Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM

TEKNIK TENAGA LISTRIK

Disusun oleh :

NAMA : NADIA RIZQIATI ANISA

KELAS : LISTRIK 2A

NIM : 3.31.11.0.16

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2013
JUDUL : GENERATOR SINKRON
NOMOR : SMG EL JOS 04 404

I. PENDAHULUAN

Generator sinkron (sering disebut alternator) adalah mesin sinkron yang


digunakan untuk mengubah daya mekanik menjadi daya listrik. Generator sinkron
dapat berupa generator sinkron tiga fasa atau generator sinkron AC satu fasa
tergantung dari kebutuhan. Pada percobaan kali ini, yaitu generator sinkron yang
mana bertujuan untuk mengamati beberapa karakteristik dari generator 3 phasa.
Karakteristik karakteristik yang akan diamati diantaranya : karakteristik tanpa
beban, hubung singkat dan berbeban.

II. DASAR TEORI


1. Konstruksi Generator Sinkron

Konstruksi dari generator sinkron sama dengan konstruksi motor sinkron, dan
secara umum biasa disebut mesin sinkron. Terdapat dua struktur kumparan pada
mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari mesin tersebut, yaitu kumparan
yang mengalirkan penguatan DC atau disebut kumparan medan dan sebuah
kumparan atau disebut kumparan jangkar tempat dibangkitkannya GGL arus bolak-
balik. Kumparan DC pada struktur medan yang berputar dihubungkan pada sumber
DC luar melalui cincin geser(slip ring) dan sikat arang (carbon brush), tetapi ada
juga yang tidak mempergunakan sikat arang yaitu sistem brushless excitation.

Arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk menghasilkan medan magnet rotor.
Rotor generator diputar oleh prime mover menghasilkan medan magnet berputar
pada mesin. Medan magnet putar ini menginduksi tegangan tiga fasa pada
kumparan stator generator. Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah
sebuah elektromagnet yang besar. Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient
(kutub sepatu) dan dan non salient (rotor silinder). Generator dengan kecepatan
1500 rpm ke atas pada frekuensi 50 Hz dan rating daya sekitar 10 MVA
menggunakan rotor silinder. Sementara untuk daya dibawah 10 MVA dan kecepatan
rendah maka digunakan rotor kutub sepatu.

Arus DC disuplai ke rangkaian medan rotor dengan dua cara:

1. Menyuplai daya DC ke rangkaian dari sumber DC eksternal dengan sarana slip


ring dan sikat.
2. Menyuplai daya DC dari sumber DC khusus yang ditempelkan langsung pada
batang rotor generator sinkron

2. Prinsip Kerja Generator Sinkron


Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet
homogen, maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut.
Medan magnet bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh
magnet tetap. Pada mesin tipe ini medan magnet diletakkan pada stator (disebut
generator kutub eksternal / external pole generator) yang mana energi listrik
dibangkitkan pada kumparan rotor. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada slip
ring dan karbon sikat, sehingga menimbulkan permasalahan pada pembangkitan
daya tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, digunakan tipe generator dengan
kutub internal (internal pole generator), yang mana medan magnet dibangkitkan
oleh kutub rotor dan tegangan AC dibangkitkan pada rangkaian stator. Tegangan
yang dihasilkan akan sinusoidal jika rapat fluks magnet pada celah udara
terdistribusi sinusoidal dan rotor diputar pada kecepatan konstan. Tegangan AC tiga
fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal pada tiga kumparan stator yang
diset sedemikian rupa sehingga membentuk beda fasa dengan sudut 120.

3. Kecepatan Putar Generator Sinkron

Frekuensi elektris yang dihasilkan generator sinkron adalah sinkron dengan


kecepatan putar generator. Rotor generator sinkron terdiri atas rangkaian
elektromagnet dengan suplai arus DC. Medan magnet rotor bergerak pada arah
putaran rotor. Hubungan antara kecepatan putar medan magnet pada mesin dengan
frekuensi elektrik pada stator adalah:

f = frekuensi listrik (Hz)

nr = kecepatan putar rotor = kecepatan medan magnet (rpm)

p = jumlah kutub magnet

Oleh karena rotor berputar pada kecepatan yang sama dengan medan magnet,
persamaan diatas juga menunjukkan hubungan antara kecepatan putar rotor dengan
frekuensi listrik yang dihasilkan. Agar daya listrik dibangkitkan tetap pada frekuensi
50Hz atau 60 Hz, maka generator harus berputar pada kecepatan tetapdengan
jumlah kutub mesin yang telah ditentukan. Sebagai contoh untuk membangkitkan
60 Hz pada mesin dua kutub, rotor arus berputar dengan kecepatan 3600 rpm. Untuk
membangkitkan daya 50 Hz pada mesin empat kutub, rotor harus berputar pada
1500 rpm

