Anda di halaman 1dari 67

ANALISIS PERIODE ULANG GEMPABUMI DAN

PARAMETER FRAKTAL DARI DATA GEMPABUMI KURUN


WAKTU 1960 2014 DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

SKRIPSI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN


MENCAPAI DERAJAT SARJANA (S1)

DIAJUKAN OLEH:

ILHAM
F1H113055

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2016
ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT, Sang Maha Kuasa Pemilik
Alam semesta, pengatur jalan kehidupan setiap ummatnya. Karena berkat kuasa-
Nya lah penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Tidak lupa pula penulis
memberikan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Ayah handa, Siratan
dan Ibunda Hadaria yang telah membesarkan dan membimbing penulis hingga
dewasa dan terus memberikan doa, semangat dan motivasi untuk menyelesaikan
penelitian ini. Selain itu, penulis juga memberikan rasa terimakasih yang setinggi-
tingginya kepada istri penulis Hesty Febriyanti, SKM, adik penulis Hadija. S
dan Resty Novianingtiyas, SKM, mertua penulis Mujito, S.Si, M.Si dan Siti
Sumiatun, S.Pd atas segala bantuan, motivasi dan perhatiannya sejak awal
hingga akhir penelitian ini.

Melalui tulisan ini pula, penulis dengan tulus dan ikhlas mengucapkan
penghargaan dan ucapan terimakasih kepada Bapak Dr. Eng. Jamhir Safani,
S.Si., M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Irawati, S.Si., M.Si selaku pembimbing
II atas bantuan, perhatiannya dan waktu yang telah diluangkan kepada penulis
sejak awal hingga terselesainya penelitian ini.

Selanjutnya penulis mengucapkan rasa terimakasih dan penghargaan kepada:

1. Rektor Universitas Halu Oleo.


2. Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITK) Universitas Halu Oleo
3. Bapak Jahidin, S.Si, M.Si selaku penasehat Akademik yang telah memberikan
arahan dan bantuan selama menjalani studi di Jurusan Teknik Geofisika
4. Ibu Rosa Amelia, S.Si, yang telah memberikan izin untuk menempuh
pendidikan Sarjana, sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan.
5. Rekan-rekan Stasiun Geofisika Kendari, yang telah memberikan semangat
untuk menyelesaikan pendidikan.

iii
6. Bapak Dr. La Hamimu, S.Si, MT, Bapak Abdul Manan, S.Si, M.Sc dan
Bapak Deniyatno, S.Si, MT selaku tim penguji yang telah memberikan saran
dan kriktikan yang bermanfaat bagi penulis.
7. Bapak RUDIN, ST sebagai teman seperjuangan semenjak awal studi hingga
akhir yang telah memberikan motivasi serta saran-saran yang bermanfaat bagi
penulis.
8. Rekan-rekan di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Jurusan Teknik
Kebumian, Angkatan 2013 (Jalal, Iksan, Jovi, dan teman-teman lain), angkatan
2012 (Adi,arli, widya, Reza, dan teman-teman lain), angkatan 2011 (Nandang,
Tati, Iswar, dan lain-lain), serta teman-teman lain yang tidak sempat dituliskan
di halaman ini.
Akhhirnya penulis menyadari bahwa tugasakhir dari penelitian ini masih
jauh dari kata sempurna, maka penulis memohon maaf atas segala kekurangan dan
kesalahan baik dalam penyusunan ataupun proses pelaksanaan penyelesaian tugas
akhir ini.

Kendari, April 2016

Ilham

iv
ANALISIS PERIODE ULANG GEMPABUMI DAN PARAMETER
FRAKTAL DARI DATA GEMPABUMI KURUN WAKTU 1960 2014 DI
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Ilham
(Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian,
Universitas Halu Oleo)
ilham@bmkg.go.id

ABSTRAK

Gempabumi merupakan bencana alam yang datangnya tiba-tiba dan pada


beberapa kasus sifatnya sangat merusak. Sulawesi Tenggara merupakan wilayah
yang memiliki aktivitas gempabumi yang cukup banyak. Banyaknya gempabumi
yang terjadi mengindikasikan banyaknya sesar yang masih aktif di wilayah
Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari periode
ulang () dan parameter fraktal (D) di wilayah Sulawesi Tenggara dan
sekitarnya. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu Periode ulang
gempabumi di untuk M 4.0 SR secara berturut-turut adalah = 0,5 tahun dan
= 0,7 tahun. Periode ulang gempabumi untuk M 5.0 SR secara berturut-turut
adalah = 6,1 tahun dan = 8,3 tahun. Periode ulang gempabumi untuk M 6.0
SR secara berturut-turut adalah = 31,5 tahun dan = 42,9 tahun. Sedangkan
aktivitas gempabumi terbesar terjadi di wilayah Kota Kendari, Konawe Selatan,
Konawe, Muna dan Buton Utara dengan nilai D = 0,76. Berdasarkan nilai rasio
slip sebesar 78,8 83,3 diperoleh bahwa aktifitas gempabumi dikelima wilayah
tersebut dipengaruhi oleh dua patahan utama, yaitu patahan Lawanopo dan Lainea

Kata kunci: Periode Ulang, Parameter fraktal, Rasio slip

v
ANALYSIS RETURN PERIOD OF EARTHQUAKE AND FRACTAL
PARAMETERS OF THE EARTHQUAKE DATA TIME BETWEEN 1960 -
2014 IN SOUTHEAST SULAWESI PROVINCE

Ilham
(Geophysical Engineering , Faculty of Science and Technology of Earth, Halu
Oleo University)
ilham@bmkg.go.id

ABSTRACT

Earthquake is a natural disaster that comes suddenly and in some cases are highly
damaging. Southeast Sulawesi is a region which has a considerable earthquake
activity. Such number of earthquakes that occurred indicates the number of faults
that are still active in the region of Southeast Sulawesi and the surrounding areas.
This study aimed to explore the return period () and fractal parameters (D) in the
region of Southeast Sulawesi and the surrounding areas. The results obtained in
this research showed that the fastest and the longest return period for M 4.0 SR
respectively are = 0,5 years and = 0,7 years. The fastest and the longest
return period of earthquakes for M 5.0 SR respectively are = 6,1 years and
= 8,3 years. The fastest and the longest return period of earthquakes for M 6.0
SR respectively are = 31,5 years and = 42,9 years. While the largest
earthquake activities occurred around the area of Kendari City, south Konawe,
Konawe, Muna, and North Buton regency with the value D = 0,76. Based on slip
ratio value (i.e: 78,8 83,3) it is obtained that such earthquake activities are
influences by two mayor faults, namely Lawanopo and Lainea Fault.

Keywords: Return Period , Fractal Parameter, slip ratio

vi
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR iii

ABSTRAK v

ABSTRACT vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN xii

I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Perumusan Masalah 4

C. Tujuan Penelitian 4

D. Manfaat Penelitian 4

II. TINJAUAN PUSTAKA 6

A. Kondisi Geologi Daerah Penelitian 6

B. Teori Gempabumi 8

1. Klasifikasi Gempabumi 8
2. Parameter Gempabumi 10
3. Magnitudo Gempabumi 12
4. Hubuungan Antara Magnitude (M)
dengan Frekuensi (N) Gempabumi 17
C. Metode Declustering Gardner Knopoff 20
D. Metode Maksimum Likelihood (MLE) 21

vii
E. Dimensi Fraktal Gempabumi 23
F. Rasio Slip 25
G. ZMAP 26
H. Metode Interpolasi Natural Neighbor 28

III. METODE PENELITIAN 31

A. Waktu dan Tempat Penelitian 31


B. Alat dan Bahan 31
C. Prosedur Penelitian 32
D. Pengolahan Data 37
E. Analisis Data 38
F. Diagram Alir 39

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 40

A. Periode Ulang () 40
B. Dimensi Fraktal dan Rasio Slip (Sp/S) 43
1. Dimensi Fraktal (D) 42
2. Rasio Slip (Sp/S) 44

V. PENUTUP 46

A. Kesimpulan 46
B. Saran 47

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Metode declustering Gardner Knopoff (1974) 21

Tabel 3.1 Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian 34

Tabel 4.1 Sumber data penelitian 30

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Sebaran Gempabumi Sulawesi Tenggara dan Sekitarnya


Tahun 2007- 2012 (BMKG, 2013) 2
Gambar 2.1 Udi dan Surono (2013),
Struktur Geologi Lengan Tenggara Sulawesi 7
Gambar 2.2 Pemetaan b-value di bawah gunung berapi
untuk menyimpulkan informasi tentang lokasi magma 27
Gambar 2.3 Penentuan nilai Mc 27

Gambar 3.1 Titik gempabumi sebelum di-cluster 32

Gambar 3.2 Proses declustering 32

Gambar 3.3 Titik gempabumi setelah di-cluster 33

Gambar 3.4 Magnitude completeness (Mc) 34

Gambar 3.5 Konversi Map ke data ASCII menggunakan zmap 34

Gambar 3.6 Kontur menggunakan surfer 35

Gambar 3.7 Overlay Overlay periode ulang (), dimensi fraktal (D)
dan rasio slip (Sp/S) 36
Gambar 3.8 Diagram alir penelitian 38

