Anda di halaman 1dari 18

PLASMA NUTFAH INSEKTISIDA NABATI

Budi Martono, Endang Hadipoentyanti, dan Laba Udarno


Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

ABSTRAK ditekan seminimal mungkin. Oleh


Insektisida nabati merupakan salah satu karena itu, perlu dicari cara
sarana pengendalian hama alternatif yang pengendalian yang efektif terhadap
layak dikembangkan, karena senyawa hama sasaran namun aman terhadap
insektisida dari tumbuhan tersebut mudah organisme bukan sasaran dan
terurai di lingkungan dan relatif aman terhadap lingkungan. Salah satu golongan
mahkluk bukan sasaran. Pencarian sumber
nabati atau varietas unggul masih memerlukan insektisida yang memenuhi persyaratan
upaya khusus dan sungguh-sungguh. Koleksi tersebut adalah insektisida yang berasal
plasma nutfah tanaman insektisida nabati di dari tumbuh-tumbuhan (insektisida
Balittro sangat terbatas baik jenis maupun nabati).
aksesi pada tiap-tiap jenis; koleksi tersebut Tuntutan untuk menyediakan
tersebar di 5 kebun percobaan, yaitu Cikampek,
Cimanggu, Sukamulya, Manoko, dan Gunung produk insektisida nabati telah
Putri. Upaya eksplorasi, koleksi, dan mendorong dilakukannya berbagai
pelestarian untuk meningkatkan keragaman macam penelitian mengenai jenis
genetik sangat diperlukan, demikian juga tanaman yang potensial sebagai sumber
halnya dengan kegiatan karakterisasi dan insektisida. Grainge et al., (1985)
evaluasi plasma nutfah yang ada. Diharapkan
dari kegiatan-kegiatan tersebut, semua potensi melaporkan bahwa ada lebih dari 1000
dari setiap aksesi dapat dimanfaatkan secara spp. tumbuhan yang mengandung
maksimal untuk menghasilkan jenis-jenis insektisida, lebih dari 380 spp.
unggul baru. Sampai saat ini karakterisasi dan mengandung zat pencegah makan
evaluasi pendahuluan telah dilakukan pada (antifeedant), lebih dari 35 spp.
beberapa jenis tanaman, diantaranya
bengkuang, mimba, derris, dan selasih. mengandung akarisida, lebih dari 270
spp. mengandung zat penolak
PENDAHULUAN (repellent), dan lebih dari 30 spp.
mengandung zat penghambat
Dalam Peraturan Pemerintah pertumbuhan. Berdasarkan hal tersebut,
(PP) No. 6 tahun 1995 pasal 3 maka potensi bahan nabati untuk
ditetapkan bahwa perlindungan pengendalian organisme pengganggu
tanaman dilaksanakan melalui sistem tanaman cukup besar.
pengendalian hama terpadu (PHT); Indonesia dengan floranya yang
selanjutnya dalam pasal 19 dinyatakan sangat beragam, tentunya mengandung
bahwa penggunaan pestisida dalam cukup banyak jenis-jenis tumbuhan
rangka pengendalian organisme yang merupakan sumber bahan yang
pengganggu tumbuhan (OPT) dapat dimanfaatkan untuk pengen-
merupakan alternatif terakhir dan dalian serangga hama. Untuk itu, sudah
dampak yang ditimbulkan harus saatnya dikelola dengan lebih serius

