Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PERUBAHAN MATERI GENETIK, PENGERTIAN MUTASI DAN SEBAB-


SEBAB MUTASI

Mutasi merupakan perubahan materi genetik yang dapat diwariskan dan tiba-tiba
(Gardner, dkk; 1991) Mutasi merupakan perubahan materi genetik dan perubahan ini
umumya dapat diwariskan dan dapat dideteksi. Perubahan materi genetik DNA dan RNA itu
dapat berupa perubahan atau pengurangan unit penyusun, perubahan susunan, dan
sebagainya. Secara umum penyebab mutasi adalah keadaan atau faktor-faktor lingkungan, di
samping keadaan atau faktor internal materi genetik. Terdapat dua macam mutasi yakni
mutasi spontan dan mutasi terinduksi. /mutasi spontan adalah mutasi yang terjadi tanpa
sebab-sebab yang jelas sedangkan mutasi terinduksi adalah mutasi yang terjadi karena
pemaparan makhluk hidup pada penyebab mutasi semacam radiasi pengion, radiasai
ultraviolet, dan berbagai senyawa kimia. Berkt merupakan pemjelasan sebab-sebab mutasi:
1. Keadaan atau faktor internal materi genetik
Keadaan atau faktor internal materi genetik yang dapat menjadi sebab terjadinya mutasi
spontan antara lain:
a. kesalahan pada replikasi DNA, misalnya yang terkait dengan tautomerisme (sebagai
akibat perubahan posisi sesuatu proton yang mengubah sesuatu sifat kimia molekul).
b. penggelembungan unting di saat replikasi, perubahan kimia tertentu secara spontan,
transposisi elemen transposabel, dan efek mutator. Penggelembunagn unting DNA di saat
replikasi dapat terjadi pada unting lama maupun unting baru. Jika penggelembungan tejadi
pada unting lama maka akan terjadi delesi pada unting baru, sebaliknya jika
penggelembungan terjadi pada unting baru, maka akan terjadi adisi pada unting baru
tersebut.
c. Depurinasi dan deaminasi yang merupakan peristiwa
kimia yang dapat menyebabkan mutasi. Pada
depurinasi, suatu purin tersingkir dari DNA karena
terputusnya ikatan kimia antara purin dan gula
deoksiribosa. Sedangkan pada deaminasi, suatu gugus
amino tersingkir dari basa. Dalam peristiwa depurinasi,
jika tersingkirnya purin itu tidak diperbaiki maka disaat
replikasi tidak terbentuk pasangan basa komplementer
yang lazim
d. Perpindahan atau transposisi elemen transposable. Peristiwa ini terjadi karena terjadi
insersi dalam gen
e. Gen mutator merupakan gen-gen yang ekspresinya mempengaruhi mempengaruhi
frekuensi mutasi gen-en lain.
2. Keadaan atau faktor dalam lingkugan sebagai sebab mutasi
Radiasi dan suhu. Radiasi sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi
pengion berenergi tinggi. Berkenaan dengan radiasi pengion diketahui bahwa perubahan
tekanan oksigen dan suhu, jika berhubungan dengan proses penyinaran juga dapat
mengubah mutasi secara signifikan. Tekanan oksigen yang rendah dapat menurunkan
mutasi. Oksigen dapat memperbesar efek penyinaran, tetapi hanya selama penyinaran.
Oksien meperlihatkan efek yang lebih rendah pada kondisi penyinaran tinggi dibandingkan
pada kondisi penyinaran moderat. Sinar UV tidak meninduksi ionisasai melainkan
mengiatkan atom-atom yang dijumpai.
Dalam molekul DNA, senyawa yang paling digiatkan adalah purin dan pirimidin,
karena kedua macam seneyawa itu meyerap cahaya pada panjang gelombang 254-260 nm
yang merupakan rentang panjang gelombang sinar UV. Hasil penelitian in vitro
membuktikan baha pirimidin dan timin sangat kuat menyerap sinar UV pada panjang
gelombang 254 nm ,sehingga menjadi sangat reaktif. Dua produk hasil penyerapan UV
adalah hidrat pirimidin dan dimer pirimidin. Efek utama dari radiasi UV adalah dimerisasi
timin yang menimbulkan suatu mutasi tidak langsung dalam dua cara yaitu:
- dimer timin mengganggu heix ganda DNA serta mengambat replikasi DNA
secaa akurat
- kesalahan yang kadag-kadangterjadi selama proses sel memperbaiki DNA yang
rusak seperti DNA yang mengandung dimer timin..
Suhu diketahui meneybabkan terjadinya peristiwa terjadinya poliploidi. Selain faktor
radiasidan suhu, perlakuan dengan tekanan hidrostatik juga dapat menginduksi terjadinya
