Anda di halaman 1dari 10

A.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kebijakan daur bahan bakar nuklir haruslah juga dapat menjamin adanya
kelanjutan dari kemampuan yang telah ada untuk mencapai sasaran jangka
panjang yang telah digariskan pada rencana strategis Batan, disamping
memelihara kemampuan yang telah dikuasai. Pada rencana strategi Batan,
aktivitas daur bahan bakar nuklir tersebar pada bidang Iptek nulkir dalam
pengembangan Sumber Daya Alam dan Energi dan Bidang Iptek Nuklir
dalam pengembangan industri yang pada dasarnya adalah dikuasainya
teknologi pengembangan dan pemanfaatan daur bahan bakar nuklir mulai
dari sumber daya alam mineral radioaktif untuk mendukung keandalan
pasokan elemen bahan bakar, secara bertahap melakukan kegiatan industri
sebagian daur bahan bakar nuklir yang baik secara tekno-ekonomis serta
pengelolaan limbahnya bagi keselamatan lingkungan.
Sebua inti reaktor terdiri dari perangkat bahan bakar yang sering
disebut juga dengan elemen atau bundel dari inti reaktor. Perakitan bahan
bakar merupakan unit pengisian bahan bakar dasar yang diproduksi oleh
beberapa pabrik bahan bakar kemudian diangkut ke situs reaktor,
dimasukkan kedalam dan dihapus oleh inti atau disimpan kemudian diolah
dan dibuang ke repositori limbah. Reaktor itu terdiri dari batang bahan
bakar individu yang tersusun oleh matriks persegi (BWR/PWR), heksagonal
(VVER) ataupun persegi. Batang disimpan dalam posisi dengan pelat
jaringan di ujung perakitan bahan bakar dengan jaringan yang ada
diantaranya yang terdiri dari atom fisil (U, Pu, Th), yang sering digunakan
sebagai oksida.
Perangkat bahan bakar beserta komponennya dibuat dalam kondisi yang
sangatlah kuat yang terdapat didalam reactor: neutron yang tinggi dan fluks
gamnma, suhu tinggi dalam lingkunag korosif, tekanan tinggi dan beban
dari thermo-mecanical. Pembuatan dari desain reactor nuklir tersebut harus
memenuhi sejumlah persyaratan fungsional dan keamanan untuk melakukan
pengoperasian normal sehingga dapat menjamin kondisinya bertahan lama.
Setelah sekian lama pembangunan dan upaya untuk menyempurnakan
desain bahan bakar nuklir yang berbeda jenis reactor air-cooled serta
moderatornya. Optimasi yang dapat memberikan kontribusi untuk
mengurangi biaya pembangkit listrik sementara mengikuti keamanan yang
tinggi dan standar penggunaan.
Masalah keandalan khusus yang dapat menyebabkan kegagalan aalah
puing-puing yang terjebak di grid spacer seta pelet-pelet chipping. Msalah
penggunaan dilihat dari bagian structural yang panjang dengan siklus
operasi dan fluks gradient neutron. Efek tersebut dapat menghambat
penyisipan batang kendali an pengaruh kondisi elemen bakar. Akhirnya
fenomena yang terkait dengan korosi permukaan luar dari batang bahan
bakar berdampak pad keamanan dan kehandalan dianataranya adalah
hydrogen pick-up dan embrittlement, than panas dari lapisan korosi dan
oksida. Sehingga pada makalah ini cenderung akan membahas tentang
fabrikasi dan pengembangan bahan bakar reactor nuklir.

2. Batasan Masalah
Pada makalah ini, akan dibahas penjelasan mengenai prinsip kerja dan
fitur dari reactor nuklir, proses fisika dalam reactor untuk keefektifan bahan
bakar nuklir dan interaksi neutron dengan material non fisil serta
mekanisme pengontrolan reactor.

3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu mengetahuiprinsip
kerja dari reactor nuklir dan mengetahui keefektifan menggunakan bahan
bakar nuklir serta mekanisme pengontrolan reactor nuklir.