43
dengan melakukan inventarisasi dan Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.)
eksplorasi untuk selanjutnya dikoleksi Urban)
dan dikonservasi baik secara in situ Tanaman bengkuang termasuk
maupun ex situ, kemudian dikarak- dalam famili Leguminosae, tanaman ini
terisasi/dievaluasi dan didokumentasi- berasal dari Meksiko dan Amerika
kan sehingga dapat dimanfaatkan Tengah bagian Utara. Dari Meksiko
sebagai materi dalam perakitan varietas diintroduksi ke Filipina oleh bangsa
unggul baru. Spanyol, kemudian menyebar ke
berbagai negara di Asia Tenggara
PLASMA NUTFAH termasuk Indonesia (Tindal, 1983;
INSEKTISIDA NABATI Purseglove, 1987). Saat ini tanaman
Plasma nutfah tanaman bengkuang banyak diusahakan di
insektisida nabati di Balittro sangat negara-negara beriklim tropik.
terbatas baik jenis maupun aksesi pada Bengkuang merupakan salah
tiap-tiap jenis. Selama ini upaya satu tanaman yang berpotensi sebagai
pengumpulan keragaman plasma sumber insektisida nabati yang
nutfah tanaman tersebut hanya berspektrum luas (Grainge dan Ahmed,
dilakukan melalui donor-donor apabila 1988). Semua bagian tanaman
ada kunjungan peneliti ke daerah, oleh bengkuang kecuali umbi mengandung
karena itu, eksplorasi secara khusus rotenon; berdasarkan bobot kering,
maupun introduksi dari luar negeri kandungan rotenon pada batang adalah
perlu dilakukan untuk meningkatkan 0,03%, daun 0,11%, polong 0,02%,
keragaman yang ada. Untuk dan biji 0,66% (Duke, 1981).
melestarikan koleksi plasma nutfah Kandungan rotenon murni pada biji
insektisida nabati dilakukan dalam yang telah masak berkisar 0,5 - 1,0%
bentuk koleksi hidup di 5 kebun (Sorensen, 1996).
percobaan di Jawa Barat yang memiliki Serbuk atau tepung biji
kondisi agroekologi yang berbeda, bengkuang dapat digunakan untuk
yaitu di KP. Cikampek (50 m dpl), KP. melindungi benih tanaman dari
Cimanggu (240 m dpl), KP. gangguan hama gudang (Kardinan,
Sukamulya (400 m dpl), KP. Manoko 1999), hama utama kacang hijau dan
(1200 m dpl), dan KP. Gunung Putri kacang tunggak, yaitu Callosobruchus
(1500 m dpl) (Tabel 1). maculates (Ibadurrahman, 1993), serta
Diantara plasma nutfah kepik Lophobaris serratipes Marsh.
insektisida nabati, bengkuang yang merupakan salah satu hama
(Pachyrhizus erosus (L.) Urban), utama tanaman lada (Mustikawati dan
mimba (Azadirachta indica A. Juss), Martono, 1993).
akar tuba (Derris elliptica Benth), dan
selasih (Ocimum spp.) merupakan
tanaman yang cukup potensial untuk
diteliti.

44
45
46
Ekstrak dari bahan ini nyata (Anon., 1958). Namun kegiatan
(konsentrasi 0,1%) dapat mengakibat- penelitian ini terhenti pada tahun 1960-
kan mortalitas dan memperpanjang an karena terdesak oleh bahan-bahan
lama perkembangan larva sintetis, sehingga nilai ekonomis
Crocidolomia pavonana (F.) (sin. C. produk dari tanaman tersebut praktis
binotalis Zeller) dari instar II ke instar menurun. Menurunnya nilai ekonomis
III dan dari instar II ke instar IV, produk tanaman bengkuang menyebab-
masing-masing berkisar antara 0,77 - kan prioritas penelitiannya menjadi
3,29 hari dan 0,43 - 4,43 hari (Martono, rendah sehingga kegiatan penelitian
2003). Selain itu, bahan ini juga dapat kurang mendapat perhatian.
mengakibatkan mortalitas yang tinggi Perkembangan penelitian plasma
pada ulat daun kubis, Plutella xylostella nutfah bengkuang sangat minim,
(L.); dan juga bersifat toksik terhadap eksplorasi dan koleksi plasma nutfah
beberapa jenis serangga dari ordo dilakukan kembali tahun 1995. Sampai
Coleoptera, Diptera, Hemiptera, tahun 2003 telah terkumpul 77 nomor
Lepidoptera, dan Orthoptera (Grainge koleksi dari beberapa daerah sentral
dan Ahmed, 1988). Kegunaan lain dari produksi dan introduksi, sebagian dari
bengkuang antara lain sebagai bahan nomor-nomor tersebut telah mati,
makanan penyegar, bahan kosmetika, sampai saat ini tinggal 37 nomor (Tabel
obat, pupuk hijau, dan pakan ternak. 2). Untuk itu, penanganan koleksi
bengkuang yang ada harus dilakukan
Eksplorasi dan Koleksi
lebih intensif. Ke-37 nomor koleksi
Usaha pengumpulan dan bengkuang tersebut sangat sedikit
pelestarian tanaman bengkuang untuk jumlahnya sehingga masih berupa
meningkatkan keragaman genetik koleksi dasar; untuk dapat dimanfaat-
sudah dimulai sejak lama oleh Balai kan lebih lanjut maka koleksi tersebut
Besar Penyelidikan Pertanian (BBPP), harus dikarakterisasi dan dievaluasi
jumlah koleksi yang pernah tercatat untuk mengetahui potensi genetiknya.
sebanyak 71 galur yang dikumpulkan
dari berbagai daerah, kadar rotenoid Evaluasi
dari galur-galur tersebut rata-rata 1,4% Hasil penelitian mengenai
beberapa galur ada yang sampai 1,9%. pengaruh keadaan tempat terhadap
Penelitian kandungan rotenoid tanaman kadar rotenoid, dilaporkan bahwa dari
ini pernah dilakukan di empat Kebun 15 lokasi tidak menunjukkan adanya
Percobaan (KP) : Cibinong, Kalipare, perbedaan; selanjutnya dari penelitian
Muneng, dan Genteng. Dari 71 galur yang dilakukan di berbagai lokasi
didapat lima nomor yang mempunyai menunjukkan bahwa tanaman
produktivitas tinggi (T-PE14, T-PE22, bengkuang menghasilkan biji
T-PE25, T-PE44, dan T-PE60) bila terbanyak pada daerah-daerah yang
dibandingkan dengan varietas mempunyai ketinggian tempat dibawah
Cimanggu 85-1 dan Merauke 2, akan 350 m dpl.
tetapi kadar rotenoidnya tidak berbeda

