Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Partus Prematurus Imminens (PPI) merupakan adanya suatu ancaman untuk


terjadinya persalinan prematur (preterm) atau persalinan pada usia kehamilan kurang
dari 37 minggu. Angka kejadian persalinan prematur pada umumnya adalah sekitar 6
10%. Menurut data dari World Health Organization (WHO), setiap tahunnya
terdapat kurang lebih 15 juta bayi lahir secara prematur dan angka ini terus meningkat
dari tahun ke tahun. Kesulitan utama dalam persalinan prematur adalah perawatan
pada bayi prematur, dimana semakin muda usia kehamilannya maka semakin besar
morbiditas dan mortalitasnya. Usia kehamilan dan berat bayi lahir berkaitan erat
dengan risiko kematian perinatal. Pada usia kehamilan 32 minggu dengan berat bayi
>1500 gram angka keberhasilan sebesar 85%, sedangkan pada usia kehamilan yang
sama dengan berat janin <1500 gram angka keberhasilan sebesar 80%. Pada usia
kehamilan <32 minggu dengan berat bayi <1500 gram angka keberhasilannya hanya
59%.1

Di Indonesia angka kejadian kelahiran bayi prematur berkisar sebesar 11,1%


pada tahun 2010 dan sebesar 10,2% pada tahun 2013. Sebanyak sepertiga dari seluruh
kelahiran preterm disebabkan oleh indikasi medis obstetrik di mana pada kondisi-
kondisi tertentu ini dianggap bahwa kehamilan tidak dapat dilanjutkan lagi dan harus
segera diselesaikan dini. Kondisi tersebut antara lain adalah kelainan medik dan
obstetrik seperti hipertensi, plasenta previa, dan solusio plasenta. Dua pertiga dari
sisanya tidak dapat dijelaskan secara rinci penyebabnya, namun beberapa teori
menyatakan adanya keterkaitan antara persalinan kurang bulan dengan kejadian
infeksi, iskemia, inflamasi dan respon imun pada jaringan khorioamnion dan
desidua.2

Persalinan prematur umumnya didiagnosis melalui gejala klinis, pemeriksaan


fisik dan pemeriksaan penunjang berupa ultrasonografi (USG). Pecahnya selaput
ketuban yang terjadi pada usia kehamilan dibawah 37 minggu dengan disertai tanda-

1
tanda persalinan, yaitu adanya kontraksi uterus dan terjadi pembukaan serta penipisan
pada serviks, merupakan tanda awal terhadap terjadinya persalinan prematur.1,2
Sedangkan pecahnya ketuban pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu tanpa
diikuti tanda-tanda persalinan disebut dengan preterm prematur rupture of
membranes (PPROM) atau Ketuban Pecah Dini Prematur (KPDP).1

Permasalahan yang mungkin teriadi pada PPI, dimana dapat berujung


kelahiran bayi prematur, meliputi penyakit atau kelainan pada jangka pendek dan
jangka panjang, hingga kematian perinatal. Kelainan jangka pendek yang sering
terjadi yaitu Respiratory Distress Syndrome (RDS), defisiensi imunitas, gagal
tumbuh, dan patent ductus arteriosus, sedangkan kelainan jangka panjang dapat
berupa kelainan neurologik seperti serebral palsi, retinopati, retardasi mental, juga
dapat terjadi disfungsi neurobehavioral serta penyakit yang menyerang pernafasan.3

Diagnosis dan penatalaksanaan persalinan preterm yang baik dapat


menurunkan ancaman persalinan preterm dan menurunkan morbiditas janin.
Penatalaksanaan berdasarkan diagnosa dan temuan klinis yang ditemukan. Bila tanpa
adanya penyulit dan komplikasi, maka kehamilan akan dipertahankan hingga cukup
bulan. Sedangkan bila terdapat penyulit maka terminasi kehamilan dini menjadi
pilihan.4,5

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Partus Prematurus Imminens (PPI)

Definisi dari persalinan prematur adalah timbulnya kontraksi reguler uterus


yang cukup untuk mengakibatkan dilatasi dan penipisan serviks yang terjadi pada
usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan atau dengan perkiraan berat badan janin
kurang dari 2500 gram.6 Pada usia ini, janin dapat hidup tetapi belum cukup bulan
dan matang seutuhnya. Menurut World Health Organization (WHO), definisi
persalinan preterm atau prematur adalah setiap persalinan dengan usia kehamilan 37
minggu atau kurang dihitung dari hari pertama haid terakhir. Berdasarkan hal
tersebut, definisi dari partus prematurus iminens (PPI) itu sendiri berarti adanya suatu
ancaman terjadinya persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.2,4

2.2 Etiopatogenesis

Penyebab terjadinya PPI maupun persalinan preterm itu sendiri belum


diketahui secara pasti dan biasanya bersifat multifaktorial. Empat faktor risiko utama
persalinan preterm, yakni overdistensi uterus, stres maternal-fetal, perubahan
prematur serviks, dan infeksi.2

