Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Rekrutmen politik merupakan salah satu fungsi partai politik yang sangat penting.
Dari fungsi inilah, estafet kepemimpinan negara dijalankan. Menemukan dan
menciptakan sosok pemimpin yang hebat melalui rekrutmen lalu pengkaderan partai
politik. Fungsi rekrutmen itu sendiri bertujuan untuk menyediakan kader-kadernya
yang berkualitas untuk ditempatkan di lembaga - lembaga legislatif seperti DPR
maupun DPRD. Setiap partai politik membutuhkan kader-kader yang berkualitas,
karena hanya dengan kader yang demikian, partai politik dapat menjadi partai yang
mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan diri.
Schattschneider menyatakan jika partai politik gagal melakukan fungsi ini aka ia
berhenti menjadi partai politik (field dan Siavelis, 2008) fungsi rekruitmen ini
menjadi fungsi eksklusif partai politik dan tidak mungkin ditinggalkan oleh partai
politik. Ia menjadi monopoli dan fungsi abadi partai politik. Pengorganisasian
masyarakat diluar partai politik tidak menjalankan fungsi rekrutmen politik,
karenanya fungsi ini sekaligus menunjukkan pembedaan paling nyata antara pertain
politik dan bukan partai politik.
Rekrutmen politik merupakan sebuah kebun rahasia politik (Gallagher, 1988) yang
menyimpan banyak misteri belum banyak yang terungkap. Oleh karena itu,
pembacaan yang teliti terhadap fenomena rekruitmen politik dapat menjelaskan
banyak hal dari dinamika politik partai (Pamungkas, 2009). Dalam makalah ini
penulis ingin mengkaji mengenai rekruitmen politik dalam Partai Keadilan Sejahtera
(PKS). PKS memiliki sistem pengkaderan yang rapi, sistematis dan menyentuh
hingga ke masyarakat bawah (grass road). PKS bukan hanya sebagai partai islam di
Indonesia tetapi juga sebagai gerakan sosial-keagamaan. PKS juga disebut sebagai
Partai Dakwah, sehingga apabila PKS bubar bukan berarti kegiatan sosial
keagamaannya hilang. Gerakan sosial keagamaan inilah yang kita kenal dengan
Tarbiyah. Kegiatan ini pula sudah mengakar didalam kalangan masyarakat dan
mahasiswa dikalangan kampus. Sehingga PKS tidak lepas dari gerakan dakwah
kampus Jamaah Tarbiyah, yang kemunculannya bisa ditelusuri sejak akhir 1970an
atau awal 1980 an. Maka jika PKs dibanding sebagian besar partai Islam lain di
Indonesia ataupun partai nasionalisme dan sekuler, maka PKS tentunya berbeda,
unik.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana model rekruitmen yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera?

1
b. Bagaimana model kaderisasi yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera?

C. TUJUAN
a. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengkaji proses rekruitmen Partai
Keadilan Sejahtera dalam lingkungan masyarakat Indonesia.
b. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menginformasikan kegiatan yang telah
dilakukan Partai Keadilan Sejahtera di lingkungan masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

Tinjauan tentang Rekrutmen Politik


1. Pengertian Rekrutmen Politik
Kajian mengenai rekrutmen politik merupakan suatu studi yang luas dan banyak
faktor yang mempengaruhi proses tersebut. Rekrutmen politik berlangsung dalam
suatu tatanan yang jelas membutuhkan keberlangsungan secara terus menerus dalam
suatu lembaga. Istilah rekrutmen lebih dikenal dalam bahasa perpolitikan, dan
kemudian diadopsi oleh partai politik seiring dengan kebutuhan partai akan dukungan
kekuasaan dari rakyat, dengan cara mengajak dan turut serta dalam keanggotaan
partai tersebut. Rekrutmen sendiri memiliki acuan waktu dalam prosesnya, seperti
dalam momentum pemilu ataupun regenerasi kepengurusan partai politik. Menurut
Ramlan Surbakti (1992:118), rekrutmen politik sebagai seleksi dan pemilihan atau
pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah
peranan dalam sistem-sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada
khususnya. Menurut fungsi ini semakin besar fungsinya manakala partai politik itu
merupakan partai tunggal seperti dalam sistem politik otoriter, atau partai mayoritas
dalam badan permusyawaratan rakyat sehingga berwenang untuk membentuk
pemerintahan dalam sistem politik yang demokratis. Fungsi rekrutmen merupakan
fungsi dari mencari dan mempertahankan kekuasaan. Selain itu fungsi rekrutmen
politik sangat penting bagi keberlangsungan partai politik.
Meninjau dari pendapat tersebut, dalam rekrutmen politik pada hakekatnya dapat
diartikan sebagai penyeleksian terhadap individu ataupun sekelompok orang dalam
penempatan jabatan politik dalam sistem politik suatu negara. Fungsi rekrutmen
tersebut dalam pengaplikasiannya diterapkan oleh partai politik disesuaikan dengan
mekanisme masing-masing. Selain hal tersebut rekrutmen politik tidak hanya untuk

2
mengisi jabatan politik semata tetapi kekuasaan yang lainnya. Dalam kaitannya
terhadap partai politik, fungsi rekrutmen merupakan bagian yang sangat vital. Hal
tersebut dikarenakan jika gagal melakukan fungsi rekrutmen politik, partai politik
terancam keberlangsungannya. Oleh sebab itu, partai politik memerlukan penyegaran
keanggotaan untuk dapat bertahan dalammempertahankan kekuasaan politiknya di
mata masyarakat
Menurut Afan Gaffar (1999 : 155), Rekrutmen Politik merupakan proses pengisian
jabatan politik dalam sebuah negara, agar sistem politik dapat memfungsikan dirinya
dengan sebaik-baiknya, guna memberikan pelayanan dan perlindungan masyarakat.
Sedangkan menurut Czudnowski (Sigit Pamungkas, 2011:91) mengartikan rekrutmen
politik sebagai proses dimana idividu dilibatkan dalam peran-peran politik aktif.
Lebih jauh, Gabriel Almond (Lily Romli, 2005:78) mengartikan fungsi rekrutmen
politik sebagai penyeleksian rakyat untuk kegiatan politik dan jabatan pemerintahan
melalui penampilan dalam media komunikasi, menjadi anggota organisasi,
mencalonkan diri untuk jabatan tertentu, pendidikan, dan ujian.
Dari pernyataan di atas, tujuan dari rekutmen politik adalah pengisian jabatan politik
dengan melibatkan partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan
politik. Rekrutmen politik juga diharapkan mampu menciptakan suatu sistem politik
yang dapat memberikan pelayanan dan perlindungan bagi masyarakat. Untuk
memperoleh hal tersebut, aktor-aktor yang berkecimpung di dalam tersebut harus
memiliki kualitas yang mumpuni serta melalui proses seleksi yang didasarakan pada
latar belakang yang jelas. Tujuannya adalah agar rekrutmen yang dihasilkan untuk
mengisi jabatan politik mampu menjadi pelayan dan pelindung masyarakat. Artinya
artikulasi kepentingan masyarakat dapat diperjuangkan.
Dalam konteks di Indonesia, sesuai dengan UU Nomor 2 tahun 2011 tentang partai
politik pasal 29, dijelaskan bahwa partai politik melakukan rekrutmen politik bagi
warga negara Indoenesia untuk pengisian jabtan politik seperti anggota partai politik,
calon anggota dewan perwakilan rakyat tingkat pusat maupun daerah, calon presiden
dan wakil presiden, serta bakal calon kepala daerah. Kemudian dalam perekrutan
tersebut harus dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan AD/ART partai
politik tersebut.
2. Pola Rekrutmen Politik
Rekrutmen politik memegang peranan penting dalam sistem politik suatu negara.
Karena proses ini menentukan orang-orang yang akan menjalankan fungsi-fungsi
sistem politik negara itu melalui suprastruktur dan infrastruktur politik. Setiap sistem
politik menganut pola rekrutmen yang berbeda-beda. Anggota yang direkrut adalah
yang memiliki suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menempati jabatan
politik di pemerintahan. Berbicara hal tersebut partai politik juga memiliki pola
rekrutmen yang berbeda-beda antara satu partai dengan partai lainnya.

