Anda di halaman 1dari 33

Demam Berdarah Dengue (DBD)

CASE
Dengue Hemoragic Fever

Penulis:
Mirad Aditya
03010179

Pembimbing:
Dr. Magdalena, Sp,A

1
Demam Berdarah Dengue (DBD)

ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien
Nama : An. Susan
MR : 174438
Umur : 11tahun (05 Maret 2006)
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Betawi
Alamat : JL. Petojo

Anamnesis (diberikan oleh ibu kandung)


Seorang anak perempuan berumur 11 tahun dirawat di Bangsal Anak RSAL.
Mintoharjo Jakarta sejak tanggal 07 Maret 2017 dengan :

Keluhan Utama :
Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang :


- Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tinggi terus menerus,
tidak menggigil, tidak disertai keringat banyak. Pada hari ke-4 demam mulai
menurun
- Sakit kepala tidak ada, nyeri belakang bola mata tidak ada
- Batuk kering
- pilek dan sesak nafas tidak ada
- Mual dan muntah 3hari sebelum masuk rumah sakit
- Riwayat perdarahan gusi tidak ada
- Riwayat perdarahan hidung tidak ada
- Nyeri pada sendi-sendi dan anggota badan tidak ada
- Bintik-bintik merah di kulit tidak ada

2
Demam Berdarah Dengue (DBD)

- Nyeri di ulu hati ada


- Nafsu makan dan minum menurun sejak sakit
- BAK biasa
- BAB biasa

Riwayat Penyakit Dahulu :


Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat Kehamilan :
Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit yang berat, Ibu kontrol
kehamilan secara teratur ke bidan, dan ada mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2 x,
kehamilan cukup bulan.

Riwayat Kelahiran :
Lahir dengan spontan , persalinan ditolong oleh bidan di puskesmas, saat lahir
bayi langsung menangis kuat, berat badan lahir 2900 gram, panjang badan lahir 47 cm,
apgar score 8/9, tidak ada riwayat kuning atau biru pada waktu lahir.

Riwayat Makanan dan Minuman :


Bayi : ASI dari awal lahir sampai anak berumur 2 tahun
Makanan tambahan (bubur susu, buah) mulai umur 6 bulan
Anak : Makanan utama makan nasi biasa 2 kali sehari.
Yang terdiri dari daging, ikan, telur, sayuran dan buahan
Kesan makanan dan minuman : kuantitas cukup, kualitas cukup

3
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Riwayat Imunisasi :
BCG : lengkap 2 bulan, scar (+)
DPT : umur 2,4,6 bulan
Polio : umur 0,2,4,6 bulan
Hepatitis : umur 0, 1, 6 bulan
Campak : umur 9 bulan
MMR : umur 15 bulan
Kesan : imunisasi dasar lengkap

Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Ibu berumur 37 tahun,
tamatan SMP, pekerjaan IRT. Bapak berumur 42 tahun, tamatan SMA, pekerjaan
wiraswasta dengan penghasilan Rp 500.000,- sampai 3.000.000,- / bulan.

Riwayat Lingkungan dan Perumahan :


Tinggal di rumah sendiri, rumah permanen, mempunyai pekarangan,
menggunakan sumber air minum dari pompa air, buang air besar di WC sendiri (WC
leher angsa), sampah dikumpul dalam kantong kemudian dibawa oleh petugas
kebersihan.
Kesan : sanitasi baik

4
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :


Perkembangan Fisik Perkembangan Mental
Tertawa 4 bulan Isap Jempol (kompeng) -
Miring 5 bulan Gigit kuku
Tengkurap 7 bulan Sering mimpi -
Duduk 7 bulan Mengompol -
Merangkak 8 bulan Aktif sekali -
Berdiri 9 bulan Apati -
Berjalan 12 bulan Membangkang -
Gigi pertama 4 bulan
Bicara satu suku kata 10 bulan
Kesan : Pertumbuhan fisik dan mental normal

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : sedang
Kesadaran : sadar
Frekuensi nadi : 115 x/menit
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 37 0C
Berat badan : 28 kg
Tinggi badan : 128 cm
Status Gizi
BB/U : 78,57 %
TB/U : 98,95 %
BB/TB : 84,62 %
Kesan : gizi baik

Kulit : Teraba hangat, sianosis (-), ikterik (-), pucat (-), ptekie (-).

5
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Kepala : Bentuk bulat, normocephal


Rambut : Rambut hitam, tidak mudah rontok.
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : Tidak ditemukan kelainan
Hidung : Tidak ditemukan kelainan
Tenggorok : Tidak ditemukan kelainan
Mulut : Bibir kering, lidah bersih dengan pinggir hiperemis tidak ada, tremor
tidak ada
Leher : Tidak ditemukan kelainan
Dada
Paru-paru
Inspeksi : Normochest, simetris kiri dan kanan, retraksi epigastrium tidak ada,
retraksi suprasternal dan intercostal tidak ada.
Palpasi : Fremitus kiri sama dengan kanan
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas bronkovesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada.

