Anda di halaman 1dari 37

CONTOH KASUS : CSR PT Freeport Indonesia Ditinjau dari Sudut

Pandang Etika Bisnis

Diambil dari Blogger


https://agungdema.wordpress.com/2014/10/19/corporate-social-responsibility-csr-pt-freeport-
indonesia-ditinjau-dari-sudut-pandang-etika-bisnis/

19 Oktober 2014 dematria

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbagai aktivitas korporasi membawa dampak yang nyata terhadap kualitas


kehidupan manusia baik itu terhadap individu, masyarakat, dan seluruh kehidupan.
Terjadinya deforestasi, pemanasan global, pencemaran lingkungan, kemiskinan, kebodohan,
penyakit menular, akses hidup dan air bersih, berlangsung terus-menerus hingga akhirnya
muncul konsep tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Dalam konteks global, istilah Corporate Social Responsibility (CSR) mulai
digunakan sejak tahun 1970-an dan semakin populer terutama setelah kehadiran buku
Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998), karya John
Elkington. Mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni
economic growth, environmental protection, dan social equity, yang digagas the World
Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987),
Elkington mengemas CSR ke dalam tiga fokus: 3P, singkatan dari profit, planet dan people.
Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit) melainkan
pula memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan
masyarakat (people). (Initiative, 2002).
Dalam perkembangan selanjutnya ketiga konsep ini menjadi patokan bagi perusahaan
untuk melaksanakan tanggung jawab sosial yang kita kenal dengan konsep CSR. CSR
merupakan komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan
berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komunitas
lokal, dan komunitas luas. Konsep CSR melibatkan tanggung jawab kemitraan antara
pemerintah, perusahaan, dan komunitas masyarakat setempat yang bersifat aktif dan dinamis.
Menurut Schermerhorn (1993) CSR adalah suatu kepedulian organisasi bisnis untuk
bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam melayani kepentingan organisasi dan
kepentingan publik eksternal.Gagasan CSR menekankan bahwa tanggungjawab perusahaan
bukan lagi mencari profit semata, melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan.
Dasar pemikirannya, ketergantungan pada kesehatan keuangan tidaklah menjamin perusahaan
akan tumbuh secara berkelanjutan. Program CSR dapat dilakukan melalui pemberdayaan
masyarakat lokal yang didasarkan pada kebutuhan ril yang secara dialogis dikomunikasikan
dengan masyarakat, pemerintah, perusahaan, masyarakat dan akademisi
CSR secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktek yang berhubungan
dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan
lingkungan; serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara
berkelanjutan,Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya merupakan kegiatan
karikatif perusahaan dan tidak terbatas hanya pada pemenuhan aturan hukum semata.
Setidaknya terdapat tiga alasan penting mengapa perusahaan harus melaksanakan
CSR, khususnya terkait dengan perusahaan ekstraktif (Wibisono: 2007). Pertama,
perusahaan merupakan bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila
perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan harus menyadari
bahwa mereka beroperasi dalam satu tatanan lingkungan masyarakat. Kegiatan sosial
berfungsi sebagai kompensasi atau upaya imbal balik atas penguasaan sumber daya alam atau
sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif dan eksploratif,
disamping sebagai kompensasi sosial karena timbul ketidaknyamanan (discomfort) pada
masyarakat. Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang
bersifat simbiosis mutualisme. Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, setidaknya
izin untuk melakukan operasi yang sifatnya kultural. Wajar bila perusahaan juga dituntut
untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, sehingga bisa tercipta harmonisasi
hubungan bahkan pendongkrakan citra dan performa perusahaan. Ketiga, kegiatan CSR
merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindarkan konflik sosial.
Potensi konflik itu bisa berasal akibat dari dampak operasional perusahaan atau akibat
kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen
perusahaan.

1.2 Identifikasi Masalah


PT.Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas
sahamnya dimiliki Freeport-MCMoRan Copper & Gold Inc. sebuah perusahaan Amerika
Serikat,PT. Freeport Indonesia merupakan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang
Grasberg. Freport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-
masing tambang Erstberg (dari tahun 1967) dan tambang Grasberg (sejak tahun 1988) di
kawasanTembaga Pura, Kabupaten Mimika, Propinsi Papua.
Freeport telah berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 milliar dollar
AS pertahun, keberadaannya telah memberikan manfaat langsung dan tidak langsung
Indonesia dimana 33 milliar dollar AS dari tahun 1992 2004 telah berikan kepada
Pemerintah Indonesia. Menurut New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah
dibayarkan Freport Indonesia kepada pemerintah Indonesia antara tahun1998 2004
mencapai hampir 20 milliar dollar AS. Pemerintah Indonesia, masyarakat Papua dan PT.
Freepot telah menyetujui pembaruan kontrak investasi PT. Freeport di Papua dengan di tanda-
tanganinya kontrak investasi untuk 30 tahun yang akan datang. [1]
Perusahaan sudah melaksanakan tanggung jawab sosial kepada masyarakat dan
lingkungannya, ini dibuktikan dengan mempekerjakan orang-orang Papua diarea
pertambangan dan melakukan konservasi terhadap lingkungan. Sebenarnya apabila dilihat
dari sudut pandang perusahaan bahwa investasi yang sangat besar yang dilakukan di tanah
Papua harus menguntungkan dari segi financial untuk jangka panjang karena terkait dengan
kepentingan para pemegang saham perusahaan. Dengan ditanda tanganinya kontrak artinya
semua pihak yang terlibat paham dan mengerti isi kontrak tersebut, jadi PT. Freeport harus
menjalankan kewajibannya terhadap pemerintah, masyarakat dan lingkungan sesuai dengan
isi kontrak tersebut. PT. Freeport Indonesia telah memberikan kompensasi terhadap
masyarakat Papua, namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian masyarakat Papua yang
lain tidak mendapatkan ganti rugi. Di sisi lain, pemiskinan juga berlangsung di wilayah
Mimika, yang penghasilannya hanya sekitar $132/tahun, pada tahun 2005. Kesejahteraan
penduduk Papua tak secara otomatis terkerek naik dengan kehadiran Freeport yang ada di
wilayah mereka tinggal. Di wilayah operasi Freeport, sebagian besar penduduk asli berada di
bawah garis kemiskinan dan terpaksa hidup mengais emas yang tersisa dari limbah Freeport.
Selain permasalahan kesenjangan ekonomi, aktivitas pertambangan Freeport juga merusak
lingkungan secara masif serta menimbulkan pelanggaran HAM
Mereka yang tidak memperoleh kompensasi dengan didukung oleh pihak-pihak yang
menolak keberadaan PT Freeport Indonesia dan atau mereka yang mencari keuntungan
pribadi, selalu berusaha untuk mengganggu kegiatan opersional perusahaan baik melalui
media massa maupun dengan melakukan penyerangan langsung ke area pertambangan,
sehingga banyak karyawannya yang tidak bersalah telah menjadi korban penyerangan
tersebut

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas, maka ada beberapa
masalah yang bias dirumuskan antara lain:

1. Apakah PT Freeport Indonesia termasuk perusahaan yang professional jika dilihat


dari CSR yang dilakukannya?

2. Apakah CSR yang dilakukan PT Freeport Indonesia sudah memenuhi kewajiban


hukum dan kewajiban moral jika ditinjau dari etika bisnis?

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Etika

2.1.1 Etika Deontologi

Istilah deontologi dari kata Yunani (deon) yang berarti kewajiban. Karena itu etika
deontologi menekankan kewajiban manusia untuk berbuat baik. Menurut teori ini, suatu
tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari
tindakan itu. Dengan kata lain, tindakan itu bernilai moral karena dilaksanakan berdasarkan
kewajiban yang memang harus dilaksanakan.

2.1.2 Etika Teleologi


Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dengan
tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbul-kan oleh tindakan itu. Suatu tindakan
dinilai baik, kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau kalau akibat yang
ditimbulkannya baik dan berguna. Kesulitan pada teori ini adalah saat mengukur akibat yang
ditimbulkan dan menentukan baik buruknya tujuan apakah pribadi atau universal. Hal ini
memunculkan dua teori teologi :

1. Aliran Egoisme
Tindakan seseorang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan
memajukan diri sendiri. Hal ini akan menjadi negatif bila untuk mengejar kepentingan
pribadi secara lahiriah. Hal itu dicapai dengan mengorbankan hak dan kepentingan orang
lain.

2. Etika Utilitarianisme

Prinsip dari etika utiliatirianisme adalah mengutamakan manfaat atau kegunaan dari suatu
tindakan sebagai hasil dari sebuah keputusan dengan memperhatikan 3 (tiga) prinsip :

1. Manfaat bagi semua pihak

2. Manfaat terbesar

3. Manfaat universal bagi semua pihak, dengan langkah :

4. a) mempertimbangkan berbagai alternatif.

5. b) mengevaluasi setiap alternatif

6. c) memilih alternatif paling menguntungkan/bermanfaat

7. d) Merencanakan tindakan yg tepat utk realisasi allternatif

2.2 Pengertian Keadilan dan Jenis Keadilan


Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik
menyangkut benda atau orang. Keadilan merupakan suatu hasil pengambilan keputusan yang
mengandung kebenaran, tidak memihak dapat dipertanggungjawabkan serta memperlakukan
setiap orang pada kedudukan yang sama didepan hukum.
Ada tiga ciri khas yang selalu menandai keadilan tertuju pada orang lain: Pertama
keadilan selalu tertuju pada orang lain atau keadilan sealau di tandai oleh berbagai hal yang
dilakukan orang tersebut (J. Finnis). Masalah keadilan atau ketidak adilan hanya timbul
dalam konteks antar manusia untuk itu perlu diperlakukan sekurang-kurangnya dua orang
manusia bila pada suatu saat hanyya tinggal satu manusia di bumi ini, masalah keadilan atau
ketidak adilan tidak berperan lagi. Kedua keadilan harus ditegakkan atau dilaksanakan, jadi
keadilan tidak diharapkan saja atau dianjurkan saja sehingga kita mempunya kewajiban dan
cirri khas yang khusus disebabkan karena keadilan selalu berkaitan dengan hak orang lain.
Kita akan memberikan sesuatu karena alas an keadilan. Kita harus selalu atau wajib
memberikan sesuatu karena alas an lain, kita tidak akan wajib dan akan memberikannya.
Ketiga keadilan menurut persamaan atau equality, atas dasar keadilan kita harus memberikan
kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, tanpa kecuali. Orang baru pantas disebut
orang yang adil, bila ia berlaku adil terhadap semua orang. Beberapa jenis keadilan yang kita
ketahui, diantaranya:

1. Keadilan Komutatif (iustitia commutativa) yaitu keadilan yang memberikan kepada


masing-masing orang apa yang menjadi bagiannya berdasarkan hak seseorang
(diutamakan obyek tertentu yang merupakan hak seseorang).
2. Keadilan Legal (iustitia Legalis) yaitu keadilan berdasarkan Undang-Undang
(obyeknya tata masyarakat) yang dilindungi UU untuk kebaikan bersama.

3. Keadilan Distributif (iustitia distributiva) yaitu keadilan yang memberikan kepada


masing-masing orang apa yang menjadi haknya berdasarkan asas proporsionalitas
atau kesebandingan berdasarkan kecakapan, jasa atau kebutuhan.

4. Keadilan Vindikatif (iustitia vindicativa) adalah keadilan yang memberikan kepada


masing-masing orang hukuman atau denda sesuai dengan pelanggaran atau
kejahatannya.

5. Keadilan Kreatif (iustitia creativa) adalah keadilan yang memberikan kepada masing-
masing orang bagiannya berupa kebebasan untuk mencipta sesuai dengan kreatifitas
yang dimilikinya di berbagai bidang kehidupan.