47
Tabel 2. Nomor-nomor koleksi bengkuang hasil eksplorasi dan koleksi
No. Asal Jumlah Aksesi Donor
1. Jawa Tengah 9 Budi Martono
2. Jawa Barat 6 Budi Martono
3. Jawa Timur 1 Budi martono
4. Sumatera Barat 7 Urnemi
5. Sumatera Utara 3 P. Kale
6. Kalimantan Selatan 1 P. kale
7. Introduksi 10 P. Kale

Pada ketinggian 1000 m dpl, Tabel 3. Pengaruh waktu tanam


meskipun tanaman dapat tumbuh baik terhadap hasil biji
akan tetapi bunganya banyak yang
bengkuang.
gugur, demikian pula halnya dengan
polong muda; hal tersebut menyebab- Waktu tanam Hasil biji
kan hasil biji yang diperoleh rendah (65 (bulan) (kg/40 tanaman)
- 250 kg/ha). Disamping itu, waktu Nopember 1954 12,530
berbunganya terlambat sekitar satu Desember 1954 10,330
bulan. Di Cobanrondo (Jawa Timur) Januari 1955 8,605
(1450 m dpl) pertumbuhan tanaman Pebruari 1955 4,980
lambat, kebanyakan bunga mengering Maret 1955 3,720
sebelum terbuka sehingga hasil bijinya April 1955 2,285
hampir tidak ada. Di daerah-daerah Mei 1955 1,805
yang musim kemarau-nya nyata, Sumber: Anon., 1955.
seperti di Sumberrejo, Jambegede, dan
Kalipare produksi biji berkisar 925 - Mimba (Azadirachta indica A. Juss)
2074 kg/ha sedang di Bogor 1035 - Tanaman mimba termasuk
1234 kg/ha (Anon., 1997). dalam famili Meliaceae, tanaman ini
Produksi biji bengkuang per merupakan tanaman asli Afrika Asia.
satuan luas tidak hanya ditentukan oleh Di Asia tanaman ini banyak terdapat di
tinggi tempat, iklim, dan jarak tanam, India, Burma, Cina Selatan, dan
tetapi juga sangat ditentukan oleh Indonesia. Di Indonesia tanaman
waktu tanam. Dari hasil penelitian mimba dijumpai di Jawa dan Bali,
waktu tanam yang dilakukan di Bogor terutama disepanjang pantai utara pulau
menunjukkan bahwa waktu tanam Jawa seperti Subang, Cirebon, dan
yang paling tepat adalah pada awal Indramayu (Jawa Barat), Tegal,
musim hujan, yaitu pada bulan Banjarsari, dan Kranggan (Jateng),
Nopember. Semakin lambat ditanam Tuban, Lamongan, Gresik, Sidoarjo,
semakin berkurang hasil bijinya Pasuruan, Probolinggo, Asembagus,
(Anon., 1955) (Tabel 3). dan Banyuwangi (Jatim), Gilimanuk

