Anda di halaman 1dari 42

PROPOSAL

HUBUNGAN PARITAS PRIMIGRAVIDA DENGAN HIPEREMESIS


GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL TRIMESTER 1 DI BPM AFAH FAHMI
Amd.Keb SURABAYA

NURHAIRUNNISAH
NIM :121151051

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURABAYA


PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN
SURABAYA
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambung dan terdiri

dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot,

nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang

hasil konsepsi sampai aterm.(Manuaba, 2010)


Kehamilan merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi

perempuan, keluarga dan masyarakat. Perilaku ibu selama masa kehamilannya

akan mempengaruhi kehamilannya, perilaku ibu dalam mencari penolong

persalinan akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janin serta mencegah

komplikasi pada saat kehamilan dan persalinan sebagai satu kesatuan yang

utuh. (Marmi, S.ST, 2011)


Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60%

multigravida. Satu diantara 1000 kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih

berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormone

estrogen dan HCG dalam serum. Hiperemesis gravidarum adalah vomitus

yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan

dehidrasi, ketidaksambungan elektrolik, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan

berat badan. (Eni NurRahmawati, 2011:50)


Pengawasan sebelum lahir (antenatal) terbukti mempunyai kedudukan

yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik

serta dalam membina suatu hubungan dalam proses pelayanan pada ibu hamil

untuk persiapan persalinannya. Dengan pengawasan tersebut dapat diketahui

berbagai komplikasi yang dapat mempengaruhi kehamilan sehingga dapat

segera diatasi. (Nurul Jannah, 2012:9)


Menurut Kemenkes RI 2012. Sesuai target MDGs 2015, AKI harus

diturunkan sampai 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.

Sehingga untuk dapat mencapai target MDGs, diperlukan terobosan dan upaya

keras dari seluruh pihak, baik Pemerintah, sector swasta, maupun masyarakat.

(www.Kesehatanibu.Depkes.go.id)
Hal ini ditunjang pula dengan kondisi social ekonomi sebagian masyarakat

yang masih berada digaris kemiskinan. Selain itu, tidak meratanya fasilitas

kesehatan dan tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia

turut menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan ibu.


Dengan pentingnya penurunan AKI di Indonesia, sehingga diperlukan

program terobosan yang memfokuskan pada kesehatan ibu, khususnya

didaerah-daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan. Meningkatkan

pengetahuan para ibu sehingga mereka mau, sadar dan mampu mencegah

masalah kesehatannya, dan perlu ditunjang dengan peningkatan kualitas

fasilitas pelayanan kesehatan dan sarana prasarana lainnya. (Kementerian

Kesehatan RI. 2014)


Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013 yang dilakukan

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes)

Kementerian Kesehatan telah dipublikasikan. Riset yang dilakukan di 33

provinsi dan 497 kabupaten/kota tersebut di antaranya dimaksudkan untuk

memotret profil kesehatan ibu di tingkat masyarakat. Dari hasil Riskesdas

2013 dan 2010, dapat diketahui bahwa secara umum, akses masyarakat

terhadap pelayanan kesehatan ibu dari tahun ketahun cenderung semakin

membaik.
Di samping peningkatan akses dan kualitas masyarakat yang semakin

membaik, upaya peningkatan kesehatan ibu masih menghadapi berbagai

tantangan. Tantangan pertama adalah bagaimana menurunkan proporsi anemia

pada ibu hamil. Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat 37,1% ibu hamil

anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan

proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan

perdesaan (37,8%).
Tantangan kedua adalah proporsi Wanita Usia Subur (WUS) dengan

Kurang Energi Kronis (KEK), yaitu WUS dengan lingkar lengan atas kurang

dari 23,5 cm. Berdasarkan Riskesdas 2013, terjadi peningkatan proporsi ibu

hamil usia 15-19 tahun dengan KEK dari 31,3% pada tahun 2010 menjadi

38,5% pada tahun 2013. Tren peningkatan serupa juga terjadi pada WUS usia

15-19 tahun yang tidak hamil, yang proporsinya meningkat dari 30,9% pada

tahun 2010 menjadi 46,6% pada tahun 2013.

Selain tantangan tersebut, tantangan yang tak kalah besar adalah

bagaimana mempercepat penurunan angka kematian ibu menjadi 118 per

100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 sebagaimana diamanatkan RPJMN

2010-2014 dan 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 sebagai

target MDGs. Upaya peningkatan kesehatan ibu dan penurunan angka

kematian ibu mustahil dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah, terlebih

dengan berbagai keterbatasan sumber daya yang dimiliki tenaga, sarana

prasarana, dan anggaran. Oleh karena itu, mutlak diperlukan kerjasama lintas

program dan lintas sector terkait, yaitu pemerintah daerah, sector swasta,
organisasi profesi kesehatan, kalangan akademisi, serta lembaga dan organisasi

kemasyarakatan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Berdasarkan survey awal yang diambil pada tanggal 10 mei 2015 di

BPM Afah Fahmi Amd.Keb Surabaya yaitu jumlah populasi ibu hamil

primigravida trimester 1 pada 3 bulan terakhir yaitu 91 orang, yang terdiri dari

bulan april sebanyak 37 orang, bulan mei sebanyak 24 orang, dan pada bulan

juni sebanyak 30 orang.

1.2 Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah


Faktor-faktor yang mempengaruhi hiperemesis gravidarum pada ibu hamil,

yaitu: faktor internal (Usia, Psikologis, hormon), faktor eksternal (Pendidikan,

Pengetahuan, Pekerjaan, Sosial dan Budaya).


1.2.2 Batasan Masalah
Mengingat banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hiperemesis

gravidarum maka penulis hanya membatasi paritas primigravida dengan

hiperemesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di BPM Afah Fahmi

Amd.Keb.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dirumuskan masalah adalahadakah

hubungan paritas primigravida dengan hiperemesis gravidarum pada ibu hamil

trimester I di BPM Afah Fahmi Amd,Keb?.


1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hiperemesis

gravidarum di BPM Afah Fahmi Amd,Keb.

1.4.2 Tujuan Khusus


1.4.2.1 Mengidentifikasi ibu hamil Trimester I dengan paritas pada

Gravida berdasarkan usia, pendidikan dan pekerjaan di BPM Afah

Fahmi Amd,Keb Surabaya.


1.4.2.2 Mengidentifikasi ibu hamil Primigravida Trimester I yang

mengalami hiperemesis gravidarum di BPM Afah Fahmi

Amd,keb Surabaya.
1.4.2.3 Menganalisis hubungan paritas primigravida dengan hiperemesis

gravidarum pada ibu hamil trimester I di BPM Afah Fahmi

Amd,keb Surabaya.
1.5 Manfaat Penulisan
1.5.1 Secara Teoritis
1.5.1.1 Bagi Peneliti
Merupakan pengalaman yang sangat berharga dapat menambah

kemampuan dalam penerapan manajemen asuhan kebidanan khususnya

hiperemesis gravidarum.

