Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi. Tanpa tanah, kehidupan
yang kita ketahui tidak mungkin ada karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan
menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-
rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh karena tanah
memainkan peran kritis dalam memelihara atau menjaga kualitas udara, menyimpan air dan
bahan makanan bagi tumbuhan, serta menyaring bahan pencemar air permukaan. Tanah juga
menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme dan bagi sebagian besar makhluk hidup di
daratan, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Media tanam berperan penting dalam proses pertumbuhan pada usaha budidaya pertanian.
Hal tersebut didukung oleh lahan yang sesuai dengan masing-masing jenis tanah. Dalam hal
ini yang dimaksud media tanam adalah tanah yang sampai sekarang menjadi alternatif media
tanam. Agar dalam pengolahan dan pemanfaatan tanah mampu menghasilkan hasil yang
optimal, maka diperlukan pengetahuan lebih lanjut mengenai masing-masing sifat tanah baik
sifat fisika maupun sifat kimia tanah.
Tanah merupakan salah satu faktor yang terpenting bagi kehidupan. Tak dapat disangkal
dan tidak ada yang menyangkalnya bahwa demikianlah halnya, manusia hidup di atas tanah,
mencukupi segala kebutuhan hidupnya dengan segala kebutuhan hidupnya dengan segala
produk yang bahan-bahannya hampir seluruhnya tersedia di dalam tanah.

1.2 TUJUAN
1. Untuk memenuhi tugas reklamasi dan pasca tambang.
2. Untuk mengetahui cara yang akan dillakukan untuk meningkatkan tanah yang sudah
tercemar.
3. Untuk menambah wawasan tentang tanah.

1.3 POKOK BAHASAN


1. Membahas tentang Fitoremediasi.
2. Membahas tentang bahan pembenah tanah.
3. Membahas tentang cara penanggulangan AMD.
4. Membahas tentang cara meningkatkan kualitas tanah.
5. Membahas tentang rancangan bangun teknik konservasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 FITOREMEDIASI
Phyto asal kata Yunani/ greek phyton yang berarti tumbuhan/tanaman (plant),
Remediation asal kata latin remediare ( to remedy) yaitu memperbaiki/ menyembuhkan atau
membersihkan sesuatu. Jadi Fitoremediasi (Phytoremediation) merupakan suatu sistim
dimana tanaman tertentu yang bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah,
koral dan air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/pollutan) menjadi kurang atau
tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi.Fitoremediasi
merupakan salah satu teknologi yang secara biologi yang memanfaatkan tumbuhan atau
mikroorganisme yang dapat berasosiasi untuk mengurangi polutan lingkungan baik pada air,
tanah dan udara yang diakibatkan oleh logam atau bahan organik.
Salah satu keuntungan utama dari fitoremediasi adalah biaya yang relatif rendah
dibandingkan dengan metode perbaikan lainnya seperti penggalian. Dalam banyak kasus
fitoremediasi telah ditemukan kurang dari setengah harga dari metode alternatif.
Fitoremediasi juga menawarkan remediasi permanen bukan sekadar pemindahan
masalah. Namun fitoremediasi bukan tanpa kesalahan, itu adalah proses yang bergantung
pada kedalaman akar dan toleransi tanaman terhadap kontaminan. Paparan dari hewan ke
tanaman yang bertindak sebagai hyperaccumulators juga dapat menjadi perhatian lingkungan
sebagai hewan herbivora dapat terakumulasi mengkontaminasi partikel dalam jaringan
mereka yang pada gilirannya dapat mempengaruhi rantai makanan secara keseluruhan.

2.1.1 TANAMAN YANG DIGUNAKAN DI FITOREMEDIASI


Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan di Fitoremediasi adalah :
Anturium Merah/ Kuning, Alamanda Kuning/ Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden
Merah/Kuning/ Putih, Dahlia, Dracenia Merah/ Hijau, Heleconia Kuning/ Merah, Jaka,
Keladi Loreng/Sente/ Hitam, Kenyeri Merah/ Putih, Lotus Kuning/ Merah, Onje Merah,
Pacing Merah/ Mutih, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Ponaderia, Sempol Merah/Putih,
Spider Lili, dll.

2.1.2 PROSES FITOREMEDIASI


Proses dalam sistem ini berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara
serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat pencemar yang berada disekitarnya. Proses
fitoremediasi yaitu antara lain :
a. Phytoacumulation (phytoextraction)
Proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi
disekitar akar tumbuhan. Proses ini disebut juga Hyperacumulation. Akar tanaman menyerap
limbah logam dari tanah dan mentranslokasinya ke bagian tanaman yang berada di atas tanah.
Setiap tanaman memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyerap dan bertahan dalam
berbagai limbah logam. Terutama di tempat-tempat yang tercemar dengan lebih dari satu
jenis logam. Ada spesies tertentu yang disebut hiperakumulator tanaman yang menyerap
jumlah jauh lebih tinggi dari polutan dibandingkan spesies lainnya kebanyakan. Spesies ini
digunakan pada banyak situs karena kemampuan mereka untuk berkembang di daerah-daerah
yang sangat tercemar. Setelah tanaman tumbuh dan menyerap logam mereka dipanen dan
dibuang dengan aman. Proses ini diulang beberapa kali untuk mengurangi kontaminasi ke
tingkat yang dapat diterima. Dalam beberapa kasus memungkin untuk benar-benar mendaur
ulang logam melalui proses yang dikenal sebagai phytomining, meskipun ini biasanya
digunakan pada logam mulia. Senyawa logam yang telah berhasil phytoextracted meliputi
seng, tembaga, dan nikel.

Logam kontaminan dalam tanah: diserap oleh akar (penyerapan), pindah ke tunas
(translokasi), dan disimpan (akumulasi).
Tanaman yang mengandung kontaminan logam dapat dipanen atau dibuang,
memungkinkan untuk pemulihan logam.

b. Rhizofiltration (rhizo= akar)


Merupakan proses adsorpsi atau pengedapan zat kontaminan oleh akar untuk
menempel pada akar. Rhizofiltration mirip dengan Phytoextraction tapi digunakan untuk
membersihkan air tanah terkontaminasi daripada tanah tercemar. Kontaminan yang baik
teradsorbsi ke permukaan akar atau diserap oleh akar tanaman. Tanaman yang digunakan
untuk rhizoliltration tidak ditanam langsung di situs tetapi harus terbiasa untuk polutan yang
pertama. Tanaman hidroponik di tanam pada media air, hingga sistem perakaran tanaman
berkembang. Setelah sistem akar yang besar pasokan air diganti untuk pasokan air tercemar
untuk menyesuaikan diri tanaman. Setelah tanaman menjadi acclimatised kemudian ditanam
di daerah tercemar di mana serapan akar air tercemar dan kontaminannya sama. Setelah akar
menjadi jenuh kemudian tanaman dipanen dan dibuang. Perlakuan yang sama dilakukan
berulangkali pada daerah yang tercemar sehingga dapat mengurangi polusi. Percobaan untuk
proses ini dilakukan dengan menanan bunga matahari pada kolam mengandung radio aktif
untuk suatu test di Chernobyl, Ukraina.

c. Phytostabilization
Merupakan penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak
mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil ) pada
akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media. Untuk mencegah kontaminasi
dari penyebaran dan bergerak di seluruh tanah dan air tanah, zat kontaminan diserap oleh akar
dan akumulasi, diabsorbsi akar, terjadi pada rhizosfer (ini adalah daerah di sekitar akar yang
bekerja seperti laboratorium kimia kecil dengan mikroba dan bakteri dan organisme mikro
yang disekresikan oleh tanaman) ini akan mengurangi atau bahkan mencegah perpindahan ke
tanah atau udara, dan juga mengurangi bioavailibility dari kontaminan sehingga mencegah
penyebaran melalui rantai makanan.. Teknik ini juga dapat digunakan untuk membangun
kembali komunitas tanaman pada daerah yang telah benar-benar mematikan bagi tanaman
karena tingginya tingkat kontaminasi logam.

