Anda di halaman 1dari 17

ANTENATAL CARE

Antenatal Care adalah pelayanan yang diberikan pada ibu hamil untuk memonitor,
mendukung kesehatan ibu dan mendeteksi ibu apakah ibu hamil normal atau
bermasalah.

Dalam penerapan praktis pelayanan ANC, menurut Badan litbangkes Depkes RI,
standar minimal pelayanan ANC adalah 14 T
1. Tanyakan dan menyapa ibu dengan ramah
2. Tinggi badan dan berat badan ditimbang
3. Temukan kelainan / periksa daerah muka dan leher (gondok, vena
jugularis eksterna), jari dan tungkai (edema), lingkaran lengan atas,
panggul, dan refleks lutut
4. Tekanan darah diukur
5. Tekan / palpasi payudara (benjolan), perawatan payudara, senam
payudara, tekan titik (accu pressure) peningkatan ASI
6. Tinggi fundus uteri diukur
7. Tentukan posisi janin (Leopold I-IV) dan detak jantung janin
8. Tentukan keadaan (palpasi) liver dan limpa
9. Tentukan kadar Hb dan periksa lab (protein dan glucosa urin), sediaan
vagina dan VDRL (PMS) sesuai indikasi
10. Terapi dan Pencegahan anemia (Tablet Fe) dan penyakit lainnya sesuai
indikasi (gondok, malaria, dll)
11. Tetanus toxoid imunisasi
12. Tingkatkan kesegaran jasmani (accu pressure) dan senam hamil
13. Tingkatkan Pengetahuan ibu hamil (penyuluhan) : makanan bergizi
untuk ibu hamil, tanda bahaya kehamilan, petunjuk agar tidak terjadi
bahaya pada waktu kehamilan dan persalinan
14. Temu wicara konseling

Pelayanan Standar Asuhan 17 T

Jenis Pemeriksaan Pelayanan Antenatal Terpadu


Jenis Trimester Trimester Trimester
No Keterangan
Pemeriksaan I II III
1 Keadaan Umum Rutin
2 Suhu Badan Rutin
3 Tekanan Darah Rutin
4 Berat Badan Rutin
5 LILA Rutin
6 TFU Rutin
7 Presentasi Janin Rutin
8 DJJ Rutin
9 Pemeriksaan HB Rutin
10 Golongan Darah Rutin
11 Protein Urin Rutin
Gula
12 Atas indikasi
Darah/reduksi
13 Darah Malaria Atas indikasi
14 BTA Atas indikasi
15 Darah Sifilis Atas indukasi
16 Serologi HIV Atas indikasi
17 USG Atas indikasi

IDIKATOR PROGRAM KESEHATAN IBU


Indikator program kesehatan ibu yang diperlukan dalam pelaporan
kesehatan diantaranya adalah : Kunjungan antenatal pertama (K1), kunjungan
antenatal 4 kali (K4), persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (PN)\,
kunjungan nifas (KF), penanganan komplikasi obstetrik (PK), kematian ibu dan
cakupan peserta KB aktif. Data indikator program kesehatan ibu dipantau
perkembangan pencapaiannya setiap bulan.
1. K1 (Kunjungan Antenatal Pertama)
Adalah jumlah ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan antenatal
sesuai standar oleh tenaga kesehatan.
Pelayanan Antenatal sesuai standar yang diberikan, sekurang-kurangnya
meliputi :
- Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
- Ukur tekanan darah
- Nilai status Gizi (Ukur lingkar lengan atas)
- Ukur tinggi fundus uteri
- Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
- Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus
Toxoid (TT) bila diperlukan
- Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
- Test Laboratorium sederhana (Hb, protein urin) dan atau berdasarkan
indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC)
- Tatalaksana kasus
- Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.