Gambar 4.1 Periode ulang untuk gempabumi dengan M 4.0 SR 39

Gambar 4.2 Periode ulang untuk gempabumi dengan M 5.0 SR 40

Gambar 4.3 Periode ulang untuk gempabumi dengan M 6.0 SR 41

Gambar 4.4 Dimensi fraktal (D) 43

Gambar 4.6 Rasio slip (Sp/S) 45

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tatanan Tektonik Pulau Sulawesi

Lampiran 2 interpolasi menggunakan surfer

Lampiran 3 Konversi Ml, mb, ke Mw

xi
ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

BMKG : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Depth Gempabumi : Kedalaman Gempabumi

Episenter gempabumi : Koordinat/ posisi titik gempabumi

GUI : Graphical User Interface

Konversi : Mengubah suatu bentuk data ke bentuk data lain

Magnitude Gempabumi : Gambaran besaran energi yang dipancarkan oleh


gempabumi

mB : Magnitudo Body

Mc : Magnitude Completeness

ML : Magnitudo Local

MLE : Maksimum Likelihood Estimation

MMI : Mercally Modified Intensity

Mo : Momen Magnitudo

Ms : Magnitudo Surface

Mw : Magnitudo momen

D : Dimensi Fraktal

: Periode Ulang

xii
1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pulau Sulawesi memiliki luas sekitar 172.000 km2 dan jika diukur

bersama dengan pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya menjadi 188.000 km2.

Pulai ini merupakan pulau terluas keempat di Indoensia setelah pulau Papua

dengan luas area sekitar 785.360 km2, Kalimantan dengan luas area sekitar

736.000 km2 dan Sumatera dengan luas area sekitar 435.000 km2. Pulau ini adalah

salah satu pulau yang telah mengalami suatu proses tektonik yang sangat

kompleks dalam waktu geologi. Bentuk pulau ini yang khas menyerupai huruf K,

telah lama menarik peneliti Geografi dan Geologi (van Bemmelen, 1949).

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu wilayah dari Pulau Sulawesi

yang memiliki aktifitas gempabumi yang cukup besar. Badan Meteorologi

Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Kendari (BMKG Kendari, 2015)

mencatat 1092 gempabumi pada tahun 2014 yang terjadi di Sulawesi Tenggara

dan sekitarnya. Diantaranya terdapat 10 gempabumi dilaporkan dirasakan. Dari

sebaran titik gempabumi dari tahun 2007 2012 (gambar 1.1) terlihat bahwa

daerah Sulawesi Tenggara merupakan wilayah dengan aktivitas gempabumi yang

cukup padat. Banyaknya gempabumi yang terjadi, mengindikasikan banyaknya

sesar yang masih aktif di wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Sesar aktif

regional di Sulawesi Tenggara diantaranya: Sesar Lawanopo, Sesar Konaweha,

dan Sesar Kolaka (Surono, 2012).

1
2

Gambar 1.1 Sebaran Gempabumi Sulawesi Tenggara dan Sekitarnya


Tahun 2007- 2012 (BMKG, 2013)

Pemerintah sampai saat ini telah melakukan berbagai upaya untuk

menanggulangi dampak negatif dari bencana alam terutama gempabumi. Salah


3

satu upaya untuk meminimalisir dampak negatif dari gempabumi yaitu dilakukan

upaya mitigasi. Langkah awal yang dilakukan dalam upaya mitigaasi tersebut

adalah menganalisa parameter-parameter seismotektonik suatu wilayah. Informasi

dari hasil analisa ini menjadi penting karena dapat memberi gambaran

karakteristik kegempaan wilayah baik secara temporal maupun spasial. Dengan

mengetahui karakteristik kegempaan suatu wilayah, diharapkan dapat membantu

pemerintah dalam hal penanggulangi dampak negatif dari bencana gempabumi.

Penelitian penelitian tentang ancaman dan risiko bencana gempabumi di

Sulawesi Tenggara telah dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya:

1. Masri, Firdaus, Deniyatno (2011), memetakan tingkat ancaman

bencana gempabumi di Kecamatan Kolaka, Kabupaten Kolaka,

Sulawesi Tenggara.

2. Burhan (2010), meneliti kedalaman zona subduksi di kawasan regional

Sulawesi Tenggara dan Busur Banda Bagian Barat.

3. Ngkoimani (2011), menganalisa struktur tektonik mikro pada batuan

ultrabasa untuk mengetahui struktur tektonik di Pulau Wawonii.

4. Irna Purwanti, Alfath Abubakar (2012), Memetakan nilai Peak Ground

Acceleration (PGA), untuk wilayah Sulawesi Tenggara

Riset yang berkaitan dengan analisa parameter parameter Seismotektonik seperti

dimensi fraktal dan rasio slip serta periode ulang gempabumi di wilayah ini belum

pernah dilakukan.. Untuk itu, penulis tertarik melakukan riset ini dengan judul

Analisis Periode Ulang Gempabumi dan Parameter Fraktal Dari Data

Gempabumi Kurun Waktu 1960 2014 Di Provinsi Sulawesi Tenggara.


4

B. Perumusan Masalah

Kenyataan mengenai bencana gempabumi tidak dapat dihindari, memaksa

paradigma pemerintah menanggulangi bencana gempabumi dengan langkah

preventif ke arah mitigasi atau mengantisipasi banyaknya jumlah korban akibat

gempabumi. Salah satu langkah awal dalam upaya mitigasi guna mengantisipasi

jatuhnya banyak korban akibat gempabumi adalah menganalisa parameter-

parameter seismotektonik suatu wilayah. Oleh karena itu, masalah-masalah yang

akan dikaji adalah:

1. Bagaimana periode ulang gempabumi di wilayah Sulawesi Tenggara?

2. Bagaimana parameter fraktal dan rasio slip gempabumi di wilayah Sulawesi

Tenggara?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Menentukan periode ulang gempabumi di wilayah Sulawesi Tenggara

2. Menentukan parameter fraktal dan rasio slip gempabumi wilayah Sulawesi

Tenggara

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan:

a. Memperkaya khasanah keilmuan tentang karakteristik seismotektonik dan

periode ulang gempabumi di wilayah Sulawesi Tenggara.

b. Memberikan tambahan referensi kepada penulis lain yang ingin meneliti

kegempaan suatu wilayah


5

2. Manfaat bagi pembangunan Bangsa dan Negara:

a. Dapat dijadikan dasar rujukan pengambilan keputusan dalam upaya

mitigasi yang berkenaan dengan bencana gempabumi di Wilayah Sulawesi

Tenggara karena dapat memberikan informasi periode ulang gempabumi

secara detail baik masa yang lalu maupun masa yang akan datang di suatu

wilayah.

b. Variasi parameter fraktal sangat berhubungan dengan karakteristik

kegempaan suatu wilayah sehingga dapat dijadikan acuan menentukan

bagaimana karakteristik kegempaan wilayah tersebut.


2. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kondisi Geologi Daerah Penelitian

Menurut situs resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, wilayahnya

terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Secara geografis terletak di bagian

Selatan Garis Khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan di antara 0245'-

0615' Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara 12045'-

12445' Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Utara berbatasan

dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah, sebelah Selatan

berbatasan dengan Provinsi NTT di Laut Flores, sebelah Timur berbatasan dengan

Provinsi Maluku di Laut Banda dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi

Sulawesi Selatan di Teluk Bone.

Letak Sulawesi Tenggara berada pada Mandala Geologi Sulawesi Timur

atau Lengan Tenggara Sulawesi. Struktur geologi yang berkembang di daerah ini

didominasi oleh sesar berarah barat laut-tenggara, yang utama terdiri atas Sesar

Matano, Kelompok Sesar Kolaka, Kelompok Sesar Lawanopo, dan Kelompok

Sesar Lainea. Sesar-sesar lainnya terdiri atas Sesar Lemo, Sesar Lameroto, Sesar

Mateupe, Sesar Lindu, Sesar Lambatu, dan Sesar Tanjungbasi (Surono, 2013).

6
7

Gambar 2.1 Udi dan Surono (2013), Struktur Geologi Lengan Tenggara Sulawesi

Sesar Matano pertama kali dikenalkan pertama kali oleh Waheed (1975). Di

darat Sesar Matano dicirikan oleh kelurusan lembah, yang membentang dari

pantai Lengan Tenggara Sulawesi, memotong Sesar Naik Poso di Sulawesi

Tengah dan akhirnya bergabung dengan Sesar Palu-Koro (gambar 2.1). Danau
8

Matano merupakan cekungan pull apart dari Sesar Matano, Danau Towuti

terbentuk oleh pengaruh Sesar Matano, Sesar Lawanopo, Sesar Solo, dan Sesar

Matarombeo. Sesar-sesar ini cukup aktif, terutama Sesar Matano sebagaimana

dijumpai beberapa gempa sepanjang atau dekat dengan Sesar tersebut (Hamilton,

1979).

