Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Apabila kita mempelajari lebih dalam bahwasanya hukum semakin
berkembang dengan seiring berkembangnya waktu dan zaman serta menilik kepada
hal tersebut yang kaitannya antara Hukum Publik maupun Hukum Privat pun tak
luput semakin berkembang dengan seiring berkembangnya waktu dan zaman.
Sejatinya, ranah Hukum Privat yang di dalamnya mengatur mengenai Hak
Keperdataan/ Hukum Perdata pun mengalami perkembangan berbagai peristiwa-
peristiwa hukum perdata yang memiliki ciri khusus serta terdapat perbedaan dengan
peristiwa-peristiwa hukum perdata pada umumnya. Ciri khusus yang dimaksud
adalah keterlibatan unsur-unsur asing/transnasional (foreign elements) di dalam
peristiwa tersebut Pengertian foreign elements itu berarti adanya suatu pertautan
(contact) dengan sebuah system hukum lain di luar system hukum Negara. Unsur-
unsur transnasional itulah yang diatur oleh bidang hukum yang dikenal dengan
sebutan Hukum Perdata Internasional. Hukum Perdata Internasional lahir sebagai
akibat adanya unsur asing dalam suatu peristiwa. 1
Lebih lanjut, dengan hal tersebut karena pengakuan atas hak-hak yang
diperoleh berdasarkan sistem hukum asing sangat erat hubungannya dengan
masalah ketertiban umum, maka dengan hal tersebut pengaturan unsur asing dalam
ranah Hukum Perdata Internasional apabila dijelaskan dalam aliran fungsional yaitu
Hukum adalah pergaulan dan interpendensi, pengaruh-mempengaruhi antara
anggota masyarakat agar semuanya tertib dan aman 2. Untuk itu dari definisi dapat
dijelaskan bahwasanya Hukum bertugas pula untuk mengatur agar
komunikasi,pergaulan dan hubungan antar anggota masyarakat berjalan tertib dan
adil.Dengan demikian kiranya kita tak boleh melupakan begitu saja peranan dan
andil yang tertuang dalam peranan Hukum Perdata Internasional dalam serta merta

1 Sunaryati Hartono, 1995,Pokok-pokok Hukum Perdata Internasional, Bandung: Penerbit


Binacipta, hlm. 12

2 Ibid, Sunaryati,.. hlm.20


menjaga fungsi utama hukum agar anggota masyarakat berjalan tertib dan aman
termasuk juga pengaturan mengenai unsur asing.
Makalah ini akan membahas mengenai Hukum Perdata Internasional dan
segala sesuatu yang berkaitan dengan pembahasannya. Diantaranya adalah
Perbuatan Melawan Hukum dalam bidang hukum keperdataan dan beberapa hal
lagi yang akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan. Pada hakekatnya setiap
negara yang berdaulat, memiliki hukum atau aturan yang kokoh dan mengikat pada
seluruh perangkat yang ada didalamnya. Seperti pada Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang memiliki mainstream Hukum Positif untuk mengatur warga
negaranya. Salah satu hukum positif yang ada di Indonesia adalah Hukum Perdata
Internasional yang nantinya akan dibahas lebih detail. Sebelum membahas lebih
dalam mengenai penjabaran selanjutnya mengenai Perbuatan Melawan Hukum,
adakiranya kita mengenal sedikit dahulu lebih awal bahwasanya Perbuatan
Melanggar Hukum (tort) memiliki tiga asas mengenai hukum yang dipergunakan
dalam perbuatan melanggar hukum (tort), yaitu :
a) Hukum dari tempat terjadi perbuatan melanggar hukum (lex loci delicti
commissi);
b) Hukum dari tempat dimana perbuatan melanggar hukum diadili (lex
fori);
c) Dipakai teori the proper law of the tort (lex propria delicti), yaitu
digunakan sistem hukum yang memiliki kaitan yang paling signifikan dengan
rangkaian peristiwa/perbuatan dan situasi kasus yang dihadapi.
Asas atau teori the proper law of the tort (Inggris) di Amerika Serikat dikenal dengan
The most significant relationship theory3

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dalam makalah yang berjudul Perbuatan Melawan Hukum dalam Hukum
Perdata Internasional ini, diberikan batasan - batasan pembahasan yang
dirumuskan pada permasalahan berikut :
1 Apa pengertian
2 Bagaimanakah contoh kasus terkait Perbuatan Melawan Hukum dalam
Hukum Perdata Internasional?