mutasi.
3. Penyebab Mutasi dalam Lingkungan yang Bersifat Kimiawi
Penyebab mutasi dalam lingkungan kimiawi disebut sebagai mutagen kimiawi. Mutagen
kimiawi dapat dipilah menjadi tiga kelompok yaitu: analog basa, agen pengubah basa (basa
modifying agent), dan agen penyela (intercalating agent).
Analog Basa
Senyawa-senyawa yang tergolong analog basa adalah yang memiliki struktur molekul
yang sangat mirip dengan yang dimiliki basa pada umumnya terdapat pada DNA. Dua contoh
analog basa tersebut adalah 5-Bromourasil (5BU) dan 2-aminopurin (2-AP).
5-bromourasil adalah sutu analog timin. Proses mutasi yang terjadi adalah posisi gugus 5
ditempati oleh gugus brom, padahal sebelumnya ditempati oleh gugus metal (CH3).
Keberadaan gugus bro mini menyebabkan terubahnya distribusi muatan serta meningkatkan
peluang perubahan tautomerik. ). 5-BU ini menginduksi mutasi melalui peralihan antara
kedua bentukan 5-BU, sesaat setelah analog basa itu diinkorporasikan dalam bentuk keto
(bentuk normal), maka analog basa itu berpasangan dengan adenine. Selanjutnya jika bentuk
keto 5-BU beralh ke bentuk enol (bnetuk yang jarang) selama replikasi, maka analog basa ini
akan berpasangan dengan guanine, dan pada proses replikasi berikut dari pasangan G-5 BU
akan muncul pasangan G-C dan ukan A-T. dalam hal ini sudah terjadi suatu mutasi transisi
dari A-T menjadi G-C
Ke dua adalahmutagen 2 aminopurin (2AP) adalah 5 BU. 2AP memiliki dua bentuk yaitu
bentuk amino(bentuk normal ) serta bentuk imino (bentuk yang jarang)pada bentuk amino
2AP berperan sebagai adenine dan berpasangan dengan timin. Pada bentuk imino, 2 AP
berpasangan dengan guanine dan berpasangan dengan sitosin. Selanjutnya 2 AP menginduksi
mutasi transisi, yaitu AC menjadi GC atau GC menjadi AT tergantug bentuknya (amino
transisi yaitu AC). Seperti pada 5 BU, 2 AP juga menginduksi mutasi transisi, yaitu A-C
menjadi G-C atau G-C menjadi A-T, tergantung bentuknya apakah dalam bentuk amino
ataukah amini). Berkenaan dengan mutasi transisi yang diinduksi oleh analog basa tersebut 2
AP dapat mengubah kembali mutan yang diinduksi oleh 5 BU, demikian pula sebaliknya.
Agen Pengubah Basa (Basa Modifying Agent)
Senyawa yang tergolong agen pengubah basa yaitu mutagen yang secara langsung
mengubah struktur maupun sifat kimia basa. Yang termasuk kelompok ini adalah agen
demiasi (diaminating agen), agen hidroksilasi (hydroxylation agent) serta agen alkilasi
( alkylating agent).
Asam nitrit (HNO2) menyingkirkan gugus amino (-NH2) dari basa guanine, sitosin dan
adenine. Perlakuan dengan asam nitrit atas guanine menghasilkan xarthin yang berperilaku
layaknya guanine sehingga tidak ada mutasi yang terjadi. Perlakuan asam nitrit dengan
sitosin menghasilkan urasil yang berpasangan dengan adenine sehingga terjadi mutasi transisi
(selama replikasi) C G menjadi T A. di lain pihak akibat adanya perlakuan asam nitrit,
adenine berubah menjadi xypoxantin yang lebih berpeluang berpasangan dengan sitosin
dibanding dengan timin dan sebagai akibatnya terjadi mutasi transisi A T menjadi G C.
Sebagai agen hydroksilasi, mutagen hydroxylamine NH2OH bereaksi khusus dengan
sitosin, mengubahnya dengan menambah gugus hidroksil (OH), sehingga terbentuk
hidroxylaminosytosine yang hanya berpasangan dengan adenine, dan sebagai akibatnya
terjadi mutasi transisi C G menjadi T A. mutan yang terbentuk dapat pulih karena pengaruh
mutasi yang diinduksi oleh mutgen lain seperti 5 BU, 2 AP, maupun asam nitrit.
Agen alkilasi MMS (Methilethane Sulfonate) mengintriduksi gugus alkil misal ( -CH3-
CH2-CH3) ke dalam basa dalam sejumlah posisi. Dalam hal ini agen alkilasi menyebabkan
perubahan pada basa yang berakibat terbentuknya pasangan yang tidak lazim.
Agen Interkalasi
Mutagen kimia berupa agen interkalasi bekerja dengan cara melakukan insersi antara
basa-basa berdekatan dengan pada satu atau dua unting DNA. Contoh agen interkalasi antara
lain proflavin, acridine, ethidium bromide, dioxin dan ICR-70.