B. Teori Gempabumi

Gempabumi merupakan gejala alam yang disebabkan adanya deformasi

batuan yang terjadi pada lapisan litosfer. Deformasi batuan terjadi akibat adanya

tekanan (stress) dan regangan (strain) pada lapisan bumi. Tekanan atau regangan

yang terus-menerus menyebabkan daya dukung pada batuan akan mencapai batas

maksimum dan mulai terjadi pergeseran dan akhirnya terjadi patahan secara tiba-

tiba.

1. Klasifikasi Gempabumi

Gempabumi yang merupakan fenomena alam yang bersifat merusak dan

menimbulkan bencana dapat digolongkan menjadi empat jenis (Ibrahim dkk,

2005), yaitu:

a. Gempabumi vulkanik (gunungapi), gempabumi ini terjadi akibat adanya

aktivitas magma yang bisa terjadi sebelum gunungapi meletus. Apabila

keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan terjadinya ledakan

yang juga akan menimbulkan gelombang seismik. Gempabumi tersebut

hanya terasa di sekitar lokasi gunungapi tersebut.


9

b. Gempabumi tektonik, gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas

tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik yang mempunyai

kekuatan sangat bervariasi. Gempabumi ini banyak menimbulkan kerusakan

atau bencana alam di permukaan bumi, getaran gempabumi yang kuat

menjalar keseluruh bagian bumi.

c. Gempabumi Runtuhan, gempabumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur

ataupun pada daerah pertambangan. Jenis gempabumi ini jarang terjadi dan

bersifat lokal.

d. Gempabumi buatan, gempabumi buatan adalah getaran pada bumi yang

disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir

atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi untuk kegiatan eksplorasi.

Berdasarkan kedalaman sumber (h), gempabumi digolongkan atas tiga jenis

(BMKG, 2014), yaitu:

a. Gempabumi dalam h > 300 km.

b. Gempabumi menengah 60 h 300 km.

c. Gempabumi dangkal h < 60 km.

Berdasarkan kekuatannya atau magnitudo, gempabumi dapat dibedakan atas

tujuh jenis (Ibrahim dkk, 2005), yaitu:

a. Gempabumi sangat besar, dengan magnitude lebih besar dari 8 SR.

b. Gempabumi besar,magnitude antara 7 hingga 8 SR.

c. Gempabumi merusak,magnitudo antara 5 hingga 6 SR.

d. Gempabumi sedang,magnitudo antara 4 hingga 5 SR.


10

e. Gempabumi kecil, dengan magnitudo antara 3 hingga 4 SR. G

f. Gempabumi mikro,magnitudo antara 1 hingga 3 SR.

g. Gempabumi ultra mikro, dengan magnitudo lebih kecil dari 1 SR.

Berdasarkan tipenya, Mogi membedakan gempabumi atas 3 tipe (Ibrahim,

2005), yaitu:

a. Tipe I: pada tipe ini gempabumi utama diikuti gempa susulan tanpa

didahului oleh gempa pendahuluan (fore shock).

b. Tipe II : sebelum terjadi gempabumi utama, diawali dengan adanya gempa

pendahuluan dan selanjutnya diikuti oleh gempa susulan yang cukup

banyak.

c. Tipe III: tidak terdapat gempabumi utama. Magnitudo dan jumlah

gempabumi yang terjadi besar pada periode awal dan berkurang pada peiode

akhir dan biasanya dapat berlangsung cukup lama dan bisa mencapai 3

bulan. Tipe gempa ini disebut tipe swarm dan biasanya terjadi pada daerah

vulkanik seperti gempa gunung Lawu pada tahun 1979.

2. Parameter Gempabumi

Setiap kejadian gempabumi akan menghasilkan seismik berupa rekaman

sinyal berbentuk gelombang yang setelah melalui proses manual atau non manual

akan menjadi data bacaan fase. Informasi seismik selanjutnya mengalami proses

pengumpulan, pengolahan dan analisis sehingga menjadi parameter gempabumi.

Parameter gempabumi tersebut meliputi:


11

a. Waktu kejadian gempabumi (Origin time). Waktu kejadian gempabumi

adalah waktu terlepasnya akumulasi tegangan (stress) yang berbentuk

penjalaran gelombang gempabumi dan dinyatakan dalam hari, tanggal,

bulan, tahun, jam, menit, detik dalam satuan UTC (Universal Time

Coordinat).

b. Episenter (Epicenter) adalah titik di permukaan bumi yang merupakan

refleksi tegak lurus dari Hiposenter (Hypocenter) atau fokus (focus)

gempabumi. Lokasi Episenter dibuat dalam sistem koordinat kartesian

bola bumi atau sistem koordinat geografis dan dinyatakan dalam derajat

lintang dan bujur.

c. Kedalaman sumber gempabumi (Depth) adalah jarak hiposenter dihitung

tegak lurus dari permukaan bumi. Kedalaman dinyatakan oleh besaran

jarak dalam satuan kilometer (km).

d. Kekuatan gempabumi atau magnitudo (Magnitudo) adalah ukuran

kekuatan gempabumi, menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada

saat gempabumi terjadi dan merupakan hasil pengamatan seismograf.

Untuk menyatakan kekuatan gempabumi digunakan skala Richter ( SR).

e. Intensitas (Intensity) gempabumi adalah skala kekuatan gempabumi

berdasarkan hasil pengamatan efek gempabumi terhadap manusia, struktur

bangunan, dan lingkungan pada tempat tertentu. Intensitas gempabumi

dinyatakan dengan MMI (Mercally Modified Intensity).


12

3. Magnitudo Gempabumi

Magnitudo adalah ukuran kekuatan gempabumi berdasarkan energi yang

dilepaskan saat gempabumi. Magnitudo dinyatakan dalam skala Richter (SR) dan

dilambangkan dengan M. Kekuatan gempabumi dinyatakan dengan besaran

magnitudo dalam skala logaritma basis 10. Suatu harga magnitudo diperoleh

sebagai hasil analisis tipe gelombang seismik tertentu (berupa rekaman getaran

tanah yang tercatat paling besar) dengan memperhitungkan koreksi jarak stasiun

pencatat ke episenter.

Menurut Lay dan Wallace (1995) dalam Ibrahim (2005) saat ini terdapat

empat jenis magnitudo yang umum digunakan yaitu:

a. Magnitudo Local (ML)

Magnitudo Local (ML) pertama kali diperkenalkan oleh Richter di awal

tahun 1930-an dengan menggunakan data kejadian gempabumi di daerah

California yang direkam oleh seismograf Woods-Anderson. Menurutnya dengan

mengetahui jarak episenter ke seismograf dan mengukur amplitude maksimum

dari sinyal yang tercatat di seismograf maka dapat dilakukan pendekatan untuk

mengetahui besarnya gempabumi yang terjadi.

Magnitudo lokal mempunyai rumus empiris sebagai berikut:

ML= log A + 3 log - 2,92 (2.1)

dimana:

A = amplitude getaran tanah (m)


13

= jarak stasiun ke sumber gempabumi (km) dengan 600 km.

Saat ini penggunaan ML sangat jarang karena pemakaian seismograf

Woods Anderson yang tidak umum. Selain itu penggunaan kejadian gempabumi

yang terbatas pada wilayah California dalam menurunkan persamaan empiris

membuat jenis magnitudo ini paling tepat digunakan untuk daerah tersebut saja.

Karena itu dikembangkan jenis magnitudo yang lebih tepat untuk penggunaan

yang lebih luas dan umum.

b. Magnitudo Bodi (mb)

Terbatasnya penggunaan magnitudo lokal untuk jarak tertentu membuat

dikembangkannya tipe magnitudo yang bisa digunakan secara luas. Salah satunya

adalah mb atau magnitudo bodi (Body-Wave Magnitude). Magnitudo ini

didefinisikan berdasarkan catatan amplitudo dari gelombang P yang menjalar

melalui bagian dalam bumi.

Magnitudo bodi secara umum dirumuskan dengan persamaan:

mb = log ( A / T ) + Q (h,) 2.2)

dimana:

A = amplitude getaran ( m )

T = periode getaran (detik)

Q (h,) = koreksi jarak dan kedalaman h yang didapatkan dari pendekatan

empiris.
14

c. Magnitudo Surface (Ms)

Magnitudo tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran terhadap

gelombang permukaan (surface waves). Amplitudo gelombang permukaan sangat

tergantung pada jarak dan kedalaman sumber gempa. Gempabumi dalam tidak

menghasilkan gelombang permukaan, karena itu persamaan Ms tidak memerlukan

koreksi kedalaman. Magnitudo ini mempunyai rumus:

Ms = log A + log + (2.3)

dimana:

A = amplitudo maksimum dari pergeseran tanah horizontal pada periode

20 detik

= jarak (km)

dan = adalah koefisien dan konstanta yang didapatkan dengan pendekatan

empiris.