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di LMCS RIC V
Perkusi : Batas jantung sulit ditentukan
Auskultasi : Bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada
Perut
Inspeksi : Tidak tampak membuncit
Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, nyeri lepas tidak ada, hepar dan lien tidak
teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

6
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Punggung : Tidak ditemukan kelainan


Alat Kelamin : Perempuan, tidak ditemukan kelainan
Anus : Tidak ditemukan kelainan
Anggota Gerak : Akral hangat, perfusi baik

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Tanggal, 07 maret 2017 pukul 10 : 45


Darah
Hb : 16,3 gr / dl
Leukosit : 2500 / L
Hematokrit : 49 %
Trombosit : 171.000 L
Eritrosit : 5.82 Juta/L

Tanggal, 07 Maret 2017 pukul 18 : 28


Darah
Hb : 15,1 gr / dl
Leukosit : 2700 / L
Hematokrit : 45 %
Trombosit : 128.000 L
Eritrosit : 5.36 Juta/L
Dengue IgM : Negatif
Dengue IgG : Negatif

7
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Tanggal, 08 Maret 2017 pukul 06 : 12


Darah
Hb : 15,2 gr / dl
Leukosit : 2900 / L
Hematokrit : 47 %
Trombosit : 93.000/ L
Eritrosit : 5,58 Juta/L

Tanggal, 08 Maret 2017 pukul 18 : 45


Darah
Hb : 13,9 gr / dl
Leukosit : 2500 / L
Hematokrit : 43 %
Trombosit : 117.000/ L
Eritrosit : 5,10 Juta/L

Tanggal, 09 Maret 2017 pukul 06 : 57


Darah
Hb : 13,9 gr / dl
Leukosit : 2500 / L
Hematokrit : 42 %
Trombosit :73.000/ L
Eritrosit : 5,11 Juta/L

8
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Tanggal, 09 Maret 2017 pukul 17 : 05


Darah
Hb : 14,5 gr / dl
Leukosit : 3100 / L
Hematokrit : 44 %
Trombosit :73.000/ L
Eritrosit : 5,24 Juta/L

Tanggal, 10 Maret 2017 pukul 06 : 18


Darah
Hb : 14,2 gr / dl
Leukosit : 3000 / L
Hematokrit : 44 %
Trombosit :66.000/ L
Eritrosit : 5,30 Juta/L

Tanggal, 10 Maret 2017 pukul 16 : 20


Darah
Hb : 14,3 gr / dl
Leukosit : 3100 / L
Hematokrit : 43 %
Trombosit :131.000/ L
Eritrosit : 5,24 Juta/L

9
Demam Berdarah Dengue (DBD)

DIAGNOSIS KERJA :
Demam Berdarah Dengue derajat I

DIAGNOSA BANDING :
Demam Thypoid
Faringitis

TERAPI :
- Istirahat
- Minum banyak
- Kompres hangat bila demam
- IVFD RL 20 tpm
- Parasetamol 3 x 1/2 tab
- Sporetic sirup 2 x 1/2 Cth
-
ANJURAN :
Periksa Hb, Ht dan Trombosit setiap 6 jam
Periksa Urin dan Feses Rutin
Periksa rumpelid test

10
Demam Berdarah Dengue (DBD)

FOLLOW UP
Hari Rawatan I (07 Maret 2017)
A/ Demam tidak ada
BAB hitam (-)
Nyeri menelan (+)
BAK (+)

O/ KU Kes Nfs TD Nadi T BB


Sedang CM 23 x/mnt 90/60mmHg 96 x/mnt 36,70C 28 kg

Tanggal, 07 maret 2017 pukul 10 : 45


Darah
Hb : 16,3 gr / dl
Leukosit : 2500 / L
Hematokrit : 49 %
Trombosit : 171.000 L
Eritrosit : 5.82 Juta/L

Tanggal, 07 Maret 2017 pukul 18 : 28


Darah
Hb : 15,1 gr / dl
Leukosit : 2700 / L
Hematokrit : 45 %
Trombosit : 128.000 L
Eritrosit : 5.36 Juta/L
Dengue IgM : Negatif
Dengue IgG : Negatif

11
Demam Berdarah Dengue (DBD)

D/ : DBD Derajat I
Th/ : Lanjut

Hari Rawatan II (08 Maret 2017)


A/ Demam tidak ada
BAB tidak ada
Batuk (+)
Nyeri menelan (-)

O/ KU Kes Nfs TD Nadi T BB


Sedang komposmentis 23 x/mnt 90/60 mmHg 95 x/mnt 36,50C 28 kg

Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik


Oedem (-) pada ekstremitas bawah
Rumpelid test : (+)