6. Keadilan Protektif (iustitia protective) adalah keadilan yang memberikan


perlindungan kepada pribadi-pribadi dari tindakan yang sewenang-wenang pihak lain.

7. Keadilan Sosial menurut Franz Magnis Suseno, keadilan socsal adalah keadilan yang
pelaksanaannya tergantung dari struktur proses ekonomi, politik, social, budaya dan
ideologis dalam masyarakat. Maka struktur social adalah hal pokok dalam
mewujudkan keadilan social. Keadilan social tidak hanya menyangkut upaya
penegakkan keadilan-keadilan tersebut melainkan masalah kepatutan dan pemenuhan
kebutuhan hidup yang wajar bagi masyarakat.

2.3 Teori Keadilan Menurut Para Ahli


2.3.1. Teori Keadilan Adam Smith
Alasan Adam Smith hanya menerima satu konsep atau teori keadilan adalah:

1. Menurut Adam Smith yang disebut keadilan sesungguhnya hanya punya satu arti
yaitu keadilan komutatif yang menyangkut kesetaraan, keseimbangan, keharmonisan
hubungan antara satu orang atau pihak dengan orang atau pihak yang lain.

2. Keadilan legal sesungguhnya sudah terkandung dalam keadilan komutatif, karena


keadilan legal sesungguhnya hanya konsekuensi lebih lanjut dari prinsip keadilan
komutatif yaitu bahwa demi menegakkan keadilan komutatif negara harus bersikap
netral dan memperlakukan semua pihak secara sama tanpa terkecuali.

3. Adam Smith menolak keadilan distributif sebagai salah satu jenis keadilan. Alasannya
antara lain karena apa yang disebut keadilan selalu menyangkut hak semua orang
tidak boleh dirugikan haknya atau secara positif setiap orang harus diperlakukan
sesuai dengan haknya.

Ada 3 prinsip pokok keadilan komutatif menurut Adam Smith, yaitu:

1. Prinsip No Harm
Menurut Adam Smith prinsip paling pokok dari keadilan adalah prinsip no harm atau prinsip
tidak merugikan orang lain. Dasar dari prinsip ini adalah penghargaan atas harkat dan
martabat manusia beserta hak-haknya yang melekat padanya, termasuk hak atas hidup.

1. Prinsip non intervention

Prinsip non intervention adalah prinsip tidak ikut campur tangan. Prinsip ini menuntut agar
demi jaminan dan penghargaan atas hak dan kepentingan setiap orang tidak diperkenankan
untuk ikut campur tangan dalam kehidupan dan kegiatan orang lain.

1. Prinsip pertukaran yang adil

Prinsip keadilan tukar atau prinsip pertukaran dagang yang fair, terutama terwujud dan
terungkap dalam mekanisme harga dalam pasar. Ini sesungguhnya merupakan penerapan
lebih lanjut prinsip no harm secara khusus dalam pertukaran dagang antara satu pihak dengan
pihak lain dalam pasar.

2.3.2. Teori Keadilan Distributif John Rawls


John Rawls dikenal sebagai salah seorang filsuf yang secara keras mengkritik sistem ekonomi
pasar bebas, kususnya teori keadilan pasar sebagaimana yang dianut Adam Smith. Ia sendiri
pada tempat pertma menerima dan mengakui keunggulan sistem ekonomi pasar. Pertama-
tama karena pasar memberi kebebasan dan peluang yang sama bagi semua pihak pelaku
ekonomi. Kebebasan adalah nilai dan salah satu hak asasi paling penting yang dimiliki oleh
manusia, dan ini dijamin oleh sistem ekonomi pasar.

1. Prinsip Keadilan Distributif Rawls

Karena kebebasan merupakan salah satu hak asasi paling penting dari manusia Rawls sendiri
menetapkan kebebasan sebagai prinsip pertama dari keadilannya berupa, Prinsip Kebebasan
yang Sama. Prinsip ini berbunyi Setiap orang harus mempunyai hak dan sama atas sistem
kebebasan dasar yang sama yang paling luas sesuai dengan sistem kebebasan serupa bagi
semua. Ini berarti pada tempat pertama keadilan dituntut agar semua orang diakui, dihargai,
dan dijamin haknya atas kebebasan secara sama.

1. Kritik atas Teori Rawls

Teori Rawls kendati sangat menarik dan dalam banyak hal efektif memecahkan persoalan
ketimpang dan kemiskinan ekonomi mendapat kritik tajam dari segala arah khususnya
menyangkut prinsip kedua, Prinsip perbedaan. Kritik yang paling pokok adalah bahwa teori
Rawls khususnya prinsip perbedaan malah menimbulkan ketidak adilan baru :

Prinsip tersebut membenarkan ketidak adilan karena dengan prinsip tersebut


pemerintah dibenarkan untuk melanggar dan merampas hak pihak tertentu untuk
diberikan kepada pihak lain

Yang lebih tidak adil lagi adalah bahwa kekayaan kelompok tertentu yang diambil
pemerintah tadi juga diberikan kepada kelompok yang menjadi tidak beruntung atau
miskin karena kesalahanya sendiri.
2.3.3. Teori Keadilan Aristoteles
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan mesti dipahami dalam pengertian kesamaan. Namun
Aristoteles membuat pembedaan penting antara kesamaan numeric dan kesamaan
proporsional. Kesamaan numeric mempersamakan setiap manusia sebagai satu unit.
Aristoteles membedakan keadilan menjadi 2 jenis, yaitu keadilan distributive dan keadilan
korektif. Keadilan distributive menurut Aristoteles berfokus pada distribusi honor, kekayaan,
dan barang-barang lain yang sama-sama bisa disapatkan dalam masyarakat. Sedangkan
keadilan korektif berfokus pada pembetulan sesuatu yang salah. Jika suatu pelanggaran
dilanggar atau kesalahan dilakukan, maka keadilan korektif berusaha memberikan
kompensasi yang memadai bagi pihak yang dirugikan.

2.4 Status Perusahaan


Perusahaan adalah sebuah badan hukum. Artinya, perusahaan dibentuk berdasarkan huku
tertentu dan disahkan dengan hukum atau legal tertentu. Karena itu, keberadaannya dijamin
dan sah menurut hukum tertentu. Itu berarti perusahaan adal;ah bentukan manusia, yang
eksistensinya diikat berdasarkan aturan hukum yang sah. Sebagai badan hukum, perusahaan
mempunyai hak-hak legal tertentu sebagaimana dimiliki oleh manusia. Misalnya, hak milik
pribadi, hak paten, hak atas merek tertentu, dan sebagainya. Sejalan dengan itu, perusahaan
juga mempunyai kewajiban legal untuk menghormati hak legal perusahaan lain. Sebagai
badan hukum perusahaan mempunyai hak dan kewajiban legal, tapi tidak dengan sendirinya
berarti perusahaan juga mempunyai hak dan kewajiban moral. De George secara khusus
membedakan dua macam pandangan mengenai status perusahaan, yaitu:

1. Legal-creator: Melihat perusahaan sebagai sepenuhnya ciptaan hukum, dan karena itu
ada hanya berdasarkan hukum. Menurut pandangan ini, perusahaan diciptakan oleh
negara dan tidak mungkin ada tanpa negara.

2. Legal-recognition: tidak memusatkan perhatian pada status legal perusahaan


melainkan pada perusahaan sebagai suatu usaha bebas dan produktiif. Menurut
pandangan ini, perusahaan terbentuk oleh orang atau kelompok orang tertentu untuk
melakukan kegiatan tertentu dengan cara tertentu secara bebas demi kepentingan
orang atau orang-orang tadi.

Menurut pandangan kedua, perusahaan bukan bentukan negara atau masyarakat, maka
perusahaan menetapkan sendiri tujuannya dan beroprasi sedemikian rupa untuk mencapai
tujuannya itu. Dari sudut pandang pertama pun kegiatan perusahaan dapat dibatasi, yakni
ketika perusahaan merugikan kepentingan masyarakat. Tapi itu pun hanya sebatas tindakan
legal. Secara lebih tegas itu berarti, berdasarkan pemahan mengenai status perusahaan diatas,
jelas bahwa perusahaan tidak punya tanggung jawab moral dan sosial. Pertama, karena
perusahaan bukanlah moral person yang punya akal budi dan kemauan bebas dalam
bertindak. Kedua, dalam kaitan dengan pandangan legal-recognition, perusahaan dibangun
oleh orang atau kelompok orang tertentu untuk kepentingannya dan bukan untuk melayani
kepentingan masyarakat. Karena itu, pada dasarnya perusahaan tidak punya tanggung jawab
moral dan sosial.
Milton Friedman mengatakan bahwa suatu perusahaan adalah pribadi artifisial dan dalam
pengertian ini mungkin saja mempunyai tanggung jawab artifisial. Tetapi bisnis secara
keseluruhan tidak bisa dianggap mempunyai tanggung jawab. Kedua, ada benarnya bahwa
tanggung jawab moral dan sosial tidak bisa diwakilkan dan diwakili oleh orang lain.
Tanggung jawab moral pada dasarnya bersifat pribadi dan tak tergantikan. Tanggung jawab
moral dan sosial bersifat pribadi dan, karena itu hanya orang yang bersangkutan yang
bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Ketiga, dalam arti tertentu tanggung jawab
legal tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral dan sosial. Pada tingkat operasional
tanggung jawab sosial dan moral diwakili secara formal oleh staf manajemen. Karena seluruh
keputusan dan kegiatan bisnis perusahaan ada ditangan manajer, maka pada tempatnya
tanggung jawab sosial dan moral perusahaan juga dipikul oleh mereka.

