Anda di halaman 1dari 11

Azitromisin dalam pengobatan poliposis nasal eosinofilik:

analisis klinis dan histologi

ABSTRAK
Pendahuluan: Makrolida yang digunakan sebagai imunomodulator merupakan obat
yang menjanjikan untu penyakit saluran nafas inflamasi kronik. Poliposis nasal
eosinofilik (ENP) masih dipertimbangkan sebagai suatu penyakit yang sulit untuk
dikontrol dengan pengobatan standar terkini.
Tujuan: Untuk mengevaluasi pengobatan ENP dengan azitromisin dosis rendah dalam
jangka lama berdasarkan variabel klinis dan histopatologi.
Metode: Investigasi yang dilakukan berupa studi kasus berpasangan pada 33 pasien
dengan ENP. Sebuah perbandingan dilakukan antara pasien sebelum dan sesudah
pengobatan dengan azitromisin selama 8 minggu. Pasien menjalani pemeriksaan klinis,
staging (dengan pencitraan endoskopi tiga dimensi), mengisi kuesioner, dan biopsy
polip nasal pada awal dan akhir pengobatan.
Hasil: Pengobatan menunjukkan perkembangan klinis pada dua variabel yang diteliti:
staging poliposis (69,7%) dan kuesioner (57,6%). Kami tidak menemukan perbedaan
bermakna pada pola peradangan dan pada persentasu ataupun jumlah absolut eosinofil
per lapangan pandang antara sampel yang didapatkan sebelum dan sesudah pengobatan
(p> 0,05). Tidak ada perbedaan antara jawaban yang didapatkan dari kelompok dengan
ataupun tanpa asma dan/ atau intoleransi aspirin (p>0,3). Pasien-pasien dengan stadium
awal yang lanjut menunjukkan indeks kemajuan subjektif dan pengurangan stadium
yang lebih kecil (p= 0,031 dan p= 0,012, masing-masing).
Kesimpulan: Berdasarkan pada studi ini, azitromisin dapat dipertimbangkan sebagi
pilihan terapetik pada ENP. Akan tetapi, penelitian lanjut diperlukan untuk menentukan
mekanisme kerja azitromisin yang terlibat.

Efek imunomodulasi makrolida, yang telah luas dipublikasikan setelah 1987 oleh
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kudoh dkk.,1 telah digunakan untuk mengontrol
penyakit-penyakit saluran nafas inflamasi kronik.2 Pada beberapa penyakit paru-paru,
seperti fibrosis kistik dan panbronkiolitis difusa, penggunaan makrolida ditetapkan dan
telah menunjukkan kontrol gejala yang memuaskan,3,4 Pada penyakit sinonasal,
makrolida masih memerlukan penelitian yang lebih.
Walaupun beberapa penelitian telah dilakukan, poliposis nasal eosinofilik (ENP) masih
dipertimbangkan sebagai penyakit yang sulit untuk dikontrol dan merupakan kandidat
penting dalam penelitian terapi alternatif.4-6 Kebanyakan, pengobatan-pengobatan klinis
standar menghasilkan perkembangan gejala-gejala yang terbatas dan/atau sementara.
Selain itu, ada resiko efek yang merugikan terkait dengan penggunaan yang
berkepanjangan, seperti pada kasus terapi kortikosteroid oral.5 Pembedahan endoskopi
nasal merupakan sebuah alternatif jika pengobatan gagal. Akan tetapi, bahkan
pendekatan-pendekatan luas oleh dokter ahli bedah tidak dapat menjamin penyembuhan
ataupun perbaikan gejala untuk periode yang lama.4 Rekurensi ENP masih tetap tinggi
dan dapat mencapai 50%.7 Di antara makrolida, azitromisin merupakan obat dengan
waktu permanensi intraselular yang paling besar,8 yang menjadikan pemberian dosis
lebih mudah dan meminimalisasikan efek-efek yang merugikan.
Penelitian sekarang bertujuan untuk mengevaluasi aksi azitromisin dosis rendah yang
digunakan dalam waktu yang berkepanjangan pada pasien-pasien dengan ENP,
berdasarkan stadium poliposis dan kuesioner kualitas hidup, the 22-item Sino-Nasal
Outcome Test (SNOT-22). Tujuan lainnya adalah untuk mengkarakteristikkan perilaku
inflamasi dan persentasi eosinofilik, sebelum dan sesudah pengobatan, yang ditemukan
pada spesimen biopsi polip nasal eosinofilik pada pasien-pasien yang diobati, untuk
menghubungkan perbaikan klinis yang mungkin pada pasien dengan adanya perubahan-
perubahan pada infiltrat inflamasi dan/ atau pada persentasi eosinofil dari spesimen
biopsi polip nasal eosinofilik.

