Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kegiatan pertambangan telah dimulai sejak keberadaan manusia di dunia ini.
Demikian tuanya, sehingga pertambangan (yang dilakukan dengan maksud untuk
memanfaatkan sumberdaya mineral yang terdapat di bumi demi kesejahteraan
manusia) diyakini sebagai ikhtiar kedua yang dilakukan manusia, setelah kegiatan
pertanian / agrikultur. Tidak dapat dipungkiri, bahwa acapkali era budaya (cultural
ages of man) diasosiasikan dengan penemuan dan pemanfaatan mineral, antara lain:
zaman batu (stone age, sebelum 4000 SM), zaman tembaga (Bronze age, 4000 - 1500
SM), zaman besi (Iron age 1500 SM - 1780), zaman Baja (Steel age 1780 1945
M), dan zaman nuklir (Nuclear age sejak 1945 M). Dalam pelaksanaannya, kegiatan
pertambangan di suatu daerah akan memberikan dampak terhadap lingkungannya,
baik dampak positif maupun negatif. ( Nurhakim, 2003).
Pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang fokus pada
eksplorasi dan eksploitasi mineral serta batubara. Pertambangan bertujuan untuk
mengambil dan mengolah mineral dan batubara dalam bumi agara memiliki nilai jual
yang ekonomis. Dalam dunia pertambangan, ada beberapa metode dalam menambang
(ekploitasi) mineral maupun batubara. Secara garis besar metode penambangan
dibagi menjadi 3 yaitu, tambang permukaan, tambang bawah tanah dan tambang
bawah air. Metode-metode ini digunakan berdasarkan letak bijih. Dari semua jenis
metode penambangan, yang umumnya digunakan adalah open pit. Open pit adalah
salah satu jenis tambang permukaan yang digunakan untuk menambang bijih. Open
pit umumnya dipergunakan pada bijih yang letaknya tidak terlalu dalam dari
permukaan bumi (Hartman, 1987). Open pit ini memiliki beberapa jenis metode
tambang antara lain Open pit, Quarry mine, Open cast, Auger mine. Sehingga dengan
mengetahui macam metode tambang yang ada kita juga dapat mengetahui bagaimana
proses reklamasi yang tepat pada lahan bekas tambang tersebut.

1
Oleh karena itu melalui makalah ini kami menyajikan informasi tentang hal di
atas. Jika dalam penyusunannya terdapat kesalahan mohon kritik dan saran yang
membangun sehingga kedepannya kami dapat menjadi lebih baik lagi

1.2 Maksud dan Tujuan


1. 2.1 Maksud
1. Menjelaskan pengertian tambang terbuka / open pit
2. Menjelaskan macam-macam jenis tambang terbuka / Open pit
3. Menjelaskan tahap kegiatan penambangan pada tambang terbuka / open pit
4. Menjelaskan Alat berat yang umum digunakan pada tambang open pit
5. Menjelaskan penanganan reklamasi pada lahan bekas tambang open pit
6. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari tambang open pit

1. 2.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian tambang terbuka / open pit
2. Mengetahui macam-macam jenis tambang terbuka / Open pit
3. Mengetahui tahap kegiatan penambangan pada tambang terbuka / open pit
4. Mengetahui Alat berat yang umum digunakan pada tambang open pit
5. Menetahui penanganan reklamasi pada lahan bekas tambang open pit
6. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari tambang open pit

1.3 Batasan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan tambang terbuka / open pit ?
2. Jenis-jenis tambang terbuka/ open pit
3. Tahapan kegiatan dalam tambang terbuka / open pit ?
4. Reklamasi tambang terbuka/ open pit
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan tambang terbuka / open pit

2
1.4 Rumusan Masalah
Dalam dunia pertambangan sendiri sangat banyak metode yang digunakan,
antaranya metode open pit, metode yang digunakan sendiri tergantung dari jenis
endapan, karakteristik endapan dan letak endapan yang akan di tambang. Dewasa ini
banyak orang yang tidak mengetahui secara rinci tentang metode tersebut, oleh sebab
itu penulis akan membahas lebih jauh apa yang di maksud dengan metode tambang
open pit, jenis dalam tambang open pit, penanganan reklamsi tambang open pit, dan
dampak positif serta dampak negatif tambang open pit.