4. Alternator tanpa beban

Dengan memutar alternator pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus medan
(If), maka tegangan (Ea ) akan terinduksi pada kumparan jangkar stator. Bentuk
hubungannya diperlihatkan pada persamaan berikut.

Ea = c.n.fluks
yang mana:

c = konstanta mesin

n = putaran sinkron

f = fluks yang dihasilkan oleh If

Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, karenanya
tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan oleh arus medan (If).

5. Alternator Berbeban

Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan


terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat reaktif karena itu dinyatakan
sebagai reaktansi, dan disebut reaktansi magnetisasi (Xm ). Reaktansi pemagnet
(Xm ) ini bersama-sama dengan reaktansi fluks bocor (Xa ) dikenal sebagai
reaktansi sinkron (Xs) .

Bila generator diberi beban yang berubah-ubah maka besarnya tegangan


terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan
pada:

a) Resistansi Jangkar
Resistansi jangkar/fasa Ra menyebabkan terjadinya kerugian tegang/fasa
(tegangan jatuh/fasa) dan I.Ra yang sefasa dengan arus jangkar.
b) Reaktansi Bocor Jangkar
Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluks yang terjadi
tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini disebut
Fluks Bocor
c) Reaksi Jangkar
Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat generator dibebani
akan menimbulkan fluksi jangkar (A ) yang berintegrasi dengan fluksi yang
dihasilkan pada kumparan medan rotor(F), sehingga akan dihasilkan suatu
fluksi resultan sebesar :

Persamaan tegangan pada generator adalah:


Ea = V + I.Ra + j I.Xs
Xs = Xm + Xa

yang mana:
Ea = tegangan induksi pada jangkar Ra = resistansi jangkar
V = tegangan terminal output Xs = reaktansi sinkron
6. Rangkaian Ekuivalen Generator Sinkron
Tegangan induksi Ea dibangkitkan pada fasa generator sinkron. Tegangan ini
biasanya tidak sama dengan tegangan yang muncul pada terminal generator.
Tegangan induksi sama dengan tegangan output terminal hanya ketika tidak ada arus
jangkar yang mengalir pada mesin. Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
antara tegangan induksi dengan tegangan terminal adalah:

a) Distorsi medan magnet pada celah udara oleh mengalirnya arus pada stator,
disebut reaksi jangkar.
b) Induktansi sendiri kumparan jangkar.

c) Resistansi kumparan jangkar.

d) Efek permukaan rotor kutub sepatu.

7. Menentukan Parameter Generator Sinkron

Harga X diperoleh dari dua macam percobaan yaitu percobaan tanpa beban dan
percobaan hubungan singkat. Pada pengujian tanpa beban, generator diputar pada
kecepatan ratingnya dan terminal generator tidak dihubungkan ke beban. Arus
eksitasi medan mula adalah nol. Kemudian arus eksitasi medan dinaikan bertahap
dan tegangan terminal generator diukur pada tiap tahapan. Dari percobaan tanpa
beban arus jangkar adalah nol (Ia = 0) sehingga V sama dengan Ea. Sehingga dari
pengujian ini diperoleh kurva Ea sebagai fungsi arus medan (If). Dari kurva ini harga
yang akan dipakai adalah harga liniernya (unsaturated). Pemakaian harga linier yang
merupakan garis lurus cukup beralasan mengingat kelebihan arus medan pada
keadaan jenuh sebenarnya dikompensasi oleh adanya reaksi jangkar.

Pengujian yang kedua yaitu pengujian hubung singkat. Pada pengujian ini mula-
mula arus eksitasi medan dibuat nol, dan terminal generator dihubung singkat
melalui ampere meter. Kemudian arus jangkar Ia (= arus saluran) diukur dengan
mengubah arus eksitasi medan. Dari pengujian hubung singkat akan menghasilkan
hubungan antara arus jangkar (Ia ) sebagai fungsi arus medan (If), dan ini merupakan
garis lurus.