Tanggal, 08 Maret 2017 pukul 06 : 12


Darah
Hb : 15,2 gr / dl
Leukosit : 2900 / L
Hematokrit : 47 %
Trombosit : 93.000/ L
Eritrosit : 5,58 Juta/L

12
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Tanggal, 08 Maret 2017 pukul 18 : 45


Darah
Hb : 13,9 gr / dl
Leukosit : 2500 / L
Hematokrit : 43 %
Trombosit : 117.000/ L
Eritrosit : 5,10 Juta/L

D/ : DBD Derajat I
Th/ : Lanjut

Hari Rawatan III (03 September 2013)


A/ Demam tidak ada
BAB tidak ada
Batuk (+) sudah berkurang
Nyeri menelan tidak ada

O/ KU Kes Nfs TD Nadi T BB


Sedang CM 20 x/mnt 100/60mmHg 95 x/mnt 36,50C 28 kg

Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik


Oedem (-) pada ekstremitas

Tanggal, 09 Maret 2017 pukul 06 : 57


Darah
Hb : 13,9 gr / dl
Leukosit : 2500 / L
Hematokrit : 42 %
Trombosit :73.000/ L
Eritrosit : 5,11 Juta/L

13
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Tanggal, 09 Maret 2017 pukul 17 : 05


Darah
Hb : 14,5 gr / dl
Leukosit : 3100 / L
Hematokrit : 44 %
Trombosit :73.000/ L
Eritrosit : 5,24 Juta/L

D/ : DBD Derajat I
Th/ : Lanjut

Hari Rawatan IV (10 Maret 2017)


A/ Demam tidak ada
BAB (+), warna coklat, padat
Batuk tidak ada
Nyeri menelan tidak ada

O/ KU Kes Nfs TD Nadi T BB


Sedang CM 20 x/mnt 100/60mmHg 95 x/mnt 36,50C 28 kg
Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik
Oedem (-) pada ekstremitas

Tanggal, 10 Maret 2017 pukul 06 : 18


Darah
Hb : 14,2 gr / dl
Leukosit : 3000 / L
Hematokrit : 44 %
Trombosit :66.000/ L
Eritrosit : 5,30 Juta/L

14
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Tanggal, 10 Maret 2017 pukul 16 : 20


Darah
Hb : 14,3 gr / dl
Leukosit : 3100 / L
Hematokrit : 43 %
Trombosit :131.000/ L
Eritrosit : 5,24 Juta/L

D/ : DBD Derajat III


Th/ : Lanjut

15
Demam Berdarah Dengue (DBD)

DISKUSI

Telah dilaporkan suatu kasus, seorang pasien perempuan usia 11 tahun 0 bulan
dirawat di bangsal anak RSAL Mintoharjo sejak 4 hari yang lalu dengan diagnosis kerja
demam berdarah dengue derajat I. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
Pada anamnesis didapatkan demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, demam
tinggi terus menerus tidak menggigil, tidak disertai keringat banyak, pada hari ke-5
demam mulai menurun. Pasien juga mengalami nyeri di ulu hati ada, nafsu makan dan
minum menurun sejak sakit. Pasien mengeluh ada batuk sejak 4 hari sebelum masuk
rumah sakit dan disertai nyeri saat menelan. Riwayat perdarahan spontan tidak ada.
Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan pada saat pasien masuk nadi normal dan
akral hangat, BAB hitam (-) dan nyeri ulu hati ada. Pada hari kedua dilakukan
pemeriksaan rumpelid test dan didapatkan hasil positif.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya trombositopenia.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan serta didukung oleh hasil
pemeriksaan laboratorium, ditegakkan diognosa pasien ini adalah Demam Berdarah
Dengue Derajat I.

16
Demam Berdarah Dengue (DBD)

Tinjauan pustaka
DEMAM BERDARAH DENGUE

A. Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah demam akut dengan ciri-ciri demam
manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan lenjatan yang dapat
menyebabkan kematian. Dengue merupakan suatu infeksi arbovirus
(arthopot-
borne virus) akut, di tularkan oleh nyamuk spesies aedes.

B. Etiologi
Virus Dengue serotype 1,2,3, dan 4 yang di tularkan oleh vector Aedes
aegypti, nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan beberapa
spesies lain yang merupakan vector yang kurang berperan.
Infeksi dengan salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur
hidup terhadap serotype bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan
terhadap serotype lain.