3
Pola perekrutan politik disesuaikan dengan AD/ART dan kebijakan partai masing-
masing. Menurut Syamsuddin Haris (2005:8), Perekrutan anggota legislatif oleh
partai politik secara umum mencakup tiga tahap penting yakni mencakup :
1. Penjaringan calon, dimana dalam tahapan ini mencakup interaksi antara elite
partai di tingkat des/kelurahan atau ranting partai dengan elite partai di tingkat
atasnya atau anak cabang
2. Penyaringan dan seleksi calon yang telah dijaring. Tahapan ini meliputi
interaksi antara elit tingkat anak cabang dan elite tingkat kabupaten/kota atau
cabang/daerah
3. Penetapan calon berikut nomor urutnya. Tahapan ini melibatkan interaksi
antara elit tingkat cabang/daerah, terutama pengurus harian partai tingkat
cabang/daerah dengan tim kecil yang dibentuk dan diberikan wewenang
menetapkan calon legislatif.

Norris dalam Katz dan Crotty (2006:89) juga mengemukakan tiga tahap dalam
rekruitmen politik, yaitu :
1. Sertifikasi, yaitu tahap pendefinisian kriteria yang dapat masuk dalam
kandidasi. Berbagai hal yang dapat mempengaruhi tahap sertifikasi meliputi
aturan-aturan pemilihan, aturan-aturan partai, dan norma sosial informal.
2. Penominasian, meliputi ketersediaan (supply) calon yang memenuhi syarat
dan permintaan (demand) dari penyeleksi ketika memutuskan siapa yang
dinominasikan.
3. Tahap pemilu yaitu tahap terakhir siapa yang memenangkan pemilu.
Norris menggambarkan bahwa masing-masing tahap dapat dilihat sebagai permainan
progresif tangga nada musik; banyak yang memenuhi syarat, sedikit
yangdinominasikan dan sangat sedikit yang sukses.

Perlakuan partai politik terhadap keseluruhan tahap-tahap rekrutmen politik sangat


berhubungan dengan pengorganisasian partai politik. Hal tersebut melahirkan
pengelolaan partai terhadap pola rekrutmen partai politik.Biasanya cara partai
melakukan tahapan-tahapan dari rekrutmen politik tersebut mempunyai pola yang
berbeda-beda antara partai yang satu dengan partai yang lainnya. Czudnowski
(Fadillah Putra, 2007:103) mengemukakan model yang digunakan partai politik
dalam rekrutmen politik antara lain :
1. Rekrutmen terbuka

4
syarat dan prosedur untuk menampilkan seseorang tokoh dapat diketahui secara luas.
Dalam hal ini partai politik berfungsi sebagai alat bagi elit politik yang berkualitas
untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Cara ini memberikan kesempatan bagi
rakyat untuk melihat dan menilai kemampuan elit politiknya. Dengan demikian cara
ini sangat kompetitif. Jika dihubungkan dengan paham demokrasi, maka cara ini juga
berfungsi sebagai sarana rakyat mengontrol legitimasi politik para elit.
2. Rekrutmen tertutup
Berlawanan dengan cara rekrutmen terbuka. Dalam rekrutmen tertutup, syarat dan
prosedur pencalonan tidak dapat secara bebas diketahui umum. Partai berkedudukan
sebagai promotor elit yang berasal dari dalam tubuh partai itu sendiri. Cara ini
menutup kemungkinan bagi anggota masyarakat untuk melihat dan menilai
kemampuan elit yang ditampilkan. Dengan demikian cara ini kurang kompetitif. Hal
ini menyebabkan demokrasi berfungsi sebagai sarana elit memperbaharui
legitimasinya.
Berdasarkan dari pola yang dikemukakan tersebut, dapat disimpulkan partai politik
biasanya menggunakan pola-pola tersebut untuk merekrut calon legislatifnya Dalam
pelaksanaan pola-pola tersebutpun biasanya partai politik juga mempunyai metode-
metode tertentu dalam melakukan rekrutmen politiknya. Menurut Hasibuan
(2006:52), cara rekrutmen yang dilakukan oleh partai politik biasanya dikenal dengan
dua metode yakni:
1. Metode ilmiah yakni rekrutmen yang dilakukan berdasarkan pada pedoman
tertentu yang berisi tentang standar-standar tertentu
2. Metode non ilmiah yakni rekrutmen yang dilakukan dengan tidak mengacu
standar-standar tertentu, melainkan didasarkan pada perkiraan saja.
Adapun beberapa pola kecenderungan partai politik dalam melakukan rekrutmen
politik terhadap calonnya yakni sebagai berikut (Lily Romli, 2005:93) :
1. Partisan
Pendukung yang kuat, loyalitas tinggi terhadap partai sehingga bisa direkrut untuk
menduduki jabatan strategis biasanya kader internal partai
2. Compartmentalization
Proses rekrutmen yang didasarkan pada latar belakang pendidikan dan pengalaman
organisasi atau kegiatan sosial politik seseorang
3. Immediate Survival
Proses rekrutmen dilakukan oleh otoritas pemimpin partai tanpa memperhatikan
kemampuan orang-orang yang direkrut

5
4. Civil Service Reform
Proses rekrutmen berdasarkan kemampuan dan loyalitas seorang calon sehingga bisa
mendapatkan kedudukan lebih tinggi atau penting contoh non-kader namun
mempunyai kedekatan dengan partai. Dalam tahapan penetapan calon legislatif yang
akan diusung oleh partai politik. Menurut Haryanto (1982:47) terdapat beberapa
kriteria yang harus dipenuhi diantaranya adalah :
1. Pengalaman Organisasi
Pengalaman ini baik selama ia mejadi anggota partai maupun sebelum menjadi
anggota partai, karena ini merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh seorang calon
anggota parlemen dalam menjalankan roda organisasi nantinya.
2. Tingkat Pendidikan
Ditingkat pendidikan baik formal maupun informal, tingkat pendidikan berkaitan erat
dengan wawasan seseorang dalam menghadapi sesuatu masalah dan prilaku
organisasi. Akan tetapi dalam AD/RT partai manapun tidak dicantumkan kriteria
tingkat pendidikan sebagai persyaratan.
3. Pelatihan Kader atau Keterampilan Organisasi
Dimana hal ini merupakan pelatihan untuk memberikan keterampilan dan
kemampuan seorang calon anggota didalam mengelola organisasi nantinya. Dapatlah
dikatakan bahwa di setiap sistem politik terdapat prosedurprosedur untuk
melaksanakan rekrutmen atau penyeleksian, akan tetapi walaupun prosedur-prosedur
yang dilaksanakan oleh tiap-tiap sistem politik berbeda-beda satu dengan yang
lainnya, namun terdapat suatu kecendrungan bahwa individu-individu yang berbakat
yang dicalonkan untuk menduduki jabatan politik maupun jabatan pemerintahan
mempunyai latar belakang yang hampir sama, yaitu bahwa mereka berasal dari kelas
menengah atau kelas atas dan kalaupun mereka berasal dari kelas bawah tetapi
mereka merupakan orang-orang yang telah memperoleh pendidikan yang memadai.
Sedangkan menurut Leijennar dan Niemaler (Pippa Norris, 1995:77) ada beberapa
faktor yang dipertimbangkan oleh partai politik dalam menentukan calon legislatifnya
yakni sebagai berikut :
1. Karakteristik kemampuan yang meliputi: Pembicara yang baik,
mempunyai keahlian khusus, memiliki semangat dan antusias tinggi serta mempunyai
pengetahuan yang dalam terhadap isu- isu politik
2. Karakteristik yang melekat meliputi: jenis kelamin, usia, etnis dan penampilan
3. Tingkat orientasi lokal meliputi: komitmen pada daerah pilihan, popularitas
ditingkat lokal, dukungan massa partai politik dan organisasi kemasyarakatan

6
4. Agama, norma dan nilai meliputi: ketaatan beragama,kepedulian, dan kestabilan
dalam kehidupan rumah tangga
5. Pengalaman politik meliputi: pengalaman politik dan pengalaman sebagai pekerja
partai.