Rumus perhitungan cakupan K1 adalah :

Jumlah ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga
kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu

X100
2. K4 (Kunjungan Antenatal 4 kali)
Jumlah
Adalahsasaran
jumlah ibu
ibuhamil
hamildisuatu wilayah kerjapelayanan
yang mendapatkan pada kurun waktu tertentu
antenatal sesuai
standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi waktu satu kali pada
trimester kesatu, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester
ketiga.
Rumus perhitungan cakupan K4 adalah :
Jumlah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali sesuai standar
oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu

X100
Jumlah sasaran ibu hamil disuatu wilayah kerja dalam 1 tahun

3. PN (Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang memiliki


kompetensi kebidanan)
Adalah jumlah ibu bersalin yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.
Rumus perhitungan cakupan Pn adalah :

Jumlah Persalinan yang ditolong oleh oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu

X100
Jumlah sasaran ibu bersalin disuatu wilayah kerja dalam 1 tahun

4. KF (Pelayanan Nifas)
Adalah jumlah ibu nifas (Ibu masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca
bersalin) yang mendapatkan pelayanan kesehatan ibu nifas sesuai standar
paling sedikit 3 kali dengan distribusi waktu 6 jam 3 hari, 4 26 hari, dan 29
42 hari setelah bersalin.
Pelayanan kesehatan Ibu nifas sesuai standar yang diberikan sekurang
kurangnya meliputi :
- Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu tubuh.
- Pemeriksaan tinggi fundus uteri.
- Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.
- Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.
- Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali, pertama
segera setelah melahirkan, kedua diberikan setelah 24 jam pemberian
kapsul vitamin A pertama.
- Pelayanan KB pasca bersalin.
Rumus Perhitungan cakupan Pn adalah
Jumlah ibu nifas yang telah memperoleh 3 kali pelayanan nifassesuai standar oleh
tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu

X100
Jumlah sasaran ibu nifas disuatu wilayah kerja dalam 1 tahun

5. PK (Komplikasi Kebidanan yang ditangani)


Adalah jumlah kasus komplikasi / kegawatdaruratan obstetri (kebidanan) yang
mendapatkan penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan
terlatih pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes, Puskesmas,
Puskesmas PONED, Rumah Bersalin, RSIA / RSB, RSU, RSU PONEK).
Yang dimaksud penanganan definitif adalah penanganan / pemberian tindakan
terakhir untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikas.
kebidanan.
Rumus Perhitungan cakupan PK adalah :

Jumlah komplikasi kebidanan yang mendapatkan penanganan definitif di suatu


wilayah kerja pada kurun waktu tertentu

X100
20% jumlah sasaran ibu hamil disuatu wilayah kerja dalam 1 tahun
6. Kematian Ibu
Adalah kematian wanita yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan dan
masa nifas yang disebabkan oleh kehamilan dan persalinannya, bukan oleh
kecelakaan. Penyebab kematian ibu dibedakan langsung dan tidak langsung.
Penyebab tidak langsung antara lain penyakit infeksi seperti malaria, thypoid,
serta penyakit kronis seperti penyakit jantung, penyakit gula dan penyakit
lainnya.
Rumus perhitungan Angka Kematian Ibu adalah :

Jumlah kematian ibu

X100
7. Lahir Hidup Jumlah Kelahiran Hidup
Adalah jumlah kelahiran hidup yang terjadi disuatu wilayah pada kurun waktu
tertentu
8. Peserta KB aktif / CPR (Contraceptive Prevalance Rate)
Adalah jumlah peserta KB yang baru dan lama yang masih aktif menggunakan
alat atau obat kontrasepsi .
Rumus perhitungan cakupan peserta KB aktif adalah :
Jumlah peserta KB di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu

X100
Jumlah seluruh PUS disuatu wilayah kerja dalam

9. Persalinan JAMPERSAL
Adalah jumlah persalinan yang pembiayaannya menggunakan dana jaminan
persalinan (JAMPERSAL).

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT

MTBS singkatan dari Manajemen Terpadu Balita Sakit atau Integrated


Management of Childhood Illness (IMCI dalam bahasa Inggris) adalah suatu
pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus
kepada kesehatan anak usia 0-5 tahun (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan
merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana
balita sakit. Kegiatan MTBS merupakan upaya yang ditujukan untuk menurunkan
kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
anak balita di unit rawat jalan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Pustu,
Polindes, Poskesdes, dll.

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of


Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan terpadu dalam tatalaksana
balita sakit.
MTBS bukan merupakan program kesehatan,tetapi suatu standar
pelayanan dan tatalaksana balita sakit secara terpadu di fasilitas kesehatan tingkat
dasar. WHO memperkenalkan konsep pendekatan MTBS dimana merupakan
strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka
kematian dan kesakitan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.
Ada 3 komponen dalam penerapan strategiMTBS yaitu:

1. Komponen I : meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam


tatalaksana kasus balita sakit (dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan)

2. Komponen II : memperbaiki sistem kesehatan agar penanganan penyakit


pada balita lebih efektif

3. Komponen III : Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam


perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit
(meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang dikenal
sebagai Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis masyarakat).