8. Kerja Paralel Alternator

Untuk melayani beban yang berkembang, maka diperlukan tambahan sumber


daya listrik. Agar sumber daya listrik yang yang baru (alternator baru) bisa
digunakan bersama, maka dilakukan penggabungan alternator dengan cara
mempararelkan dua atau lebih alternator pada sistem tenaga dengan maksud
memperbesar kapasitas daya yang dibangkitkan pada sistem. Selain untuk tujuan di
atas, kerja pararel juga sering dibutuhkan untuk menjaga kontinuitas pelayanan
apabila ada mesin (alternator) yang harus dihentikan, misalnya untuk istirahat atau
reparasi, maka alternator lain masih bisa bekerja untuk mensuplai beban yang lain.
Untuk maksud mempararelkan ini, ada beberapa pesyaratan yang harus dipenuhi,
yaitu:

a) Harga sesaat ggl kedua alternator harus sama dalam kebesarannya, dan
bertentangan dalam arah, atau harga sesaat ggl alternator harus sama dalam
kebesarannya dan bertentangan dalam arah dengan harga efektif tegangan jala-
jala.
b) Frekuensi kedua alternator atau frekuensi alternator dengan jala harus sama

c) Fasa kedua alternator harus sama

d) Urutan fasa kedua alternator harus sama

9. Menentukan Resistansi dan Reaktansi

Untuk bisa menentukan nilai reaktansi dan impedansi dari sebuah generator,
harus dilakukan percobaan (test). Ada tiga jenis test yang biasa dilakukan, yaitu:

Test Tanpa beban( Beban Nol )


Test Hubung Singkat.

Test Resistansi Jangkar.

a) Test Tanpa Beban

Test Tanpa Beban dilakukan pada kecepatan Sinkron dengan rangkaian


jangkar terbuka (tanpa beban) seperti diperlihatkan pada gambar di bawah
ini. Percobaan dilakukan dengan cara mengatur arus medan (If) dari nol
sampai rating tegangan output terminal tercapai.

Gambar Rangkaian Test Generator Tanpa Beban.

b) Test Hubung Singkat

Untuk melakukan test ini terminal generator dihubung singkat, dan


dengan Ampermeter diletakkan diantara dua penghantar yang dihubung
singkat tersebut. Arus medan dinaikkan secara bertahap sampai diperoleh
arus jangkar maksimum. Selama proses test arus If dan arus hubung singkat
Ihs dicatat.

Gambar Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat

Dari hasil kedua test diatas, maka dapat digambar dalam bentuk kurva karakteristik
seperti berikut :

Gambar Kurva Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator.

c) Test Resistansi Jangkar

Dengan rangkaian medan terbuka, resistansi DC diukur antara dua


terminal output sehingga dua fasa terhubung secara seri. Resistansi per fasa
adalah setengahnya dari yang diukur.
Gambar Pengukuran Resistansi DC.

III. GAMBAR PERCOBAAN

IV. ALAT ALAT YANG DIPERLUKAN

1. Electric torque meter MV 100


2. Syncrhronous machine MV 122
3. Tachometer generator MV 153
4. Shunt rheostat TS 500/440
5. Voltmeter 300 V
6. Amperemeter 1,2 A
7. Switch TO 30
8. Load resistor TB 40
9. Load inductor TB 41
10. Load capasitor TB 42

V. KESELAMATAN KERJA
1. Aturlah letak peralatan dan hubungan kabel serapi mungkin.
2. Periksalah rangkaian saudara pada instruktor sebelum diberi sumber tegangan.

VI. LANGKAH KERJA

6.1 Hubungan dan Starting

6.1.1 Gunakan tarque meter sebagai motor dan mesin sinkron sebagai generator.
6.1.2 Catatlah rating mesin sinkron yang trdapat pada Name Plate. Rating ini tidak
boleh dilampaui selama percobaan.
6.1.3 Periksalah rangkaian saudara pada instruktor sebelum diberi tegangan.
6.1.4 Masukkan tegangan DC tetap dengan mmutar switchnya. Atur shunt rheostat
pada tarqu meter, sehingga arus medan mencapai harga maksimum ( switch S
harus tetap off ).
6.1.5 Masukkan tegangan DC variabel dengan perlahan-lahan sehingga mencapai
220 Volt dan cek arus motor pada amperemeter. Motor harus berputar sesuai
dengan arah panah.
6.1.6 Aturlah shunt rheostat pada tarque motor sehingga kecepatan tetap 1500 rpm.
Kecepatan itu harus dipertahankan selama percobaan.

