Neering. 1991. Pengelolaan pestisida dalam
pengendalian hama kedelai secara terpadu. Balai Penelitian
Tanaman Pangan Malang. 8 Hal.
Mardiningsih, T.L., E.A. Wikardi, Wiratno dan Mamun. 1998. Nilam sebagai
bahan baku insektisida nabati. Badan Litbang Pertanian. Balittro
Bogor. 10 Hal.
Mardiningsih, T.L., Hernani dan Z. Zain. 1997. Toksisitas minyak pala dan
fuli terhadap Oryzaephillus mercator (Coleoptera: Silvanidae).
Simposium Penelitian Bahan Obat. 8 Hal.
Mardiningsih, T.L., S. Rusli, E.A. Wikardi dan S.L. Tobing. 1993.
Kemungkinan produk nilam sebagai bahan penolak serangga.
Proseding Seminar Hasil Penelitian dalam Rangka Pemanfaatan
Pestisida Nabati. Bogor, 1-2 Desember 1993.
Michelia D. dan Bariyah Baringbing. 2006. Pengaruh minyak biji pala
terhadap mortalitas instar 1, 2, 3 larva Exopholis hypoleuca.
Proseding Seminar Nasional dan Pameran Pestisida Nabati III. 25-31
Hal.
Michelia D. dan S. Suhirman. 2008. Repelensi minyak nilam terhadap
serangga predator semut rangrang (Oechlophylla smaradigma).
Proseding Seminar Nasional Pengendalian Terpadu Organisme
Pengganggu Tanaman Jahe dan Nilam. Bogor, 4 Nop 2008.
Michelia D. dan W.R. Atmadja. 2010. Pemanfaatan sepuluh jenis tanaman
obat dan aromatik untuk pengendalian hama Helopeltis theivora
Waterh. Proseding Seminar Nasional VI Perhimpunan Entomologi
Indonesia. Bogor, 24 Juni 2010. 328-336 Hal.
Miftahurohmah, R. Noveriza dan A. Kardinan. 2008. Efektivitas formula
minyak serai wangi terhadap pertumbuhan kapang asal buah merah
dan sambiloto. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 19:
Puslitbangbun Bogor.
Rumini, W., W.R. Atmadja dan S. Suhirman. 2006. Keefektifan minyak
bunga cengkeh terhadap hama pengetam janur kelapa (Brontispa
175
W.R. Atmadja. Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

longissima). Proseding Seminar Nasional Entomologi dalam


Perubahan Lingkungan dan Sosial. Bogor, Oktober 2006. Hal. 333-
336.
Samsudin. 2008. Hasil identifikasi primer hama utama pada tanaman
sayuran. http://pertanian.blongsome.com/2007/10/04/spodoptera
litura-f1 (3 April 2010).
Sudarmo, S. 1992. Pengendalian serangga hama dan penyakit kapas.
Kanisius, Yogyakarta.
Suriati, S. dan W.R. Atmadja. 2010. Efikasi beberapa macam insektisida
nabati terhadap ulat grayak (Spodoptera litura). Proseding Seminar
Nasional VI Perhimpunan Entomologi Indonesia. Peranan
Entomologi dalam Mendukung Pengembangan Pertanian Ramah
Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat. Bogor, 24 Juni 2010. 227-
232 Hal.
Tengkano, W. dan Soehardjan. 1985. Pengendalian hama kedelai. Pusat
Penelitian Tanaman Pangan Bogor. 10 Hal.

Pertanyaan/komentar:
T.L. Mardiningsih (Balittro)
T: Apakah ada data penggunaan pestisida sintetik sebagai pembandingi ?
J : Percobaan selanjutnya akan kami gunakan pestisida sintetik sebagai
pembanding

176