Jika agen interkalasi melakukan insersi antara pasangan basa yang berdekatan pada DNA
template (pada waktu replikasi) maka suatu basa tambahan dapat diinsersikan pada unting
DNA baru berpasangan dengan agen interkalasi. Setelah beberapa kali terjadi replikasi yang
diikuti oleh hilangnya agen interkalasi, akibat yang muncukl adalah terjadinya suatu mutasi
rangka (frameshift mutation) karena insersi suatu pasangan basa, mutasi rangka juga dapat
dikerenakan karena delesi satu pasang basa.
Hal yang diakibatkan dari adanya mutasi rangka adalah semua asam amino yang dikode
sesudah titik mutasi dapat dikatakan menyimpang sehingga protein yang dihasilkan bersifat
nonfungsional. Dampat mutasi rangka dapat diperbaiki melalui perlakuan dengan agen-agen
interkalasi.
Mutagen mutagen kimiawi tersebut dapat dipilah menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok mutagen kimiawi yang pertama terhadap DNA yang sedang bereplikasi maupun
yang sedang tidak bereplikasi. Kelompok mutagen kimiawi yang ke dua adalah hanya
berpengaruh terhadap DNA yang sedanga bereplikasi contohnya analog basa.

PERTANYAAN
1. Mengapa tautomer dapat menyebabkan mutasi?
Karena tautomer dapat mengakibatkan perubahan posisi proton. Perubahan posisi
proton ini mengakibatkan perubahan sifat ikatan nukleotida. Pada purin, ikatan H
yang berubah adalah ikatan 3-6 sedangkan pada pirimidin terletak pada ikatan 3-4.
Apabila jumlah atom H yang nantinya akan mengakibatkan ikatan antar basa nitrogen
berubah maka kemungkinan besar basa nitrogen-basa nitrogen tersebut tidak akan
berikatan dengan pasangannya sehingga terjadilah mutasi.
2. Mengapa penggelembungan unting juga dapat menyebabkan terjadinya mutasi
spontan? jelaskan mekanisme terjadinya adisi dan delesi!
Penggelembungan unting bila terjadi pada unting lama (template) akan menyebabkan
delesi pada unting yang baru. Sementara jika penggelembungan terjadi pada unting
baru maka unting baru tersebut akan mengalami adisi. Hal ini dapat terjadi karena jika
unting lama mengalami penggelembungan, urutan basa nitrogen yang akan
melakukan replikasi akan berkurang sesuai dengan jumlah basa nitrogen yang
mengalami penggelembungan. Akibatnya, unting baru yang terbentuk akan
mengalami delesi (pengurangan basa nitrogen). Sebaliknya, jika yang mengalami
penggelembungan adalah unting baru, unting lama (DNA template) akan tetap
melakukan replikasi untuk mengganti basa nitrogen yang menggelembung.
Akibatnya, unting baru akan mengalami penambahan basa nitrogen.
3. Jelaskan peristiwa-peristiwa kimia apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya
mutasi spontan.
Peristiwa kimia yang paling umum yang dapat menyebabkan mutasi spontan
adalah depurinasi dan deaminasi basa-basa tertentu. Pada peristiwa depurinasi, adenin
dan guanin tersingkir dari DNA karena terputusnya ikatan kimia antara purin dan
deoksiribose. Pada peristiwa depurinasi, jika tersingkirnya purin itu tidak segera
diperbaiki maka pada saat replikasi tidak terbentuk pasangan basa komplementer yang
lazim. Yang terjadi adalah secara random basa apapun dapat diadakan. Pada replikasi
berikutnya, keadaan tersebut dapat menyebkan mutasi jika basa baru yang diadakan
secara acak tersebut tidak sama dengan basa mula-mula.
Sementara pada proses deaminasi, peristiwa yang terjadi adalah tersingkirnya
gugus amino dari basa. Contoh dari deaminasi adalah deaminasi sitosin menjadi
urasil. Oleh karena urasil merupakan basa nitrogen yang tidak lazim bagi DNA maka
sebagian besar urasil tersebut harus segera disingkirkan dan diadakan proses
perbaikan untuk mengembalikan sitosin. Apabila urasil tidak segera diperbaiki maka
hal itu akan menyebabkan pengadaan adenin pada unting DNA baru hasil replikasi
berikutnya, dan sebagai hasilnya adalah terjadinya mutasi berupa perubahan pasangan
bsa S-G menjadi T-A.
BAB II
MACAM-MACAM MUTASI DAN MUTASI YANG ACAK