Kontaminan organik dalam tanah adalah: diserap oleh akar tanaman dan dipecah menjadi
bagian-bagian mereka dengan "eksudat" dalam sistem akar tanaman
d. Rhyzodegradetion
Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation,
or plented-assisted bioremidiation degradation, yaitu penguraian zat-zat
kontaminan oleh aktivitas microba yang berada disekitar akar tumbuhan.
Misalnya ragi, fungi dan bacteri.
e. Phytodegradation (phyto transformation)
proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan
yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak
berbahaya dengan dengan susunan molekul yang lebih sederhan yang dapat
berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung
pada daun , batang, akar atau diluar sekitar akar dengan bantuan enzym yang
dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Beberapa tumbuhan mengeluarkan
enzym berupa bahan kimia yang mempercepat proses proses degradasi.

f. Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan
dalam bentuk yang telah larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk
selanjutnya di uapkan ke admosfir. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai
dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang.
2.2 PEMBENAH TANAH
Pembenahan tanah adalah bahan alami atau sintetik mineral organik untuk
menanggulangi kerusakan atau degradasi tanah. Kegiatan rehabilitas lahan salah satunya
diarahkan untuk memperbaiki kualitas tanah (sifat fisik, kimia dan biologi tanah). Pemulihan
sifat tanah dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan amlioran (pembenah tanah),
salah satunya adalah biochar atau arang. Untuk membenahi tanah yang rusak kita bisa
menggunakan bahan organik untuk memperbaiki kualitas tanah, meskipun kandungan hara
dari bahan organik umumnya jauh lebih rendang dibanding pupuk kimia. Bahan pembenah
tanah dapat berbeda dalam hal sumber, sifat dan karakteristiknya. Beberapa pembenah
organik seperti pupuk hijau dan pupuk kandang segar bersifat mudah terdekomposisi dan
cenderung melepaskan kandungan hara secara cepat. Sebaliknya pembenah organik seperti
jerami dan pupuk kandang yang sudah mengalami pengomposan bersifat lebih stabil dan
melepaskan hara secara lambat. Pembenah organik di lahan kering biasanya diperoleh dari
lingkungan petani seperti pupuk kandang, sisa tanaman dan pupuk hijau. Pembenah
anorganik diantaranya adalah zeolit yang merupakan bahan alumino-silikat hanya
mengandung sedikit unsur hara, dan mempunyai kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi,
mampu menyerap dan melepaskan unsur hara/air tanpa merubah sifat zeolit itu sendiri.
Kemampuan tersebut disebabkan oleh mineral-mineral yang porous namun mempunyai
struktur kimia yang stabil. Zeolit meningkatkan manfaat pupuk dengan membuatnya tahan
terhadap pencucian, imobilisasi dan hilang dalam bentuk gas.

2.3 PENANGGULANGAN ACID MINE DRAINAGE (AMD)

Sudah banyak teknologi yang ditujukan untuk menanggulangi acid mine


drainage (AMD). Teknologi yang diterapkan baik yang berdasarkan prinsip kimia maupun
biologi belum memberikan hasil yang dapat mengatasi AMD secara menyeluruh. Teknik
yang didasarkan atas prinsip-prinsip kimia, misalnya pengapuran, meskipun memerlukan
biaya yang mahal akan tetapi hasilnya hanya dapat meningkatkan pH dan bersifat
sementara. Teknik pembuatan saluran anoksik (anoxic lime drain) yang menggabungkan
antara prinsip fisika dan kimia juga sangat mahal dan hasilnya belum menggembirakan.
Teknik bioremediasi dengan memanfaatkan bakteri pereduksi sulfat memberikan hasil yang
cukup menggembirakan. Hasil seleksi Widyati (2007) dalam Widyati (2010) menunjukkan
bahwa BPS dapat meningkatkan pH dari 2,8 menjadi 7,1 pada air asam tambang Galian Pit
Timur dalam waktu 2 hari dan menurunkan Fe dan Mn dengan efisiensi > 80% dalam waktu
10 hari.
Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut dilakukan pada air sedangkan
sumber-sumber yang menjadi pangkal terjadinya AMD belum tersentuh. Hal yang sangat
penting sesungguhnya adalah upaya pencegahan terbentuknya AMD. Bagaimana mencegah
kontak mineral sulfide dengan oksigen dan menghambat pertumbuhan bakteri pengoksidasi
sulfur (BOS) adalah hal yang paling menentukan dalam menangani AMD. Sebagai contoh
PT. Bukit Asam Tbk menghambat kontak mineral-oksigen dengan melapisi lahan bekas
tambang dengan blue clay setebal 1-2 m sehingga biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini
per hektar sungguh fantastis. Tetapi proses AMD secara geokimia jauh lebih lambat
dibandingkan dengan proses yang dikatalis oleh BOS. Sehingga di PT. Bukit Asam masih
terjadi AMD. Oleh karena itu, pengendalian BOS adalah kunci untuk mengatasi AMD.
Bakteri ini tergolong kemo-ototrof, sehingga penambahan bahan organik akan membunuh
mikrob tersebut. Bagaimana menyediakan bahan organik pada lahan yang begitu luas?
Penanaman lahan yang baik adalah jawaban yang tepat. Bagaimana melakukan penanaman
pada lahan yang begitu berat? Jawaban yang tepat juga penambahan bahan organik. Sebab
bahan organik dapat berperan sebagai buffer sehingga dapat meningkatkan pH, sebagai
sumber unsur hara, dapat meningkatkan water holding capacity, meningkatkan KTK dan
dapat mengkelat logam-logam (Stevenson, 1997 dalam Widyati, 2010) yang banyak terdapat
pada lahan bekas tambang. Revegetasi pada lahan bekas tambang yang berhasil dengan baik
akan memasok bahan organik ke dalam tanah baik melalui produksi serasah maupun eksudat
akar.

2.4 PENINGKATAN KUALITAS TANAH


2.4.1. PENINGKATAN TANAH ORGANIK
Bahan organik tanah terdapat dalam berbagai bentuk: ada yang stabil (lambat lapuk),
terikat kuat dengan liat, membentuk agregat tanah yang stabil, dan ada pula yang labil (cepat
lapuk) yang strukturnya masih mirip dengan bahan asalnya seperti daun, cabang, akar yang
telah mati dan sebagainya. Tanah tertutup hutan sekunder memperoleh masukan rata-rata
10 12 ton ha-1 th-1 seresah dari daun dan cabang gugur, serta tambahan dari akar yang
membusuk. Untuk tanah-tanah pertanian, bahan organik minimal 8 ton ha-1 harus diberikan
setiap tahunnya, untuk mempertahankan jumlah bahan organik yang diinginkan (misalnya,
untuk mencapai kondisi bahan organik tanah sekitar 80% dari kondisi hutan alami dengan
tekstur tanah yang sama).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi tersebut misalnya:
a) Mempertahankan sisa panenan dalam petak lahan (misalnya padi dan jagung) atau
mengembalikan sisa panenan (misalnya kacang tanah), tergantung dari tehnik
pemanenannya. Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat dikembalikan ke dalam
tanah umumnya berkisar 2-5 ton ha- 1. Walaupun jumlah ini tidak dapat memenuhi jumlah
minimum kebutuhan bahan organik, namun masih tetap menguntungkan daripada tidak sama
sekali. Bila ubikayu yang ditanam, batang harus diangkut keluar petak untuk bibit di musim
mendatang sehingga masukan bahan organik hanya berasal dari daun ubikayu yang gugur
yaitu sekitar 1 ton ha-1per tahunnya.
b) Pemberian pupuk kandang atau sisa dapur yang telah dikomposkan. Karena keterbatasan
penyediaan pupuk kandang, pemberian pupuk kompos ini hanya terbatas pada pekarangan di
sekitar rumah atau hanya untuk tanaman buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,
dan bukan untuk lahan pertanian yang letaknya jauh dari rumah.
c) Pemberian pupuk hijau (Foto 8). Penanaman pupuk hijau hanya mungkin dilakukan untuk
jangka pendek setelah panen tanaman pangan. Jika kebutuhan air tercukupi, pangkasan tajuk
tanaman penutup tanah dari keluarga kacang-kacangan (LCC: legume cover crops) dapat
memberikan masukan bahan organik sebanyak 2-3 ton ha-1 (umur 3 bulan), dan 3-6 ton ha-
1
jika dibiarkan selama 6 bulan. Namun cara ini kurang menguntungkan, karena mahalnya
biji tanaman dan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan. Beberapa jenis yang cukup
memberi harapan adalah:
Tanaman penutup tanah yang tidak memerlukan tenaga untuk menanam dan
tidak memerlukan beaya pembelian biji, karena biji-bijinya dapat tumbuh
dengan sendirinya di lapangan (misalnya Callopogonium atau kacang asu),
dan yang tidak menjadi gulma bagi tanaman pangan.
Tanaman penutup tanah yang bijinya dapat dimakan (Mucuna pruriens var.
utilis atau koro benguk), tetapi masih menghasilkan banyak seresah.

