Anda di halaman 1dari 30

Contoh Penerapan Siklus PDCA pada Pelayanan Kebidanan Persalinan

Kasus
Di UPT Puskesmas Haurpanggung masih ada ibu nifas yang beresiko tinggi . Bahkan
pada tahun ini mengalami peningkatan terutama pada ibu bersalin. Salah satu penyebab
ibu yang beresiko tinggi karena kurangnya pengetahuan ibu dalam menjaga kesehatanya
selama hamil dan keadaan ekonomi yang dibawah standar.
Di UPT Puskesmas Haurpanggung terdapat 12 bidan dan 71 posyandu yang aktif.
Sebagai bidan, langkah langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah ini
adalah melalui siklus PDCA.

Pembuatan Siklus PDCA

P (Planning/perencanaan)
a. Judul Rencana
Menurunkan angka kematian ibu di Desa Sukarame.
b. Rumusan Pertanyaan/Uraian Masalah
Angka ibu nifas resiko tinggi di UPT Puskesmas Haurpanggung pada tahun ini
mengalami peningkatan terutama pada masa persalinan. Kematian ibu bisa disebabkan
karena 3 terlambat, 4 terlalu, yaitu :
3 terlambat :
1) Terlambat dalam mencapai fasilitas (transportasi ke rumah sakit/puskesmas jauh)
2) Terlambat dalam mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat difasilitas pelayanan
(kurang lengkap atau tenaga medis kurang)
3) Terlambat dalam mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan
4 terlalu :
1) Terlalu muda (usia dibawah 16 tahun)
2) Terlalu tua (usia diatas 35 tahun)
3) Terlalu sering (perbedaan usia antara anak sangat dekat)
4) Terlalu banyak (memiliki lebih dari 4 orang anak)
c. Rumusan tujuan
Menurunkan angka kematian ibu di Desa Sukarame
d. Uraian Kegiatan
1) Melakukan pendataan ibu hamil yang mendekati masa persalinan
2) Mengantisipasi pilihan ibu
3) Melakukan screning pada ibu hamil yang resiko tinggi
4) Melakukan penyuluhan tentang P4K dan pengenalan tanda bahaya persalinan
e. Metode atau kriteria penilaian
1) Metode Peyuluhan, yaitu :
- Ceramah
- Tanya jawab
2) Materi penyuluhan, yaitu :
- Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K).
- Pengenalan tanda bahaya pada persalinan.
f. Waktu
1) Saat posyandu
2) Saat ada kegiatan kelas hamil atau senam hamil.
g. Pelaksana
1) Bidan koordinator
2) Kader
h. Biaya
1) Konsumsi Rp. 150.000,00
2) Sarana dan prasarana Rp. 100.000,00
3) Lain-lain Rp. 200.000,00

D (DO/Pelaksanaan)
1) Melakukan pendataan ibu hamil yang mendekati masa persalinan.
2) Mangantisipasi pilihan pasien
Pada masyarakat yang pendapatannya sedikit (miskin) dan jarak pelayanan
kesehatannya jauh, kemungkinan orang tersebut akan memilih bersalin ke dukun. Jadi,
jauh-jauh hari bidan harus menyarankan untuk tabulin (tabungan ibu bersalin) agar ibu
memiliki cukup dana dan menyarankan kepada mereka untuk bersalin di tenaga
kesehatan bukan ke dukun, terutama minta bantuan TOMA atau anggota keluarga yang
biasa berwewenang dalam mengambil keputusan.
3) Melakukan screening pada ibu hamil yang resiko tinggi. Ibu yang termasuk golongan
beresiko tinggi adalah :
a. Umur terlalu muda (<16 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun).
b. Tinggi badan <145 cm
c. Jarak antara kehamilan terlau dekat (<2 tahun) atau terlau lama (> 10 tahun) .
d. Hamil dengan anemia
e. Ibu dengan riwayat persalinan buruk (perdarahan, operasi, dll)
4) Memberikan penyuluhan tentang P4K dan pengenalan tanda bahaya persalinan :
Tanda bahaya persalinan antara lain:
a. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak ibu merasakan mules
b. Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
c. Ibu tidak kuat mengejan/ mengalami kejang
d. Air ketuban keruh atau berbau
e. Plasenta tidak keluar setelah bayi lahir
f. Ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat
5) Menyuruh ibu dan keluarga untuk mempersiapkan hal-hal seperti BAKSOKUDA untuk
mengantisipasi jika diperlukan rujukan
B : bidan
A : alat
K : keluarga
S : surat
O : obat
K : kendaraan
U : uang
DA : darah
6) Meminta keluarga untuk mempersiapkan kendaraan atau meminta bantuan orang yang
punya kendaraan untuk menyewakan kendaraan untuk merujuk pasien kalau perlu minta
bantuan perangkat Desa, TOMA dalam merujuk pasien.
3. CHEK/Pemantauan
Setelah melakukan rencana kerja, selanjutnya melakukan chek atau penilaian apakah
tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan rencana atau belum. Apakah ibu sudah
memahami penyuluhan yang telah diberikan atau belum, dan apakan ada perubahan
yang lebih positif atau tidak di Desa sukarame .
4. A (Action/Perbaikan)
Selanjutnya merumuskan tindakan perbaikan apabila terdapat penyimpangan dari
pemantauan yang telah dilakukan.
Siklus PDCA
A.Plan / Perencanaan
1. Judul Rencana
kematian ibu hamil yang disebabkan perdarahan pada Trimester III
2. Rumusan Pernyataan dan Uraian Masalah
Salah satu sasaran yang ditetapkan pemerintah pada tahun 2010 adalah
menurunkan angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka
kematian bayi 16 per 1000 kelahiran hidup
(depkes RI, 2008)
Dan penyebab terbanyakdari angka kematian ibu tersebut adalah pendarahan
(30-35%), infeksi (20-25%), sedangkan penyebab kematian bayi adalah asfiksia
neonatorum (19,0%) , infeksi (23-24%), prematuritas (15-20%), trauma persalinan (2-
7%)dan cacat bawaan (1-3%).
( Ida Bagus Gede Manuaba, 1998 :5)
Membuat Gantt Chart
No Kegiatan Bulan / I II III
Minggu 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. mempersiapkan alat-alat
untuk pemeriksaan pasien.
2. Mencari penyebab
terjadinya pendarahan
3. memperbaiki keadaan
umum ibu.
4. melakukan pemeriksaan
TTV ( tensi, Nadi, suhu).
5. Melakukan tes golongan
darah untuk mengantisipasi
terjadinya pendarahan.
6. melakukan cek HB untuk
mengetahui ibu mengalami
anemi atau tidak.
7. melakukan kolaborasi
dengan dokter dalam
pemberian terapi.
8. mempersiapkan keluarga
atau masyarakat yang mau
donor darah, jika sewaktu
waktu ibu memerlukan
tranfusi darah.
9. bekerjasama dengan pihak
PMI setempat.
10. bekerja sama dengan
masyarakat pengadaan
transportasi untuk
mencapaitempat kesehatan,
misalnya menggunakan
kendaraan milik masyarakat
setempat.