6.2 Pengukuran Karakteristik tanpa beban ( E = f (Im) )

6.2.1 Gambarkan rangkaian diagram untuk pengukuran ini.


6.2.2 Switch S dalam keadaan off. Aturlah arus medan pada generator dari 0 s/d
maximum ( dalam tiap langkah 0,2 A ). Catat harga E dan Im yang terbaca
pada alat ukur untuk setiap langkah. Pertahankan putaran tetap konstan.
6.2.3 Gunakan tabel 7.1.

6.3 Pengukuran Karakteristik hubung singkat ( IA = f (Im) )

6.3.1 Gambarkan rangkaian diagram untuk pengukuran ini.


6.3.2 Huubung singkatkan phase-phase dari rotor setelah switch S ( switch S masih
terbuka ).
6.3.3 Aturlah shunt rheostat (Rmy) sehingga arus medan putar pada generator
sinkronnya = 0.
6.3.4 Masukkan switch S. Aturlah arus jangkar dari 0 s/d maximum (setiap langkah
0,5 A) dengan cara mengatur Rmy.
Catat harga IA dan Im untuk setiap langkah.
6.3.5 Aturlah shunt rheostat (Rmy) sehingga arus medan putar genertaor = 0.
Kemudian buka switch S dan lepaskan phase-phase yang terhubung singkat.
6.3.6 Gunakan tabel 7.2.

6.4 Pengukuran Karakteristik Berbeban


6.4.1 Gambarkan rangkaian untuk pengukuran itu
6.4.2 Aturlah shunt rheostat (Rmy) sehingga tegangan output generator sinkron 220
Volt. Catatlah arus Im pada posisi ini dan pertahankan harga Im ini selama
percobaan dan demikian pula putarannya.
6.4.3 Masukkan switch S pada beban R B ( RB dihubung bintang ). Aturlah arus
jangkar pada generator dari 0 s/d maximum (setiap langkah 0,5 A). Catat harga
IA dan V pada setiap langkahnya.
6.4.4 Buka switch S.
6.4.5 Ulangi langkah 6.4.1 s/d 6.4.4 dan pergunakan beban induktor dengan
hubungan segitiga ().
6.4.6 Ulangi langkah 6.4.1 s/d 6.4.4 dan pergunakan beban capasitor dengan
hubungan bintang (Y).
Hentikan percobaan jika tegangan generator mencapai 300 Volt.
6.4.7 Gunakkan tabel 7.3.

VII. TABEL HASIL PERCOBAAN

7.1 Pengukuran Tanpa Beban

E
(V)
0,2 80

0,3 120

0,4 150

0,5 180

0,6 200

0,7 220

7.2 Pengukuran Hubung Singkat

Saklar ON
IA E
(A) (V)
0,2 0 70

0,3 0 105

0,4 0 135

0,5 0,3 160

0,6 0,5 185

0,7 0,9 205

0,8 1 220
Saklar OFF

IA E
(A) (V)
0,2 0,5 30

0,3 1,2 50

0,4 1,6 70

0,5 2 90

0,6 2,4 105

0,7 2,7 120

0,8 3,1 140

0,9 3,4 150


7.3 Pengukuran
Berbeban

Hubungan Bintang (Y)

Beban Resistif

IM IA E Nr

(A) (A) (V) (rpm)

1 0,68 200 1410

1,5 0,68 185 1390

2 0,69 180 1360

2,5 0,69 135 1350

3 0,69 116 1360

Beban Induktif

Daya IM IA E nr
Induktor
(kVAR) (A) (A) (V) (rpm)

2 2,5 0,65 0 200 1490


3 5 0,65 0 190 1490

4 7,5 0,65 0 185 1490

Beban capasitif

Daya E Nr
Kapasitor
(kVAR) (V) (rpm)

1 3,2 238 1480

2 6,4 255 1460

Hubungan Segitiga ()

Beban Resistif

IM IA E Nr
R
(A) (A) (V) (rpm)

110 0,65 1,5 185 1490

110 0,65 2 165 1460

110 0,65 2,5 155 1460

Beban Induktif

E nr
Induktor
(V) (rpm)