METODE
Penelitian ini mendapatkan evaluasi etik dari komite penelitian the Federal University
of Minas Gerais (Universidade Federal de Minas Gerais [UFMG]) (berita penerimaan
no. 234.835).
Sampel terdiri atas 41 pasien dengan ENP, berusia 18 hingga 70 tahun, yang dirujuk
oleh sistem kesehatan terpadu (Sistema Unico de Saude) untuk mendapatkan
penanganan pembedahan di Rumah Sakit Pendidikan the Federal University of Minas
Gerais (Hospital das Clinicas UFMG [HC-UFMG]). Penelitian dilakukan di Rumah
Sakit Sao Geraldo, yang tergabung pada Rumah Sakit Pendidikan, Fakultas Kedokteran
the Federal University of Minas Gerais. Besar sampel yang terhitung adalah 32 pasien.
Perbedaan yang lebih tinggi dari 14 unit pada evaluasi kuesioner SNOT-22 sebelum dan
sesudah intervensi dinyatakan signifikan, berdasarkan rumus n = 2 (Z/2 + Z) /2.9
Pasien yang memenuhi kriteria dipilih:

Kriteria inklusi: Pasien-pasien dengan ENP dengan persentasi eosinofilik 20%


pada spesimen biopsi polip yang tidak menunjukkan bukti infeksi nasal aktif
(misal: sekret purulen di kavum nasalis) pada klinis dan pemeriksaan endoskopi;
pasien-pasien yang telah ditujukan menjalani pengobatan klinis estndar
(kortikosteroid oral dan topikal) tanpa perbaikan yang memuaskan dan
rekomendasi formal untuk pembedahan nasal endoskopi; dan pasien-pasien yang
berusia antara 18 hingga 70 tahun.
Kriteria ekslusi: Pasien-pasien dengan jenis poliposis noneosinofilik, misal:
fibrosis kistik, sindroma Kartagener, polip antrokoanal, dan/atau ENP dengan
infeksi aktif; pasien-pasien yang menggunakan antibiotik dalam jangka pendek
30 hari sebelum awal penelitian; pasien-pasien dengan penyakit kardiovaskular
dan/ atau hepar yang tegak; dan pasien-pasien dengan perubahan pada
elektrokardiogramnya (misal: interval QT yang memanjang).