B. DO/ PELAKSANAAN
Melaksanakan prioritas pemecahan masalah dengan POA
Membuat POA Format rencana pelaksanaan kegiatan
No Uraian Sasaran/ target Langkah kegiatan Sumber Penang Batas waktu
. Masalah daya gung
Jawab
1. kematian ibu Menurunkan 1. mempersiapkan alat- tersedia Paling lambat
hamil yang angka kematian alat untuk pemeriksaan Bidan 2 jam untuk
disebabkan ibu hamil yang pasien. merujuk
perdarahan disebabkan 2. mencari penyebab kerumah
pada Trimester perdarahan pada terjadinya pendarahan. sakit
III Trimester III 3. memperbaiki keadaan
umum ibu.
4. melakukan pemeriksaan
TTV ( tensi, Nadi,suhu)
5. melakukan tes
golongan darah unruk
mengantisipasi
terjadinya pendarahan.
6. melakukan cek HB
untuk mengetahui ibu
mengalami anemi atau
tidak.
7. melakukan kolaborasi
dengan dokter dalam
pemberian terapi.
8. mempersiapkan
keluarga atau
masyarakat yang mau
donor darah, jika
sewaktu waktu ibu
memerlukan tranfusi
darah.
9. bekerjasama dengan
pihak PMI setempat.
10. bekerja sama dengan
masyarakat pengadaan
transportasi untuk
mencapaitempat
kesehatan, misalnya
menggunakan
kendaraan milik
masyarakat setempat.

c. CHECK/ PEMANTAUAN
Setelah melakukan rencana kerja, selanjutnya melakukan check / penilaian apakah
tindakan yang kita lakukan sudah sesuai dengan rencana/ belum :
1. memeriksa keadaan umum ibu
2. memeriksa pendarahan pada jalan lahir
3. memantau kadar HB ibu

d. ACTION/PERBAIKAN
Selanjutnya merumuskan tindakan perbaikan apabila terdapat penyimpangan dari
pemantaun yang telah dilakukan.
1. Segera melakukan kolaborasi dengan dokter
2. Segera melukukan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap
3. Segera terminasi kehamilan
4. Memberikan tranfusi darah jika diperlukan
KASUS I
Kasus tentang Peningkatan Mutu dalam Pelayanan
Kebidanan
Sebuah RSUD di daerah DKI Jakarta yang sudah menerapkan
manajemen mutu, dalam rapat pimpinan melaporkan tentang menurunnya
jumlah pasien di Poli Kebidanan dalam 3 bulan terkahir. Apa yang
dilakukan oleh Tim Mutu untuk menyikapi hal tersebut.
Masalah : Menurunnya jumlah pasien sebanyak 46,8%
Dimana : Poli Kebidanan di RSUD Putri Mulia
Kapan : 3 bulan terakhir (Juli, Agustus, September)
Bulan April : Pasien Poli Kebidanan berjumlah 93 orang
Bulan Mei : Pasien Poli Kebidanan berjumlah 90 orang
Bulan Juni : Pasien Poli Kebidanan berjumlah 94 orang
Bulan Juli : Pasien Poli Kebidanan berjumlah 72 orang
Bulan Agustus : Pasien Poli Kebidanan berjumlah 60 orang
Bulan September : Pasien Poli Kebidanan berjumlah 50 orang
Dalam 3 bulan terakhir (Juli, Agustus, September) mengalami
penurunannya masing-masing sebesar 23,4% ; 36,2% ; 46,8%.
Planning :
Memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat yang melibatkan
seluruh pegawai yang bekerja di Poli Kebidanan, baik dari pimpinan
sampai kepada pegawai.
Waktu pelaksaannya ditentukan melalui keputusan bersama.
Yang dilaksanakan di lokasi Poli Kebidanan itu sendiri.
Dengan cara meningkatkan kebersihan, memperhatikan keramah-tamahan
saat berhadapan dengan pasien, kelengkapan peralatan kesehatan dan obat-
obat yang di butuhkan.
Dengan tujuan meningkatkan kualitas Poli Kebidanan tersebut.