3. Cara-Cara Rekruitmen
Berdasarkan tentang pendapat diatas mengenai tahapan dan pola rekrutmen politik,
dapat disimpulkan jika proses rekrutmen bukan hanya sekedar menyeleksi dan
menempatkan nama-nama orang atau kandidat. Tapi lebih penting dari itu adalah
sejauh mana kandidiat yang dipromosikan tersebut memiliki kompetensi dan
kapabilitas dalam mengemban tugas partai dan amanah para rakyat pemilih.
Cara-cara yang ditempuh oleh partai politik tersebut dengan cara seperti :
1. Seleksi pemilihan melalui ujian dan pelatihan.
Ujian dan latihan merupakan bentuk rekrutmen yang paling umum. Biasanya
dilakukan untuk mengisi jabatan-jabatan birokrasi dan administrasi. Sistem
perekrutan jenis ini juga dilakukan oleh partai politik, seperti di Indonesia disebut
pendidikan kader partai melalui latihan.
2. Seleksi melalui rotasi atau giliran.
Motode ini dibuat untuk mencegah dominasi terhadap sebuah jabatan atau posisi
berkuasa oleh orang atau kelompok tertentu.Seleksi ini disebut juga dengan sistem
perekrutan bergilir. Selain untuk menghindari dominasi, sistem seleksi ini diterapkan
pada format kepemimpinan kolektif atau dalam bentuk masyarakat yang memiliki
pengelompokan politik yang sangat kental, sehingga untuk menghindari terjadinya
konflik atau untuk menjaga stabilitas politik, seperti pemerintahan.
3. Seleksi melalui perebutan kekuasaan.
Metode ini digunakan pada sistem politik yang menggunakan kekerasan dalam
melakukan perebutan kekuasaan. Akibat yang paling nyata dari metode ini pergantian
para pemegang jabatan politik dan perubahan pada personel birokrasi secara total.
4. Seleksi dengan cara patronage.
Patronage adalah sebuah sistem yang sampai pada saat ini masih dilakukan di
Negara-negara berkembang. Sistem ini pertama kali berkembang di Amerika Serikat
dan Inggris. Patronage merupakan sebuah sistem penyuapan dan sistem korupsi yang
rumit, yang banyak terjadi dalam banyak bidang kehidupan masyarakat di kedua
Negara tersebut. Sistem ini cukup kuat dalam mempengaharui pelaksanaan kekuasaan
politik melalui berbagai taraf pengontrolan terhadap hasil pemilihan umum dan

7
sarana perekrutan politik. Hal ini menyebabkan untuk memasuki sebuah jabatan
birokrasi, tiap orang harus melalui sistem patronage ini. Dalam sistem ini kenaikan
jabatan dapat dibeli dengan memberikan imbalan-imbalan kepada orang tertentu.
Maka motode ini tidak dapat menjamin kemampuan seseorang dalam memegang
sebuah jabatan posisi tertentu.

BAB III
STUDI KASUS DAN ANALISIS

MODEL KADERISASI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA


A. Program Kerja Bidang Kaderisasi DPW PKS
Program kerja bidang kaderisasi DPW PKS merupakan kegiatan yang dilakukan
setiap tahun. Program ini guna meningkatkan kinerja pembinaan kader yang ada di
DPW PKS, berikut ini merupakan tabel program kerja kaderisasi DPW PKS :
Tabel 3 : Program Kerja Bidang Kaderisasi DPW PKS Tahun Anggaran 2012.
No. DAFTAR KEGIATAN FREKUENSI
1. Nadwah/Diskusi DPTW, Pengurus, Fraksi, Pejabat 1x/6 bln
Publik, DPD
2. Nadwah Ketua Unit Pembinaan Kader 1x/6 bln
3. Mabit DPTW, Pengurus, Fraksi, Pejabat Publik, DPD 1x/3bln
4. Mabit Ketua Unit Pembinaan Kader (UPK) 1x/3bln
5. Jalsah Ruhiyah Ketua Unit Pembinaan Kader Perempuan 1x/3bln
6. Peningkatan Mutu Ketua Unit Pembinaan Kader 1x/6 bln
7. Mukhayam Kader Inti (MPKM 1, 2 dan MPKL) 1x/thn
8. Rihlah DPTW, Pengurus, Fraksi, Pejabat Publik, DPD 1x/thn
9. Rihlah Ketua Unit Pembinaan Kader 1x/thn
10. Supervisi dan Monitoring Unit Pembinaan Kader 1x/bln
11 Talaqqi Madah untuk Muwajjih UPK 1x/6 bln
12 Multaqo Alumni Mukhayam Al Quran 1x/6bln
13 Musabaqoh Hifdzil Quran 1x/thn
14 Penyusunan Rencana Materi Tarbiyah per Jenjang 1x/thn
15 Daurah I'dad UPK 1x/thn
16 Sekolah UPK 1x/thn
17 Daurah Rekruitmen oleh Partai (TOP) Tokoh Provinsi 1x/thn
18 Pelantikan Anggota PKS 1x/6 bln
19 Koordinasi dan Monitoring Rekruitmen Bidang & Wajihah 1x/3bln
20 Monitoring Rekruitmen Kader Baru oleh DPD 1x/bln

8
21 Workshop Rekrutmen Wilayah 1x/thn
22 Pendampingan Workshop Rekrutmen Daerah 1x/bln
23 Sosialisasi Program Intensifikasi Anggota Pemula 1x/thn
24 Rekrutmen Award DPW 1x/thn
25 Rapat Pekanan Bidang Kaderisasi 1x/pkn
26 Multaqo Tarbawi 1X/thn
27 Rakorwil Bidang Kdaerisasi 1x3bln
28 Jaulah Pendampingan Kaderisasi Daerah 1x/bln
29 Rakor BPH DPW 1x/2pkn
30 Rekapitulasi dan Pelaporan Rutin Bulanan 1x/3bln
31 Penyusunan Laporan Pelaksanaan Program Tahunan Kdr 1x/3bln
Sumber : DPW PKS Provinsi Lampung, Program Kerja Kaderisasi Tahun 2012

Berdasarkan tabel di atas bahwa program kerja bidang kadersasi DPW PKS
melakukan beberapa kegiatan kaderisasi yang dilakukan setiap pertemuan pekan ,
bulan dan tahun. Kegiatan yang dilakukan setiap rutin yaitu Talim Rutin Partai dan
kegiatan yang dilakukan setiap tahunnya adalah Mukhayam Pandu Keadilan.
PKS dapat disebut juga partai kader, karena terdapatnya pembinaan kader di tiap-tiap
waktu rutin. Pendidikan dan pelatihan pengkaderan di PKS yaitu terdiri dari kader
pemula, muda, madya, dewasa, ahli dan purna. Seperti yang diungkapakan oleh Mufti
Salim:
Masing-masing perjenjangan terdapat indikator yang harus dicapai, semua
terbingkai dalam Kapasitas dan Integritas. Jika seorang kader menjadi anggota muda
dari pemula, maka dipastikan melakukan meningkatkan Kapasitas dan Integritas
tersebut, sarana terdiri dari TRP (Talim Rutin Partai) dan Mukhayam Pandu
Keadilan.
1 Hasil wawancara dengan Hi. Ahmad Mufti Salim, 1 Desember 2012, Pukul 17.20
WIB di DPW PKS
Talim Rutin Partai (TRP) adalah program pendidikan dan pelatihan pengkaderan
PKS yang dilakukan secara rutin setiap minggu. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ada
salah satu program yang berupa Talim Rutin Partai (TRP) yaitu pengajian, tadarus Al
Quran, musyawarah dan tausiyah. Tausiyah itulah sebagai upaya saling menasehati
dan menguatkan antara satu kader dengan yang lainnya.
TRP itulah kemudian muncul agenda-agenda dakwah, untuk perbaikan diri dan
agenda untuk perbaikan masyarakat yang perlu dikomunikasikan dengan masyarakat
luas. Hal ini selalu PKS lakukan karena PKS adalah partai kader dan PKS adalah
partai dakwah. Pengajian yang diadakan kader PKS yang dianggap ekslusif dan
hanya diikuti kaum terpelajar saja, sebenarnya tidak demikian. Dalam manhaj