2.5 AMELIORASI SINTETIS


Pembenah tanah sintetik telah dikenal kalangan peneliti sejak tahun 1970-an, sebagian
sudah diterapkan untuk memperbaiki sifat-sifat fisika tanah Andisol, Ultisol dan tanah
Litosol.

Bitumen

Emulsi bitumen digunakan dalam penelitian pembentukan agregat tanah. Emulsi


bitumen dapat dibuat dari aspal dengan campuran bahan tertentu untuk menurunkan
tingkat kekentalannya. Terdapat dua jenis emulsi bitumen, yaitu emulsi bitumen yang
mempunyai sifat hidrofilik dan hidrofobik atau yang dapat menyerap air dan tidak mampu
menyerap air. Bitumen dengan sifat hidrofilik cocok untuk digunakan pada tanah-tanah
yang telah membentuk agregat agar tidak mudah tererosi, sedangkan bitumen dengan sifat
hidrofobik dapat digunakan untuk tanah-tanah yang mudah tererosi dan belum membentuk
agregat.

Bitumen yang akan digunakan dengan teknik

penyemprotan ke permukaan tanah setelah diencerkan dengan menggunakan air.


Penyebaran emulsi ke permukaan tanah yang telah diolah akan memberikan hasil yang
lebih baik. Setelah dilakukan penyemprotan, permukaan tanah diolah kembali agar emulsi
bitumen dapat membantu membentuk agregat tanah.

Pada tanah Andisol, emulsi bitumen tidak

berpengaruh terhadap hasil kentang tetapi dapat menu- runkan jumlah erosi yang terjadi.
Sedangkan bitumen hidrofilik yang digunakan untuk merehabilitasi lahar Gunung Agung
di Bali, memiliki daya menahan air yang tinggi sehingga memberikan pengaruh terhadap
peningkatan hasil kacang tanah. Bitumen yang digunakan untuk pemulihan lahan kritis
pada tanah Mediteran di Jumantono, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman Albizia falcataria.
Tanaman lebih cepat tumbuh dan lebih cepat menutup permukaan tanah (Abdurachman dan
Suwardjo 1979).

Polyacrilamid (PAM)

Polyacrilamid merupakan senyawa kimia yang mempunyai berbagai macam kegunaan,


diantaranya adalah pembentukan agregat atau struktur tanah-tanah. Penggunaan PAM
untuk perbaikan sifat fisika tanah dalam bentuk cairan agar mudah untuk disemprotkan
ke permukaan tanah.

Penggunaan PAM pada tanah Andisol mampu menurunkan jumlah erosi tetapi tidak
berpengaruh ter- hadap hasil kentang, sedangkan PAM yang digunakan untuk tanah eks
lahar Gunung Agung memberikan pe- ngaruh yang baik terhadap pertumbuhan kacang
tanah, demikian juga pertumbuhan Albizia falcata pada tanah Mediteran Jumantono, Jawa
Tengah (Abdurachman dan Suwardjo, 1979).

Hidrogel Anorganik

Selain dalam bentuk senyawa organik, terdapat pula hidrogel anorganik. Fungsinya
sama dengan hidrogel anorganik, yaitu untuk meningkatkan keter- sediaan air di dalam
tanah. Kemampuannya dalam menjerap air juga beragam, yaitu dari < 200 sampai dengan
500 kali bobot keringnya. Selain sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menyerap
dan menyimpan air, mutu dari hidrogel juga dinilai dari kecepatan terdegradasi di dalam
tanah.

Hidrogel sangat bermanfaat digunakan di daerah dengan curah hujan rendah tetapi
distribusinya menyebar merata atau di daerah dengan curah hujan tinggi tetapi distribusinya
tidak merata. Di daerah dengan curah hujan rendah dan distribusi merata, hidrogel dapat
dimanfaatkan untuk menyerap air dan menyimpannya serta melepaskan simpanan air
tersebut sesuai dengan kondisi kelembaban tanah, sehingga kebutuhan air tanaman akan
terpenuhi. Sebaliknya di daerah dengan curah hujan tinggi dan distribusinya tidak merata,
hidrogel dapat dimanfaatkan untuk menyimpan air dan melepaskannya pada saat terjadi
cekaman air. Oleh karena itu, hidrogel diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air tanaman
yang dibudidayakan. Salah satu hidrogel anorganik adalah hidrostore, namun demikian
pembenah tanah jenis ini sulit diperoleh di pasaran bebas.

Pembenah Tanah Anorganik Alami

Pembenah tanah anorganik dari bahan-bahan alami sebagian sudah dikenal seperti
kapur pertanian, dolomit, dan zeolit. Masing-masing mempunyai kegunaan yang berbeda,
karena mempunyai sifat-sifat unggul yang berbeda pula. Oleh karena itu, sulit menemukan
satu pembenah tanah yang mampu menjadi solusi bagi setiap permasalahan kualitas
tanah. Kualitas atau kesuburan tanah tidak hanya dinilai dari kandungan unsur hara yang
banyak dan mencukupi kebutuhan tanaman, tetapi juga harus dinilai dari dari
ketersediaannya bagi tanaman, serta hubungan antara air-tanah-udara di daerah perakaran
tanaman. Jika hubungan tersebut serasi dan dalam kondisi optimum, maka pertumbuhan
tanaman menjadi lebih baik dengan hasil lebih baik pula.

Kapur Pertanian (Kalsit dan Dolomit)

Pada tanah mineral masam, sumber kemasaman tanah yang utama adalah Al3+ yang

akan menyumbang- kan H+ ke dalam larutan tanah melalui proses hidrolisis dengan reaksi:

Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+. Senyawa CaO dan MgO dalam tanah akan bereaksi
dengan air membentuk CaCO3 dan MgCO3 yang berperan dalam penurunan Aldd

dalam tanah. Pemberian Kaptan atau Dolomit ke dalam tanah dapat mengendapkan Al3+
menjadi Al(OH)3 sehingga Al tidak aktif dalam meningkatkan kemasaman tanah. Kalsit
mengandung (CaCO3 + MgCO3) minimal 85% atau CaO+MgO minimal 47%, dan
Dolomit mengandung

30% CaO dan 18% MgO. Mekanisme penurunan kemasaman tanah disajikan dalam reaksi
di bawah:

2Al-tanah + 3CaCO3 + H2O 3Ca-tanah

+ 2Al(OH)3 (mengendap)+ 3H2CO3

Kapur pertanian biasanya dibuat dari bahan dasar batu kapur kalsit yang sangat
sedikit mengandung Mg (magnesium) dan mempunyai rumus kimia CaCO3,
sedangkan kapur pertanian yang mengandung Mg dikenal sebagai dolomit. Kapur pertanian
tanpa Mg biasanya digunakan hanya untuk meningkatkan reaksi tanah dari sangat masam
menjadi agak masam agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Sedangkan dolomit
digunakan pada tanah-tanah masam dan juga mengalami kekurangan Mg, sehingga selain
menurun- kan kemasam juga mampu menambah hara Mg. Sebagai salah satu
contoh untuk tanah-tanah Ultisol yang bersifat masam, agar memperoleh hasil yang lebih
baik sebaiknya ditambahkan dolomit. Dosis dolomit untuk setiap hektar lahan pertanian
berkisar dari 0,5 ton sampai 2,0 ton atau lebih, tergantung peningkatan pH yang
diinginkan. Makin tinggi peningkatan pH makin banyak dolomit yang dibutuhkan.

Penggunaan kapur dalam jangka panjang memiliki pengaruh yang kurang


menguntungkan bagi keseimbangan hara dalam tanah. Sebagai contoh, ketersediaan kalium
sangat dipengaruhi oleh nisbah K/(Ca+Mg) dalam tanah. Penggunaan kapur juga akan
mengurangi ketersediaan unsur mikro, terutama bila diberikan dalam jumlah yang
berlebih. Kapur juga menyebabkan kadar bahan organik tanah merosot dengan cepat karena
aktivitas mikroorganisme perombak menjadi lebih aktif. Oleh karenanya penggunaan kapur
terus-menerus harus dihindari untuk menjaga kualitas tanah tetap baik. Sumber bahan
amelioran insitu yang mampu menekan dampak buruk kemasaman tanah seperti bahan
organik, cukup tersedia di lapang. Namun demikian efisiensi dan efektivitasnya perlu
ditingkatkan melalui proses fermentasi dan pengayaan, sehingga tidak bulky, dan lebih
mudah diaplikasikan.