3
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pengertian Tambang Terbuka / Open Pit Mine


Sistem penambangan terbuka (surface mining) adalah sistem penambangan
yang seluruh kegiatannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi
dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan atmosfer atau udara luar.
Berdasarkan proses penambangannya, ada atau tidaknya air, sistem penambangan
terbuka terdiri dari metode ekstraksi secara mekanik dan metode ekstraksi dengan
air. Metode penambangan secara mekanik adalah metode penambangan dengan
menggunakan alat sederhana sampai menggunakan sistem elektronik dengan
pengendalian jarak jauh (Nurhakim, 2003).
Tambang terbuka adalah metode penambangan yang segala aktivitas
penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan
tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara bebas. Tambang bawah tanah
adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktivitasnya dilakukan di
bawah permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan
udara luar. Tambang bawah air adalah metoda penambangan yang kegiatan
penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral berharganya
terletak di bawah permukaan air. Dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta diaplikasikannya berbagai cara baru dalam usaha
mengambil bahan galian, saat ini yang diperlukan suatu klasifikasi metode
penambangan yang mempunyai ciri (Hartman, 1987):
Umum (dapat diaplikasikan pada tambang terbuka atau bawah tanah, untuk
semua komoditi tambang, batubara atau non batubara).
Meliputi metoda yang sedang berjalan dan metode baru (novel) yang sedang
dikembangkan tetapi belum dapat dibuktikan secara keseluruhan.
Mengenali perbedaan kelas metoda yang besar dan biaya relatif.

4
Secara garis besar, metode penambangan dapat digolongkan menjadi 3 (Hartman,
1987): , yaitu :
Tambang terbuka (surface mining)
Tambang dalam / bawah tanah (underground mining)
Tambang bawah air (underwater mining / marine mine)

2.2 Parameter Untuk Menggunakan Tambang Terbuka


Pemilihan metode penambangan didasarkan pada keuntungan terbesar yang
akan diperoleh. Pada awalnya pemilihan metode penambangan di dasarkan pada letak
endapan relatif terhadap permukaan dangkal atau dalam), serta mempunyai
perolehan tambang yang terbaik dengan memperhatikan karakteristik unik di daerah
yang akan ditambang (meliputi : alamiah, geologi, lingkungan, dll).
Faktor- faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem penambangan (Irwandy
Arief, 2004) adalah sebagai berikut :
1. Karakteristik spasial dari endapan
Faktor-faktor ini bisa jadi merupakan determinan terpenting, sebab
sangat mempengaruhi dalam pemilihan suatu daerah akan ditambang dengan
tambang terbuka atau bawah tanah, laju produksi, pemilihan metode
penanganan material dan lay-out tambang dari cebakan.
2. Kondisi Geologi dan Hidrogeologi
Karakteristik geologi dari mineral dan batuan induknya sangat
mempengaruhi pemilihan metode penambangan, khususnya dalam pemilihan
antara metode selektif atau tidak. Hidrologi mempengaruhi sistem drainase
dan pompa yang diperlukan. Sedangkan mineralogi mempengaruhi cara
pengolahan mineral.
3. Sifat-sifat Geoteknik (mekanika tanah dan batuan) untuk bijih dan batuan
sekelilingnya. Sifat mekanis dari material endapan dan batuan sekitarnya

5
merupakan faktor kunci dalam pemilihan peralatan pada tambang terbuka
(pada tambang bawah tanah hal ini berpengaruh pula pada kelas metoda yang
dipilih : unsupported, supported, atau caving)
4. Konsiderasi Ekonomi
Faktor-faktor ini akan mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa
pengembalian dan keuntungan
Cadangan (tonase dan kadar / kualitas)
Laju produksi (produksi per satuan waktu)
Umur tambang
Produktivitas (produksi per satuan pekerja dan waktu, missal
ton/karyawan-shift)
Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan
yang cocok
5. Faktor Teknologi
Perolehan tambang (mine recovery)
Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih / batubara)
Ke-fleksibelitas-an metode dengan perubahan kondisi
Selektivitas metode untuk batubara dan waste
Konsentrasi atau dispersi dari pekerjaan
Modal, pekerja, dan intensitas mekanisasi
6. Faktor Lingkungan
Kontrol bawah tanah
Penurunan permukaan tanah (subsidence)
Kontrol atmosfir (kontrol kualitas, kontrol panas dan kelembaban,
serta untuk tambang bawah tanah : ventilasi,)
Kekuatan pekerja (pelatihan, recruitment , kondisi kesehatan dan
keselamatan kerja, kehidupan dan pemukiman)

6
Tabel 2.1. Klasifikasi Metode Penambangan Hartman, 1987
KOMODITA
KELAS SUBKLAS METODE
AKSEPTANSI S
Metal,
*Open Pit Mining
Mekanis Nonmetal
(Mechanical Quarry Nonmetal

Coal,
) *Open Cast Mining
Nonmetal
Tambang Terbuka
Auger Mining Coal
(Surface Mining) Metal,
Hydraulicking
Nonmetal
Placer
Metal,
Aqueous Dredging
Nonmetal
TR Borehole Mining Nonmetal
Solution
AD Leaching Metal
*Room & Pillar Coal,
ISI
Mining Nonmetal
ON
*Stope & Pillar Metal,
AL
Mining Nonmetal
Unsupported
Tambang Bawah Metal,
Shrinkage Stoping
Tanah Nonmetal
Metal,
(Underground *Sublevel Stoping
Nonmetal
Mining) Cut and Fill Stoping Metal
Supported Stull Stoping Metal
Square Set Stoping Metal
*Longwall Mining Coal
Caving Sublevel Caving Metal
*Block Caving Metal
NO Rapid Excavation Noncoal
VE Automation,
All
L Robotics
Coal,
Hydraulic Mining
Softrock
UG Gasification Coal