2.5 Corporate Social Responsibility


2.5.1 Pengertian Corporate Social Responsibility
Perusahaan merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat moderen, karena
perusahaan merupakan salah satu pusat kegiatan manusia guna memenuhi kehidupannya.
Selain itu, perusahaan juga sebagai salah satu sumber pendapatan negara melalui pajak dan
wadah tenaga kerja. Menurut Wibisono (2007: 37), perusahaan merupakan lembaga yang
secara sadar didirikan untuk melakukan kegiatan yang terus-menerus untuk mendayagunakan
sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga menjadi barang dan jasa yang
bermanfaat secara ekomonis
Istilah CSR mulai digunakan sejak tahun 1970an dan semakin popular setelah kehadiran buku
cannibals with FORKS: The triple Botton Line in 21st Century Business (1998) karya John
Elkington mengembangkan 3 komponen penting suistabinable development, yakni economic
growth, environment protection dan social equity yang ditugaskan the world Commission On
Environmental and development (WCED) dalam brunrtland Report (1987), Elkington
mengemas CSR dalam 3 fokus yakni 3P, singkatan dari profit, planet dan people (Wibisono,
2007: 46).
Perusahaan yang baik tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi belaka (profit)
melainkan pula memiliki kepedulian terhadap ketertarikan lingkungan (planet) dan
kesejahteraan masyarakat (people). Secara umum Corporate Social Responsibility merupakan
peningkatan kualitas kehidupan mempunyai adanya kemampuan manusia sebagai individu
anggota masyarakat untuk menanggapi keadaan sosial yang ada dan dapat dinikmati,
memanfaatkan serta memelihara lingkungan hidup. Atau dengan kata lain merupakan cara
perusahaan mengatur proses usah untuk memproduksi dampak positif pada komonitas atau
citra yang baik. Salah satu definisi CSR Asia berbunyi Corporate Social Responsibility
adalah komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip
ekonomi, social dan longkungan serasa menyeimbangkan beragam kepentingan para
stakeholders (Ruslan: 1999).
Defenisi dari CSR itu sendiri telah dikemukakan oleh banyak pakar. Di antaranya
adalah defenisi yang dikemukan oleh Magnan & Ferrel (dalam Susanto, 2007: 53) yang
mendefinisikan CSR sebagai : A business acts in socially responsible manner when its
decision and actions account for and balance diverse stakeholder interest. Defenisi ini
menekankan kepada perlunya memberikan perhatian secara seimbang terhadap kepentingan
berbagai stakeholder yang beragam dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil para
pelaku bisnis melalui perilaku yang secara sosial bertanggung jawab.
Sedangkan Komisi Eropa membuat defenisi yang lebih praktis yang pada dasarnya
adalah bagaimana perusahaan yang secara sukarela memberikan kontribusi bagi terbentuknya
masyarakat yang lebih baik dan lingkungan yang lebih bersih (Susanto, 2007: 56). Sedangkan
Elkington mengemukakan bahwa sebuah perusahaan yang menunjukkan tanggung jawab
sosialnya akan memberikan perhatian kepada peningkatan kualitas perusahaan (profits);
masyarakat, khususnya komunitas sekitar (people); serta lingkungan hidup (planet earth)
(Susanto, 2007: 56)
Philip Kotler (2007: 33), dalam buku CSR: Doing the Most Good for Your Company
and Your Cause, membeberkan beberapa alasan tentang perlunya perusahaan menggelar
aktivitas itu. Disebutkannya, CSR bisa membangun positioning merek, mendongkrak
penjualan, memperluas pangsa pasar, meningkatkan loyalitas karyawan, mengurangi biaya
operasional, serta meningkatkan daya tarik korporat di mata investor.
Menurut Godo Tjahjono (2004: 63), CSR memang punya beberapa manfaat yang bisa
dikategorikan dalam empat aspek, yaitu: license to operate, sumber daya manusia, retensi,
dan produktivitas karyawan. Dari sisi marketing, CSR juga bisa menjadi bagian dari brand
differentiation. Kini kita menyaksikan dan mengharap gairah perusahaan-perusahaan raksasa
dunia untuk menerapkan program kepedulian sosial. Semoga ini tak hanya jadi sekedar angin
segar ditengah kekosongan issu saja, melainkan mampu menjadi virus baik yang menyebar
cepat di Indonesia.
Sedangkan menurut Widjaja dan Pratama (2008), setidaknya ada tiga hal pokok yang
membentuk pemahama atau konsep mengenai CSR. Ketiga hal tersebut adalah :

Bahwa sebagai suatu artiticial person, perusahaan atau korporasi tidaklah berdiri
sendiri dan terisolasi, perusahaan atau perseroan tidak dapat menyatakan bahwa
mereka tidak memiliki tanggung jawab terhadap keadaan ekonomi , lingkungan
maupun sosialnya;

Keberadaan (eksistensi) dan keberlangsungan (sustainability) perusahaan atau


korporasi sangatlah ditentukan oleh seluruh stake holders-nya dan bukan hanya
shareholders-nya. Para stakeholder ini, terdiri dari shareholder, konsumen, pemasok,
klien, costumer, karyawan dan keluarganya, masyarakat sekitar dan mereka yang
terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan (the local
community and society at large );

Melaksanakan CSR berarti juga melaksanakan tugas dan kegiatan sehari-hari


perusahaan atau korporasi, sebagai wadah untuk memperoleh keuntungan melalui
usaha yang dijalankan dan/atau dikelola olehnya. Jadi ini berarti CSR adalah bagian
terintegrasi dari kegiatan usaha (business), sehingga CSR berarti juga menjalankan
perusahaan atau korporasi untuk memperoleh keuntungan.

Versi lain mengenai defenisi CSR diberikan oleh World Bank. Lembaga keuangan global ini
memandang CSR sebagai the commitment of business to contribute to sustainable economic
development working with employees and their representative the local community and
society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good
for development. (yaitu komitmen bisnis dalam memberikan kontribusi untuk pembangunan
ekonomi berkelanjutan bekerjasama dengan para pegawai dan melibatkan komunitas lokal
serta masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas hidup, yang mana cara-cara ini baik untuk
bisnis dan pembangunan). CSR Forum juga memberikan definisi, CSR mean open and
transparent business practices that are based on ethical values and respect for employees,
communities and environment.. (CSR berarti praktek bisnis yang terbuka dan transparan
berdasarkan nilai-nilai etis dan penghargaan bagi para pegawai, komunitas dan lingkungan).
Sementara sejumlah negara juga mempunyai defenisi tersendiri mengenai CSR. Uni Eropa
(EU Green Paper on CSR) mengemukakan bahwa, CSR adalah suatu konsep dimana
perusahaan mengintegrasikan keprihatinan terhadap lingkungan dan sosial terhadap kegiatan
bisnis dan interaksi mereka dengan stakeholders mereka berlandaskan dasar sukarela.
(Wibisono, 2007 : 8)
Reza Rahman (2009:13) mengemukakan sejumlah unsur yang menjadi tolak ukur CSR, yaitu:

1. Continuity and Sustainability

Berkelanjutan dan berkesinambungan merupakan unsur vital dari CSR. Suatu kegiatan amal
yang berdasar trend ataupun insidential, bukanlah CSR. CSR merupakan hal yang bercirikan
long term perspective bukan instant, happening, ataupun booming. Kegiatannya terencana,
sistematis dan dapat di evaluasi. Kegiatan yang dilakukan corporat secara berkesinambungan
dan berkelanjutan merupakan salah satu cara untuk mencegah krisis melalui peningkatan
corporate image.

2. Community Empowerment

Pemberdayaan komunitas membedakan CSR dengan kegiatan yang bersifat charity ataupun
philantrophy semata. Tindakan-tindakan kedermawanan meskipun membantu komunitas
,tetapi tidak menjadikan mandiri. Salah satu indikasi dari suksesnya sebuah program CSR
adalah adanya kemandirian yang lebih pada komunitas,dibandingkan dengan sebelum
program CSR hadir.

3. Two Ways

Proses komunikasi yang dilakukan dalam CSR, merupakan kampanye yang bersinergi
dengan tindakan. Pendistribusian informasi mengenai komitmen sosial melalui berbagai
sarana, serta kefektifan perusahaan mengkomunikasikan komitmen sosialnya kepada
komunitas
Secara umum, Corporate Social Responsibility merupakan peningkatan kualitas kehidupan
mempunyai arti adanya kemamupuan manusia sebagai individu anggota komunitas untuk
dapat menggapi keadaan sosial yang ada dan dapat menikmati serta memanfatkan lingkungan
hidup termasuk perubahan-perubahan yang ada sekaligus memelihara, atau dengan kalta lain
merupakan cara perusahaan mengtur proses usaha untuk memproduksi dampak positif pada
suatu komunitas, atau merupakan suatu proses yang penting dalam pengaturan biyaya yang
dikeluarkan dan keuntungan kegiatan bisnis dari stakeholders baik secara internal (pekerja,
shareholders, dan penanaman modal) maupun eksternal kelembagaan pengaturan umum,
angota-anggota komunitas, kelompok komunitas sipil dan perusahaan lain).
Jadi, tanggung jawab perusahaan secara sosial tidak hanya terbatas pada konsep pemberian
donor saja, tetapi konsepnya sangat luasdan tidak bersifat statis dan pasif dan statis, hanya
dikeluarkan dari perusahaan akan tetapi hak dan kwajibanyang dimiliki bersama antara
stakeholders. Konsep Corporate Social Responsibility melibatkan tanggungjawab kemitraan
antara pemerinta, lembaga, sumberdaya komunitas, juga komunitas lokal (setempat).
Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif atau statis. Kemitraan ini merupakan tanggungjawab
bersama secara sosial antara stakeholders
2.5.2 Standarisasi Pelaksanaan CSR di Indonesia
Pada tahun 2001, ISO-suatu lembaga internasional dalam perumusan standar atau pedoman,
menggagaskan perlunya standar tanggungjawab sosial perusahaan (CSR standard). Setelah
mengalami diskusi panjang selama hampir 4 tahun tentang gagasan ini, akhirnya Dewan
managemen ISO menetapkan bahwa yang diperlukan adalah Standar Tanggungjawab Sosial
atau Social Responcibility Standard (ISO, 2005). CSR merupakan salah satu bagian dari SR.
Tidak hanya perusahaan yang perlu terpanggil melakukan SR tetapi semua organisasi,
termasuk pemerintah dan LSM.
Penerapan CSR di perusahaan akan menciptakan iklim saling percaya di dalamnya, yang
akan menaikkan motivasi dan komitmen karyawan. Pihak konsumen, investor, pemasok, dan
stakeholders yang lain juga telah terbukti lebih mendukung perusahaan yang dinilai
bertanggung jawab sosial, sehingga meningkatkan peluang pasar dan keunggulan
kompetitifnya. Dengan segala kelebihan itu, perusahaan yang menerapkan CSR akan
menunjukkan kinerja yang lebih baik serta keuntungan dan pertumbuhan yang meningkat.
Ada empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan CSR.
Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan perusahaan
mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas. Kedua, perusahaan lebih mudah
memperoleh akses terhadap kapital (modal). Ketiga, perusahaan dapat mempertahankan
sumber daya manusia (human resources) yang berkualitas. Keempat, perusahaan dapat
meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan
mempermudah pengelolaan manajemen risiko (risk management).

TINJAUAN KASUS
Beberapa permasalahan atau kasus CSR yang melibatkan PT Freeport Indonesia dan
dipublikasikan oleh beberapa media di tanah air antara lain:

1. Biaya CSR kepada sedikit rakyat Papua yang digembor-gemborkan itu pun tidak
seberapa karena tidak mencapai 1 persen keuntungan bersih PT FI. Malah rakyat
Papua membayar lebih mahal karena harus menanggung akibat berupa kerusakan
alam serta punahnya habitat dan vegetasi Papua yang tidak ternilai itu. Biaya
reklamasi tersebut tidak akan bisa ditanggung generasi Papua sampai tujuh turunan.
Selain bertentangan dengan PP 76/2008 tentang Kewajiban Rehabilitasi dan
Reklamasi Hutan, telah terjadi bukti paradoksal sikap Freeport (Davis, G.F., et.al.,
2006). Kestabilan siklus operasional Freeport, diakui atau tidak, adalah barometer
penting kestabilan politik koloni Papua. Induksi ekonomi yang terjadi dari
berputarnya mesin anak korporasi raksasa Freeport-McMoran tersebut di kawasan
Papua memiliki magnitude luar biasa terhadap pergerakan ekonomi kawasan,
nasional, bahkan global. (sumber :
https://www.scribd.com/doc/234613592/Pelanggaran-Hukum-Dan-Etika-Bisnis-PT-
Freeport-Indonesia)

2. Keberadaan tambang emas terbesar di dunia yang berada di Papua sama sekali tidak
memberikan keuntungan pada masyarakat sekitarnya. Freeport sebagai pengelola
hanya menyuap masyarakat dengan dana CSR (Corporate Social Responsibility)
atau dana bantuan dan bina lingkungannya. Salah satu anggota DPR yang tergabung
dalam tim pemantau Otonomi Khusus Aceh dan Papua, Irene Manibuy mengatakan,
saat ini masyarakat Papua tidak membutuhkan dana CSR. Papua butuh memperoleh
komposisi saham Freeport untuk pengelolaan.