Soil Neutralizer

Soil neutralizer (penetralisir tanah) merupakan produk relatif baru dengan klaim
mempunyai fungsi yang sama dengan kapur pertanian, yaitu untuk menangulangi
kemasaman tanah. Produk ini beredar di pasaran sekitar tiga tahun terakhir. Hasil analisis
dua contoh penetralisir tanah, dalam hal ini disebut sebagai penetralisir A dan B disajikan
pada Tabel 5.
Penetralisir tanah A mempunyai pH sangat tinggi, yaitu 12,67, kadar C-organik rendah
(< 4%), dan N sangat rendah, sehingga nisbah C/N menjadi tinggi. Kandungan Ca dan Mg

adalah 11,93 dan 4,17%. Dengan demikian, aplikasi penetralisir tanah dengan dosis 3 l ha-1

dapat menambah 357,9 mg Ca dan 125,1 mg Mg ha-1, dengan asumsi BD penetralisir


tanah adalah Penetralisir tanah B juga mempunyai pH sangat tinggi (12,35), kadar C-
organik rendah (< 4%), dan N sangat rendah sehingga nisbah C/N tinggi, kandungan Ca dan

Mg adalah 9,75 dan 3,54%. Berarti penambahan penetralisir tanah ini dengan dosis 3 l ha-1,

setara dengan menambah 292,4 mg Ca dan 106,2 mg Mg ha-1 jika BD penetralisir tanah B
adalah 1.

Aplikasi kedua jenis penetralisir tanah tersebut (A dan B) pada tanah Ultisol dan

Inceptisol yang dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca dengan dosis 1,5-6 l ha-1
tidak berpengaruh nyata terhadap pH tanah. Sebagai pembanding kapur pertanian
lebih efektif dalam meningkatkan pH dan menanggulangi permasalah alumunium di tanah
masam (Gambar 2).

Kedua jenis penetralisir tersebut juga tidak berpengaruh nyata terhadap kadar Aldd dan
kejenuhan Al tanah Ultisol (Gambar 3). Lain halnya dengan kapur pertanian yang nyata
menurunkan kadar Aldd dan kejenuhan Al. Kejenuhan Al untuk pertumbuhan
tanaman kedelai dinyatakan rendah apabila < 20% (Dierrolf et al. 2001). Dengan
pemberian penetralisir tanah, kejenuhan Al masih > 40%.

Tidak berfungsinya penetralisir sebagai pembe-

nah tanah khususnya dalam memperbaiki pH tanah dan menurunkan kejenuhan Al,

berdampak pula terhadap hasil tanaman,dengan dosis penetralisir tanah hingga 6 l ha-1,
hasil panen kedelai yang dicapai tidak berbeda nyata dengan kontrol (Tabel 6).
Zeolit

Zeolit adalah mineral senyawa alumina silikat hidrat yang berasal dari batuan beku atau
tufa vulkanik yang telah mengalami proses alterasi. Endapan zeolit hasil sedimentasi abu
volkanik bisa berada pada lingkungan danau yang bersifat alkali, berasal dari metamorfosa
tingkat rendah, atau proses hidrotermal Biasanya komposisinya terdiri atas SiO4 dan
AlO4 dengan perbandingan Si dan Al bervariasi dari 1:1 sampai 100:1, kisi mineral zeolit
merupakan struktur terbuka dengan ruang antar lapisan berisi molekul air (Prihatini et al.
1987) dan jumlah molekul air tersebut mencapai 10-25% dari bobot keringnya (Sastiono
dan Wiradinata 1989). Saat ini beredar berbagai macam zeolit yang dapat digunakan untuk
berbagai keperluan, meliputi sektor pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan,
industri manufaktur, dan konstruksi karena dapat berperan sebagai bahan penjerap
(adsorben), penukar kation, dan katalisator. Sebagai pembenah tanah, zeolit mampu
mempertahankan kadar air tanah tetap tinggi sampai dengan 14 hari setelah hujan
(Sutono dan Agus 1999). Di pasaran banyak sekali beredar zeolit yang mempunyai
kualitas beragam, zeolit yang diarahkan untuk meningkatkan KTK tanah hendaknya

mempu- nyai KTK > 60 cmol+ kg-1. Zeolit yang bagus mempunyai kandungan
klipnotilolit, selain mampu meningkatkan KTK juga mampu meretensi (menahan)air.

Berdasarkan fungsi utamanya tersebut, maka sebaiknya zeolit diaplikasikan pada tanah ber-
KTK rendah. Secara umum bahan zeolit alam yang berkualitas baik memiliki kandungan

zeolit total di atas 60% (mineral pengotor < 40%) dan nilai KTK > 120 cmol+ kg-1. Dalam
bidang pertanian, zeolit digunakan dalam bentuk bubuk (umumnya dengan kehalusan
lolos 60 mesh) atau granul dengan ukuran butir 1-3 mm (Husaeni 2007). Berdasarkan
Permentan No. 70/ Permentan/SR 140/10/2011, persyaratan teknik minimal dari zeolit

sebagai pembenah tanah di antaranya adalah harus mempunyai KTK > 60 cmol+ kg-1.
Hasil-hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa zeolit dapat meningkatkan unsur kalium.
Pencampuran zeolit dan pupuk urea (zeo-urea tablet) dapat meningkatkan produksi padi.

Substitusi zeolit sebanyak 20% dengan takaran urea 150-200 kg ha-1 memberikan hasil yang
menguntungkan. Penggunaan zeolit sebagai campuran media lumpur PAM dapat
mengurangi kandungan logam-logam berat Cr, Pb, dan Cu; pemberian zeolit dan kotoran
sapi pada lahan bekas tambang yang telah mengalami kerusakan dapat memperbaiki
bobot isi tanah, permeabilitas, dan kandungan NH4 tanah (Sastiono dan Suwardi
1999).

2.6 PENINGKATAN TANAH DENGAN CHARCOAL (ARANG AKTIF)

Arang aktif adalah suatu bahan hasil proses pirolisis arang pada suhu 600-900oC.
Selama ini bahan arang aktif yang digunakan berasal dari limbah limbah kayu dan
bambu. Bahan lainnya yang dapat digunakan adalah dari limbah pertanian antara lain
sekam padi, jerami padi, tongkol jagung, batang jagung, serabut kelapa, tempurung
kelapa, tandan kosong dan cangkang kelapa sawit, dan sebagainya. Pada tahap awal

limbah pertanian dibuat arang melalui proses karbonisasi 5000C dan tahap selanjutnya

dilakukan aktivasi pada suhu 8000C-9000C. Perbedaan mendasar arang dengan arang
aktif adalah bentuk pori-porinya (Gambar 1). Pori-pori arang aktif lebih besar dan
bercabang serta berbentuk zig-zag. Arang aktif bersifat multifungsi, selain media
meningkatkan kualitas lingkungan juga pori-porinya sebagai tempat tinggal ideal bagi
mikroba termasuk mikroba pendegradasi sumber pencemar seperti residu pestisida dan
logam berat tertentu. Keunggulan arang aktif adalah kapasitas dan daya serapnya yang
besar, karena struktur pori dan keberadaan gugus fungsional kimiawi di permukaan arang
aktif seperti C=O, C2 dan C2 H-. Kualitas arang aktif ditunjukkan dengan nilai daya serap
Iod di mana berdasarkan ketetapan dari SNI 06-3730-1995 arang aktif dinilai berkualitas
bilamana nilai daya serap Iodnya mendekati 750 mg/g, Misalnya arang dari tempurung
kelapa dan tongkol jagung sebelum diaktifasi daya serap iodinnya masing-masing adalah
276 dan 452 mg/g, namun setelah diaktivasi meningkat menjadi 672 dan 647 mg/g
mendekati nilai persyaratan kualitas arang aktif (Harsanti et al., 2010).