Do :
Semua pegawai yang bekerja di Poli Kebidanan tersebut baik dari pimpinan
sampai dengan pegawai
meningkatkan kebersihan, memperhatikan keramah-tamahan saat
berhadapan dengan pasien, kelengkapan peralatan kesehatan dan obat-obat
yang di butuhkan.
Yang dilaksanakan mulai dari 1 minngu setelah diketahui masalah tersebut.
Program ini membutuhkan biaya yang cukup untuk melengkapi alat-alat
kebersihan, obat-obatan, alat-alat pengobatan.
Dengan mekanisme pelaksanaan : setiap pasien yang datang ke Poli
Kebidanan itu di sambut dengan sapaan yang sopan dan ramah, saat
memberikan pengobatan harus memperhatikan kebersihan, obat yang
lengkap dan keterampilan bekerja.

Check :
Pelaksanaan berjalan sesuai dengan yang direncanakan, yaitu memperbaiki
kualitas pelayanan dilaksanakan 1 minggu setelah diketahui masalah
tersebut, semua waga Poli Kebidanan berperan dalam program tersebut.

Faktor pendukung terlaksananya program tersebut adalah:


>> dana yang cukup sehingga peralatan dan obat-obatan bisa dilengkapi.
>> seluruh warga Poli Kebidanan mendukung dengan diadakannya
program tersebut.
Faktor penghambat terlaksananya program tersebut adalah:
>> belum semua warga mengetahui bahwa adanya program tersebut
sehingga sebagian warga memilih untuk berobat ke tempat yang lain.

Action :
Lanjutkan dan tingkatkan program yang sudah dilaksanakan.

Puskesmas X telah menetapkan cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak


di wilayah kerjanya yaitu Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4) : 95%,
Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan : 90%, Cakupan
Pelayanan Nifas : 90%, Cakupan Imunisasi Bayi (Universal Child
Immunization): 100 %, Cakupan Pelayanan Anak Balita : 90 %, Cakupan
Pelayanan Anak Balita : 90 %, Cakupan Pelayanan Nifas : 90%, namun
kenyataannya cakupan pencapain program KIA rata-rata < 80 %. Hasil
identifikasi masalah yang dilakukan, ternyata faktor kurangnya ketrampilan
dan pengetahuan bidan menjadi penyebab masalah rendahnya cakupan
pencapaian program KIA di Puskesmas X. Pihak penyedia pelayanan
(Puskesmas X) merencanakan diklat peningkatan mutu pelayanan bidan di
wilayah kerja Puskesmas X.

Siklus PDCA
- P (PLANNING/Perencanaan)
Judul
Rendahnya cakupan pencapaian program KIA di Puskesmas X

** Rumusan Pernyataan dan Uraian Masalah


Latar Belakang :
cakupan pencapain program KIA rata-rata < 80 % di Puskesmas X
Rumusan Masalah :
Meningkatkan keterampilan bidan,dalam peningkatan KIA.

oTujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan bidan tentang penyebab
masalah penurunan KIA.

Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi jumlah permasalahan KIA,di puskesmas X.
2. Mengidentifikasi penyebab terjadinya penurunan KIA.
3. Mengidentifikasi program-program peningkatan keterampilan dan
pengetahuan bidan tentang KIA.
** Uraian Kegiatan Diklat
Lapor kepada pimpinan Puskesmas tentang masalah, penyebab, dan cara
penyelesaian masalah.
Susun rencana kerja selengkapnya.
Lakukan pelatihan Keterampilan dan pembelajaran bagi para bidan,tentang
KIA.
Lakukan pelayanan Ibu hamil,pelayanan bagi ibu bersalin,perawatan bayi
dan balita,imunisasi pada bayi,dan perawatan bagi Ibu nifas,sesuai dengan
standar kompetensi yang bermutu..
Pantau pelayanan KIA,khususnya tingkat kesterilan pelayanan.
Nilai hasil yang akan dicapai.

P (DO/ Pelaksanaan)
Lapor kepada pimpinan PUSKESMAS tentang masalah, penyebab, dan
cara penyelesaian masalah.
Masalah : <80% pencapaian KIA,di puskesmas X,dan angka tersebut masih
sangat cukup sedikit.
Penyebab :
- Keterampilan dan pengetahuan bidan tentang KIA masih sangat cukup
rendah.
- Pelayanan KIA,dan nifas belum sesuai standard,karena kuantitas
kesehatannya masih mencapai , 80%.
Susun rencana kerja selengkapnya.
Telah menyusun rencana kerja/planning mulai dari judul, rumusan
pernyataan dan uraian masalah.
Adakan pelatihan dan peningkatan terhadap standard kompetensi
mutu pelayanan bidan.
Pihak Puskesmas telah mengadakan pelatihan terhadap para bidan.
Lakukan pelayanan KIA dan nifas dengan pengetahuan dan
keterampilan tindakan yang telah dilatihkan.
Setelah melakukan pelatihan, bidan-bidan yang terlatih dan telah
mendapatkan sertifikat diijinkan untuk melakukan pelayanan sesuai standar.
Nilai hasil yang akan dicapai.
Penilaian hasil tercantum pada check.

C (CHECK/Periksa)
Penilaian dilakukan setelah semua pelaksanaan dilakukan. Pelaksanaan
yang dilakukan ini berfungsi untuk mengatasi masalah yang terjadi, maka
didapatkan hasil sebagai berikut:
- Setelah melaksanakan pelatiahn pelayanan kebidanan,dengan
pengetahuan & ketrampilan sesuai tindakan pelatihan, angka KIA naik
10%,menjadi 90%.
- Setelah dilakukan pelatihan pelayanan kebidanan, bidan-bidan yang telah
mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikat dapat melakukan asuhan sesuai
dengan standar.