Jangan kami hanya dikasih CSR Rp 1,3 triliun, jangan hanya CSR berdasarkan dividen
hanya 1 persen dari pendapatan kotor. Kami butuh share dan mengatur sendiri pembangunan
di sana, daerah kami, ucap Irene dalam rapat bersama pemerintah di DPR, Senayan, Jakarta,
Jumat (5/7).Jika saja pemerintah pusat memperjuangkan hak-hak Papua dalam Freeport maka
pemerintah pusat tidak harus pusing memikirkan pembangunan Papua. Papua bisa mandiri
dalam membangun daerahnya. Pemerintah pusat tidak akan berat menghidupi kami,
katanya.
Bukan hanya masalah Freeport, Irene juga menyentil pemerintah pusat yang tidak pernah
memperhatikan kesehatan masyarakat di Papua. Kami di Papua tidak punya rumah sakit
rujukan, seperti di sini ada pondok indah, MMC yang berstandar internasional. Jadi orang
Papua berobat ke Jakarta dan ini kembali lagi pemasukan untuk Jakarta, dan untuk Papua
tidak ada, tutupnya. (sumber: http://www.merdeka.com/uang/rakyat-papua-butuh-kelola-
tambang-bukan-csr-freeport.htm)

3. Sejak 1967 hingga kini, PT Freeport menikmati hasil kekayaan alam di bumi
cenderawasih, Papua. Perusahaan tambang yang berafiliasi ke Freeport-
McMoRan yang bermarkas di Amerika Serikat itu tak henti menambang emas, perak,
dan tembaga.Selama hampir setengah abad kehadiran Freeport di tanah Papua terus
menerus memunculkan pelbagai masalah. Mulai dari setoran ke negara yang dinilai
masih sangat rendah, hingga pelbagai alasan menyiasati larangan ekspor bahan
mentah.

Permasalahan yang menyangkut Freeport tidak hanya soal setoran ke negara, tapi juga soal
ketenagakerjaan dan peran perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat Papua. Sejauh ini,
hanya sebagian kecil karyawan Freeport yang berasal dari warga Papua. Hal itu diakui sendiri
oleh petinggi Freeport Indonesia.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Rozik B. Soetjipto mengatakan, hanya sekitar 30
persen sampai 36 persen pekerjaFreeport yang merupakan warga Papua.Dari 31.000 pekerja,
sekitar 30-36 persen warga Papua, kata Rozik di Jakarta Convention Center, Rabu
(22/1).Diakuinya, Perseroan telah didesak untuk menambah jumlah pekerja yang berasal dari
Papua. Setidaknya hingga 45 persen dalam waktu lima tahun ke depan. Desakan tersebut
berasal dari Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).Seharusnya kata dia 100 persen,
bukan 30 persen, imbuh Rozik.Dia berdalih, Freeport memiliki standar kualitas pekerja yang
harus dipenuhi oleh siapapun yang berminat untuk bekerja di Freeport . Rozik beralibi telah
memprioritaskan warga setempat untuk menempati posisi pekerja di perusahaan penambang
emas dan tembaga tersebut.
Rendahnya peran Freeport pada warga Papua pernah diutarakan oleh salah satu
anggota DPR yang tergabung dalam tim pemantau otonomi khusus Aceh dan Papua, Irene
Manibuy. Dia mengkritik peran Freeport hanya sebatas CSR saja. Irene mengatakan, saat ini
masyarakat Papua tidak membutuhkan dana CSR dari Freeport . Papua butuh memperoleh
komposisi saham Freeport untuk pengelolaan. Jangan kami hanya dikasih CSR Rp 1,3
triliun, jangan hanya CSR berdasarkan dividen hanya 1 persen dari pendapatan kotor. Kami
butuh share dan mengatur sendiri pembangunan di sana, daerah kami, ucap Irene beberapa
waktu lalu. Lembaga swadaya Kontras dua tahun lalu pernah melansir laporan fasilitas
pekerja Freeport di lokasi tambang yang sangat memprihatinkan. Misalnya kamar karyawan
yang kecil, tapi diisi lima sampai enam orang. Pekerja pun kerap mengeluh, lantaran
remunerasi pegawai Indonesia tidak sama dengan sistem yang diterapkan Freeport-
McMoRan di AS atau negara lain. Di cabang Freeport lain, upah karyawan berkisar USD 20-
230 per jam. Sedangkan di Indonesia, sempat hanya USD 3 per jam. (sumber:
http://theglobejournal.com/sosial/csr-freeport-tak-sejahterakan-masyarakat-papua/index.php)
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Perkembangan CSR tidak bisa terlepas dari konsep pembangunan berkelanjutan


(sustainability development), definisi pembangunan berkelanjutan menurut The World
Commission On Environment and Development yang lebih dikenal dengan The Brundtland
Comission, bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi
kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang
dalam memenuhi kebutuhan mereka (Solihin: 2009).
The Brundtland Comission dibentuk untuk menanggapai keprihatinan yang semakin
meningkat dari para pemimpin dunia terutama menyangkut peningkatan kerusakan
lingkungan hidup dan sumber daya alam yang semakin cepat. Selain itu komisi ini juga
dibentuk untuk mencermati dampak kerusakan lingkungan hidup dan sumber daya alam
terhadap ekonomi dan pembangunan sosial. Oleh karenanya, konsep sustainability
development dibangun diatas tiga pilar yang berhubungan dan saling mendukung satu dengan
lainnya, Ketiga pilar tersebut adalah sosial, ekonomi, dan lingkungan, sebagaimana
ditegaskan kembali dalam The United Nation 2005 World Summit Outcome
Document (Solihin: 2009).

Pengenalan konsep Sustainability development memberikan dampak kepada perkembangan


devinisi dan konsep CSR selanjutnya. Sebagai contoh The Organization for economic
cooperation and Development (OECD) merumuskan CSR sebagai Kontribusi bisnis bagi
pembangunan berkelanjutan serta adanya perilaku korporasi yang tidak semata-mata
menjamin adanya pengembalian bagi pemegang saham, upah bagi para karyawan, dan
pembuatan produk serta jasa bagi para pelanggan, melainkan perusahaan bisnis juga harus
meberi perhatian terhadap berbagai hal yang dianggap penting serta nilai-nilai masyarakat.
Lembaga lain yang memberikan rumusan CSR sejalan dengan konsepsustainability
development adalah The World Business Council for Sustainability Development. Menurut
organisasi ini CSR adalah komitmen berkelanjutan dari para pelaku bisnis untuk berprilaku
secara etis dan memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi, sementara pada saat
yang sama meningkatkan kualitas hidup dari para ekerja dan keluarganya demikian pula
masyarakat lokal dan masyarakat secara luas (Solihin : 2009).
Menurut World Bank (Fox, Ward dan Howard 2002:1) CSR merupakan komitmen sektor
swasta untuk mendukung terciptanya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable
development). Dukungan sektor swasta dalam hal ini perusahaan untuk melakukan
tanggungjawab sosialnya adalah ketika pada tahun 2000, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
membentuk UN Global Compact sebagai salah satu lembaga yang merangkai konsep dan
kegiatan CSR. Lembaga ini merupakan representasi kerangka kerja sektor swasta untuk
mendukung pembanguan yang berkelanjutan dan terciptanya good corporate citizenship (UN
Global Compact: 10). Tujuan utama yang ingin dicapainya adalah memberantas kemiskinan,
menyelesaikan masalah buta huruf, memperbaiki pelayanan kesehatan, mengurangi angka
kematian bayi, memberantas AIDS, menciptakan keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan,
dan merangsang terciptanya kemitraan dalam proses pembangunan

4.1 Analisis Etika Bisnis CSR Berdasarkan Paradigma Mengenai Pekerjaan dan
Kegiatan Bisnis
4.1.1 Paradigma Praktis-Realis

Pandangan ini bertumpu pada kenyataan yang diamati berlaku dalam dunia bisnis dewasa
ini. Pandangan ini melihat bisnis sebagai suatu kegiatan diantara manusia yang menyangkut
memproduksi, menjual, dan membeli barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan.
Kegiatan bisnis adalah kegiatan ekonomis bukan kegiatan sosial (kegiatan profit making).
Pandangan Praktis-Realistis ini pada saat ini berkaitan dengan PT Freeport Indonesia bisa
dikatakan tidak sesuai karena sebagai sebuah perusahaan asing dengan skala besar, PT
Freeport Indonesia diwajibkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk
memperhatikan kesejahteraan masyarakat, terutama yang berada di sekitar lingkungan
operasionalnya. Oleh karena itulah kegiatan Freeport saat ini kurang cocok jika dianggap
termasuk dalam sebuah perusahaan yang Praktis-Realistis atau hanya memikirkan
keuntungan perusahaan, tanpa memperhatikan kondisi sosial masyarakat yang ada di
sekitarnya.

4.1.2 Paradigma Ideal


Paradigma ini menyatakan bahwa kegiatan yang menyangkut memproduksi, menjual, dan
membeli barang/ jasa untuk memenuhi kebutuhan masyaraka tujuannya untuk memperoleh
keuntungan sebagai tujuan utama bisnis. Namun keadilan komutatif, khususnya keadilan
tukar dagang harus fair. Tujuan utama bisnis sesungguhnya bukan hanya untuk mencari
keuntungan, namun untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Disinilah sebenarnya peran utama CSR bagi sebuah perusahaan, dalam hal ini adalah PT
Freeport Indonesia, sesuai dengan yang diatur dalam Undang-undang no.40 tahun 2007
mengenai tanggung jawab social dan lingkungan perseroan terbatas. Dalam undang-undang
ini diatur mengenai tanggung jawab social dan lingkungan bertujuan mewujudkan
pembangunan ekonomi yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat bagi perseroan itu sendiri, komunitas setempat dan masyarakat
pada umumnya. Sehingga pada dasarnya Freeport termasuk kedalam perusahaan yang sesuai
dengan paradigma Ideal ini.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung terjadinya hubungan perseroan yang serasi,
seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat
maka ditentukan bahwa perseroan yang kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan
dengan sumberdaya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam
hal perusahaan tidak melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan maka perseroan
yang bersangkutan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pada Bab V
pasal 74 ayat 1-4 dijelaskan mengenai definisi dan sanksi apabila tidak melaksanakan
tanggung jawab sosial dan lingkungan ini, tetapi ini belum cukup karena masih bersifat
umum dan belum dijelaskan tata cara pelaksanaanya.

4.2 Analisis Etika Bisnis CSR Berdasarkan Paradigma Mengenai Pekerjaan dan
Kegiatan Bisnis
4.2.1 CSR PT Freeport Indonesia berdasarkan Teori Etika Deontology
Konsep teori etika deontologi ini mengemukakan bahwa kewajiban manusia untuk bertindak
secara baik, suatu tindakan itu bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan
baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya
sendiri dan harus bernilai moral karena berdasarkan kewajiban yang memang harus
dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Etika deontologi sangat
menekankan motivasi, kemauan baik dan watak yang baik dari pelaku.
Dalam kasus CSR PT Freeport Indonesia sesungguhnya mempunyai tujuan yang baik, yaitu
bertujuan untuk memnuhi kebutuhan masyarakat sekitar dengan membuat sebuah program
dana kemitraan untuk pengembangan masyarakat. Akan tetapi Freeport sendiri ternyata hanya
sebatas memberikan dana kemitraan tersebut, melalui Lempaka Pembangunan Masyarakat
Amungne dan Kamoro (LPMAK).

4.2.2 CSR PT Freeport Indonesia Berdasarkan Teori Etika Teleologi


Berbeda dengan etika deontologi, etika teleologi justru mengukur baik buruknya suatu
tindakan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat
yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Jika didasarkan pada Pasal 74 UUPT ayat (2) maka
tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan
diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan
memperhatikan kepatutan dan kewajaran, dalam arti patut dan wajar untuk membantu
kesejahteraan masyarakat.
Namun ternyata dengan adanya program CSR PTFI yang dikelola oleh LPMAK, dengan
dana satu persen dari pendapatan kotor perusahaan yang merupakan komitmen sosial
perusahaan dengan program pengembangan masyarakat pada bidang ekonomi masyarakat,
bidang kesehatan dan bidang pendidikan, alasan mengapa Program CSR harus ada, karena
konflik sosial masyarakat yang terjadi berkepanjangan antara masyarakat pemilik hak ulayat
dengan perusahaan Freeport. Bentuk program yang dilakukan yaitu program ekonomi,
program kesehatan dan program pendidikan, Dampak dari program yang telah dilakukan
tidak berhasil memberdayakan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat tujuh
suku.

