Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Non Comunicable Disease (NCD) atau penyakit tidak menular telah

menjadi perhatian khusus dunia terutama World Health Organization

(WHO) karena menjadi penyebab kematian utama dan kecacatan di dunia.

Tahun 2008, penyakit dengan waktu yang panjang dan progresifitas yang

lambat ini dilaporkan telah membunuh lebih dari 36 juta orang setiap

tahunnya dan 80% atau 29 juta kematian terjadi pada negara-negara dengan

pendapatan rendah maupun sedang. Kondisi tersebut mendorong WHO

membuat suatu strategi The 2008 -2013 Action Plan for The Global Strategy

for The Prevention and Control of Non Comunicable Disease dengan

komponen kunci yakni surveilan, pencegahan dan pelayanan kesehatan

untuk mengatasi masalah tersebut (WHO, 2013).

Indonesia sebagai negara yang berkembang telah melaporkan bahwa

jumlah kematian akibat NCD lebih besar dibandingkan dengan jumlah

kematian akibat Comunicable Disease (WHO, 2013). Aditama

mengatakan bahwa ancaman tehadap penyakit tidak menular atau NCD

seperti jantung, penyakit yang berkaitan dengan darah, diabetes melitus,

penyakit degeneratif, dan penyakit kronis telah meningkat (Faizal, 2012).


Penyakit kronis yang perkembangan penyakitnya juga perlu

mendapatkan perhatian adalah penyakit gagal ginjal kronis (GGK) yang

merupakan komplikasi dari beberapa NCD seperti hipertensi, diabetes

melitus, dan juga penyakit renal lainnya. Etiologi dari GGK menurut US

Renal System tahun 2000 menunjukkan bahwa diabetes melitus dan

hipertensi menjadi etiologi dengan prosentase tinggi yakni 34% dan 21%

(US Renal System, 2000 dalam Price & Wilson, 2006).

Angka kejadian GGK yang dilaporkan dari seluruh dunia rata-rata

menunjukkan trend yang penting dimana kadang melambat, kadang naik

dan dapat stabil (USRDS Annual Report, 2012). National Institut of

Diabetes Melitus and Digestif and Kidney Disease (NIDDK) menyebutkan

bahwa antara 1980 dan 2009, rata-rata prevalensi GGK di US meningkat

mendekati 600%, dari 290 kasus menjadi 1.738 kasus per juta penduduk.

Jumlah kematian pasien GGK juga menunjukkan kenaikan dari 10.478 pada

tahun 1980 menjadi 90.118 pada tahun 2009 (National Kidney and Urologic

Diseases Information Clearinghouse, 2012).

Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat penderita GGK yang

cukup tinggi. PERNEFRI (Persatuan Nefrologi Indonesia) tahun 2011

melaporkan bahwa diperkirakan ada 70 ribu penderita gagal ginjal di

Indonesia, namun yang terdeteksi menderita GGK tahap akhir dan

menjalani hemodialisis hanya sekitar 4-5 ribu saja. Banyak yang telah

menjalani terapi dialisis meninggal dunia karena mahalnya biaya untuk


berobat dan proses dialysis (Fransisca, 2011). Penyakit ginjal kronik menurut

Soelaeman merupakan penyakit yang diderita oleh satu dari 10 orang

dewasa. Indonesian Renal Registry tahun 2008 melaporkan jumlah pasien

hemodialisis (cuci darah) mencapai 2260 orang dari 2148 orang pada

tahun 2007 (ANTARA, 2009).

Mengapa pasien gagal ginjal stadium akhir di kaitkan dengan perawatan

palliative care, dikarenakan perawatan paliatif adalah sistem perawatan

terpadu yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup, dengan cara

meringankan nyeri dan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan

psikososial mulai saat diagnosa ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan

terhadap keluarga yang kehilangan/ berduka (WHO, 2005). Perawatan paliatif

ini diberikan untuk penderita penyakit kronis dimulai pada saat didiagnosis

sampai dengan akhir hayat pasien.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Konsep Gagal Ginjal Kronik?

2. Bagaimana Konsep Asuhan keperawatan Paltiatif pada kasus Gagal Ginjal

Kronik?

3. Bagaimana Contoh pengaplikasian Kasus Asuhan keperawatan Paltiatif

pada kasus Gagal Ginjal Kronik?


C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah mengikuti mata kuliah askep paliatif dan mendapatkan

penjelasan tentang penyakit gagal ginjal tahap akhir, mahasiswa mampu

memahami perawatan paliatif pada pasien gagal ginjal kronik stadium

akhir.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu memahami konsep gagal ginjal kronik.

b. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan paltiatif pada kasus

gagal ginjal kronik

c. Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan asuhan

keperawatan palliative care pada pasien gagal ginjal kronik stadium

akhir.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Gagal Ginjal Kronis

1. Pengertian Gagal Ginjal Kronis

Ginjal merupakan salah satu organ yang penting dalam tubuh

manusia. Ginjal melakukan berbagai fungsi yang ditujukan untuk

mempertahankan homeostasis. Ginjal merupakan jalan penting untuk

mengeluarkan berbagai macam zat-zat sisa metabolisme tubuh selain

juga berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan

elektrolit (Sherwood, 2001).

Gagal ginjal kronis (GGK) atau End Stage Renal Disease (ESRD)

didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan

fungsi secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar (insidius)

dimana kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan

metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi

uremia atau azotemia (Smeltzer, 2009). Batas penurunan fungsi

ginjal sehingga menimbulkan gejala adalah sebesar 75-85% dan

ketika fungsi ginjal sudah di bawah 25% maka gejala akan muncul

dan terlihat jelas (Fransiska, 2011).

End Stage Renal Disease (ESRD) atau gagal ginjal tahap akhir

terjadi ketika nilai GFR (Glomerulus Filtration Rate) kurang dari 15


mL/min. Pada poin tersebut terapi penggantian ginjal (dialisis atau

transplantasi) sangat dianjurkan (Smeltzer, 2009). Gagal ginjal terminal

terjadi apabila 90% fungsi ginjal telah hilang (Sherwood, 2001).