9
dakwah PKS dikenal adanya marhalah (tahapan) tarbiyah. Ada yang bersifat talim,
takwin dan tanzhim.
Marhalah (tahapan) Talim adalah pengajian umum yang dapat diikuti oleh semua
orang, baik kader maupun non kader PKS. Pesertanya pun bebas, mulai dari kalangan
pelajar dan mahasiswa maupun masyarakat biasa, seperti buruh, karyawan dan lain
sebagainya. Latar belakang pendidikan pesertapun berbeda, mulai yang tidak pernah
sekolah hingga yang sudah kuliah. Materi yang diajarkannya pun tentang keislaman,
seperti aqidah, fiqih, tafsir, hadits dan isu kontemporer lainnya. Dalam marhalah
(tahapan) talim ini, bisa berupa pengajian rutin, seminar, bedah buku, sarasehan,
mabit dan lain sebagainya. Takwin, maknanya adalah pembentukan. Yang dimaksud
pembentukan disini adalah pembentukan karakter Islami. Pesertanya adalah mereka
yang ingin menjadi muslim yang baik dan berkarakter Islami. Jadi siapapun boleh
mengikuti pengajian model ini. Materinya pun sama dengan talim di atas hanya
ditambah dengan sekelumit fiqih Dakwah (Ilmu dakwah). Selain itu peserta dipantau
tentang perilaku sehari-harinya dalam sepekan.
Mulai dari frekwensi sholat berjamaah di masjid, target kuantitas dan kualitas tilawah
quran, qiyamullail, puasa sunnah, wirid doa matsurat, akhlaknya kepada keluarga
dan tetangga dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan karena tujuan marhalah (tahapan)
ini adalah membentuk karakter yang Islami dengan cara menghidupkan ibadah fardhu
dan sunnah serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari peserta. Tanzhim, maknanya
adalah pengorganisasian. Maksudnya adalah memasukkan para peserta yang sudah
baik karakter keislamannya di marhalah Takwin sebagai kader dakwah aktif (kader
PKS). Misalnya; sholat berjamaahnya sudah rajin, tilawahnya mencapai target dalam
setiap harinya, sholat dhuha dan tahajjudnya dalam sepekan sudah baik, maka mereka
diajak untuk ikut berdakwah dan menjadi kader dakwah. Materi yang diberikan
adalah selain materi seperti yang terdapat pada marhalah (tahapan) Talim dan
Takwin, juga diberikan materi yang berhubungan strategi dakwah serta pembekalan
tentang keorganisasian PKS. Pengajian pada marhalah (tahapan) ini biasa disebut
dengan TRP (Talim Rutin Partai).
Mukhayam Pandu Keadilan adalah aktivitas luar yang kaitannya dengan ketahan
fisik, pola pikir, keilmuan dan spiritual untuk meningkatkan kapasitas dan integritas
kader. Terdiri dari Mukhayam pandu keadilan dasar, menengah, lanjut, tinggi dan ahli
sesuai dengan tingkatannya. Mukhayam merupakan kata yang diambil dari bahasa
Arab yang artinya perkemahan. Mukhayam atau Ribatul jihadiyah, yang dapat
membentuk kita menjadi insan yang bersungguh- sungguh dalam dakwah sangat
penting. Mukhayam menjadi suatu kewajiban yang tingkatannya sama dengan
kewajiban liqo, tatsqif, dauroh, mabit dan sarana tarbiyah lainnya. Tidak perduli tua
atau muda, senior atau pun pemula. Dan Mukhayam pun harus ditunaikan baik dalam
kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun susah. Hal ini
berarti Mukhayam sama kedudukannya dengan sarana tarbiyah yang lain dan wajib

10
dilaksanakan dalam proses tarbiyah, hanya berbeda fungsi, muatan dan teknis
pelaksanaannya. Halaqah, tatsqif merupakan kewajiban pekanan. Daurah, ta'lim,
mabit dan rihlah merupakan kewajiban bulanan atau beberapa bulanan. Sedangkan
Mukhayam merupakan kewajiban tahunan. Mukhayam tidak bisa digantikan oleh
perangkat tarbiyah lainnya. Sepanjang sejarah jamaah, Mukhayam merupakan
perangkat yang sangat menonjol dan selalu dibutuhkan oleh perangkat tarbiyah
lainnya. Bahkan Mukhayam disebut oleh para masyayikh sebagai mukammilut
tarbiyah karena menyempurnakan perangkat-perangkat tarbiyah lainnya.
Sebagai sarana tarbiyah Mukhayam berfungsi sebagai: Sarana tajammu', tarbiyah dan
tadribah kader dengan Mukhayam para kader dapat berkumpul untuk berinteraksi,
saling mengenal, saling memahami, bekerja sama dan saling menolong. Para peserta
juga mendapatkan shibghah Islami, melatih disiplin, melatih berbagai ketrampilan
maupun keahlian yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
kondisi-kondisi tertentu.
Mukhayam bukan hanya kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan yang perlu diikuti para
kader-kader karena nilai-nilai positif yang didapat di dalamnya, di antaranya adalah:
a. Rekreatif
Latar belakang Mukhayam adalah kelompok rihlah sehingga syarat muatan rihlah,
hiburan dan penyegaran.
b. Edukatif
Mukhayam mengandung aspek-aspek pendidikan berupa aspek afektif (pengetahuan),
aspek kognitif (sikap) dan psikomotorik (perilaku). Instruktur Mukhayam sudah lulus
diklat TFT Pandu Keadilan, mengusai teori dan mempunyai fisik yang teruji.
Mukhayam bukan perploncoan. Mukhayam juga tidak dengan 'iqab (hukuman).
c. Mengeratkan ukhuwwah
Mukhayam bukan sekedar berkumpul, tetapi menjalin simpul-simpul ukhuwwah
sesama peserta di dalam maupun di luar regu / kelompok pembinaannya.
d. Menyehatkan
Mukhayam menyehatkan akal, fisik dan ruh. Mukhayam merupakan shibghah dan
stimulan agar para peserta menindaklanjuti dengan pembiasaan muatan-muatannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya Mukhayam akan menghasilkan kader yang cerdas, bertaqwa, sehat,
bugar, kuat, trampil, peka sosial, mampu membela diri sendiri, membela orang lain
dan mempunyai daya juang yang tinggi untuk menegakkan kebenaran kapanpun dan
di manapun berada.

11
Oleh karena itu Mukhayam merupakan kegiatan yang sangat penting karena pada
akhirnya semua ibadah dan kewajiban manusia tidak akan dapat tertunaikan secara
sempurna kecuali dengan keimanan, pengetahuan, ketaqwaan dan kekuatan fisik yang
prima.