2 175 1490

3 158 1490

Beban capasitif
IM IA E Nr
Kapasitor
(A) (A) (V) (rpm)

1 0 0,5 250 1490

2 0,7 0,3 285 14934330

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini menggunakan motor DC yang berfungsi sebagai
penggerak rotor generator sinkron 3 fasa. Dimana ada beberapa parameter yang
mempengaruhi tegangan keluar terminal generator sinkron tersebut. Setelah
melakukan praktikum diketahui parameter yang mempengaruhi tegangan keluaran
generator yaitu arus eksitasi generator serta kecepatan putaran dari motor penggerak.
Pada praktikum juga melakukan percobaan dengan beberapa kondisi yang
mempengaruhi tegangan keluaran, mulai dari tanpa beban sampi dengan member
beban R, L dan C. pada analisa ini akan dibahan nilai tegangan keluaran pada
berbagai kondisi yang diujikan.

a. Kondisi tidak berbeban


Setelah melakukan praktikum diperoleh data yang dimasukan dalam table 1.
Dari data yang diperoleh terdapat perubahan parameter dari motor hingga arus
eksitasi. Ketika arus eksitasi di motor dc dinaikan akan mempengaruhi kecepatan
dari motor tersebut. Semakin besar arus eksitasi di motor semakin meningkat
kecepatan pada motor penggerak. Dan semakin tinggi kecepatan akan
meningkatkan tegangan keluaran pada terminal generator sinkron. Karena tidak
ada beban terpasang dalam rangkaian tersebut tidak mengalir arus.
Selain eksitasi di sisi motor DC, peningkatan arus eksitasi dalam generator
pun mempengaruhi tegangan keluaran. Ketika arus penguatan dibesarkan maka
tegangan terminal juga akan meningkat. Hal ini disebabkan semakin tinggi arus
penguatan maka akan semakin besar fluks magnet dihasilakan, semakin banyak
fluksmagnet yang memotong kumuparan berputar dalam generator semakin besar
gaya putar yang membangkitkan tegangan generator.
Karena tidak ada beban yang terpasang maka tidak ada factor dari luar
yang mempengaruhi tegangan keluaran generator. Sehingga dapat diketahui
bahwa pada kondisi tak berbeban yang mempengaruhi tegangan keluaran dari
generator sinkron yaitu eksitasi motor penggerak, kecepatan motor serta eksitasi
dalam generator sinkron yang dapat diatur sesuai dengan tegangan keluaran yang
diinginkan dan sesuai dengan besarnya eksitasi yang dapat dibangkitkan.

1. Kondisi berbeban
Beban yang diujikan dalam praktikum ini terdapat 3 macam yaitu beban
resistif , induktif serta beban kapasitif. Analisa data akan mencangkup masing masing
beban seperti dibawah ini
a) Beban resistif
Pada saat dilakukan pengukuran pada terminal keluaran generator diperoleh
besar tegangan yang sama dengan tegangan pada beban. Hal ini disebabkan sifat
beban yang resistif saja. Karena sifat dari beban resistif murni menghasilakan
nilai factor daya mendekati 1. Sehingga jika ingin menjaga tegangan keluaran
pada generator yang mensuplai beban resistif, cukup dengan menjaga besarnya
arus eksitasi (fluks magnet konstan) dan juga menjaga putaran dari penggerak
utama agar tetap. Ketika beban resistif diperkecil maka akan mengalir kan arus
yang semakin besar sesuai dengan I = V/ R. pada kondisi ini akan menurunkan
kecepatan dari penggerak utama ( motor dc) sehingga menurunkan tegangan
keluaran generator.
Untuk mengembalikan tegangan keluaran generator dapat dengan
meningkatkan arus eksitasi motor DC maupun arus medan penguatan generator
sinkron sendiri hingga tegangan keluaran akan lebih besar sesuai dengan yang
diinginkan.

b) Beban induktif
Beban induktif yaitu beban yang terdiri dai kumparan kawat yang dililitkan
pada inti seperti pada coil. Beban ini menyebabkan pergeseran fasa pada arus
yang menyebabkan arus bersifat lagging. Hal ini memyebabkan energy tersimpan
berupa medang magnetis yang mengakibatkan arus fasa bergeser menjadi
tertinggal terhadap tegangan. Karena penyimpanan energy ini menyebabkan
tegangan pada beban akan lebih kecil jika dibandingkan dengan beban resistif.
Supaya nilai tegangan yang diinginkan dapat memvariasi arus pengauatan
yang mempengaruhi fluks magnet yang dihasilkan, maka tegangan keluaran dari
generator akan meningkat sehingga saat tegangan sampai pada beban induktif
dengan tegangan yang diinginkan.