Persamaan ini hanya untuk gempabumi dengan kedalaman sekitar 60 km.

d. Magnitudo Momen (Mw)

Kekuatan gempabumi sangat berkaitan dengan energi yang dilepaskan

oleh sumbernya. Pelepasan energi ini berbentuk gelombang yang menjalar ke

permukaan dan bagian dalam bumi. Dalam penjalarannya energi ini mengalami

pelemahan karena absorbsi dari batuan yang dilaluinya, sehingga energi yang

sampai ke stasiun pencatat kurang dapat menggambarkan energi gempabumi di

hiposenter.
15

Berdasarkan Teori Elastik Rebound diperkenalkan istilah momen

seismik (seismic moment). Momen seismik dapat diestimasi dari dimensi

pergeseran bidang sesar atau dari analisis karakteristik gelombang gempabumi

yang direkam di stasiun pencatat khususnya dengan seismograf periode bebas

(broadband seismograph).

Mo = Do L (2.4)

dimana:

Mo = momen seismik

= rigiditas

Do = pergeseran rata-rata bidang sesar

L = luas area sesar.

Kanamori (1997) dan Lay and Wallace (1995) dalam Pawirodikromo

(2012), memperkenalkan magnitudo momen (moment magnitude) yaitu suatu tipe

magnitudo yang berkaitan dengan momen seismik namun tidak bergantung dari

besarnya magnitudo surface:

Mw = ( log Mo / 1,5 ) 6,07 (2.5)

dimana:

Mw = magnitudo momen

Mo = momen seismik.
16

Magnitudo momen dapat menyatakan jumlah energi yang dilepaskan di

sumber gempabumi dengan lebih akurat, pengukuran lebih komplek dibandingkan

pengukuran magnitudo ML, Ms dan mb. Saat ini magnitudo momen lebih banyak

digunakan dalam memberikan informasi gempabumi.

Chen dan Chen (1989) dalam Bormann (2002) mempublikasikan hubungan

global antara Mo dan Ms serta mb dan Ml, berdasarkan data sekitar 800

gempabumi dengan rentang magnitude 0 < M < 8,6. Mereka menunjukkan bahwa

data empirisnya sangat cocok dengan hubungan skala teoritis yang diperoleh dari

model Haskell yang telah dimodifikasi. Adapun hubungan tersebut adalah:

Hubungan Mo dan Ms

Untuk Mo dan Ms didapatkan bahwa Ms akan mengalami saturasi pada Ms

= 8,5 untuk Mo > 22,8 Nm. Sedangkan hubungan yang lain dapat dituliskan

dengan persamaan sebagai berikut:

Log Mo = 1,0 Ms + 12,2 Untuk Ms 6,4 (2.6)

Log Mo = 1,5 Ms + 9,0 Untuk 6,4 < Ms 7,8 ( 2.7)

Log Mo = 3,0 Ms 2,7 Untuk 7,8 < Ms 8,5 (2.8)

Hubungan Mo dan mb

Untuk Mo dan mb untuk skala global, mb akan mengalami saturasi pada mb

= 6,5 untuk Mo > 20,7). Sedangkan hubungan lain dapat dituliskan dengan

persamaan sebagai berikut:

Log Mo = 1,5 mb + 9,0 Untuk 3,8 < mb 5,2 (2.9)

Log Mo = 3,0 mb + 1,2 Untuk 5,2 < mb 6,5 (2.10)


17

Hubungan Mo dan Ml

Untuk Mo dan Ml untuk skala global, Ml akan mengalami saturasi pada Ml

= 6,3 untuk Mo > 20,1). Sedangkan hubungan lain dapat dituliskan dengan

persamaan sebagai berikut:

Log Mo = Ml + 10,5 Untuk Ml 3,6 (2.11)

Log Mo = 1,5 Ml + 8,7 Untuk 3,6 < Ml 5,0 (2.12)

Log Mo = 3 Ml + 1,2 Untuk 5,0 < Ml 6,3 (2.13)

4. Hubungan Antara Magnitude (M) dengan Frekuensi (N) Gempabumi

Hubungan frekuensi magnitude gempa bumi pertama kali dilakukan oleh

Ishomoto dan Iida (1939). Penelitian ini berdasarkan rekaman seismogram untuk

daerah Kwato, Jepang. Kemudian B. Gutenberg dan C.F Richter (1954)

melakukan hal yang sama untuk data global seluruh dunia, demikian juga untuk

daerah tertentu.

Studi tentang hubungan frekuensi-magnitude gempa bumi sudah merupakan

hubungan dasar dari statistik seismologi. Jumlah gempa N dengan magnitude M

dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

Log N = a bM (2.14)

Dimana:

N = Jumlah gempabumi M Mo

a = suatu tetapan yang besarnya tergantung pada perioda, luas

daerah dan aktivitas daerah pengamatan


18

b = Parameter seismotektonik suatu daerah dimana terjadi

gempabumi dan tergantung dari sifat batuan setempat

M = Magnitude gempabumi

Nilai-b adalah parameter tektonik suatu daerah, harga ini erat sekali

hubungannya dengan keadaan tektonik daerah yang sedang diamati dimana terjadi

gempa bumi dan tergantung dari sifat batuan setempat, nilai-b dapat menunjukkan

tingkat kerapuhan batuan. Makin besar nilai-b berarti makin besar pula tingkat

kerapuhan batuannya. Dengan kata lain, nilai-b adalah parameter tektonik yang

menunjukkan jumlah relatif dari gempa yang kecil hingga gempa besar, nilai ini

biasanya mendekati 1. Studi tentang bagaimana b-value dapat dihitung secara

teliti telah dilakukan antara lain oleh Aki (1965), Shi dan Bolt (1982), Bender

(1983), Utsu (1965) Zuniga dan Wyss (1995).

Menurut Gutenberg-Richter (1954), parameter b-value berkisar antara b =

0.45 sampai b= 1.50 pada berbagai tempat di daerah seismik. Tetapi Kagan (1999)

menyatakan bahwa b-value secara prinsip konstan. Demikian pula peneliti lain

menyatakan bahwa terdapat variasi spatial dan temporal yang siginifikan

(Wiemer dan benoit, 1996; Ayele dan Kulhanek, 1997; Wiemer et al., 1998;

Westenberger et al., 2001). Beberapa contoh adanya variasi b-value:

a) 0.3 b 1.8 Hurtig and Stiller (1984), seismisitas global.

b) 0.6 b 1.5 Udias and Mezcua (1997), seismisitas global

c) 0.8 b 1.2 McNally (1989), seismisitas global

d) 0.6 b 1.6 Monterroso and Kulhanek (2003), seismisitas Amerika Tengah.

e) 0.6 b 2.6 Nuannin et al.(2002), Swedia.


19

5. Periode Ulang Gempabumi ()

Periode ulang gempabumi () menjelaskan bahwa gempabumi dengan skala

tertentu akan terulang kembali di daerah yang sama pada kurun waktu tertentu.

Fenomena gempabumi dapat digambarkan sebagai pelepasan energi oleh batuan

bumi yang mengalami stress (baik regangan maupun tekanan) setelah mengalami

akumulasi dalam jangka waktu tetentu sesuai dengan sifat fisik batuan buminya.

Semakin tinggi kekuatan batuan menahan stresss, semakin besar pula energi yang

dilepaskan. Dengan kata lain semakin lama periode ulang suatu gempabumi,

semakin besar pula magnitudo gempabumi yang akan terjadi.

Dengan metode statistik, gempabumi yang pernah terjadi di suatu daerah

tertentu dapat diperkirakan kapan akan terulang lagi dengan skala sama, sehingga

dapat meminimalisir kerusakan yang mungkin terjadi. Untuk mendapatkan rata-

rata periode ulang gempa () dapat dihitung dengan persamaan berikut:

1
= (2.15)
N1 (M M input )

dengan:

(M Minput) : periode ulang gempa untuk magnitude M Minput

N1 (M Minput) : indeks seismisitas untuk magnitude M Minput

Dimana nilai dari N1 (M Minput) didapatakan dari persamaan berikut:



1 ( ) = 10( 1 )
(2.16)

Dimana nilai:

a1 = a- log T (2.17)

a= a-log (bln10) (2.18)


20

a = log N (M Minput) + log (bln10)+ bMinput (2.19)

Peluang terjadinya gempabumi dengan magnitudo dan kurun waktu tertentu

di suatu daerah disebut sebagai risiko gempabumi. Harga risiko gempa ini

berguna untuk mitigasi bencana dalam upaya mengurangi dampak negatif dari

bencana gempabumi. Daerah yang memiliki indeks seismisitas yang besar dengan

periode ulang () yang rendah menunjukan bahwa daerah tersebut merupakan

daerah yang rawan bencana gempabumi atau memiliki resiko gempabumi yang

tinggi. Begitu pula sebaliknya untuk daerah yang memiliki periode ulang yang

tinggi dengan indeks seismisitas yang kecil menunjukan bahwa daerah tersebut

merupakan daerah dengan risiko gempabumi yang rendah.