7
Underground Hydrocarbon
Retorting s
Ocean Mining Metal
Nuclear Mining Noncoal
Extraterrestrial Metal,
Mining Nonmetal

Catatan : Tanda * menunjukkan metode paling penting dan paling sering digunakan
Sumber : Hartman, 1987

BAB III
JENIS-JENIS TAMBANG TERBUKA / OPEN PIT MINE

8
3.1 Jenis Tambang Terbuka
Metode penambangan terbuka dengan ekstraksi mekanis dapat
dibedakan menjadi 4 (Nurhakim, 2003) yaitu ;
1) Open pit mining
2) Quarry (Kuari)
3) Open cast mining
4) Auger mining

Keempat metoda tersebut adalah merupakan metode penambangan yang


berperan dalam menghasilkan 90% produksi bahan tambang yang dihasilkan
dari sistem tambang terbuka. Lebih spesifik lagi, jika dilihat dari
total produksinya maka tambang open pit (Gambar 3.1 dan Gambar 3.2) dan
open cast (Gambar 3.3) merupakan metode penambangan yang paling banyak
diterapkan dalam tambang terbuka.

3.1.1. Open pit


Open pit mining dicirikan dengan bentuk tambang berupa corong
(kerucut terbalik) di permukaan bumi. Pada open pit mining, tanah penutup
dikupas dan diangkut ke suatu daerah pembuangan yang tidak ada endapan
ekonomis di bawahnya. Kedua aktivitas, yaitu pengupasan dan penggalian,
dilakukan pada suatu pemuka kerja (front) yang berbentuk satu atau beberapa
jenjang. Pembuatan pemuka kerja lebih dari satu, baik pada elevasi yang sama
maupun beda elevasi, dimaksudkan untuk memastikan terjaminnya
kemenerusan produksi (tidak ada delay kerja).
Setelah didahului dengan aktivitas pengupasan lapisan penutup,
pengupasan dan penggalian bijih atau endapan target dilakukan secara
seksama dengan urut-urutan yang mengikuti kaidah perencanaan tambang,
sehingga biaya penggalian bijih/endapan target dan lapisan penutup dapat
dibayar dari penjualan bijih/ endapan target yang tergali, sedemikian

9
rupa sehingga operasional jangka panjang, yaitu pembukaan/ penggalian
sampai pit limit dapat tercapai.
Jenjang tunggal dirancang sesuai dengan peralatan mekanis yang
digunakan. Tinggi jenjang dibatasi oleh jangkauan excavator/shovel,
sedangkan lebar jenjang harus cukup luas bagi peralatan gali-muat dan truk
untuk bermanuver. Kemiringan lereng ditentukan berdasarkan perhitungan
kemantapan lereng dengan input berupa data sifat fisik dan data kuat geser
material pembentuk lereng tersebut. Beberapa variasi dari open pit mining dapat
dilihat pada (Gambar 3.4)

Gambar 3.1 Open Pit di Toquepala Peru (Diameter 1km Kedalaman 400m)
(Nurhakim, 2003)

10
Gambar 3.2 Tambang tembaga Open Pit di dekat laut (Nurhakim, 2013)

Gambar 3.3 Open Pit dan Open Cast (Nurhakim, 2003)

11
Gambar 3.4 Variasi Tambang dari berbagai Open pit Mining (Hartman , 1987)

3.1.2 Quarry (Kuari)


Kuari adalah jenis tambang terbuka yang diterapkan untuk
menambang endapan-endapan bahan galian industri atau mineral industri

12
(industrial minerals), misalnya penambangan batugamping, marmer, granit,
andesit dan sebagainya.
Kuari dapat menghasilkan material atau hasil tambang dalam bentuk
pecah- pecah (loose/broken stone) ataupun potongan batu dengan bentuk yang
teratur (dimensional stone). Namun demikian, ada beberapa ahli yang
menyatakan bahwa istilah Quarry hanya diterapkan pada tambang bahan galian
mineral non metal yang menghasilkan dimensional stones, sedangkan
tambang bahan galian mineral non metal yang menghasilkan bentuk pecah-
pecah (loose/broken material) tetap disebut open pit. Kuari tipe broken stone
(lihat Gambar 5.5) digunakan untuk menambang batuan yang berbentuk agregat
ataupun chemical limestone menggunakan metode peledakan untuk
menciptakan fragmentasi batuan. Tingkat produksi bahan galian lebih tinggi
daripada kuari tipe dimension stone. ( Nurhakim, 2003).

Gambar 3.5 Tambang Kuari Agregat ( Nurhakim, 2003).

13
Kuari tipe dimensional stone biasanya digunakan untuk menambang
batugamping, batupasir, granit, marble dan dolomit. Hasil dari penambangan ini
berupa batuan berbongkah besar (lihat Gambar 3.6 dan 3.7). Teknik yang
digunakan pada metode ini antara lain: jet burning, wire saw, chain saw with
tungsteen cutting teeth, dan slot drilling (lihat Gambar 3.8).