Macam Mutasi Berdasarkan Macam Sel yang Mengalami Mutasi


Berdasarkan sudut pandang yang mengalami mutasi, dikenal adanya mutasi somatik
dan mutasi germinal (Gardner, dkk., 1991);
1. Mutasi Somatik dan Mutasi Germinal
Mutasi ini terjadi pada sel-sel somatik. Akibat mutasi somatik dapat diwariskan melalui
reproduksi aseksual maupun seksual. Akibat mutasi somatik pada hewan (termasuk manusia)
hingga saat ini memang tidak dapat diwariskan, sedangkan pada tumbuhan (misalnya
tumbuhan dikotil), akibat mutasi somatik dapat diwariskan melalui reproduksi aseksual
maupun seksual.
Contoh mutasi somatik terjadi pada sel tertentu pada mata tunas tanaman jeruk.
Bayangkan lebih lanjut bahwa sel yang bermutasi tadi akan menurunkan sel gen jika mata
tunas itu tumbuh dan berkembang menjadi cabang tanaman jeruk (pada cabang tanaman jeruk
itu berkembang bunga yang selanjutnya menghasilkan buah dan biji). Pada contoh yang baru
dikemukakan itu, terlihat bahwa akibat mutasi somatik pada sel rata tunas dapat diwariskan
secara aseksual kepada generasi-generasi sel berikutnya hingga ke generasi sel gen. Jika
sudah terwariskan pada sel gen-gen mutasi tadi dapat diwariskan ke generasi individu yang
berikut melalui reproduksi seksual. Demikian pula jika cabang yang membawahi gen mutan
tadi dicangkokkan, maka tanaman cangkokan yang dihasilkan tentu mewarisi gen mutan
tersebut secara aseksual.
Mutasi germinal ini terjadi pada sel-sel germ dan akibatnya juga dapat diwariskan
melalui reproduksi aseksual maupun seksual. Gen mutan yang terwariskan melalui
reproduksi seksual, misalnya pada berbagai kelompok hewan termasuk manusia, terbentuk
mutasi germinal. Akibat mutasi yang dominan dapat segera terekspresi pada turunan,
sebaliknya jika resesif maka efek mutasinya tidak terdeteksi karena kondisi heterozigot. Satu
contoh mutasi germinal dominan pertama yang terkenal adalah yang pernah dilaporkan pada
populasi domba di Dover (Massachusetts). Mutasi germinal dominan itu telah memunculkan
galur domba mutan berkaki pendek yang disebut Ancon breed, yang pertama kali dilaporkan
oleh Seth Wright pada tahun 1971 di wilayah peternakannya.
Mutasi germinal dominan pertama dilaporkan pada hewan piaraan oleh Seth Wright
(1791) dipeternakannya Dover, Massachusetts. Wright memperhatikan adanya domba betina
yang aneh dengan kaki pendek (Ancon breed), yang tidak mampu melompati pagar
peternakan. Wright mengawinkan domba berkaki pendek dengan sesamanya dan hasilnya
keturunannya adalah domba berkaki pendek. Oleh karena itu, mutasi yang ditimbulkan
berupa kaki pendek merupakan mutasi germinal.