48
dan Singaraja (Bali). Di daerah daerah di Jawa barat telah dilakukan
Asembagus dijumpai pohon-pohon tahun 1996, hasil selengkapnya dapat
yang berumur di atas 50 tahun, dilihat pada Tabel 4. Dari 38 nomor
sedangkan di tempat lainnya umumnya koleksi mimba yang terkumpul
berumur di bawah 10 tahun kemudian dikoleksi di KP. Cikampek.
(Sastrodihardjo dan Aditya, 1992). Di antara nomor-nomor yang
Pohon mimba dapat dimanfaat- terkumpul, 30 nomor diperoleh dari
kan sebagai insektisida, sabun, pupuk, Kabupaten Indramayu yang dikumpul-
pakan ternak, obat medis, dan cat. kan dari tiga desa sedangkan enam dan
Kandungan bahan aktif insektisida biji dua nomor berturut-turut diperoleh dari
mimba lebih banyak dibandingkan Kabupaten Subang dan Sumedang
daun. Biji mimba mengandung (Tabel 4).
beberapa komponen aktif pestisida
Karakterisasi
antara lain azadirachtin, salannin,
azadiradion, salannol, salanolacetate, 3- Data hasil karakterisasi awal dari
deacetyl salannin, 14-epoxy- nomor-nomor yang dikoleksi dari biji
azadiradion, gedunin, nimbenin, dan menunjukkan bahwa nomor-nomor
deacetyl nimbinen (Jones et al., dalam tersebut cukup bervariasi, hal ini
Schmutterer, 1990). Dari beberapa terutama ditunjukkan pada karakter
komponen aktif tersebut ada empat jumlah daun majemuk/cabang tersier
senyawa yang diketahui sebagai dengan koefisien keragaman (KK)
pestisida yaitu azadirachtin, salannin, antara 7,76 - 69,61% (Tabel 5) dan
nimbinen, dan meliantriol. Komponen karakter jumlah buah/tandan dengan
lainnya belum diketahui secara pasti KK antara 31,14 - 73,66% (Tabel 6).
(Anon., 1992). Ekstrak biji mimba Hal tersebut juga terdapat pada karakter
dengan bahan aktif utama azadirachtin lainnya seperti produksi buah/cabang
dapat menimbulkan berbagai pengaruh tersier dengan kisaran antara 3,74 -
pada serangga, seperti hambatan 74,90 g.
aktivitas makan, gangguan perkem- Akar Tuba (Derris elliptica Benth)
bangan, penurunan keperidian, dan Tanaman derris termasuk famili
ketahanan hidup serta hambatan Leguminosae; genus derris terdiri dari
aktivitas peletakan telur (Schmutterer, sekitar 70 spesies, jumlah spesies
1990). Jenis serangga yang aktivitas terbanyak ditemukan di Asia Tenggara
hidup atau perkembangannya dapat (Purseglove, 1987). Tidak semua genus
dihambat oleh ekstrak mimba kini derris memiliki aktivitas sebagai racun;
dilaporkan telah mencapai lebih dari ada empat spesies yang telah
200 spesies (Jacobson, 1986; Saxena, digunakan sebagai insektisida, yaitu D.
1989, dan Warthen, 1989). elliptica Benth., D. trifolia Lour., D.
Eksplorasi dan Koleksi malaccensis Prain., dan D. ferruginea
Eksplorasi dan pengumpulan Benth. (Burkill, 1935; Kochhar, 1981).
plasma nutfah mimba dari berbagai

49
Tabel 4. Nomor-nomor koleksi plasma nutfah mimba hasil eksplorasi tahun
1995/1996
Asal
No. Jumlah Aksesi
Desa Kecamatan Kabupaten
1. Jati Sawit Jatibarang Indramayu 13
2. Wana Sari Pangadua Indramayu 8
3. Pemindangan Wetan Sindang Indramayu 9
4. Dangdeur Subang Subang 2
5. Kalijati Kalijati Subang 2
6. Cigadung Purwodadi Subang 2
7. Cikole Cimalaka Sumedang 1
8. Cikadu Situraja Sumedang 1
Sumber : Tasma et al. (1996)

Tabel 5. Karakterisasi daun dan buah nomor-nomor koleksi plasma nutfah mimba
Rata-rata Rata-rata Rata-rata Rata-rata Rata-rata Volume
No. Nomor KK
jumlah daun jumlah jumlah panjang diameter 10 butir
koleksi (%)
majemuk/ daun/daun daun/ buah buah buah
cabang majemuk cabang (mm) (mm) (ml)
tersier tersier
1. JS2 14,30 28,20 12,0 172 16,0 9,50 12,0
2. JS3 40,00 20,52 14,0 561 17,9 11,3 14,0
3. JS4 19,70 7,76 12,7 249 13,2 11,8 18,0
4. JS5 19,70 26,09 12,0 236 17,1 10,2 10,0
5. JS6 18,00 43,39 12,0 216 17,1 10,7 11,0
6. JS7 13,70 15,23 14,0 191 14,9 10,2 12,0
7. JS8 14,30 49,50 14,0 201 16,2 9,50 11,0
8. JS9 20,70 38,80 12,0 248 14,7 9,50 10,0
9. JS10 18,70 20,28 14,0 261 18,8 10,8 11,3
10. WS1 33,30 22,72 14,0 467 18,6 10,9 11,0
11. WS2 14,00 31,13 14,7 205 16,8 9,83 12,0
12. WS3 17,30 69,61 14,7 254 16,9 10,4 13,0
13. WS4 8,67 35,24 12,0 104 17,2 11,1 16,0
14. WS5 11,00 27,27 14,7 161 15,5 9,75 10,0
15. PW1 14,70 67,57 15,3 225 15,9 10,2 9,00
16. PW2 14,00 33,23 14,0 196 16,0 9,87 11,0
17. PW3 21,00 41,51 14,7 308 14,1 9,00 7,50
18. PW4 25,30 6,03 14,0 355 15,4 9,10 9,50
19. PW5 29,50 31,49 14,0 413 16,4 9,67 11,0
20. PW8 15,00 20,00 16,0 240 15,7 9,58 9,00
21. PW9 15,00 24,04 14,0 210 17,4 11,3 11,8
Sumber : Tasma et al. (1996)