Gambar 3.6 Tambang Kuari Agregat ( Nurhakim, 2003).

Gambar 3.7 Tambang Kuari Dimensional Stone ( Nurhakim, 2003).

14
Gambar 3.8 Drilling dan Blasting Tambang Kuari Dimensional Stone ( Nurhakim, 2003).

Berdasarkan letak endapan yang digali atau arah penambangannya


secara garis besar kuari dapat dibagi menjadi dua golongan ( Nurhakim, 2003),
yaitu :
1. Side hill type, diterapkan untuk menambang batuan atau endapan mineral
industri yang letaknya di lereng bukit atau endapannya membentuk
bukit. Berdasarkan jalan masuk ke pemuka penambangan dibedakan
menjadi dua, yaitu :
Jalan masuk berbentuk spiral

15
Kuari tipe Side Hill dengan jalan masuk spiral diterapkan pada
cadangan endapan bahan galian yang berbentuk bulat atau
lonjong yang
membentuk bukit yang penambangannya dilakukan dengan
mengupas bagian atas bukit terlebih dahulu secara melingkar.
Jalan masuk langsung (Gambar 3.9.)
Kuari tipe Side Hill dengan jalan masuk langsung diterapkan pada
cadangan endapan bahan galian yang berbentuk atau memanjang atau
persegi yang terletak pada daerah berbukit yang
penambangannya
dimulai dari salah satu sisi
bukit.

Gambar 3.9 Kuari tipe Slide hill jalan masuk langsung ( Nurhakim, 2003).

2. Pit type, diterapkan untuk menambang batuan atau endapan mineral


industri yang terletak pada suatu daerah yang relatif datar. Jadi
tempat kerjanya digali ke arah bawah sehingga membuat cekungan (pit).
Berdasarkan jalan masuk ke pemuka kerja, memiliki tiga kemungkinan
jalan masuk, yaitu :

16
Jalan masuk spiral (Gambar 3.10)
Kuari tipe pit dengan jalan masuk spiral diterapkan pada cadangan
endapan bahan galian yang berbentuk bulat atau lonjong yang terletak
pada daerah yang datar.
Jalan masuk langsung (Gambar 3.11)
Kuari tipe pit dengan jalan masuk langsung diterapkan pada cadangan
endapan bahan galian yang berbentuk memanjang atau persegi
yang terletak pada daerah yang datar.

Gambar 3.10 Kuari tipe pit jalan masuk spiral ( Nurhakim, 2003).

17
Gambar 3.11 Kuari tipe pit jalan langsung ( Nurhakim, 2003).

3. Jalan masuk zig-zag


Kuari tipe pit dengan jalan masuk zigzag diterapkan pada
cadangan endapan bahan galian yang berbentuk memanjang atau
persegi yang terletak pada daerah yang datar, namun demikian jalan
akses jalan dibuat zig-zag. Pembuatan jalan zig-zag dapat disebabkan
antara lain karena :
Aktivitas penambangan sudah mencapai level yang cukup dalam
sehingga apabila dibuat jalan langsung maka kemiringan jalan akan
sangat curam yang tidak memungkinkan bagi alat angkut untuk
memulainya.
Sebagai upaya konservasi cadangan sehingga perolehan
penambangan tinggi.

18
Bentuk-bentuk kuari yang diuraikan diatas adalah bentuk-bentuk
dasar dari kuari yang tentunya masih banyak lagi variasinya. Pada umumnya
bentuk kuari yang akan diterapkan diusahakan agar menyesuaikan bentuk-bentuk
dasar tersebut dengan keadaan dan bentuk endapan serta topografi daerahnya.

3.1.3 Opencast Mining


Pada open pit mining, tanah penutup dikupas dan ditransportasikan ke suatu
daerah pembuangan yang tidak ada endapan ekonomis di bawahnya,
sedangkan open cast mining, metodanya hampir sama dengan open pit mining, tetapi
berbeda pada satu hal yaitu tanah penutup tidak dibuang ke daerah pembuangan di
luar tambang tetapi dibuang langsung ke lokasi bersebelahan yang telah ditambang. (
Nurhakim, 2003). Aktivitas penambangan material waste disini terdiri dari
penggalian, pengangkutan dan sekaligus penimbunan (casting), yang pada
umumnya dikombinasikan oleh suatu alat saja (lihat Gambar 3.12).

Gambar 3.12 Tambang Open Cast ( Nurhakim, 2003).