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Fitur Reaktor Nuklir
Pada bagian ini, karakteristik umum BWR dan PWR dalam perangkat
bahan bakar beserta dengan fitur khusus untuk masing-masing jenis bahan
bakar yang dihasilkan oleh perusahaan. Desain bahan bakar CANDU
sangat jauh berbeda dari bahan bakar LWR. Dalam CANDU terminology
reactor, bundle digunakan sebagi pengganti perakitan beseta dengan
elemen bakar dan batang bahan bakar. Bundel bahan bakar CANDU
memiliki beberapa komponen yang berbeda terdiri dari 37 atau 43 elemen
(Batang) dari panjang 48 cm yang dikerjakan secara bersamaan oleh
bundle dan piringan dalam susunan melingkar (tiga cincin ditambah
batang pusat). Setiap elemen terdiri dari pellet uranium dioksida
terbungkus dalam tabung Zircaloy berdinding tipis. Bahan bakar CANDU
dirancang untuk melakukan pengisian bahan bakar (Crossland, I. 2012).
VVER (Vodo-Vodyanoi Energetichsky Reaktor) merupakan jenis
reactor air bertekanan dari Rusia. Perakitan bahan bakar banyak berbeda
dalam banyak hal dibandingkan dengan desain PWR perakitan Barat.
Bentuk luar terlihat berbentuk perakitan heksagonal dan sesuai segitiga
matriks batang bahan bakar filling ruang dalam bentuk heksagonal di
jenis VVER-440. Batang bahan bakar yang lebih kecil dari diameter PWR
dan pellet memiliki lubang pusat. Sebaliknya PWR, perakitan bahan
bakarVVER tidak termasuk ruang (tabung) untuk penyisipan btang
kendali. Perakitan BWR memiliki pegangan yang melekat pada bagian
atas piring untuk mengangkat perakitan kedalam dan keluar dari inti
reactor. Batang bahan bakar di semua jenis air moderator pada reactor
(CANDU, VVER, BWR,PWR) terdiri dari silinder, tabung paduan
zirconium (cladding) dengan pellet bahan bakar silinder, dan dua busi
akhir dilas ke cladding.
Batang yang diisi dengan helium untuk melakukan transfer panas
yang baik melalui pellet dan cladding. Diabawah ini merupakan desain
ilustrasi model BWR reaktor bahan bakar nuklir. Beberapa reaksi pada
reaktor termonuklir (nuklir fusi).
2 2 3 1
1H + 1H 1H + 1 H

Q = (massa awal massa akhir) 931,5 MeV


Q = (2 2,014102u 3,016049u 1,007825) 931,5 MeV/u
Q = 4,0334 MeV
2 2 3 1
1H + 1H 2 He + 0 n

Q = (massa awal massa akhir) 931,5 MeV


Q = (2 2,014102u 3,016029u 1,00866501u) 931,5

MeV/u
Q = 3,2696MeV

Bagian luar memilii diameter terbesar untuk elemen CANDU (Sekitar 13


mm) dan terkecil untuk reactor VVER (9.1 mm), sedangkan BWR dan
PWR berada pada diameter 9.1 mm-13 mm. diameter batang dari dua
jenis reactor selama ini desain perakitan menurun hingga desain
berevolusi dari 7x7 hingga saat ini menjadi 10x10 kisi untuk BWR dan
dari 14x14 sampai 17x17 untuk PWR (Andersson T. 2004).

2. Proses Fisika Dalam Reaktor Nuklir


Pada perakitan distribusi daya, prediksi dan optimalisasi distribusi
daya dalah masukan yang penting untuk mengevaluasi dari keselmatan
termo-hidrolik. Dari sudut pandang fisika nuklir, jenis reactor PWR lebih
mudah dibandingkan denagan model BWR. Analisis yang terakhir harus
bergantung pada penggunaan batang kendali selama penipisan inti
memproduksi neutron aksial fluks dan variasi dengan pembentukan void
(steam) yang ada pada saluran perakitan. Pada gambar dibawah
menunjukkan distribusi keseluruhan dalam skala 10x10 array dari batang
bahan bakar dalam jenis reactor BWR. Pada gambar dibawah, batang air
reactor pusat dihilangkan. Kontrol blade lintas diasumsikan ditarik, dan
distribusi tenaga listrik adalah titik simetris ke pusat perakitan. Kekuatan
batang diperoleh dengan kode kisi Helios yang menglami kenaikan
disudut-sudut 139% dan penurunan menuju pusat diamana berada pada
80%. Alasan untuk perilaku ini adalah distribusi homogeny dari
moderator dan bahan bakar (Brunzell P. 2006 ).

