Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MAKALAH

ENTERITIS PADA ANJING

Oleh :
Ilham Maulana H 145130101111050
Ajeng Gradianti 145130100111027
Anis Aniqoh 145130100111033
Annisa Widowati 145130101111057
Ayu Pradnyani Putri 145130101111061
Nastiti Nur Patria Westri 145130100111030
Grahadenata Hana putra 145130101111060

Kelas 2014 C/Kelompok C3

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anjing adalah mamalia yang telah mengalami domestikasi dari serigala sejak 15.000
tahun yang lalu atau mungkin sudah sejak 100.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti genetik
berupa penemuan fosil dan tes DNA. Penelitian lain mengungkap sejarah
domestikasi anjing yang belum begitu lama.

Anjing merupakan hewan mamalia yang paling sering dipelihara untuk dijadikan
hewan kesayangan maupun untuk berburu di hutan. Banyak pemilik anjing yang tidak
mengetahui berbagai macam penyakit yang dapat ditimbulkan dari anjing itu sendiri dan
banyak pula penyakit yang dapat diderita oleh anjing. Penyakit yang sering timbul di anjing
adalah penyakit kulit,respirasi dan juga penyakit saluran pencernaan seperti kembung,diare,
maupun enteritis.

Enteritis adalah proses radang usus berjalan akut atau kronis akan menyebabkan
peningkatan peristaltik usus, kenaikan jumlah sekresi kelenjar pencernaan serta penurunan
proses penyerapan cairan maupun penyerapan sari-sari makanan didalamnya. Radang usus
primer maupun sekunder ditandai dengan menurunnya nafsu makan, menurunnya kondisi
tubuh, dehidrasi dan diare. Perasaan sakit karena adanya radang usus bersifat bervariasi,
tergantung pada jenis hewan yang menderita serta derajat radang yang dideritanya.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui bentuk patologi anatomi dari intestine yang terkena enteritis
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Enteritis merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan terjadinya peradangan
pada mukosa usus yang menimbulkan gangguan fungsi usus dimana peristaltik dan sekresi
usus meningkat, namun fungsi dan absorbsi usus berkurang sehingga menimbulkan gejala
klinis berupa diare. Enteritis biasanya dapat juga terjadi bersama dengan gastritis sehingga
disebut dengan gastroenteritis (Bhat, 2013).

Gejala klinis yang umum ditemukan pada enteritis adalah sakit pada abdomen, diare
dan kadang-kadang dapat menyebabkan disentri. Diare akibat dari enteritis dapat bersifat
kataralis ataupun berdarah dan tergantung dari agen yang menginfeksi. Enteritis yang terjadi
dapat berlangsung akut atau kronis. Enteritis akut dapat berlangsung dalam 24 jam,
sedangkan enteritis kronis dapat berlangsung selama beberapa bulan. Pada enteritis akut
ditandai dengan gejala sakit pada abdomen, anoreksia, diare bentuk charlatanistic dengan
konsistensi feses lembek atau air dan menghasilkan bau yang tidak enak. Pada enteritis kronis
ditandai dengan gejala diare mengandung darah dan sisa-sisa mukosa serta berlendir, nafsu
makan biasanya sudah normal tetapi rasa haus meningkat, dan rasa sakit pada abdomen
jarang ditemukan. Gejala lain yang ditemukan pada enteritis yaitu terdapat feses yang masih
menempel pada daerah sekitar anus, ekor samapi ke paha, pada saat auskultasi abdomen
menandakan peningkatan motilitas dan fluiditas dari usus, pada kasus yang berat terjadi
shock dengan denyut jantung yang tidak beraturan, kadang-kadang terjadi demam, terjadi
dehidrasi pada diare yang parah Intususepsio usus atau prolapsus rektum dapat terjadi pada
kasus diare yang sangat berat (Bhat, 2013).

Enteritis dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor penyebab dengan tingkat
keparahannya yang bervariasi tergantung dari agen penyebab dan faktor dari inang yang
terinfeksi seperti immunitas, stress, kondisi gizi dan umur. Berikut ini akan diuraikan agen
penyebab dari enteritis yaitu sebagai berikut:

1. Virus, misalnya virus rinderpest, bovine viral diarrhea, virus enteritis, infetious
bovine rhinotracheitis, blue tongue, canine parvovirus, canine distemper virus dan
canine coronavirus.
2. Bakteri yang sering menyebabkan enteritis adalah E.coli, Salmonella spp.,
Clostridium perferingen dan Mycobacterium paratuberculosae.
3. Protozoa yang dapat menyebabkan diare yaitu Eimeria sp., yang biasanya menyerang
ternak muda, Giardia sp., Coccidia sp., Trichomonas sp.
4. Cacing usus yang termasuk di dalam famili Strongylidae, Oesophagostomum sp,
Trichostrongylus sp., Cooperia sp. dan Nematodirus sp. sering menyebabkan
kerusakan selaput lendir usus, Paramphistomum sp., Copperia sp., Chabertia sp., dan
Nematodirus sp.
5. Keracunan karena bahan-bahan kimia dan juga bisa disebabkan oleh tanaman
beracun. Keracunan oleh bahan-bahan kimia diantaranya timbal, arsen, fosfor,
tembaga dan bahan kimia lainnya menyebabkan enteritis.
6. Agen fisik yaitu apabila menelan sejumlah besar pasir atau debu. Hal biasanya terjadi
pada kuda (sand kolik)
7. Memakan makanan yang berlebihan berupa biji-bijian yang dapat menghasilkan
sejumlah besar asam laktat yang dapat memicu enteritis (Bhat, 2013).