c) Beban kapasitif
Beban kapasitif yaitu beban yang memiliki kemampuan kapasitansi atau
kemampuan menyimpan energy yang berasal dari pengisian elektrik pada suatu
sirkuit. Komponen ini dapat menyebabkan arus leading terhadap tegangan.
Apabila ingin mendapatkan nilai tegangan pada beban kapasitif yang
besarnya sama dengan beban induktif dapat dilakukan dengan mengurangi arus
penguatan dari generator serta menurunkan kecepatan dari penggerak utama
(motor DC).

IX. PERTANYAAN
1. Gambarkan grafik karakteristik tanpa beban dan karakteristik hubung singkat
dengan Im sebagai sumbu mendatar.
2. Gambar grafik karakteristik berbeban untuk ketiga beban (R,XL,C) dengan IA
sebagai sumbu mendatar.
3. Perhatikan pada karakteristik tanpa beban dan tentukan harga Im yang sesuai
dengan tegangan kerja.
4. Perhatikan pada karakteristik hubung singkat, dan tentukan harga arus hubung
singkat yang sesuai dengan harga Im.
5. Hitung reaktansi sinkron tiap phase dari generator sinkron.
6. Hitung perbandingan hubung singkat dari generator ( kc = Iko/In ). Dimana In
arus rated or generator
7. Gambar vektor diagram antara E dan IA untuk ketiga beban ( = 0, = 90,
= -90 ) dimana harga xS didapat dari perhitungan 5 dan E = 127V, IA = 2A.

X. JAWABAN

1.
V

Im

2.

3. Jika dilihat dari hasil percobaan diperoleh beberapa analisa bahwa Im (arus
penguatan generator) mempengaruhi tegangan keluaran dari generator . Sesuai
dengan data semakin besar arus eksitasi akan semakin besar pula tegangan
keluaran dari generator. hal ini disebabkan arus eksitasi akan menimbulkan fluksi
magnet dari eksitasi.Semakin besar arus eksitasi semakin besar fluksi magnet
yang dibangkitkan. Ketika fluksi magnet menembus kumparan maka akan tercipta
GGL di kumparan. yang besarnya tegangan keluaran (GGL) dari generator
sebanding lurus dengan arus penguatan.
4. (Untuk karakteristik hubung singkat tidak di praktikkan sesuai bimbingan dosen)
5. Resistansi dalam generator dapat diketahui dengan cara perhitungan. Namun para
meter tegangan keluaran per fasa serta arus pada saat beban resistif harus
diketahui terlebih dahulu. setelah percobaan di peroleh data parameter tersebut
lalu masukan dalam rumus berikut

Xs = Un/ Iko

dengan demikian jika dalam beban resistif sebesar 110 ohm diperoleh arus 1,2
ampere dengan tegangan beban 200 volt maka

Xs = 200 / 1,5 = 133,33 ohm / phase

dan untuk perhitungan demgan data yang lain hasilnya mendekati jika dilakukan
pembanding pada arus yang mengalir pada beban resistif

6.

7.

U Xs

Ia
A. Beban Resistif

Xs
? =-90
U
Ia
A. Beban Induktif
XI. KESIMPULAN
a) Pada kondisi tanpa beban semakin besar arus excitasi semakin besar kecepatan motor
sehingga tegangan output generator semakin besar.
b) Pada beban induktif tegangan di beban akan lebih kecil dari pada tegangan di beban
resistif karena sifat arus induktif lagging dibanding tegangan masukan.
c) Pada beban capasitif akan di peroleh tegangan yang lebih besar karena sifat beban
capasitif menyimpan muatan.
d) Untuk mengatur tegangan keluaran generator stabil dengan cara mengatur arus
excitasi pada generator dan excitasi pada motor.

REFERENSI

Siswoyo, Teknik Industri Jilid 2. Jakarta: Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan, 2008.
http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/04/prinsip-kerja-generator-sinkron.html
http://prinsip-kerja-generator-sinkron.pdf