A (ACTION/Bertindak)
- Tetap memantau hasil pelaksanaan pada bulan-bulan berikutnya selama 6
bulan berikutnya.
- Melakukan penyempurnaan rencana kerja untuk mengatasi presentase
yang masih tersisa (yaitu 10%) dengan tetap melakukan penilaian secara
berkala
Penerapan pendekatan PDCA pada pelaksanaan pembinaan dukun terlatih
2.3.1 P (Planning/Rencana)
1. Judul
Program Kemitraan dukun-bayi (pembinaan dukun)

2. Rumusan Pernyataan/ uraian masalah


AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN
lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI di
Indonesia adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000Menurut data
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI di Indonesia masih tinggi jika
dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, yaitu sebesar 228 per 100.000 kelahiran
hidup.
Di Kabupaten Permai persalinan dukun sebesar 75% sampai 80% terutama di
daerah pedesaan. Pertolongan persalinan oleh dukun menimbulkan berbagai masalah
dan penyebab utama tingginya angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal.
Keberhasilan dari kegiatan kemitraan Bidan Dukun adalah ditandai dengan adanya
kesepakatan antara Bidan dan dukun dimana dukun akan selalu merujuk setiap ibu hamil
dan bersalin yang datang. serta akan membantu bidan dalam merawat ibu setelah
bersalin dan bayinya. Sementara Bidan sepakat untuk memberikan sebagian penghasilan
dari menolong persalinan yang dirujuk oleh dukun kepada dukun yang merujuk dengan
besar yang bervariasi.
Tenaga dukun bayi sejak dahulu kala sampai sekarang merupakan pemegang
peranan penting dalam pelayanan kebidanan. Dalam lingkungan dukun bayi merupakan
tenaga terpercaya dalam segala soal yang terkait dengan reproduksi wanita. Ia selalu
membantu pada masa kehamilan, mendampingi wanita saat bersalin, sampai persalinan
selesai dan mengurus ibu dan bayinya dalam masa nifas.
Dukun bayi biasanya seorang wanita sudah berumur 40 tahun ke atas. Pekerjaan
ini turun temurun dalam keluarga atau karena ia merasa mendapat pangglan tugas ini.
Pengetahuan tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan, persalinan, serta nifas
sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak mampu untuk
mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong hanya
berdasarkan pengalaman dan kurang professional. Berbagai kasus sering menimpa
seoarang ibu atau bayinya seperti kecacatan bayi sampai pada kematian ibu dan anak.
Dalam usaha meningkatkan pelayanan kebidanan dan kesehatan anak maka
tenaga kesehatan seperti bidan mengajak dukun untuk melakukan pelatihan dengan
harapan dapat meningkatkan kemampuan dalam menolong persalinan, selain itu dapat
juga mengenal tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta
pertolongan pada bidan. Dukun bayi yang ada harus ditingkatkan kemampuannya, tetapi
kita tidak dapat bekerjasama dengan dukun bayi dalam mengurangi angka kematian dan
angka kesakitan
Program Kemitraan Bidan Dukun merupakan salah satu program untuk
meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Kemitraan Bidan
dan Dukun adalah suatu bentuk kerjasama antara bidan dan dukun yang saling
menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya
untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong
persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam
merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah
dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh elemen masyarakat yang ada.
Mengingat peran dukun di masyarakat sangat penting dan cukup dipercaya oleh
masyarakat, maka perlu dijalin kerjasama yang baik antara dukun dengan tenaga
kesehatan, khususnya bidan desa sehingga dapat membantu kelancaran tugas seharihari
dari bidan dan sekaligus membantu untuk merencanakan tugas-tugas lainnya yang
menjadi tanggung jawab bidan.
Upaya meminimalisasi dan menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita
maka semua persalinan ditangani oleh dukun bayi harus beralih ditangani oleh bidan.
Kecuali hal-hal yang berhubungan dengan adat dan kebiasaan setempat dengan menjalin
hubungan antara dukun dan bidan, tetapi kemitraan yang berjalan sekarang ini masih
dalam dukun dan bidan, tetapi kemitraan yang berjalan sekarang ii masih dalam batas
pemaknaan transfer ilmu pengetahuan, masih dalam bentuk pembinaan cara-cara
persalinan yang higienis kepada dukun bayi.
Berarti belum ada dalam bentuk kesepakatan uraian tugas dan fungsi masing-masing,
juga belum mengarah pada aih peran pertolongan persalinan secara optimal.
Puskesmas Harapan Raya Kec. Darmo Kab. permai merupakan Puskesmas yang
terletak di dataran tinggi kabupaten Permai dimana Jumlah persalinan diwilayah Kerja
Puskesmas Sapaya pada tahun 2011 yaitu sebanyak 332 persalinan, dimana Persalinan
yang ditolong oleh Bidan sebanyak 70% dan dukun sebanyak 30% persalinan.

3. Rumusan Tujuan
Tujuan supervisi / bimbingan dukun bayi :
a Menjaga, menpertahankan, meningkatkan ketrampilan dukun bayi
b Menjaga, mempertahankan dan meningkatkan cakupan hasil kegiatan dukun dalam
merawat bumil, bulin dan bufas
c Sebagai kesempatan pemasukan bahan habis pakai
d Sebagai bahan asupan dalam penyusunan laporan kegiatan petugas puskesmas.