C. Metode Declustering Gardner - Knopoff

Metode declustering menurut Gardner-Knopoff (1974) digunakan untuk

menghapus aftershock (gempasusulan) dari katalog gempabumi. Ukurannya

terlihat pada tabel 2.1. Jika sebuah gempabumi yang lebih kecil diikuti oleh suatu

gempabumi yang lebih besar pada suatu cluster yang sama, ditetapkan oleh teori

tersebut bahwa magnitude terbesar dipertahankan di dalam katalog gempabumi

sementara gempabumi yang lebih kecil yang terlebih dahulu dihapus.


21

Tabel 2.1 Metode declustering Gardner Knopoff (1974)

Magnitude Radius (KM) Waktu (Hari)

3 22,5 11,5

4 30 42

5 40 155

6 50 510

7 70 915

8 94 985

Pada tabel 2.1 Gardner-Knopoff (1974) menjelaskan bahwa, untuk memisahkan

antara gempabumi utama dan gempabumi susulan dikatakan bahwa, apabila

terjadi gempabumi dengan magnitude 3 (lihat baris 1, kolom 1), diikuti dengan

gempabumi dengan magnitude yang lebih kecil dengan radius (lihat baris 1,

kolom 2) lebih kecil dari 22,5 km dan waktu (lihat baris 1, kolom 3) lebih kecil

dari 11,5 hari, maka gempabumi yang lebih kecil dianggap gempabumi susulan

dan dihapus dari katalog. Begitu juga dengan gempabumi dengan magnitude 4 8

jika diikuti dengan gempabumi yang lebih kecil dan masuk ke dalam rentang

waktu ( lihat kolom 2) dan jarak (lihat kolom 3).

D. Metode Maksimum Likelihood (MLE)

Nilai-b dapat dihitung dengan menggunakan Metode Likelihood Maksimum

karena sangat sesuai sekali untuk memecahkan beberapa masalah statistik

seismologi (Harahap, 2008). Metode Likelihood Maksimum menggunakan

persamaan yang diberikan Utsu (1965) yaitu :


22

log e 0.4343
b (2.20)
M M min M M min
n

MiNi
M i 1
n
(2.21)
Ni
i 1

dimana :

M = magnitudo rata-rata

M min = magnitudo minimum

Mi = jumlah magnitudo

Ni = jumlah data

Magnitudo minimum yang dipakai dalam perhitungan nilai-b dapat

menggunakan dua kriteria berikut:

a) Likelihood (Mmin)

Dalam hal ini perhitungan nilai a dan b menggunakan metode likelihood

dengan nilai Mmin sama dengan nilai magnitudo terendah yang tercatat pada

daerah yang akan dihitung.

b) Likelihood (Mmin=Mc)

Dalam hal ini perhitungan nilai a dan b menggunakan metode likelihood

dengan nilai M0 sama dengan nilai Mc (magnitude completenes) yang tercatat

pada daerah yang akan dihitung. Mc = magnitudo dengan nilai N paling besar. Mc

dapat didekati dengan cara plot distribusi frekuensi magnitudo.


23

Menurut Utsu (1961) ditunjukkan bahwa metode likelihood lebih teliti

daripada metode least square, dengan manfaat bahwa kejadian ini untuk data

gempabumi yang runtutan (series) kecil. Selanjutnya untuk batas atas dan bawah

selang keyakinan dari nilai-b yang ditentukan dengan metode ini dan probabilitas

dari 95% adalah:

1,96
b b1 (2.22)
N

1,96
b b1 (2.23)
N

dimana:

b = batas atas nilai-b

b = batas bawah nilai-b

E. Dimensi Fraktal Gempabumi (D)

Fraktal banyak dijumpai di alam dan sistem matematis. Fraktal berasal dari

kata latin fractus yang memiliki arti patah atau rusak atau tidak teratur. Ciri khas

dari fraktal adalah memiliki dimensi. Dimensi fraktal dinyatakan dalam D

(Mandelbrot, 1982). Dimensi fraktal mengukur geometri dari distribusi dan

kemungkinan variasinya sebagai fungsi ruang dan waktu.

Geometri fraktal adalah cabang matematika yang mempelajari sifat-sifat dan

prilaku fraktal. Fraktal dapat membantu menjelaskan banyak situasi yang sulit

dideskripsikan menggunakan geometri klasik seperti geometri euklidian dan


24

kalkulus. Fraktal menyangkut bentuk baru geometri, dimana obyek utamanya

adalah slruktur alam dengan ketidakberaturan dan kekasaran beberapa skala

(Cahn, 1989). Pohon atau pakis merupakan salah satu contoh fraktal di alam. Bila

diambil suatu dari cabang dari satu pohon terlihat bahwa cabang tersebut adalah

miniatur dari pohonnya secara keseluruhan yang tidak sama persis, tetapi mirip.

Gempabumi berkaitan erat dengan patahan, sementara patahan tersusun oleh

retakan-retakan batuan dan dapat dianggap sebagai sistem fraktal (Hirata, dkk.,

1987; Kagan, 1982). Variasi dimensi fraktal secara spasial kemungkinan

berhubungan erat dengan heterogenitas kondisi geologi (Aviles, dkk., 1987).

Metoda fraktal ini pernah diaplikasikan di daerah Kalifornia bagian selatan

dengan menggunakan catalog gempabumi tahun 1932 - 1972 (Main dan Burton,

1986). Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa dimensi fraktal (D) untuk

daerah Kalifornia bagian selatan adalah 1.78. Angka tersebut menunjukan

aktivitas gempa yang sangat banyak yang berasosiasi dengan keberadaan sesar

San Andreas. Selain itu, penelitian serupa dilakukan untuk wilayah Indonesia

dengan menggunakan katalog gempabumi tahun 1973 2006 (Galih dan

Handayani, 2007), hasil dari penelitian ini digunkan untuk memberikan gambaran

tentang zonasi daerah rawan bencana gempabumi di Indonesia. Hasil penelitian

ini cukup baik menggambarkan zona-zona yang menjadi zona rawan gempabumi

di wilayah Indonesia (gambar 2.3).


25

Gambar 2.3 Dimensi Fraktal untuk beberapa kelompok rawan bencana


gempabumi.

Dalam kajian aktivitas gempabumi, Turcotte (1992) melakukan penurunan

rumus sederhana sehingga didapat besaran dimensi fraktal (D) sebagai berikut:

D=2b (2.24)

dimana b adalah konstanta yang didapat dari hukum Gutenberg-Richter (lihat

persamaan 2.14)

F. Rasio Slip(Sp/S)

Slip memiliki arti sebagai pergeseran relatif. Slip (pergeseran relatif) bila

diukur dari blok satu ke yang lain pada bidang sesar dan merupakan pergeseran

titik-titik yang sebelumnya berimpit. Rasio antara slip yang terjadi pada patahan

utama dengan total slip dinamakan rasio slip, dan dapat dihitung dari dimensi

fraktal dengan rumus (Khatri, 1995):

Sp/S = 1-2-(3-D) (2.25)


26

dimana Sp adalah slip yang terjadi pada patahan utama dan S merupakan total slip.

Untuk D = 3, semua slip terjadi pada patahan- patahan kecil, sementara untuk

kasus tertentu dimana D = 0, kurang lebih 88% slip terjadi pada patahan utama

(Khatri, 1995).

G. ZMAP

ZMAP pertama diterbitkan pada tahun 1994 oleh Stefan Wiemer. ZMAP

adalah software berupa tools yang menggunakan Graphical User Interface

(GUI), yang dirancang untuk membantu seismolog menganalisa data katalog

gempabumi. Menurut Wiever (2001), beberapa dari berbagai kemampuan aplikasi

ZMAP ini antara lain:

(1) Penilaian kualitas katalog dan eksplorasi data

(2) Pemetaan b-value di bawah gunung berapi untuk menyimpulkan informasi

tentang lokasi magma

(3) Memperkirakan perubahan tingkat kegempaan yang disebabkan oleh gempa

besar

(4) Stres tensor inversi pada grid untuk mengukur heterogenitas stres lapangan

(5) Pemetaan magnitude gempabumi

ZMAP dijalankan dalam program MATLAB, namun untuk

menjalankannya, pengguna tidak perlu menggunakan kode atau bahasa

pemograman karena ZMAP di jalankan menggunakan Graphical User Interface

(GUI).

Beberapa peneliti di dalam negeri telah memanfaatkan ZMAP sebagai

software untuk mempermudah penelitian mereka diantaranya:


27

1. Rohadi (2009), distribusi spatial seismotektonik variasinya dari 0,6-1,8,

sedangkan variasi nilai-a sekitar 4,0-12,1. Periode ulang gempabumi

dengan magnitude Mw 6,5 berkisar antara 4 hingga 12 tahun.