2. Klarifikasi

Klasifikasi gagal ginjal kronis berdasarkan derajat (stage) LFG (Laju

Filtration Glomerulus) dimana nilai normalnya adalah 125

ml/min/1,73m2 dengan rumus Kockroft Gault sebagai berikut

Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain :

Tabel 2.1
Klasifikasi Gagal Ginjal Kronis dengan rumus Kockroft Gault

Derajat Penjelasan LFG (ml/mn/1.73m2)

1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal 90 atau

Kerusakan ginjal dengan LFG atau


2 60-89
ringan
Kerusakan ginjal dengan LFG atau
3 30-59
sedang
Kerusakan ginjal dengan LFG atau
4 15-29
berat
5 Gagal ginjal < 15 atau dialisis

Sumber : Sudoyo,2006 Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Jakarta : FKUI

3. Etiologi

a. Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis).

b. Penyakit peradangan (glomerulonefritis).


c. Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis arteri renalis).

d. Gangguan jaringan penyambung (SLE, poliarteritis nodusa, sklerosis

sitemik).

e. Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik, asidosis

tubulus ginjal).

f. Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme).

g. Nefropati toksik.

h. Nefropati obstruktif (batu saluran kemih).

i. BAK sedikit , warna urine lebih tua , bercampur darah.

j. Peningkatan ureum atau kreatinin.

(Price & Wilson, 2006)

4. Tanda dan Gejala

a. Kardiovaskuler

1) Hipertensi, gagal jantung kongestif, udema pulmoner, perikarditis.

2) Pitting edema (kaki, tangan, sacrum).

3) Edema periorbital.

4) Friction rub pericardial.

5) Pembesaran vena leher.

b. Dermatologi

1) Warna kulit abu-abu mengkilat.

2) Kulit kering bersisik.

3) Pruritus.

4) Ekimosis.
5) Kuku tipis dan rapuh.

6) Rambut tipis dan kasar.

c. Pulmoner

1) Krekels

2) Sputum kental dan liat

3) Nafas dangkal

4) Pernafasan kussmaul

d. Gastrointestinal

1) Anoreksia, mual, muntah, cegukan

2) Nafas berbau ammonia

3) Ulserasi dan perdarahan mulut

4) Konstipasi dan diare

5) Perdarahan saluran cerna

e. Neurologi

1) Tidak mampu konsentrasi

2) Kelemahan dan keletihan

3) Konfusi/ perubahan tingkat kesadaran

4) Disorientasi

5) Kejang

6) Rasa panas pada telapak kaki

7) Perubahan perilaku

f. Muskuloskeletal

1) Kram otot
2) Kekuatan otot hilang

3) Kelemahan pada tungkai

4) Fraktur tulang

5) Foot drop
6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

1) Laboratorium darah

BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat), Hematologi

(Hb, trombosit, Ht, Leukosit), protein, antibody (kehilangan protein

dan immunoglobulin).

2) Pemeriksaan Urin

Warna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein, sedimen,

SDM, keton, SDP, TKK/CCT.

b. Pemeriksaan EKG

Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis,

aritmia, dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia).

c. Pemeriksaan USG

Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan

parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal,

kandung kemih serta prostate.

d. Pemeriksaan Radiologi

Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde Pyelography,

Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi,

pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos

abdomen.
7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan terhadap gagal ginjal meliputi :

a. Restriksi konsumsi cairan, protein, dan fosfat.

b. Obat-obatan: diuretik untuk meningkatkan urinasi; alumunium

hidroksida untuk terapi hiperfosfatemia; anti hipertensi untuk terapi

hipertensi serta diberi obat yang dapat menstimulasi produksi RBC

seperti epoetin alfa bila terjadi anemia.

c. Dialisis: dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi gagal ginjal akut

yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis dan kejang. Perikarditis

memperbaiki abnormalitas biokimia; menyebabkan caiarn, protein dan

natrium dapat dikonsumsi secara bebas; menghilangkan kecendurungan

perdarahan; dan membantu penyembuhan luka.

d. Transplantasi ginjal (Reeves, Roux, Lockhart, 2001).

e. Penanganan hiperkalemia; Keseimbangan cairan dan elektrolit

merupakan masalah utama pada gagal ginjal akut; hiperkalemia

merupakan kondisi yang paling mengancam jiwa pada gangguan ini.

Oleh karena itu pasien dipantau akan adanya hiperkalemia melalui

serangkaian pemeriksaan kadar elektrolit serum (nilai kalium > 5.5

mEq/L ; SI : 5.5 mmol/L), perubahan EKG (tinggi puncak gelombang T

rendah atau sangat tinggi), dan perubahan status klinis. Pningkatan

kadar kalium dapat dikurangi dengan pemberian ion pengganti resin

(Natrium polistriren sulfonat [kayexalatel]), secara oral atau melalui

retensi enema.
f. Mempertahankan keseimbangan cairan; Penatalaksanaan

keseimbanagan cairan didasarkan pada berat badan harian, pengukuran

tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan yang hilang,

tekanan darah dan status klinis pasien. Masukkan dan haluaran oral dan

parentral dari urine, drainase lambung, feses, drainase luka dan

perspirasi dihitung dan digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantia

cairan.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas

Terdiri dari Nama, No.Rek.Medis, Umur (lebih banyak terjadi pada

usia 30-60 tahun), Agama, Jenis Kelamin (pria lebih beresiko daripada

wanita), Pekerjaan, Status perkawinan, Alamat, Tanggal masuk, Yang

mengirim, Cara masuk RS, dan Diagnosa medis dan nama Identitas

Penanggung Jawab meliputi : Nama, Umur, Hub dengan pasien,

Pekerjaan dan Alamat

b. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Keluhan utama merupakan hal-hal yang dirasakan oleh klien

sebelum masuk ke rumah sakit. Pada klien dengan gagal ginjal

kronik biasanya didapatkan keluhan utama yang bervariasi, mulai

dari urine keluar sedikit sampai tidak dapat BAK, gelisah sampai
penurunan kesadaran, tidak selera makan (anoreksia), mual,

muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, napas bau (ureum), dan

gatal pada kulit (Muttaqin, 2011).