Untuk meningkatkan status dukun, maka di lakukan upaya pelatihan dan


pembinaan dukun dengan tujuan :
a Agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan diterima
oleh anggota masyarakat.
b Memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan di
berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak.
c Untuk memperbaiki kegiatan kegiatan yang sebenarnya sudah dilakukan oleh dukun,
seperti memberikan, saran tentang kehamilan, melakukan persalinan bersih dan aman,
serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat persalinan, sehingga angka
kematian ibu dan bayi dapat dikurangi atau di cegah sedini mungkin.
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 :133)
Kelebihan dan Kekurangan persalinan yang ditolong oleh dukun antara lain:
1. Kelebihan
Dukun merawat ibu dan bayinya sampai tali pusatnya putus
Kontak ibu dan bayi lebih awal dan lama
Persalinan dilakukan di rumah
Biaya murah dan tidak ditentukan.
2. Kekurangan
Dukun belum mengerti teknik septik dan anti-septik dalam menolong persalinan.
Dukun tidak mengenal keadaan patologis dan kehamilan, persainan, nifas dan bayi baru
lahir.
Pengetahuan dukun rendah sehingga sukar ditatar dan di ikutsertakan dalam program
pemerintah.
3. Uraian Kegiatan
Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
Melakukan pendekatan dengan para dukun.
Memberikan pengetahuan kepada para dukun tentang pentingnya persalinan yang
bersih dan aman.
Memberi pengetahuan kepada para dukun tentang komplikasi komplikasi kehamilan
dan bahaya proses persalinan.
Membina kemitraan denga dukun dengan memegang asas saling menguntungkan.
Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus kasus risiko tinggi kehamilan
kepada tenaga kesehatan.

Pembinaan dukun di lakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan


dari masing masing daerah atau dukun berasal, karena tidaklah mudah mengajak
seorang dukun untuk mengikuti pembinaan. Beberapa langkah yang dapat di lakukan
bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut :
1. Meminta bantuan pamong desa untuk memotivasi dukun bayi agar bersedia mengikuti
pelatihan pelatihan dukun yang di selenggarakan.
2. Mengajak dukun bayi yang sudah di latih untuk ikut serta memberikan penyuluhan dan
membantu melakukan deteksi dini ibu risiko tinggi di posyandu maupun pada kegiatan
kegiatan yang ada di masyarakat.

4. Metode/Kriteria Penilaian
Metode penyuluhan yaitu
Ceramah
tanya jawab
praktek dengan alat peraga.

Materi Pembinaan Dukun


1. Promosi Bidan Siaga
2. Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Rujukan
Berikut adalah materi materi dalam pelaksanaan pembinaan dukun :
a. Pengenalan golongan risiko tinggi
b. Pengenalan tanda tanda bahaya pada kehamilan
c. Pengenalan tanda tanda bahaya pada persalinan
d. Pengenalan tanda tanda kelainan pada nifas
3. Pengenalan Dini Tetanus Neonatorum, BBLR, dan Rujukan
a. Tetanus Neonatorum
b. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
c. Penyuluhan Gizi dan KB
d. Pencatatan Kelahiran dan Kematian Ibu dan Bayi

5. Waktu
a Tempat pelasanaan pembinaan dukun bayi
Perkumpulan dukun bayi dilaksankan di puskesmas.
Penyuluhan dilaksanakan di Balai Desa

b Waktu pelaksanaan pembinaan dukun bayi


Saat kunjungan supervisi petugas puskesmas di posyandu di desa tempat tinggal dukun.
Pertemuan rutin yang telah disepakat
Waktu-waktu lain saat petugas bertemu dengan dukun bayi
Saat mendampingi dukun bayi waktu menolong persalinan
6. Pelaksana
- Dokter
- Bidan
- Perawat kesehatan
- Petugas imunisasi
- Petugas gizi
Peserta : 15 orang dukun beranak
7. Biaya
Narasumber @200.000
Konsumsi @15.000
Sarana dan prasarana @500.000
Lain-lain @150.000

2.3.2 D (Do/Pelaksanaan)
1. Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
Pembinaan dukun di lakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan
dari masing masing daerah atau dukun berasal, karena tidaklah mudah mengajak
seorang dukun untuk mengikuti pembinaan. Beberapa langkah yang dapat di lakukan
bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut :
a. Meminta bantuan pamong desa untuk memotivasi dukun bayi agar bersedia mengikuti
pelatihan pelatihan dukun yang di selenggarakan.
b. Mengajak dukun bayi yang sudah di latih untuk ikut serta memberikan penyuluhan dan
membantu melakukan deteksi dini ibu risiko tinggi di posyandu maupun pada kegiatan
kegiatan yang ada di masyarakat.
c. Melakukan pendekatan dengan para dukun.
d. Memberikan pengetahuan kepada para dukun tentang pentingnya persalinan yang bersih
dan aman.
e. Memberi pengetahuan kepada para dukun tentang komplikasi komplikasi kehamilan
dan bahaya proses persalinan.

2. Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Rujukan


Berikut adalah materi materi dalam pelaksanaan pembinaan dukun :
a Pengenalan golongan risiko tinggi
Ibu yang termasuk dalam golongan risiko tinggi adalah :
Umur terlalu muda (kurang dari 16 tahun) atau terlalu tua (lebih dari 35 tahun)
Tinggi badan kurang dari 145 cm
Jarak antar kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) atau terlalu lama (lebih dari 10
tahun)
Hamil dengan anemia
Ibu dengan riwayat persalinan buruk (perdarahan, operasi, dll)
b. Pengenalan tanda tanda bahaya pada kehamilan
Tanda bahaya pada kehamilan meliputi :
Perdarahan pada kehamilan sebelum waktunya
Ibu demam tinggi
Bengkak pada kaki, tangan, dan wajah
Sakit kepala atau kejang
Keluar air ketuban sebelum waktunya
Frekuensi gerakan bayi berkurang atau bayi tidak bergerak
Ibu muntah terus dan tidak mau makan
c Pengenalan tanda tanda bahaya pada persalinan
Tanda bahaya pada persalinan yaitu :
Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak ibu merasakan mulas
Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
Ibu tidak kuat mengejan atau mengalami kejang
Air ketuban keruh dan berbau
Plasenta tidak keluar setelah bayi lahir
Ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat
d. Pengenalan tanda tanda kelainan pada nifas
Tanda kelainan pada nifas meliputi :
Perdarahan melalui jalan lahir
Keluarnya cairan barbau dari jalan lahir
Demam lebih dari dua hari
Bengkak pada muka, kaki, dan tangan
Sakit kepala dan kejang kejang
Payudara bengkak disertai rasa sakit
Ibu mengalami gangguan jiwa
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 134)
3. Pengenalan Dini Tetanus Neonatorum, BBLR, dan Rujukan
a Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum adalah salah satu penyakit yang paling berisiko terhadap
kematian bayi baru lahir yang di sebabkan oleh Clostridium tetani. Tetanus neonatorum
menyerang bayi usia di bawah satu bulan, penyakit ini sangat menular dan
menyebabkan risiko kematian. Kebanyakan terjadi karena penggunaan alat pemotong
tali pusat yang tidak steril.
Dengan di berikan pembekalan materi tetanus neonatorum di harapkan dukun dapat
memperhatikan kebersihan alat persalinan, memotivasi ibu untuk melakukan imunisasi,
dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan, sehingga dapat menekan angka
kejadian tetanus neonatorum.
b Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg, di sertai dengan
tanda tanda kulit keriput, pergerakan lemah, dan sianosis. Dukun di harapkan dapat
segera melakukan rujukan ke Puskesmas atau tenaga kesehatan apabila menemukan
tanda tanda bayi dengan berat badan lahir rendah, karena bayi dengan berat badan
lahir rendah memerlukan perawatan khusus.
c Penyuluhan Gizi dan KB
Dukun sebagai orang terdekat dengan ibu hamil di masyarakat berkontribusi
terhadap suksesnya pelaksanaan program KB dan menjaga kesehatan ibu hamil,
bersalin, dan nifas dengan makanan bergizi. Melalui penyuluhan gizi dan KB yang di
lakukan oleh tenaga kesehatan kepada dukun, di harapkan dukun dapat menindaklanjuti
dengan menyebarkan kepada masyarakat.
d. Pencatatan Kelahiran dan Kematian Ibu dan Bayi
Materi lain yang penting dalam pembinaan dukun adalah pencatatan kelahiran dan
kematian. Pemberian materi pencatatan kelahiran dan kematian di tujukan untuk
mempermudah dalam pendataan jumlah kelahiran dan kematian di suatu wilayah atau
desa, serta bermanfaat dalam pelaksanaan proses audit apabila ada kematian baik ibu
maupun bayi.

4. Membina kemitraan denga dukun dengan memegang asas saling menguntungkan.


Setiap dukun bayi yang membawa ibu bersalin ke bidan akan diberikan uang cuma-
cuma sebesar Rp100 ribu melalui program Jampersal.

5. Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus kasus risiko tinggi kehamilan
kepada tenaga kesehatan.

2.3.3 C (Check/Pemeriksaan)
Lembar pemeriksaan adalah suatu formulir yang digunakan untuk mencatat secara
periodik setiap penyimpangan yang terjadi. Langkah pembuatan lembar pemeriksan
adalah:
Menetapkan jenis penyimpangan yang diamati
Menetapkan jangka waktu pengamatan
Melakukan perhitungan penyimpangan
Mendata jumlah Dukun yang Hadir dalam pembinaan dukun beranak melalui absensi
yang telah disediakan. Jumlah peserta sebnayak 15 orang dukun beranak.
Berdasarkan data yang diperoleh sebagai berikut:
a. Tabel
Bulan Agustus 2013 September 2013
Minggu I II III IV I II III IV
Jumlah 15 14 12 10 10 8 7 5
Peserta
hadir
Jumlah 0 1 3 5 5 7 8 10
Peserta
Tidak
hadir
b. Grafik