19
3.1.4. Auger
mining
Auger mining adalah sebuah metode penambangan yang berhadapan
dengan dinding yang tinggi atau penambangan singkapan (outcrop
recovery) lapisan batubara/endapan target dengan pemboran ke dalam
lapisan endapan tersebut tanpa melakukan penggalian lapisan penutup.
( Nurhakim, 2003).
Auger mining lahir sebelum 1940-an untuk mendapatkan
batubara pada sisi dinding tinggi (high wall) dari batas akhir tambang
(pit limit) terbuka secara konvensional. Penambangan batubara dengan
auger bekerja dengan prinsip drag bit rotary drill skala besar. Tanpa
merusak lapisan batubara dan juga lapisan batuan di atasnya, auger
mengekstraksi dan menaikkan batubara dari lubang dengan memanfaatkan
ulir di stang-bor dan kungkungan dinding lubang bor (lihat Gambar 3.13).
Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini adalah
endapan yang memiliki bentuk tabular dan berlapis, kemiringannya
mendekati horisontal, keseragaman bijih/endapan target tinggi, kadar
dapat sangat rendah dan kedalamannya dangkal (terbatas sampai ketinggian
dinding dimana auger ditempatkan).
Pengembangan dan persiapan daerah untuk auger mining
menjadi relatif mudah jika dilakukan bersamaan dengan pemakaian
metode open cast atau open pit. Setelah open pit / open cast selesai dan
belum dilakukan backfilling, auger drilling dapat ditempatkan pada lokasi
di dekat high wall.
Semua penambangan dengan menggunakan auger, diterapkan pada high
wall atau singkapan dari batubara di daerah pegunungan dan
dikombinasikan dengan metode penambangan open pit atau open cast
(Gambar 3.13c dan 3.13d)

20
Gambar 3.13. Contoh tambang auger pada highwall ( Nurhakim, 2003).

21
BAB IV
PROSES PEMBUATAN DAN TAHAP KEGIATAN PENAMBANGAN
PADA TAMBANG TERBUKA / OPEN PIT

4.1 Tahap Persiapan

Kegiatan kegiatan yang dilakukan pada awal proses pengambilan atau


penambangan bahan galian terdiri dari tahap persiapan (pra penambangan),
(Irwandy Arief, 2004) Kegiatan tersebut meliputi :

Pembuatan Jalan Rintasan


Jalan rintasan berfungsi sebagai jalur lewatnya alat alat berat ke lokasi
tambang, kemudian dikembangkan sebagai jalan angkut material dari front
penambangan ke lokasi pabrik peremukan. Pembuatan jalan diguna-kan
dengan memakai Bulldozer yang nantinya digunakan pula sebagai
pengupasan lapisan penutup (Gambar 4.1)

Gambar 4.1 Tahap pembukaan jalan (Irwandy Arief, 2004)

Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilakukan sebelum tahap pengupasan lapisan tanah penutup
dimulai. Pekerjaan ini meliputi pembabatan dan pengumpulan pohon yang
tumbuh pada permukaan daerah yang akan ditambang dengan tujuan untuk
membersihkan daerah tambang tersebut sehingga kegiatan penambangan
dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus terganggu dengan adanya
gangguan tetumbuhan yang ada didaerah penambangan. Kegiatan

22
pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan Bulldozer. Pembersihan
dilakukan pada daerah yang akan ditambang yang mempunyai ketebalan
overburden beberapa meter dengan menggunakan Bulldozer dan dilakukan
secara bertahap sesuai dengan pengupasan lapisan
tanah penutup.Dalam pembabatan, pohon didorong kearah bawah lereng
untuk dikumpulkan, dimana penanganan selanjutnya diserahkan pada
penduduk setempat. (Gambar 4.2).

Gambar 4.2 Tahap pembersihan lahan (Irwandy Arief, 2004)

Pengupasan Tanah Penutup


Pembuangan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk membersihkan
endapan batu yang akan digali dari semua macam pengotor yang menutupi
permukaanya, sehingga akan mempermudah pekerjaan penggaliannya
disamping juga hasilnya akan relatif lebih bersih (Gambar 4,3). Lapisan
tanah penutup pada daerah proyek terdiri atas dua jenis yaitu top soil dan
lapisan overburden sehingga lapisan dilakukan terhadap lapisan top soil
terlebih dahulu dan ditempatkan pada suatu daerah tertentu untuk tujuan
reklamasi nantinya. Setelah lapisan top soil terkupas, selanjutnya
dilakukan pengupasan pada lapisan overburden lalu didorong dan
ditempatkan pada daerah tertentu dan sebagian lagi digunakan sebagai

23
pengeras jalan. Kegiatan pengupasan dilakukan secara bertahap dengan
menggunakan bulldozer, dimana tahap pengupasan awal dilakukan untuk
menyiapkan jenjang pertama dan pengupasan berikutnya dapat dilakukan
bersamaan dengan tahap produksi, sehingga pola yang diterapkan adalah
seri dan paralel yang bertujuan untuk, menghemat investasi dan biaya
persiapan, menghindari pengotoran endapan batu gamping dari lapisan
penutup, sehingga mempermudah dalam pekerjaan penggalian, dan
,enghindari terjadinya longsoran dan bahaya angin.

Gambar 4.3 Tahap pengupasan tanah penutup (Irwandy Arief, 2004)

4.2 Peralatan Penambangan

Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan menggunakan


peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan diperlukan untuk menunjang
kegiatan penambangan, yaitu :

Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan pengupasan


lapisan tanah penutup
Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping hasil dari
pembongkaran keatas alat angkut.
Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front penambangan ke
tempat pabrik peremukan/penggerusan.