2. Mutasi Kromosom dan Mutasi Gen


Mutasi gen dapat berupa perubahan urut-urutan DNA termasuk substitusi pasangan
basa serta adisi atau delesi satu atau lebih dari satu pasangan basa. Jelas terlihat bahwa efek
yang terjadi pada mutasi gen adalah yang menimpa satu nukleotida yang terkena efek mutasi,
dikenal pula macam mutasi gen yang disebut mutasi titik (point mutation). Mutasi titik
adalah mutasi gen yang hanya menimpa satu pasang nukleotida dalam sesuatu gen (Russel,
1992). Berkenaan dengan mutasi gen dikenal pula macam-macam mutasi gen yang spesifik,
yaitu:
a. Mutasi pergantian (subsitusi) pasangan basa (base pair subsitution mutation), Mutasi
yang terjadi pada suatu gen berupa pergantian satu pasang basa oleh pasangan basa
lainnya. Satu contoh mutasi pergantian pasangan basa itu, misalnya pasangan AT
diganti oleh pasangan GS. (Russel, 1992).
b. Mutasi transisi (transition mutation). Pada mutasi transisi, terjadi suatu pergantian
basa purin dengan basa purin lain atau pergantian suatu basa pirimidin dengan
pirimidin lain; atau disebut sebagai pergantian suatu pasangan basa purin-pirimidin
dengan pasangan purin-pirimidin lain, termasuk pergantian suatu pasangan pirimidin
purin dengan pasangan pirimidin purin lain (Ayala, dkk., 1984; Gardner, dkk., 1991;
Klug dan Cummings, 1994). Contoh mutasi transisi adalah AT GS, GS AT, TA
SG, SG TA.
c. Mutasi transversi (transversion mutation). Pada mutasi transversi:, terjadi suatu
pergantian basa purin dengan basa pirimidin, atau pergantian suatu basa pirimidin
dengan basa purin; atau disebut juga sebagai suatu pergantian pasangan basa purin-
pirimidin dengan pasangan basa pirimidin-purin di tapak (posisi) yang sama (Ayala,
dkk 1984; Gardner, dkk., 1991; Russel, 1992, Klug dan Cummings, 1993). Contoh
mutasi transversi, antara lain AT AT, GS SG, ATSG, dan SGTA.
d. Mutasi missens adalah mutasi yang terjadi karena perubahan suatu pasangan basa
(dalam gen) yang mengakibatkan terjadi perubahan satu kode genetika, sehingga
asam amino yang terkait (pada polipeptida) berubah (Russel, 1992). Terbentuknya
asam amino yang berbeda dari normal pada sintesis asam amino akibat kesalahan basa
pada mutasi titik disebut dengan missense mutation. Misalnya sickle-cell anemia
(anemia sel sabit), merupakan penyakit akibat missense mutation tunggal pada basa
pengkode protein hemoglobin. Protein hemoglobin tersusun atas 146 asam amino.
Pada asam amino ke-6, adenin (A) digantikan dengan timin (T). Perubahan ini
menyebabkan perubahan asam amino glutamat menjadi valin, sehingga mengubah
bentuk molekul hemoglobin pada kondisi kadar oksigen rendah, dan menyebabkan sel
darah merah menjadi berbentuk bulan sabit. Bentuk bulan sabit menyulitkan transport
sel darah merah melalui pembuluh darah kapiler.
e. Mutasi nonsense (nonsense mutation). Mutasi nonsense adalah suatu pergantian
pasangan basa yang berakibat terjadinya perubahan suatu kode genetika pengkode
asam amino menjadi kode genetika pengkode terminasi (Russel., 1992).
Dalam hal ini terjadi suatu kode genetika pengkode asam amino
(misalnya UGG) menjadi UAG; atau USA menjadi UAA, dan
demikian pula UAA menjadi UGA. Adanya mutasi nonsense jelas
menyebabkan polipeptida yang terbentuk tidak sempurna atau
tidak lengkap sehingga tidak fungsional (Russel, 1992), seperti
halnya yang terlihat pada tabel 2.1.

Urutan
Urutan
Sebelum nukleotida Dampak yang
nukleotida Asam amino
sesudah (basa) pada timbul setelah
(basa) pada yang dikode
mutasi RNA-d hasil mutasi
gen
transkripsi
Sebelum 3'-ASS-5' 5'-UGG-3' Triptofan -
sesudah
mutasi 3'-ATS-5' 5'-UAG-3' Tidak ada Terhentinya
translasi
(misalnya
ditengah
proses)
Sebelum 3'-AGT-S' 5'-USA-3' Serin -
sesudah 3'-AT7-5' 5'-UAA-3' tidak ada Terhentinya
mutasi translasi
(misalnya di
tengah proses)
Sebelum 3'-ATT-5' Y-MA-31 Leusin -
sesudah 3'-ASA-5' 5'-LJGA-' tidak ada Terhentinya
mutasi translasi
(misalnya di
tengah proses)
Tabel 1. Rangkaian perubahan mulai dari gen hingga ke munculnya kode genetika
terminasi yang memperlihatkan contoh mutasi nonsen