3 http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/9446/SKRIPSI%20LENGKAP-PIDANA-
MARDEWIWANTI.pdf?sequence=1
BAB II
LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM

Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dalam konteks


hukumperdata diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau
Burgerlijk Wetboek (BW), dalam Buku III BW, pada bagian Tentang perikatan-
perikatan yang dilahirkan demi Undang-Undang, yang berbunyi:

Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang


lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut4.

Menurut Rosa Agustina, dalam menentukan suatu perbuatan dapat dikualifisir


sebagai melawan hukum, diperlukan 4 syarat:

1. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku


2. Bertentangan dengan hak subjektif orang lain
3. Bertentangan dengan kesusilaan
4. Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian.

Istilah perbuatan melawan hukum dikenal dalam bacaan HPI sebagai


onrechtmatige daad. Dalam bahasa Inggris dibedakan antara intentional dan
unintentional sedangkan dalam bahasa Perancis delit atau acte illicit.

Kaidah-kaidah HPI yang mengatur materi ini tidak semata-mata dibataskan


kepada perbuatan-perbuatan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan
sengaja, karena kesalahan pihak yang melakukan, baik secara intentional (dengan
sengaja) atau hanya karena kelalaian (neglicience). Istilah untuk kategori tersebut ini
adalah quasi delicts tetapi, kini pada umumnya pengertian-pengertian yang
dipergunakan dalam rangka perbuatan melanggar hukum dalam bacaan HPI tidak
membedakan secara tegas antara kedua bagian ini. Juga tanggung jawab yang

4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


disebabkan karena perbuatan melanggar hukum tanpa kesalahan (without fault)
termasuk disini.5

Seseorang dapat melakukan perbuatan yang menurut hukum sama sekali


sah adanya, tetapi hal ini bisa menyebabkan kerugian bagi orang lain. Jika ini terjadi
maka, oa harus menanggung resiko untuk mengganti kerugian tersebut.misalnya
seseorang penggugat dalam perkara perdata telah meletakkan sitaan (revindicatoir
atau conservatoir), yang diletakkannya terhadap benda-benda pihak tergugat, satu
dan lain dengan bantuan dari Pengadilan Negeri kepada tergugat. Tetapi kemudian
dalam perkara pokok tidak dibenarkan dengan gugatannya itu, maka oleh
Pengadilan Negeri sitaan tersebut dinyatakan tidak sah dan si penggugat yang kalah
dalam perkara tersebut harus menanggung resiko pula bahwa ia dituntut untuk
membayar kerugian atas sitaan yang melanggar hukum itu. Padahal permintaan
sitaan tersebut merupakan suatu hal yang secara formal merupakan sah.

B. LEX LOCI DELICTI COMMISSI dan LEX FORI


1. LEX LOCI DELICTI

Boleh dikatakan bahwa kaidah lex loci delicti commissi atau disingkat lex
loci delicti merupakan kaidah yang tertua dan umum diterima sejak lama tanpa
menemukan tantangan sedikitpun. Berlakunya kaidah ini dianggap oleh penulis-
penulis HPI terbanyak sebagai vanzelfsprekend dan logis.

Kaidah lex loci delicti dianggap terlalu kaku sebagai hard and fast rule
kurang memperlihatkan souplesse yang demikian diperlukan bilamana hendak
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hukum yang demikian aneka warnanya dalam
realitas kehidupan sehari-hari.