Desain Umum
Investigasi pada penelitian ini berupa studi kasus berpasangan pada pasien-pasien
dengan ENP. Perbandingan dilakukan pada pasien sebelum dan sesudah pengobatan
dengan azitromisin. Diagnosis ENP didasarkan pada riwayat klinis, endoskopi nasal, CT
scan, dan bopsi polip nasal sesuai dengan kriteria dari European Position Paper On
Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012.10 Penelitian dimulai dengan evaluasi
otolaringologi, staging ENP,11 dan biopsi polip. Setelah anastesi kavum nasalis dengan
kapas yang dicelupkan dengan neotutocaine 2%, polip dengan ukuran 5 x 2 mm
diangkat dengan menggunakan forsep EXPLORENT (Olympus America Inc., Center
Valley, PA), untuk menghindari maserasi jaringan. Ukuran kecil dari fragmen yang
diangkat tidak mengubah stadium yang dinilai. Tes-tes tambahan dilakukan, termasuk
elektrokardiogram, hitung sel darah komplit, dan tes fungsi hepar. Tes fungsi hepar
dilakukan karena azitromisin dimetabolisasi di hati.
Pasien-pasien diinformasikan mengenai penelitian ini dan, setelah setuju untuk
berpartisipasi, diminta untuk menandatangani formulir informed consent setelah
orientasi dan penjelasan tergabung. Pasien-pasien juga dibantu oleh peneliti (I.S.O)
dalam pengisian kuesioner SNOT-22.9 Akhirnya, AZI (azitromisin dihidrat, tablet
berbalut 500 mg; EMS S/A, Hortolandia, Sao Paulo, Brazil) diresepkan, secara oral,
dengan dosis 1 tablet (500 mg) tiga kali seminggu (Senin, Rabu, dan Jumat)12-14 selama
8 minggu.15-17 Medikasi didonasi pada klinik rawat jalan rinologi, HC-UFMG, dan 24
tablet yang diperlukan untuk memenuhi pengobatan disediakan untuk pasien. Pada
minggu kesembilan, pasien-pasien kembali ke klinik rawat jalan untuk evaluasi klinis
dan endoskopi serta staging yang baru; biopsi baru dari polip nasal dilakukan, dan
kuesioner SNOT-22 yang baru dilakukan kembali. Pada saat ini, pasien-pasien juga
ditanyakan mengenai efek-efek yang merugikan dan penggunaan yang tepat dari
medikasi dan kemungkinan keterlambatan yang mungkin ataupun pengurangan dosis
obat. Semua pasien melaporkan penggunaan lengkap dan benar megenai medikasi yang
diberikan.