Ovedistensi uterus
Overdistensi dapat diakibatkan oleh kehamilan kembar atau gemelli,
polihidramnion, dan janin besar (makrosomia). Overdistensi uterus mengaktifkan
contraction-activation protein (CAP) pada miometrium. Protein ini teraktivasi akibat
peregangan pada uterus, dimana semakin besar regangan uterus maka semakin
banyak protein tersebut dihasilkan. Protein tersebut dapat memengaruhi aktivitas
reseptor oksitosin dan peningkatan produksi prostaglandin. Overdistensi uterus juga
mengakibatkan aktivasi kaskade endokrin plasenta-fetal, dimana terjadi peningkatan

3
produksi corticotropine-releasing hormone (CRH) dan peningkatan level estrogen
yang dapat meningkatkan ekspresi gen pembentuk CAP pada miometrium. Selain
peningkatan kontraktilitas, overdistensi uterus juga dapat memicu pematangan serviks
yang lebih awal.2

Stres maternal-fetal
Stres yang dimaksud yaitu suatu kondisi atau kejadian yang tidak diharapkan
yang mengganggu fungsi normal individu, baik itu stres fisik maupun psikologis.
Trimester akhir ditandai dengan peningkatan level serum dari CRH. Hormon ini
bekerja sama dengan adrenocorticotrophine hormone (ACTH) untuk meningkatkan
produksi hormon steroid maternal dan fetal, termasuk sintesis kortisol. Peningkatan
level hormon kortisol atau sering disebut hormone stres ini mengakibatkan aktivasi
kaskade endokrin plasenta-fetal yang tidak berakhir hingga proses persalinan.
Peningkatan level CRH juga menstimulasi sintesis adrenal dehydroepiandrosterone
sulfate (DHEA-S) yang memiliki peran meningkatkan kadar estrogen maternal,
terutamanya estriol. Hipotesis menyatakan bahwa peningkatan kadar kortisol dan
estrogen selama masa kehamilan dapat mengakibatkan hilangnya ketenangan uterus
sejak dini.2

Infeksi
Infeksi juga dapat memicu persalinan dikarenakan adanya proses inflamasi
oleh tubuh ibu yang dirangsang oleh pelepasan sel poli morfonuklear (PMN) netrofil
dan makrofag ke tempat infeksi, dan kemudian akan merangsang produksi sitokin,
matrix metaloproteinase (MMP), dan prostaglandin. Sitokin juga terlibat dalam
induksi enzim siklooksigenase II yang berfungsi mengubah asam arakidonat menjadi
prostaglandin. Selain respon inflamasi dari tubuh ibu, janin juga berperan dalam
pengaktivasian sitokin melalui produksi faktor pengaktif trombosit di paru dan ginjal
janin. Faktor ini terlibat secara sinergis dalam terjadinya aktivasi sitokin yang juga
akan menginisiasi persalinan yang disebabkan oleh infeksi bakterial. Jadi, di satu sisi
sebenarnya pelepasan faktor ini menguntungkan janin karena dapat melepaskan diri
dari lingkungannya yang terinfeksi, tetapi janin dapat terlahir secara prematur.5

4
Perbedaan yang terlihat adalah kadar protease yang meningkat terutama pada
persalinan preterm daripada persalinan aterm (cukup bulan). Adapun enzim protease
ini berperan dalam degradasi matriks ekstraseluler pada selaput ketuban dengan
menghasilkan suatu enzim MMP-9 yang dapat menyebabkan ketuban pecah dini.
Beberapa flora juga dapat menghasilkan protease seperti Streptokokus grup B,
Stafilokokus aureus, dan Trikomonas vaginalis yang akan menyebabkan degradasi
membran dan melemahkan selaput ketuban. Sitokin dari respon inflamasi juga
berperan dalam produksi prostaglandin E2 oleh sel korion yang dapat mengganggu
sintesis kolagen pada selaput ketuban dan meningkatkan aktifitas enzim
metaloproteinase dan selanjutnya akan memicu pecah ketuban yang akan diikuti
dengan persalinan.2,3

Ibu hamil dengan infeksi, terutama yang menginfeksi cairan amnion memiliki
risiko lebih besar untuk mengalami korioamnionitis dan ketuban pecah dini (KPD).
Sumber infeksi dapat berasal dari 1) infeksi sistemik ibu melalui transfer
transplasenta; 2) infeksi retrograde dari kavum peritoneum melalui tuba falopii; 3)
infeksi asending bakteri dari vagina atau serviks. Infeksi asending merupakan yang
tersering mengingat bagian terbawah janin berhubungan langsung dengan pembukaan
kanal serviks dan vagina. Mikroorganisme yang menginfeksi secara ascending
membentuk koloni pada serviks, desidua, dan membran amnion. Lipopolisakarida
(LPS) dan toksin yang diproduksi oleh bakteri merangsang respon sel-imun pada
saluran reproduksi dan peningkatan produksi sitokin. Sitokin dan LPS dapat
memprovokasi pelepasan prostaglandin dari membrane, desidua, dan serviks. Hal ini
dapat mengganggu ketenangan miometrium dan mempercepat pematangan serviks.
Terdapat 4 kategori infeksi intrauterin yang digolongkan oleh Goncalves, dkk, yakni :
2