50
Tabel 6. Karakterisasi hasil dan komponen hasil nomor-nomor koleksi plasma
nutfah mimba
Rata-rata Rata-rata KK Rata-rata Rata-rata Rata-rata
No Nomor
jumlah tandan jumlah (%) jumlah buah/ berat 100 produksi
koleksi
buah/cabang buah/ cabang butir (g) buah/cabang
tersier tandan tersier tersier (g)
1. JS2 5,67 1,40 46,16 7,94 128 10,1
2. JS3 14,0 2,75 49,34 38,5 152 58,6
3. JS4 19,7 1,25 31,14 5,00 143 7,13
4. JS5 19,7 2,49 48,71 10,7 121 12,9
5. JS6 18,0 2,09 37,94 16,0 141 22,6
6. JS7 13,7 3,37 51,01 30,0 125 33,6
7. JS8 14,3 2,08 64,83 19,4 100 19,4
8. JS9 20,7 3,13 73,66 31,3 107 33,4
9. JS10 18,7 1,37 39,02 2,74 137 3,74
10. WS1 33,3 3,47 51,31 28,9 111 32,7
11. WS2 14,0 1,46 46,30 12,3 121 14,9
12. WS3 17,3 2,52 44,23 24,3 132 32,1
13. WS4 8,67 2,00 60,30 6,66 153 10,2
14. WS5 11,0 4,08 58,62 16,3 101 16,4
15. PW1 14,7 4,17 59,47 16,7 79,8 13,1
16. PW2 14,0 3,00 52,12 30,0 107 32,1
17. PW3 21,0 5,61 51,69 71,1 78,0 55,4
18. PW4 25,3 2,70 62,34 27,0 97,7 26,4
19. PW5 29,5 4,68 53,99 77,2 97,0 74,9
20. PW8 15,0 1,79 49,86 8,36 108 9,00
21. PW9 15,0 3,64 50,85 42,5 122 51,7
Sumber : Tasma et al. (1996)

Salah satu spesies yang Disamping rotenon sebagai


dilaporkan telah banyak digunakan bahan aktif utama, bahan aktif lain
sebagai insektisida adalah D. elliptica yang terdapat pada akar tanaman derris
Benth. Derris ditemukan tumbuh secara adalah deguelin (0,2 - 2,9%), elliptone
liar mulai dari India sampai ke Irian (0,4 - 4,6%), dan toxicarol (0 - 4,4%)
Jaya, sedangkan di Afrika dan Amerika (Hamid, 1999). Selain sebagai racun
tropis dibudidayakan. Di Indonesia, ikan, derris juga dapat digunakan
derris terdapat hampir di seluruh sebagai insektisida, yaitu untuk
wilayah nusantara. Di Jawa ditemukan pemberantasan hama pada tanaman
mulai dari dataran rendah sampai sayuran (terutama kol), tembakau,
ketinggian 1500 m dpl. Tumbuh kelapa, kina, kelapa sawit, lada, teh,
terpencar-pencar, di tempat yang tidak coklat, dan lain-lain (Anon., 1997).
begitu kering, di tepi hutan, di pinggir
Eksplorasi dan Koleksi
sungai atau dalam hutan belukar yang
masih liar (Heyne, 1987). Penelitian dan upaya pengem-
bangan tanaman derris telah lama

51
dilakukan di Indonesia. Menurut Untuk mendukung pengem-
catatan yang ada, sejak tahun 1951 bangan tanaman derris, penyediaan
telah terkumpul berbagai tipe derris bahan tanaman yang unggul
dari berbagai perkebunan di Indonesia merupakan langkah awal yang harus
dan introduksi berbagai tipe derris dari dilakukan. Eksplorasi untuk mening-
Malaya (Hamid, 1961). Sebelum tahun katkan keragaman genetik sangat
1958 Balai Besar Penyelidikan diperlukan guna menunjang keber-
Pertanian (BBPP) di Bogor telah hasilan pemuliaan tanaman ini. Sampai
berhasil mengembangkan tanaman tahun 1995 telah terkumpul 12 nomor
derris tipe Ngawi T-DE 39 (Ngawi Ct . koleksi, 7 nomor dari daerah
23), setelah itu juga berhasil Sumedang dan 5 nomor dari Gunung
dikembangkan dua tipe derris yang lain Kuning (Majalengka) (Wahyuni et al.,
yaitu tipe Puntu dan Wulung yang 1996).
mempunyai kadar rotenon lebih tinggi
(8,25-10,7%) dibandingkan tipe Ngawi
(6,5%) (Djisbar, 1989).