B. Model Kaderisasi pada PKS


Sistem pengkaderan yang dilakukan oleh PKS berjenjang dengan mengikuti pelatihan
yang bertingkat dan mempunyai pengawasan yang ketat. Hal ini dilakukan agar
memiliki akhlak serta karakter yang Islami di tengah masyarakat sebagaimana yang
diharapkan partai. Hal ini diungkapkan oleh beberapa struktur pengurus DPW PKS :
Kita ada perjenjangan kader yang hierarkhi, tetapi juga ada unsur keahliannya, harus
menggabungkan keduanya. Perjenjangan ini tidak lepas dari keahlian untuk sampai
jenjang tertentu yang lebih tinggi harus memiliki keahlian kader.
Proses perjenjangan tersebut dilakukan secara bertahap atau berjenjang tetapi
perjenjangan itu dilihat juga keahlian dimasing-masing bidang kader.
Bedasarkan kedua pendapat di atas, dapat dilihat bahwa model kaderisasi yang
dilakukan PKS yaitu dengan cara model kaderisasi berdasarkan campuran/kombinasi
dari dua model hirarkhi/bertahap dan spesialisasi/keahlian, model ini bisa disesuaikan
dengan kebutuhan fungsifungsi partai yang akan dijalankan dalam struktur organisasi
partai. Model hirarkhi adalah perjenjangan kaderisasi berdasarkan pelapisan yang
bertahap. Model kaderisasi secara hirarkhi/bertahap yang dilakukan Partai Keadilan
Sejahtera yaitu dengan berdasarkan peraturan yang ada dalam AD/ART PKS.
Tahapan itu terdiri dari Anggota Pemula, Anggota Muda, Anggota Madya, Anggota
Dewasa, Anggota Ahli dan Anggota Purna. Masingmasing jenjang melakukan
pentahapan materi kaderisasi sebagai jenjang kader.
Sedangkan pada model spesialisasi/keahlian didasarkan pada fungsi pengolaan partai
yang membutuhkan keahlian khusus sehinggga materi kaderisasi lebih menonjolkan
sisi keahlian tertentu yang harus dimiliki kader partai. Seperti yang terdapat dalam
struktur kepengurusan partai, terdapat pada bidang masing-masing kader.
1. Model Kaderisasai Secara Bertahap
Jenis dan jenjang kaderisasi keanggotaan DPW Partai Keadilan Sejahtera diatur
dalam AD/ART pada Bab V pasal 11, yang berbunyi :
a. Anggota Pendukung, yang terdiri dari:
1) Anggota Pemula, yaitu mereka yang mengajukan permohonan untuk menjadi
anggota partai dan terdaftar dalam keanggotaan partai yang dicatat oleh Dewan
Pengurus Cabang (DPC) setelah lulus mengikuti Training Orientasi Partai (TOP).

12
2) Anggota Muda, yaitu mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang
dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan setelah lulus mengikuti
pelatihan partai tingkat dasar satu. Anggota Inti, yang terdiri dari:
1) Anggota Madya, yaitu mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang
dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan setelah lulus mengikuti
pelatihan partai tingkat dasar dua.
2) Anggota Dewasa, yaitu mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang
dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan setelah lulus mengikuti
pelatihan kepartaian tingkat lanjut.
3) Anggota Ahli, yaitu mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang
dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan setelah lulus mengikuti pelatihan
kepartaian tingkat tinggi.
4) Anggota Purna, yaitu mereka yang terdaftar dalam keanggotaan partai yang
dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan setelah lulus mengikuti pelatihan
kepartaian tingkat ahli.
c. Anggota Kehormatan, yaitu mereka yang berjasa dalam perjuangan partai, yang
dikukuhkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP).
Berdasarkan perjenjangan model kaderisasi yang terdapat dalam AD/ART DPW
Partai Keadilan Sejahtera yaitu terdapat anggota pemula, muda, madya, dewasa, ahli,
dan purna. Masing-masing perjenjangan kaderisasi terdapat materi pembinaan kader
dalam Unit Pembinaan Kader (UPK) yang terdiri dari anggota pendukung, anggota
muda, dan anggota dewasa.

1.1 Pelatihan Tahapan Kaderisasi Anggota Pendukung


Anggota pendukung merupakan anggota kader pemula, salah satu kegiatan partai
yang dapat menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi, bentuk tersebut disebut
TOP (Training Orientasi Partai), yaitu memasukkan visi misi partai, tujuan partai
serta aksi partai dengan tujuan mengenalkan partai secara sekilas pada masyarakat.
Diungkapkan oleh Qomiruddin Imron, yaitu : Kita namakan TOP (Training
Organisasi Partai) itu adalah pengenalan awal yang tidak berhenti, tetap berjalan
terus, bentuk kegiatannya yaitu Daurah, Rihlah, Seminar dan Tabligh akbar. Daurah,
yaitu bentuk aktivitas yang menekankan pada pengayaan wawasan atau pengetahuan.
Kegiatan ini guna mengumpulkan calon kader dalam suatu tempat untuk
mendengarkan ceramah, kajian dan pelatihan suatu masalah dengan mengangkat tema
tertentu yang dirasa penting dalam keberlangsungan dakwah. Contohnya mengisi
ceramah pada acara halal bi halal pada suatu komunitas tertentu, memberi kajian
tentang Ramadhan dan sebagainya.Rihlah, yang artinya perjalanan untuk memberikan

13
tekanan pada pembinaan fisik, dengan tujuan kebugaran tubuh, melatih disiplin,
refreshing memperbaharui mental dan semangat, bersabar serta bekerja sama.
Seminar, kegiatan ini memiliki tujuan sosialisasi pemikiran. Bentuk kegiatan ini
seperti seminar kanker rahim, KB, Posyandu dan lain-lain.Tabligh akbar, yaitu
ceramah umum tentang suatu kasus tertentu yang melibatkan jumlah massa yang
banyak dan biasanya diselenggarakan secara temporer.
Bentuk aktivitas yang disebutkan di atas merupakan pengenalan awal dalam
pembinaan kader yang disebut TOP (Training Organisasi Partai), untuk lebih jelasnya
dapat dilihat melalui tabel berikut ini :
Tabel 4 : Materi Pembinaan Kader PKS dalam Unit Pembinaan Kader (UPK)
Anggota Pendukung.
NO JUDUL MATERI
1 Memahami AD/ART PKS
2 Iman Kepada Allah
3 Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
4 Iman Kepada Kitab-kitab Allah
5 Iman Kepada Rasul-rasul Allah
6 Iman kepada hari Qiyamat
7 Iman Kepada Taqdir baik dan buruk
8 Maulid Nabi Muhammad SAW
9 Psikologi Remaja
10 Do'a untuk Istri dan Anak
11 Hakekat Kemerdekaan RI
12 Meneladani Sosok Kartini
13 Rasulullah Profil yang terbaik
14 Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW
15 Nuzulul Qur'an
16 Membaca Al Qur'an
17 Memperbaiki Bacaan Al Qur'an
18 Memperbaiki Bacaan Shalat
19 Merutinkan Shalat berjama'ah di Masjid
20 Mulai menjalankan shalat sunnah Rawatib dan Dhuha
21 Melatih Shalat Malam
22 Melatih berpuasa sunnah
23 Pentingnya Bersilaturahmi
24 Menghormati yang Tua dan menyayangi yang Muda
25 Shalat Jama' dan Qashar
26 Menjadi Pribadi yang Tidak sombong dan Takabur
27 Pentingnya berinfaq, zakat, dan shedakah
28 Menunaikan Rukun Islam yang ke-5, berhaji
29 Penyelenggaraan Jenazah