Stadium I : vaginosis bakterial

Stadium II : infeksi desidua

Stadium III : infeksi amnion

5
Stadium IV : infeksi sistemik fetal

Faktor-faktor lainnya

Faktor gaya hidup yang dapat mempengaruhi kejadian persalinan preterm


antara lain perilaku merokok, gizi buruk, penambahan berat badan yang kurang baik
selama kehamilan, narkoba, alkohol dilaporkan memiliki peranan penting pada
kejadian dan berat badan lahir rendah dan persalinan preterm. Penelitian menyatakan
adanya hubung antara berat badan dengan persalinan preterm, terutama pada saat ibu
memiliki riwayat obesitas. Konsumsi alkohol juga diduga memiliki suatu kaitan
dengan persalinan preterm disertai dengan peningkatan resiko cedera otak pada bayi
yang prematur. Kebiasaan konsumsi tembakau bertanggung jawab atas 32.000 sampai
61.000 bayi dengan berat badan lahir rendah setiap tahunnya di Amerika Serikat.
Faktor ibu lain yang diduga berkaitan dengan persalinan preterm adalah usia ibu
terlalu muda, kemiskinan, pekerjaan berat, dan stres psikologis dikatakan dapat
menjadi penyebab persalinan preterm.2,3,5,7

Pada ibu yang memiliki riwayat persalinan preterm sebelumnya, risiko untuk
mengalami persalinan preterm kembali adalah tiga kali lipat dibandingkan dengan ibu
hamil tanpa riwayat persalinan preterm.2

Riwayat penyakit ibu yang berhubungan dengan kehamilan seperti hipertensi


dan diabetes dapat meningkatkan insiden persalinan preterm. Hal ini disebabkan oleh
karena sirkulasi antara ibu dan janin kurang baik apabila dibandingkan dengan ibu
yang tidak memiliki riwayat penyakit tersebut. Pada sebagianbesar ibu dengan
riwayat penyakit di atas, dilakukan terminasi kehamilan lebih awal dikarenakan
faktor janin. Infeksi jalan lahir, demam, dan infeksi penyakit tertentu lainnya juga
dapat mempengaruhi timbulnya persalinan preterm.3,7

Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh karena solusio plasenta atau


plasenta previa dapat menyebabkan persalinan preterm. Hal ini dikarenakan
pelepasan plasenta dari implantasinya serta perdarahan yang banyak oleh karena

6
plasenta previa dapat menimbulkan keadaan hipoksia janin karena ketidakadekuatan
sirkulasi uteroplasenta. Solusio plasenta dapat merangsang persalinan sehingga bila
umur kehamilan belum cukup dapat menjadi persalinan preterm, meskipun sebanyak
63% dari seluruh kasus terjadi pada usia kehamilan yang aterm. Ibu yang memiliki
riwayat solusio plasenta memiliki kemungkinan kembali terjadinya solusio plasenta
yang lebih besar, yaitu 11%. Plasenta previa sering berhubungan dengan persalinan
preterm disebabkan oleh karena keharusan melakukan tindakan akibat perdarahan
yang banyak. Hal ini dikarenakan kemungkinan janin hipoksia menjadi besar akibat
perdarahan yang banyak sehingga bila terdapat tanda-tanda kesejahteraan janin perlu
dilakukan tindakan terminasi kehamilan lebih cepat.6

2.3 Diagnosis

Diagnosis dari persalinan preterm ditegakkan berdasarkan dari anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Hal terpenting yang perlu
diperhatikan dan dipastikan adalah bahwa apakah usia kehamilan sudah cukup bulan
atau belum. Usia kehamilan ini dapat diperhitungkan dengan lebih akurat apabila
kriteria good dating terpenuhi, seperti ibu hamil mengetahui hari pertama haid
terakhir (HPHT) dengan pasti sebanyak 3 siklus haid terakhir, dilakukan pemeriksaan
penunjang ultrasonografi (USG) dengan pengukuran biparietal diameter, femur
length, dan abdominal circumference, setelah usia janin memasuki 12 minggu denyut
jantung janin dapat di monitoring dengan Doppler ultrasound, 18 20 minggu
dengan fetoskop).2,3

Kriteria diagnosis yang dipakai di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah,
yakni :
- Usia kehamilan < 37 minggu,
- His 2 kali dalam 10 menit,
- Dilatasi serviks sedikitnya 2 cm atau kemajuan yang pembukaan serviks yang
bermakna dalam waktu 2 jam oleh pemeriksa yang sama,
- Penipisan serviks 50%,
- Keluar lender pervaginam atau mungkin bercampur darah (bloody show)
- Persentasi janin rendah sampai spina iskiadika.

