Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Atrie Virduani

NIM

: D1091141026

Mata Kuliah : Perencanaan Kawasan Tepian Air

BERKEMBANGNYA KONSEP WATERFRONT CITY

Berbicara tentang Waterfront City berarti kita akan terbayang akan sebuah kota atau pembangunan yang bersifat vertikal yang didirikan dibibir pantai. Waterfront city sesungguhnya merupakan konsep pembangunan kota yang berhadapan atau berbatasan dengan air baik itu laut, sungai, danau atau waduk. Dalam pengertian yang lebih familiar, Waterfront City adalah kota pesisir. Konsep ini lahir didasari pemikiran bahwa kota-kota di pesisir mengalami tekanan yang berat sehingga rentan terjadinya pencemaran, kekumuhan dan kesemrawutan. Waterfront City bukan saja konsep pembangunan kota pesisir atau kota yang berbatasan dengan air, tapi lebih dari itu adalah konsep pembangunan kota yang tidak saja menghadap ke darat tapi juga menghadap ke laut. Pada awalnya Waterfront City tumbuh di wilayah yang memiliki tepian (laut, sungai, danau) yang potensial, antara lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di sekitar muara sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan kawasan pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman gelombang dan serangan musuh. Perkembangan selanjutnya mengarah ke wilayah daratan yang kemudian berkembang lebih cepat dibandingkan perkembangan Waterfront City. Prinsip perancangan Waterfront City adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang dibatasi oleh air dari komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami

Penerapan waterfront development di kota-kota negara maju dapat juga dijadikan referensi dalam perencanaan waterfront development bagi kota-kota di Indonesia. Di negara maju perencanaan dan pengembangan waterfront development didasarkan pada berbagai konsep sesuai dengan kondisi sosio-kultur, kemampuan teknologi dan ekonomi, kebutuhan kotanya masing-masing serta memaksimalkan fungsi pembangunan yang diterapkan sehingga pengembangannya dapat berfungsi secara ekonomis dan efektif. Berikut ini beberapa pengembangan fungsi kawasan yang dapat di terapkan pada konsep waterfront development, yaitu 1. Sebagai Kawasan Bisnis.

Di dalam “Waterfront Development” dapat dikembangkan sebagai kawasan bisnis

sebagai contoh di Canary Wharf salah satu bagian kawasan “London Docklands”.

Di daerah tersebut terlihat di tepian air banyak gedung-gedung perkantoran serta

kondominum. Kawasan tersebut dapat menjadi pusat bisnis.

kondominum. Kawasan tersebut dapat menjadi pusat bisnis. London, Inggris 2. Sebagai Kawasan Hunian. D i dalam

London, Inggris

2. Sebagai Kawasan Hunian.

Di dalam “Waterfront Development” dapat diterapkan pengembangan kawasan hunian di tepi air. Pengembangan hunian di tepi air tentunya harus melihat kondisi airnya tersebut pastinya airnya tidak berbau dan kotor karena jika terbangun hunian di lokasi tersebut dengan kondisi air yang buruk maka produk huniannya akan sulit

terjual ataupun terhuni. Dalam pengembangan hunian di tepi air dapat di bangun produk rumah ataupun kondominium. Penerapan kawasan huian di tepi air dapat dilihat di daerah Port Grimoud - Prancis. Di sepanjang aliran sungainya banyak terbangun hunian bertingkat

Port Grimoud - Prancis 3. Sebagai kawasan Komersil, Hiburan dan Wisata. D i dalam “Waterfront

Port Grimoud - Prancis

3.

Sebagai kawasan Komersil, Hiburan dan Wisata.

Di

dalam “Waterfront Development” dapat pula dikembangkan sebagai kawasan

komersial, hiburan dan wisata. Dengan kondisi air yang baik dan tidak berbau maka kawasan tersebut terjamin akan banyak di singgahi pengunjung. Selain itu pula dapat juga dibanguna area terbuka (plaza) di kawasan tersebut. Waterfront dengan konsep sebagai kawasan komersial dan hiburan ini pastinya akan sangat digemarai oleh masyarakat perkotaan. Sekaligus juga dapat meningkatkan pendapatan di daerah tersebut.

juga dapat meningkatkan pendapatan di daerah tersebut. Venice, Italy Pada zaman sekarang ini sebagian dari kita

Venice, Italy

Pada zaman sekarang ini sebagian dari kita masih menganggap bahwa laut/sungai

itu merupakan bagian belakang bukan wajah sehingga segala segala sesuatu yang

jelek harus menjadi urusan belakangan. Maka dari itu di bibir pantai atau sungai

berderet bangunan dapur dan WC. Kemudian karena laut/sungai masih dianggap sebagai tempat sampah maka laut/sungai dijadikan tempat pembuangan akhir

sampah. Makanya ketika kita memasuki kota pesisir melalui laut/sungai maka kita akan menyaksikan pemandangan yang kotor, kumuh dan semrawut. Kini mindset kita harus berubah, laut/sungai tidak boleh lagi kita anggap sebagai tempat pembuangan tetapi harus juga sebagai wajah. Tentu saja mengubah mindset ini tidaklah mudah. Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah harus menginisiasi perubahan mindset ini dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara terus- menerus. Pemerintah juga bisa mengatur melalui regulasi misalnya mewajibkan pembangunan gedung di tepi laut harus menghadap dua arah (darat-laut). Jika tidak maka tidak diberi ijin. Tentu saja pemerintah harus terlebih dulu membangun fasilitasnya seperti jalan di atas air. Pada intinya adalah konsep Waterfront City ini harus disetarakan dengan pola hidup dan pola pikir masyarakat itu sendiri agar konsep ini benar benar berjalan dan terlaksana serta terpelihara.

Sumber :

http://stefantepz.blogspot.co.id/2012/02/konsep-pembangunan-waterfront.html