24
Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi sebagai alat
preparasi batu gamping dari front penambangan guna mendapatkan ukuran
butiran yang diinginkan oleh pasar.
Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang akan
dipakai sebagai penerangan, untuk alat pengolahan dan menggerakkan alat
alat yang bekerja didalam pabrik.
Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna
memenuhi kebutuhan peralatan dan karyawan.

4.3 Operasi Penambangan

Tujuan utama dari kegiatan penambangan adalah pengambilan endapan


dari batuan induknya, sehingga mudah untuk diangkut dan di proses pada proses
selanjutnya selanjutnya. Setelah operasi persiapan penambangan selesai dan
pengupasan lapisan tanah penutup pada bagian atas cadangan batugamping
terlaksana (arah kemajuan penambangan dari kontur atas ke bawah). Maka dapat
dimulai kegiatan operasi penambangan. Kegiatan penambangan terbagi atas tiga
kegiatan (Irwandy Arief, 2004), yaitu pembongkaran, pemuatan dan pengangkutan.
Adapun rincian dari ketiga kegiatan tersebut adalah:

Pembongkaran
Pembongkaran merupakan kegiatan untuk memisahkan antara
endapan bahan galian dengan batuan induk yang dilakukan setelah
pengupasan lapisan tanah penutup endapan batugamping tersebut selesai.
Pembongkaran dapat dilakukan dengan menggunakan peledakan, peralatan
mekanis maupun peralatan non mekanis. (Gambar 4.4)
Untuk kegiatan pembongkaran batugamping menggunakan
pemboran yang kemudian dilakukan peledakan. setelah batuan diledakkan
kemudian digusur menggunakan alat bulldozer, yang kemudian
dikumpulkan di tepi batas penambangan atau tepi jalan tambang tiap blok.
Banyaknya batugamping yang dibongkar tiap-tiap blok tidak sama,
tergantung persyaratan kualitas yang diminta oleh konsumen.

25
Gambar 4.4 Operasi Pembongkaran (Irwandy Arief, 2004)

Pemuatan
Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan atau
mengisikan material atau endapan bahan galian hasil pembongkaran ke
dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan dilakukan setelah kegiatan
penggusuran, pemuatan dilakukan dengan menggunakan alat muat Wheel
Loader dan diisikan ke dalam alat angkut. (Gambar 4.5).
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memindahkan batugamping
hasil pembongkaran kedalam alat angkut. Pengangkutan dilakukan dengan
sistem siklus, artinya truck yang telah dimuati langsung berangkat tanpa
harus menunggu truck yang lain dan setelah membongkar muatan
langsung kembali ke lokasi penambangan untuk dimuati kembali.

26
Gambar 4.5 Operasi Pemuatan (Irwandy Arief, 2004),

Pengangkutan
Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut
atau membawa material atau endapan bahan galian dari front
penambangan dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut.
Kegiatan pengangkutan menggunakan Dump Truck yang kemudian
dibawa ke tempat pengolahan untuk dilakukan proses peremukan
(crushing), jumlah truk yang akan digunakan tergantung dari banyaknya
material batugamping hasil peledakan yang akan diangkut. (Gambar 4.6).

Gambar 4.6 Operasi Pengangkutan (Irwandy Arief, 2004)

BAB V
REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG TERBUKA / OPEN
PIT

Secara umum yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam merehabilitasi


/reklamasi lahan bekas tambang yaitu dampak perubahan dari kegiatan
pertambangan, rekonstruksi tanah, revegetasi, pencegahan air asam tambang,

27
pengaturan drainase, dan tataguna lahan pasca tambang (Sabtanto Joko Suprapto,
2005). Kegiatan pertambangan dapat mengakibatkan perubahan kondisi
lingkungan. Hal ini dapat dilihat dengan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah,
yang juga berakibat pada terganggunya fungsi-fungsi lainnya. Di samping itu,
juga dapat mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati, terjadinya degradasi
pada daerah aliran sungai, perubahan bentuk lahan, dan terlepasnya logam-logam
berat yang dapat masuk ke lingkungan perairan.

5.1 Rekonstruksi Tanah


Untuk mencapai tujuan restorasi perlu dilakukan upaya seperti
rekonstruksi lahan dan pengelolaan tanah pucuk. Pada kegiatan ini, lahan yang
masih belum rata harus terlebih dahulu ditata dengan penimbunan kembali (back
filling) dengan memperhatikan jenis dan asal bahan urugan, ketebalan, dan ada
tidaknya sistem aliran air (drainase) yang kemungkinan terganggu. Pengembalian
bahan galian ke asalnya diupayakan mendekati keadaan aslinya. Ketebalan
penutupan tanah (sub-soil) berkisar 70-120 cm yang dilanjutkan dengan re-
distribusi tanah pucuk (Gambar 5.2). Lereng dari bekas tambang dibuat bentuk
teras, selain untuk menjaga kestabilan lereng, diperuntukan juga bagi penempatan
tanaman revegetasi (Gambar 5.1 dan 5.2).