7
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain pemeriksaan USG untuk
menentukan pasti umur kehamilan yang berguna untuk diagnosis dan
penatalaksanaan selanjutnya. Pemeriksaan lain seperti sonografi transvaginal untuk
mengukur panjang serviks yang berguna untuk memprediksi persalinan preterm
sebelum usia 30 minggu dikarenakan sensitivitas dan nilai prediksi negatifnya yang
bagus. Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
hematologi rutin dan laju endap darah untuk menilai kemungkinan tanda-tanda
infeksi sehingga dapat membantu untuk mempertimbangkan penatalaksanaan
selanjutnya.3,7
2.4 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan PPI menurut panduan praktik klinis RSUD Wangaya adalah


sebagai berikut:8
1. Segera lakukan penilaian tentang : usia gestasi, demam ada/tidak, kondisi janin,
letak plasenta (untuk menilai perlukah SC), serta kesiapan untuk menangani
bayi premature.
2. Cari kemungkinan penyebab persalinan preterm (kemungkinan sistitis,
pyelonefritis, bakterimia asimptomatik, serviks inkompeten, dll.)
3. Pemberian tokolitik :
- Kalsium antagonis : Nefedipine 20mg/oral diulang 2-3 kali/jam dilanjutkan
tiap 8 jam sampai kontraksi hilang.
- Obat B-mimetik : Terbutalin, ritrodin, isoksuprin, dan salbutamol.
- MgSO4 (20gr MgSO4 20% dalam 500ml D5% mulai 13 tpm di naikan
setiap 10 menit 6 tpm sampai dengan max 25 tpm. Di pertahankan 12 jam
kemudian di turunkan 3 tpm setiap 30 menit sampai dengan 13 tpm. Di
pertahankan 24 jam.)
4. Pematangan paru janin dengan kortikosteroid:
- Betametason 2x12mg/IM/ 24 jam
- Deksametason 4x6mg/IM/ 12 jam
5. Bila perlu diberikan antibiotik:

8
- Eritromisin 3 x 500mg selama 3 hari
- Ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari
6. Tentukan penanganan selanjutnya (ada 3) :
- Pertahankan janin hingga kelahiran aterm
- Tunda persalinan 2-3 hari untuk memberikan obat pematangan paru janin
- Biarkan terjadi persalinan bila gagal diterapi konservatif

2.5 Komplikasi
Morbiditas dan mortalitas timbul karena adanya komplikasi lanjutan setelah
persalinan yang memburuk, kecilnya berat badan janin, atau semakin rendahnya umur
kehamilan. Bayi yang lahir mendekati aterm mungkin hanya mengalami sedikit atau
bahkan tidak mengalami komplikasi, sedangkan bayi yang lahir sebelum usia
kehamilan 32-34 minggu mungkin memiliki beberapa komplikasi. Pada beberapa
kasus, komplikasi dapat ringan atau berat dan menyebabkan masalah kesehatan
jangka panjang atau bahkan kematian. Komplikasi tersebut dapat berupa depresi
pernapasan, perdarahan intakranial neonatal, displasia bronkopulmoner, infeksi,
enterokolitis nekrosis, patent ductus arteriosus (PDA), dan retinopati akibat belum
sempurnanya pembentukan organ tubuh janin. Sebanyak 10% dari seluruh kelahiran
preterm akan mengalami komplikasi dan masalah yang berakibat jangka panjang. 2,3,5

2.6 Upaya Pencegahan


- Pencegahan primordial
Pencegahan primordial adalah strategi pencegahan penyakit dengan menciptakan
lingkungan yang dapat mengeliminasi factor risiko, sehingga tidak diperlukan
intervensi preventif lainnya. Dalam hal ini upaya untuk mencegah wanita yang
belum hamil untuk tidak melahirkan prematur adalah dengan mempersiapkan
kondisi tubuh baik dari status gizi, kadar hemoglobin (Hb), tekanan darah, dan
melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi.6,7
- Pencegahan primer