Tujuan MTBS :

Menurunkansecara bermakn aangka kematian dan kesakitan yang terkait


penyakit tersering pada balita.

Memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan


kesehatan anak.
POSYANDU
Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari,
dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan
kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi, dan
anak balita (DEPKES RI, 2012).

A. Tujuan Posyandu
1. Tujuan umum
Menunjang percepatan penuruna angka kematian ibu (AKI) dan angka
kematian bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan
masyarakat.
2. Tujuan khusus :
a. Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan
AKB.
b. Meningkatnya peran lintas sector dalam penyelenggaraan Posyandu,
terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
c. Menignkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar,
terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.

B. Sasaran Posyandu :
Semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan
dasar yang ada di Posyandu terutama (DEPKES RI, 2012):
1. Bayi dan balita
2. Inu hamil, ibu nifas, dan ibu menyusui
3. Pasangan usia subur
4. Pengasuh anak

C. Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan.


Kegiatan utama mencakup:
1. Kesehatan ibu dan anak
2. Keluarga berencana
3. Imunisasi
4. Gizi
5. Pencegahan dan penanggulangan diare

D. Kegiatan pengembangan berupa :


1. Bina Keluarga Balita (BKB)
2. Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)
3. Penemuan dini dan pengamatan enyakit potensial KLB seperti : ISPA,
DBD, gizi buruk, polio, campak, difteri, pertussis, tetanus neonatorum.
4. Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD)
5. Tanaman Obat Keluarga (TOGA)
6. Bina Keluarga Lansia (BKL)
7. Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
8. Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-PLP)
9. Desa Siaga
10. Pos Malaria Desa (Posmaldes)
11. Kesehatan ekonomi produktif seperti : Usaha Peningkatan Pendapatan
Keluarga (UP2K), usaha simpan pinjam.
12. Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), Tabungan Masyarakat (Tabumas).
E. Fungsi Posyandu
1. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan
keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesame masyarakt
dalam rangka mempercepat penurunan AKI dan AKB.
2. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama
berkaitan dengna penurunan AKI dan AKB.

F. Manfaat Posyandu
1. Bagi masyarakat :
a. Memperoleh kemudahan mendapatkan informasi dan pelayanan
kesehatan gai ibu, bayi, dan anak balita.
b. Pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi
kurang atau gizi buruk.
c. Bayi dan anak balita mendapatkan kapsul vitamin A.
d. Bayi memperoleh imunisasi lengkap.
e. Ibu hamil akan terpantau berat badannya dan memperoleh tablet
tambah darah (Fe) serta imunisasi Tetanus Toksoid (TT).
f. Ibu nifas memperoleh kapsul vitamin A dan tablet tambah darah (Fe).
g. Memperoleh penyuluhan kesehatan terkait tentang kesehatan ibu dan
anak.
h. Apabila terdapat kelainan pada bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas
dan ibu menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke puskesmas.
i. Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu,
bayi, dan ank balita.
2. Bagi kader :
a. Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lebih
lengkap.
b. Ikut berperan secara nyata dalam perkembangan tumbuh kembang
anak balita dan kesehatan ibu.
c. Citra diri meningkat di mata masyarakat sebagai orang yang terpercaya
dalam bidang kesehatan.
d. Menjadi panutan karena telah emngabdi demi pertumbuhan anak dan
kesehatan ibu.
3. Bagi PUSKESMAS :
a. Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggeraj
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
b. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan
masalah kesehatan sesuai kondisi setempat.
c. Meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan dana melalui pemberian
pelayanan secara terpadu.
4. Bagi sektor lain :
a. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan
masalah sector terkait, utamanya yang terkait dengan upaya
penurunan AKI dan AKB sesuai kondisi setempat.
b. Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara
terpadu sesuai dengan tupoksu masing-masing sektor.