Tabel 7. Karakteristik derris dari daerah Sumedang dan Gunung Kuning


(Majalengka)
Diskripsi Daerah asal
Sumedang Majalengka
Batang
Bentuk Bulat Bulat
Warna kulit batang Coklat kehitaman Hijau keputihan
Permukaan Kasar, tidak berbulu Batang bagian bawah dipenuhi oleh
tonjolan, menyerupai duri tapi
tumpul, batang bagian atas licin
Diameter 0,5 1,5 cm 0,5 0,7 cm
Daun
Jumlah anak daun 7 13 59
Bentuk Bulat memanjang Jorong-jorong memanjang (elliptic-
(oblongus) elliptic oblongus)
Warna Hijau gelap Hijau tua
Ujung daun Meruncing Meruncing
Pangkal daun Runcing-tumpul Tumpul
Permukaan atas Licin Licin
Permukaan bawah Berbulu halus Licin tidak berbulu
Pertulangan Menyirip Menyirip
Ratio panjang : lebar 2,4 3,3 1,7 2,6
Warna petiol Hijau Hijau
Sumber: Wahyuni et al. (1996).

52
Karakterisasi Menurut Hegi dalam Guenther
Hasil karakterisasi batang dan (1952) terdapat 50-60 jenis ocimum
daun dari sembilan tipe D. elliptica banyak dijumpai tumbuh di dataran
yang ada di KP. Citayam menunjukkan rendah hingga ketinggian 1100 m dpl.
penampilan yang hampir sama kecuali Beberapa jenis mempunyai nilai
pada warna dan ukuran anak daun ekonomis penting dan berpotensi untuk
(Tabel 8); karakterisasi lebih lanjut dikembangkan sebagai penghasil
perlu dilakukan untuk membedakan minyak atsiri yang digunakan untuk
kesembilan tipe D. elliptica yang ada. obat-obatan, pengharum, bumbu, dan
Kegiatan karakterisasi juga telah bahan baku pestisida nabati.
dilakukan terhadap koleksi derris hasil Dipasar dunia, minyak selasih
eksplorasi tahun 1995/1996, hasil (basil oil) dikenal dengan nama sweet
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel basil oil, reunion basil oil dan
7. intermediet basil oil (Guenther, 1952;
Dari koleksi derris yang ada, 8 Kirtikar dan Basu, 1975). Para ahli
nomor koleksi diantaranya telah taksonomi masih kesulitan untuk
dianalisa kandungan rotenonnya menggolongkan ocimum, apakah
(kandungan rotenon berkisar 1,33- termasuk jenis, sub jenis, tipe atau
4,25%), tiga dari 8 nomor memiliki forma karena tanaman ini bersifat
kandungan rotenon tinggi dan polymorphis. Oleh karena itu untuk
memenuhi syarat perdagangan yaitu identifikasi lebih mudah berdasarkan
TDE 99 (4,25%), TDE 185 (3,15%), pada komposisi kandungan kimianya
dan Walikukun (3,65%). (Tabel 9). (bahan aktifnya). Berdasarkan senyawa
utama dalam minyak yang berasal dari
Selasih (Ocimum spp.) tanaman ocimum, maka dapat
Ocimum merupakan salah satu dibedakan menjadi tipe Eropa (methyl
genus terna tahunan yang termasuk chavicol, linalool), tipe Reunion
famili Labiatae, terdiri dari beberapa (methyl chavicol, camphor), tipe
jenis baik yang telah dibudidayakan methyl cinnamate, dan tipe eugenol
maupun liar. Asal usul tanaman (eugenol). Ada 11 jenis ocimum yang
tersebut tidak diketahui dengan pasti, telah dikenal di dunia, empat
tetapi menyebar di daerah tropis Asia, diantaranya ada di Indonesia dengan
Afrika, dan Amerika. nama daerah dan kandungan senyawa
kimia yang berbeda-beda(Burkill,
1939; Heyne, 1987; Anon., 1989,
Hadipoentyanti, 1994) (Tabel 10).