9
Pencegahan primer adalah upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Dalam hal ini upaya
untuk mencegah ibu hamil agar tidak melahirkan prematur, yaitu mendapatkan
perawatan sejak awal kehamilan; mengetahui risiko diri sendiri seperti merokok,
hipertensi, usia saat heamil, dan komplikasi kehamilan sebelumnya; melakukan
pemeriksaan untuk infeksi saluran kencing (ISK); memperhatkan berat badan;
memiliki pola makan yang baik; tetap menjaga kebugaran tubuh; serta mencegah
stres dan depresi.6,7
- Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder yaitu pada tahap gejala klinis belum tampak nyata tetapi
proses secara patologis sudah berjalan. Upaya pada tahap ini dapat menghambat
atau menghentikan proses patologis agar tidak berkembang. Upaya yang dapat
dilakukan, seperti pembatasan aktivitas kerja (bekerja, perjalanan, koitus) pada
ibu hamil dengan riwayat persalinan prematur dan mengurangi pekerjaan yang
menimbulkan stres; ibu dengan kehamilan kembar harus lebih banyak
beristirahat sejak minggu ke-28; melakukan pemeriksaan USG yang diusahakan
secara teratur; melakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis).6,7
- Pencegahan tersier
Pancegahan tersier yaitu upaya pencegahan persalinan prematur pada saat gejala
klinis sudah nyata didapatkan. Tahap ini ditujukan untuk memperpanjang masa
kehamilan dengan maksud memberikan kesempatan untuk memperbaiki kualitas
janin dan mempersiapkan persalinan yang memadai. Beberapa intervensi yang
dapat dilakukan, yakni pengiriman ibu hamil dengan ancaman persalinan
prematur ke rumah sakit yang memiliki fasilitas perawatan bayi prematur,
pemberian terapi tokolitik, kortikoteroid antenatal, dan antibiotik.6,7

BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

10
Nama : JI

No MR : 625204

Usia : 19 tahun

Agama : Kristen

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Sopir

Alamat : Jl. Buana Raya No. 5, Denpasar

MRS : 4 Maret 2017

3.2 Anamnesis

3.2.1 Keluhan Utama

Nyeri perut hilang timbul.

3.2.2 Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang dalam keadaan sadar dengan diantar oleh teman laki-lakinya ke IRD
kebidanan RSUD Wangaya pada tanggal 4 Maret 2017 pukul19.00 wita dengan
keluhan utama nyeri perut bagian bawah yang hilang timbul sejam 10 jam SMRS.
Nyeri terasa seperti tertusuk dan tidak hilang dengan istirahat. Pasien mengaku
nyerinya timbul stelah dikerok oleh dukun. Riwayat keluar air pervaginam disangkal.

Keluhan nyeri perut awalnya dirasakan saat pasien sedang sarapan. Keluhan
dikatakan nyeri keram seperti haiddan tidak berkurang dengan istirahat sehingga
pasien akhirnya pergi ke bidan di dekat rumah pasien. Oleh bidan tersebut pasien
dirujuk untuk pergi ke rumah sakit, namun pasien menolak dan pulang kerumahnya.
Setelah tiba dirumah, paisen memanggil dukun untuk memijat perut pasien. Selain
dipijat dukun tersebut juga mengerok perut pasien dengan menggunakan uang logam.
Namun keluhan nyeri perut yang dirasakan justru semakin bertambah berat dan

11
menjalar ke bagian punggung hingga akhirnya pasien memutuskan untuk pergi ke
RSUD Wangaya. Saat tiba di IGD kebidanan RSUD Wangaya gerakan janin masih
dirasakan aktif oleh pasien. Keluhan keluar cairan pervaginam maupun lendir
bercampur darah dari kemaluan disangkal pasien.

3.2.3 Riwayat Penyakit Terdahulu


Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama. Riwayat hipertensi,
diabetes mellitus, asma, dan penyakit jantung disangkal pasien. Pasien tidak memiliki
riwayat alergi obat ataupun makanan.
3.2.4 Riwayat Menstruasi
Pasien mendapatkan haid pertama (menarche) pada usia 13 tahun dengan siklus
teratur setiap 28 sampai 30 hari. Durasi haid dalam 1 periode adalah 3 sampai 5 hari
dengan frekuensi mengganti pembalut 3 kali/hari (60 ml). Keluhan pada saat haid
disangkal oleh pasien. Hari pertama haid terakhir (HPHT) dikatakan lupa.

3.2.5 Riwayat Obstetri


Hamil ini merupakan kehamilan pertama bagi pasien.

3.2.6 Riwayat Kontrasepsi


Pasientidak pernah menggunakan kontrasepsi sebelumnya.

3.2.7 Riwayat Ante Natal Care


Selama kehamilan pasien belum pernah mengontrol kehamilan baik di bidan
maunpun ke dokter. Pasien mengetahui telah hamil dari tes kehamilan yang dibeli di
apotek.

3.2.8 Riwayat Pernikahan


Pasien belum pernah menikah sebelumnya. Pasien telah aktif berhubungan seksual
dengan pacarnya sejak kurang lebih satu tahun yang lalu.

12
3.2.9 Riwayat Sosial dan Keluarga
Pasien mulai merokok sejak duduk di bangku SMA ( 3 tahun) dan mengkonsumsi 2-
3 batang perhari. Namun semenjak diketahui hamil pasien mengatakan sudah berhenti
merokok. Riwayat mengkonsumsi alkohol disangkal.