Arang aktif dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan hayati tanah. Arang aktif
efektif dalam meningkatkan sifat fisik tanah seperti agregat tanah dan kemampuan tanah
mengikat air. Pada tanah berliat, arang aktif dapat membantu menurunkan kekerasan tanah
dan mempertinggi kemampuan pengikatan air tanah, sehingga berpengaruh terhadap
peningkatan aktivitas mikroorganisme tanah. Di dalam tanah, arang aktif memainkan
peranan sebagai shelter atau rumah untuk mikroorganisme. Pori-pori kecil pada karbon
aktif digunakan sebagai tempat tinggal bakteri, sedangkan pori besar dan retakan (cracks)
digunakan sebagai tempat berkumpul. Penggunaan arang aktif di lahan sawah dapat
meningkatkan jumlah bakteri dan bakteri fiksasi nitrogen (Azotobacter) di dalam tanah
terutama di sekitar akar tanaman pangan. Hasil penelitian di Jepang melaporkan bahwa
lahan yang diberi arang aktif meningkatkan frekuensi bakteri fiksasi nitrogen sebesar 10-
15% di Hokkaido dan Tohoku (Honshu Utara), 36-48% di Kanto hingga Chugoku
(Honshu sebelah Timur- Barat), dan 59-66% di Kyusu. Hasil kajian di Balingtan
melaporkan bahwa arang aktif dari tempurung kelapa dan tongkol jagung meningkatkan
populasi mikroba Citrobacter sp, Enterobacter sp, dan Azotobacter sp lebih tinggi pada
pertanaman padi dibandingkan arang aktif dari sekam padi dan tandan kosong kelapa
sawit, sedangkan arang aktif tongkol jagung pada pertanaman kubis dapat meningkatkan
populasi mikroba Citrobacter sp, Pseudomonas sp, Serretia sp, Bacillus sp, Azotobacter
sp, dan Azospirrillium sp. Beberapa bakteri tersebut termasuk bakteri pendegradasi
pestisida dan penambat nitrogen. Penggunaan arang aktif dalam budidaya tanaman
pertanian dapat menurunkan residu pestisida dalam tanah, air, dan produk pertanian.
Hasil penelitian Balingtan (2009), Arang aktif (AA) tempurung kelapa di tanah
pertanaman kubis dapat menurunkan residu insektisida klorpirifos di air hingga sekitar
50%, sedangkan AA sekam padi, AA tempurung kelapa, AA tempurung kelapa pelapis
urea, dan zeolit di tanah pertanaman kubis dapat menurunkan residu lindan di air hingga
sekitar 50%. Penggunaan arang aktif dapat melalui beberapa cara antara lain melalui
ameliorasi, pelapis urea, dan sebagai filter air inlet dan outlet atau yang sering disebut
sebagai FIO yang ditempatkan pada saluran air inlet dan outlet. Hasil penelitian Balingtan
2009, AA tempurung kelapa, AA tempurung kelapa pelapis urea, AA tongkol jagung dan
AA tempurung kelapa pelapis urea + Fio pada pertanaman padi dapat menurunkan residu
insektisida klorpirifos dan lindan pada air outlet lebih dari 50%. Arang aktif yang berasal
dari sekam padi mampu menurunkan kandungan residu pestisida di dalam tanah hingga
70%. Pori arang aktif sebagai rumah ideal bagi bakteri Pseudomonas sp yang berfungsi
sebagai pendegradasi karbofuran hingga lebih dari 50%.

2.7 PENINGKATAN TANAH DENGAN BIOCHAR

Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk dapat menyediakan unsur hara
dalam jumlah yang cukup dan berimbang untuk pertumbuhan dan hasil tanaman, Kesuburan
tanah merupakan salah satu hal yang perlu di perhatikan dalam suatu usaha pertanian. Tanah
yang sehat dan subur akan memberikan nutrisi yang cukup pada tanaman yang di tanam di
atasnya. Kesuburan tanah ini sangat berkaitan erat dengan ketersediaan unsur hara yang
tersedia dan dapat di serap oleh tanaman. Pada dasarnya unsur hara telah banyak tersedia di
dalam tanah. Hanya saja ada beberapa masalah yang berkaitan dengan penyerapan dan sifat
unsur hara tersebut. Ada beberapa unsur hara yang sangat melimpah di alam hanya saja
tanaman tidak dapat memanfaatkan unsur hara tersebut secara langsung. Misalnya saja unsur
N, unsur ini sangat melimpah ketersediaannya di alam. Hanya saja tanaman tidak dapat
langsung memamanfaatkan unsur hara tersebut (kecuali tanaman legume). Ada beberapa
organisme tanah yang membantu tanaman unuk merombak unsur n di alam menjadi
NH4+ agar dapat di serap oleh tanaman. Selain unsur N, ada pula unsur lain yang juga
memerlukan bakteri untuk merombaknya menjadi bentuk unsur yang dapat diserap oleh
tanaman.

Biochar adalah bahan padat yang diperoleh dari karbonisasi dari


biomassa. Biochar merupakan substansi arang kayu yang berpori (porous), sering juga
disebut charcoal atau agri-char. Karena berasal dari makhluk hidup kita sebut arang-hayati.
Di dalam tanah, biochar menyediakan habitat yang baik bagi mikroba tanah misalnya bakteri
yang membantu dalam perombakan unsur hara agar unsur hara tersebut dapat di serap oleh
tenaman, tapi tidak dikonsumsi seperti bahan organik lainnya. Dalam jangka panjang biochar
tidak mengganggu keseimbangan karbon-nitrogen, bahkan mampu menahan dan menjadikan
air dan nutrisi lebih tersedia bagi tanaman.

Biochar dapat ditambahkan ke tanah dengan maksud untuk meningkatkan fungsi tanah dan
untuk mengurangi emisi dari biomassa yang lain akan secara alami menurunkan gas rumah
kaca. Biochar juga memiliki nilai penyerapan karbon yang cukup. Biochar adalah bahan
tanah yang diinginkan di banyak lokasi karena kemampuannya untuk menarik dan
mempertahankan air. Hal ini dimungkinkan karena struktur berpori dan luas permukaan yang
tinggi. Akibatnya, nutrisi, fosfor dan bahan kimia pertanian dipertahankan untuk kepentingan
tanaman. Biochar dapat menjadi alat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan
keanekaragaman lahan pertanian di daerah dengan tanah terkuras, sumber daya organik yang
langka, dan air yang tidak memadai dan pasokan pupuk kimia. Biochar juga meningkatkan
kualitas dan kuantitas air dengan meningkatkan retensi tanah nutrisi dan bahan kimia
pertanian untuk pemanfaatan tumbuhan dan tanaman. Nutrisi lebih tinggal di tanah bukan
pencucian ke dalam air tanah dan menyebabkan polusi.
Aplikasi biochar ke dalam tanah merupakan pendekatan baru dan unik untuk menjadikan
suatu penampung (sink) bagi co2 atmosfir jangka panjang dalam ekosistem darat. Dalam
proses pembuatannya, sekitar 50% dari karbon yang ada dalam bahan dasar akan terkandung
dalam biochar, dekomposisi biologi biasanya kurang dari 20% setelah 5-10 tahun, sedangkan
pada pembakaran hanya 3% karbon yang tertinggal. Di samping mengurangi emisi dan
menambah pengikatan gas rumah kaca, kesuburan tanah dan produksi tanaman pertanian juga
dapat ditingkatkan. Dua hal utama potensi biochar untuk bidang pertanian adalah afinitasnya
yang tinggi terhadap unsur hara dan persistensinya. Biochar lebih persisten dalam tanah,
sehingga semua manfaat yang berhubungan dengan retensi hara dan kesuburan tanah dapat
berjalan lebih lama dibanding bahan organik lain yang biasa diberikan. Persistensi yang lama
menjadikan biochar pilihan utama bagi mengurangi dampak perubahan iklim. Walau dapat
menjadi sumber energi alternatif, manfaat biochar jauh lebih besar jika dibenamkan ke dalam
tanah dalam mewujudkan pertanian ramah lingkungan.

Penambahan biochar ke tanah meningkatkan ketersediaan kation utama dan posfor, total n
dan kapasitas tukar kation tanah (ktk) yang pada akhimya meningkatkan hasil. Tingginya
ketersediaan hara bagi tanaman merupakan hasil dari bertambahnya nutrisi secara langsung
dari biochar, meningkatnya retensi hara, dan perubahan dinamika mikroba tanah. Keuntungan
jangka panjangnya bagi ketersediaan hara berhubungan dengan stabilisasi karbon organik
yang lebih tinggi seiring dengan pembebasan hara yang lebih lambat dibanding bahan
organik yang biasa digunakan. Peran biochar terhadap peningkatan produktivitas tanaman
dipengaruhi oleh jumlah yang ditambahkan. Pemberian sebesar 0,4 sampai 8 t c ha-1
dilaporkan dapat meningkatan produktivitas secara nyata antara 20 220%. Setiap tahunnya
limbah kehutanan, perkebunan, pertanian dan peternakan yang mengandung karbon mencapai
ratusan juta ton dan sering menjadi masalah dalam hal pembuangannya. Limbah jenis ini
merupakan bahan sangat potensial diubah menjadi biochar dalam berbagai tingkat teknologi
produksi. Sebagai gambaran sederhana, dari 50 juta ton produksi gabah tiap tahunnya ikut
dihasilkan sekitar 60 juta ton merupakan iimbah (jerami dan sekam padi) yang dapat
diproses menjadi biochar.