G. Kedudukan Posyandu
1. Kedudukan terhadap pemerintahan desa/kelurahan
Pemerintahan desa/kelurahan adalah instansi pemerintahan yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan desa/kelurahan.
Kedudukan Posyandu adalah sebagai wadah pemberdayaan masyrakat di
bidang kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemerintahan
desa/kelurahan.
2. Kedudukan terhadap Pokja Posyandu
Sebagai satuan organisasi yang mendapat binaan aspek administrative,
keuangan, dan program dari Pokja.
3. Kedudukan terhadap berbagai UKBM
Sebagai mitra.
4. Kedudukan terhadap konsil kesehatna kecamatan
Sebagai satuan organisasi yang mendapat arahan dan dukungan
sumberdaya dari Konsil Kesehatan Kecamatan.
5. Kedudukan terhadap Puskesmas
Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara
teknis medis dibina oleh Puskesmas.
Struktur kepengurusan posyandu (DEPKES RI, 2006)

H. Penyelenggaraan Posyandu
Dalam penyelengaraannya, pengelola Posyandu dipilih dari dan oleh
masyarakat pada saat musyawarah pembentukan Posyandu. Pengurus Posyandu
sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara (DEPKES RI,
2012). Satu Posyandu melayani 80-100 balita.

I. Waktu dan lokasi Posyandu


Penyelenggaraan Posyandu sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan,
jika diperlukan hari buka Posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan.
Posyandu berlokasi di setiap desa/kelurahan/RT?RW atau dusun, salah satu kios
pasar, salah satu ruangan perkantoran, atau tempat khusus yang dibangun oleh
swadaya masyaraat. Tempat penyelenggaraan kegiatan Posyandu sebaiknya
berada di lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat (DEPKES RI, 2012).

J. Pembentukan Posyandu (DEPKES RI, 2012)


1. Mempersiapkan para petugas sehingga bersedia dan memiliki kemampuan
mengelola serta membina Posyandu.
2. Memperisapkan masyarakat, khususnya tokoh masyarakat sehingga
bersedia mendukung penyelenggaraan Posyandu.
3. Melakukan Survei Mawas Diri (SMD) agar masyarakat mempunyai rasa
memiliki, melalui penemuan sendiri masalah yang dihadapi dan potensi
yang dimiliki.
4. Melakukan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) untuk mendapatkan
dukungan dari tokoh masyarakat.
5. Membentuk dan memantau kegiatan Posyandu dengan kegiatan pemilihan
pengurus dan kader, orientasi pengurus dan pelatihan kader Posyandu,
pembentukan dan peresmian Posyandu, serta penyelenggaraan dan
pemantauan kegiatan Posyandu.

K. Peran kader (DEPKES RI, 2012)


1. Sebelum hari buka Posyandu
a. Persiapan penyelenggaran kegiatan Posyandu
b. Menyebarluaskan informasi hari buka Posyandu
c. Pembagian tugas antar kader
d. Koordinasi dengan petugas kesehatan dan petugas lainnya
e. Menyiapkan materi penyuluhan dan pemberian makanan tambahan
f. Menyiapkan buku catatan kegiatan Posyandu
2. Saat hari buka Posyandu
a. Pendaftaran
b. Pelayanan kesehatan ibu dan anak berupa penimbangan, mengukuran
tinggi badan, lingkar kepala, pemantauan aktifitas anak, status
imunisasi anak, pola asuh, permasalahan anak balita.
c. Membimbing orangtua
d. Penyuluhan pola asuh anak balita
e. Motivasi orangtua
f. Menyampaikan penghargaan kepada orangtua
g. Pencatatan kegiatan
Tabel Langkah Pelayanan Posyandu (DEPKES RI, 2006)

3. Sesudah hari buka Posyandu


a. Kunjungan rumah pada balita yang tidak hadir, anak yang kurang gizi
atau gizi buruk.
b. Motivasi masyarakat
c. Pertemuan dengan tokoh masyarakat
d. Mempelajari sistem informasi Posyandu