4.2.2.1 Aliran Egoisme Etis


Aliran ini adalah sebuah tindakan dari perusahaan untuk mengejar kepentingan
pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Berdasarkan aliran ini, dapat dikatakan bahwa CSR
yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia cenderung masuk aliran ini karena CSR yang
diberikan hanya berupa dana kemitraan sebesar 1% dari pendapatan kotor perusahaan.
Jadi, menurut masyarakat Papua sendiri, pemberian dana sosial lebih pada ucapan
terimakasih perusahaan yang untung kepada negara dalam hal ini rakyat disekitar tambang.
Hanya sebatas ikatan moral sebuah usaha asing yang mau berbagi berkat. Efek hukum dari
CSR tak begitu kuat. Tergantung perusahaan saja mau membagi atau tidak. Kadang dengan
alasan rugi, CSR dikurangi bahkan ditiadakan sama sekali. Komitmen pembagian tetesan
penghasilan yang dikenal melalui dana sosial sejatinya menjadi kesepakatan baru diluar
hukum positif yang tentunya berbicara soal kewajiban perusahaan kepada warga lokal.
Tanggung jawab Sosial Perusahaan/ Tanggung jawab sosial dan Lingkungan (Corporate
Social Responsibility) yang dulu bersifat mandatory dan voluntary, setelah di berlakukannya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal dan
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas berubah menjadi hanya
bersifat mandatory. Dan besarnya CSR yang dibebankan kepada perusahaan adalah antara 2-
5% dari total penerimaan perusahaan.

4.2.2.2 Etika Utilitarianisme


Aliran utilitarianisme ini adalah suatu kebijakan aau etika perusahaan yang berupa
tindakan dan dapat dikatakan baik jika mendatangkan manfaat atau keuntungan bagi banyak
orang. Dan jika dilihat berdasarkan aliran ini, maka CSR PT Freeport pun termasuk
bertentangan karena menurut masyarakat Papua, PT Freeport hanya melakukan CSR sebagai
bentuk kewajiban atau bisa dikatakan sebagai keterpaksaan demi menaati peraturan
perundangan yang ada di Indonesia, yang jika tidak diikuti maka bisa mengancam
keberadaan Freeport di Papua, sehingga hal tersebut pun tercermin dari CSR yang tidak
mampu untuk memajukan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Pendekatan CSR seperti yang dilakukan oleh Freeport ini tentu saja tidak memberikan
kontribusi secara signifikan bagi peningkatan ekonomi rumah tangga. Secara ekonomis
masyarakat tidak mengalami peningkatan pendapatan yang berarti. Secara politis mereka
tidak terberdayakan. Mereka masih terlihat sebagai penerima program pasif. Masyarakat
tidak memiliki ruangan yang cukup untuk berpartisipasi dalam penentuan program dan
mengelolany, karena masyarakat belum ditempatkan pada posisi sentral dalam realisasi
program. Hal ini bukan mekanisme yang tepat untuk menyiapkan masyarakat pasca ekstraksi.
Masa tersebut merupakan masa yang sulit bagi masyarakat karena resources yang selama ini
menjadi bagian dalam kehidupannya setiap hari tidak bisa dikelola lagi. Masyarakat lokal
yang sarat dengan keterbatasan perlu diberdayakan dan disiapkan untuk menghadapi masa-
masa tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
PT Freeport Indonesia bisa dikatakan sebagai sebuah perusahaan dengan pemasukan
finansial yang sangat besar, namun hal tersebut tidak diimbangi dengan penyampaian CSR
yang baik dan tepat guna kepada masyarakat Papua. Selama ini CSR yang dilakukan oleh
Papua hanyalah berupa bantuan dana kemitraan melalui LPMAK dimana dana-dana tersebut
dikelola oleh LPMAK dan diberikan kepada masyarakat Papua untuk kemudian dijadikan
proyek-proyek yang mencerminkan tujuan LPMAK untuk kegiatan kemanusiaan dan
pembangunan serta memenuhi pedoman keuangan dan audit. Disinilah terlihat jelas bahwa
dana kemitraan yang diberikan oleh PT Freeport Indonesia ternyata masih dipilah-pilah lebih
lanjut sebelum diberikan kepada masyarakat Papua, padahal begitu banyak penduduk Papua
yang masih hidup dibawah garis kemiskinan dan sangat memerlukan uluran tangan dari
pihak-pihak lain.

5.2 Saran
Untuk melaksanakan CSR perusahaan harus mengakui bahwa permasalahan
masyarakat adalah milik mereka juga. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus bersedia
menanganinya. Itu dasarnya untuk melaksanakan CSR. Jadi hanya dengan mengakui masalah
apa yang ada di masyarakat dan itu menjadi bagian mereka, maka CSR lebih mudah
dilakukan. Sebab suatu rencana strategis di belakang program-program CSR bisa jadi akan
memberi kontribusi bagi pengurangan kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Republik ini.
Dua masalah utama yang harus segera dihapus bersama agar martabat orang Indonesia tegak
berdiri. Dapat disimpulkan jika CSR sangat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat
meningkatkan image perusahaan. Jadi, seharusnya dunia usaha tidak memandang CSR
sebagai suatu tuntutan represif dari masyarakat, melainkan sebagai kebutuhan dunia usaha.
DAFTAR PUSTAKA
Rahman, Reza. (2009). Corporate Social Responsibility : Antara Teori dan Kenyataan.
Yogyakarta : Media Presindo.
Ruslan, Rusady. (1999). Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi (Konsepsi Dan
Aplikasi). Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Solihin, Ismail, (2009). Corporate Social Responsibility; From Charity to Sustainability.
Jakarta: Salemba Empat
Wibisono, Yusuf (2007). Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik. Fascho Publishing
Sumber: www.nytimes.com/2009/07/13/world/asia/13indo.html

Proposal Penelitian IMPLEMENTASI ETIKA BISNIS MELALUI


CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DI PT.DJARUM
INDONESIA

IMPLEMENTASI ETIKA BISNIS MELALUI CORPORATE SOCIAL


RESPONSIBILITY (CSR) DI PT.DJARUM INDONESIA

DESAIN PENELITIAN
Oleh :
HANDHYKA SETYAWAN
NIM : E1022131001
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK
2015

A. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi dan persaingan bebas membawa dampak pada perubahan


orientasi perusahaan atau organisasi bisnis. Organisasi bisnis yang pada awalnya
bersifat tertutup atau hanya memberikan layanan pada pihak internal perusahaan,
maka di era belakangan ini orientasi tersebut mengalami perubahan, yaitu perusahaan
atau organisasi bisnis mulai berfikir dan bertindak untuk pihak internal dan eksternal.
Dengan demikian, karena ada dua kelompok besar lingkungan kekuatan tersebut,
maka belakangan ini banyak organisasi bisnis yang mulai memperhatikan peran
sosialnya terhadap kondisi lingkungannya. Lingkungan sangat mempengaruhi
keberadaan organisasi tersebut. Semakin besar organisasi, semakin besar pula tuntutan
masyarakat terhadap organisasi.
Pada mulanya, beberapa lembaga bisnis yang besar mempunyai perilaku yang
merugikan masyarakat, seperti menggunakan berbagai cara yang tidak sehat untuk
menghancurkan lawan, dan mencegah persaingan sehat. Perilaku semacam ini
memperoleh reaksi negatif dari masyarakat, yang selanjutnya memaksa pemerintah
menerapkan peraturan untuk mengatur perilaku bisnis tersebut. CSR merupakan
sebuah konsep yang sudah berkembang pesat di negara-negara industri. CSR
menekankan pentingnya peranan organisasi/ perusahaan dalam memberikan
kontribusinya bagi masyarakat dan lingkungan. Konsep ini sangat mementingkan
peran aktif dan pertanggungjawaban sebuah perusahaan. Pada saat ini dunia
dihadapkan pada berbagai permasalahan seperti perubahan iklim, tidak menentunya
cuaca, dan gejala pemanasan global. Selain itu akhir-akhir ini juga kerap kali terjadi
kecelakaan dan musibah yang disebabkan oleh kalangan organisasi/ perusahaan. Oleh
karena itu, CSR hadir sebagai sebuah jalan untuk menyelesaikan berbagai
permasalahan yang diakibatkan oleh kehadiran organisasi/ perusahaan.[1]
Etika Bisnis ialah pengetahuan tentang tata cara ideal mengenai pengaturan dan
pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara
universal. Etika dalam implementasinya selalu dipengaruhi oleh faktor agama dan
budaya. Dengan menggunakan etika bisnis islami sebagai dasar berperilaku, baik oleh
manajemen maupun oleh semua anggota organisasi, maka perusahaan akan
mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Corporate Sosial Responsibility atau yang biasa disebut tanggung jawab sosial
perusahaan merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tuntutan etika dalam
organisasi/ perusahaan, dalam kaitannya dengan tuntutan lingkungan atau pihak-pihak
yang berkaitan dengan organisasi/ perusahaan. Ada kalanya program CSR perusahaan
tidak selalu harus berada pada tingkat produsen dan pengembangan produk, tetapi
dapat mencakup aspek-aspek lain, semisal pendidikan dan pelatihan, serta konservasi.
Banyak perusahaan yang memilih program CSR dibidang edukasi, salah satunya
adalah PT. Djarum. Saat ini program CSR sudah banyak diterapkan di berbagai
perusahaan besar. Dalam penelitian kali ini, peneliti memilih PT. Djarum sebagai objek
adalah karena bentuk pelaksanan kegiatan CSR di PT. Djarum sedikit berbeda dengan
pelaksanaan kegiatan CSR di perusahaan-perusahaan lain. Bentuk pelaksanaan
program CSR khususnya di bidang pendidikan tidak hanya berupa pemberian
beasiswa, namun diberikan juga dalam bentuk pemberian berbagai macam pelatihan
untuk peningkatan softskills mahasiswa. Diantaranya adalah berupa pemberian
berbagai macam pelatihan, seperti kepemimpinan, kewirausahaan dan juga berbagai
pelatihan yang lain.
Djarum menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah proses sosial dan investasi
SDM jangka panjang, sementara dilain pihak banyak anak bangsa yang berprestasi
akademik tinggi terhambat karena kesulitan ekonomi. Diharapkan peran serta PT.
Djarum berupa program beasiswa dan pengembangan kepribadian yang
berkesinambungan dapat menjadi kontribusi yang berguna. Sekilas mengenai konsep
CSR Djarum dikembangkan atas dasar niat baik, wujud tanggung jawab, kepedulian
dan kepekaan dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan bisnis dengan lingkungan
sosial. Djarum memilih 3 bidang peran yaitu : olahraga, lingkungan dan pendidikan[2].
Fokus penelitian kali ini adalah mengenai Djarum Bakti Pendidikan.
PT. Djarum sebagai perusahaan yang bergerak di bidang industri rokok tentu
mengalami berbagai pro-kontra dari masyarakat, oleh karena itu perusahaan dituntut
untuk melakukan program CSR. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana PT. Djarum menerapkan etika dalam pelaksanaan bisnisnya melalui
program CSR yang ada, sehingga perusahaan dapat membentuk persepsi positif
masyarakat bahwa Djarum bukan hanya mengejar keuntungan semata tetapi juga
memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan juga penerapan etika dalam
setiap kegiatan bisnisnya, salah satunya yakni melalui kegiatan CSR. PT. Djarum
merupakan leading corporate dalam hal pelaksanaan CSR di Indonesia. Sebagai PT
yang bergerak di bidang pemanfaatan sumber daya alam PT. Djarum telah
melaksanakan CSR jauh sebelum CSR itu sendiri diatur dan diwajibkan dalam
Undang Undang PT. Hal ini terbukti dari komitmen PT. Djarum dalam melaksanakan
program CSR secara berkesinambungan sejak tahun 1969 sampai sekarang.[3] Tentu
saja alasan pelaksanaan CSR PT. Djarum bukan berlandaskan peningkatan reputasi
semata, melainkan kesadaraan diri sebagai bagian dari lingkungan dan masyarakat.
Sebagaimana pengamatan penulis, bahwa pelaksanaan program CSR PT.
Djarum memiliki perbedaan dengan bentuk CSR dari beberapa perusahaan pada
umumnya, terdapat beberapa hal yang menarik untuk diteliti khususnya yang
berkenaan dengan implementasi nilai etika melalui kegiatan CSR PT. Djarum yang
berupa Djarum Bakti Pendidikan. Oleh karena itu penulis berminat untuk melakukan
penelitian dengan judul Implementasi Etika Bisnis Melalui Corporate Social
Responsibility di PT. Djarum. Dalam hal ini penulis akan memfokuskan penelitian
mengenai cara PT. Djarum mengimplementasikan etika pada kegiatan bisnis mereka
melalui bentuk-bentuk program CSR yang ada, khusunya melalui Djarum Bakti
Pendidikan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja bentuk-bentuk pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) yang telah
dilakukan oleh PT. Djarum?
2. Bagaimana PT. Djarum menerapkan etika dalam bisnis melalui program Corporate
Social Responsibility (CSR)?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk pelaksanaan Corporate Social