Penambahan biochar kedalam tanah pada beberapa penelitian memperlihatkan berbagai


macam keuntungan dalam kaitan memeperbaiki kualitas tanah, seperti

Meningkatkan kapasitas tukar kation (ktk)


Menurunkan kemasaman tanah

Meningkatkan struktur tanah

Meningkatkan daya ikat air (water holding capacity)

Meningkatkan efesiensi pemupukan

Menurunkan gas CH4 dan N2O yang terlepas ke udara

Mengurangi keracunan aluminium

Meningkatkan respirasi mikroba tanah

Meningkatkan biomassa mikroba tanah

Menstimulasi simbiosis fiksasi nitrogen pada legum

Meningkatkan fungi mikoriza arbuscular

Keuntungan penggunaan biochar tentunya tidaklah universal, hasilnya beragam berdasarkan


jenis tanahnya.
Biochar yang ditemukan dalam tanah di seluruh dunia sebagai akibat dari kebakaran
vegetasi dan praktek manajemen tanah bersejarah. Studi intensif biochar kaya bumi gelap di
amazon (terra preta/ tanah arang), telah menyebabkan apresiasi yang lebih luas sifat unik
biochar sebagai penambah tanah. Di indonesia terutama di daerah pedalaman kalimantan
ditemukan pula tanah yang memiliki ciri yng sama dengan yang ada di daerah amazone.
Tanah ini di hasilkan dari sitsem pertanian tebang bakar yang memang sudah di terapkan
sejak zaman dahulu. Perladangan berpindah termasuk metode tebang bakar dan tebang
arang dipraktekkan banyak suku. Dalam metode tebang dan bakar, pohon dan
tanaman berbatang kayu ditebang dan dibakar sebagai persiapan lahan untuk ditanami
cara ini menghasilkan nutrisi tanah yang meningkatkan produktivitas untuk sementara.
Ketika pembakaran dilakukan secara menyeluruh dan yang tersisa hanya abu, pengayaan
tanah bertahan tidak lama dan lahan harus lebih lama dibiarkan tidak terpakai sebelum siap
untuk digunakan kembali. Namun, metode yang hanya membakar sebagian, atau tebang
dan arang, dapat memperbaiki struktur tanah dan menyediakan penyimpanan nutrisi yang
lebih tahan lama yang berasal dari berbagai sumber, tetapi tampaknya mencerminkan
pengolahan makanan dan limbah yang terkait dengan keberadaan manusia. Dengan
berjalannya waktu, jika siklus pembersihan nutrisi arang berulang kali terjadi, hasilnya akan
terjadi pembentukan ade (bumi hitam antropogenik). Peningkatan kesuburan tanah
memungkinkan penduduk asli mempertahankan penghidupan mereka sendiri tanpa
menggunakan pupuk kimia yang mahal. Hal ini juga membantu pelestarian
keanekaragaman hutan serta penyerapan karbon sebesar lima sampai tujuh kali lipat, yang
dapat berlangsung selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, dibandingkan dengan hutan
hujan di sekitarnya.

2.8 RANCANGAN BANGUNAN TEKNIK KONSERVASI

2.8.1. Pengertian

Berdasarkan data dari Puslitbangtanak (2002), potensi lahan kering di Indonesia


sekitar 75.133.840 ha. Lahan-lahan kering ini pada kenyataannya tidak begitu menghasilkan
dan berguna bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh masih
kurangnya teknologi pengelolaan lahan kering sehingga sering mengakibatkan semakin
kritisnya lahan kering. Erosi, kekurangan air dan defisien unsur hara adalah masalah-masalah
serius di lahan kering. Teknologi budidaya tanaman untuk mananggulangi masalah tersebut
juga sudah banyak, akan tetapi kurang optimal dimanfaatkan karena tidak begitu signifikan
meningkatkan kesejahteraan petani lahan kering.

Konservasi tanah dan air merupakan cara konvensional yang cukup mampu
menanggulangi masalah diatas. Dengan menerapkan sisitem konservasi tanah dan air
diharapkan bisa menanggulangi erosi, menyediakan air dan meningkatkan kandungan hara
dalam tanah serta menjadikan lahan tidak kritis lagi. Ada 3 metode dalam dalam melakukan
konservasi tanah dan air yaitu metode fisik dengan pegolahan tanahnya, metode vegetatif
dengan memanfaatkan vegetasi dan tanaman untuk mengurangi erosi dan penyediaan air serta
metode kimia yaitu memanfaatkan bahan2 kimia untuk mengaawetkan tanah.

Konservasi Tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang
sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-
syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Air menurut
Deptan (2006) adalah upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujan dan
pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dan konservasi air
selalu berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakan konservasi tanah juga di lakukan
tindakan konservasi air. Dengan dilakukan konservasi tanah dan air di lahan kering
diharapkan mampu mengurangi laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yang
akhirnya mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanah2 di daerah lahan kering sangat
rentan terhadap erosi. Daerah lahan kering biasanya mempunyai curah hujan yg rendah dan
intensitas yg rendah pula, dengan kondisi seperti itu menyebabkan susahnya tanaman2
tumbuh dan berkembang, padahal tanaman merupakan media penghambat agar butiran hujan
tidak berbentur langsung dengan tanah. Benturan seperti inilah yg menyebabkan tanah mudah
terurai sehingga gampang di bawa oleh aliran air permukaan dan akhirnya terjadi erosi.
Pemanfaatan vegetasi pada system konservasi tanah dan air selain sebagai penghambat
benturan juga berguna sebagai penghambat aliran permukaan, memperbaiki tekstur tanah dan
meningkatkan kadar air tanah.

Penggabungan metode vegetatif dan fisik dalam satu teknologi diharapkan mampu
mengefisienkan waktu dan biaya yang dibutuhkan. Misalkan penanaman tanaman pada
guludan tanah atau penanaman tanaman di sekitar rorak. Langkah terakhir yang diharapkan
adalah penanaman tanaman yang bernilai ekonomis tinggi, seperti pohon buah-buahan.

Teknik Konservasi tanah yang dikenal selama ini adalah usaha pemanfaatan lahan
dalam usahatani sesuai dengan kemampuannya dan memperlakukannya sesuai dengan
syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Teknik konservasi tanah
juga dapat diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan, meningkatkan dan
mengembalikan daya dukung lahan melalui pengendalian erosi (on site) dan perlindungan
daerah bawahanya (off site).

Maksud dan Tujuan

- Mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan aliran permukaan


- Memperbaiki fungsi tanah yang rusak.
Manfaat

1. Memelihara produktivitas tanah dengan mencegah proses erosi (on site effects)
2. Melindungi daerah bawahan dari pelumpuran dan sedimentasi (off site effects)
3.Mempertahankan kelestarian sumberdaya tanah dan air.
Ada beberapa macam bangunan konservasi tanah yang dibangun dalam rangka GN-RHL
sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.03/Menhut-V/2004, yaitu:

1. Dam pengendali.
2. Dam penahan,
3. Embung,
4. Sumur resapan air, dan
5. Pengendali jurang (gully plug).

2.8.2 DAM PENGENDALI

2.8.2.1. Pengertian

Dam pengendali adalah bendungan kecil yang dapat menampung air (tidak lolos
air) dengan konstruksi urugan tanah dengan lapisan kedap air atau konstruksi
beton (tipe busur) untuk pengendalian erosi dan aliran permukaan dan dibuat pada
alur jurang/sungai kecil dengan tinggi maksimum 8 meter.

Dalam hal pembangunan Dam akan berdampak luas pada daerah sekitar antara lain
keamanan konstruksi Dam, luasan genangan air maka perlu melakukan konsultasi dengan Dinas yang
membidangi Pengairan dalam perencanaannya dan pemerintah pusat. Tidak mengalokasikan ganti
rugi bagi tanah yang digunakan sebagai areal genangan. Apabila genangan tersebut akan
dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, seperti wisata, maka perlu melakukan konsultasi dengan
instansi pemerintah yang membidanginya.

Pembuatan Dam pengendali

1. Pembuatan profil bendungan


2. Pengupasan dan penggalian serta pemadatan untuk pondasi bangunan
3. Pembuatan lapisan kedap air
4. Pemasangan konstruksi drainase
5. Penimbunan dan pemadatan tanah tubuh bendungnn
6. Pembuatan saluran pengambilan/lokal dan pintu air
7. Pembuatan bangunan pelimpah (spillway)
8. Pembuntan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jembatan spillway, jalan inspeksi
9. Pemasangan gebalan rumput.