Terapi yang seharusnya diberikan terhadap penderita diare yaitu memberikan antibiotik
spektrum luas, vitamin atau multivitamin untuk memperbaiki kondisi tubuh serta pemberian
infus atau cairan sebagai pengganti cairan tubuh akiat dehidrasi. Absorbensia (kaolin) dapat
digunakan untuk meningkatkan konsistensi feses serta antispasmodik (papaverin HCl) untuk
menurunkan gerakan peristaltik usus. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan
analgesika (antalgin, aspirin) dan jika penyebab enteritis adalah keracunan maka dapat
diberikan susu untuk menghentikan kerja racun. Selain itu, pemberian obat antihelmintik dan
antiprotozoa juga dianjurkan terutama bila didukung oleh hasil pemeriksaan feses. Hewan
dengan enteritis bakterial atau kerusakan mukosa usus harus diobati menggunakan antibiotik
berspektrum luas (Bhat, 2013).

Hemoragi gastroenteritis pada anjing yang ditandai dengan feses berdarah.


Gambaran patologi anatomi dari usus halus yang mengalami enteritis kataral akut

BAB III
PEMBAHASAN

Enteritis hemorrhagic pada anjing diduga di akibat kan oleh infeksi atau
hipersensitivitas terhadap bakteri Clostridium perfringens. Clostridium.,spp. Telah
diidentifikasi dari kultur bakteri maupun imunohistopatologi hasil biopsi dari anjing penderita
enteritis, mengindikasikan adanya overgrowth (pertumbuhan berlebih) dari bakteri Clostridia.
Nekrosis hemorrhagic mukosa usus akut dan inflamasi neutrofilik merupakan merupakan lesi
yang dominan pada pemeriksaan histologis, dengan lesi terparah terletak pada usus
besar.Adanya kebocoran cairan jaringan, protein plasma, dan sel darah merah kedalam lumen
usus menyebabkan peningkatan permeabilitas usus (Greene, 2013)

Diagnosis:

Diagnosa enteritis umumnya berdasarkan sinyalemen dan onset akut dari gejala klinis
dengan hemokonsentrasi (PCV 55%) dan pengurangan konsentrasi protein plasma. Kultur sel
ektif untuk pathogen padafeses (Clostridium sp, Salmonella sp, Yersinia sp, Campylobacter
sp, EnterotoxigenicE.Coli, dll) dan evaluasi enterotoxin Clostridium sp menggunakan ELISA
feses. Adanya neutropenia mengindikasikan adanya sepsis/ enteritis causa parvovirus. Profil
serum biokimiawi juga menunjukkan panhipoproteinemia, hipoglikemia, dan abnormalitas
elektrolit yang seiring dengan menurunnya intake GIT. Radiografi dan USG menunjukkan
adanya difus pada ileus dan usus penuh cairan. Diagnosa banding dari enteritis yakni bakteri,
virus (parvovirus, coronavirus), dan parasit (Trichurisvulpis, Ancylostomasp, Uncinariasp,),
gastroenteritis, hipoadrenocorticism, pankreatitis, gagalginjal, penyakithepar, koagulopati,
ulserasi pada gastrointestinal, danneoplasia (Greene, 2013)

Treatment dan Prognosis:

Penanganan yang diberikan berupa terapi cairan secara intravena. Tingkat administrasi
cairan isotonic didasarkan dari perfusi pasien dan derajat dehidrasi. Anjing dengan gejala
hipoproteinemia atau syok dapat diberikan terapi koloid alami maupun sintesis. Antibiotik
parenteral dianggap efektif dalam melawan Clostridium sp (mis. Ampicillin 22
mg/kgBBsecara IV 3-4 kali per hari, atau metronidazole 7,5 mg/KgBBsecara IV dua kali
sehari dan untuk mengurangi potensi sepsis sekunder (Bonagura, 2013)

Penanganan antibiotika tambahan untuk bakteri gram negative (mis, enrofloxacin 5-10
mg/kg/hari secara IV) dapat dilakukan pada hewan dengan kondisi sepsis atau neutropenia.
Berdasarkan konsentrasi serum kalium, pengaturan cairan harus disuplmentasikan dengan
kalium klorida 20-40 mEq/L untuk mencegah terjadinya hypokalemia. Anjing dengan
hipoglikemia membutuhkan suplemen dextrose (2,5%-5%) secara intravena. Perawatan
tambahan termasuk terapi antiemesis dan manajemen pakan. Rehidrasi dengan larutan
elektrolit (7% dehidrasi, penggantian tiap 12 jam sekali dan diberikan tiap 4 jam sekali
(Bonagura, 2013)