Responsibility (CSR) yang telah dilakukan oleh PT. Djarum.
2. Untuk mengetahui bagaimana PT. Djarum menerapkan etika dalam bisnis melalui
program Corporate Social Responsibility (CSR).

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam rangka
mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan tanggung jawab sosial
(CSR) suatu organisasi atau perusahaan serta mengenai khasanah keilmuan yang
berhubungan dengan penerapan etika pada suatu bisnis.

2. Manfaat Praktis
a. Peneliti dapat menambah cakrawala keilmuan tentang penelitian dalam bidang
tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) secara lebih mendalam.
b. Dengan adanya hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
PT. Djarum dalam meningkatkan kinerja perusahaannya terutama di bidang tanggung
jawab sosial, terutama bagi masyarakat sekitar.
c. Dalam rangka untuk memperoleh gelar S1 (Strata 1) di Institut Agama Islam Negeri
Sunan Ampel Surabaya fakultas Dakwah jurusan Manajemen Dakwah.

E. Definisi Konsep

Untuk mencegah adanya kesalahan persepsi di dalam memahami judul


penelitian, maka perlu dijelaskan konsepsi teoritis tentang judul yang diangkat dalam
penelitian ini.
Etika adalah keyakinan pribadi seseorang mengenai apakah suatu perilaku,
tindakan atau keputusan adalah benar atau salah. Etika dapat didefinisikan melalui
berbagai cara. Etika didefinisikan sebagai studi mengenai hak dan kewajiban
seseorang, mengenai aturan moral yang digunakan orang dalam pengambilan
keputusan, dan karakteristik hubungan antar manusia[4]. Perbuatan dikatakan etis
apabila sesuai dengan norma yang diterima masyarakat, dan tidak etis apabila tidak
sesuai dengan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Organisasi dituntut untuk
berperilaku etis terhadap lingkungan eksternalnya. Etika bisnis adalah penerapan
secara langsung tanggung jawab sosial suatu bisnis yang timbul dari pihak internal,
dalam hal ini biasanya dari kebijakan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan
perusahaan.[5]
Dari pengertian di atas, penulis dapat memahami bahwa inti dari etika bisnis
adalah bahwa suatu perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban
ekonomis dan legal (artinya kepada pemegang saham atau stakeholder) tapi juga
kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain seperti masyarakat yang ada di
sekitarnya.
Tanggung jawab sosial adalah serangkaian kewajiban yang dimiliki organisasi
untuk melindungi dan memajukan masyarakat tempatnya berfungsi.[6] Tanggung
jawab sosial perusahaan adalah kewajiban organisasi untuk berbuat dengan cara
tertentu yang ditujukan untuk melayani kepentingannya sendiri maupun kepentingan
stakeholder. Stakeholder adalah siapa saja yang ada pada lingkungan eksternal yang
terlibat secara langsung pada organisasi/ perusahaan dan atau mempengaruhi kegiatan
oganisasi/ perusahaan tersebut.[7]
Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka peneliti menganggap bahwa
kepedulian sosial suatu bisnis terhadap lingkungannya harus ditunjukkan melalui
bentuk nyata pelaksanaan tanggung jawab social (CSR). Karena semakin tinggi tingkat
kepedulian sosial suatu bisnis semakin meningkat pula pelaksanaan praktek bisnis yang
beretika dalam masyarakat. Pemikiran yang mendasari CSR (corporate social
responsibility) yang sering dianggap inti dari etika bisnis adalah bahwa perusahaan
tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal (artinya kepada
pemegang saham atau shareholder) tapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-
pihak lain yang berkepentingan (stakeholders) yang jangkauannya melebihi kewajiban-
kewajiban di atas.
Fokus penelitian kali ini adalah mengenai salah satu bentuk pelaksanaan CSR
PT. Djarum Indonesia yang berupa Djarum Bakti Pendidikan. Djarum Bakti
Pendidikan merupakan salah satu program CSR PT Djarum yang sudah mulai
dilakukan sejak tahun 1984. Program beasiswa ini merupakan program yang
berkesinambungan, yang dimulai sejak awal penyelenggaraannya. Dalam menjalankan
kegiatan CSR pendidikan, Djarum bekerjasama langsung dengan pihak perguruan
tinggi negeri dan swasta. Djarum Foundation yaitu Djarum Bakti Pendidikan berperan
aktif memajukan pendidikan melalui pembudayaan dan pemberdayaan mahasiswa
berprestasi, dalam berbagai pelatihan soft skills untuk membentuk manusia Indonesia
yang disiplin, mandiri dan berwawasan masa depan serta menjadi pemimpin yang
cakap intelektual, emosional dan spiritual[8]. Djarum menganggap bahwa dunia
pendidikan merupakan motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter
bangsa. Pihak Djarumpun mengimbau agar pihak swasta ikut terlibat dan memberikan
kontribusi nyata terhadap perkembangan pendidikan dan sumber daya manusia di
Indonesia. Pemberian berbagai pelatihan softskills dan pengembangan karakter
menjadi kekhas-an dari program Beasiswa Djarum. Komitmen PT Djarum dalam
dunia pendidikan akan terus berjalan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
CSR merupakan bagian integral dari suatu organisai/ perusahaan dan
mempunyai jangkauan yang lebih luas dari yang dipikirkan oleh para pebisnis selama
ini. CSR bukanlah kegiatan sosial atau agenda public relations semata. CSR lebih
bersifat pada investasi dan tanggung jawab sosial berlandaskan pada praktek etika
binis yang ditujukan bagi masyarakat dan komunitas organisasi/ perusahaan. Kegiatan
CSR adalah suatu kegiatan positif yang bisa memberikan keuntungan jangka panjang
bagi suatu organisasi/ perusahaan sekaligus menjadi sarana penerapan etika bisnis
yang perlahan kini mulai ditinggalkan oleh organisasi/ perusahaan-perusahaan pada
umunya.
PT. Djarum adalah salah satu perusahaan yang cukup intens dalam
melaksanakan tanggung jawab sosialnya pada stakeholder/ masyarakat sekitar.
Beberapa contoh dari pelaksanaan program CSR PT. Djarum adalah seperti program
Djarum Bakti Pendidikan. Melalui salah satu bentuk kegiatan CSR PT. Djarum inilah
peneliti akan menggali data mengenai penerapan etika bisnis dari PT. Djarum.

F. Kerangka Teori

1. Tinjauan Mengenai Etika Bisnis.


a. Pengertian Etika Bisnis.
Etika adalah norma manusia harus berjalan, bersikap sesuai nilai/ norma yang
ada. Moral merupakan aturan dan nilai kemanusiaan (human conduct and value)
seperti sikap, perilaku dan nilai. Etiket adalah tata krama/ sopan santun yang dianut
oleh suatu masyarakat dalam kehidupannya.
Etika merupakan penelaahan standar moral, proses pemeriksaan standar moral
orang atau masyarakat untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau
tidak untuk diterapkan dalam situasi dan permasalahan konkrit. Tujuan akhir standar
moral adalah mengembangkan bangunan standar moral yang kita rasa masuk akal
untuk dianut.[9] Etika merupakan studi standar moral yang tujuan eksplisitnya adalah
menentukan standar yang benar atau yang didukung oleh penalaran yang baik, dan
dengan demikian etika mencoba mencapai kesimpulan tentang moral yang benar dan
salah, dan moral yang baik dan jahat.
Bisnis adalah sebuah aktifitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah
melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi).
Bisnis merupakan aktivitas berupa jasa, perdagangan dan industri guna
memaksimalkan nilai keuntungan.[10] Skinner mengatakan bisnis adalah pertukaran
barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Sementara
Anoraga dan Soegiastuti mendefinisikan bisnis sebagai aktivitas jual beli barang dan
jasa. Menurut Issa Rafiq Beekun, etika dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip
moral yan membedakan yang baik dan mana yang buruk. Etika adalah bidang ilmu
yang bersifat normatif karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau
tidak dilakukan oleh seseorang individu. Etika bisnis, kadang kala merujuk kepada
etika manajemen atau etika organisasi, yang secara sederhana membatasi kerangka
acuannya kepada konsepsi sebuah organisasi.[11]
Akhirnya Yusanto dan Wijayakusuma mendefinisikan lebih khusus tentang
bisnis islam adalah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak
dibatasi jumlah kepemilikan hartanya (barang/ jasa) termasuk profitnya, namun
dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal
dan haram.
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar
dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam
kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis merupakan studi standar formal
dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam system dan organisasi yang digunakan
masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan
diterapkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi.[12]

b. Sistem Etika Islami.


Berdasarkan beberapa pembahasan yang ada, sejumlah parameter kunci sistem
etika islam telah terungkap, dan dapat dirangkum sebagai berikut[13] :
1) Berbagai tindakan ataupun keputusan disebut etis bergantung pada niat individu yang
melakukannya. Allah Maha Kuasa dan mengetahui apapun niat kita sepenuhnya dan
secara sempurna.
2) Niat baik yang diikuti tidakan yang baik akan dihitung sebagai ibadah. Niat yang halal
tidak dapat mengubah tindakan yang haram menjadi halal.
3) Islam memberikan kebebasan kepada individu untuk percaya dan bertindak
berdasarkan apapun keinginanya, namun tidak dalam hal tanggung jawab dan
keadilan.
4) Percaya kepada Allah memberi individu kebebasan sepenuhnya dari hal apapun atau
siapapun kecuali Allah.
5) Keputusan yang menguntungkan kelompok mayoritas ataupun minoritas tidak secara
langsung bearti bersifat etis dalam dirinya. Etika bukanlah permainan mengenai
jumlah.
6) Islam menggunakan pendekatan terbuka terhadap etika, bukan sebagai sistem yang
tertutup dan berorientasi diri sendiri. Egoisme tidak mendapat tempat dalam ajaran
islam.
7) Keputusan etis harus didasarkan pada pembacaan secara bersama-sama antara Al-
Quran dan alam semesta.
8) Tidak seperti sistem etika yang diyakini banyak agama lain, islam mendorong umat
manusia untuk melaksanakan tazkiyah melaui partisipasi aktif dalam kehidupan ini.
Dengan berperilaku secara etis di tengah godaan ujian dunia, kaum muslim harus
mampu mebuktikan ketaatannya kepada Allah SWT.

c. Pentingnya Etika dalam Bisnis.