53
54
KP.D.Manoko,
Tabel 9. Analisa kadar rotenon 8 nomor koleksi ellipticadan
asalKP.
KP. Nagasari
Citayam (Tabel
11).
No Nomor koleksi Kadar rotenone (%)
1. TDE 99 4,25
2. TDE 186 2,45
3. TDE 43 1,08
4. TDE 83 1,33
5. TDE 185 3,15
6. TDE 48 2,50
7. SP 1 2,65
8. Walikukun 3,65
Sumber : Wikardi et al. (1992)
Tabel 10. Kandungan senyawa kimia pada 11 jenis Ocimum
No Jenis Kandungan kimia
1. O. bascillicum L., 2 tipe Eugenol (46%)3, metal sinamat, komfor
osimen, pinen, linalool, terpen, sineol (66%)3,
metil kavikl.
2. O. canum Sims., 3 tipe Metal sinamat (54 85%), kamfor (54%),
sitral (68%)
3. O. gratissimum L., 3 tipe Eugenol (46%)3, timol (39%), sitral (66%)3,
geraniol, osimem.
4. O. kilimandscharicum L. Fenol (30%)
5. O. minimum L. Eugenol, benzoil, linalool, metal kavikol
6. O. micanthum Wild. Minyak atsiri (0,14 0,25%)
7. O. methaefolium Hochst. Metil kavikol, anetol, alcohol
8. O. pi;osum L. Sitral (41%)3, sitrolellal (34%)3, sineol, lionen,
timol, aldehida
9. O. sanctum L. Eugenol (76%)3, metol eugenol (20%)3,
karvakrol (3%)
10. O. suave L. Eugenol (13,5 14%)3
11. O. viridae L. Timol (18 30%)3
1
Sumber : Burkill, 1935, 3Guenther, 1952; Anon., 1986; Heyne, 1987; Hadipoentyanti dan
Supriadi, 2000
Eksplorasi dan Koleksi
Sampai saat ini tercatat ada 5 Karakterisasi
jenis ocimum yang dimiliki Balittro, Kegiatan karakterisasi sebagian
satu jenis diantaranya mati (Ocimum koleksi Ocimum spp. telah dilakukan
minimum). Keempat jenis ocimum tahun 1995/1996, hasil selengkapnya
tersebut dikoleksi di KP. Cimanggu, dapat dilihat pada Tabel 12.

55
56
57
Anonymous, 1992. Neem: A tree for
solving global problems. National
KESIMPULAN Research Council. National
Potensi insektisida nabati sebagai Academy Press, Washington D.C.
salah satu sarana pengendalian hama Anonymous, 1997. Prospek beberapa
cukup tinggi. Jumlah koleksi plasma jenis tanaman penghasil insektisida.
nutfah insektisida nabati saat ini yang Laporan bulan Oktober, Balai
ada di kebun-kebun instalasi lingkup Penelitian Tanaman Rempah dan
Balittro sangat sedikit, terbatasnya Obat. 11 hal.
jumlah koleksi tersebut perlu
Burkill, I.H., 1935. A Dictionary of the
diusahakan dengan kegiatan eksplorasi
economic products of the Malay
dan koleksi plasma nutfah. Sampai saat
peninsula. Government of the staits
ini baru empat jenis tanaman
settlement and Federal Malay
(bengkuang, mimba, derris, dan
States.
selasih) yang sudah dilakukan
karakterisasi dan evaluasi pendahuluan. Djisbar, A., 1989. Penelitian Tanaman
Kegiatan karakterisasi dan evaluasi berkadar racun hama. Prosiding
tersebut, perlu dilanjutkan untuk Simposium I Hasil Penelitian
mengetahui potensi genetik dari plasma Tanaman Industri. Buku VIII :
nutfah yang ada sehingga akan 1260-1264.
diperoleh informasi yang lengkap
Duke, J. A., 1981. Handbook of
tentang karakter-karakter yang dimiliki Legumes of World Economic
sebagai dasar untuk mengidentifikasi Importance. Plenum Press. New
setiap aksesi yang pada akhirnya dapat York & London. 345 hal.
dimanfaatkan secara maksimal untuk
menghasilkan jenis-jenis unggul baru. Grainge, M., S. Ahmed, W.C. Mitchell,
dan J.W. Hylin, 1985. Plant
DAFTAR PUSTAKA Species Reportedly Possessing Pest
Control Properties. An EWC/UH
Anonymous, 1955. Tanaman
Database, Resources System.
insektisida. Laporan Tahunan,
Institut E.W. Center, Univ. Of
Balai Besar Penyelidikan
Hawaii, Honolulu. 249 hal.
Pertanian, Fasco Djakarta: 70-71.
Grainge, M., dan S. Ahmed, 1988.
Anonymous, 1958. Tanaman
Handbook of Plants with Pest
insektisida. Laporan Tahunan,
Control Properties. John Wiley &
Balai Besar Penyelidikan
Sons. New York. 470 hal.
Pertanian; Fasco Djakarta : 117 -
120. Guenther, 1952. The Essential Oil. D.
Nostrad Co. Inc., New York. 339 -
Anonymous, 1989. Medicinal herb
433.
index in Indonesia. PT. EISAI
Indonesia.