1.5.1.2 Bagi Petugas Kesehatan


Sebagai masukan bagi petugas kesehatan utamanya bidan dalam

penanganan kasus khususnya yang berkaitan dengan hiperemesis

gravidarum.
1.5.2 Secara Praktis
1.5.2.1 Bagi Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam

meningkatkan keterampilan bidan untuk mengatasi masalah

hiperemesis gravidarum
1.5.2.2 Bagi Ibu Hamil
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengetahuan ibu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan


untuk mengatasi ketidaknyamanan dalam kehamilan salah

satunya hiperemesis gravidarum pada ibu hamil trimester I.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIK


2.1 TINJAUAN PUSTAKA
Hasil penelitian terdahulu dari Risma Karlina Putri (2013) dengan

judul Hubungan Paritas Dan Status Nutrisi Dengan Hiperemesis

Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I Di Rb Nh Kuwaron Gubug

Kab.Purwodadi Metode Penelitian ini merupakan penelitian Analitik

dengan menggunakan rancangan restrospective. Subyek penelitian adalah

30 orang ibu hamil trimester I di RB NH kuwaron gubug kab. purwodadi

yang diambil secara proportional stratified random sampling.Variabel bebas

adalah paritas dan status nutrisi. Variabel terikat adalah hiperemesis

gravidarum. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi.


Dari hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa terdapat

beberapa perbedaan yang terletak pada judul,jumlah populasi,tehnik, dan

pengumpulan data. Judul penelitian terdahulu adalah Hubungan Paritas Dan

Status Nutrisi Dengan Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I

sedangkan penelitian saat ini berjudul Hubungan Paritas Primigravida

Dengan Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester 1 tehnik


pengumpulan data sebelumnya kusioner dan observasi sedangkan penelitian

saat ini menggunakan tehnik kusioner.Jumlah populasi pada penelitian

sebelumnya yaitu 30 orang sedangkan pada penelitian saat ini populasinya

30 orang.
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan

judulHubungan Paritas Primigravida Dengan Hiperemesis Gravidarum

Pada Ibu Hamil Trimester 1 Di BPM Afah Fahmi Amd.Keb Surabaya.

2.2 LANDASAN TEORITIK

2.2.1 Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah suatu peristiwa persatuan antara sel mani dengan

sel telur. Fertilisasi terjadi di ampila tuba, hanya satu sperma yang telah

mengalami proses kapasitasi dapat melintasi zona pelusida mengalami

perubahan sehingga tidak dapat dilalui sperma lain. (Hutari Puji A,2012)

Menurut federasi obstetri Ginekologi internasional, kehamilan di

definisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum

dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat

fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam

waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender

internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu

berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13

hingga ke-27), dan trimester ke-3 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).

(Sarwono,2013)
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan

spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi dan implantasi. Bila
dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari).

(Bayu Irianti, 2014)

2.2.2 Peristiwa Prinsip pada Terjadinya Kehamilan:

1) Pembuahan / fertilisasi : bertemunya sel telur / ovum wanita dengan sel

benih spermatozoa pria.


2) Pembelahan sel (zigot). Hasil pembuahan tersebut.
3) Nidasi / implantasi zigot tersebut pada dinding saluran reproduksi ( pada

keadaan normal: implantasi pada lapisan endometrium dinding kavum

uteri). Pertumbuhan dan perkembangan zigot embrio janin menjadi bakal

individu baru. (Hanum marimbi, 2011)


2.2.3 Dugaan Hamil

1. Amenore/tidak mengalami meenstruasi sesuai siklus (terlambat haid).


2. Nausea, anoreksia, emesis, dan hipersalivasi.
3. Pusing.
4. Miksing/sering buang air kecil.
5. Obtipasi.
6. Hiperpigmentasi: striae, cloasma,linea nigra.
7. Varies.
8. Payudara menegang.
9. Perubahan perasaan.
10. BB bertambah
2.2.4 Tanda Tidak Pasti Kehamilan

1. Rahim membesar

2. Tanda hegar
3. Tana chatwick, yaitu warna kebiruan pada serviks, vagina dan vulva.
4. Tanda piskacek, yaitu pembesaran uterus ke salah satu arah sehingga

menonjol jelas kearah pembesaran tersebut.


5. Braxton hicks.
6. Basal metabolism rate (BMR) meningkat.
7. Ballottement positif.
Jika dilakukan pemeriksaan palpasi di perut ibu dengan cara menggoyang

goyangkan di salah satu sisi, maka akan terasa pantulan di sisi yang lain.

(Ari Sulistyawati, 2012)

2.2.5 Tanda Pasti Hamil

1. terdengar denyut jantung janin(DJJ).

2. terasa gerak janin.

3. pada pemeriksaan USG terlihat adanya kantong kehamilan, ada

gambaran embrio.

4. pada pemeriksaan rotgen terlihat adanya rangka janin(>16 minggu).


Tes urine dilaksanakan minimal satu minggu setelah terjadi pembuahan.

Tujuan dari pemeriksaan ini adalah mengetahui kadar hormon,

mengindikasikan bahwa wanita mengalami kehamilan.


(Ari Sulistyawa, 2012)

2.2.6 Perubahan Fisiologi dan Adaptasi pada Kehamilan Trimester I.

2.2.6.1 Fertilisasi

Fertilisasi merupakan proses pertemuan antara sel oosit dan sel

sperma. Sel sperma akan menembus zona pelusida dari sel oosit sehingga

terjadi peleburan antara sel inti sperma dengan sel inti oosit. Tahap-tahap

fertilisasi sangat kompleks. Mekanisme molekuler membuat spermatozoa

dapat melewati zona pelusida, dan masuk ke sitoplasma oosit untuk

membentuk zigot.

2.2.6.2 Adaptasi fisiologi dan anatomi maternal

a) Perubahan sistem endokrin


Perubahan fisiologis dalam kehamilan salah satunya dipengaruhi

oleh perubahan sekresi hormone. Adanya hCG yang diproduksi oleh

sel-sel tropoblas menyebabkan peningkatan produksi ovarian

steroidhormon. Pada saat kehamilan, fungsi endokrin dari plasenta

menjadi lebih luas untuk menghasilkan hormone maupun releasing

factor. Efek dari produk yang dihasilkan plasenta ini tidak hanya

berpengaruh pada sirkulasi maternal, namun juga berperan dalam

sirkulasi janin. Kondisi ini merupakan bentuk penyusuaian tubuh

maternal akibat dari perubahan fisiologis oleh adanya kehamilan dan

persiapan pertumbuhan janin. Adapun perubahan hormone yang terjadi

secara khas pada periode kehamilan adalah sebagai berikut:

1) Produksi Hormon Plasenta


Salah satu fungsi dari plasenta adalah sebagai organ endokrin

keberadaannya pada masa kehamilan sangat berpengaruh pada system

hormonal maternal, yang selanjutnya juga memberikan dampak

terhadap janin. Hormon yang diproduksi oleh plasenta ini meliputi

hCG, hormone-hormon steroid, hPL, PGH, Relaxin, pRH dan lain-lain

(inhibin, corticosteroid, A endhotelin, dan prostaglandin). (Bayu Irianti

2014)
Adapun profil dan peran beberapa hormone tersebut adalah sebagai

berikut ini:
a) hCG (human Chorionic Gonadotropin)

Human chorionic gonadotropin (hCG) merupakan hormon

glikoprotein yang memilki kandungan karbohidrat tinggi dengan berat

molekul 36-40 kDa. Yang dihasilkan oleh trofoblas sejak hari ke 7


setelah terjadinya fertilisasi. Namun, keberadaannya baru bisa

terdeteksi di dalam sirkulasi darah maternal pada hari ke 10, yaitu

ketika trofoblas telah terimplantasi dan menyatu dengan pembuluh

darah maternal, dan dapat terdeteksi di dalam urin pada minggu ke 2

pasca fertilisasi.