2) Riwayat Penyakit Sekarang

Biasanya klien mengalami penurunan frekuensi urine, penurunan

kesadaran, perubahan pola nafas, kelemahan fisik, adanya

perubahan kulit, adanya nafas berbau amoniak, rasa sakit kepala,

nyeri panggul, penglihatan kabur, perasaan tak berdaya dan

perubahan pemenuhan nutrisi(Muttaqin, 2011).

3) Riwayat Kesehatan Dahulu

Biasanya klien berkemungkinan mempunyai riwayat penyakit

gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung,

penggunaan obat-obat nefrotoksik, penyakit batu saluran kemih,

infeksi system perkemihan yang berulang, penyakit diabetes

mellitus, dan hipertensi pada masa sebelumnya yang menjadi

predisposisi penyebab. Penting untuk dikaji mengenai riwayat

pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi

terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan(Muttaqin, 2011).

4) Riwayat Kesehatan Keluarga

Biasanya klien mempunyai anggota keluarga yang pernah

menderita penyakit yang sama dengan klien yaitu gagal ginjal

kronik, maupun penyakit diabetes mellitus dan hipertensi yang


bisa menjadi factor pencetus terjadinya penyakit gagal ginjal

kronik.

c. Pola Persepsi Dan Penanganan Kesehatan

Persepsi terhadap penyakit Biasanya persepsi klien dengan penyakit

ginjal kronik mengalami kecemasan yang tinggi. Biasanya klien

mempunyai kebiasaan merokok, alkohol dan obat-obatan dalam

kesehari-hariannya.

d. Pola Nutrisi/Metabolisme

1) Pola Makan

Biasanya terjadi peningkatan berat badan cepat (edema),

penurunan berat badan (malnutrisi), anoreksia, nyeri ulu hati, mual

dan muntah.

2) Pola Minum

Biasanya klien minum kurang dari kebutuhan tubuh akibat rasa

metalik tak sedap pada mulut (pernapasan ammonia).

e. Pola Eliminasi

1) Buang Air Besar

Biasanya abdomen kembung, diare atau konstipasi.

2) Buang Air Kecil

Biasanya terjadi penurunan frekuensi urine <400ml/hari sampai

anuria, warna urine keruh atau berwarna coklat, merah dan kuning

pekat.
f. Pola Aktivitas /Latihan

Biasanya kemampuan perawatan diri dan kebersihan diri terganggu

dan biasanya membutuhkan pertolongan atau bantuan orang lain.

Biasanya klien kesulitan menentukan kondisi, contohnya tidak mampu

bekerja dan mempertahankan fungsi peran dalam keluarga.

g. Pola Istirahat Tidur

Biasanya klien mengalami gangguan tidur , gelisah karena adanya

nyeri panggul, sakit kepala dan kram otot/kaki ( memburuk pada

malam hari).

h. Pola Kognitif Persepsi

Biasanya tingkat ansietas pasien mengalami penyakit ginjal kronik ini

pada tingkat asietas sedang sampai berat.

i. Pola Peran Hubungan

Biasanya klien tidak bisa menjalankan peran atau tugasnya sehari-hari

karena perawatan yang lama.

j. Pola Seksualitas/Reproduksi

Biasanya terdapat masalah Seksual berhubungan dengan penyakit

yang di derita.

k. Pola Persepsi Diri/ Konsep Diri

1) Body image/gambaran diri

Biasanya mengalami perubahan ukuran fisik, fungsi alat tubuh

terganggu, keluhan karena kondisi tubuh, pernah operasi,


kegagalan fungsi tubuh, prosedur pengobatan yang mengubah

fungsi alat tubuh

2) Role/peran

Biasanya mengalami perubahan peran karena penyakit yang

diderita

3) Identity/identitas diri

Biasanya mengalami kurang percaya diri, merasa terkekang, tidak

mampu menerima perubahan, merasa kurang memiliki potensi

4) Self esteem/harga diri

Biasanya mengalami rasa bersalah, menyangkal kepuasan diri,

mengecilkan diri, keluhan fisik

5) Self ideal/ideal diri

Biasanya mengalami masa depan suram, terserah pada nasib,

merasa tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki harapan,

merasa tidak berdaya

l. Pola Koping-Toleransi Stres

Biasanya klien mengalami factor stress contoh financial, hubungan

dan sebabnya, perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, tidak ada

kekuatan, menolak, ansietas, takut,marah, mudah tersinggung,

perubahan kepribadian dan perilaku serta perubahan proses kognitif.

m. Pola Keyakinan Nilai

Biasanya tidak terjadi gangguan pola tata nilai dan kepercayaan.


n. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum dan TTV

a) Keadaan umum klien lemah, letih dan terlihat sakit berat

b) Tingkat kesadaran klien menurun sesuai dengan tingkat uremia

dimana dapat mempengaruhi sistem saraf pusat.

c) TTV : RR meningkat, tekanan darah didapati adanya hipertensi.

2) Kepala

a) Rambut : Biasanya klien berambut tipis dan kasar, klien sering

sakit kepala, kuku rapuh dan tipis.

b) Wajah : Biasanya klien berwajah pucat

c) Mata : Biasanya mata klien memerah, penglihatan kabur,

konjungtiva anemis, dan sclera tidak ikterik.

d) Hidung : Biasanya tidak ada pembengkakkan polip dan klien

bernafas pendek dan kusmaul

e) Bibir : Biasanya terdapat peradangan mukosa mulut, ulserasi

gusi, perdarahan gusi, dan napas berbau

f) Gigi : Biasanya tidak terdapat karies pada gigi.