58
Hadipoentyanti, E., 1994. Keragaman Jacobson, M., 1986. The neem tree:
genetik tanaman kemangi (Ocimum natural resistance par excellence,
spp.). Makalah Temu Kerja Plasma pp.220-232. in M.B. Green and
Nutfah. 30 Maret 1994. 14 hal. P.A. Hedin (Eds.), Natural
Resistance of Plants to Pests: Roles
Hadipoentyanti, E., 1996. Karakterisasi
of Allelochemicals. ACS,
dan dokumentasi plasma nutfah
Washington, D.C.
ketumbar dan selasih. Laporan
Teknis Balai Penelitian Tanaman Kardinan, A., 1999. Pestisida Nabati:
Rempah dan Obat. 1 - 14. Ramuan dan Aplikasi. PT. Penebar
Swadaya, Jakarta. 80 hal.
Hadipoentyanti, E., dan Supriadi,
2000. Potensi ocimum sebagai Kirtikar, K.R., and Basu, B.D., 1975.
sumber bahan baku obat. Buletin India Medicinal Plant Bishen Singh
Kehutanan dan Perkebunan. Vol. Mahendra Pal Singh, Perodical
1(1): 11 - 19. Experts Seconds Ed. Yayyes Press.
Vol. III : 1959 - 1968.
Hamid, A., 1961. Memorandum
pekerjaan pada seksi insektisida. Kochhar, S.L., 1981. Tropical Crops, a
Lap. Intern. 3 hal. (tidak texbook of economic botany. Mc.
dipublikasikan). Millan publishers Ltd. London 467
p
Hamid, A., 1999. Derris Lour. In de
Padua, L.S., N. Bunyapraphatsara, Martono, B., 2003. Pendugaan
and R.H.M.J. Lemmens (Editors). parameter genetik beberapa
Plant Resources of South-EastAsia karakter kuantitatif tanaman
No. 12 (1) Medicinal and bengkuang (Pachyrhizus erosus
Poisonous plants 1 : 234 - 242. (L.) Urban) pada tiga taraf fosfor
dan keragaman aktivitas ekstrak
Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna
biji terhadap ulat Crocidolomia
Indonesia (terj.) Vol. 2. Badan
pavonana (F.). Tesis. Program
Litbang Kehutanan.
Pascasarjana, Institut Pertanian
Ibadurrahman, 1993. Daya racun Bogor. 102 hal.
bubuk biji bengkuang (Pachyrhizus
Martono, B., dan R. Bakti, 2003.
erosus (L.) Urban) terhadap
Koleksi plasma nutfah di Balittro.
Callosobruchus maculatus (F.)
Tidak dipublikasikan.
(Coleoptera: Bruchidae). Skripsi.
Jurusan Hama dan Penyakit Mustikawati, D.R., dan Martono, 1993.
Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Uji efikasi biji bengkuang
Institut Pertanian Bogor. 37 hal. (Pachyrhizus erosus Urb.) terhadap
mortalitas Laphobaris serratipes
Marsh. Buletin Penelitian Tanaman
Industri 5 : 53 - 56.

59
Purseglove, J.W., 1987. Tropical Tasma, I. M., B. Martono, dan S.
Crops: Dicotyledons. Longman Lendri, 1996. Eksplorasi plasma
Singapore Publishers Ltd nutfah tanaman mimba. Prosiding
Singapore. 719 p. Seminar Hasil Penelitian Plasma
Nutfah Pertanian, Bogor, 13 Maret
Sastrodihardjo, S. dan T. Aditya, 1992.
1996.
Bioactive substances from neem
(Azadirachta indica Juss) with Tindal, H.D., 1983. Vegetables in The
pesticidal properties. Seminar on Tropics. Macmillan Education Ltd
Chemistry of Rainforest Plants and .: 272 - 274.
Their Utilization for Development, Wahyuni, S., N. Ajijah, dan S. Lendri,
Bukittinggi, 27-29 October 1992. 1996. Eksplorasi dan dokumentasi
Saxena, R.C., 1989. Insecticides from tanaman akar tuba (Derris
neem, pp. 110-135. In J.T. elliptica). Prosiding Seminar Hasil
Arnason, B.J.R. Philogene and P. Penelitian Plasma Nutfah
Morand (eds.), Insecticides of Plant Pertanian. Bogor, 13 Maret 1996 :
Origin. ACS, Washington, D.C. 186 - 189
Schmutterer, H., 1990. Properties and Warthen Jr., J.D., 1989. Neem
potential of natural pesticides from (Azadirachta indica A. Juss):
neem tree, Azadirachta indica. organisms affected and
Ann. Rev. Entomol. 35 : 271 - 295. referencelist update. Proc. Ent. Soc.
Wash. 9 : 367 - 388.
Sorensen, M., 1996. Yam Bean
Pachyrhizus DC. International Wikardi, E. A., I.M., Trisawa,
Plant Genetic Resources Institute, Anggraeni, dan Hernani, 1992.
Rome, Italy. Potensi berbagai jenis pestisida
alami (pestisida botanis). Laporan
Hasil Penelitian. Balittro. 19 hal.

60