14
30 Training Orientasi Partai (TOP)
Sumber : DPW PKS Provinsi Lampung, Materi Pembinaan Kaderisasi Tahun 2012.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa materi pembinaan kader PKS dalam
Unit Pembinaan Kader (UPK) Anggota Pendukung yang pertama kali dilakukan
adalah memahami AD/ART PKS. Setelah kader PKS tertarik dengan adanya visi dan
misi PKS, kader dibina melalui Training Orientasi Partai (TOP).
Pentahapan materi tersebut terlihat bahwa anggota pendukung setiap kader dibina
agar memiliki karakter kader, karena melalui proses kaderisasi ini bisa berguna bagi
salah satu persyaratan untuk meniti jenjang karir berikutnya. Jika pembinaan kader
ini telah lolos maka seorang kader dapat dipertimbangkan naik jenjang menjadi
anggota muda atau melakukan pelatihan partai tingkat dasar satu.
Materi yang dibina anggota pendukung merupakan pengenalan Islam yang sesuai
dengan ideologi partai ini. Pembentukan karakter yang sesuai dengan visi dan misi
partai ini dapat membentuk kader yang berkulaitas. Seperti dalam materi yang
dibahas anggota pendukung, jika kader tertarik dalam pembinaan ini maka kader
dapat menjadi anggota muda yang akan dinilai dalam bidang pengkaderan.
Pembinaan kader ini agar dapat memunculkan kader yang berkualitas serta dapat
berkompetensi dalam kepemimpinan partai.
1.2 Pelatihan Tahapan Kaderisasi Anggota Muda
Anggota muda merupakan anggota yang telah lolos mengikuti pelatihan TOP
(Training Orientasi Partai) serta mengikuti pelatihan partai tingkat dasar satu. Materi
Pembinaan Kader PKS dalam Unit Pembinaan Kader (UPK) Anggota Muda yaitu :
Tabel 5 : Materi Pembinaan Kader PKS dalam Unit Pembinaan Kader (UPK)
Anggota Muda.
.
NO. JUDUL MATERI
1 Tafsir Surat 'Abasa
2 Tafsir Surat Al Buruuj
3 Silaturahim
4 Kisah Nabi Muhammad SAW / Siroh Nabawiyah
5 Isra Mi'raj
6 Hijrah
7 Mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshar

15
8 Tarbiyah Islamiyah
9 Tarbiyah Dzatiyah (mandiri)
10 Fadhail Dakwah (Keutamaan Dakwah)
11 Quwatul Maal (Kekuatan Harta)
12 Keseimbangan Dunia dan Akhirat
13 Membina Kemuliaan Islam
14 Dekadensi moral di umat
15 Membentuk Kepribadian Da'i
16 Fiqh Da'wah
17 Masa depan milik Islam
18 Kelezatan Iman
19 Keberhasilan Ibadah
20 Loyalitas dalam islam
21 Adab terhadap Tetangga
22 Membentuk Kepribadian islam
23 Akhlaq yang baik
24 Jangan suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
25 Hak Ibu
26 Kewajiban Orang tua terhadap anak
27 Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah
28 Menunaikan Amanah
29 Istiqomah
30 Malu
31 Adab berbicara dan mendengar
32 Menjaga Kebiasaan baik
33 Dzikir dan kutamaannya
34 Taubat dan Istighfar

16
35 Menutup Aurat
36 Menjaga pandangan
37 Urgensi Pembentukan keluarga
38 Karakter rumah tangga islami
39 Sarana membangun rumah tangga
40 Tafsir Surah Al Insan
41 Tafsir Surah An Nabaa
42 Tafsir Surah An Naaziaat
43 Tafsir Surah Al Mursalaat
44 Tafsir Surah At Takwiir
45 Tafsir Surah Al Infithaar
46 Tafsir Surah Al Muhtoffifiin
47 Tafsir Surah Al Insyiqoq
48 Tafsir Surah At Thaariq
49 Fiqh Zakat
50 Fiqh Shoum
51 Fiqh Haji
52 Fiqh Zakat
53 Pengantar Ilmu Fiqh
54 Lanjutan Hadits Arbain An Nawawiyah
55 Training Orientasi Partai (TOP)
56 Memahami AD ART PKS
Sumber : DPW PKS Provinsi Lampung, Materi Pembinaan Kaderisasi Tahun 2012.

Berdasarkan tabel di atas bidang pembinaan kaderisasi melaksanakan program


kegiatan training dasar satu. Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk
meningkatkan kesadaran dan pemahaman politik kader muda PKS sehingga memiliki
karakter yang jujur dan demokratis dan siap berjuang untuk rakyat, disamping itu

17
tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan konsolidasi internal agar PKS mampu
bergerak cepat, keras, dan tuntas.
Membentuk kader yang baik menjadi salah satu fokus utama struktur PKS melalui
bidang kaderisasi guna terus berusaha meningkatkan jumlah kader partai serta
meningkatkan kualitas pemahaman politik. Demokrasi, dan kepartaian yang utuh
pada semua level kader. Kegiatan training dasar satu ini diisi dengan serangkaian
materi yang akan diberikan kepada kader, mulai dari memahami AD/ART PKS,
membentuk kepribadian Islam, serta tafsir surat Al-Quran.
Pembinaan kader yang dilakukan anggota muda dapat membentuk kepribadian kader
yang berkualitas. Dengan dilakukannya pembinaan kader yang rutin, maka kader
PKS dapat meningkatkan integritas dan kapasitas kader. Pembinaan ini agar
terbentuknya kader yang militant terhadap partai, maka kader muda dibina dengan
materi yang sesuai dengan ideologi partai. Materi yang dilakukan anggota muda ini
sebagian besar menganut ajaran Islam. Pembinaan yang seperti ini dapat
memunculkan pemimpin dari internal partai.
1.3 Pelatihan Tahapan Kaderisasi Anggota Dewasa
Anggota dewasa merupakan anggota kader yang telah lolos pelatihan partai tingkat
dasar satu dan tingkat dasar dua. Anggota dewasa melakukan pelatihan kepartaian
tingkat lanjut yang dibuina dalam Unit Pembinaan Kaderisasi (UPK) DPW Partai
Keadilan Sejahtera. Berikut tabel materi pembinaan anggota dewasa :

Tabel 6 : Materi Pembinaan Kader PKS dalam Unit Pembinaan Kader


(UPK) Anggota Dewasa.
NO. JUDUL MATERI
1 Tafsir Surat Al-Mujadilah
2 Hadits Arbain An Nawawiyah No: 17 (Ihsan)
3 Pilar-pilar Rumah Tangga
4 Pilar-Pilar Kebangkitan umat
5 Fiqh Dakwah
6 Tafsir Surat Al-Hasyr
7 Hadits Arbain An Nawawiyah nomor 21: Istiqamah
8 Tafsir Surat Al-Mumtahanah
9 Tafsir Surat Ash-Shaff

18
10 Tafsir Surat Al-Jumu'ah
11 Tafsir Surat Al Munaafikuun
12 Tafsir Surat Ash Shof
13 Aqidah salafiyah
14 Iman Kepada yang ghaib
15 Tafsir Surat Al Munaafikuun
16 Melihat Neraka di depan mata
17 Mellihat syurga di depan mata
18 Mendahulukan orang lain dari pada dirinya sendiri (Itsar)
19 Adab dalam sebuah Majelis Taklim
20 Memahami Dinamika Iman
21 Meningkatkan keshabaran
22 Mendahulukan Syuro dari pada ijtihad pribadi
23 Mendekatkan diri kepada Allah dan pandai mengevaluasi Diri
24 Hidup dibawah naungan Al Qur'an
25 Perbaikan Diri
26 Sistem Pemerintahan
27 Syuro
28 Sistem Politik
29 Belajar Bahasa Arab
30 Pengendalian Diri
31 Membangun Persaudaraan
32 Dermawan dan murah hati
33 Takabur dan sombong
34 Kontribusi Muslimah dalam membangun umat
35 Manajemen Waktu
36 Belajar mandiri dan membaca efektif

19
37 Kepribadian pemimpin Eksekutif
38 Pengenalan dasar ushul Fiqh
39 Pengenalan dasar istilah Musthalahah Hadits
40 Biograwi perawi hadits
41 Training Orientasi Partai (TOP)
42 Memahami AD ART PKS
Sumber : DPW PKS Provinsi Lampung, Materi Pembinaan Kaderisasi Tahun 2012.