f. Mutasi netral (neutral mutation). Mutasi netral merupakan pergantian suatu pasangan
basa yang terkait terjadinya perubahan suatu kode genetika yang juga menimbulkan
perubahan asam amino terkait tetapi tidak sampai mengakibatkan perubahan fungsi
protein (Russel; 1992). Tidak terjadinya perubahan fungsi protein disebabkan karna
asam amino mutan secara kimia ekivalen dengan asam amino mula-mula, misalnya
asam amino arginin secara kimiawi ekivalen dengan asam amino lisin dan sama-sama
asam amino dasar sehingga, keduanya memiliki sifat-sifat yang cukup mirip; dan
dengan demikian fungsi protein dapat tidak berubah.
g. Mutasi diam (silent mutation). Pada mutasi diam terjadi pergantian suatu pasangan
basa pada gen yang menimbulkan perubahan satu kode genetika, tetapi tidak
mengakibatkan perubahan/pergantian asam amino yang dikode (Russel, 1992). Dalam
hal ini baik kode genetika mutan maupun kode genetika semula sama-sama mengkode
asam amino yang sama
h. Mutasi perubahan rangka (frame shift mutation). Mutasi perubahan rangka terjadi
karena adanya penambahan sekaligus pengurangan pasangan basa. Mutasi perubahan
rangka terjadi karena adisi atau delesi satu atau lebih dari satu pasangan basa dalam
satu gen. Adisi dan delesi semacam itu mengubah kerangka percobaan seluruh fungsi
triplet pasangan basa pada gen dalam arah distal dari tapak mutasi (Gardner, dkk.,
1991). Mutasi ini berupa delesi (pemotongan) atau insersi (penyisipan) satu atau
beberapa pasang nukleotida pada DNA dan menyebabkan terjadinya pergeseran
pembacaan kerangka sandi (reading frameshift), sehingga akan menyebabkan
perubahan asam amino.
i. Mutasi titik. Mutasi titik secara umum dapat dipilah menjadi 2 macam, yaitu mutasi
ke depan atau forward mutation dan mutasi balik atau reverse mutation (Russel,
1992). Reverse mutation disebut jugs sebagai back mutation (Gardner, dkk., 1991)
atau juga reversion (Gardner, dkk., 1991; Russel, 1992). Forward mutation adalah
mutasi yang mengubah wild-type (Gardner, dkk., 1991). Namun demikian berkenaan
dengan hal ini kadang-kadang kedua konsep itu (wild-type dan tipe mutan) bersifat
arbitrer. Sebagai contoh, kita memang memandang bahwa dua alela yang mengontrol
warna mata coklat maupun biru pada manusia sama-sama tergolong wild-type. Di lain
pihak, jika pada suatu populasi yang hamper seluruhnya bermata coklat, alela untuk
warna mata biru dapat juga dipandang sebagai tipe mutan.

PERTANYAAN
1. Apa penyebab dan dampak mutasi somatik? dan mengapa mutasi somatik belum tentu
diwariskan pada keturunannya sedangkan mutasi gametik pasti diturunkan?

Mutasi somatik adalah mutasi yang terjadi pada sel-sel somatik sedangkan mutasi gametik
adalah mutasi yang terjadi pada sel-sel kelamin. Mutasi somatik dapat diturunkan dan dapat
pula tidak diturunkan. Mutasi somatik yang diturunkan apabila mutasi tersebut terjadi pada
sel-sel tunas. Lebih lanjut, sel-sel tunas tersebut akan berkembang menjadi batang, bunga dan
juga biji. Sebagai akibatnya, sel-sel ovum atau sperma yang terbentuk di dalam bunga juga
akan menerima efek mutasi tersebut sehingga keturunannya nanti juga akan mengandung gen
mutan.Sebaliknya, mutasi somatik yang tidak diwariskan adalah mutasi yang mengenai sel-
sel tubuh. Pada mutasi kali ini, gen mutan tidak akan diwariskan pada keturunannya. Bila
yang mengalami mutasi sel-sel kelamin, maka akan berakibat perubahan gen pada
keturunannya. Penyebab mutasi dapat berupa faktor fisik, kimia ataupun biologis.