Gejala klinis

Pada kondisi akut akan terjadi diare yang bercampur dengan darah, nafsu makan turun,
suhu badan berubah tidak normal, kulit dan mukosa kering karena mengalami dehidrasi. Jika
enteritis dengan feses bercampur darah merah segar kemungkinan enteritis tersebut terjadi di
bagian usus besar, sedangkan jika feses bercampur darah yang sudah berubah warna
kecoklatan berarti enteritis tersebut terjadi pada bagian usus halus

Patologi anatomi

Enteritis yang terjadi pada anjing penyebabnya sangat bervariasi misalnya virus,
bakteri, helmint dll. Tetapi yang sering terjadi pada anjing adalah enteritis yang disebabkan
oleh virus dengan nama penyakitnya Parvovirus. Semua gejala klinis untuk enteritis hampir
sama, tetapi jika penyebabnya berbeda maka cara penanganannya harus berbeda obatnya
(Ruaux, 2011)

1. Makros
Secara makroskopis akan tampak perubahan pada intestine. Pada fase akut akan
ditemukan adanya hemoraghi di dalam intestine, permukaannya sudah berubah tidak seperti
normalnya. Pethechiae bisa di temukan di dalam intestine bila penyebabnya seperti helminth.
Intestinal akan memiliki warna yang lebih pucat dari normalnya karena sistem yang bekerja
telah terganggu. Bisa ditemukan juga adanya inflamasi di intestine tersebut. Hemoraghi
terjadi karena pathogen tersebut berhasil masuk ke jaringan dan merusak pembuluh darah
yang akan menyebabkan terganggunya kerja intestine dalam penyerapan sari-sari makanan
(Ruaux, 2011)

2. Mikros
normal

Enteriti
s

Pada anjing yang terkena enteritis bagian dari fili nya telah mengalami perubahan jika
diamati secara mikroskopi. Virus atau agen lainnya bisa masuk ke dalam jaringan usus dan
merusak pembuluh darah. Semakin banyaknya paparan yang ada akan menyebabkan sitem
imun meyerang agen pathogen tersebut. Dan pada intestine tersebut akan terjadi inflamasi
karena adanya respon imun yang terus menyerang pathogen tersebut. Pathogen tersebut bisa
terus masuk ke pembuluh darah yang ada di intestine, merusak jaringan dan merusak
vascularisasi sehingga terjadilah hemoragi ( Vet edu, 2013)

Fili dan epitel di intestine berfungsi sebagai barier dan dibantu dengan sistem imun
seperti sel T, sel B, MAC, NK yang akan mempertahankan kondisi tetap aman bila ada
penyerangan atau ada pathogen yang masuk. Mediator inflamasi yang dilepas akan
menyebabkan inflamasi di jaringan intestine tersebut. Inflamasi tidak akan bahaya jika masih
bisa dikondisikan, tetapi dia akan membahayakan jika kerjanya terlalu banyak dan akan
menimbulkan inflamasi di seluruh permukaan intestine. Hal ini akan memicu terganggunya
penyerapan air, sari-sari makanan, dan gerak peristaltik bisa terganggu juga (Vet edu, 2013)
BAB IV

PENUTUP

Canine parvovirus merupakan penyakit yang penting pada anjing karena menyebabkan
kematian yang tinggi pada populasi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi
terutama pada penangkaran dan peternakan anjing komersial. Gastroenteritis pada kucing dan
anjing disebabkan oleh banyak agen yang sama seperti penyebab penyakit pada manusia.
Organisme paling umum yaitu: Campylobacter, Clostridium difficile, Clostridium
perfringens, dan Salmonella. Banyak tanaman beracun juga menyebabkan gejala
gastroenteritis. Beberapa agen lebih spesifik terhadap spesies tertentu. Koronavirus
gastroenteritis menular(TGEV) yang terjadi pada babi mengakibatkan muntah, diare dan
dehidrasi. Penyakit ini diyakini ditularkan kepada babi oleh burung liar dan tidak ada
pengobatan spesifik yang tersedia. Jenis ini tidak menulari manusia.
DAFTAR PUSTAKA

Bhat, Abid A., and Wadhwa Des R. 2013. Haematological and biochemical analysis in
canine enteritis. India: Negi College of Veterinary and Animal Sciences.

Bonagura, John D. Twedt, David C. 2013. Kirks Current Veterinary Therapy XV.
Elsevier Health Sciences.

Greene, Craig E. 2013. Infectious Diseases of the Dog and Cat.Elsevier Health
Sciences.

Ruaux, Craig G. 2011. Hemorraghical Gastroenteritis in Dog. Elsavier by Sounder.

Vet uga edu. 2013. Gastroenteritis small Animal. Digestive Pathology.