C. Patofisiologi
Virus Dengue dibawa oleh nyamuk Ae. Aegypti dan Ae. Albopictus
sebagai vektor ke tubuh manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Namun
tidak semua orang yang terkena gigitan nyamuk tersebut dapat terserang
penyakit DBD. Apabila terdapat kekebalan yang cukup dalam tubuh manusia
tersebut maka tidak akan terserang sakit, meskipun dalam darahnya
terdapat virus tersebut. Sebaliknya pada orang yang tidak mempunyai
kekeblan akan mengalami demam yang ringan bahkan sakit berat, yaitu
demam tinggi yang disertai perdarahan bahkan syok, tergantung dari tingkat
kekebalan yang dimilikinya. Infeksi yang pertama kali mungkin memberikan
gejala sebagai Demam Dengue dan menimbulkan antibodi terhadap serotipe
tersebut tetapi tidak untuk serotipe yang lain. Apabila orang itu mendapat
infeksi ulang oleh tipe virus yang berlainan akan menimbulkan reaksi yang
berbeda dan lebih berat.
Patogenesis DBD dan SSD masih merupakan masalah kontroversial.
Teori yang banyak dianut pada DBD adalah teori hipotesis infeksi sekunder
(secondary heterogenous infection theory) dan teori hipotesis immune
enhancement. Teori tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa
manusia yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus

17
Demam Berdarah Dengue (DBD)

dengue yang heterolog punya risiko berat yang lebih besar untuk menderita
DBD berat. antibodi heterolog yang sudah ada sebelumnya akan mengenali
virus lain yang menginfeksi. Membentuk kompleks antigen-antibodi.
Kompleks tersebut berikatan dengan Fc reseptor membran sel leukosit
terutama makrofag. Oleh karena antibodi heterolog maka virus tidak
dinetralisirkan oleh tubuh, maka bebas bereplikasi dalam sel makrofag.
Teori lain yaitu Antibody Dependent Enhancement (ADE) menyatakan
bahwa suatu proses akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue
dalam mononuklear sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut. Terjadi
sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah sehingga mengakibatkan keadaan-keadaan
seperti hipovolemia dan syok.
Berdasarkan teori secondary heterolog infection bahwa akibat infeksi
sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respon
antibodi amnestik yang terjadi dalam beberapa hari mengakibatkan
proliferasi dan transformasi limfosit yang menghasilkan titer tinggi antibodi If
G anti dengue, terbentuk kompleks virus antigen-antibodi. Dampak dari
kompleks tersebut adalah :
1. Sistem komplemen C3 dan C5 akan teraktivasi yang berakibat
dilepaskannya anafilaktosin C3a dan C5a, hal ini menyebabkan
meningkatknya permeabilitas dinding pembuluh darah dan
merembesnya plasma dari intravaskuler ke ekstravaskuler, yang
ditandai dengan peningkatan kadar hematokrit, penurunan natrium,
an terdapat caira dalam rongga serosa (efusi pleura, ascites)
2. Timbulnya agregasi trombosit yang akan melepaskan ADP dan
menglami perubahan. Agregasi trombosit menyebabkan terjadinya
trombositopenia, koagulopati konsumtif (KID) dan gangguan fungsi
trombosit.
3. Aktivasi faktor Hageman (XII) dengan akibat terjadinya pembekuan
intravaskuler yang luas dalam hal ini plasminogen akan menjadi
plasmin yang berperan dalam pembentukan anafilaktosin dan
penghancuran fibrin sehingga terbentuk FDP.
Fenomena patofisiologi yang menentukan berat penyakit dan
membedakan DD dengan DBD adalah kebocoran plasma akibat peningkatan
permeabilitas vaskuler yang berakibat berkurangnya volume plasma, terjadi
hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Adanya

18
Demam Berdarah Dengue (DBD)

kebocoran plasma dibuktikan dengan adanya cairan dalam rongga serosa


seperti peritoneum, pleura dan pericardium.
Syok hipovolemia dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolik,
kematian. Sebab lain kematian pada DBD adalah perdarahan hebat yang
timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak teratasi.

Infeksi virus dengue

Demam Trombositopenia
Anoreksia
Muntah Hepatomegali
Komplek AgAb
Manifestasi Permeabilitas Komplemen
Pendarahan Vascular naik

Dehidrasi
I
Kebocoran plasma :
- Hemokonsentrasi
-Hypoproteinemia
-Efusi pleura I
Demam dengue -Asitesis

Hipovolemia
III

Derajat

DIC Syok

Pendarahan Anoksia Asidosis


IV
Saluran cerna

Meninggal

Demam berdarah dengue derajat I-II-III-IV

19
Demam Berdarah Dengue (DBD)

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik virus Dengue sangat bervariasi tergantung daya
tahan tubuh dan virulensi itu sendiri. Mulai dari tanpa gejala (asimptomatik),
demam ringan tidak spesifik (undifferential fever), demam dengue, demam
berdarah dengue dan sindrom syok dengue (SSD).

A. Demam denue (DD) dapat dijumpai keadaan berikut :


- Demam tinggi tiba-tiba (>39oC), menetap 2-7 hari, kadang bersifat
bifasik.
- Muka kemerahan (flushing face)
- Nyeri seluruh tubuh : nyeri kepala, nyeri belakang mata terutama bila
digerakan, nyeri otot, nyeri tulang, nyeri sendi dan nyeri perut.
- Mual, muntah, tidak nafsu makan.
- Timbul ruam merah halus samapi petektae.
- Labolatorium terdapat leukopeni hingga trombositopenia.
Namun demam dengue yang disertai pendarahan harus dibedakan
dengan DBD. Pada penderita demam dengue tidak ada tanda-tanda
kebocoran plasma.

Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya
berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai
dengan berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak loyo. Kadang-
kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung
selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal
kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran
kurva panas sebagai punggung unta).
Gejala panas pada penderita infeksi virus dengue akan segera disusul
dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya
yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri
pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena
adanya gejala nyeri ini, di kalangan masyarakat awam ada istilah flu
tulang. Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh
tubuh ini juga akan hilang.
Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada
saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada

20
Demam Berdarah Dengue (DBD)

daerah muka, leher, dan dada.Ruam timbul 5-12 jam sebelum naiknya
suhu pertama kali, yaitu pada hari ketiga sampai hari kelima dan
biasanya berlangsung selama 3-4 hari. Ruam bersifat mukopululer dan
menghilang pada tekanan. Ruam mula-mula dilihat di dada, tubuh serta
abdomen, dan menyebar ke anggota gerak dan muka.

B. Demam Berdarah Dengue


Kasus DHF ditandai oleh 4 manifestasi klinis, yaitu demam tinggi,
perdarahan, terutama perdarahan kulit, hepatomegali dan kegagalan
peredaran darah.
Perbedaan DD dengan DBD terletak pada patofisiologi penyakit tersebut,
dimana pada DBD terdapat kelainan homeostatis dan pembesaran plasma
yang dibuktikan dengan adanya trombositopenia dan peningkatan
hematokrit.
Kriteria diagnosa DBD menurut WHO 1997 :
a. Klinis
- Demam tinggi tiba-tiba selama 2-7 hari, tanpa sebab jelas
- Terdapat manifestasi pendarahan berupa : uji tourniquet +,
petekiae, ekimosis, purpura, pendarahan mukosa, epitaksis,
pendarahan gusi, hematemesis dan atau melena.
- Pembesaran hati (hepatomegali)
- Renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan
nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang ), tekanan darah
menurun (tekanan sistole menurun sampai 80 mmHg atau
kurang ) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama
pada ujung hidung, jari dan kaki, penderita menjadi gelisah, timbul
sianosis sekitar mulut.
b. Laboratoris
-
trombositopenia (trombosit < 100.000/mm3
-
hemokonsentrasi, peningkatan hematokrit > 20 %

Manifestasi perdarahan yang paling sering ditemukan pada DHF ialah


perdarahan kulit, uji torniquet positif, memar dan perdarahan pada tempat
pengambilan darah vena. Petekie halus yang tersebar di anggota gerak,
muka, aksila sering ditemukan pada masa dini demam. Epistaksis dan
perdarahan gusi lebih jarang dijumpai sedangkan perdarahan saluran
pencernaan lebih jarang lagi. Hati yang membesar pada umumnya dapat
diraba pada permulaan penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar
dengan permulaan penyakit. Nyeri tekan sering kali ditemukan tanpa

21
Demam Berdarah Dengue (DBD)

adanya ikterus. Fase penyembuhan ditandai dengan suhu yang menurun


dan hilangnya gejala klinis.

Diagnosis ditegakkan dengan dua kriteria klinis dan satu kriteria


laboratoris. Adanya efusi pleura dan atau hipoalbuminemia memperkuat
diagnosis.
Menurut WHO 1997, DBD dibagi menjadi 4 derajat, yaitu :
I. Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi
perdarahan adalah uji tourniquet positif.
II. Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan
lain.
III. Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan dalam, tekanan
nadi menurun < 20 mmHg, hipotensi, sianosis sekitar mulut, kulit
dingin dan lembab, tampak gelisah.
IV. Syok berat, nadi tidak dapat diraba, tekanan darah tidak dapat diukur.

Yang membedakan DHF dengan dengue fever adalah adanya


manifestasi gejala klinis sebagai akibat adanya bentuk reaksi 3 pada
tubuh manusia terhadap virus dengue, yaitu berupa keluarnya plasma
(cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk ke dalam
rongga perut dan rongga selaput paru.
Yang penting bagi masyarakat awam adalah dapat mengetahui atau
mendeteksi kapan seorang penderita DHF mulai mengalami keluarnya
plasma darah dari dalam pembuluh darah. Keluarnya plasma darah ini

22
Demam Berdarah Dengue (DBD)

apabila ada biasanya terjadi pada hari sakit ke-3 sampai dengan hari ke-
6. Biasanya didahului oleh penurunan panas badan penderita, yang
sering kali terjadi secara mendadak (lysis) dan diikuti oleh keadaan anak
yang tampak loyo, dan pada perabaan akan didapatkan ujung-ujung
tangan/kaki dingin serta nadi yang kecil dan cepat. Banyak ditemui kasus
dengan kondisi demikian, tampak suhu tubuh penderita dirasakan normal
mengira kalau putranya sembuh dari sakit. Kondisi tersebut
mengakibatkan orangtua tidak segera membawa putra mereka ke
fasilitas kesehatan terdekat. Pada keadaan ini penderita sudah dalam
keadaan terlambat sehingga kurang optimal untuk diselamatkan dari
penyakitnya.
Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita
demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae),
perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan
hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang
dapat berakhir pada kematian.