2.3.4 A (Action / Perbaikan )


Diketahuinya Hambatan dalam pelaksanaan Pembinaan dukun beranak.
a Sebelum Pelaksanaan ( Pre)
1. Sikap Dukun yang Kurang Kooperatif
Faktor yang menyebabkan sikap dukun tidak kooperatif adalah adanya perasaan malu
apabila di latih oleh bidan, dukun merasa tersaingi oleh bidan, dan dukun terlalu idealis
dengan cara pertolongan persalinan yang di lakukan.
Solusi :
Informasikan dan tekankan kepada dukun bahwa pembinaan yang di lakukan bukan
untuk melakukan perubahan metode atau kebiasaan yang di lakukan oleh dukun dalam
melakukan pertolongan persalinan atau untuk bersaing. Akan tetapi, pembinaan yang di
lakukan bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman baru dalam pelayanan
kebidanan. Bidan harus mengajak dukun untuk bekerja sama dengan cara memberikan
imbalan sebagai ucapan terima kasih. Libatkan dukun dalam perawatan bayi baru lahir,
misalnya memandikan bayi.
2. Kultur yang Kuat
Sosial budaya mengenai dukun yang merupakan hambatan dalam upaya pembinaan
dukun adalah sebagai berikut :
a. Dukun bayi biasanya adalah orang yang di kenal masyarakat setempat.
b. Kepercayaan masyarakat terhadap dukun di peroleh secara turun temurun.
c. Dukun bayi masih memiliki peranan penting bagi perempuan di pedesaan.
d. Biaya pertolongan persalinan dukun jauh lebih murah daripada tenaga kesehatan.
e. Pelayanan dukun di lakukan sampai ibu selesai masa nifas.
f. Masyarakat masih terbiasa dengan cara cara tradisional.
Solusi :
Lakukan berbagai metode pendekatan dengan tokoh tokoh masyarakat, misalnya
pamong desa, para petua petua desa, tokoh agama yang sangat berpengaruh pada pola
pikir masyarakat dengan memberikan penjelasan pentingnya pembinaan dukun,
sehingga tokoh tokoh masyarakat dapat melakukan advokasi kepada masyarakat, dan
dapat memperbaiki kebudayaan yang melekat pada diri masyarakat yang dapat
merugikan kesehatan terutama kesehatan ibu dan bayi.
3. Sosial Ekonomi
Masyarakat dengan sosial ekonomi rendah atau miskin dengan pendidikan yang rendah
cenderung mencari pertolongan persalinan pada dukun. Masyarakat yang demikian
beranggapan bahwa dukun adalah seorang pahlawan, karena melahirkan di dukun lebih
murah, dukun bersedia di bayar dengan barang, dan pembayarannya dapat di angsur.
Solusi :
Sosialisasikan atau apabila di butuhkan musyawarahkan dengan masyarakat tentang
biaya persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Bidan harus dapat bekerja sama dengan
masyarakat mengenai persalinan, berdayakan masyarakat dalam upaya meningkatkan
kesehatan ibu dan bayi dengan pertolongan persalinan di tenaga kesehatan. Bidan dapat
bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan pemetaan ibu hamil, membentuk
tabungan ibu bersalin (Tabulin), donor darah berjalan, dan ambulans desa.

4. Tingkat pendidikan
Kebanyakan di masyarakat, dukun adalah orang tua yang harus di hormati dan
mempunyai latar belakang pendidikan rendah. Oleh karena dukun memliki latar
belakang pendidikan rendah, sehingga tidak jarang dukun sulit untuk menerima
pemahaman dan pengetahuan baru.
Solusi :
Bidan harus memiliki ketrampilan komunikasi interpersonal dan memahami tradisi
setempat untuk melakukan pendekatan dan pembinaan ke dukun dukun. Lakukan
pendekatan sesuai dengan tingkat pendidikan dukun, sehingga mereka dapat memahami
dan menerima pengetahuan serta pemahaman baru khususnya mengenai kahamilan,
persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.
b Evaluasi setelah tindakan ( post)
Identifikasi masalah
Proses identifikasi masalah dilakukan dengan cara :

1. Wawancara dengan unit masayarakat

2. Wawancara dan observasi dengan dukun bayi

Beberapa masalah yang berhasil diidentifikasi dari bagian Kesling di Puskesmas


Harapan Raya, yaitu :
Tabel 3.1 Masalah yang ditemukan pada kegiatan peningkatan Pembinaan dukun bayi
di desa permai
No Aspek yang dinilai Masalah Evidance base

1 Program pembinaan dukun Pelaksanaan tidak mencakup Pemeriksaan hanya pada


beranak oleh tenaga kesehatan kepada kader unit masyarakat yang lingkup desa saja
berperan dalam memotivasi dukun
2 Tidak tersosialisasinya prosedur Tidak tersosialisasinya/ kurangnya Kurangnya penyuluhan tenta
Penyuluhan yang efektif dan penyuluhan tentang kesehatan kesehatan (Persalinan yan
efisien (persalinan yang aman) secara aman) secara efektif dan efis
efektif dan efisien
3 Pengetahuan dukun tentang Kurangnya pengetahuan untuk Tidak mendapatkan informa
pentingnya persalinan yang melakukan tindakan persalinan yang aktual dari petugas
aman dan sesuai standar yang aman dan sesuai standar kesehatan dan media inform

Dari masalah-masalah yang tersebut diplih prioritas masalah yang ditentukan


berdasarkan kriteria sebagai beikut :
1. Urgensi
Nilai 1 tidak penting
Nilai 2 penting
Nilai 3 sangat penting
2. Solusi
Nilai 1 tidak mudah
Nilai 2 mudah
Nilai 3 sangat mudah

3. Kemampuan merubah
Nilai 1 tidak mudah
Nilai 2 mudah
Nilai 3 sangat mudah
4. Biaya
Nilai 1 tinggi
Nilai 2 sedang
Nilai 3 rendah

Penentuan prioritas masalah


Penetuan prioritas masalah dibuat kedalam tabel penentuan prioritas masalah sebagai
berikut :

Tabel 3.2 Penentuan prioritas masalah pada Pelaksanaan pembinaan dukun bayi.
Kriteria Masalah Urgensi Solusi Kemampuan untuk merubah Bia
Program Pembinaan dukun oleh 2 2 3 2
tenaga kesehatan
Tidak tersosialisasinya prosedur 2 1 2 2
pembinaan dukun
Pengetahuan dukun mengenai 3 1 1 2
persalinan yang aman dan sesuai
standar
Dari ketiga masalah tersebut, didapatkan 1 prioritas masalah yang ditentukan
berdasarkan pembobotan nilai dengan seleksi yang terdiri dari dua unsur yaitu kriteria
masalah dan skor.
Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah dapat disimpulkan bahwa yang menjadi
priorotas masalah dan selanjutnya akan dicari altenatif pemecahan masalah yaitu
kurangnya pembinaan dukun oleh tenaga kesehatan.
Identifikasi penyebab masalah
Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah di atas, di dapatkan prioritas masalah
utama pada kegiatan ini adalah upaya peningkatan pembinaan dukun bayi di Desa
Permai. Beberapa hal yang menjadi penyebab masalah tersebut antara lain terlihat dari
bebrbagai aspek dibawah ini :