2. Sunardi (2009), nilai-b daerah Bali-NTB secara spasial bervariasi dari

0,7 sampai 2. Secara kualitatif nilai-b yang rendah berada di sebelah

selatan pulau Sumbawa-Sumba serta sebagian daerah di sebelah utara

pulau Bali-Lombok dan Sumbawa. Hal Ini menunjukkan bahwa daerah

ini memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadi gempabumi

dengan magnitude yang besar karena tingkat stress nya yang tinggi.

Adapun contoh hasil analisis menggunakan ZMAP antara lain:

Gambar 2.3 Pemetaan b-value di bawah gunung berapi untuk menyimpulkan

informasi tentang lokasi magma


28

Gambar 2.4 Penentuan nilai Mc

Gambar 2.2 merupakan hasil variasi b value, nilai ini digunakan untuk

membantu memetakan lokasi magma untuk gunung berapi. Sedangkan gambar

2.3 merupakan kurva yang menunjukkan hubungan Magnitude dengan jumlah

gempa berdasarkan persamaan 2.14.

H. Metode Interpolasi Natural Neighbor

Interpolasi sering disebut dengan resampling, dimana interpolasi merupakan

suatu metode pencitraan untuk menambah atau mengurangi jumlah piksel dalam

citra digital (Pasaribu, dkk., 2012). Proses interpolasi ini digunakan untuk

menghasilkan citra yang lebih detil. Hampir semua perangkat untuk untuk editing

citra mendukung satu atau lebih metode interpolasi.

Algoritma yang digunakan pada interpolasi natural neighbor ini bekerja

dengan mencari titik-titik yang berdekatan dengan titik sampel dan

mengaplikasikan bobot (weight) pada titik tersebut (Sibson, 1981). Sifat dasar dari
29

metode ini adalah lokal, dimana hanya menggunakan sampel yang berada di

sekitar titik yang ingin diinterpolasi. Hasil yang diperoleh akan mirip dengan nilai

data sampel yang digunakan sebagai nilai masukan interpolasi. Setiap titik dalam

metode natural neighbor adalah titik-titik yang dihubungkan dengan diagram

voronoi (Thiessen Poligon).

Proses pertama yang terjadi pada metode natural neighbor adalah

membangun poligon untuk semua titik-titik masukan yang digunakan dalam

interpolasi. Berikutnya Thiessen Poligon yang baru akan dibuat dari sekitar titik-

titik interpolasi.

Gambar 2.5 Diagram Vononoi (Merwade, dkk., 2006)

Konsep dasar dari perhitungan elevasi dengan meggunakan Thiessen Polygon

dapat dilihat pada Gambar 2.5 (a). Nilai weight () dihitung berdasarkan luas area

di sekitar titik-titik yang akan diinterpolasi bukan berdasarkan jarak. Jika titik

yang akan diinterpolasi z* dimasukkan ke dalam data set, Thiessen Polygon untuk

titik-titik (z1,z2,,zn) di sekitar z* seperti paga Gambar 2.4 (b). jika pi dan qi

adalah titik-titik yang merupakan area Thiessen Polygon dari titik sampel zi
30

sebelum dan sesudah z*, maka bobot (weight) untuk titik sampel zi dirumuskan

sebagai berikut (Merwade, dkk., 2006):


= (2.26)

Untuk estimasi nilai z* titik yang ingin diinterpolasi dihitung dengan

menggunakan persamaan (Azpurua dan Ramos, 2010):


= =1 (2.27)

keterangan:

i = bobot (weight)

pi, qi = titik-titik yang merupakan area Thiessen Polygon

zi = titik sampel

z* = titik yang ingin diinterpolasi


3. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu dan tempat penelitian ini adalah:

1. Waktu : November 2015 s/d April 2016

2. Tempat : Daerah Sulawesi Tenggara

(2,75o LS6,25o LS dan 120,75o BT124,75o BT)

B. Alat dan Bahan

Adaapun alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah:

Tabel 3.1 Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian

NO Alat dan Bahan Spesifikasi Kegunaaan

Processor Intel

Celeron,
Alat untuk menjalankan
Laptop/ PC OS Windows 7,
1
program
Ram 2 Gb

HDD 500 Gb

Matlab (menjalankan
Matlab Matlab R2014a
2
software ZMAP)

ZMAP ZMAP Ver 6.0 ZMAP (analisa data)


3

Microsoft Office Microsoft Office 2007


Microsoft Office
4
2007 (analisis data)

31
32

NO Alat dan Bahan Spesifikasi Kegunaaan

Global Mapper Ver. 15,0 Mendigitasi Gambar


5

Surfer Ver 11,1 Membuat Contur (Zona)


6

Data Gempabumi
1960 - 1972 Bahan analisa
7
EHB

Data Gempabumi
1973 - 2006 Bahan analisa
8
USGS

Data Gempabumi
2007 - 2014 Bahan analisa
9
BMKG

C. Prosedur Penelitian

Adapun prosedur dalam penelitian ini adalah:

1. Mengumpulkan data gempabumi (Magnitude, Epicentre, Origin Time)

dari berbagai sumber yaitu: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Unites States

Geological Survey (USGS) dan Earthquake Historical Bulletin (EHB).

2. Menggabungkan data gempabumi yang telah diperoleh dari berbagai

sumber. Jumlah data setelah digabungkan adalah sebanyak kejadian.

3. Mengkonversi data magnidtude (Ml, mb dan Ms) ke Mw dengan metode

Chen dan Chen (1989). Untuk menyeragamkan data, semua magnitude

(mB, Ms, dan Ml) kita konversi ke Magnitude momen (Mw). Konversi

data tidak mempertimbangkan medium yang dilalui oleh masing-masing


33

magnitude. Konversi hanya dilakukan berdasarkan metode yang telah

dilakukan oleh peneliti terdahulu yaitu Chen dan Chen pada tahun 1989.

4. Memisahkan gempabumi utama dengan gempabumi susulan dengan

metode decluster oleh Gardner-Knopoff (1974). Data yang diperoleh dari

hasil konversi masih terdapat gempabumi susulan sehingga perlu untuk

menghilangkan gempabumi susulan dari katalog. proses ini sangat penting

karena apabila data yang kita olah masih terdapat gempabumi susulan, ini

artinya data tidak seragam. Data yang tidak seragam dapat mengakibatkan

hasil yang diperoleh tidak akurat. Berikut proses declustering

menggunakan metode Garnerd-Knopoff dengan bantuan zmap:

Gambar 3.1 Titik gempabumi sebelum di-cluster

Gambar 3.1 merupakan titik berwarna biru merupakan epic gempabumi

sebelum di-cluster. Data gempabumi masih terdapat gempabumi susulan

sehingga perlu dihilangkan dari katalog.


34

Gambar 3.2 Proses declustering

Pada Gambar 3.2 terdapat titik berwarna merah muda. Titik ini merupakan

epic dari gempabumi susulan. Setelah diproses, titik ini akan dihilangkan

dari katalog sehingga tersisa hanya gempabumi utama seperti pada Gambar

3.3 berikut:

Gambar 3.3 Titik gempabumi setelah di-cluster


35

Jumlah gempabumi sebelum di-cluster adalah 3671 kejadian, setelah

dilakukan clustering maka gempabumi tersisa 2844 kejadian.

5. Mencari magnitude completeness (Mc) dengan bantuan zmap. Magnitude

completeness (Mc) didapatkan dengan menggunakan bantuan software

zmap. Nilai Magnitude completeness Mc merupakan nilai maksimum dari

magnitude yang diplot menggunakan persamaan. Gutenberg dan C.F

Richter (1954). Berikut nilai Magnitude completeness (Mc) yang

didapatkan:

Gambar 3.4 Magnitude completeness (Mc)

6. Mencari b-value dengan metode Maksimum Likelihood (MLE) dengan

bantuan software ZMAP kemudian di simpan dalam format ASCII.


36

Gambar 3.5 Konversi Map ke data ASCII menggunakan zmap

7. Dari format ASCII kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel untuk

mencari nilai periode ulang () menggunakan persamaan (2.16), dimensi

fraktal (D) dengan menggunakan persaamaan Turcotte (1992) dan rasio

slip (Sp/S) dengan persamaan Khatri (1995).

8. Membuat kontur untuk periode ulang (), dimensi fraktal (D) dan rasio

slip (Sp/S)
37

Gambar 3.6 Kontur menggunakan surfer

9. Overlay periode ulang (), dimensi fraktal (D) dan rasio slip (Sp/S)

dengan peta geologi menggunakan Global Mapper. Overlay dilakukan

untuk menampilkan gambaran pengaruh geologi terhadap hasil yang

didapatkan. Global Mapper sangat baik digunakan dalam proses ini karena

gambar yang kita masukkan bisa kita ubah ke bentuk vector sehingga letak

koordinat dari gambar bisa sesuai dengan letak sebenarnya.