Sangat penting untuk berbagai fenomena yang dihitung dengan


kode neutron fisika yaitu interaksi jatuh kedalam dua kategori yaitu
penyerapan dan hamburan, masing-masing dengan efek yang terkait
dengan metodenya. Penyerapan neutron dari bahan non fisil sebagian
besar tidak dilakukan karena dapat menghilangkan neutron dari rantai
perkalian dan harus dikompensasi oleh bahan fisil. Tujuan dari peredam
neutron dalam bahan bakar adalah untuk menghilangkan reaktivitas yang
berlebihan pada inti siklus operasi yang dimulai ketika inti sudah berisi
beberapa bahan bakar baru, dan untuk mengoptimalkan perakitan
distribusi daya. Peredam neutron juga mmperlihatkan kelemahan seperti
konduktivitas termal yang rendah dari bantalan gadolinium bahan bakar
dan peningkatan tekanan gas dalam batang dari helium yang diproduksi
di lapisan IFBA. Evolusi dari distribusi daya radial dalam bahan bakar
berfungsi untuk memberi pengaruh pada neutron dan spectrum.

Gambar diatas memperlihatkan distribusi daya radial untuk berbagai


jenis bahan bakar dengan gadolinium. Setelah beberapa waktu, isotope
menyerap dan dikonversi ke yang kurang menyerap dan tetap dalam
matriks bahan bakar kimia sebagai gadolinium dengan pengaruh pada
sifat bahan bakar (Boczar et all, 2003 ).

Komponen batang bahan bakar dominan terbuat dari paduan


zirconium. Zirconium merupakan logam ulet dengan sifat mekanik yang
mirip dengan dengan titanium dan stainless steel austenitic. Paduan
tersebut merupakan penyerapan neutron yang sangat rendah denagan
ketahanan korosi yang baik dalam kondisi reactor daya. Stainless steel
merupakan tabung cladding pada awal era nuklir, tetapi ditinggalkan
karena masalah korosi, retak dan penyerapan neutron yang tinggi
dibandingkan dengan zirconium. Zirconium dihasilkan dari biji pasir
(Zircon, ZrSiO2) dengan dua cara utama, yaitu dengan pengurangan
kimia dari oksida (spons zirconium) dan dengan elektrolisis halide
zirconium dalam lelehan garam.

Meskipun kedua metode menghasilkan zirconium bukan murni,


produk masing-masing berbeda dalam konten pengotorannya. Ini
disebabkan bahwa hal ini dapat menyebabkan perbedaan dalam perilaku
padauan yang dihasilkan. Berikut merupakan tabel hasil pengotoran di
zirconium nuklir:

Komposisi dari zirconium yaitu Zr / 1,5% Sn / 0,15% Fe / 0,1% Cr /


0,05% Ni untuk Zry-2 dan Zr / 1,5% Sn / 0,2% Fe / 0,1% Cr untuk Zry-4.
Kemudian, meningkatnya tuntutan bahan bakar karena perpanjangan
burn-up dan di-core yang menyebabkan perkembangan dari paduan
terutama yang digunakan dalam reactor jenis PWR (Boczar et all, 2003 ).