3) Lidah : Biasanya tidak terjadi perdarahan

4) Leher : Biasanya tidak terjadi pembesaran kelenjar tyroid atau

kelenjar getah bening

5) Dada / Thorak

a) Inspeksi : Biasanya klien dengan napas pendek, pernapasan

kussmaul (cepat/dalam)
b) Palpasi : Biasanya fremitus kiri dan kanan

c) Perkusi : Biasanya Sonor

d) Auskultasi : Biasanya vesicular

6) Jantung

a) Inspeksi : Biasanya ictus cordis tidak terlihat

b) Palpasi : Biasanya ictus Cordis teraba di ruang inter costal 2

linea deksta sinistra

c) Perkusi : Biasanya ada nyeri

d) Auskultasi : Biasanya terdapat irama jantung yang cepat

7) Perut / Abdomen

a) Inspeksi :Biasanya terjadi distensi abdomen, acites atau

penumpukan cairan, klien tampak mual dan muntah

b) Auskultasi : Biasanya bising usus normal, berkisar antara 5-35

kali/menit

c) Palpasi : Biasanya acites, nyeri tekan pada bagian pinggang,

dan adanya pembesaran hepar pada stadium akhir.

d) Perkusi : Biasanya terdengar pekak karena terjadinya acites.

8) Genitourinaria

Biasanya terjadi penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria,

distensi abdomen, diare atau konstipasi, perubahan warna urine

menjadi kuning pekat, merah, coklat dan berawan.


9) Ekstremitas

Biasanya didapatkan adanya nyeri panggul, odema pada

ektremitas, kram otot, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada

telapak kaki,keterbatasan gerak sendi.

10) Sistem Integumen

Biasanya warna kulit abu-abu, kulit gatal, kering dan bersisik,

adanya area ekimosis pada kulit.

11) Sistem Neurologi

Biasanya terjadi gangguan status mental seperti penurunan lapang

perhatian, ketidakmampuan konsentrasi, kehilangan memori,

penurunan tingkat kesadaran, disfungsi serebral,seperti perubahan

proses fikir dan disorientasi. Klien sering didapati kejang, dan

adanya neuropati perifer.

(Sumber : Muttaqin, 2011)

o. Pemeriksaan Penunjang

1) Urine

a) Volume : kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tidak

ada (anuria)

b) Warna : biasanya didapati urine keruh disebabkan oleh pus,

bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat atau urat.

c) Berat jenis : kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010

menunjukkan kerusakan ginjal berat).


d) Osmolalitas : kurang dari 350 m0sm/kg (menunjukkan

kerusakan tubular)

e) Klirens Kreatinin : agak sedikit menurun.

f) Natrium : lebih dari 40 mEq/L, karena ginjal tidak mampu

mereabsorpsi natrium.

g) Proteinuri : terjadi peningkatan protein dalam urine (3-4+)

2) Darah

a) Kadar ureum dalam darah (BUN) : meningkat dari normal.

b) Kreatinin : meningkat sampai 10 mg/dl (Normal : 0,5-1,5

mg/dl).

c) Hitung darah lengkap

(1) Ht : menurun akibat anemia

(2) Hb : biasanya kurang dari 7-8 g/dl

3) Ultrasono Ginjal : menetukan ukuran ginjal dan adanya massa,

kista,obstruksi pada saluran kemih bagian atas.

4) Pielogram retrograde : menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan

ureter.

5) Endoskopi ginjal : untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu,

hematuria dan pengangkatan tumor selektif.

6) Elektrokardiogram (EKG): mungkin abnormal menunjukkan

ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa.

7) Menghitung laju filtrasi glomerulus : normalnya lebih kurang

125ml/menit, 1 jam dibentuk 7,5 liter, 1 hari dibentuk 180 liter


2. Diagnosa Keperawatan

Setelah dilakukan pengkajian, data-data yang didapatkan dalam

pengkajian tersebut dianalisa dan dapat ditegakkan diagnose

keperawatannya sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi klien, maka,

Kemungkinan diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan gagal

ginjal kronik yaitu (NANDA, 2013):

a) Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan

cairan dan elketrolit, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung,

akumulasi/penumpukkan urea toksin,klasifikasi jaringan lunak.

b) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi.

c) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan udem sekunder,

gangguan filtrasi glomerulus.

d) Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan

konsentrasi Hb dalam darah.

e) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan mual dan muntah/anoreksia.

f) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status

metabolic, sirkulasi (anemia,iskemia jaringan) dan sensasi

(neuropati ferifer), penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas,

akumulasi ureum dalam kulit.

g) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan, anemia retensi,

produk sampah
3. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC dan Aktivitas Keperawatan

1 Ketidakefektifan pola nafas a. Respiratory status ventilati Airway Management


on 1. Atur posisi yang nyaman bagi klien yaitu semi fow
b. Respiratory status: Airwa ler
y patency 2. Kaji faktor penyebab asidosis metabolic
c. Vital sign status 3. Memonitor tanda tanda vital
Indikator 4. Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengu
a. Tidak sesak napas lagi njung
b. Pernafasan kembali norm 5. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
al 16-24 x/menit 6. Pantau laboratorium analisa gas darah berkelanjut
c. menunjukkan jalan nafas an
yang paten 7. Berikan terapi O2 tambahan dengan kanula nasal/
d. tanda vital dalam rentang masker sesuai indikasi
normal
2 Ketidakefektifan perfusi jaringan a. Circulation status Peripheral Sensation Management
perifer
b. Tissue perfusion : cerebr 1. Kaji secara konprehensif sirkulasi perifer (nadi, pe
al rifer, edema, kapilary refil)
Indikator : 2. Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
- 3. Evaluasi nadi perifer dan edema
Tekanan systole dan diastole 4. Ubah posisi klien minimal setiap 2 jam sekali
dalam rentang nomal 5. Monitor status cairan masuk dan keluar
- CRT < dari 2 detik 6. Dorong latihan ROM selama bedrest
- Suhu kulit hangat 7. Diskusikan mengenai penyebab perubahan sensasi
- warna kulit normal
- tidak ada edema perifer
3 Kelebihan volume cairan a. Electrolit and acid base ba
Fluid Management
lance
1. Kaji adanya edema ekstremitas termasuk kedalaman
b. Fluid balance
edema
c. hydration
2. Istirahatkan / anjurkan klien untuk tirah baring pada
Indikator : saat edema masih terjadi
- Edema berkurang 3. Monitor vital sign
- Keseimbangan antara inpu 4. Ukur intake dan output secara akurat
t dan output 5. pasang kateter urine jika diperlukan
- Pitting edema tidak ada la 6. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/mas
gi ker sesuai indikasi
- Produksi urine >600 ml/ha 7. Kolaborasi :
ri Berikan diet tanpa garam
Berikan diet rendah protein tinggi kalori
Berikan diuretik, Contoh : Furosemide,
spironolakton.