3.3 Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis (E4V5M6)

Tekanan Darah : 110/60 mmHg

Nadi : 84x/menit

Respirasi : 18x/menit

Temp. Axilla : 36,7C

Tinggi Badan : 158 cm

Berat Badan : 50 kg

IMT : 20.03kg/m2

3.3.2 Status General

Kepala : Normocephali

Mata : Anemis (-/-), Ikterus (-/-)

Thorax : Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)

Pulmo : Vesikular (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

Abdomen : ~ status obstetri

Ekstremitas : Akral hangat : ekstremitas atas +/+

ekstremitas bawah +/+

Edema : ekstremitas atas -/-

13
ekstremitas bawah -/-

3.3.3 Status Obstetri

Abdomen

Inspeksi

Tampak perut membesar ke depan, disertai adanya striae gravidarum (striae livide)

Palpasi

Pemeriksaan Leopold

- Teraba bagian bulat dan lunak (kesan bokong)


- Teraba tahanan keras dan datar di kanan (kesan punggung) dan teraba bagian-
bagian kecil di kiri (kesan ekstremitas)
- Teraba bagian bulat, keras dan mudah digerakkan (kesan kepala)
- Bagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggul (konvergen)
Tinggi fundus uteri setengah pusat processus xyphoideus, 27cm (TBJ: 2325 gram)

His (+) 2-3 kali/10 ~ 25-30

Gerak janin (+)

Auskultasi

Denyut jantung janin terdengar paling keras di sebelah kanan bawah umbilikus
dengan frekuensi 148x/menit.

Vagina

Blood slym (-)

Tidak tampak adanya cairan yang merembes dari ostium uteri eksternum (OUE)

14
Vaginal Toucher (VT) (pk 19.30 WITA) :

Pembukaan serviks 2 cm, effacement50%, ketuban (+), tidak teraba bagian kepala,
tidak teraba bagian kecil/tali pusat, evaluasi pangul normal

3.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang

Darah lengkap (04/03/17 pk. 21.05 WITA)

WBC : 11.74 103/uL (4.0-10.0) Faal Hemostasis (04/03/17)


BT : 130 N(1-3)
Neu : 76.3% (50-70%) CT : 1100 N(5-15)
HbsAg (-)
Lym : 11.3% (20-40%)

Mono : 6.2% (2-8%)

Eos : 5.8% (0-4%)

Baso : 0,4%

RBC : 3.81106/uL (4.20-5.40 106/uL)

HGB : 10.5 g/dL (12-16 g/dL)

HCT : 31.0 % (37- 47%)

PLT : 197 103/uL (150-400 103/uL)

3.5 Diagnosis

G1P0000 32 minggu 2 hari T/H + PPI

(TBJ: 2325 gram)

3.6 Penatalaksanaan

Terapi Konservatif

- MRS

15
- Tirah baring
- Nifedipine 20mg oral (dosis maksimal 160mg per hari).
- Dexamethasone 1x12mgI.V (diberikan selama 2 hari)
- Sulfus Ferous 1 x 300 mg

Monitoring

Keluhan, tanda vital, his, denyut jantung janin (DJJ), dan tanda inpartu

KIE

Menjelaskan kepada pasien mengenai kondisi pasien, janin, rencana tindakan,


dan risiko yang dapat terjadi pada pasien dan janin akibat kondisi pasien saat ini.
Menjelaskan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan kepada
pasien.

3.7 Resume

Pasien wanita 19 tahun, G1P0000, usia kehamilan 32 minggu, datang ke IGD RSUD
Wangaya pada tanggal 4 Maret 2017 dengan keluhan utama nyeri perut hilang timbul
setelah dikerok oleh dukun. Riwayat keluar cairan dari jalan lahir disangkal. Gerak
janin dirasakan baik.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/60 mmHg, frekuensi nadi
84x/menit, RR 18 x/menit, temperatur axilla 36,7C. Status general dalam batas
normal. Dari pemeriksaan obstetri didapatkan tinggi fundus uteri 27 cm, punggung
kanan, kepala belum memasuki PAP dengan penurunan 5/5. Terdapat his2-3x/10 ~
25-30, DJJ(+) 148x/menit. Blood slym (-). Dari VT didapatkan pembukaan serviks
2 cm, effacement 50%, ketuban (+), tidak teraba kepala, sutura sagitalis melintang,
tidak teraba bagian kecil/tali pusat.

3.8 Perkembangan Persalinan Pasien

3.7. Perkembangan Pasien

16
Tanggal S O A P

05-03- Nyeri perut St.Present G1P0000 Tx :


2017 hilang timbul
(-), Keluar air Kes : CM UK 32 Konservatif Bed rest
Pk. pervaginam minggu hari II
08.00 T:90/60 mmHg T/H dengan
(-), pusing (-), IVFD RL20 tpm
WITA gerak anak (+) N : 82 x/menit PPI
baik Adalat 3x30 mg
R : 20x/menit
Dexametasone 1 x
T : 36,7oC 12 mg
St. General : Sulfus Ferous 1 x
dbn 300 mg

St. Obstetrik Mx :

Abd : TFU setengah keluhan, tanda vital,


pusat processus
xyphoideus

His (-)

DJJ : 143 x/ Menit

06-03- Nyeri perut St.Present G1P0000 Tx :