Gambar 5.1. Skema bentuk teras kebun dan guludan (KPP Konservasi, 2006)

28
Gambar 5.2. Pengurugan kembali bekas tambang emas di Wetar (Foto koleksi R.
Hutamadi)
5.2 Revegetasi
Revegetasi Perbaikan kondisi tanah meliputi perbaikan ruang tubuh,
pemberian tanah pucuk dan bahan organik serta pemupukan dasar dan pemberian
kapur (Gambar 5.3). Kendala yang dijumpai dalam merestorasi lahan bekas
tambang yaitu masalah fisik, kimia (nutrients dan toxicity), dan biologi. Masalah
fisik tanah mencakup tekstur dan struktur tanah. Masalah kimia tanah
berhubungan dengan reaksi tanah (pH), kekurangan unsur hara, dan mineral
toxicity. Untuk mengatasi pH yang rendah dapat dilakukan dengan cara
penambahan kapur. Sedangkan kendala biologi seperti tidak adanya penutupan
vegetasi dan tidak adanya mikroorganisme potensial dapat diatasi dengan
perbaikan kondisi tanah, pemilihan jenis pohon, dan pemanfaatan mikroriza.
Secara ekologi, spesies tanaman lokal dapat beradaptasi dengan iklim
setempat tetapi tidak untuk kondisi tanah. Untuk itu diperlukan pemilihan spesies
yang cocok dengan kondisi setempat, terutama untuk jenis-jenis yang cepat
tumbuh, misalnya sengon, yang telah terbukti adaptif untuk tambang. Dengan
dilakukannya penanaman sengon minimal dapat mengubah iklim mikro pada
lahan bekas tambang tersebut. Untuk menunjang keberhasilan dalam merestorasi
lahan bekas tambang, maka dilakukan langkah-langkah seperti perbaikan lahan
pra-tanam, pemilihan spesies yang cocok, dan penggunaan pupuk. Untuk
mengevaluasi tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman pada lahan bekas
tambang, dapat ditentukan dari persentasi daya tumbuhnya, persentasi penutupan

29
tajuknya, pertumbuhannya, perkembangan akarnya, penambahan spesies pada
lahan tersebut, peningkatan humus, pengurangan erosi, dan fungsi sebagai filter
alam. Dengan cara tersebut, maka dapat diketahui sejauh mana tingkat
keberhasilan yang dicapai dalam merestorasi lahan bekas tambang.

Gambar 5.3 Reklamasi tambang dengan revegetasi (Sabtanto Joko Suprapto, 2005)

5.3 Penanganan Potensi Air Asam Tambang


Pembentukan air asam cenderung intensif terjadi pada daerah
penambangan, hal ini dapat dicegah dengan menghindari terpaparnya bahan
mengandung sulfida pada udara bebas (Suprapto,S.J, 2006). Secara kimia
kecepatan pembentukan asam tergantung pada pH, suhu, kadar oksigen udara

dan air, kejenuhan air, aktifitas kimia Fe3+, dan luas permukaan dari mineral
sulfida yang terpapar pada
udara. Sementara kondisi fisika yang mempengaruhi kecepatan pembentukan
asam, yaitu cuaca, permeabilitas dari batuan, pori-pori batuan, tekanan air pori,
dan kondisi hidrologi. Penanganan air asam tambang dapat dilakukan dengan
mencegah pembentukannya dan menetralisir air asam yang tidak terhindarkan
terbentuk.
Pencegahan pembentukan air asam tambang dengan melokalisir sebaran
mineral sulfida sebagai bahan potensial pembentuk air asam dan menghindarkan
agar tidak terpapar pada udara bebas. Sebaran sulfida ditutup dengan bahan

30
impermeable antara lain lempung, serta dihindari terjadinya proses pelarutan,
baik oleh air permukaan maupun air tanah.
Produksi air asam sulit untuk dihentikan sama sekali, akan tetapi dapat
ditangani untuk mencegah dampak negatif terhadap lingkungan. Air asam diolah
pada instalasi pengolah untuk menghasilkan keluaran air yang aman untuk
dibuang ke dalam badan air. Penanganan dapat dilakukan juga dengan bahan
penetral, umumnya menggunakan batugamping, yaitu air asam dialirkan
melewati bahan penetral untuk menurunkan tingkat keasaman

5.4 Pengaturan drainase


Pelarutan sulfida logam dan bencana banjir yang sangat berbahaya,
dapat menyebabkan rusak atau jebolnya bendungan penampung tailing serta
infrastruktur lainnya. Kapasitas drainase harus memperhitungkan iklim dalam
jangka panjang, curah hujan maksimum, serta banjir besar yang biasa terjadi
dalam kurun waktu tertentu baik periode waktu jangka panjang maupun
pendek. Arah aliran yang tidak terhindarkan harus meleweti zona mengandung
sulfida logam, perlu pelapisan pada badan alur drainase menggunakan bahan
impermeabel. Hal ini untuk menghindarkan pelarutan sulfida logam yang
potensial menghasilkan air asam tambang (Gambar 5.4).