Prinsip lex loci delicti ini adalah prinsip yang dominerend, paling
berpengaruh. Dan merupakan kaidah yang klasik karena sudah diterima sejak abad
ke-13 dan hingga kini masih boleh dianggap sebagai yang leading hukum yang
berlaku untuk perbuatan melanggar hukum ialah hukum dimana perbuatan itu
dilakukan (terjadi). Hukum ini menentukan baik mengenai syarat-syaratnya (jadi

5 Gautama Sudargo, 2002, Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid III Bagian 2 Buku ke-8,
Bandung: Alumni, hlm.116.
mengenai pertanyaan apakah telah terjadi suatu perbuatan melanggar hukum ialah,
onrechtmatigheidsvraag) maupun juga sampai sejauh manakah akibat-akibat
daripadanya. Dengan lain perkataan tidak diadakan perbedaan antara syarat-syarat
untuk perbuatan melanggar hukum dan akibat-akibat hukumnya.

Alasan negara menggunakan prinsip lex loci delicti

1. Dipermudahnya menemukan hukum

Prinsip lex loci delicti dianggap memudahkan diketemukannya hukum yang


harus diperlakukan. Namun alasan simplicity ini tidak selalu terpenuhi dalam
praktek, terutama bilamana dalam peristiwa tertentu terdapat lebih dari satu tempat
yang in aanmerking komen untuk itu. Sehingga timbul kesulitan-kesulitan
mengenai penemuan locus yang menentukan hukum yang berlaku.

2. Perlindugan harapan sewajarnya bagi khalayak ramai

Setiap orang yang hidup dalam negara tertentu dan turut serta dalam
pergaulan masyarakat, boleh mengharapkan bahwa semua peserta akan
memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditentukan untuk mengatur tata tertib di
dalam masyarakat bersangkutan. Harapan dari publik ini harus dilindungi
sewajarnya, yang bersangkutan juga harus hidup sesuai dengan norma-norma dari
apa yang wajar di tempat hidupnya itu.

Ia mengetahui juga bahwa apabila ia melanggar keidah-kaidah ketertiban


yayng berlaku, maka ia akan menanggung resiko dari perbuatannya itu yang akan
membawa tuntutan-tuntutan finansial terhadapnya.

3. Preventif

Kewajiban untuk melakuka pembayaran ganti rugi ini bukan selalu adalah
demi kepentingan sang korban, tetapi juga terhadap si pembuat. Sang korban akan
memperoleh penggantian kerugian yang telah dideritanya. Si pembuat juga dengan
demikian akan secara preventif diperingatkan untuk jangan melakukan perbuatan
yang melanggar hukum.

4. Demi kepentingan si pelanggar


Pemakaian lex loci delicti ini juga demi kepentingan dari pihak pelanggar. Ia
harus boleh percaya bahwa apa yang sah menurut hukum di negar X tidak akan
dianggap sebagai tidak sah dan melanggar hukum di negara Y. Hal ini merupakan
tujuan negatif dari asas tersebut.

5. Uniformitas keputusan

Jika diterima kaidah ini oleh semua pengadilan akan terjamin sebanyak mungkin
harmoni dari keputusan-keputusan.

Keberatan keberatan terhadap prinsip lex loci delicti

1 Tak sesuainya hard and fast rule

Alasan simplicity untuk menemukan hukum yang harus dipergunakan, yakni


dengan secara otomatis mempergunakan hukum dari tempat perbuatan melanggar
hukum terjadi, ternyata membawa berbagai keberatan. Pekerjaan yang dilakukan
hakim dalam proses menemukan hukum dengan adanya hard and fast rule ini
menjadi werktuiglijk. Ia melakukan sesuatu ini seperti otomat, tanpa piker lebih jauh
dan tanpa memperhatikan segala segi kehidupan hukum yang aneka warna dan
fakta fakta dalam realitas kehidupan sekitar peristiwa bersangkutan.

Tidak diperhatikannya lagi bahwa yang harus dipilih adalah hukum yang
memperlihatkan kontrak kontrak tererat yang berarti berkenaan dengan peristiwa
bersangkutan.