4 Ketidakseimbangan nutrisi kurang a. Nutritional status Nutritional Management


dari kebutuhan tubuh tubuh b. Nutritional status : food and
fluid intake 1. Kaji adanya alergi makanan
c. Weight Control 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
Indikator : jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pas
- adanya peningkatan berat
badan ien
- tidak ada tanda- 3. anjurkan pasien untuk meningkatkan protein d
tanda mal nutrisi an vitamin c
- menunjukkan peningkatan
4. yakinkan diet yang dimakan mengandung ting
fungsi pengecapan dari m
enelan gi serat untuk mencegah konstipasi
5. berikan makanan terpilih (sudah di konsulkan
dengan ahli gizi)
Nutrition monitoring
1. monitoring adanya penurunan berat badan
2. monitoring lingkungan selama makan
3. monitoring turgor kulit
4. monitoring makanan kesukaan
4. Implemetasi Keperawatan

Implementasi merupakan langkah keempat dalam tahap proses

keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi kesehatan (tindakan

keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan

keperawatan.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan

dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana

keperawatan.
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Kasus

Seorang Pria Bernama Tn D, Suku Sunda, Umur 35 Tahun Masuk Rumah

Sakit Pada Tanggal 12 Agustus 2014,

Pemeriksaan Fisik :

1. Keadaan Umum Klien : Gelisah, Sesak Nafas

2. Tingkat Kesadaran : Compos Mentis

3. Tanda-Tanda Vital

Tekanan Darah : 140/90 mmHg

Nadi : 100 X/Menit

Pernafasan : 35x/Menit

Suhu : 37,6 0c

SPO2 : 80%.

4. BB : 80 Kg

5. TB : 165 cm

Pemeriksaan Penunjang Tanggal : 12 Agustus 2014 :

a. Ureum : 202,32

b. Kreatinin : 18,5 mg/dl

c. SGOT : 19

d. SGPT : 30
e. WBC : 5,5 X 103

f. RBC : 3,90

g. HGB : 10,7

h. HCT : 32,5%

i. GDS : 161

j. Pemeriksaan Radiologi :

a) Hasil Rontgen Thorax

Cor : Apeks Jantung Bergeser Ke Laterokauadal

Ctr Tidak Dapat Dinilai

Pulmo:

Tampak Bercak Keturunan Pada Pulmo

Diafragma Kanan Setingi Kosta Ix Posterior

Sinus Kostofrenikus Kanan Kiri Lancip

Adanya Cairan Dirongga Alveolus

Kesan:

Suspek Kardiomegali (Cv). Adanya Dalam Pulmo.

k. Pemeriksaan USG :

Ginjal Kanan : Bentuk Normal, Batas Kortiko Meduler Tampak

Tidak Jelas, Ekogenitas Parenkim Hiperecoic, Tak

Tampak Batu.

Ginjal Kiri : Bentuk Dan Ukura Normal,Tak Tampak Batu.

Diet Yang Diperoleh :

a) Uremia 170 Kkal


b) Protein 0,6 Hd/Kg Bb

c) Rendah Garam

Terapi :

a) Oksigen 3 Liter (Nasal Kanul)

b) Injeksi Lasix Kurang Lebih 3x2 Ampul

c) Hemobion 2x1 (250 Mg) Per Oral

Dengan diagnosa Gagal Ginjal Kronik Stadium Akhir (V) (Ckd Stadium V),

dan menjalani hemodialisa rutin sejak tahun 2008 sampai dengan sekarang,

sekarang klien mengeluh, sesak nafas sudah dua hari, bengkak dikedua tangan

dan kaki, BAK tidak lancar, air kencing sedikit dan berwarna keruh, mual-

mual, nafsu makan menurun, lemah, letih, lesu. Klien makan dan minum

sedikit, aktivitas berkurang, tidur terganggu karena sesak nafas, tidak ada

keluhan Nneri, hubungan klien dengan orang lain baik hubungan seksual

dengan istri terganggu akibat penyakit yang diderita oleh klien, dan keluarga

telah mengetahui mengenai penyakitnya dan telah menerimanya dengan lapang

dada, pasien dan keluarga rajin berdoa, baca Al-quran, dan sering dikunjungi

oleh ustadz.

B. Pembahasan Kasus

1. Pengkajian

a. Biodata

1) Identitas Klien

Nama Klien : Tn. D

Umur / Tanggal Lahir : 35 Tahun / 09 September 1977


Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Sunda/ Indonesia

Status Pernikahan : Menikah

Pendidikan : SLTA

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Jl. Nyengseret Selatan RW 03

No.RM : 1040274/12012702

Tanggal Masuk RS : 12 Agustus 2014

Tanggal Pengkajian : 12 Agustus 2014

Diagnosa Medis : CKD Stadium V

b. Penanggung Jawab

Nama : Ny. M

Umur : 30 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : SLTA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan klien : Istri

c. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan Utama : Sesak Nafas

Klien mengatakan sesak nafas akan bertambah apabila klien

melakukan aktivitas berlebihan, seperti : menaiki tangga, jalan-jalan

disekitar rumah, dll dan sesak nafas akan berkurang apabila klien
berada didepan kipas angin (menghirup angin dari kipas angin), klien

merasa sesak nafas terus-menerus selama sehari penuh, klien

merasakan sesak sedang, dimana klien masih mampu melakukan

aktifitas sendiri seperti mengambil minum sendiri, mandi, walaupun

separuh aktivitas dibantu oleh keluarga seperti mengantar ke kamar

madi dam toilet,klien merasa sesak nafas pada saat pagi, siang, dan

malam hari atau terus menerus merasakan sesak nafas.

2) Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien mengatakan sesak nafas sudah dua hari, bengkak dikedua

tangan dan kaki, BAK tidak lancar, air kencing sedikit dan berwarna

keruh, mual-mual, nafsu makan menurun, lemah, letih, lesu, pusing.

3) Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Pasien mengatakan sering kerumah sakit untuk melakukan

hemodialisa, dan mengontrolkan diri kedokter.

4) Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga dan pasien mengatakan tidak ada yang mengalami

penyakit penyakit ginjal, jantung, dan hipertensi, diabetes mellitus, dll.

5) Pola Persepsi

Pasien mengatakan dirinya mengalami gagal ginjal dan mengetahui

tentang gagal ginjal yang dideritanya. Pasien tahu apa yang

menyebabkan terjadinya gagal ginjal, akibat lanjut gagal ginjal dan


tahu tentang cara perawatannya. Selama ini pasien mengatakan sering

minum minuman keras (alkohol) dan jarang minum air putih.pasien

tidak menghiraukan tentang kesehatannya. Setelah sakit, baru

menyadari dan menyesali perbuatan buruknya serta berobat ke sarana

kesehatan.

6) Pola nutrisi metabolik

a) Sebelum sakit : pasien makan 3 kali sehari, makan habis satu

porsi, mengkonsumsi nasi, lauk, buah, nafsu makan baik, minum

air putih 6-8 gelas sehari.

b) Setelah sakit : pasien makan 3 kali sehari, porsi sedikit, tidak

habis 1 porsi, habis 2-3 sendok makan. Minu, Pasien merasa

mual-mual, sehingga nafsu makan menurun.

7) Pola eliminasi

a) Sebelum sakit : BAB 1 kali sehari, warna kuning, konsistensi

lunak, BAK warna kuning jernih, tidak sakit.

b) Selama sakit : BAB 1 kali / 3 hari, konsistensi sedikit keras,

BAK lewat selang kateter, warna keruh.

8) Pola latihan dan aktivitas

a) Sebelum sakit : melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan

orang lain.

b) Selama sakit : aktivitas dibantu oleh keluarga, karena sesak nafas,

klien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan

menegeluh lemah, letih dan lesu.


9) Pola istirahat dan tidur

a) Sebelum sakit : pasien tidur 7 jam pada malam hari dan

kadang-kadang tidur siang, 30 menit 1 jam perhari.

b) Selama sakit : pasiensusah tidur dan kadang tidak tidur

karena sesak nafas yang dialaminya.

10) Pola persepsi sensori dan kognitif

Sebelum sakit dan selama sakit daya ingat klien bagus,

tidak ada keluhan nyeri maupun yang berkaitan dengan

kemampuan sensasi.

11) Pola hubungan dengan orang lain

Sebelum dan selama sakit, hubungan pasien dengan orang lain

baik.

12) Pola reproduksi dan seksual

Hubungan seksual dengan istri terganggu, terkait penyakit yang

dialami oleh klien, sehingga menghambat hubungan suami

istri.Namun pasien mengatakan mampu mengontrol nafsu seksualnya.

13) Riwayat psikososial

a) Pola konsep diri

Keluarga pasien dan pasien menerima penyakit yang

diderita pasien serta berusaha untuk melakukan perawatan yang

terbaik demi kesembuhan pasien.

b) Pola kognitif
Keluarga pasien dan pasienmengetahui tentang penyakit

yang diderita pasien.

c) Pola koping

Keluarga pasien dan pasien sempat khawatir dalam

menghadapi penyakit yang diderita pasien terlebih lagi tentang

pembiayaan (obat serta cuci darah).

d. Riwayat Spiritual

1) Ketaatan Pasien Beribadah

Pasien beragama Islam, pasien rajin solat dan berdoa

ditempat tidur serta setiap malam pasien membaca Al-quran

(pasien mengatakan bahwa Tuhan adalah kekuatannya dan

tempatnya mengadu).

2) Dukungan Keluarga Pasien

Keluarga sering berdoa dan membacakan ayat Al-quran

ketika mengunjungi pasien serta mengundang ustadz atau kyai

untuk datang mendoakan pasien.

3) Ritual Yang Biasa Dijalankan Pasien

Solat, berdoa, dan membaca Al-quran.

e. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum Klien : Gelisah, Sesak Nafas

2) Tingkat kesadaran : Compos Mentis

3) Tanda-tanda Vital

Tekanan Darah : 140/90 mmHg


Nadi : 100 x/menit

Pernafasan : 35x/menit

Suhu : 37,6 0C

SPO2 : 80%.

BB : 80 kg

TB : 165 cm

4) Sistem Kardivaskuler

Jantung berada dibagian depan rongga mediastinum, iktus cordis

tak tampak, iktus cordis teraba di IC VI linea mid clavicula,

bunyi redup dan bunyi tambahan.

5) Sistem Pencernaan

Bentuk perut buncit, tidak ada massa, nteri tekan, bising usus

11x/menit.

6) Sistem Muskuloskeletal

Kekuatan otot menurun, tidak ada kelainan tulang, adanya edema

pada kaki dan tangan, kekuatan otot masing masing tangan dan

kaki, pada skala 4 (kekuatan cukup kuat tapi bukan kekuatan

penuh). (kekuatan otot skala menggunakan lovettes, dengan nilai

0 - 5).

7) Sistem Endokrin

Warna kulit putih kebiruan (kusam dan kering), bersisik pada

tangan dan kaki, Wajah sedikit bengkak.

8) Sistem Integumen
Warna kulit putih kebiruan (kusam dan kering), bersisik pada

tangan dan kaki, CRT > 3 Detik, kulit diraba hangat.

9) Sistem Neurologi

Tingkat kesadaran pasien apatis.

10) Sistem Reproduksi

Tidak Ada Masalah.

11) Sistem Perkemihan

BAK tidak lancar, air kencing sedikit dan berwarna keruh.Pasien

menggunakan foley cateter.