Analisis Variabel
Staging. Pada literatur, beberapa metode staging ENP dideskripsikan, dan tidak ada
konsensus universal pada metode. Metode staging yang dipilih pada penelitian ini telah
digunakan pada Layanan Otolaringologi, HC-UFMG, selama beberapa tahun. Metode
terdiri atas staging tiga dimensi yang memiliki keuntungan mengidentifikasi lokasi
polip pada tiga penampang spasial dan yang mengklasifikasikan polip yang berada pada
regio selain dari meatus media (Tabel 1).11 Metode didasarkan hanya pada endoskopi
nasal (nasofibroskopi). Masing-masing kavum nasalis di-staging terpisah.
Kuesioner Kualitas Hidup. Kuesioner SNOT-22 diterjemahkan, divalidasi, dan
diadaptasi ke bahasa Portugis pada tahun 2011.9 Kuesioner terdiri atas 22 pertanyaan
dan/atau gejala-gejala yang dapat diskor oleh pasien dari 0 (tidak ada masalah) hingga 5
(masalah terburuk yang mungkin). Pasien-pasien harus menjawab pertanyaan
berdasarkan gejala-gejala dari dua minggu sebelumnya. Batas normalitas untuk SNOT-
22 Brazil adalah 10 poin, dan variasi >14 poin di antara indeks SNOT-22 pada pasien
yang sama dinyatakan signifikan.9 Pasien menyelesaikan kuesioner SNOT-22 sebelum
permulaan pengobatan dan ketika mereka kembali setelah 8 mingggu pengobatan.
Evaluasi Histologi. Sediaan-sediaan yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin
dievaluasi pada mikroskop Olympus BX-40 (okular 10x dan objektif 40x) (Olympus
America Inc., Melville, NY). Gambarannya diambil dengan mikrokamera Spot Insight
Color (Diagnostic Instruments, Inc., Sterling Heights, MI) yang diadaptasi pada
mikroskop dengan menggunakan perangkat lunak SPOT Basic 3.4.5 (Diagnostic
Instruments, Inc.) dan dianalisis dengan menggunakan Corel Draw versi 7.468 (Corel
Corporation, Ottawa, Kanada). Selularitas dianalisis dengan mengeksplorasi kelima
lapangan pandang mikroskop optikal dengan pembesaran 400x, seperti yang dilakukan
oleh Ingels dkk.18
Evaluasi semikuantitatif pada infiltrat inflamasi mengikuti skor yang telah ditentukan.19
Infiltrat inflamasi diklasifikasi berdasarkan distribusi, intensitas, dan jenis sel yang
predominan. Terkait dengan distribusi, klasifikasinya adalah sebagai berikut: (1) fokal:
adanya satu hingga tiga fokus inflamasi, (2) multifokal: adanya lebih dari tiga fokus
inflamasi, (3) difusa: adanya sel-sel inflamasi yang distribusi secara seragam. Intensitas
reaksi inflamasi dikategorikan menjadi tiga sub-grup: ringan (+), sedang (++), dan
intens (+++), berdasarkan analisis morfologi infiltrat inflamasi total. Pola sel yang
predominan juga dievaluasi dan diklasifikasikan menjadi mononuklear, campuran,
ataupun polimorfonuklear. Untuk analisis statistik, pola ditingkatkan berdasarkan angka
(1,2, dan 3) menurut keparahan distribusi inflamasi intensitas infiltrat yang meningkat,
dan pola polimorfonuklear yang meningkat.
Untuk mengevaluasi persentasi eosinofil, lapangan dengan infiltrat inflamasi yang
paling besar (lebih presentatif) di antara lima lapangan yang difoto dipilih, dan 100
leukosit dihitung pada masing-masing sampel (sebelum dan sesudah pengobatan)
dengan menggunakan pembesaran 400x.20,21 Kami mewarnai sediaan dengan Kromotrop
2R untuk identifikasi eosinofil yang lebih baik dan untuk mengkonfirmasi pengamatan.
Dengan menggunakan perangkat lunak ImageJ, jumlah absolut eosinofil dihitung pada
lima lapangan yang difoto pada sediaan-sediaan yang diwarnai dengan Kromotrop 2R.
Semua sampel dianalisis oleh ahli patologi secara doubl-blinded (D.C.R). Dua pasien
tidak berpartisipasi pada evaluasi histopatologi. Satu pasin tidak menyetujui biopsi
setelah pengobatan, dan sampel satu biopsi dari sebelum pengobatan tidak ditampilkan.
Satu pasien menunjukkan regresi polip yang komplit, dan biopsi dilakukan di mukosa
meatus media setelah pengobatan.

Analisis Statistik
Uji t berpasangan digunakan untuk membandingkan rata-rata sebelum dan sesudah
pengobatan. Interval kepercayaan untuk persentasi didapatkan dari penggunaan metode
Clopper-Pearson. Frekuensi variabel-variabel dua angka pada subgrup yang berbeda
dibandingkan dengan menggunakan uji X2. Analisis statistik dilakukan dengan
menggunakan perangkat lunak domain publik R x64 versi 2.15.2, dan kesimpulan yang
diambil dari hasil diambil dengan mempertimbangkan level signifikansi 5% dan interval
kepercayaan 95%. Informasi yang dikumpulkan dimasukkan ke dalam database yang
dikembangkan pada Micrososft Excel (Mocrosoft, Redmond, WA).