Kehidupan sehari hari memperlihatkan seuatu variatas dan heterogenitas


yang sukar dicakup dalam satu kaidah tertentu. Kehidupan sehari hari
memperlihatkan aneka warna perbuatan melanggar hukum yang sukar diatur oleh
hanya satu kaidah yang harus berlaku untuk semua hal dan segala kemungkinan.
Kehidupan sosial dalam kenyataan sehari hari sukar untuk dikekang dalam suatu
pengertian yang kaku seperti lex loci delicti. Yang diperlukan ialah pelembutan dan
perlunakan dari kaidah bersangkutan.

2 Perlindungan harapan public petition pricipii

Alasan perlindungan harapan harapan dari public ini pun dianggap kurang
kuat. Alasan ini seolah olah merupakan suatu petition principia. Kita hanya akan
dapat menganggap adanya harapan yang sewajarnya dari kahlayak ramai akan
hukum yang harus diperlakukan itu, jika sudah menjadi tetap hukum manakah yang
akan diperlakukan.

Justru hal inilah belum demikian adanya. Kita tidak dapat memutar balikkan
dan katakana bahwa harapan ini harus dilindungi, sedangkan belum ada kepastian
mengenai hukum yang harus diberlakukan itu. Perkataan public pun sukar
ditentukan dengan pasti, bisa jadi sekelompok tertentu atau bagian tertentu dari
orang orang dalam masyarakat mempunyai hukum yang berlainan. Jika perisitiwa
melanggar hukum terjadi di negara dimana terdapat hukum yang berbeda untuk
golongan golongan rakyat tertentu, seperti misalnya di Indonesia, akan timbul pula
kesulitan tentang apa yang dapat merupkan hukum di tempat bersangkutan.

3 Prevensi hanya relative

Alasan preventif ini pun dapat dianggap relative adanya. Tujuan prevensi ini
tetap terpelihara apabila misalnya jumlah ganti rugi ditentukan oleh ukuran ukuran
dari negara negara lain. Jadi, tidak bisa dikatan a priori bahwa hukum dari tempat
terjadniya perbuatan melanggar hukum ini akan memberi jaminan tentang tingginua
jumlah ganti rugi yang harus dibayar, melebihi dari misalnya hukum negara lain
(yang mungkin dipakai, misalnya hukum nasional dari kedua belah pihak jika si
pelanggar dan sang korban berkewarganegaraan sama).

Lain dari pada itu alasan preventif ini hany akan dapar diajukan berkekanaan
dengan perbuatan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan secara sengaja.

4 Tidak ada kesatuan universal

Dikemukakan oleh doktrin modern bahwa tidak benar bahwa prinsip lex loci
ini diterima secara universal. Tidak akan ada kesatuan pendirian di depan
pengadilan pengadilan berbagai negara, juga jika dipakai asas lex loci ini. Tidak
ada suatu cara yang identik secara universal dalam menghadapi perbuatan
perbuatan melanggar hukum internasional ini.

5 Keberatan sukarnya penentuan locus

Telah disampaikan bahwa tidak selalu mudah untuk menemukan suatu


locus, terutama pada delik delik yang berlangsung dilebih dari satu temapt
physic. Selain itu, misalnya mungkin terjadi delik di tempat di mana sama sekali taka
da hukum (misalannya ditengah tengah lautan atau luar angkasa), atau jika
kerugian itu terjadi karena perbuatan suatu rangkaian perbuatan melanggar hukum,
atau perbuatan di negara X akibat di negara Y dan sebagainya.

6 Keberatan karena tak sesuai dengan milieu sosial

Perbuatan melanggar hukum, misalnya daoat rejadi di dalam suasana sosial (


milieu sosial, soziale umwelt, reshssfeer maatschappelijke sfeer) yang berbeda
tempat terjadinya. Untuk menjelaskan hal tersebut akan disajikan contoh dari Morris.

Dalam suatu camping anak anak sekolah Campuran Amerika Serikat yang
diadakan di Quebec (Canada) telah terjadi peristiwa yang menyedihkan. Camping ini
sama sekali terisolir letaknya. Tidak ada satu manusia pun dalam lingkungan 50 mil
daripadanya. Pada suatu hari seorang anak perempuan Amerika di bawah umur dari
camping tersebut telah diperkosa oleh anak anak laki laki Amerika lain dari kamp
tersebut.