12) Pemeriksaan Penunjang

a) Pemeriksaan laboratorium

Tgl : 12 Agustus 2014

Ureum : 202,32

Kreatinin : 18,5 mg/dl

SGOT : 19

SGPT : 30

WBC : 5,5 x 103 / ?l

RBC : 3,90

HGB : 10,7

HCT : 32,5%

GDS : 161

b) Pemeriksaan Radiologi :

Hasil rontgen thorax


COR: Apeks jantung bergeser ke laterokauadal

CTR tidak dapat dinilai

Pulmo:

Tampak bercak keturunan pada pulmo

Diafragma kanan setingi kosta IX posterior

Sinus kostofrenikus kanan kiri lancip

Adanya cairan dirongga alveolus

Kesan:

Suspek kardiomegali (CV).Adanya dalam pulmo.

c) Pemeriksaan USG :

Ginjal kanan : Bentuk normal, batas kortiko meduler

tampak tidak jelas, ekogenitas parenkim hiperecoic, tak

tampak batu.

Ginjal kiri : Bentuk dan ukura normal,tak tampak

batu.

f. Diet yang diperoleh :

Uremia 170 kkal

Protein 0,6 hd/kg BB

Rendah garam

g. Terapi :

Oksigen 3 liter (nasal kanul)


Injeksi Lasix kurang lebih 3x2 ampul

Hemobion 2x1 (250 mg) per oral.

C. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 DS : Edema Pola nafas tidak

Klien mengatakan sesak nafas efektif

Cairan masuk

DO : ke paru

Tanda-tanda Vital

Tekanan Darah: 140/90 mmHg Edema paru

Nadi : 100 x/menit

Pernafasan : 35x/menit Difusi 0ksigen

Suhu : 36,6.0c dan CO2 paru

SPO2 :80% . terganggu

Hasil pemeriksaan fisik paru :

simetris statis dinamis Pola nafas

taktil fremitus teraba kanan dan tidak efektif

kiri lemah, redup, ronkhi basah

hasil rontgen : adanya cairan di

rongga alveolus.

2 DS : kerusakan fungsi Gangguan perfusi


Klien mengeluh lemah, letih, ginjal jaringan

lesu.

sekresi eritropoetin

DO : menurun

Tanda-tanda Vital

Tekanan Darah: 140/90 mmHg produksi eritrosit

Nadi : 100 x/menit menurun

Pernafasan : 35x/menit

Suhu : 37,6 0c oksi hemoglobin

Konjungtiva palpebral anemis menurun

CRT pada ekstremitas atas dan

bawah lebih dari 3 detik suplay oksigen ke

Hemoglobin 8.4 g/dl (low) jaringan menurun

Hematokrit 26.4 % (low)

Eritrosit3.5 juta/mmk (low) gangguan perfusi

SPO2 :80% . jaringan

3 DS : GGK dan gagal Kelebihan

Klien mengatakan BAK tidak jantung volume cairan

lancar, air kencing sedikit dan

warna keruh. Tanggan dan kaki Peningkatan cairan

membengkak. intravaskuler
Terjadi

perpindahan cairan

DO : Dari intravaskuler

Edema pada tangan dan kaki ke interstitial di

Turgor kulit tidak elastis perifer

CRT lebih dari 3 detik.

BB : 80 kg Cairan interstitial

Ureum 202,32 mg/dl meningkat

Edema perifer dan

paru

kelebihan volume

cairan

4 DS : Kerusakan fungsi Gangguan

Klien mengatakan mual-mualn ginjal nutrisi kurang dari

nafsu makan berkurang. kebutuhan tubuh

BUN, kreatinin

DO : meningkat

Klien makan porsi sedikit, tidak

habis 1 porsi, habis 2-3 sendok Produksi sampah

makan. dialiran darah

Ureum : 202,32
Kreatinin : 0,10 Masuk dalam

SGOT : 19 saluran

SGPT : 30 gastrointestinal

WBC : 5,5 x 103 /

RBC : 3,90 Nausea

HGB : 10,7 Vomitus

HCT : 32,5%

GDS : 161 Gangguan nutrisi

Diet : kurang dari

Uremia 170 kkal kebutuhan tubuh

Protein 0,6 hd/kg BB

Rendah garam

5 DS : Klien dan Memiliki

Klien mengatakan menyerahkan keluarga hubungan yang

semua masalah kesehatnnya Kekuatan iman baik dengan

kepada Tuhan. Tuhan

Berdoa dan

DO : membaca Al-quran

Klien dan keluarga tampak

berdoa, solat dan membaca al- Kedekatan

quran dan sering dikunjungi dengan Tuhan

oleh ustadz/ kiyai


Memiliki

hubungan yang

baik dengan Tuhan

6 DS : Klien dan Kualitas

Klien dan keluarga mengatakan keluarga hidup meningkat

tetap menjalani perawatan untuk

kesembuhan pasien dan terus memiliki

hidup dengan penuh semangat Semangat Hidup

dengan menjaga pola makan,

dan pola hidup Menghadapi

penyakit dengan

DO : sabar

Klien dan keluarga tampak

tenang menghadapi perawatan Pasrah kepada

yang melelahkan Tuhan

Kualitas hidup

meningkat

D. DiagnosaKeperawatan

1. Pola Nafas Tidak Efektif Berhubungan Dengan Edema Paru.

2. Gangguan Perfusi Jaringan Berhubungan Dengan Suplai Oksigen Ke

Jaringan Menurun.
3. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan Dengan Input Cairan Lebih

Besar Dari Pada Output.

4. Gangguan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan

Dengan Intake Tidak Adekuat.

5. Memiliki Hubungan Yang Baik Dengan Tuhan Berhubungan Dengan

Kepasrahan Dan Kesabaran Dalam Menghadapi Tingkat Penyakit

Yang Dialami Oleh Pasien (Gagal Ginjal Kronik Tahap

Akhir/Stadium V).

6. Kualitas Hidup Meningkat Berhubungan Dengan Kemampuan Pasien

Dan Keluarga Dalam Menghadapi Sulitnya Menjalani Hidup Dengan

Penyakit Yang Berat.