Dalam konteks perusahaan atau entitas, bisnis dipahami sebagai suatu proses
keseluruhan dari produksi yang mempunyai kedalaman logika, bahwa bisnis
dirumuskan sebagai cara untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan dan
meminimumkan biaya perusahaan. Karena itu bisnis sering kali menetapkan pilihan
strategis dari pada pendirian berdasarkan nilai, dimana pilihan strategis didasarkan
atas logika subsistem yaitu keuntungan dan kelangsungan hidup bisnis itu sendiri.
Akibat dari kesadaran demikian maka, upaya-upaya meraih keuntungan dilakukan
dengan cara apapun. Walaupun cara-cara yang digunakan mengakibatkan kerugian
pihak lain, tetapi bila menguntungkan bagi pelaku bisnis atau perusahaannya, maka
dianggap sebagai pilihan bisnis.[14]
Dengan kenyataan itu, maka pengembangan etika bisnis harus menghadapi situasi
dan kondisi kedalaman logika rasionalitas bisnis yang bersifat material dan karenanya
telah menimbulkan ketegangan dan kerugian-kerugian pada masyarakat. Dan pada sisi
lain berhadapan dengan kesadaran common sence mengenai bisnis itu sendiri.
Dengan demikian, pada konteks pertama, tugas utama etika bisnis dipusatkan pada
upaya mencari cara untuk menyelaraskan kepentingan strategis suatu bisnis atau
perusahaan dengan tuntutan moralitas. Tetapi penyelarasan disini bukan berarti hanya
mencari posisi saling menguntungkan antara kedua tuntutan tersebut, melainkan
merekonstruksi pemahaman tentang bisnis dan sekaligus mengimplementasikan bisnis
sebagai media usaha atau perusahaan yang bersifat etis. Etis dalam pengertian sesuai
dengan nilai-nilai kebatilan, kerusakan, dan kedzaliman dalam bisnis pada sisi lainnya.
Kedua, etika bisnis bertugas melakukan perubahan kesadaran masyarakat
tentang bisnis dengan memberikan suatu pemahaman atau cara pandang baru, yakni
bahwa bisnis tidak terpisah dari etika. Bisnis merupakan aktifitas manusia secara
keseluruhan dalam upaya mempertahankan hidup (survive), mencari rasa aman,
memenuhi kebutuhan sosial dan harga diri serta mengupayakan pemenuhan aktualisasi
diri, yang pada kesemuanya secara inhern terdapat nilai-nilai etika.[15]
Untuk melakukan kedua tugas etika bisnis demikian, diperlukan suatu sikap
keberanian dan konsistensi. Sikap keberanian yang sesungguhnya telah dipunyai oleh
sifat dasar manusia yaitu kebebasan berkehendak dan pertanggungjawaban. Namun,
keberanian bukan dalam pengertian keberanian yang didasarkan atas dasar kekuatan
dan superioritas, tetapi sifat keberanian dengan menganggap ringan terhadap suatu
kesulitan demi meraih kebaikan. Sikap inilah yang dimaksud oleh Ibnu Maskawih
sebagai keberanian sesungguhnya atau kebajikan sejati.[16]

2. Tinjauan Mengenai Corporate Sosial Responsibility (Tanggung Jawab Sosial


Perusahaan).
a. Pengertian Corporate Sosial Responsibility.
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan tuntutan dalam dunia bisnis
tidak hanya dalam ruang lingkup nasional tetapi juga merupakan tuntutan dalam
dunia bisnis internasional. Meskipun demikian belum ada kesepakatan mengenai
defenisi CSR yang dapat dipakai secara global sehingga pengertian CSR dapat
berbeda-beda terlebih lagi mengenai tentang bentuk-bentuk pelaksanaan CSR itu
sendiri.
Terdapat berbagai pengertian CSR di dunia Internasional seperti yang
dikemukakan oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)[17]
yaitu : Corporate Social Responsibility is the continuing commitment by business to
behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of
life of the workforce and their families as well as of the local community and society at
large[18] yang artinya "CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh
dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan
ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan
peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".
Masyarakat Uni Eropa (European Commission) memberikan pengertian CSR
yaitu : "A concept whereby companies decide voluntarily to contribute to a better society
and a cleaner environment. A concept whereby companies integrate social and
environmental concerns in their business operations and in their interaction with their
stakeholders on a voluntary basis", yang artinya : CSR sebagai komitmen berkelanjutan
dari dunia usaha untuk beroperasi dan bertindak secara legal dan etis, dan
berkontribusi untuk peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya,
begitu juga dengan peningkatan kualitas hidup komunitas lokal dan masyarakat secara
lebih luas.
Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR)
adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan
adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang
saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.[19]
Meski terlihat mudah dalam definisinya, tanggung jawab sosial merupakan konsep
yang sukar untuk difahami, karena orang yang berbeda memiliki keyakina yang
berbeda mengenai tindakan apa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.[20]
Dari pengertian-pengertian diatas secara umum CSR dapat diartikan sebagai
tindakan sebagai perwujudan etika bisnis yang bertujuan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. Tanggung jawab sosial
merupakan kewajiban manajemen untuk membuat pilihan dan mengambil tindakan
yang akan memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan dan kepentingan
masyarakat serta organisasi itu sendiri.
b. Penerapan Konsep Tanggung Jawab dalam Etika Bisnis.
Jika seorang pengusaha muslim berperilaku secara tidak etis, ia tidak dapat
menyalahkan tindakannya pada persoalan tekanan bisnis ataupun pada kenyataan
bahwa setiap orang juga berperilaku tidak etis. Ia harus memikul tanggung jawab
tertinggi atas tindakannya sendiri. Konsep ini bertalian erat dengan konsep kesatuan,
keseimbangan dan kehendak bebas. Semua kewajiban harus dihargai kecuali jika
secara moral salah.[21] Tanggung jawab sangat terkait dengan hak dan kewajiban,
yang pada akhirnya dapat menimbulkan kesadaran tanggung-jawab. Ada dua bentuk
kesadaran: Pertama, kesadaran yang muncul dari hati nurani seseorang yang sering
disebut dengan etika dan moral. Kedua, kesadaran hukum yang bersifat paksaan
berupa tuntutan-tuntutan yang diiringi sanksi-sanksi hukum.
Dalam konteks corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial,
para pelaku usaha atau pihak perusahaan dituntut bersikap tidak kontradiksi secara
disengaja antara ucapan dan perbuatan dalam bisnisnya. Mereka dituntut tepat janji,
tepat waktu, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi), selalu
memperbaiki kualitas barang atau jasa secara berkesinambungan serta tidak boleh
menipu dan berbohong.[22] Para pelaku usaha dituntut mempunyai kesadaran
mengenai etika dan moral, karena keduanya merupakan kebutuhan yang harus
dimiliki. Pelaku usaha atau perusahaan yang ceroboh dan tidak menjaga etika, tidak
akan berbisnis secara baik sehingga dapat mengancam hubungan sosial dan merugikan
konsumen, bahkan dirinya sendiri.

G. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.


Pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif dengan alasan
bahwa penelitian dengan menggunakan penelitian kualitatif lebih menekankan pada
analisanya pada proses deduktif dan induktif serta pada analisa terhadap dinamika
hubungan antara fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan peneliti ialah jenis penelitin deskriptif
eksploratif. Jenis penelitian deskriptif ini digunakan untuk menemukan pengetahuan-
pengetahuan seluas-luasnya tentang obyek penelitian pada suatu masa atau saat
tertentu sehingga lebih mudah menyajikan dan menganalisis secara sistematis dan
akhirnya dapat dipahami dan disimpulkan.[23] Dan eksploratif dimaksudkan bahwa
dalam setiap data yang diperoleh dibutuhkan penggalian data yang lebih mendalam.
Agar data yang didapat lebih konkret dan valid. Selain itu deskriptif digunakan sebagai
pertimbangan untuk menggambarkan situasi dan kejadian yang benar sesuai dengan
realitas keadaan perusahaan.
Didasari permasalahan yang menarik, maka penelitian deskriptif kualitatif
menjabarkan fenomena yang ada dengan maksud upaya yang telah ditata dengan
metode ini akan dapat menjabarkan dan mendeskripsikan analitik sehingga
menghasikan bentuk laporan secara menyeluruh. Cara tersebut merupakan upaya
untuk menjabarkan secara analitik fenomena-fenomena yang terkait dengan upaya
yang dilakukan PT. Djarum dalam menjalankan tanggung jaawab sosialnya pada
stakeholders perusahaan, yaitu masyarakat pada khususnya.
2. Lokasi Penelitian.
Lokasi penelitian yang dipilih dalam penelitian kali ini adalah kantor PT. Djarum
di Jln. Kedungdoro Selatan No. 34 Surabaya.
3. Data dan Sumber Data.
a. Data.
Data adalah kenyataan, keterangan, atau bahan dasar yang digunakan untuk
menyusun hipotesa/ segala sesuatu yang akan diteliti. [24]
Dalam hal ini data yang diperoleh ialah profil perusahaan Djarum, jenis-jenis CSR
atau tanggung jawab sosial yang telah dilakukan oleh PT. Djarum dan penerapan etika
bisnis di PT. Djarum.
b. Jenis Data.
Berdasarkan jenis dan sumber datanya, jenis data dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu:
1). Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber yang diamati dan
dicatat untuk pertama kalinya. [25]
Dalam hal ini data yang dihimpun adalah apa saja bentuk CSR yang telah
diterapkan PT. Djarum selama ini dan bagaimana PT. Djarum menerapkan etika bisnis
melalui program CSR. Data ini diperoleh melalui permintaan keterangan-keterangan
kepada pihak yang bersangkutan yaitu pengasuh beswan Djarum DSO Surabaya, data
tersebut berupa jawaban atas pertanyaan yang diajukan melalui wawancara secara
langsung.
2). Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang bukan di usahakan sendiri pengumpulannya oleh
peneliti.[26]
Dalam hal ini data yang dihimpun adalah PT. Djarum meliputi awal mula
diterapkannya program CSR, tujuan diadakannya CSR, kegiatan yang ada dalam
program CSR. Data ini diperoleh dari pihak lain. Tidak diperoleh peneliti dari subyek
penelitian dan biasanya dari dokumentasi.
c. Sumber Data.
Sumber data dalam penelitian subyek dari mana data diperoleh.[27] Adapun
sumber data yang dipakai oleh peneliti untuk melengkapinya adalah :
1). Informan
Informan yaitu orang yang memberikan informasi tentang segala yang terkait dengan
penelitian ini. Informan yang dipakai adalah Bapak Legowo Kadri selaku Coorporate
Communication PT Djarum RSO Jawa Timur dan Bapak Totok Widyanto selaku
pengasuh Beswan Djarum DSO Surabaya, serta beberapa mahasiswa dari PTN/ PTS di
Surabaya selaku penerima beasiswa dari program CSR Djarum Bakti Pendidikan.
Beberapa alasan peneliti menjadikan orang-orang tersebut sebagai informan adalah
karena peneliti menilai bahwa kedua orang tersebut adalah orang-orang yang memiliki
andil dalam kelancaran pelaksanaan program CSR Djarum Bakti Pendidikan ini.
Selain itu keterangan dari beberapa mahasiswa selaku penerima juga tetap diperlukan,
mengingat mereka adalah penerima dan juga pelaksana dalam kegiatan keorganisasian
beswan Djarum. Dalam hal ini, keterangan mereka akan digunakan sebagai pelengkap
data yang telah diperoleh dari informan utama. Informasi yang akan diperoleh adalah
tentang awal mula diadakannya CSR Djarum, kegiatan yang dilakukan dalam program
CSR Djarum, tingkat keberhasilan pelaksanaan program CSR PT. Djarum, bagaimana
etika bisnis diterapkan melalui program CSR ini, dan beberapa dampak
dilaksanakannya program ini.
2). Dokumentasi
Dokumentasi yaitu berupa tulisan atau catatan yang berhubungan dengan masalah-
masalah dibahas dalam penelitian. Maksudnya dokumen tentang sejarah / awal mula
diadakannya kegiatan CSR di PT.Djarum, tujuan dilaksanakannya program CSR, dan
data lainnya yang berkaitan dengan penelitian.
4. Tahap-Tahap Penelitian.
Adapun tahap-tahap penelitian yang akan dilakukan adalah[28] :
1. Menyusun proposal penelitian skripsi.
2. Memilih kantor Djarum Kedungdoro sebagai lapangan penelitian.
3. Mengurus perizinan.
4. Menjajaki dan menilai lapangan.
5. Memilih informan sebagai salah satu sumber data primer.
6. Menyiapkan perlengkapan penelitian
7. Memahami latar penelitian dan persiapan diri
8. Memasuki lapangan
9. Berperan serta sambil mengumpulkan data
10. Tahap pekerjaan lapangan
11. Tahap analisis data