3. Mekanisme Perakitan dan Pengontrolan Reaktor Bahan Bakar


Fabriaksi atau pembuata pellet untuk reactor air ringan yang dimulai
dengan uranium hexafluoride (UF6) dengan konsentrasi yang diperlukan
U-235 di pabrik pengayaan. Uranium Hexafluoride diterima dalam bentuk
padatan yang disimpan dalam wadah kemudian dipanaskan sehingga
membentuk gas kimia yang dikonversi ke uranium dioksida (UO2)yang
berupa bubuk. Poses pengeringan adalah teknik konversi yang lebih
ramah lingkungan bila dibandingkan dengan ADU (ammonium diuranate)
dan AUC (amonium-uranyl karbonat) sehingga jika terkontaminasi
dengan ADU basah dan Proses AUC dapat dihilangkan sehingga dapat
menjadi limbah uranium.
Cara doping secara mekanis dicampurkan dengan bubuk mellui pra-
campuran yang dapat menjamin homogenitas yang baik. Pra-campuran
adalah campuran dari sekitar 5% dari UO2 bubuk yang banyak dengan
agen doping. UO2 bubuk yng dikondisikan dengan menambahkan pori
untuk mendapatkan distribusi pori yang diinginkan dalam pellet sinter.
Campuran oksida atau bahan bakar MOX seperti yang digunakan dalam
reactor air ringan dengan mencampurkan uranium dan plutonium oksida.
Thorium dapat menjadi konstituen dari bahan bakar campuran. Langkah-
langkah fabrikasi pellet yang mirip dengan bahn bakar UO2. Pelepasan
produk Fisi dari pellet untuk volume bebas batang memiliki dua prinsip
yang membatasi, salah satunya adalah efek dari produk yodium fisi , yang
memainkan peran dalam mengatasi korosi dan retak yang tersedia dalam
batang bahan bakar (ASTM. 2009).
Liner atau penghalang bahan bakar adalah sesuatu yang dilakukan
untuk mengurangi masalah dalam reactor jenis BWR dan CANDU serta
pembatasan perubahan yang diterapkan Reaktor jenis PWR. Keterbatasan
lainnya berasal dari pelepasan krypton dan xenon.gas-gas mulia
dihasilkan sekitar 28 cm kubik per MWD dari fission U-235 dalam
spectrum neutron termal. JIkasuhu bahan bakar tinggimaka akan berdifusi
keluar dari matriks bahan bakar untuk volume bebas batang dan
menyebabkan peningkatan tekanan. Bahan bakar Pu-MOX, pelepasan
helium berkontribusi ketika tekanan batang melebihi tekanan system luar.
Pelepasan gas hasil fisi dan tekanan batang build-up adalah faktor yang
mempengaruhi dalam reactor dan memiliki jalur difusi rata-rata hingga
batas butir (Nuclear Engineering International, 2010)
C. PENUTUP
Perangkat bahan bakar dan komponen reactor bahan bakar nuklir harus
dibuat dalam kondisi yang snagat kuat yang berada pada reactor nuklir.
Reaktor nuklir dirancang dan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan
fingsional dan keamanan ketat untuk pengoperasian normal dan transien.
Dengan penekanan pada suhu bertekanan tinggi, reactor ini memiliki prinsip
umum dalam berbagai hal pengoperasiannya, dan juga merancang komponen
utama dari perakitan bahan bakar nuklir serta desain yang terkait dengan
fungsi dibuatnya reactor nuklir dengan memperhatikan keamanan dari reactor
fisika.
Sebua inti reaktor terdiri dari perangkat bahan bakar yang sering disebut
juga dengan elemen atau bundel dari inti reaktor. Perakitan bahan bakar
merupakan unit pengisian bahan bakar dasar yang diproduksi oleh beberapa
pabrik bahan bakar kemudian diangkut ke situs reaktor, dimasukkan kedalam
dan dihapus oleh inti atau disimpan kemudian diolah dan dibuang ke
repositori limbah. Reaktor itu terdiri dari batang bahan bakar individu yang
tersusun oleh matriks persegi (BWR/PWR), heksagonal (VVER) ataupun
persegi. Batang disimpan dalam posisi dengan pelat jaringan di ujung
perakitan bahan bakar dengan jaringan yang ada diantaranya yang terdiri dari
atom fisil (U, Pu, Th), yang sering digunakan sebagai oksida. Dari uraian
diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pembuatan reactor bahan bakar nuklir
harus memenuhi standar ataupun prosedur standar yang disarankan.

D. DAFTAR PUSTAKA
Andersson T , et all, ( 2004 ), A Decade of Assembly Bow Management at
Ringhals , ANS Topical Meeting on Light Water Reactor Fuel
Performance, Orlando, Florida, 2004 .
ASTM B349 / B349M ( 2009 ), Standard Speci cation for Zirconium
Sponge and Other Forms of Virgin Metal for Nuclear Application , DOI:
10.1520/B0349_B0349M-09,www.astm.org .
Boczar et all, ( 2003 ), CANDU Advanced Fuels and Fuel Cycles , Paci c
Basin Nuclear Conference 2002, Shenzhen, China.
Brunzell P( 2006 ), Technical Issues , IAEA conference New Framework for
the Utilization of Nuclear Energy in the 21st Century: Assurances of
Supply and Non-Proliferation, September 2006 . (Available from
http://www-pub.iaea.org/mtcd/meetings/ PDF plus / 2006 / cn147
brunzell.pdf.
Crossland, I. 2012. Nuclear Fuel Cycle Science and Engineering. Woodhead
Publishing Limited.
Nuclear Engineering International ( 2010 ), Fuel design data , September
2010 .