Tabel 3.3 Identifikasi Penyebab Masalah


No Masalah Penyebab Timbulnya Masalah Evidence
1 Pembinaan Manusia
dukun Berdasa
bayi oleh tenaga Kurangnya dukun yang ikut serta dalam pembinaan. Kesehatan
kesehatan Kurangnya kesadaran dukun akan pentingnya persalinan yang orang Be
aman bagi ibu dan bayi tanpa komplikasi yang menyertai. keterbatas
wilayah k
Berdasark
Metode
pemerik
Kurangnya promosi atau penyuluhan terhadap dukun bayi
yang aktif
Tidak adanya program pembinaan terhadap dukun bayi
Kurangnya kerjasama lintas sektoral dengan kader dan tokoh
masyarakat untuk melibatkan dukun dalam pebinaan dukun
Berdasark
terlatih.
koordinas
Dana Berdasark
Kurangnya dana yang di alokasikan khusus terhadap kegiatan dana khus
pembinaan dukun terlatih. Berdasa
dilakukan

Material
Tidak adanya data yang akurat mengenai jumlah persalinan yang
di tolong oleh dukun

Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah dilkukan analisis penyebab masalah maka langkah selanjutnya yaitu pencarian
mencari alternative pemecahan masalah dan memberikan solusi yang terbaik. Solusi
yang diberikan diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan
bayi melalui peningkatan kegiatan pembinaan terhadap dukun bayi yang belum terlatih
dilakukan oleh bidang kebidanan Puskesmas Harapan Raya. Adapun solusi tersebut
antara lain :

Table 3.4 Alternatif Pemecahan Masalah


No Penyebab Altenatif Pemecahan Tujuan Sasaran Tempat Pelaksana Waktu
Masalah Masalah Kegiatan
1 Kurangnya Optimalisasi petugasPembinaan Dukun bayi yangbalai Petugas Mingg
dukun yangkesehatan dengan dukun dapat masih aktif kelurahan kesehatan ujam
ikut serta SDM yang ada dalam opimal memberikan (Bidan) 09.00
melaksanakan pelayanan WIB
pembinaan dukun persalinan.
seperti instansi
wewenang,penyedia
fasilitas,kader,tokoh
masyarakat,tokoh
agama dll.
No Penyebab Altenatif Pemecahan Tujuan Sasaran Tempat Pelaksana Waktu
Masalah Masalah Kegiatan
2 Kurangnya Memberikan Angka toleransiDukun bayi yangBalai Petugas Mingg
kesadaran penyuluhan tentangkesakitan danmasih aktif kelurahan Kesehatan u jam
dukun persalinan yang amanKematian ibumemberikan 09.00
mengenai sesuai standard dandan bayi pelayanan wib
persalinan prosedur menurun persalinan
yang aman
3 Kurangnya Membuat jadwal yangTerlaksana Unit terkecil Balai Petugas
penyuluhan efektif untuk kegiatankegiatan masyarakat kelurahan Kesehatan
kesehatan promosi dipromkes hingga
pada unitlingkungan ke unit terkecil
masyarakat masyarakat. Kegiatanmasyarakat.
penyuluhan dilakukan
oleh petugas
kesehatan dan
asosiasi bersama
kader di masyarakat
terhadap pentingnya
pendidikan kesehatan
No Penyebab Altenatif Pemecahan Tujuan Sasaran Tempat Pelaksana Waktu
Masalah Masalah Kegiatan
5 Tidak Membuat jadwal dandukun memilikiDukun bayi yangBalai Petugas Mingg
adanya pelaksanaan pengetahuan masih aktifkelurahan Kesehatan u
program pembinaan dukuntentang caramemberikan Jam
pembinaan terlatih. menolong pelayanan 09.00
terhadap persalinan yangpersalinan WIB
dukun bayi aman
No Penyebab Altenatif Pemecahan Tujuan Sasaran Tempat Pelaksana Waktu
Masalah Masalah Kegiatan
6 Kurangnya Koordinasi denganTerciptanya Perangkat Lingkungan Kepala Mingg
kerjasama pihak kelurahan dankoordinasi kelurahan,kader,to masyarakat kelurahan u
lintas tokoh masyarakatdengan pihakkoh agama,tokoh dan Jam
sektoral untuk kerjasamaterkait dalammasyarakat, dll. perangkat 09.00
dalam pelaksanaanusaha mya,kader WIB
pembinaan dukunpembinaan ,tokoh
terlatih dukun terlatih agama,tok
oh
masyaraka
t
7 Kurangnya Optimalisasi danaPencapaian Dinas Keseha-tanPetugas Kepala
dana yangyang tersedia, dengantarget program Kota kesehatan Puskes-
di mengajukan dana mas
alokasikan tambahan operasional
ke pihak
pemerintahan
No Penyebab Altenatif Pemecahan Tujuan Sasaran Tempat Pelaksana Waktu
Masalah Masalah Kegiatan
8 Tidak Melakukan pendataanTerdapatnya Masyarakat Lingkungan
adanya dataterhadap keberadaandata persebaransekitar masyarakat
yang akuratdukun bayi dengandukun bayi yang
mengenai mengoptimalkan masih aktif
jumlah petugas kesehatanmelayani
persebaran dalam pendataanpertolongan
dukun bayi meliputi wawancarapersalinan.
secara snow ball
(getak tular)