2) Hormon Steroid

proses steroid oogenesis pada kehamilan dipengaruhi oleh interaksi

dan kerjasama antara ibu, plasenta maupun janin. Faktor ibu sebagai

pemicu produksi progesterone oleh plasenta, sedangkan faktor janin

pemicu produksi estrogen oleh plasenta. (Bayu Irianti, 2014)

a. Progesteron

Progesteron disintesis dari progesteron maternal didalam

sinsitiotrofoblas. Progesterone plasenta dibutuhkan janin untuk

memproduksi testosterone, corticosteroid dan mineralocorticoid.

Progesterone dikenal juga sebagai hormone kehamilan, berperan dalam

stimulasi system pernafasan, relaksasi otot polos (yang ada didalam

pembuluh darah, uterus dan usus), peningkatan suhu tubuh, peningkatan

pengeluaran sodium dan klorida, serta imunosupresan plasenta.

b. Estrogen

Oestriol merupakan jenis estrogen primer yang ada pada

kehamilan. Pada awal kehamilan terjadi peningkatan level oestrone

dan oestradiol, sedangkan oestriol mulai meningkat pada usia mulai 9

minggu, yaitu seiring dengan sintesis dehydroepiandrosterone


sulphate (DHEAS) diproduksi oleh pregnenolone plasenta dan

merupakan substrat yang dibutuhkan plasenta untuk memproduksi

oestriol.

3) hPL (hormone Placental Lactogen)

hPL biasa juga disebut dengan human chotionic

somatomammmotropin, di produksi oleh sinsitiotrofoblas. Sekresi hPL

meningkat setelah penurunan level hCG. Menjelang usia kehamilan

aterm produksi hPL adalah 1-3 g/hari. hPL memiliki struktur dan

bahan menyerupai growth hormone dan hormoneprolactine, yaitu

berupa poliptid rantai tunggal. Oleh karena itu, hPL bersifat lactogenic

dan juga berperan dalam menstimulasi pertumbuhan jaringan maternal

maupun fetal. (Bayu Irianti, 2014)

4) PGH ( Placental growth hormon )

Hormon pertumbuhan/PGH disekresi oleh kelenjar hopofisis pada

awal kehamilan, dan akan menurun secara bertahap. Pada usia

kehamilan 8 minggu hormone pertumbuhan telah dapat dideteksi dan

pada 17 minggu plasenta (sinsitiotrofoblas) menjadi tempat utama

sekresi hormone pertumbuhan. PGH memiliki sifat high

sommatogenicactivity yaitu meningkatkan aktivitas pertumbuhan dan

low lactogenicactivit sebagai hormon yang memperlambat aktivitas

laktasi.

5) Relaxin
Relaxin diproduksi oleh corpus luteum dan level relaxin tertinggi

terjadi pada trimester I. relaaxin perperan dalam pelunakan ligament

tulang panggul, stretching ligament, dan secara klinis juga dapat

digunakan untuk menstimulasi pematangan serviks pada persalinan

dengan induksi. Dengan terjadinya pelunakan dan relaksasi ligament

pelviks, memudahkan pergerakan janin serta memfasilitasi

pembesaran uterus dalam rongga abdomen. Fungsi lain dari adanya

relaxin ini adalah membantu diferensiasi endometrium pada periode

implantasi dan bersamaan dengan progesterone menjaga uterus tetap

dalam keadaan tenang. (Bayu Irianti, 2014)

6) Hormon Adrenal

Kelenjar adrenal tidak banyak mengalami perubahan, bahkan

cenderung menurun selama kehamilan. Hormon yang dihasilkan

antara lain:

a. Kartisol

Kadar kartisol meningkat dalam serum namun sebagian besar

terikat oleh transkortin (glabulin). Hal ini menyebabkan resistensi

insulin dan peningkatan gula darah terutama setelah makan

sehingga glukosa lebih banyak tersedia bagi janin. Selain itu,

dengan adanya peningkatan kadar progesteron selama kehamilan


maka semakin tinggi tingkat kortisol yang diperlukan untuk

mempertahankan homeostatis.

7) Hormon pituitari / hipofisis

Kelenjar hipofisis berperan dalam pengeluaran hormone yang

penting dalam pertumbuhan dan perkembangan dalam uterus, dalam

kehamilan normal kelenjar hipofisis membesar sekitar 135%. Hal ini

dimungkinkan menyebabkan penekanan pada kiasma optic dan

mempersempit kemampuan penglihatan, namun keluhan ini jarang

terjadi selama kehamilan normal dan setelah persalinan kemempuan

penglihatan akan pulih kembali. (Bayu Irianti, 2014)

b) perubahan pada system reproduksi


1) uterus
tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat

pertumbuhan isi kensepsi intrauterin. Estrogen menyebabkan

hiperplasi jaringan, progesteron berperan untuk elastisitas /

kelenturan uterus.Serviks uteri mengalami hipervaskularisasi akibat

stimulasi estrogen dan perlunakan akibat progesteron (-> tanda

Hegar), warna menjadi livide/kebiruan. Sekresi lendir serviks

meningkat pada kehamilan memberikan gejala keputihan.


2) Vagina/vulva
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh astrogen dan progesteron,

warna merah kebiruan (tanda chadwick).


3) Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta,

terutama fungsi produksi progesterone dan estrogen. Selama

kehamilan ovarium tenang/beristirahat. Tidak terjadi pembentukan


dan pematangan folikel baru, tidak terjadi pembentukan dan

pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulai, tidak terjadi siklus

hormonal menstruasi. (Hanum Marimbi, 2011)


4) Payudara

Akibat pengaruh estrogen terjadi hyperplasia system duktus dan

jaringan inerstisial payudara.Hormon laktogenik plasenta

(diantaranya somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan

pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan produksi

zat-zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel lemak,

kolostrum. Mammae membesar dan tegang, terjadi hiperpigmentasi

kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama daerah areola

dan papilla akibat pengaruh melanofor. Putting susu membesar dan

menonjol. (Hanum Marimbi: 2011)

c) Perubahan pada sistem kardiovaskuler

Selama kehamilan dan masa nifas, jantung dan sirkulasi

mengalami adaptasi fisiologis. Perubahan pada fungsi jantung mulai

tampak selama 8 minggu pertama kehamilan. Curah jantung

meningkat bahkan sejak minggu kelima dan mencerminkan

berkurangnya resistensi vascular sistemik dan meningkatnya

kecepatan jantung. Kecepatan nadi istrahat meningkat 10 denyut

/menit selama kehamilan. (Bayu Irianti, 2014)

1) Jantung
Seiring dengan semakin terangkatnya diafragma, jantung juga

tergeser kekiri dan keatas agak memutar mengelilingi sumbu


panjangnya. Akibatnya, apeks sedikit bergeser ke lateral dari posisi

yang lazim. Meningkatnya volume plasma selama kehamilan,

menyebabkan beberapa adaptasi forfologis dan fungsional yang

refersible. Tidak di ragukan lagi bahwa jantung mampu mengalami

remodeling sebagai respons terhadap rangsangan misalnya hipertensi.