HASIL
Umum
Empat pasien diekslusi dari penelitian ini dengan karena menggunakan antibiotik (yang
diresepkan oleh dokter yang berbeda selama pengobatan) untuk periode yang pendek.
Empat pasien lainnya gagal untuk follow-up. Dengan demikian, 33 pasien secara
komplit mengikuti penelitian (hasil dipresentasikan pada Tabel 2). Usia pasien
bervariasi dari 18 hingga 69 tahun, dengan rata-rata usia 48,84 tahun, dan ada 21 wanita
(63,6%) dan 12 pria. Tujuh belas pasien (51,5%) memiliki asma dan intoleransi aspirin.
Pada akhir penelitian, 22 pasien (66,7%) melaporkan kontrol gejala yang baik dan
memilih untuk tidak menjalani tindakan pembedahan. Pasien-pasien ini tetap mengikuti
follow-up klinis di Klinik Rawat Jalan Rinologi, Rumah Sakit Sao Geraldo. Sebelas
pasien (33,3%) memilih untuk menjalani prosedur pembedahan karena mereka tidak
merasa puas penuh dengan hasil setelah pengobatan. Diagram sampel ditunjukkan pada
Gambar 1.

Stadium
Tidak ada pasien yang menunjukkan perburukan stadium setelah pengobatan
dibandingkan dengan sebelum pengobatan. Rata-rata, stadium berkurang hingga 3,4
unit, dan 23 pasien (69,7%) menunjukkan stadium yang membaik setelah pengobatan.
Satu pasien menunjukkan kavum nasal yang bebas dari polip (bahkan dengan
nasofibroskopi) setelah pengobatan.

Kuesioner Kualitas Hidup (SNOT-22)


Hanya dua pasien menunjukkan evaluasi SNOT-22 yang lebih buruk (meningkat dari 1
ke 4 poin, nilai diperkirakan tidak signifikan menurut literatur9). Indeks SNOT-22
(perbedaan antara nilai dari sebelum dan sesudah pengobatan) pada pasien berkurang,
rata-rata, 20,3 poin. Sembilan belas pasien (57,6%) menunjukkan pengurangan >14
poin, yang dilihat sebagai signifikan9 (Tabel 2).

Evaluasi Histologi
Pada analisis persentasi eosinofil, nilai yang didapatkan dari masing-masing pasien
sebelum dan sesudah pengobatan dibandingkan (N=31). Terkait dengan jumlah absolut
eosinofil, rata-rata lima lapangan pandang dihitung, dan hasilnya dibandingkan (N=20).
Persentasi eosinofil pada pasien berkurang, rata-rata, hingga 5,9%. Delapan belas pasien
(58,1%) menunjukkan pengurangan persentasi eosinofil. Jumlah absolut rata-rata
eosinofil per lapangan pandang pada pasien meningkat hingga 8,7. Sepuluh pasien
(50,0%) menunjukkan pengurangan jumlah absolut eosinofil (Tabel 2).
Tidak ada perbedaan signifikan pada intensitas, distribusi, ataupun pola infiltrat
inflamasi (p> 0,5). Tujuh pasien (22,6%) menunjukkan intensitas yang membaik (dari
intens ke sedang atau dari sedang ke ringan), dan 11 pasien (35,5%) menunjukkan
intensitas yang memburuk (dari ringan ke sedang atau dari sedang ke intens). Dua
pasien (6,4%) menunjukkan distribusi yang membaik (dari difusa menjadi multifokal),
dan satu pasien (3,2%) menunjukkan distribusi yang memburuk (dari multifokal
menjadi difusa). Sebelas pasien (35,5%) menunjukkan pola yang membaik
(kecenderungan infiltrat inflamasi menjadi mononuklear), dan enam pasien (19,3%)
menunjukkan pola yang memburuk (kecenderungan infiltrat inflamasi menjadi
polimorfonuklear).