Berdasarkan tabel di atas bahwa kader anggota dewasa basis pembinaan yang
berkelanjutan dari pembinaan kader anggota muda. Anggota dewasa melakukan
pembinaan mempelajari tafsir surat dan hadits yang ada dalam Islam. Anggota
dewasa juga melakukan pembinaan materi sistem pemerintahan, sistem politik, dan
kepribadian pemimpin eksekutif. Pembinaan kader mempelajari materi sistem
pemerintahan dan sistem politik yang sesuai dengan sistem politik dan pemerintahan
yang ada di Indonesia, serta sesuai dengan visi dan misi partai tersebut.
Pembinaan tersebut bahwa kader anggota dewasa telah mempersiapkan kadernya
untuk memunculkan pemimpin dari internal partai. Pembentukan karakter kader
anggota dewasa ini telah dibina dari awal kader menjadi anggota pemula. Dari
anggota pemula telah diberi materi kader yang sesuai dengan ideologi partai.
Kemudian kader dibentuk karakter kader yang sesuai dengan integritas dan kapasitas
kader. Dari materi yang dibina dapat terlihat kader yang akan dijadikan sebagai calon
pemimpin dari internal partai. Calon pemimpin dari internal partai benar-benar
terpilih sebagai kader yang mempunyai kualitas. Kualitas kader dapat terlihat melalui
penilaian pada masing-masing kader.
Penilaian tersebut melalui bidang kaderisasi yang ada di DPW PKS. Berdasarkan
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan kader ini sangat berguna
untuk kebutuhan kader-kader partai yang siap menjadi aktivis partai, baik sebagai
pengurus, calon-calon pejabat publik atau pun sebagai pekerja partai dalam hubungan
kerja-kerja partai terhadap konstituen maupun dengan publik luas. Untuk itu
kaderisasi selain mencakup pembentukan karakter, sikap dan komitmen untuk
menegakkan kebebasan dalam wadah demokrasi, kaderisasi juga didesain untuk
membekali para kader dengan berbagai keterampilan. Seperti yang dilakukan dalam
pembinaan kader anggota dewasa ini telah melakukan pembentukan kepribadian
pemimpin dalam sistem pemerintahan dan sistem politik yang adan di Indonesia.
2. Model Kaderisasi Secara Keahlian

20
Jenjang kaderisasi juga disusun dengan model yang berbasis spesialisasi atau
keahlian tertentu yang harus dimiliki oleh seorang kader untuk dapat terlibat secara
aktif sebagai aktivis partai politik. Model ini didasarkan pada rasionalisasi adanya
beragam fungsi dalam pengelolaan partai yang membutuhkan keahlian khusus
sehingga materi-materi kaderisasi lebih menonjolkan sisi keahlian tertentu yang harus
dimiliki kader partai. Seperti keahlian yang dimilki tiap masing-masing pada struktur
organisasi PKS, contohnya keahlian pada bidang pengkaderan, keahlian pada bidang
kebijakan publik, keahlian pada bidang pembangunan keumatan, keahlian pada
bidang perempuan, keahlian pada bidang pengembangan ekonomi dan keahlian pada
bidang kepemudaan. Masing-masing keahlian tersebut dimiliki pada kader untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan pada perjenjangan kaderisasi PKS.
Diungkapkan oleh Mufti Salim, yaitu :
Terdapat perjenjangan keahlian dalam pengkaderan, seperti terdapat pengkaderan
anggota pengurus strukturnya itu biasanya sesuai dengan kebutuhan kapasitas yang
sesuai dengan bidangnya masingmasing.
Selain itu, pembentukan kualitas kader juga dilakukkan melalui tadrib wa taujih
alamal atau pelatihan dan pengarahan kerja di berbagai bidang. Seorang murabbi
berkeharusan untuk melatih dan mengarahkan para mutarabbi-nya untuk terlibat
dalam amal daawi (kerja dakwah), amal ilmi (kerja akademik), amal mihani
(kerja profesi), amal iqtishadi (kerja ekonomi), amal siyasi (kerja politik), amal
ilami (kerja media dan informasi), amal ijtimai (kerja kemasyarakatan), dan lain
sebagainya.
Sehingga setiap kader bukan saja berkualitas secara normatif-teoritis tetapi juga
berkualitas secara praktis-aplikatif. Dakwah ini akan berhadapan dengan peluang dan
sekaligus tantangan yang besar. Peluang itu berupa terbukanya lahan-lahan dakwah di
berbagai bidang, baik dalam ruang masyarakat maupun lembaga-lembaga swasta dan
pemerintahan. Ekspanssi dakwah ini membutuhkan ketersediaan kaderkader dakwah
dalam jumlah banyak, yang memilki keunggulan normative dan aplikatif.
Kemampuan jajaran kader melakukan ekspansi dakwah, meyebarkan fikrah,
memperluas pengaruh dan membangun kepemimpinan di masyarakat akan
menentukan keberhasilan misi dakwah di mihwar muassasi ini.
Jenjang kaderisasi secara keahlian meliputi pelatihan gender, pelatihan berkampanye,
dan pelatihan penggalangan dana. Bentuk pelatihan ini berguna untuk menempati
jabatan-jabatan publik, mengorganisir dan memobilisasi massa pendukung, jembatan
komunikasi antara partai dengan pendukung, publik luar dan media massa, serta
kemampuan penggalangan dana. Dengan adanaya keahlian yang dilakukan seperti ini,
PKS dapat memaksimalkan kadernya dalam meningkatkan integritas dan kapasitas
masing-masing kader.

21
Kebijakan tentang pendidikan dan pelatihan politik dari PKS lebih bersifat responsif
gender karena PKS telah memberikan kesempatan kepada perempuan dari tingkat
kabupaten sampai tingkat kecamatan untuk ikut aktif dalam kegiatan pendidikan dan
pelatihan politik. Materi-materi yang pernah disampaikan pada pendidikan dan
pelatihan politik di masing-masing partai terpilih juga masih belum mengarah ke
pengarusutamaan gender di bidang politik. Meskipun demikian, secara implisit PKS
telah berusaha untuk menyampaikan hal-hal yang mengarah ke pengarusutamaan
gender di setiap materi yang disampaikan. Dalam pelaksanaan pendidikan dan
pelatihan politik, jumlah kader partai yang perempuan masih menempati posisi
minoritas, yaitu 32,43% di PKS. Jumlah yang sedikit itu tidak menghalangi mereka
untuk berpartisipasi aktif dengan bertanya maupun mengemukakan pendapat dalam
pendidikan dan pelatihan politik tersebut. Kegiatan pendidikan dan pelatihan politik
dapat dilakukan dalam bentuk seminar, training, workshop, pelatihan, diskusi,
sarasehan maupun pembuatan buku, paper, leaflet yang disesuaikan dengan anggaran
dana yang ada di masing-masing partai politik.
C. Kualitas Kader PKS
PKS tidak memiliki target khusus untuk menilai kualitas kader. Dalam menjalankan
tugas untuk berdakwah, PKS memiliki tim yang bertugas menguji kualitas kader.
Ujian yang dalam bentuk pelatihan-pelatihan tersebut berdasarkan tingkatan atau
jenjang kader yang terdapat pada AD/ART dari Anggota Muda sampai pada Anggota
Purna.
Selain memang ada pelatihan-pelatihan baik itu tertulis maupun praktis, tim tersebut
dapat saja menugaskan kader tanpa diketahui oleh kader itu sendiri, sehingga dapat
terlihat dari komitmennya pada partai, apakah ada peningkatan atau tidak. Tim
tersebut berada pada tingkat Ranting sampai Pusat.
Berdasarkan hal tersebut dapat terlihat kualitas kader. Kualitas yang terlihat akan
menentukan berada di mana jenjang kader tersebut. Hal ini dapat dicontohkan pada
penentuan caleg (calon legislatif), yang tidak dapat mendaftar sendiri, tetapi
didaftarkan oleh partai, dengan pengamanahan.
Kualitas kader dapat dilihat pada prilaku, pengorbanan, kesadaran serta
pengamanahan kader pada partai dan masyarakat. Hal itu disesuaikan dengan tiga
slogan PKS, sebagai ukuran yang tidak mutlak yaitu bersih dalam aqidah, prilaku,
jiwa dan diri secara keseluruhan, peduli tidak saja untuk diri sendiri tapi juga dengan
lingkungan sekitar, dan profesional yaitu bekerja secara ikhtadz, yaitu dengan baik
dan maksimal. Seperti yang diungkapkan oleh Linda Wuni :
PKS termasuk sedikit melakukan kasus, karena PKS melakukan proses kaderisasi
yang sangat ketat. Dilihat dari proses kaderisasinya, sehat atau tidaknya, sehingga
untuk naik jenjang harus dipertimbangkan dengan benar.