Gambar 3.7 Overlay Overlay periode ulang (), dimensi fraktal (D) dan rasio slip

(Sp/S)

D. Pengolahan Data

Data yang didapatkan kemudian digabungkan sesuai dengan tahun yang

telah direncanakan. Seteleh digabungkan, dilakukan konversi magnitude dari Ml,


38

mb dan Ms ke Mw. Selanjutnya data di-cluster menggunakan metode gardner-

knopoff untuk memisahkan data gempabumi susulan dari gempabumi utama. Dari

data gempabumi utama kemudian kita menentukan nilai magnitude completeness-

nya (Mc). Setelah didapatkan nilai Mc-nya data kemudian diolah menggunakan

metode maksimum likelihood (MLE) untuk mendapatkan b-value dalam bentuk

data ASCII. Dari b-value kemudian dicari nilai dimensi Periode Ulang (),

fraktalnya (D) dan rasio slip (Sp/S). Ketiga nilai tersebut kemudian diolah

menggunakan surfer dibuat konturnya dan kemudian di-overlay dengan peta

geologi menggunakan Global Mapper.

E. Analisis Data

Periode ulang gempabumi yang didapatkan berupa peta kontur dengan

degradasi warna yang mewakili pola perulangan gempabumi dengan besaran

magnitude yang bisa kita tentukan. Parameter magnitude yang kita gunakan akan

menghasilkan peta kontur, kontur ini menggambarkan probabilitas perulangan

rata-rata dari magnitude yang gunakan. Untuk penelitian ini kami menggunakan

Magnitude M > 4.0, M > 5.0 ,dan M > 6.0

Dimensi fraktal (D) didapatkan dari persamaan yang dikemukakan oleh

Turcotte (1992) sedangkan rasio slip (Sp/S) didapatan dari persamaan yang

dikemukakan oleh Katiri (1995). Hasil penelitian akan disajikan oleh penulis

dalam bentuk tabel berdasarkan pembagian degradasi warna yang didapatkan dari

peta kontur b-value. Dari tabel tersebut dapat dilihat karakteristik wilayah

berdasarkan dimensi fraktal (D) dan rasio slip (Sp/S).


39

F. Diagram Alir
Data Gempabumi
(BMKG, USGS dan EHB)

Data dari (BMKG,USGS, dan


EHB) digabungkan

Konversi Ml, mb dan Ms Ke Mw


Menggunakan hubungan Chen
dan Chen (1989)

Declustering data dengan


metode Garnerd - Knowpop

Penentuan magnitude
completeness (Mc)

Penentuan b-value menggunakan metode


MLE dengan bantuan zmap kemuadian di
konversi ke ASCII

Peta zonasi periode ulang Penentuan nilai dimensi fractal (D)


gempabumi untuk M4, M5, dengan metode Turcotte (1992) dan
M6 nilai rasio slip (Sp/S) dengan
persamaan Khatri (1995

Membuat Kontur menggunakan surfer

Overlay dengan peta geologi


menggunakan Global Mapper

Interpretasi hasil penelitian

Laporan

Selesai

Gambar 3.8 Diagram alir penelitian


4. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Periode Ulang ()

Periode ulang gempabumi yang didapatkan merupakan probabilitas rata-rata

yang mungkin terjadi untuk tiap magnitude yang kita gunakan. Periode ulang ()

untuk Wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya ditunjukkan pada Gambar 4.1,

Gambar 4.2 dan Gambar 4.3 berikut:

Gambar 4.1 Periode ulang untuk gempabumi dengan M 4.0 SR

Pada Gambar 4.1, periode ulang gempabumi () dengan magnitude (M)

4,0 SR. zona yang berwarna merah memiliki nilai periode ulang () paling kecil

yaitu 0,5 tahun. Zona ini berada di selatan wilayah Sulawesi Tenggara yaitu laut

Banda. Nilai tersebut menunjukkan zona ini memiliki periode ulang paling cepat

dibandingkan dengan zona lainnya sehingga frekuensi kejadian gempabumi

dengan magnitude (M) 4.0 SR di wilayah ini akan semakin sering terjadi dalam

jangka waktu yang sama dibandingkan dengan zona lainnya. Wilayah yang

40
41

memiliki periode ulang () paling besar adalah zona yang berwarna merah yaitu

0.7 tahun. Wilayah ini meliputi wilayah Kota Kendari, Kabupaten Konawe,

Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Muna dan Buton Utara. Nilai tersebut

berarti, frekuensi kejadian gempabumi dengan magnitude (M) 4.0 SR akan

semakin jarang terjadi di zona ini dibandingkan dengan zona lainnya.

Gambar 4.2 Periode ulang untuk gempabumi dengan M 5.0 SR

Periode ulang gempabumi () dengan magnitude (M) 5,0 SR ditunjukkan

pada Gambar 4.2. Periode ulang () di wilayah Sulawesi Tenggara memiliki nilai

6,1 8,3 tahun. Zona berwarna biru memiliki nilai periode ulang () terkecil

yaitu 4,l tahun. Zona ini berada di selatan wilayah Sulawesi Tenggara yaitu laut

Banda. Nilai tersebut menunjukkan zona ini memiliki periode ulang


42

paling cepat dibandingkan dengan zona lainnya sehingga frekuensi kejadian

gempabumi dengan magnitude (M) 5.0 SR di wilayah ini akan semakin sering

untuk jangka waktu yang sama dibandingkan dengan daerah lainnya. Wilayah

yang periode ulang () paling besar yaitu zona berwarna merah dengan nilai 8,3

tahun. Wilayah ini meliputi wilayah Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe

Selatan, Konawe Kepulauan, Muna dan Buton Utara.

Gambar 4.3 Periode ulang untuk gempabumi dengan M 6.0 SR

Periode ulang gempabumi () dengan magnitude (M) 6,0 SR ditunjukkan

pada Gambar 4.3. Periode ulang () pada zona yang berwarna merah memiliki

nilai periode ulang () paling kecil yaitu 31,5 tahun. Zona ini berada di selatan

wilayah Sulawesi Tenggara yaitu laut Banda. Wilayah yang periode ulang ()

paling besar yaitu zona berwarna merah dengan nilai 42,9 tahun. Wilayah ini

meliputi wilayah Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe

Kepulauan, Muna dan Buton Utara.


43

B. Dimensi fraktal (D) dan Rasio Slip (Sp/S)

1. Dimensi Fraktal (D)

Dimensi fraktal (D) dapat menggambarkan karakteristik aktivitas

gempabumi di wilayah tersebut. Dimensi fractal (D) untuk wilayah Sulawesi

Tenggara dan sekitarnya ditunjukkan pada gambar 4.4 berikut:

(a)

(b)

Gambar 4.4 (a) Dimensi fraktal (D), (b) Hasil overlay dengan titik gempa
44

Berdasarkan Gambar 4.4 (a), dimensi fraktal (D) wilayah Sulawesi

Tenggara untuk nilai terendah yaitu 0.42 yang ditandai dengan zona berwarna

biru. Zona ini meliputi wilayah Laut Banda di selatan Sulawesi Tenggara. Nilai

ini sesuai dengan sebaran frekuensi titik kejadian gempabumi yang kecil pada

zona ini (Gambar 4.4 (b)).

Nilai dimensi fraktal (D) tertinggi yaitu 0,76 yang ditandai dengan warna

merah, zona ini meliputi wilayah Kendari, Konawe Selatan bagian timur dan

tenggara, Konawe, Buton Utara dan Muna bagian Nilai tersebut sesuai dengan

gambar 4.4 (b) yang menunjukkan aktifitas gempabumi yang ada di zona ini lebih

banyak dibandingkan dengan zona lainnya dan berasosiasi dengan keberadaan

sesar Lawanopo dan sesar Lainea yang melalui zona ini. .

2. Rasio Slip (Sp/S)

Rasio antara slip yang terjadi pada patahan utama dengan total slip

dinamakan rasio slip (Sp/S). Dengan menghitung nilai dari rasio slip (Sp/S), maka

kita dapat mengetahui besarnya aktivitas gempabumi yang disebabkan oleh Sesar

utama dan Sesar-sesar mikro di wilayah tersebut. Rasio slip (Sp/S) di wilayah

Sulawesi Tenggara ditunjukkan oleh Gambar 4.5 berikut:


45

Gambar 4.5 Rasio slip (Sp/S)

Berdasarkan Gambar 4.5, wilayah Sulawesi Tenggara memiliki nilai rasio

slip (Sp/S) berkisar antara 78,8 83,3. Nilai tersebut menunjukkan bahwa

sebagian besar aktifitas gempabumi dipengaruhi oleh sesar-sesar utama.


5. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis serta pembahasan mengenai periode ulang

gempabumi dan parameter fraktal dari data gempabumi kurun waktu 1960 2014

di Provinsi Sulawesi Tenggara, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Periode ulang gempabumi dapat dijadikan acuan untuk melihat potensi

kegempaan suatu wilayah terutama probabilitas perulangan gempabumi

dengan besaran tertentu pada suatu wilayah. Besaran gempabumi yang

digunakan adalah M 4.0 SR, M 5.0 SR dan M 6.0 SR. Periode ulang

gempabumi di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk M 4.0 SR adalah

0,5 < 0,7, untuk M 5.0 SR adalah 6,1 < 8,3 tahun, dan untuk M

6.0 SR adalah 31,5 < 42,9 tahun. Wilayah yang meliputi Kota Kendari,

Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Muna dan Buton

Utara tercatat memiliki periode ulang tertinggi untuk masing-masing

Magnitudo (M 4.0 SR, M 5.0 SR, dan M 4.0 SR) sedangkan Laut banda

bagian selatan Sulawesi Tenggara merupakan wilayah yang memiliki periode

ulang paling rendah.