2) Pembuluh darah

Pada awal kehamilan terjadi penurunn tahana tekanan vaskuler

perifer, sehingga padausia kehamilan 24 minggu tekanan darah

sistolik menurun rata-rata 5-10 mmHg, namun akan kembali naik pada

kehamilan cukup bulan. Tekanan diastolic yang juga mengalami

sedikit perubahan akan mengalami penyusuaian pada pertengahan

masa kehamilan seperti pada tekanan diastolic saat wanita tidak hamil.

Tekanan pada vena inferior oleh uterus yang semakin membesar dapat

menyebabkan turunnya aliran darah balik vena yang juga mengurangi

isi kuncup dan curah jantung. Oleh karena itu, penting bagi wanita

hamil untuk memperhatikan posisi pada saat berbaring agar tidak

terjadi tekanan berlebihan pada vena kafa inferior. (Bayu Irianti, 2014)
3) Sistem darah

Peningkatan volume darah ibu hamil dimulai sejak awal

kehamilan. Volume plasma darah meningkat sekitar 15% pada

kehamilan 12 minggu dibandingkan dengan keadaan sebelum hamil.

Peningkatan volume darah ibu hamil terjadi karena peningkatan

plasma dan eritiosit. Peningkatan volume darah ibu bertambah cepat

pada trimester kedua kehamilan, melambat pada trimester ketiga.


Konsentrasi hemoglobin dan hemotokrit selama kehamilan juga akan

berkurang disebabkan oleh bertambahnya plasma dalam sirkulasi dara.

Konsentrasi hemoglobin normal pada ibu hamil trimester ketiga

kehamilan adalah 12,5 g/dl, batasan yang masih dapat dianggap

normal adalah 11,0 g/dl yang mungkin disebabkan oleh anemia

defisiensi besi.
d) Perubahan sistem pernapasan

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa konsumsi oksigen

meningkat sebesar 30% sampai 40% selama kehamilan, kenaikan

progresif terutama disebabkan kebutuhan metabolism janin, uterus, dan

plasenta dan yang kedua untuk meningkatkan kerja jantung dan

pernapasan. Produksi karbon dioksida menunjukkan perubahan yang

sama dibandingkan konsumsi oksigen.


Lingkar rongga dada meningkat 5 sampai 7 cm selama kehamilan

kerena peningkatan diameter anteroposterior dan jarak lintang dada.

Seiring bertambahnya usia kehamilan dan pembesaran uterus, hal ini

semakin mendesak diafragma yang naik hingga 4 cm, sudut subcostal

dapat berubah dari 860 menjadi 1030, lingkar toraks meningkat sekitar 6

cm, diameter dada dapat meningkat 2 cm atau lebih, dan akan terjadi

hingga akhir kehamilan, tetapi tidak cukup untuk mencegah penguranga

sisa volume paru-paru yang disebabkan oleh peningkatan diafragma.

Peningkatan ventilasi progresif dimulai segera setelah konsepsi dan

puncaknya meningkat 50% pada trimester kedua, peningkatan ini

dipengaruhi oleh kenaikan volume tidal sebesar 40% dan peningkatan


pernapasan sebesar 15%. Ventilasi alveolar meningkat 5-8 L/menit lebih

tinggi pada akhir kehamilan sehingga meningkatkan pertukaran gas.

(Bayu Irianti, 2014)

e) Perubahan sistem perkemihan


Perubahan trjadi secara signifikan pada sistem perkemihan selama

kehamilan, selain mengelola zat-zat sisa dan kelebihan yang dihasilkan

akibat peningkatan volume darah dan curah jantung organ perkemihan

juga mengelola produk sisa metabolism dan menjadi organ utama yang

mengekskresi produk sisa dari janin.pada trimester kedua aliran darah

menuju ginjal meningkat sebesar 70-80%. Ginjal sangat penting sebagai

media yang meretensi natrium dan mempertahankan tekanan darah arteri

melalui renin-angiotensin. Semua komponen dalam system renim-

angiotensin yang dihasilkan baik dari ibu maupun janin mengalami

peningkatan pada kehamilan normal. Hal ini disebabkan tingginya

produksi kadar estrogen. (Bayu Irianti, 2014)


f) Perubahan sistem pencernaan

Adanya kehamilan menyebabkan beberapa perubahan pada system

pencernaan maternal akibat terjadi penekanan disekitar rongga

abdominalis karena pembesaran uterus, serta perubahan estrogen dan

progesterone. Kondisi ini membutuhkan penyusuaian tubuh secara

anatomis dan fisiologis untuk mendukung kecukupan pemenuhan nutrisi

fetal maupun maternal.

Perubahan sistem pencernaan pada ibu terjadi pada traktus

gastrointestinal maupun pada organ asesoris lainnya (kelenjar saliva,


pancreas, liver dan kantong empedu). Dalam aktivitasnya, fungsi traktus

gastrointestinal salah satunya di atur oleh beberapa jenis peptida,

termasuk hormone (estrogen dan progesterone). Perubahan yang terjadi

pada system pencernaan dan kondisi yang menyertainya. (Bayu Irianti,

2014)
g) Perubahan Metabolisme

1. Rongga mulut
Salivasi mungkin akan meningkat sehubungan dengan kesukaran

menelan akibat nausea. Gusi dapat menjadi hiperemesis dan menulak

kadang berada kalau terkena cedera ringan saja. Contohnya pada saat

gosok gigi. Pembengkakan gusi sangat vaskuler yang disebut epulis

kehamilan kadang kala timbul tetapi secara khas mengecil secara

spontan setelah kelahiran. Keadaan tersebut disebabkan oleh pengaruh

hormon estrogen yang meningkat atau kadang terjadi pada pengguna

kontrasepsi oral dan ibu yang mengalami defisiensi vitamin C. tidak ada

bukti yang baik bahwa kehamilan mendorong proses pembusukan pada

gigi. (Nurul Jannah, 2012 )


2. Motalitas saluran gastrointestinal
Biasanya ada penurunan tonus dan motalitas saluran gastrointestinal

yang menimbulkan pemanjangan waktu pengosongan lambung dan

transit usus. Ini mungkin merupakan akibat jumlah progesteron yang

besar selama proses kehamilan dan menurunnya kadar motalin, suatu

peptide hormonal yang diketahui mempengaruhi otot-otot halus atau

keduanya. (Nurul Jannah, 2012)