Subgrup
Kami mengevaluasi apakah respons pada pengobatan berbeda pada masing-masing
subgrup dengan atau tanpa asma ataupun intoleransi aspirin dan dengan atau tanpa
stadium lanjut. Tujuh belas pasien (51,5%) memiliki asma dan intoleransi aspirin. Tidak
ada perbedaan signifikan antara berkurangnya SNOT-22 ataupun stadium yang
berkurang antar subgrup dengan atau tanpa asma dan/atau intoleransi aspirin (Tabel 3).
Empat belas pasien (42,4%) menunjukkan stadium awal lanjut (derajat stadium >14),
dan, pada subgrup ini, stadium yang berkurang secara signifikan lebih kecil daripada
subgrup dengan stadium awal tidak lanjut. Hasil analisis subgrup ini ditampilkan pada
Tabel 3.
Efek-efek yang Merugikan
Umumnya, medikasi secara baik ditolerasi oleh pasien. Hanya satu pasien yang
melaporkan adanya efek yang merugikan (heartburn dan/atau sensasi terbakar) selama
penggunaan medikasi. Akan tetapi, hal ini tidak mengganggu pengobatan. Bahkan
selama proses wawancara, pasien-pasien yang lain tidak melaporkan adanya efek-efek
tersebut. Sebelumnya ENP predominan ditemukan pada pria dan dalam penelitian ini,
persentasi sampel yang lebih tinggi adalah wanita (63,6%), hasil masing-masing
variabel dievaluasi secara terpisah pada kelompok pria dan kelompok wanita. Tidak ada
perbedaan di antara kelompok (p >0,05).

Follow-up
Setelah 12 bulan penelitian, 22 pasien yang memilih untuk tidak menjalani
pembedahan, sebanyak 17 orang masih memiliki kontrol klinis penyakit yang baik
(77,3%). Lima pasien harus menjalani pembedahan karena gejala-gejala yang
memburuk.