C. SINDROM SYOK DENGUE (SSD)


Biasanya terjadi pada saat atau segera setelah suhu turun, biasanya
antara hari ke-3 sampai ke-7.
Gelisah yang timbul sesuai dengan keadaan syok :
- Pasien tampak gelisah
- Akral dingin dan pucat, kulit lembab
- Hipotensi, penurunan tekanan nadi (<20 mmHg), nadi cepat dan
lemah.

E. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah
Pada DBD umumnya di jumpai trombositopenia dan
hemokonsentrasi. Uji tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan
yang penting. Masa pembekuan masih dalam batas normal, tetapi
masa pendarahan biasanya memanjang. Pada analisis kuantitatif
ditemukan penurunan faktor-faktor II, V, VII, IX, dan X. Pada
pemeriksaan kimia darah tampak hipopoteinemia, hiponatremia serta
hipokloremia. SGOT, SGPT, ureum dan pH darah mungkin meningkat
sedangkan reserve alkali rendah.

23
Demam Berdarah Dengue (DBD)

b. Isolasi Virus dengue


Keberhasilan isolasi virus ini sangat tergantung dari kualitas
spesimen yang di pakai untuk identifikasi, serotipe virus dengue yang
telah diisolasi dilakukan dengan tes imunoflouresen dengan
menggunakan antibody monoclonal spesifik.

Spesimen darah / serum, plasma atau cairan buffy


coat, dari fase akut jaringan melalui biopsy atau
otops dan disimpan dalam suhu -70EC.
Spesimen untuk isolasi virus dapat ditanam pada
biakan jaringan nyamuk (C6-36) atau biakan
jaringan mamalia.
Disini pertumbuhan adanya virus ditunjukkan
dengan adanya antigen atau adanya CPE
(cytopathis effect) pada biakan jaringan mamalia.
Inokulasi/penyuntikan pada nyamuk. Adanya
pertumbuhan virus dengan ditemukannya antigen
pada kepala nyamuk.

c. Pemeriksaan serologi
Untuk pemeriksaan serologi dibutuhkan 2 bahan pemeriksaan
dari penderita yang sama, yaitu pada masa akut dan masa
penyembuhan (1-4 minggu setelah onset penyakit). Pemeriksaan
yang dilakukan adalah dengan mengukur titer antibody penderita.
Ada 5 cara pemeriksaan seologi yang dianggap sebagai dasar,
yaitu::
Tes HI (Hemaglutinasi Inhibisi Test), sebagai salah satu standar
tes WHO.
Tes pengikatan komplemen (Complement FIXATION test).
Tes Mac Elissa )Ig M capture enzme-linked immunusorbent
assay).
Tes Elissa indirek.

F. Diagnosis Banding

Pada awal perjalanan penyakit dapat mencakup infeksi bakteri, virus


atau infeksi protozoa, seperti demam typhoid, campak, influenza, hepatitis

24
Demam Berdarah Dengue (DBD)

demam chikungunya, leptospirosis dan malaria. Adanya trombositopenia


yang jelas dengan atau tanpa hemokosentrasi dapat membedakan antara
DBD dengan penyakit lain.
Bila dibandingkan dengan DBD, DC memperlihatkan masa demam
lebih pendek, hampir selalu sering di jumpai artralgia, sedangkan manifestasi
pendarahan sama dengan DBD, tetapi pada DC tidak pernah ditemukan
pendarahan gastrointestinal dan syok.
Pendarahan seperti petekie dan ekimosis juga ditemukan pada
beberapa penyakit infeksi misalnya sepsis, meningitis meningtokokus.
Pada sepsis penderita tampak sakit berat, demam naik turun dan
ditemukan tanda-tanda infeksi.
Idiopatic thrombocytopenic purpura (ITP) sulit dibedakan dari DBD
derajat II, tetap pada ITP demam cepat menghilang, tidak dijumpai
homokonsentrasi, dan pada fase penyembuhan DBD jumlah trombosit lebih
cepat kembali normal dari ITP.
Pendarahan dapat juga terjadi pada leukemia atau anemia aplastik.
Pada leukemia demam tidak teratut, kalenjer limfe dapat teraba dan pasien
sangat anemis.