3. Lambung dan esophagus
Pirosis umum pada kehamilan, paling mungkin disebabkan oleh

refluks secret-sekret asam ke esophagus bagian bawah, posisi lambung

yang berubah mungkin ikut menyumbang pada seringnya terjadi

peristiwa ini. Tonus esophagus dan lambung berubah selama kehamilan

dengan tekanan intra esophagus yang lebih rendah dari tekanan

lambung lebuh tinggi selain itu pada saat yang bersamaan peristaltis

esophagus mempunyai kecepatan gelombang dan ampilitudo yang

rendah. (Nurul Jannah, 2012)

4. Usus kecil, besar dan appendik


Karena kehamilannya berkembang teruss lambung dan usus digeser

oleh uterus yang membesar kearah atas dan kearah lateral. Sebagai

akibatnya apendiks sebagai contoh biasanya bergeser kearah lateral dan

seringkali mencapai pinggang kanan. Seperti telah dijelaskan

sebeblumnya tonus dan motilitas dari lambung dan usus berkurang

selama kehamilan. (Nurul Jannah, 2012)


5. Hati
Meskipun hati pada beberapa binatang jelas bertambah ukurannya

namun tidak ada bukti pembesaran tersebut pada kehamilan manusia.

Selain itu dengan evaluasi histologis hati yang didapat dengan biopsis

termasuk dengan pemeriksaan dengan mikroskop electron tidak ada

perbedaan yang jelas dari morfologi hati yang terjadi sebagai respon

terhadap kehamilan normal. Perubahan terjadi secara fungsional yaitu

dengan menurunnya dengan albumin plasma dan globulin plasma dan

ratio tertentu merupakan hal yang normal pada wanita hamil. Pada wanita
yang tidak hamil kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya penyakit

pada hati. (Nurul Jannah, 2012)


6. Kandung empedu
Fungsinya berubah selama kehamilan karena pengaruh hipotoni dari

otot-otot halus menemukan Selama melakukan SC cukup sering empedu

teregang namun hipotonik, aspirat empedu cukup kental. Umum diterima

bahwa kehamilan menjadi predisposisi pembentukan batu empedu.


(Nurul Jannah,

2012)

h) Perubahan pada sistem musculoskeletal


Dalam keadaan hamil system musculoskeletal banyak mengalami

perubahan, dalam hal ini terjadi lordosis yang disebabkan pembesaran

uterus sebagai kompensasi posisi anterior menyesuaikan gravitasi ke

ekstremitas bawah, fleksi kedepan dari lehar, dan gerakan kebawah dari

bahu biasanya terjadi untuk mengkompensasi rahim yang membesar dan

perubahan pusat gravitasi. (Bayu Irianti, 2012)


i) perubahan pada kulit
meningkatnya aliran darah ke kulit selama kehamilan meningkatkan

kelebihan panas yang terbentuk karena meningkatnya metabolisme.

Penyebab pigmentasi kulit belum jelas hingga kini, dugaan bahwa

progesterone dan estrogen memiliki efek menstimulasi melanosit. Efek ini

dapat membuat warna putting dan areola primer menjadi gelap. Kedua hal

ini terjadi pada bulan ke tiga kehamilan. Penggelapan warna ini juga dapat

terjadi pada areola sekunder (motling pada pada kulit disekitar dan di area

melewati daerah primer), linea nigra (garis tipis hasil pigmenasi kulit pada

garris tengah abdomen mulai simfisis pubis hingga ke umbilikus), striae


(tanda peregangan kulit), pada abdomen (striae gravidarum), payudara

membesar berlebihan dan biasanya terjadi pada area bokong dan paha

bagian atas, serta koasma (topeng kehamilan, perubahan warna menjadi

kecoklatan dan perubahan pigmentasi kehamilan akan berkurang dan hilang

setelah kehamilan berakhir, kecuali striae. (Bayu Irianti, 2012)


2.2.7 Keluhan Kehamilan pada Trimester I

2.2.7.1Mual muntah

Mual muntah atau dalam bahasa medis emesis gravidarum

atau morning sickness merupakan suatu keadaan mual yang

terkadang disertai muntah (frekuensi kurang dari 5 kali). Selama

kehamilan, sebanyak 75-80% wanita mengalami mual muntah.


2.2.7.2 Hipersalivasi
Air liur berlebihan atau dalam bahasa medis disebut

hipersalivasi adalah peningkatan sekresi air liur yang berlebihan

(1-2 L/hari). Sebesar 2,4 % wanita yang hamil pada trimester

pertama. Berdasarkan penelitian pada wanita hamil di jepang

ptyalism berhubungan dengan riwayat hyperemesis gravidarum

(Suzuki, 2013). Hipersalivasi di sebabkan oleh peningkatan

keasaman di dalam mulut atau atau peningkatan asupan zat pati,

yang menstimulasi kelenjar mengalami sekresi berlebihan.


2.2.7.3 Pusing
pusing biasanya terjadi pada awal kehamilan. Penyebab

pasti belum diketahui. Akan tetapi diduga karena pengaruh

hormone progesteron yang memicu dinding pembuluh darah

melebar, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan tekanan

darah dan membuat ibu merasa pusing.


2.2.7.4 Mudah lelah
pada awal kehamilan, wanita sering mengeluh mudah lelah.

Penyebab pastinya belum diketahui. Teori yang muncul

diakibatkan oleh penurunan drastic laju metabolisme dasar pada

awal kehamilan. Selain itu peningkatan progesteron memiliki efek

menyebabkan tidur. Keluhan ini akan hilang pada akhir trimester

pertama.
2.2.7.5 Heartburn
heartburn disebabkan oleh peningkatan hormone

progesteron, estrogen dan relaxing yang mengakibatkan relaksasi

otot-otot dan organ termasuk system pencernaan. Hal tersubut

menurunkan ritme dan motilitas lambung serta penurunan tekanan

sfingter esophagus bawah. Akibatnya makanan yang masuk

cenderung lambat dicerna sehingga makanan relatif menumpuk.


2.2.7.6 Peningkatan frekuensi berkemih
selama kehamilan, terjadi perubahan yang besar baik secara

anatomi maupun fisiologis dalam system perkemihan yang

mengakibatkan munculnya keluhan baik fisiologi maupun patologi.

Mulai usia gestasi 7 minggu, ukuran ginjal bertambah sekitar 1 cm

akibat peningkatan volume vaskular dan jarak interstitial.

Perubahan juga terjadi pada saluran kemih bagian bawah.

Peningkatan progesteron dan estrogen pada kehamilan

menyebabkan mukosa pada bladder (kandung kemih) menjadi

hyperemic (peningkatan jumlah aliran darah). Peningkatan level

progesteron sendiri menyebabkan bladder mengalami hipotonia.


Selain itu, letak kandung kemih yang bersebelahan dengan raahim

membuat kapasitasnya berkurang.