Seorang anak lain telah digigit anjing dalam kamp tersebut. Dua kecelakaan
ini telah terkadi karena para guru sekolah pimpinan kamp tersebut, semua juga
orang orang Amerika, telah lalai dalam memenuhi kewajiban mereka untuk
mengawasi secara cermat seperti seyogyanya diharapkan dari mereka.

Hukum manakah yang akan diperlakukan dalam hal ini jika kelak oleh pihak
orang tua anak anak yang menjadi korban tadi diadakan tuntutan terhadap
pimpinan kamp tersebut, tatkala mereka kemabali ke Amerika? Sangat jelas akan
kurang memuaskan jika dipilih hukum Canada. Semua pihak yang bersangkutan
dengan peristiwa peristiwa ini adalah orang orang Amerika.

2. LEX FORI

Lex fori adalah hukum pengadilan yang mengadili suatu perkara tertentu
(diadili/diselesaikan). Lex fori ini juga menentukan kompetensi hakim. Pemakaian
prinsip ini dikarenakan alasan alasan praktis. Dengan pemakaian asas ini akan
dijauhkan lex loci delicti antara lain karena locus sukar untuk ditentukan seperti telah
kita singgung diatas tadi. Dengan pemakaian lex fori akan diperoleh kepastian
hukum yang demikian diperlukan.
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

A. KASUS POSISI PHILLIPS vs EYRE

Dalam perkara Phillips vs Eyre, penggugat telah mengajukan tuntutan di


Inggris terhadap seseorang ex-Governor dari Jamaica. Tergugat dituduh telah
melakukan perbuatan melanggar hukum karena ia selama masa jabatannya itu telah
melakukan perbuatan sewenang-wenang terhadap penggugat dengan
mempenjarakannya tanpa alasan yang sah. Hal ini terjadi dalam rangka
penumpasan pemberontakan di Jamaica. Kemudian oleh pemerintah Jamaica telah
dikeluarkan perundang-undangan dengan kekuatan berlaku surut yang
membenarkan segala tindakan yang telah diambil itu.

Dengan demikian menurut hukum Jamaica tindakan-tindakan yang telah


diambil terhadap penggugat telah menjadi sah. Pihak pelanggar tak menyetujui
pendirian ini dan mendalilkan bahwa pada saat penahanan tersebut dilakukan maka
perbuatan tergugat adalah tidak sah. Tidak ada perundang-undangan Jamaica yang
dapat meniadakan haknya untuk mengajukan tuntutan dihadapan pengadilan
Inggris.

Akan tetapi oleh Court dianggap bahwa Act of Indemnity yang telah dibuat
dianggap sah

Jadi tuntutan dari penggugat tak dapat dikabulkan.

Pertimbangan-pertimbangan dari Wiles.J yang menarik perhatian dan


seringkali disebut karena dianggap sebagai cornerstone dari pendirian HPI Inggris
mengenai perbuatan melanggar hukum memperlihatkan dua unsur terpenting yang
harus dipenuhi untuk dapat berhasil suatu tuntutan kerugian di hadapan hakim
inggris untuk perbuatan-perbuatan di luar negeri.

Pertama maka harus terpenuhi syarat actionability dan kedua justifiability


dari tuntutan bersangkutan. Passage yang menarik perhatian dan sering disitir di
sana-sini telah didahului oleh pertimbangan bahwa umumnya dalam perkara-perkara
tort internasional ini dipakailah the law of the wrong (lex loc delicti). Kemudian
ditambahkan beliau:
Jadi apabila hukum asing, dimana perbuatan sengketa terjadi menghapuskan
tuntutan maka penghapusan itu berarti pula suatu pembebasan untuk tuntutan dari
sesuatu pihak di negara Inggris.

Inilah yang dalam bacaan disebut prinsip similiarity atau similitude

Apa artinya istilah-istilah: actionable dan justifiable ini?