Gambar 1. Dam Pengendali (tipe kedap air) (sumber:


http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/dam-penghambat-check-dam/)

Pemeliharaan

1. Pengurugnn tanah dan konsolidnsi pada bangunan Dam yang rusak atau susut akibat erosi;
gangguan ternak/manusia atau penyebab lain.
2. Penyulaman gebnlan rumput yang kering atau mati.
3. Perbaikan saluran diversi dan pengerukan lumpur dari dasar saluran air.
4. Tahapan, jenis dan ukuran/volume pekerjaan pemeliharaan secara rinci dimuat dalam
rancangan atau perencanaan teknis.

2.8.3. DAM PENAHAN

3.1. Pengertian
Dam Penahan adalah bendungnn keci) yang lolos air dengan konstruksi bronjong
batu, anyaman ranting atau trucuk bambu/kayu yang dibuat pada alur jurang dengan
tinggi maksimum 4 meter.

3.2. Tujuan

1. Mengendalian endapan dan aliran air permukaan dari daerah

tangkapan air dibagian hulu

2. Meningkatkan permukann air tanah di bagian hilirnya.

3.3. Sasaran

1. Daerah kritis dengan kemiringan lereng (15 - 35) %.


2. Daerah yang sudah diupayakan RLKT tetapi hasilnya belum efektif.
3. Daerah tangkapan airnyn sekitnr 30 ha.
4. Lokasi terletak pada tempat yang stabil.

Gambar 2. Dam Penahan dengan Bronjong (sumber:


http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/dam-penghambat-check-dam/)

Pembuatan Dam penahan

1. Penganyaman/Pembuatan kawat bronjong, ranting, trucuk bambu/kayu.


2. Pemasangan bronjong kawat, anyaman ranting, trucuk ' bambu/kayu.
3. Pengisian batu kedalam bronjong kawat.
4. Pengikatan kawat bronjong, anyaman ranting dan bambu/kayu
5. Penguatan tebing

Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi perbaikan/penyulaman kawat bronjong, anyaman ranting dan
trucuk bambu/kayu yang putus atau rusak dan pengisian kembali batu kedalam
bronjong kawat serta penguatan dinding tanah disekitar Dam penahan.

Gambar 3. Dam Penahan dengan anyaman ranting, kayu/bambu. (sumber:


http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/dam-penghambat-check-dam/)
Sumber: acf-bmps.com/.../Erosion_Eel_Sed_Tube.htm

2.8.4. EMBUNG

Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan
air limpasan atau air rembesan dari lahan tadah hujan sebagai cadangan kebutuhnn air pada musim
kemarau.

Tujuan dan Manfaat

Tujuan daripada pembuatan embung adalah :

1. Menampung da mengalirkan air pada kolam penampung


2. Cadangan persedinan air untuk berbagai kebutuhan pada musim kemarnu
3. Menekan laju erosi dan sedimentasi
Adapun manfaat dari pada pembuatan embung yaitu sebagai persediaan air di musim kemarau
dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan (pertanian, peternakan, rumah tangga dsb).

Sasaran
1. Lahan-lahan kering dan (lahan-lahan tadah hujan pada hulu DAS
2. Bertipe iklim C (5-6 bulan basah); tipe iklim D (3-4 bulan basah) dan tipe iklim E (<3
bulan basah), serta daerah kering lainnya yang memerluknn embung.
3. Air tanah sangat dalam atau tidak ada sama sekali
4. Tekstur tanah liat (tidak permeable) liat berlempung dan lempung liat berdebu.
Gambar 5. Embung air (sumber: http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-
pengendalian-banjir/embung/)

Pembuatan Embung

1. Penggalian tanah mulai batas pinggir embung dengnn kemiringnn tanggul 45 dengnn
kedalaman 2,5-3 m. Tanggul dibuat agak tinggi untuk menghindari kotoran yang
terbawa air limpasan.
2. Agar dinding embung tidak mudah roboh dan lebih kedap air, dilakukan pelapisan
dengan tanah liat, batu kapur, semen, plastik atau penembokan dengan semen dan batu.
3. Ukuran/volume embung per unit mampu menampung air minimal 1000 m3
Pemeliharan

Pemeliharaan embung meliputi

1. pemagaran sementara untuk mencegah gangguan ternak terhadap tanggul embung lebih
parah, pengangkatan endapan lumpur dan perbaikan tanggul yang bocor.
2. Untuk mengurangi hilangnya air embung karena evaporasi maka dilakukan pembuatan :
a. Tiang peneduh di atas embung dan ditanami dengan tanaman merambat seperti
kecipir atau markisa.
b. Tiang penahan angin disamping embung pada sisi datangnya angin dan bisa ditanam
tanaman merambat atau pohon sebagai pengganti tiang.
3. Pemeliharaan dan pengelolaan embung pasca proyek oleh kelompok masyarakat.
Gambar 6. Dinding Embung Yang Tidak Diperkokoh (Tanah Asli) (sumber:
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/embung/)

2.8.5. SUMUR RESAPAN AIR-HUJAN

Bangunan sumur resapan air adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa
bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan
kedalaman tertentu Yang berfungsi sebagai tempat menampung air dan meresapkannya ke dalam
tanah.

Tujuan

Tujuan membangun sumur resapan adalah untuk mengurangi aliran permukaan dan
mengisi air-tanah (groundwater) sebagai upaya untuk mengembalikan dan
mengoptimalkan fungsi komponen-komponen sistem tata air Daerah Aliran Sungai
(DAS) sesuai dengan kapasitasnya.

Sasaran

Sasaran lokasi sumur resapan adalah daerah resapan air di kawasan budidaya, pemukiman,
pertokoan, industri, sarana dan prasarana olah raga serta fasilitas umum lainnya.

Pembuatan Sumur resapan


1. Penggalian sumur sesuai ukuran
2. Pembuatan dinding sumur dan bak kontrol.
3. Pembuatnn guludan pembatas aliran air.
4. Pengisian bahan pelengkap sumur.
5. Penutupan sumur.
Gambar 7. Sumur Resapan Air Hujan (Sumber:
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/sumur-resapan/)

Pemeliharaan Sumur Resapan Air

1. Kegiatan pemeliharaan disesuaikan dengan tipe sumur resapan sehingga kapasitas


sumur maksimal. Pemeliharaan terutama pada pembersihan kotoran/sampah di bak
kontrol, saluran pembuangan dan saluran penampung.

2. Tahapan, jenis dan ukuran/volume pekerjaan pemeliharaan secara rinci dimuat


dalam rancangan.

Prinsip Sumur Resapan

Sumur resapan dibuat dengan tujuan untuk mengalirkan air buangan dari permukaan
tanah ke akuifer air tanah. Alirannya berlawanan dengan sumur pompa, tetapi konstruksi dan
cara pembangunannya mungkin dapat saja sama. Pengimbuhan sumur akan lebih praktis
apabila terdapat akuifer tertekan yang dalam dan perlu untuk diimbukan, atau pada suatu
kawasan kota yang memiliki lahan yang sempit/terbatas.

Gambar dibawah ini menerangkan proses air imbuhan masuk kedalam akuifer bebas
dan akuifer tertekan.

Untuk Akuifer Bebas memenuhi persamaan :

Gambar 8. Proses air imbuhan masuk kedalam akuifer bebas. (Sumber:


http://architectaria.com/sistem-drainase-sumur-resapan-part-i.html)

Sementara untuk Akuifer tertekan memenuhi persamaan :


Gambar 9. Proses air imbuhan masuk kedalam akuifer tertekan. (Sumber:
http://architectaria.com/sistem-drainase-sumur-resapan-part-i.html)

Dimana :

Q = Debit Aliran
K = Koefisien Permeabilitas Tanah
rw = Jari-jari sumuran
ro = Jari-jari pengaruh aliran
ho = Tinggi muka air tanah
hw = Tinggi muka air setelah imbuhan

2.8.6. PENGENDALI JURANG (gully plug)

Bangunan pengendali jurang adalah bendungan kecil yang lolos air yang dibuat
pada parit-parit melintang alur parit dengan konstruksi batu, kayu atnu bambu.
Tujuan

Memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang/parit akibat gerusan air guna mencegah
terjadinya jurang/pnrit yang semakin besar, sehingga erosi dan sediment terkendali.

Sasaran

1. Lahan dengan kemiringan sampai dengan 30%

2. Daerah tangkapan air maksimum 10 ha

3. Lebar dan kedalaman alur/parit/ jurang maksimum 3x3 m

4. Panjang alur parit/jurang sampai sekitar 250 m

5. Kemiringan alur maksimum 5%

Pemeliharaan

Pemeliharaan meliputi perbaikan/penyulaman bagian-bagian yang rusak meliputi :


bangunan utama, stabilitas lereng, saluran di sekitar bangunan utama.