G. Komplikasi

Komplikasi pada DBD biasanya merupakan suatu manifestasi yang tidak


lazim, yaitu :
Ensefalopati dengue
Terjadi sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan
pendarahan, tetapi dapat juga terjadi pada DBD ang tidak di sertai
syok.
Gangguan metabolic seperti hipoksemua, hiponatremia atau
pendarahan
Dapat menjadi penyebab terjadinya ensefalopati.
Kelainan ginjal
Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal sebagai
akibat
Dari syok yang tidak teratasi dengan baik.
Udem paru
Udem adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai akibat
pemberian cairan yang berlebihan

25
Demam Berdarah Dengue (DBD)

H. Penatalaksanaan
DHF tanpa renjatan
Pada dasarnya bersifat suportif yaitu mengatasi kehilangan cairan
plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
pendarahan. Fase kritis pada umumnya terjadi pada hari sakit ke tiga.
Rasa haus dan keadaan dehidrasi dapat timbul akibat demam tinggi,
anoreksia dan muntah. Pasien perlu di beri minum banyak 50 ml / kg BB
dalam 4-6 jam pertama. Setelah dehidrasi dapat diatasi, berikan cairan
rumatan 80-100 ml / kg BB dalam 24 jam berikutnya.
Hiperpireksi diatasi dengan dengan antipiretik dan bila perlu surface cooling
dengan kompres es dan elcohol 70 %. Paraceramol dapat di gunakan untuk
mengatasi demam dengan dosis 10-15 ml / kg BB per hari.
Pemberian cairan IV pada pasien DBD tanpa tenjatan dilakukan bila
pasien terus menerus muntah atau didapatkan nilai HT yang bertendensi
terus meningkat >40 %.

DSS( Dengue Shock Syndrome)


a. Penggantian volume
Dalam keadaan syok berat diberikan cairan RL secara cepat (diguyur) selama
30 menit. Apalagi syok tidak teratasi ganti cairan dengan koloid 10-20 ml / kg
BB / jam dengan jumlah maksimal 30 ml / kg BB. Bila ada perbaikan tukar
kembali cairan koloid dengan kristaloid ( tetesan 20 nl/kg BB).
Bila dengan cairan koloid dan kristaloid syok belum dapat diatasi, sedangkan
Ht tetap diduga terjadi pendarahan maka dianjurkan transfuse darah segar.
Bila kadar Ht > 40 % berikan darah sebanyak 10 ml / kg BB / jam. Bila terjadi
pendarahan massif berikan 20 ml / kg BB /jam.
Bila renjatan dapat diatasi, nadi sudah jelas teraba, amplitude nadi cukup
besar, tekanan sistolik 80 mmHg / lebih, maka kecepatan tetesan dikurangi
menjadi 10 ml /kg BB / jam.
b. Evaluasi pengobatan renjatan.
- Nadi, tekanan darah respirasi dan suhu harus dicatat setiap 15
30 menit sampai syok teratasi.
- Kadar Ht harus diperiksa tiap 4 6 jam smapai keadaan klinis
pasien stabil.
- Setiap pasien harus mempunyai formulir pemamtauan mengenai
jenis cairan, jumlah dan tetesan untuk mengetahui apakah cairan

26
Demam Berdarah Dengue (DBD)

yang diberikan sudah cukup atau belum.


- Diuresis dipantau, belum diureses belum mencukupi 2 ml / kg BB /
jam
sedangkan cairan yang diberikan sudah sesuai kebutuhan, berikan
furosemid 1 mg / kg BB.
Cairan IV dapat dihentikan bila Ht telah turun sekitar 40 vol %. Jumlah urin 12
ml/kg BB/jam atau lebih menandakan keadaan sirkulasi membaik.

Ensefalopati Dengue
Pada ensefalopati cendrung terjadi endema otak dan alkalosis. Bila
syok telah teratasi, maka cairan dapat diganti dengan cairan yang tidak
mengandung HCO3- dan jumlah cairan harus dikurangi. Larutan ditukar
dengan larutan NaCl 0,9 % : glukosa 5 % = 3:1
Untuk mengurangi endema diberikan kortikosteroid kecuali terdapat
pendarahan saluran cerna. Bila terdapat disfungsi hati, berikan vitamin K IV
3-10 mg selama 3 hari, kadar gula dahr diusahakan > 60 %, cegah terjadinya
peningkatan entracranial dengan mengurangi jumlah cairan, koreksi asidosis
dan elektrolit. Untuk mengurangi indeksi sekunder berikan antibiotic
prafilaksis (kombinasi ampisillin 100 mg / kg BB / hari dan kloramfenikol 75
mg / kg BB / hari. )

Kriteria memulangkan pasien :


Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
Nafsu makan membaik
Tampak perbaikan secara klinis
Hematokrit stabil
Tiga hari setelah syok teratasi
Jumlah trombosit 50.000/ul
Tidak di jumpai distress pernafasan ( disebabkan oleh efusi pleura
/asidosis)