DISKUSI
Pencaran pilihan terapi yang lain telah mendorong penelitian dalam medikasi yang
dapat berperan dengan mengontrol proses inflamasi, meminimalisasikan efek-efek
merugikan yang tidak diinginkan yang berasal dari penggunaan kortikosteroid kronik,
dan mempertahankan respon terapeeik yang berkepanjangan.4 Dengan demikian,
makrolida menjadi penting dalam konteks ini. Variabel-variabel yang dianalisis pada
penelitian ini didukung oleh literatur. Pada pasien-pasien yang diteliti, kami mengamati
perbaikan klinis pada stadium dan kualitas hidup (dievaluasi dengan SNOT-22) setelah
pengobatan dengan azitromisin selama 2 bulan (8 minggu). Penemuan-penemuan ini
mendukung penelitian-penelitian sebelumnya,17,22-24 tetapi, sepengetahuan kami,
penelitian ini adalah yang pertama di mana data-datanya didapatkan dari investigasi
yang dilakukan pada kelompok spesifik dan yang ditentukan dengan baik. Pada
variabel-variabel klinis yang dianalisis, tidak ada perbedaan yang signifikan yang
diamati terkait respon pengobatan antar kelompok dengan atau tanpa asma dan/ atau
intoleransi aspirin.
Penelitian ini adalah pelopor yang menggunakan stadium tiga dimensi sebagai
parameter klinis untuk mengevaluasi pengobatan dengan makrolida.11 Kami mengamati
bahwa stadium lanjut (>14) pada pasien-pasien yang diteliti mengarah pada respon yang
signifikan lebih kecil pada pengobatan terkait perbaikan subjektif dan reduksi stadium,
yang berbeda dengan hasil yang ditemukan oleh Suzuki dkk.25 Penemuan dalam
penelitian ini juga berbeda dengan yang ditemukan oleh Videler dkk,16 di mana
ketiadaan respons yang ditemukan oleh investigator setelah azitromisin dapat diatur
oleh stadium lanjut pada pasien-pasien yang diteliti.
Pada penelitian ini, eosinofil jaringan dievaluasi menurut literatur18,20,21 oleh ahli
patologi secara double-blinded (D.C.R.). Akan tetapi, pada akhir penelitian, investigator
mengevaluasi sampel dan mengamati perbedaan yang tampak pada jaringan-jaringan
sebelum dan sesudah pengobatan. Perbedaan tidak pada jumlah esinofil ataupun
klasifikasi proses inflamasi yang digunakan, tetapi, pada spesimen biopsi polip pada
pasien yang sama sebelum dan sesudah pengobatan memiliki karakateristik histologi
yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini sebaiknya diinvestigasi pada penelitian
selanjutnya.
Interval pengobatan yang dipilih dalam penelitian ini didasarkan pada literatur,15,17
selanjutnya diperhatikan bahwa interval antara pertemuan pertama dengan pembedahan
(biasanya 2 bulan). Dengan demikian, kami mencoba untuk tidak membuat
ketidaknyamanan tambahan pada pasien-pasien yang melakukan perjalanan untuk dapat
sampai ke rumah sakit. Sebaliknya, penelitian ini tidak menunda penanganan
pembedahan yang direkomendasikan sebelumnya jika tidak ada perbaikan gejala yang
didapatkan dengan pengobatan yang diberikan. Akan tetapi, pada beberapa penelitian,
semakin lama durasi pengobatan, semakin besar perbaikan ataupun keuntungan dari
pengobatan ini.26-29 Hashiba dan Baba27 menunjukkan bahwa pengobatan yang
berlangsung selama 2,4,6, atau 12 minggu memiliki masing-masing rerata perbaikan
4,7%, 47,7%, 62,8%, 70,6%.
Diperkirakan bahwa restorasi mukosa lambat dan memerlukan waktu >12 minggu.26
Sehingga, waktu pengobatan yang digunakan dalam penelitian ini singkat, dan,
berdasarkan teori, kamu mungkin bisa mendapatkan hasil yang lebih baik jika penelitian
ini diperpanjang hingga beberapa minggu ke depan. Pada penyakit kronis inflamasi,
azitromisin sesuai dosis yang digunakan telah dipertahankan untuk waktu yang lama
tanpa penambahan efek merugikan yang signifikan.12-14,28,29 Ketiadaan kelompok kontrol
plasebo merupakan kelemahan penelitian ini. Sebuah penelitian yang baru sedang
dilakukan yang menggunakan kelompok kontrol dengan plasebo; di waktu yang dekat,
sangat mungkin untuk membuat pernyataan-pernyataan yang lebih konsisten mengenai
penemuan kami.
Karena ENP merupakan penyakit yang multifaktorial, mungkin bahwa kombinasi
pengobatan diperlukan untuk mendapatkan kontrol gejala yang adekuat. Berdasarkan
hasil penelitian ini, investigasi lanjut sebaiknya mengevaluasi kombinasi pengobatan
klinis, seperti kortikosteroid topikal dan azitromisin. Pada pasien-pasien dengan stadium
awal lanjut dan yang menunjukkan respon yang signifikan kurang, penggunaan
azitromisin selama periode paska operasi dapat dievaluasi dengan tujuan untuk
menurunkan kemungkinan rekurensi penyakit.

KESIMPULAN
Pada populasi yang diteliti, pengobatan dengan azitromisin (500 mg tiga kali per
minggu selama 8 minggu) menghasilkan perbaikan klinis berdasarkan stadium poliposis
dan kuesioner kualitas hidup (SNOT-22). Akan tetapi, ketiadaan kelompok kontrol
membuat penemuan ini memiliki tingkat bukti yang rendah. Tidak ada perbedaan yang
signifikan yang diteliti pada karakteristik yang dievaluasi pada penelitian infiltrat
inflamasi antara sampel-sampel yang didapatkan sebelum dan sesudah pengobatan
dengan azitromisin. Berdasarkan hasil ini, azitromisin dapat dipertimbangkan sebagai
pilihan terapetik tambahan untuk ENP. Akan tetapi, penelitian-penelitian selanjutnya
diperlukan untuk mengetahui mekanisme aksi pasti azitromisin yang terlibat dan
mengkonfirmasi efikasi pengobatan.