2.2.7.7 Konstipasi
konstipasi adalah penurunan frekuensi buang air besar yang

disertai dengan perubahan karakteristik feses yang menjadi keras

sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat

menyebabkan kesakitan yang pada pemderitanya.Pada awal

kehamilan, konstipasi terjadi akibat peningkatan produksi

progesterone yang menyebabkan tonus otot polos menurun,

termasuk pada system pencernaan menjadi lambat. Motilitas otot

yang polos menurun dapat menyebabkan absorbsi air diusus besar

meningkat sehingga feses menjadi keras. Selain itu, konstipasi

terjadi akibat aktivitas ibu yang kurang, penurunan tingkat motilin,

peningkatan natrium pada usus, dan penyerapan air dan suplemen

zat besi serta magnesium sulfat. Asupan cairan dan serat yang

rendah juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap

terjadinya konstipasi.
2.2.7.8 Keluhan psikologis pada trimester I
selama kehamilan trimester I ibu dapat mengalami keluhan

psikis yang positif dan negative. Ibu yang merasa tidak serta dan

berharap untuk tidak hamil hampir 80% membenci

kehamilannya.banyak ibu yang merasa kecewa, menolak, cemasan,

dan sedihan.
a) sedih dan ambivalen
1. perasaan sedih dan ambivalen, biasanya dialami oleh ibu

hamil pada trimester pertama. Perasaan ini muncul akibat


adanya perubahan tanggungjawab yang baru sebagai ibu

hamil yang akan ditanggungnya. Pera diakibatkan

kemampuannya untuk menjadi seorang ibu, selain itu masalah

keuangan, masalah rumah tangga dan juga penerimaan

lingkungan dan keluarga terhadap kehamilannya. Perasaan

ambivalen ini biasanya berakhir dengan sendirinya seiring ia

menerima kehamilannya.
2. Depresi

Perubahan fisik ibu yang menimbulkan keluhan berupa mual dan

muntah, serta berubahan nafsu makan dapat mencerminkan

konflik dan depresi.

3. Senang
Beberapa wanita, terutama mereka yang telah merencanakan

kehamilan atau telah berusaha keras untuk hamil, merasa senang

sekaligus tidak percaya bahwa dirinya telah hamil dan mencari

bukti kehamilan pada tiap jengkal tubuhnya.


b) libido menurun
hasrat libido sangat bervariasi pada wanita yang satu dengan

wanita yang lain. Meskipun pada beberapa wanita mengalami

peningkatan libido, tetapi secara umum wanita hamil pada trimester

pertama mengalami penurunan. (Bayu Irianti, 2014)


2.2.8 Konsep Dasar Hiperemesis Gravidarum
2.2.8.1 Pengertian hiperemesis gravidarum
Mual dan muntah yang ringan umumnya dan normal terjadi di

awal kehamilan, bila terjadi berlebihan maka dapat menimbulkan efek

patologis seperti hyperemesis gravidarum.


Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan yang

terjadi pada wanita hamil sehingga menyebabkan terjadinya

ketidakseimbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan (lebih dari

5% berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan kekurangan nutrisi.


(Nengah Nuriani, 2010)
2.2.8.2 Etiologi dan faktor predisposisi
etiologi hiperememsis gravidarum belum diketahui dengan pasti,

dahulu penyakit ini dikelompokkan ke dalam penyakit toksemia

gravidarum karena diduga adanya semacam racun yang berasal dari

janin atau kehamilan, penyakit ini juga digolongkan kedala gestosis

bersama pre-eklamsi dan eklamsi. Nama gestosi dini diberikan untuk

hiperemesis gravidarum dan gestosis lanjut untuk hipertensi (pre-

eklamsi dan eklamsi) dalam kehamilan.


Beberapa teori menjelaskan penyebab terjadinya hiperemesis

gravidarum, namun tak ada satupun yang dapat menjelaskan proses

terjadinya secara tepat. (Nengah Nuriani, 2010)


2.2.8.3 Patofisiologi
Patofisiologi pada hiperemesis gravidarum masih belum jelas

namun peningkatan kadar progesterone dan estrogen, dan human

chorionic gonadotropin (hCG) dapat menjadi faktor pencetus mual dan

muntah. Peningkatan hormone progesteron menyebabkan otot polos

pada system gastrointestinal mengalami relaksasi sehingga motilitas

lambung menurun dan pengosongan lambung melambat. (Nengah

Nuriani, 2010)
Refluks esofagus, penurunan motilitas lambung, dan penurunan

sekresi asam hidroklorid juga berkontribusi terhadap terjadinya mual


dan muntah. Hal ini diperberat dengan adanya penyebab lain berkaitan

dengan faktor psikologis, spiritual, lingkungan dan sosiokultural.


(Nengah Nuriani, 2010)
2.2.8.4 Manifestasi klinik
Tidak ada batas jelas antara mual yang masih fisiologis dalam

kehamilan dengan hiperemesis gravidarum, tetapi bila keadaan umum

ibu terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis

gravidarum. Menurut berat ringannya gejala, hiperemesis gravidarum

dapat dibagi kedalam tiga tingkatan. (Nnengah Nuriani, 2010)

- Tingkatan I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum.

Pada tingkatan ini ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat

badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium, nadi meningkat

sekitar 100x/menit, tekanan darah sistol menurun, dapat disertai

peningkatan suhu tubuh, turgo kulit berkurang, lidah kering dan

mata cekung.
- Tingkatan II
Ibu tampak lemah dan apatis, turgo kulit lebih menurun,

lidah kering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, tekanan darah

turun, suhu kadang-kadang naik, mata cekung dan sedikit ichterus,

berat badan turun, hemokonsentrasi, oligouria, dan konstipasi.

Aseton dapat tercium dari hawa pernapasan karena mempunyai

aroma yang khas, dan dapat pula ditemukan dalam urine.


- Tingkatan III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran

menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat,

tekanan darah menurun, serta suhu meningkat. Komplikasi yang


fatl terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai Wernicke

ensefalopati. Gejala yang dapat timbul seperti nistagmus, diplopia,

dan perubahan mental; akibat ini adalah akibat sangat kekurangan

zat makanan termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya icterus

menunjukkan terjadinya payah hati, Pada tingkatan ini juga terjadi

perdarahan dari esophagus, lambung dan retina.


2.2.8.5 Faktor-faktor yang berhubungan dengan hyperemesis gravidarum
a) Umur ibu
Hamil pada usia muda merupakan salah satu faktor penyebab

terjadinya hyperemesis gravidrum.dalam kurun reproduksi sehat

dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30

tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia

dibawah 20 tahun adalah 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian

maternal yang terjadi pada 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat

kembali setelah usia 30-35 tahun. Hal ini disebabkan menurunnya

fungsi organ reproduksi wanita pada usia tersebut.


b) Psikologis
dapat menimbulkan dampak kecemasan, rasa bersalah, dan marah. Jika

mual dan muntah menghebat, maka timbul self pity dan dapat terjadi

konflik antara ketergantungan dan kehilangan control. Berkurangnya

pendapatan akibat berhenti bekerja mengakibatkan timbulnya rasa

ketergantungan terhadap pasangan.


c) Hormon
Peningkatan kadar progesterone, estrogen, dan human chorionic

gonadotropin (hCG) dapat menjadi pencetus mual dan muntah.