2. Dimensi fractal (D) dan Rasio Slip (Sp/S) digunakan untuk melihat seberapa

besar aktivitas gempabumi serta berapa besar pengaruh Sesar utama yang

mengakibatkan aktivitas gempabumi tersebut. Dari hasil analisa diketahui

bahwa nilai dimensi fraktal 0,42 D 0,76 dan rasio slip 78,8 Sp/S 83,3.

46
47

B. Saran

Adapun beberapa saran dari hasil penelitian ini adalah:

1. Agar hasil penelitian yang diperoleh dapat dikembangkan dengan metode

yang lain supaya bisa lebih bermanfaat bagi pendidikan dan utamanya bagi

kepentingan masyarakat

2. Hasil penelitian ini merupakan tahapan awal untuk mendukung pemerintah

dalam mitigasi bencana alam khususnya gempabumi. Dengan adanya hasil

ini diharapkan agar ada penulis lain yang mau meneliti hal lain yang

berhubungan dengan mitigasi kemudian mengkolaborasikan dengan hasil

penelitian ini sehingga hasil kolaborasi yang didapatkan bisa lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Ahma, W., 1975,Geology along the Matano Fault Zone, East Sulawesi. Assoc,
Geol, (IAGI), Jakarta 1975, p. 143-150.

Aki, K., 1965, Maksimum likelihood estimate of b-values in the formula log N =
A bM and its confidence limits, Bull, Earthquake Res. Inst., Tokyo Univ.
43, 237- 240.

Azpurua, M., and K.D. Ramos, 2010, A Comparizon of Sptial Interpolation


Methods for Estimation of Average Electromagnetic Field Magnitude,
Progress in Electromagnetics Research M., Vol. 14, pp. 135 - 145

BMKG, 2013, Sebaran Gempabumi Sulawesi Tenggara dan Sekitarnya Tahun


2007- 2012, Kendari: Stasiun Geofisika Kendari

Bormann, P., 2002, New Manual of Seismological Observatory Practice,


GeoForschungsZentrum Potsdam.

Burhan, 2010, Kedalaman Zona Subduksi Regional Sulawesi Tenggara Dan


Kawasan Busur Banda Bagian Barat Berdasarkan Analisa Spektrum 1D
Medan Potensial Gravitasi. Jurnal Aplikasi Fisika., Vol 6 No 2., 68 75

Chen, P., and Chen, H., 1989, Scaling law and its applications to earthquake
statistical relations. Tectonophysics, 166, 53-72

Gardner, J. K. and L. Knopoff (1974). Is the sequence of earthquakes in


Southern California, with aftershocks removed, Poissonian? Bull. Seism.
Soc. Am. 64, 1363-1367

Hamilton, W., 1979., Tectonics of The Indonesian Region, Geological Survey


Professional Paper, Washington., pages. 192-194.

Hartono,U., dan Surono, 2013, Geologi Sulawesi, Jakarta: Badan Geologi

Ibrahim, G., dan Subardjo., 2005, Pengetahuan Seismologi, Badan Meteorologi


dan Geofsika, Jakarta.

Kagan, Y. Y., 1982, Stochastic model of earthquake fault geometry, Geophys. J.


R., Astron. Soc., 71, 659-691.

Khatri, K, N., 1995, Fractal description of seismicity of India and inferences


regarding earthquake hazard, Curr. Sci.,69, 361366.

Lay, T., Wallace, C,T, 1995, Modern Global Seismology. Academic Press. United
States Of America
Mandelbrot, B. B., 1982, The Fractal Geometry of Nature, Freeman, san
fransisco.

Masri., Firdaus., Deniyatno., 2011. Pemetaan Tingkat Ancaman Gempabumi di


Kecamatan Kolaka, Kabupaten Kolaka, Sulwesi Tenggara. Jurnal Aplikasi
Fisika., Vol 7 No 2., 56 - 61

Merwade V. M., Maidment D.R., and J.A. Golff, 2006, Anisotropic


considerations while interpolating River Channel Bathymetry, Journal of
Hydrology, Vol. 331, pp. 731 741

Ngkoimani, L.O., 2011. Analisa Struktur Tektonik Mikro Pada Batuan Ultrabasa
Menggunakan Software Windrose Pro. 2.3 dan Kaitannya dengan Struktur
Tektonik di Pulau Wawonii. Jurnal Aplikasi Fisika, Vol 7 No 2., 62 68

Pasaribu, J. M and N.S Haryan.i, 2012, Perbandingan Teknik Interpolasi DEM


SRTM, Dengan Metode Inverse Distance Weighted (IDM), Natural
Neighbor dan Spline, Jurnal Penginderaan Jauh Vol. 9 No.2., pp 126 132

Pawirodikromo., and Widodo., 2012. Seismologi Teknik dan Rekayasa


Kegempaan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Restuning Galih, D., Handayani, L., 2007, Pemetaan Pola terjadinya Di


Indonesia Dengan Metode Fraktal, Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan
Jilid 17., No.2., Hal 51-56

Rohadi, S., 2009, Studi Seismotektonik Sebagai Indikator Potensi Gempabumi


Di Wilayah Indonesia, Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10 No.2 Hal
111 120

Shi, Y., Bolt, B.A.,1982. The standard error of the magnitude- frequency b value.
Bull, Seismol, Soc. Am., 72, 1677-1687.

Sibson G. H., 2008, Akurasi Metode IDW dan Krigging untuk Interpolasi Sebaran
Sedimen Tersuspensi di Maros, Sulawesi Selatan, Forum Geografi, Vol 22,
No. 1, pp. 145 158

Sunardi, B., 2009, Analisa Fraktal dan Rasio Slip Daerah Bali-NTB Berdasarkan
Pemetaan Variasi Parameter Tetonik, Jurnal Meteorologi dan Geofisika.,
Vol 10 No 1., pp 58 65.

Surono, 2012, Geologi Lengan Tenggara Sulawesi, Jakarta: Badan Geologi

Turcotte, D, L., 1997. Fractals and Chaos in Geology and Geophysics.


Cambridge University Press
Utsu, T., 1965, A method in determining the value of b in a formula logn =a-bM
showing the magnitude frequency for earthquakes, Geophys. Bull.
Hokkaido Univ., 13, 99-103.

Van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology Of Indonesia. Batavia: Government


Printing Office.

Wiemar, S,. 2001, Software Package to Analysis Seismicity: ZMA,. Seismology


Research Letter, 72. 373 382
Lampiran 1. Tatanan Tektonik Pulau Sulawesi

Gambar 1 Tatanan tektonik Pulau Sulawesi (Silver dkk, 1983)


Lampiran 2.Hasil interpolasi menggunakan surfer

Gambar 2. Hasil interpolasi menggunakan surfer untuk Periode Ulang Gempabumi


dengan Magnitude (M) 4,0 SR

Gambar 3. Hasil interpolasi menggunakan surfer untuk Periode Ulang Gempabumi


dengan Magnitude (M) 5,0 SR
Gambar 4. Hasil interpolasi menggunakan surfer untuk Periode Ulang Gempabumi
dengan Magnitude (M) 6,0 SR

Gambar 5. Hasil interpolasi menggunakan surfer untuk parameter fractal (D)


Gambar 6. Hasil interpolasi menggunakan surfer untuk Rasio slip (Sp/S)

Lampiran 3. Konversi Ml, mB, Ms ke Mw

Contoh untuk Ml ke Mw

Ml: 3,5

Untuk Ml 3,6 digunakan persamaan 2.11

Log Mo = Ml + 10,5

Log Mo = 3,5 + 10,5

Log Mo = 13,5

Jadi nilai Mw dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan 2.5

Mw = (Log Mo/1,5) 6,07

Mw = (13,5/1,5) - 6,0,7

Mw = 2.93 2,9
Contoh untuk mb ke Mw

mb: 5,3

Untuk mb 5,3 digunakan persamaan 2.10

Log Mo = 3,0 mb + 1,2

Log Mo = 3,0 (5,3) + 1,2

Log Mo = 17,1

Jadi nilai Mw dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan 2.5

Mw = (Log Mo/1,5) 6,07

Mw = (17,1/1,5) - 6,0,7

Mw = 5,33 5,3

Contoh untuk Ms ke Mw

Ms: 7,9

Untuk Ms 7,9 digunakan persamaan 2.8

Log Mo = 3,0 Ms 2,7

Log Mo = 3,0 (7,9) 2,7

Log Mo = 21

Jadi nilai Mw dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan 2.5

Mw = (Log Mo/1,5) 6,07

Mw = (21/1,5) - 6,0,7

Mw = 7,3