I. Pencegahan
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh
alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vector pada
saat sedikit terdapatnya kasus DHF/DSS
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan
kepadatan vector pada tingkat sangat rendah untuk

27
Demam Berdarah Dengue (DBD)

memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara


spontan.
3. Mengusahakan pemberantasan vector di pusat daerah
penyebaran, yaitu di sekolah dan rumah sakit termasuk pula
daerah penyangga disekitarnya.
4. Mengusahakan pemberantasan vector di semua daerah
berpotensi penularan tinggi.
Seperti telah diterangkan, pemberantasan DHF didasarkan
atas pemutusan rantai penularan yang dapat dilaksanakan
dengan cara sebagai berikut:
1. Perlindungan perorangan untuk mencegah gigitan nyamuk
Ae aegypti yang dapat dilakukan dengan jalan meniadakan
sarang nyamuk dalam rumah. Cara terbaik adalah
pemasangan kasa penolak nyamuk.
Cara lain yang dapat dilakukan ialah:
a. Menggunakan mosquito repellent dan insektisida dalam
bentuk semprotan.
b. Menuangkan air panas pada saat bak mandi berisi air
sedikit.
c. Memberikan cahaya matahari langsung lebih banyak.
Penderita DHF yang dirawat di rumah sakit diberikan
tempat tidur dengan kelambu.
2. Pemberantasan vector jangka panjang. Cara yang harus
dilakukan terus-menerus untuk meniadakan Ae aegypti adalh
adalah pembasmian sarang nyamuk dnegan jalan membuang
secara baik kaleng, botol, ban, dan semua yang mungkin
dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak.
3. Apabila dana saran terbatas, usaha pemberantasan vector
dapat dibantu dengan menggunakan bahan kimia.
Beberapa cara yang dapat dipakai ialah:
a. Membunuh larva dengan abate SG 1%, dosis 10 gram
untuk 100 liter air.

28
Demam Berdarah Dengue (DBD)

b. Melakukan fogging dengan malathion atau fenitrotion


dalam dosis 438 gram/Ha; dilakukan dalam rumah dan
disekitar rumah dengan menggunakan larutan 4%
dalam solar atau minyak tanah.

Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vector dianggap


cara yang paling memadai untuk saat ini. Ada 2 cara pemberantasan
vector yaitu:
1. Menggunakan insektisida
Malathion untuk membunuh nyamuk dewasa, caranya dengan
pengasapan (thermal Fogging) atau pengabutan (cold
Fogging).
Temephos (abate) untuk membunuh jentik, yaitu dengan
menaburkan bubuk abate ke dalam sarang nyamuk. Dosis 1
ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
2. Tanpa insektisida
Menguras bak mandi atau tempat penampungan air.
Menutup tempat penampungan air.
Mengubur kaleng atau botol bekas yang memungkinkan
nyamuk bersarang

H. Vaksin Dengue
Masalah yang timbul apabila vaksin dengue dipakai dalam
upaya pencehagan DHF ialah apakah hipotesis infeksi sekunder
heterolog sebagai pathogenesis terjadinya DHF juga akan terjadi
pada anak-anak yang mendapat vaksin. Kekuatiran akan
kebenaran hipotesis itu sebagian dapat dikurangi apabila
dikemudian hari suatu vaksin kuadrivalen (dibuat dari keempat
serotype virus dengue) yang mempunyai sifat virologist yang
baik. Masalh vaksin dengue mendapat perhatian khusus WHO
dan pada bulan Maret 1981 telah diselenggarakan Research
Study Group Meeting on DHF particularly with reference to
dengue vaccine development di New Delhi, India. Rekomendasi
yang dikemukakan ialah sebagai berikut:

29
Demam Berdarah Dengue (DBD)

1. Agar secepatnya dapat dibuat vaksin dengue dalam bentuk


bubuk kering dalam jumlah yang besar (lyophilized).
2. Usaha pembuatan vaksin harus disertai penelitian
epidemiologis di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat
untuk mencari orang dewasa yang tidak mempunyai
antibody NT terhadap virus dengue tipe 1-4.
3. Dalam melakukan evaluasi vaksin dengue di lapangan,
pertemuan ini menghimbau agar Negara-negara di kawasan
Asia Tenggara dan Pasifik Barat turut dalam program vaksin
dengue dan membentuk suatu badan untuk
menyempurnakan protocol penelitian vaksin dengue di
lapangan.
4. Suatu vaksin degue kuadrivalen diperkirakan baru akan
dapat dihasilkan dalam waktu sepuluh tahun.

30
Demam Berdarah Dengue (DBD)

31
Demam Berdarah Dengue (DBD)

DAFTAR PUSTAKA

32
Demam Berdarah Dengue (DBD)

1. Ilmu Kesehatan Anak 2. Balai Penerbit Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta,
1985, hal 607-621.
2. Kapita selekta Kedokteran, Jilid II, Media Aesculapius FKUI, Jakarta 2000, hal 419 427.

33