Pemingkatan hormone progesteron menyebabkan otot polos pada

sistem gastrointestinal mengalami relaksasi, hal itu mngakibatkan


penurunan motilitas lambung sehingga pengosongan lambung

melambat.
Refluks esofagus, penurunan motilitas lambung, dan penurunan

sekresi dari asam hidroklorid juga berkonstribusi terhadap terjadinya

mual dan muntah. Selain itu hCG juga menstimulasi kelenjar tiroid

yang dapat mengakibatkan mual dan muntah.


d) Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilakunya

terhadap pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan

serta dalam perubahan kesehatan. Makin tinggi pendidikan makin

mudah menerima informasi, sehingga banyak pola pengetahuan yang

dimiliki, sebaliknya makin rendah atau kurang pendidikan seseorang

akan menghambat perkembangan sikap terhadap nilai-nilai yang baru

diperkenalkan.
e) Pengetahuan
Merupakan segala sesuatu yang diketahui yang diperoleh dari

persentuhan panca indera terhadap objek tertentu. Pengetahuan pada

dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan,

dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan bertindak.

Dan segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses belajar.


f) Pekerjaan
kaum wanita yang meninggalkan pekerjaan karena komitmen terhadap

keluarga, mereka membiasakan diri kembali dengan biaya-biaya yang

mereka keluarkan dan menerima gaji kecil. Penyesuaian diri cukup

emosional juga juga mengikuti datangnya seorang anak kedalam

hubungan suami istri. Menjadi seorang ibu merupakan hal yang amat

didambakan oleh banyak wanita yang penuh stress. Sebaiknya dengan


bijaksana para pasangan untuk pada awalnya membicarakan apa yang

mereka harapkan satu sama lain dalam rangka dukungan emosional

dan praktis.
g) Sosial dan budaya
Segala sesuatu atau tata nilai yang berlaku dalam sebuah masyarakat

yang menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut. Dan mengacu pada

kehidupan bermasyarakat yang menekankan pada aspek adat istiadat

dan kebiasaan masyarakat itu sendiri.


2.2.8.7 Penatalaksanaan
Penatalaksnaan mual dan muntah pada kehamilan tergantung

pada beratnya gejala. Pengobatan dilakukan mulai dari yang paling

ringan dengan perubahan diet sampai pendekatan dengan pengobatan

antiemetik, rawat inap, atau pemberian nutrisi parenteral. Pengobatan

terdiri atas terapi secara farmakologi dan nonfarmakologi. Terapi

farmakologi dilakukan dengan pemberian antiemetik, antihistamin,

antikolenergik, dan kortikosteroid. Terapi non farmakologi dilakukan

dengan cara pengaturan diet, dukungan emosional.

2.2.9 Konsep Dasar Paritas


2.2.9.1 Pengertian Paritas
1. Paritas adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan

dengan kehamilannya (jumlah kehamilan), dibedakan menjadi

primigravida (Hamil pertama kali) dan multigravida (hamil

kedua atau lebih). (Ari Sulistywati, 2013).


2. Paritas adalah keadaan wanita berkaitan dengan jumlah anak

yang dilahirkan.
3. Paritas adalah keadaan wanita sehubungan dengan kelahiran

anak yang bias hidup.


2.2.9.2 Jenis-jenis paritas
a) Primipara adalah wanita yang pernah mengandung, dimana

wanita tersebut melahirkan satu anak atau lebih yang hidup.


b) Multipara adalah seorang wanita yang telah hamil dua kali atau

lebih yang menghasilkan insan hidup, tanpa memandang anak

itu hidup saat lahir.


c) Grandamultipara adalah wanita yang telah hamil enam atau

lebih yang menghasilkan janin hidup.


2.2.9.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi paritas
a. Pendidikan
b. Pekerjaan
c. Keadaan ekonomi
d. Latar belakang budaya
e. Pengetahuan

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN


3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep

yang didalamnya ada beberapa variabel yang ingin diamati/diukur dalam

penelitian yang akan dilakukan. (Bambang Heriyanto, 2012)

Ibu Hamil
Primigravida
Trimester I BPM
Afah Fahmi
Faktor Internal Amd.Keb Surabaya
Hiperemesis Faktor Eksternal
- Usia Gravidarum - Pendidikan
- Psikologis - pengetahuan
- Hormon - Pekerjaan
- Sosial dan
Tidak emesis Emesis -Hiperemesis
Budaya
Gambar III.I kerangka konseptual :hubungan paritas primigravida dengan
Gravidarum
hiperemesis gravidarum pada ibu hamil trimester I.
Keterangan:
:Diteliti
: Tidak diteliti

Berdasarkan bagan diatas dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi

hiperemesis gravidarum pada ibu hamil primigravida adalah terdiri dari faktor

internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi hiperemesis

gravidarum pada ibu hamil primigravida terdiri dari Usia, Psikologis, Hormon.

Sedangkan faktor eksternal terdiri dari Pendidikan, Pengetahuan, Pekerjaan, sosial

dan Budaya.

3.2 Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan

penelitian, atau suatu asumsi pernyataan tentang hubungan dua atau lebih variabel
yang diharapakan bisa menjawab suatu pertanyaan dalam penelitian. (Bambang

Heriyanto, 2012)

H1 :ada hubungan antara paritas primigravida dengan hiperemesis gravidarum

pada ibu hamil trimester I.

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang disusun

sedemikian rupa sehingga penelitian dapat memperoleh jawaban untuk

pertanyaan-pertanyaan penelitiannya. Dalam penelitian ini menggunakan

jenis penelitian observasion alanalitik yaitu pada hakekatnya merupakan

penelitian hubungan antara variable tanpa memberikan perlakuan terhadap

variabel yang teliti. (Bambang Heriyanto, 2012

4.2 Rancangan Bangun Penelitian


Jenis rancangan penelitian ini ialah Penelitian Cross Sectional. Penelitian

Cross Secsional adalah suatu penelitian dimana variabel-variabel yang

termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi

sekaligus pada waktu yang sama. (Bambang Heriyanto, 2012)

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan BPM Afah Fahmi Amd,keb, Asam 3/8 Surabaya.

4.3.1 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanankan pada bulan Juli 2015.

4.4 Populasi, Sampel, Besar Sampel dan Sampling

4.4.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut

masalah yang diteliti. (Bambang Heriyanto, 2012)

Pada penelitian ini yang menjadi populasinya adalah Ibu Hamil

Primigravida pada bulan juni 2015 di BPM Afah Fahmi Amd,keb

sebanyak 30 orang.