L. Tingkatan Posyandu (DEPKES RI, 2006) :


1. Posyandu Pratama
Posyandu pratama adalah Posyandu yang belum mantap, yang ditandai
oleh kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin serta jumlah
kader kurang dari 5 orang. Penyebab tidak terlaksanany kegiatan rutin
bulanan dikarenakan jumlah kader serta belum siapnya masyarakat.
Intervensi yang dapat dilakukan adalah memotivasi masyarakat serta
menambah jumlah kader.
2. Posyandu Madya
Posyandu madya adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan
kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader
sebanyak lima orang atau lebih, tatapi cakupan kelima kegiatan utamanya
masih kurang dari 50%. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan
peringkat adalah meningkatkan cakupan dengan mengikutsertakan tokoh
masyarakat sebagai motivator serta lebih menggiatkan kader dalam
mengelola kegiatan posyandu. Contoh intervensi yang dapat dilakukan :
a. Pelatihan tokoh masyarakat, menggunakan Modul Eskalasi Posyandu
dengan metode simulasi.
b. Menerapkan pendekatan PKMD, terutama SMD dan MMD di
Posyandu, dengan tujuan untuk merumuskan maslaah dan menetapkan
cara penyelesaiannya dalam rangka meningkatkan cakupan Posyandu.
3. Posyandu Purnama
Posyandu purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan
kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan ratarata kader sebanyak lima
orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%,
mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh
sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang
pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah kerja
Posyandu. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perbaikan peringkat
antara lai :
a. Sosialisasi program dana sehat yang bertujuan untuk memantapkan
pemahaman masyarakat tentang dana sehat.
b. Pelatihan dana sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh dana sehat
yang kuat, dengan cakupan anggota lebih dari 50% KK. Peserta
pelatihan adalah para tokoh masyarakat, terutama pengurus dana sehat
desa./ kelurahan, serta untuk kepentingan Posyandu mengikutsertakan
pula pengurus Posyandu.
4. Posyandu Mandiri
Posyandu mandiri adalah posyandu yang sudah dapat
melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun dengan rata-rata jumlah
kader sebanyak 5 orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamnya lebih
dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah
emmperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh
masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% KK yang bertempat tinggal di
wilayah kerja Posyandu. Intervensi yang dilakukan bersifat pembinaan
termasuk pembinaan program dana sehat, sehingga terjamin
kesinambungannya. Sealin itu dapat dilakukan intervensi memperbanyak
macam program tambahan sesuai dengan masalah dan kemampuan
masing-masing yang dirumuskan melalui pendekatan PKMD.

Tabel Indikator Posyandu (DEPKES RI, 2006)


Posyandu sendiri merupakan bagian dari POKJA IV. Berikut sedikit
penjelasan mengenai kedudukan Posyandu dalam POKJA IV (TP-PKK Kaltim,
2015). Pokja sendiri terbagi menjadi 4 yaitu :
1. POKJA I:
a. Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
b. Gotong Royong
2. POKJA II
a. Pendidikan dan Ketrampilan
b. Pengembangan Kehidupan Berkoperasi
3. POKJA III
a. Pangan
b. Sandang
c. Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga
4. POKJA IV
a. Kesehatan
b. Kelestarian Lingkungan Hidup
c. Perencanaan Sehat
POKJA IV mengelola Program Kesehatan, Kelestarian Lingkungan Hidup dan
Perencanaan Sehat.
Tugas:
1. Meningkatkan pencapaian tujuan pembangunan milenium antara lain :
a. Menghapus tingkat kemiskinan dan kelaparan (indikator antara lain:
menurunkan prefalensi anak balita yang kurang gizi).
b. Menurunkan angka kematian anak.
c. Meningkatkan kesehatan Ibu Hamil.
d. Memerangi penyebaran HIV/AIDS, Malaria dan penyakit menular
lainnya.
e. Menjamin kelestarian lingkungan hidup.
2. Meningkatkan budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
a. Mengembangkan dan membina pelaksanaan kegiatan POSYANDU.
b. Memonitor pelaksanaan Sistem Informasi Posyandu (SIP).
c. Melaksanakan pencatatan Ibu hamil, melahirkan, nifas, ibu meninggal,
kelahiran dan kematian bayi dan balita.
d. Tanam dan pelihara pohon dalam rangka mewujudkan kelestarian
lingkungan.
e. Mewujudkan keluarga kecil, bahagia, sejahtera dengan melaksanakan
program KB agar tercapai generasi yang sehat, cerdas dan tangguh.
f. Meningkatkan pengetahuan tentang budaya hidup hemat,
membudayakan kebiasaan menabung dan melaksanakan tatalaksana
keuangan keluarga dalam rangka mendukung perencanaan sehat.