E. Intervensi Keperawatan

NO TUJUAN DAN
RENCANA RASIONAL
DX KRITERIA HASIL
1. Tujuan : a. Auskultasi bunyi nafas, a. menyatakan adanya
pola nafas kembali catat adanya crakles pengumpulan sekret
normal/stabil b. Ajarkan klien batuk b. membrsihkan jalan
Kriteria hasil : efektif dan nafas dalam nafas dan
Klien tidak mengalami c. Atur posisi senyaman memudahkan alirfan
dyspnea mungkin oksigen
d. Batasi untuk c. mencegah terjadimya
beraktivitas sesak nafas
e. Anjurkan diet d. mencegah sesak atau
hipertonis hipoksia
f. kolaborasi pemberian e. mengurangi edema
oksigen paru
f. perfusi jaringan
adekuat.
2. Tujuan : a. Selidiki adanya tanda a. Mengetahui penyebab
Perfusi jaringan anemia b. Edema merupakan
adekuat b. Observasi adanya penyebab
Kriteria hasil : edema ekstremitas c. Meningkatkan
CRT kurang dari 2 c. Dorongan latihan aktif sirkulasi perifer
detik. dengan rentang gerak d. Meningkatkan suplai
sesuai toleransi oksigen
d. Kolaborasi pemberian
oksigen
3. a. Kaji status cairan a. Mengetahui status
dengan menimbang BB cairan, meliputi input
perhari, keseimbangan dan output.
masukan dan keluaran, b. Pembatasan cairan
Tujuan :
turgor kulit Tanda- akan menentukan BB
Volume cairan dalam
tanda vital ideal, keluaran urine,
keadaan seimbang
b. Batasi masukan cairan dan respon terhadap
c. Jelaskan pada pasien terapi.
dan keluarga tentang c. Pemahaman
Kriteria hasil :
pembatasan cairan. meningkatkan
Tidak ada edema,
d. Anjurkan pasien / ajari kerjasama klien dan
keseimbangan antara
klien untuk mencatat keluarga dalam
input dan output cairan
penggunaan cairan pembatasan cairan.
terutama pemasukan d. Mengetahui
dan keluaran. keseimbangan input
dan output.
4. Tujuan : a. Awasi konsumsi a. Mengidentifikasi
Mempertahankan makanan / minuman kekurangan nutrisi
masukan nutrisi yang b. Perhatikan adanya mual b. Menurunkan
adekuat dengan muntah pemasukan dan
Kriteria hasil : c. Berikan makanan memerlukan
Menunjukan protein sedikit tapi sering intervensi
albumin stabil. d. Berikan diet protein 0.6 c. Porsi lebih kecil dapat
hd/kg BB meningkatkan
e. Berikan perawatan masukan makanan
mulut sering d. Meningkatkan protein
albumin
e. Menurunkan
ketidaknyamanan dan
mempengaruhi
masukan makanan.
5 Tujuan : a. Rajin melakukan doa a. Mendekatkan diri
Memelihara hubungan b. Rajin membaca al- pada Tuhan
baik dengan Tuhan. quran (membina hubungan
c. Rajin melakukan hal- yang baik dengan
hal yang berkaitan Tuhan melalui doa).
dengan kerohaniaan. b. Menenangkan diri
dengan melihat dan
merengungkan
ajaran-ajaran Tuhan.
c. Meningkatkan
keimanan dengan
melibatkan diri
dengan hal-hal yang
berkaitan dengan
kerohaniaan.
6 Tujuan : a. Mampu a. Menghadapi segala
Mempertahankan mengendalikan sesuatu dengan
kualitas hidup yang masalah tenang
baik. b. Menghadapi b. Mampu
perawatan dengan mengendalikan stress
tabah dan sabar dengan baik.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Laporan ini berisi tentang Palliative Care pada penderita gagal ginjal kronik.

Diharapkan perawat dapat mengetahui lebih lagi mengenai Palliative Care dan

cara penanganan pada pasien penderita gagal ginjal kronik, tidak hanya

tindakan medis tetapi penanganan pada psikis penderita (Meningkatkan

kualitas hidup penderita) dan keluarga dan dapat melakukan komunikasi

terapeutik.

4.2 Saran

1. Bagi pembaca diharapkan makalah ini dapat memberi informasi dan

pengetahuan tentang penyakit Gagal Ginjal Kronis serta dapat menjadi

pemicu untuk melakukan tindakan pencegahan dini terhadap Penyakit

Gagal Ginjal Kronis.

2. Bagi petugas perawatan diharapkan makalah ini dapat menjadi informasi

tambahan mengenai penyakit Gagal Ginjal Kronis sehingga dapat

memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan dapat menjadi sarana

informasi bagi klien/ masyarakat dalam memberikan pendidikan

kesehatan.
3. Bagi institusi pendidikan diharapkan dapat ikut serta untuk melakukan

promosi kesehatan atau penyuluhan tentang Penyakit Gagal Ginjal

Kronis kepada masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

ANTARA. 36 Juta Warga Dunia Meninggal Gagal Ginjal.


http://www.antarasumut.com/36-juta-warga-dunia-meninggal-gagal-ginjal . 2009.
diakses pada tanggal 14 Februari 2017.

Faizal, Elly Burhaini. Noncommunicable Diseases Top Priority in Health Agenda.


http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/09/noncommunicable-diseases-top-
priority-health-agenda.html . 2012. diakses pada tanggal 14 Februari 2017

Fransiska, Kristina. Waspadalah 24 Penyebab Ginjal Rusak. Jakarta : Penerbit


Cerdas Sehat. 2011

Muttaqin dan Sari. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.


Salemba Medika, Jakarta.

National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse. Kidney


Disease Statistic for The United States. NIH Publication. 26 November 2012

Price, Sylvia A. & Lorraine M. Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC. 2006

Sherwood, Lauralle. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta : EGC.
2001
Smeltzer, Suzanne C. Dkk. Brunner & Suddart Textbook of medical-suirgical
Nursing : Eleventh Edition. USA : Lipincott williams & Wilkins.2009

Sudoyo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2006

USRDS Annual Data Report : Atlas of End Stage Renal Disease in United Stated
Volume 2 tahun 2012

WHO Indonesia. NCD Country Profile 2013.


http://www.who.int/nmh/countries/idnen.pdf. 2013. diakses pada tanggal 14
Februari 2017

Anda mungkin juga menyukai