4.4.2 sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi/kumpulan unit sampling

yang ditarik oleh kerangka atau beberapa kerangka yang dapat

dijadikan sebagai basis untukpengumpulan informasi. (Bambang

Heriyanto, 2012)
Pada penelitian ini sampelnya adalah Ibu Hamil Primigravida

Trimester I sebanyak 30 orang.

4.4.3 Tehnik Sampling

Tehnik sampling adalah cara pengambilan sampel. Tehnik yang

digunakan pada penelitian ini adalah Total sampling yaitu mengambil

semua populasi untuk dijadikan sampel. (Bambang Heriyanto, 2012)

4.5 Kerangka Kerja (Frame Work)

Populasi
Ibu Hamil Primigravida di BPM Afah Fahmi Amd,Keb Surabaya sejumlah
30 orang

Teknik sampling
Total sampling
Sampel : semua ibu hamil primigravida trimester 1 di BPM Afah Fahmi
Amd.Keb Surabaya bulan juni 2015 sejumlah 30 orang

Inform Consent

Pengumpulan data menggunakan Kuesioner

Pengolahan data :
Analisa Data danUji Chi Square
Penyajian hasil penelitian

Kesimpulan dan

Gambar 4.5 Kerangka kerja Hubungan Paritas Primigravida dengan


Hiperemesis Gravidarum pada Ibu Hamil Trimester I.
4.6 Variabel Penelitian, Defenisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel
4.6.1 Variabel Penelitian
Variabel merupakan fenomena yang dapat diukur atau dapat

diamati karena memiliki nilai atau kategori.

(Bambang Heriyanto, 2012)

4.6.1.1 Variabel Independent


Variabel yang mendahului disebut variable independen.

Variabel independen dalam hubungan kausal merupakan

variable sebab atau sesuatu yang mengkondisikan terjadi

perubahan dalam variabel lain (Bambang Heriyanto, 2012).

Variabel independen pada penelitian ini adalah primigravida.

4.6.1.2 variabel dependen

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi,

oleh variable independen (Bambang Heriyanto, 2012). Pada

variable dependennya adalah Hiperemesis Gravidarum.

4.7 Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan definisi yang menyatakan seperangkat

petunjuk atau criteria atau operasi yang lengkap tentang apa yang harus

diamati dan bagaimana mengamatinya dengan memiliki rujukan-rujukan


empiris (artinya kita harus menghitung, mengukur dengan cara yang lain,

dapat mengumpulkan informasi melalui penelaran kita). (Bambang

Heriyanto, 2012)

Tabel IV.I Definisi Operasional

No Variabel Definisi Parameter Alat Ukur Skala Kode


Operasional ukur

1. Independen Riwayat Usia kehamilan Kuesioner Nominal Ya : 0


Paritas reproduksi (1.12 minggu
primigravida seorang wanita ) Tidak : 1
yang berkaitan Kriteria :
dengan
kehamilannya, 0-8 minggu
dan hamil
pertama kali 9-12 minggu
2. Dependen Gejala mual Ringan Kuesioner Nominal Ringan : 1
Hiperemesis muntah Sedang : 2
gravidarum berlebihan Sedang Berat : 3
ibu hamil yang dialami
trimester I ibu hamil di Berat
usia 1-3 bulan
4.8 Tehnik dan Prosedur Pengumpulan Data

Penelitian melakukan pengumpulan data dengan menggunakan

kuesioner yang berisikan sejumlah pertanyaan dan pertanyaan yang sudah

tersusun dengan baik, sudah matang dimana ibu hamil primigravida tinggal

memberikan jawaban atau dengan memberikan jawaban atau dengan

memberikan tanda-tanda tertentu. Sebelum ibu hamil primigravida mengisi

kuesioner, terlebih dahulu ibu hamil primigravida mengisi lembar imformed

consent serta menandatanganinyan bila bersedia.

Kemudian ibu hamil primigravida mengisi sendiri lembar kuesioner.

4.9 Pengolahan dan Analisis Data

4.9.1 Pengolahan Data

Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data melalui

tahapan editing, coding, dan tabulating.

4.9.1.1 Editing

Adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meneliti

kembali apakah isian pada lembar pengumpulan data sudah cukup

baik sebagai upaya menjaga kualitas data agar diproses lebih lanjut.

Pada saat melakukan penelitian apabila ada jawaban yang kurang


jelas pada lembar kuesioner maka responden diminta untuk mengisi

kembali.

4.9.1.2 Coding

Coding adalah tahap kedua setelah editing yaitu peneliti

member kode pada tiap kategori yang ada pada variabel. Setiap

jawaban responden dari tiap-tiap variable diubah menjadi bentuk

angka-angka sehingga akan mempermudah perhitungan selanjutnya.

4.9.1.3 Tabulating

Tabulating adalah Pekerjaan menyusun tabel-tabel mulai

dari penyusunan table utama yang berisi seluruh data informasi yang

berhasil dikumpulkan dengan daftar pertanyaan sampai dengan table

khusus yang telah benar-benar ditentukan bentuk-bentuk isinya

dengan tujuan penelitian data yang berupa angka-angka disusun

dalam bentuk tabel-tabel kemudian ditabulasi untuk menghasilkan

proses analisa.

4.10 Teknik Analisa Data

4.10.1 Analisa hubungan paritas primigravida dengan hiperemesis

gravidarum pada ibu hamil trimester I.

Data yang sudah diolah kemudian dianalisis untuk mengetahui

ada tidaknya hubungan paritas primigravida dengan hiperemesis

gravidarum pada ibu hamil trimester I dengan uji Chi Square

menggunakan = 0.05 artinya bila X2 hitung lebih besar dari X2 Tabel

artinya Ho ditolak dan H1 diterima berarti ada hubungan antara paritas


primigravida dengan hiperemesis gravidarum ibu hamil trimester I.

Apabila X2 tabel artinya Ho diterima H1 ditolak yang berarti tidak ada

hubungan antara paritas primigravida dengan hiperemesis gravidarum

ibu hamil trimester I. adapun nilai Chi-Square dihitung dengan rumus

sebagai berikut:

Dengan Rumus :

jumla h baris
fh= xjumla h kolom
jumla h kolom

Keterangan : X2 = Chi Square


Fo = frekuensi observasi
2
(fofh)
X 2= harapan
Fh = frekuensi
fh

4.11 Etika Penelitian

Masalah etika pada penelitian yang menggunakan subjek

manusia yang menjadi issue sentral yang berkembang saat ini. Pada

ilmu kebidanan dalam penelitian, hampir 90% subjek yang digunakan

adalah manusia, maka penelitian harus memahami prinsip-prinsip etika

penelitian.

Secara umum prinsip etika dalam penelitian atau pengumpulan data

meliputi :
a) Informed consent. Jika ibu bersedia menjadi responden maka

harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika menolak

menjadi responden maka penelitian tetap menghormati.


b) Confidentiality (kerahasiaan). Informasi yang diberikan oleh

responden akan dijamin oleh peneliti.


c) Anonimity (tanpa nama). Nama responden tidak digunakan secara

langsung pada setiap bahan materi hanya nomor kode yang

digunakan sebagai identis.