2017 hilang timbul
(-), Keluar air Kes : CM UK 32 Konservatif Bed rest
Pk. pervaginam (- minggu hari III
08.00 T:90/60 mmHg T/H dengan
), pusing (-), IVFD RL 20 tpm
WITA gerak anak (+) N : 82 x/menit PPI
baik Adalat 3x30 mg
R : 20x/menit
Sulfus Ferous 1 x
T : 36,7oC 300 mg
St. General :

dbn Mx :
St. Obstetrik keluhan, tanda vital
Abd : TFU setengah

17
pusat processus
xyphoideus

His (-)

DJJ : 143 x/ Menit

07-03- Nyeri perut St.Present G1P0000 Tx :


2017 hilang timbul
(-), Keluar air Kes : CM UK 32 Konservatif
Pk. pervaginam (- minggu Mobilisasi Hari I
08.00 T:90/60 mmHg T/H dengan
), pusing (-), IVFD RL 20 tpm
WITA gerak anak (+) N : 82 x/menit PPI
baik Adalat 3x30 mg
R : 20x/menit
Sulfus Ferous 1 x
T : 36,7oC 300 mg
St. General : Mx :
dbn keluhan, tanda vital,
St. Obstetrik

Abd : TFU setengah


pusat processus
xyphoideus

His (-)

DJJ : 143 x/ Menit

08-03- Nyeri perut St.Present G1P0000 Tx :


2017 hilang timbul
(-), Keluar air Kes : CM UK 32 Konservatif
Pk. pervaginam (- minggu mobilisasi Hari II
08.00 T:90/60 mmHg T/H dengan
), pusing (-), IVFD RL 20 tpm
WITA gerak anak (+) N : 82 x/menit PPI
baik Adalat 3x30 mg
R : 20x/menit
Sulfus Ferous 1 x
T : 36,7oC 300 mg
St. General : Mx :

18
dbn keluhan, tanda vital

St. Obstetrik

Abd : TFU setengah


pusat processus
xyphoideus

His (-)

DJJ : 143 x/ Menit

19
BAB IV

PEMBAHASAN

Partus prematurus imminens (PPI) adalah terjadinya ancaman persalinan pada


kehamilan kurang dari 37 minggu, ditandai dengan adanya kontraksi uterus yang
berulang, pembukaan serviks sedikitnya 2 cm, dan dapat ditemukan selaput ketuban
pecah.1 Pada kasus ini didapatkan pasien sedang hamil ketiga dengan umur kehamilan
32 minggu 2 hari mengalami keluhan nyeri perut hilang timbul namun tanpa keluhan
keluar air pervaginam. Pada pemeriksan vaginal toucher didapatkan pembukaan
serviks 2 cm.

Penyebab pasti partus prematurus iminens bersifat proses multifaktorial.


Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya persalinan prematur dapat berupa
faktor obstetrik, sosiodemografi, maupun faktor medik. Faktor obstetrik yang
biasanya dijumpai yaitu distensi uterus yang berlebihan (polihidramnion, gemeli),
ketuban pecah dini, ataupun trauma.4 Pada pasien ini didapatkan riwayat trauma yaitu
dimana pasien mengaku perutnya dipijat dukun dan dikerok menggunakan uang
logam. Pemijatan pada perut ibu hamil tidak dianjurkan, kerena kemungkinan dapat
menyebabkan terjadinya lesi vascular pada plasenta. Hubungan antara lesi vaskular
dengan persalinan preterm terkait dengan terjadinya iskemia uteroplasenta. Meskipun
patofisologinya masih belum jelas namun diduga thrombin mempunyai peranan
besar. Trombin akan merangsang aktivitas kontraksi dari uterus sehingga berisiko
plasenta dapat terlepas lebih awal.2 selain faktor trauma, pada pasien ini, faktor stress
maternal-fetal juga dicuruhgai memiliki peran penting dalam terjadinya PPI pada
pasien ini, dimana pasien berumur 19 tahun, belum menikah dengan pasangannya,
dantinggal sendiri tanpa didampingi orang tua dan memiliki riwayat merokok selama
3 tahun belakangan.

Diagnosis PPI ditegakkan saat usia kehamilan 20-37 minggu, dimana terdapat
gejala dan tanda seperti adanya kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 - 8 menit
sekali atau 2 - 3 kali dalam waktu 10 menit, keluhan nyeri pada punggung bawah,

20
dapat ditemukan adanya bercak perdarahan, serta adanya perasaan menekan daerah
serviks. Pada pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2
cm, penipisan 50 - 80%, presentasi janin rendah sampai mencapai spina isiadika,
ataupun selaput ketuban pecah yang bisa menjadi tanda awal terjadinya persalinan
preterm.11 Pada kasus ini, pasien dengan umur kehamilan 32 minggu 2 hari mengeluh
nyeri hilang timbul pada perut bagian bawah. Nyeri dikatakan tidak menjalar sampai
serta cukup mengganggu aktivitas, keluhan ini tidak membaik dengan istirahat. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tinggi fundus uteri di pertengahan pusat processus
xyphoideus (27 cm), dengan tafsiran berat badan lahir sekitar 2325 gram. Terdapat
kontraksi uterus sebanyak 2-3 kali/10 ~ 25- 30. Umur kehamilan menurut USG
didapatkan 32 minggu.