Gambar 5.4 Reklamasi tambang pengaturan Drainase (Sabtanto Joko Suprapto, 2005)

5.5 Tataguna Lahan Pasca Tambang

31
Lahan bekas tambang tidak selalu dekembalikan ke peruntukan semula.
Hal ini tertgantung pada penetapan tata guna lahan wilayah tersebut.
Pekembangan suatu wilayah menghendaki ketersediaan lahan baru yang dapat
dipergunakan untuk pengembangan pemukiman atau kota. Lahan bekas
tambang bauksit sebagai salah satu contoh, telah diperuntukkan bagi
pengembangan kota Tanjungpinang (Gambar 5.5)

Gambar 5.5. Reklamasi lahan bekas tambang untuk pemukiman dan pengembangan
kota, Tanjungpinang, Bintan (Rohmana dkk., 2007)

Pemilihan spesies untuk revegetasi terkait juga tataguna lahan pasca


tambang. Perkembangan harga minyak bumi akhir-akhir ini, memberikan
peluang untuk pengembangan bio-energi, diantaranya dengan pengembangan
tanaman jarak pagar untuk menghasilkan minyak. Sebagian lahan bekas
tambang telah dicanangkan untuk program pengembangan bio-energi
tersebut. Kelebihan jarak pagar adalah selain mampu mereklamasi bekas lahan
tambang dalam waktu singkat, tanaman ini juga menghasilkan sumber energi
terbarukan biodisel.

5.6 Keuntungan dan kerugian metode penambangan open pit


Beberapa keuntungan yang diperroleh bila menggunakan tambang terbuka
(Nurhakim 2003) diantaranya yaitu:

32
Produksi tinggi
Relatif lebih aman
Ongkos penambangan per ton atau per bcm endapan mineral/bijh
lebi murah karena tidak perlu adanya penyanggaan, ventilasi dan
penerangan.
Kondisi kerjanya baik, karena berhubungan langsung dengan udara luar
dan sinar matahari.
Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat lebih leluasa,
se hingga produksi bisa lebih besar.
Pemakaian bahan peledak bisa lebih efisien, leluasa dan hasilnya lebih
baik, karena di daerah yang terbuka.

Kerugian metode penambangan open pit (Nurhakim 2003):


Para pekerja langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca, dimana hujan
yang lebat atau suhu yang tinggi mengakibatkan efisiensi kerja menurun,
sehingga hasil kerja juga menurun.
Kedalaman penggalian terbatas, karena semakin dalam penggalian akan
semakin banyak tanah penutup (overburden) yang harus digali.
Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah yang
jumlahnya cukup banyak.
Alat-alat mekanis letaknya menyebar.
Pencemaran lingkungan hidup relatif lebih besar.

33
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari perbandingan kedua studi kasus tersebut, maka didapat suatu
kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut adalah metoda
penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada
pada suatu batuan yang berada atau dekat dengan permukaan.

34
5.1.2 Jenis metode tambang terbuka / Open pit terdiri berdasarkan ekstraksi
mekanis atas 4 (empat) macam antaranya open pit mine, quarry mine,
open cast, auger mine.
5.1.3 Pemilihan sistem penambangan di pengaruhi oleh beberapa faktor
antaranya kondisi hidrogeologi, konsidi geoteknik, karakteristik
endapan dan kondisi ekonomi
5.1.4 Tahap kegiatan penambangan Open pit terdiri atas 2 (dua) tahap
antaranya, tahap persiapan, dan tahap operasi penambangan.
5.1.5 Reklamasi dalam penanganan lahan bekas tambang dapat terbagi
menjadi 5 (lima) penanganan antaranya revegetasi, pengaturan
drainase, rekonstruksi tanah, penanganan air asam tambang, dan
penaganan tataguna lahan bekas tambang.

DAFTAR PUSTAKA

Hartman, H.L., 1987, Introductory Mining Engineering, John Wiley and Sons,
New York.
Herlina, 2004. Melongok Aktivitas Pertambangan Batu Bara Di Tabalong,.
Banjarmasin Post, Banjarmasin
Irwandy Arief, 2004. Tambang Terbuka, Teknik Pertambangan ITB, Bandung
Nurhakim, 2003, Tambang Terbuka, Teknik Pertambangan Universitas Lambung
Mangkurat. Banjarbaru.

35
Sabtanto Joko Suprapto, 2006. Reklamasi Lahan Bekas Tambang dan Aspek
Konservasi Bahan Galian, Pusat Sumber Daya Geologi. Bandung.
Suprapto, S.J., 2006. Pemanfaatan dan Permasalahan Endapan
Mineral Sulfida pada Kegiatan Pertambangan. Buletin Sumber Daya
Geologi. Vol. 1 No. 2.

36