22
Selain berdasarkan slogan PKS, kualitas individu kader dikembalikan pada ukuran-
ukuran agama dalam bentuk akhlak dan aqidah. Terakhir, juga dilihat dari integritas,
kapabilitas, moralitas, hubungan harmonisasi antara keluarga dan lingkungan sekitar.
Berdasarkan tingkatan atau jenjang kader yang terdapat pada AD/ART dari Anggota
Pemula sampai pada Purna, yang dilihat dari komitmennya pada partai, dalam bentuk
peningkatan dan melewati tahapan dengan ujian-ujian, amanah serta pelatihan-
pelatihan.

D. Penanaman Militansi pada Kader


Mengenai militansi yang dinilai masyarakat tinggi, yang terlihat pada saat melakukan
aksi, peserta dapat mencapai puluhan ribu, PKS memiliki pendapat tersendiri.
Pertama, pada taklim yang rutin dilakukan, baik itu dari DPP (Dewan Pengurus
Pusat) maupun Dewan Syuro sampai pada tingkat Ranting, sering menekankan
keikhlasan pada kader, karena dalam berpartai merupakan salah satu beribadah.,
memberi kontribusi pada partai, dalam bentuk calon legislatif (caleg), mengabdi pada
masyarakat, karena yang menilai adalah Allah SWT, itulah yang kita sadari untuk
dikejar. Hal itu juga diterapkan pada penentuan caleg, agar tidak adanya rebutan
mendaftar, tidak ada yang mempromosikan diri, berebut nomor urutan, harus
mengeluarkan dana tapi berupa amanah dari partai yang tidak bisa ditolak juga,
karena juga berupa pengorbanan, tetapi karena merupakan penugasan, bukan hasrat
pribadi kader.
Kedua, dalam pertemuan rutin tadi, terdapatnya pembinaan yang berkesinambungan,
seperti keluarga, dengan menyelesaikan masalah bersama, mencari solusi bersama
serta menjalin kebersamaan, sehingga timbul keterikatan antara sesama. Hal ini yang
menguatkan para kader.
Ketiga, penanaman kesadaran, keyakinan dan semangat, dengan berpartai, adalah
beribadah kepada Allah SWT, jangan memisahkan ibadah dan berpolitik. Seperti
halnya naik Haji, yang merupakan ibadah paling tinggi, sehingga harus bersemangat.
Seperti yang diungkapakan oleh mufti salim :
Mengawalinya bahwa semua ini adalah ibadah, ketika orang sudah menyadari ini
ibadah setiap orang akan bertanggung jawab merasa terawasi oleh tugas yang telah
diamanahkan secara sendiri sebelum dikonrol manusia oleh kami, mereka sudah
mengontrol dirinya karena mereka sudah diawasi oleh Allah, karena semua aktivitas
kita didasari oleh niatan ibadah, karena kita memahami bahwa ibadah itu segala
sesuatu yang baik, dan ketika partai membuat program yang baik , kerja dan langkah
yang baik semua ini tertera dalam kehidupan kita.
Keempat, yaitu penanaman nilai pengorbanan, seperti yang tercantum dalam surat Al-
Baqarah ayat 207, yang mengatakan, berapa banyak manusia yang mencari ridha

23
Allah SWT dengan mengorbankan diri dan hartanya. Jadi orang belum bisa
merasakan keindahan hidup sebelum menikmati berapa banyak orang itu berkorban.
Dalam hal pengorbanan ini, ditekankan bukan menikmati hasil pengorbanan orang
lain bahkan menikmati dengan mengorbankan orang lain seperti korupsi.
Penanaman militansi biasanya sudah dilakukan sejak kader masih mahasiswa, bagi
kader yang sudah aktif dengan sebelum PKS menjadi partai politik, untuk tetap dapat
dijalankan sampai saat ini, pastinya kader harus punya komitmen pada partai dengan
berdakwah, aktivitas pada kegiatan partai, rutinitas tiap pekan pada Taklim sebagai
ajang silaturrahim, adanya saling mengingatkan, meningkatkan kesadaran dalam
berpartai, sebagai upaya akan militansinya tidak berkurang.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa militansi pada partai ini tergantung kepada
pemahaman kader terhadap pengetahuan serta wawasan yang PKS berikan kepada
kader terutama mengenai Islam. Jadi ketika pemahaman kader itu sudah ada, maka
kader tidak akan militan terhadap partai saja, tetapi juga kepada Islam. Hal ini
dilakukan untuk ke depannya. Jika dalam waktu tertentu partai akan menjadi sesat
dan rusak pada akhirnya, maka kader diharuskan meninggalkan partai dan tetap harus
berdakwah sebagai Muslim.

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN

PKS (Partai Keadilan Sejahtera) merupakan partai yang berideologi Islam di


Indonesia. Walaupun partai ini berideologi Islam, tapi partai ini mampu
bertransformasi menjadi partai terbuka. Dan itu tidak menutup kemungkinan bahwa
orang non Muslim bisa masuk menjadi anggota partai.
Sistem rekruitmen yang bagus dan di dukung dengan sistem kaderisasi yang
solid mampu melahirkan kader kader yang sangat berperan penting di PKS. Para
peserta awal yang telah di rekruit oleh PKS kemudian di didik dengan kurikulum
yang telah di buat oleh PKS. Di dalam pola kaderisasi PKS mengajarkan kepada
pendidik untuk mengenal PKS secara dalam serta memahami Islam dan politik dan
memperdalam ilmu agama.

24
PKS sendiri selain merekruit masyarakat, PKS juga merekruit mahasiswa/
pelajar untuk masuk kedalam kader. Di kampus contohnya PKS memiliki kaderisasi
Tarbiyah yang menjadi wadah pendidikan Tarbiyah di kampus kampus. Para pelajar
yang masuk kedalam LDK akan di perkenalkan lebih jauh tentang PKS sendiri.
Setelah menjadi anggota partai inti, anggota partai sudah siap utuk melanjutkan
tongkat estafet perjuangan PKS di kanca perpolitiakan Indonenesia. PKS telah
berhasil melahirkan kader kader yang berkualitas serta loyal untuk membangun
partainya. Ini semua tidak lepas karena program pola kaderisasi Tarbiyah yang sangat
bagus untuk partai.

DAFTAR PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38810/4/Chapter%20l.pdf
http://digilib.unila.ac.id/5504/16/BAB%20II.pdf
http://pkslarangan.multiply.com/journal?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal,
Talim Rutin
Partai. diunduh pada tanggal 31 Maret 2017.
http://pksmlati.blogspot.com/2012/01/kepanduan-dpd-pks-sleman-persiapkan.html,
Mukhayam
pandu keadilan, diunduh pada tanggal 31 Maret 2017.
http://sirine.uns.ac.id/penelitian.php?act=detail&idp=90, pelatihan dan pendidikan
gender,
diunduh pada tanggal 3 Januari 2013.
Hasil wawancara dengan Linda Wuni, 16 November 2012, Pukul 14.00 WIB di DPW
PKS
Hasil wawancara dengan Hi. Ahmad Mufti Salim, 1 Desember 2012, Pukul 17.20
WIB di
DPW PKS

25