2.8.7. PEMBUATAN GARIS KONTUR (SABUK GUNUNG)

MENGGUNAKAN ONDOL-ONDOL

Ondol-ondol atau gawang segitiga terbuat dari kayu atau bambu, terdiri dari dua buah
kaki) yang sama panjang (A = B = 2 m), sebuah palang penyangga (C = 1 m), benang (D),
dan pemberat (ondol-ondol, E), Pada bagian tengah palang diberi tanda untuk menentukan
bahwa kedua ujung kaki ondol-ondol terletak pada posisi yang sama tinggi. Untuk
mempermudah melakukan pengukuran pada palang penyangga (C) dapat dipasang waterpas
sebagai pengganti ondol-ondol.
Cara mengerjakan :

1. Siapkan ondol-ondol.

2. Tentukan puncak bukit awal, misal titik A.

3. Tentukan titik B pada bagian lereng yang lebih rendah sesuai dengan beda tinggi (interval
vertical = IV) yang diinginkan, maksimal 1,5 m. Gunakan slang plastik berisi air, jika
titik A = 0 cm maka ketinggian muka air dalam slang plastik pada titik B = 150 cm. Ukur
jarak dari A ke B (interval horizontal, IH).

4. Untuk menentukan IH dapat dihitung dengan rumus berikut: IH = IV/S x 100, dimana
IH = Interval Horizontal (m), IV = interval vertikal (m), , dan S = kemiringan lahan asal
(%).

5. Letakkan kaki ondol-ondol pada titik B sedang kaki lainnya digerakkan ke atas atau ke
bawah sedemikan rupa sehingga tali bandul persis pada titik tengah palang yang sudah
ditandai. Titik yang baru ini, misalnya titik B1, adalah titik yang sama tinggi dengan titik
B.

6. Dari titik B1 tentukan titik B2 dengan cara yang sama dengan tahap 5, demikian
seterusnya sehingga diperoleh sejumlah titik pada lahan yang akan ditentukan garis
konturnya.

7. Tandai titik tersebut dengan patok kayu atau bambu.

8. Titik yang ditandai kayu dihubungkan dengan tali rafia/plastik sehingga membentuk
garis yang sama tinggi. Jika garisnya patahpatah, hilangkan sudut-sudutnya dengan
menggeser patok ke atas atau ke bawah sehingga terbentuk garis sabuk gunung yang
bagus.

9. Garis yang terbentuk tersebut adalah garis sabuk gunung pertama. Lanjutkan pekerjaan
yang sama untuk membuat garis kontur kedua pada titik C dan seterusnya dengan beda
tinggi maksimal 1,5 m. Pada garis kontur tersebut dapat dibuat teras gulud, teras bangku,
strip rumput atau pun pertanaman lorong.
2.8.8. Teras gulud

Teras gulud adalah guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat dan saluran air
pada bagian lereng atasnya. Teras gulud dapat difungsikan sebagai pengendali erosi dan
penangkap aliran permukaan dari permukaan bidang olah. Aliran permukaan diresapkan ke
dalam tanah di dalam saluran air sedangkan air yang tidak meresap dialirkan ke Saluran
Pembuangan Air (SPA).

Gambar 10. Penampang samping teras gulud. (sumber:


http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/)

a. Persyaratan

Cocok untuk kemiringan lahan antara 10-40%, dapat juga digunakan pada kemiringan
40-60%, namun kurang efektif.

Dapat dibuat pada tanah-tanah agak dangkal (> 20 cm). Tetapi mampu meresapkan air
dengan cepat.
b. Pembuatan dan pemeliharaan

Buat garis kontur sesuai dengan interval tegak (IV = interval vertical) yang diinginkan.

Pembuatan guludan dimulai dari lereng atas dan berlanjut ke bagian bawahnya.

Teras gulud dan saluran airnya dibuat membentuk sudut 0,1- 0,5% dengan garis kontur
menuju ke arah saluran pembuangan air.

Saluran air digali dan tanah hasil galian ditimbun di bagian bawah lereng dijadikan
guludan.

Tanami guludan dengan rumput penguat seperti Paspalum notatum, bebe (Brachiaria
brizanta), bede (Brachiaria decumbens), atau akarwangi (Vetiveria zizanioides) agar
guludan tidak mudah rusak.

Diperlukan SPA yang diperkuat rumput Paspalum notatum agar aman.

2.8.9. Teras bangku

Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan
tanah di bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Ada 3 jenis teras
bangku : datar, miring ke luar, miring ke dalam, dan teras irigasi (lihat gambar). Teras bangku
datar adalah teras bangku yang bidang olahnya datar (membentuk sudut 0o dengan bidang
horizontal). Teras bangku miring ke luar adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke
arah lereng asli, namun kemiringannya sudah berkurang dari kemiringan lereng asli.

Teras bangku miring ke dalam (gulir kampak) adalah teras bangku yang bidang
olahnya miring ke arah yang berlawanan dengan lereng asli. Air aliran permukaan dari setiap
bidang olah mengalir dari bibir teras ke saluran teras dan terus ke SPA sehingga hampir tidak
pernah terjadi pengiriman air aliran permukaan dari satu teras ke teras yang di bawahnya.
Teras bangku gulir kampak memerlukan biaya yang mahal karena lebih banyak penggalian
bidang olah. Selain itu bagian bidang olah di sekitar saluran teras merupakan bagian yang
kurang/tidak subur karena merupakan bagian lapisan tanah bawah (subsoil) yang tersingkap
di permukaan tanah. Namun jika dibuat dengan benar, teras bangku gulir kampak sangat
efektif mengurangi erosi.

Teras irigasi biasanya diterapkan pada lahan sawah, karena terdapat tanggul penahan
air.

a. Persyaratan

Tanah mempunyai solum dalam dan kemiringan 10-60%. Solum tanah > 90 cm untuk
lereng 60% dan >40 cm kalau lereng 10%.

Tanah stabil, tidak mudah longsor.

Tanah tidak mengandung bahan beracun seperti aluminium dan besi dengan konsentrasi
tinggi. Tanah Oxisols, Ultisols, dan sebagian Inceptisols yang berwarna merah atau
kuning (podsolik merah kuning) biasanya mengandung aluminium dan atau besi tinggi.

Ketersediaan tenaga kerja cukup untuk pembuatan dan pemeliharaan teras.

Memerlukan kerjasama antar petani yang memiliki lahan di sepanjang SPA.

b. Cara pembuatan teras bangku

Pembuatan teras dimulai dari bagian atas dan terus ke bagian bawah lahan untuk
menghindarkan kerusakan teras yang sedang dibuat oleh air aliran permukaan bila terjadi
hujan.

Tanah bagian atas digali dan ditimbun ke bagian lereng bawah sehingga terbentuk bidang
olah baru. Tampingan teras dibuat miring; membentuk sudut 200% dengan bidang
horizontal. Kalau tanah stabil tampingan teras bisa dibuat lebih curam (sampai 300%).

Kemiringan bidang olah berkisar antara 0% sampai 3% mengarah ke saluran teras.

Bibir teras dan bidang tampingan teras ditanami rumput atau legum pakan ternak.
Contohnya adalah rumput Paspalum notatum, Brachiaria brizanta, Brachiaria
decumbens, atau Vetiveria zizanioides dll. Sedangkan contoh legum pohon adalah
Gliricidia, Lamtoro (untuk tanah yang pH-nya >6), turi, stylo, dll.
Sebagai kelengkapan teras perlu dibuat saluran teras, saluran pengelak, saluran
pembuangan air serta terjunan. Ukuran saluran teras : lebar 15-25 cm, dalam 20-25 cm.

Untuk mengurangi erosi dan meningkatkan infiltrasi, pembuatan rorak bisa dilakukan
dalam saluran teras atau saluran pengelak.

Kalau tidak ada tempat untuk membuat SPA, bisa dibuat teras bangku miring ke dalam

Perlu mengarahkan air aliran permukaan ke SPA yang ditanami rumput Paspalum
notatum dan bangunan terjunan air.

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan saluran teras meliputi, memindahkan/mengeluarkan sedimen dari dalam


saluran dan dari rorak ke bidang olah, menyulam tanaman tampingan dan bibir teras yang
mati, memangkas rumput yang tumbuh pada saluran, tampingan dan bibir teras untuk
dijadikan pakan ternak.
Gambar 11. Sketsa empat tipe teras bangku. (sumber:
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/)