Tujuan terapi pada PPI adalah untuk menghambat proses persalinan preterm
dengan pemberian tokolisis, untuk pematangan surfaktan paru janin dengan
kortikosteroid, serta pencegahan terhadap infeksi dengan pemberian antibiotic jika
diperlukan. Berdasarkan PPK Wangaya, pemberian tokolitik berupa Nifedipin 20 mg
diulang 2-3 kali/jam dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi hilang dengan alternatif
tokolitik lain berupa golongan - mimmetik dan MgSO4. Pemberian kortikosteroid
dapat berupa betametason dengan dosis 2x12mg/IM/ 24 jam atau deksametason
4x6mg/IM/ 12 jam. Sedangkan pada pasien ini dilakukan terapi konservatif dengan
tirah baring selama 2 hari, untuk tokolitik diberikan nifedipin 20 mg per oral,
dexamethasone 12 mg intravena tiap 24 jam selama 2 hari, serta sulfus ferrous
300mg. Tirah baring dilakukan untuk meminimalisir pergerakan ibu. Pasien ini tidak
diberikan antibiotic oleh karena tidak didapatkannya indikasi pemberian yakni adanya
tanda-tanda infeksi. Selain itu, berbaring ke sisi kiri ataupun kanan dengan bantal
dibawah pinggul dan tungkai membantu mengurangi beban pada serviks serta
memperbaiki sirkulasi fetomaternal.11,12

BAB V

21
SIMPULAN

Partus prematurus imminens (PPI) merupakan suatu kontraksi uterus yang


cukup untuk mengakibatkan dilatasi dan penipisan serviks yang terjadi pada usia
kehamilan 20- 37 minggu dan atau dengan perkiraan berat badan janin kurang dari
2500 gram dan disertai gejala seperti rasa tertekan pada pangul, nyeri punggung,
meningkatnya cairan pada vagina, kram seperti saat menstruasi dan memendeknya
serviks.

Penyebab persalinan preterm belum diketahui secara pasti dan biasanya


bersifat multifactorial. Secara garis besar, beberapa faktor resiko terjadinya persalinan
preterm dapat dibagi menjadi faktor maternal, faktor janin, dan faktor lingkungan
tempat tinggal bayi, seperti uterus dan plasenta.

Penatalaksaan dari persalinan prematur meliputi identifikasi dari persalinan


prematur, pencegahan terjadinya kelahiran prematur dan penanganan dengan
pemberian obat tokolitik, pematangan paru dan antibiotic bila diperlukan.

Pada laporan kasus ini, pasien mengalami partus prematurus imminens, sesuai
definisi dari partusprematurusimminens. Saat ini ibu dan janin dalam keadaan baik,
dengan rencana dipulangkan dengan KIE melakukan Ante Natal Care (ANC) secara
teratur, menghindari faktor-faktor risiko terjadinya persalinan preterm dan segera ke
rumah sakit apabila terdapat keluhan.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo S. Prof.dr. DSOG. Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka Sarwono


Prawihardjo. Jakarta. 2014: 677-682
2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, et
al. William Obstetrics. 24th edition. McGraw Hill Education. 2014:829-855
3. Wiknjosastro GH, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Kelahiran Preterm. Ilmu
Kebidanan, ed.7. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta; 2010,
p.235-250.
4. Rubens C, Sadovsky Y, Muglia L, Gravett M, Lackritz E, Gravett C. Prevention
of preterm birth: Harnessing science to address the global epidemic. Science
Translational Medicine. 2014;6(262):262sr5-262sr5.. Akses: 31 Maret 2016.
5. DeCherney AH, Nathan L. Preterm labour. Current Diagnostic and Gynecologic
Diagnosis & Treatment, ed.11. McGraw-Hill, California: 2012, p.340-352.
6. Karkata MK, Suwiyoga K, Wardhiana IPG, Pemaron IBU. Persalinan preterm.
Pedoman Diagnosis dan Bagan Alir Pelayanan Pasien. Lab/SMF Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah Denpasar;
2003, p.2-10
7. Brandon J, Bankowski M, Hearne AE. The Johns Hopkins Manual of Gynecology
and Obstetrics, ed.2. Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore Maryland. 2002,
p.339-360
8. Anonim. Prosedur Tetap RSUD Wangaya. Denpasar; 2015.
9. Manuaba, Ida Bagus Gede. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC; 2009.
10. Yulaikhah L. Seri Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta : EGC. 2009
11. POGI. 2014. Usulan PNPK Ketuban Pecah Dini. Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia
12. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta. 2008.

23