5. Teknik Pengumpulan Data.


Ada berbagai macam teknik pengumpulan data dalam proses penelitian, akan
tetapi yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Metode Wawancara (interview).
Wawancara atau interview adalah percakapan dengan maksud tertentu,
percakapan ini dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.[29]
Dengan menggunakan metode wawancara ini, peneliti mendapatkan data tentang :
1) Sejarah/ awal mula dilaksanakannya program CSR.
2) Tujuan dilaksanakannya program CSR.
3) Tingkat keberhasilan program CSR PT. Djarum.
4) Beberapa bentuk program CSR PT. Djarum.
5) Dampak pelaksanaan program CSR PT. Djarum.
6) Penerapan etika bisnis melalui kegiatan CSR yang telah dilaksanakan oleh PT. Djarum
.
b. Metode Pengamatan (observasi).
Pengamatan atau observasi adalah suatu proses yang kompleks yang tersusun dari
berbagai proses biologis dan psikologis atau alat pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala yang diteliti dari
observasi. Dari proses ini dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang
masalahnya [30], yaitu yang meliputi :
1) Lokasi kantor PT. Djarum.
2) Fasilitas yang dimiliki PT. Djarum sebagai pendukung kelancaran pelaksanaan CSR.
3) Dampak pelaksanaan program CSR PT. Djarum baik bagi lingkungan internal
maupun eksternal perusahaan.
4) Berbagai pengamatan lainnya yang berfungsi sebagai penyempurnaan hasil penelitian
ini.

c. Metode Dokumentasi.
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa
bahan-bahan tertulis seperti catatan, transkrip, film, otobiografi, dan lain sebagainya.
[31] Dari metode dokumentasi ini, peneliti mendapatkan dokumen berupa :
1) Sejarah pelaksanaan program CSR.
2) Penanggung jawab dalam program CSR PT. Djarum.
3) Pihak-pihak yang menjadi objek (penerima) program CSR PT. Djarum.
4) Tujuan dilaksanakannya program CSR.
5) Beberapa bidang dalam program CSR.
Untuk lebih memudahkan, maka kami tabulasikan seperti dibawah ini :
No. Data Sumber Data TPD
1. CSR
a. a. Sejarah pelaksanaan CSR di PT. Pengasuh Beswan + D+W
Djarum dokumen
b. Tujuan diadakannya CSR Pengasuh Beswan + D+W
dokumen
c. c. Penanggung jawab program CSR Pengasuh Beswan + D+W
dokumen
d. Penerima (objek) program CSR Pengasuh Beswan + D+W
dokumen
e. Bidang kegiatan CSR Pengasuh Beswan + D+W
dokumen
Penerapan etika bisnis melalui
2.
program CSR
a. Tingkat keberhasilan program Pengasuh Beswan + W+O
CSR Observasi
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengasuh Beswan + W+
keberhasilan program CSR di PT. Observasi O
Djarum
c. Penerapan etika bisnis di PT. Pengasuh Beswan + W+
Djarum melalui program CSR. Observasi O
d. Dampak diadakannya program Pengasuh Beswan + W+
CSR Observasi O

6. Teknik Analisis Data.


Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola,
mencari dan menemukan pola dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada
orang lain.[32] Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan
dokumentasi.[33] Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman
yaitu suatu aktifitas yang meliputi data reduction, data display, dan conclusions drawing/
verification. Untuk lebih memahami teknik tersebut, maka akan dijelaskan sebagai
berikut[34] :
a. Data reduction.
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan
pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dalam hal ini, ketika peneliti
memperoleh data dari lapangan dengan jumlah yang cukup banyak. Maka perlu segera
dilakukan analisis data melalui reduksi data. Adapun hasil dari mereduksi data,
peneliti telah memfokuskan pada bidang penerapan etika bisnis melalui program
tanggung jawab sosial yang telah dilakukan oleh PT. Djarum. Hal ini dilakukan peneliti
dengan mengamati serta meninjau kembali hasil wawancara yang akan dilakukan
dengan pihak Djarum dan orang-orang yang bersangkutan dengan pelaksanaan
program CSR ini.
b. Data display.
Setelah data direduksi, selanjutnya peneliti mendisplaikan data yang berarti
mengorganisir data, menyusun data dalam suatu pola hubungan sehingga semakin
mudah difahami. Dalam hal ini, peneliti memfokuskan pada beberapa bidang kegiatan
CSR PT. Djarum yang berupa ketiga bakti (bakti lingkungan, olahraga dan
pendidikan). Hal ini dilakukan peneliti karena dipandang memiliki kaitan dengan
penerapan etika bisnis yang dilakukan oleh pihak Djarum selaku objek/ lokasi
penelitian. Dengan demikian, hasil dari data display ini mampu memudahkan peneliti
dalam upaya pemaparan dan penegasan kesimpulan.
c. Conclusions drawing/ verification.
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman
adalah penarikan kesimpulan. Dalam hal ini, peneliti berusaha dan berharap
kesimpulan yang dicapai mampu menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan
sejak awal yaitu yang berkaitan dengan kegiatan CSR yang telah dilakukan oleh pihak
Djarum serta mengenai implementasi etika bisnis melalui CSR atau tanggung jawab
sosial perusahaan yang ada di PT. Djarum.
7. Teknik Keabsahan Data.
Dalam penelitian ini peneliti memakai pendekatan kualitatif, untuk memeriksa
keabsahan data yang dikumpulkan oleh peneliti. Teknik yang digunakan adalah
triangulasi yang artinya pemerikasaan keabsahan data yang menggunakan sesuatu
yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan/ sebagian pembandingan
terhadap data itu.[35] Maksud dari triangulasi disini adalah data hasil wawancara
diperiksa dalam keabsahan data, kemudian dibandingkan dengan hasil pengumpulan
data yang lain, seperti observasi dan dokumentasi.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam tahap triangulasi ini adalah :
a. Peneliti melakukan pengecekan tentang hasil dari pengamatan wawancara, maupun
hasil data yang diperoleh dengan cara lain (observasi dan dokumen). Pengecekan
dilakukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam program CSR PT. Djarum,
terutama ketiga bentuk bakti yang telah dilakukan. Orang-orang tersebut yakni
penanggung jawab pelaksanaan program CSR PT. Djarum serta pada mahasiswa
sebagai penerima beasiswa dari program CSR PT. Djarum ataupun dari warga sekitar.
b. Penulis meneliti apa yang dikatakan orang tentang penerapan etika di PT. Djarum
melalui program CSR yang ada secara umum dengan mengecek data yang sudah ada
apakah sesuai atau tidak.

H. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan urutan sekaligus kerangka berfikir


dalam penulisan skripsi, untuk lebih mudah memahami penulisan skripsi ini, maka
disusunlah sistematika pembahasan, antara lain :

BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini berisikan tentang gambaran umum yang meliputi : konteks penelitian,
fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep dan sistematika
pembahasan.
BAB II : KERANGKA TEORITIK
Pada bab ini berisikan tentang kajian kepustakaan konseptual, yang meliputi :
pengertian etika bisnis, etika bisnis islam, pengertian Corporate Social Responsibility
(CSR), pentingnya etika dalam bisnis, penerapan konsep tanggung jawab dalam bisnis,
serta kajian kepustakaan penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini berisikan tentang metode penelitian yang menjelaskan tentang
pendekatan dan jenis penelitian, wilayah penelitian, jenis dan sumber data, tahap-tahap
penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data serta teknik keabsahan data.
BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Pada bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum lokasi Penelitian, penyajian data
yang memaparkan fakta-fakta mengenai masalah yang diangkat dan analisis data. Data
yang telah dianalisis dan diuji keabsahan datanya dibandingkan dengan teori. Hasil
uraian tersebut tertulis dalam sub bab pembahasan.
BAB V : PENUTUP
Pada bab ini berisi penutup yang memaparkan tentang kesimpulan serta rekomendasi.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Mustaq. Etika Bisnis Dalam Islam. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 2003.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT.Rineka Cipta. 2006.
Daft, Richard L. Management. Jakarta : Salemba Empat. 2003.
Gitosudarmo, Indriyo. Pengantar Bisnis. Yogyakarta : BPFE. 1999.
Griffin. Manajemen Jilid 1. Jakarta : Erlangga. 2002.
Habztop, Perkembangan dan pentingnya Corporate Social Responsibility,
http://images.habztop.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Ro5OOQoKCsMAA
Eo6S5I1/Beberapa%20tahun%20terakhir%20ini.doc?nmid=48783225, diakses pada
tanggal 25 Oktober 2010.
Hanafi, Mamduh M. Manajemen. Yogyakarta : UPP AMP YKPN. Griffin. 1997.
Harahap, Sofyan Syafri. Manajemen Kontemporer. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
1996.
http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/csr-dalam-perspektif-islam/ diakses pada
tanggal 18 November 2010
Mallen Baker, Corporate social responsibility - what does it means?
http://www.mallenbaker.net/csr/definition.php diakses pada tanggal 18 November 2010
Manulang, M. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta : Balai Aksara. 1999.
Maskawih, Ibnu. Menuju Kesempurnaan Akhlak. Bandung : Mizan. 1994.
Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2007.
Muhammad. Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta : UPP-AMP YKPN. 2003.
Muhammad. Etika Bisnis Islami. Yogyakarta : UPP-AMP YKPN. 2002.
Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta. 2008.
PEDOMAN WAWANCARA PENELITIAN

Adapun beberapa pedoman wawancara dalam penelitian tersebut adalah :


1. Sejarah/ awal mula pelaksanaan CSR di PT. Djarum.
2. Tujuan pelaksanaan program CSR di PT. Djarum.
3. Orang-orang yang terlibat dalam program CSR di PT. Djarum, baik penanggung
jawab maupun objek/ penerima program CSR ini.
4. Beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program CSR PT. Djarum.
5. Beberapa bidang CSR yang telah dilakukan PT. Djarum.
6. Kurun waktu PT. Djarum melaksanakan program CSR.
7. Tingkat keberhasilan program CSR yang dilakukan PT.Djarum.
8. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan program CSR PT. Djarum.
9. Beberapa dampak pelaksanaan CSR PT. Djarum baik dikalangan eksternal maupun
internal perusahaan.
10. Pandangan PT. Djarum mengenai etika bisnis sekarang ini.
11. Pelaksanaan/ penerapan etika dalam kegiatan bisnis di PT. Djarum.
12. Etika PT. Djarum dalam melaksanakan program CSR.
13. Upaya implementasi etika bisnis di PT. Djarum melalui beberapa kegiatan CSR yang
ada.

Anda mungkin juga menyukai