Syarat actionable ini berarti bahwa seseorang penggugat di hadapan


pengadilan Inggris harus dapat membuktikan bahwa tindakan sengketa dari tergugat
apabila dilakukannya di dalam wilayah Inggris akan merupakan suatu perbuatan
tort pula yang membawa kewajiban membayar ganti rugi. Dalam hubungan ini
sering ditunjuk kepada perkara The Halley. Penggugat, pemilik dari sekoci
Napoleon telah menggugat di Hadapan English Admirality Court terhadap pemilik
kapal Inggris, the Halley, sebabnya ialah karena terjadnya tabrakan di Flushing
Roads, wilayah Belgia. Tabrakan ini disebabkan kelalaian pilot yang menurut hukum
belgia wajib dipakai oleh kapal the Halley. Menurut hukum Inggris pemilik kapal
dalam hal ini tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk kesalahan sang pilot. Lain
halnya dengan hukum Belgia yang meneriman adanya tanggung jawab itu. Dalam
hal ini kita saksikan bahwa hakim Inggris berpendapat bahwa perbuatan sengketa
harus juga dianggap suatu tort menurut hukum Inggris, jika claim hendak berhasil.

Demikian telah diputuskan bahwa gugatan ini tidak dapat dikabulkan, karena
menurut kesimpulan Selwyn L.J. it is in their lordship opinion, alike contrary to
principle and to authority to hold, that English court of justice will enforce a foreign
municipal law and will give a remedy in the shape of damages in respect of an act
which, according to its own principles, imposes no liability on the person from whom
the damages are claimed

Keputusan seperti ini sering dikecam oleh para sarjana HPI. Keberatan
terhadapnya ialah bahwa pendirian ini adalah terlampau menguntungkan bagi pihak
tergugat.

Ia terlampau dilindungi oleh ketentuan-ketentuan hukum Inggris.


Syarat justifiable mengaitkan sesuatu kepada lex locus delicti. Perbuatan
yang disengketakan harus juga merupakan perbuatan melanggar hukum di tempat
dimana ia dilakukan.

Kedua syarat ini hampir mendekati pemakaian dari lex fori, akan tetapi
dengan sedikit perlunakan untuk melindungkan tergugat yang perbuatannya adalah
justifiable pada tempat dimana dilakukannya.

Kecaman terhadap syarat similiarity dari yurisprudensi Inggris ini


disebabkan pula karena pintu terbuka lebar untuk pemakaian terlampau luas dari
pengertian publick policy (ketertiban umum). Jika hakim Inggris menunjuk kepada
lex loci delicti maka sebenarnya lex fori lah (hukum awak Inggris) yang menentukan
apakah telah terpenuhi syarat-syarat yang disebut diatas tadi.

B. ANALISIS KASUS PHILLIPS vs EYRE

a. Fakta-Fakta
Philips menggugat Eyre yang merupakan mantan Gubernur Jamaica
Gugatan diajukan di Inggris
Gugatan disebabkan karena tergugat selama masa jabatannya telah
melakukan perbuatan sewenang-wenang terhadap penggugat dengan
memenjarakannya tanpa alasan yang sah
Pemerintah Jamaica memberlakukan Act of Indemnity yang berlaku surut
dan mengesahkan perbuatan Eyre.
Pengadilan Inggris mengganggap Act tersebut sah.

b. Pengadilan yang Berwenang


Pengadilan Inggris, karena dalam kasus ini tidak ada perundang-
undangan Jamaica yang dapat meniadakan hak dari penggugat untuk
mengajukan tuntutan di hadapan pengadilan Inggris.

c. Titik Taut Primer


Perkara diatas termasuk perkara hukum perdata internasional karena
dalam perkara diatas terdapat unsur asing berupa

d. Klasifikasi
Karena gugatan diajukan di Pengadilan Inggris, maka lex fori dalam
kasus ini adalah hukum Inggris. Berdasarkan klasifikasi lex fori (hukum
Inggris), perkara ini termasuk ke dalam klasifikasi hukum perbuatan melawan
hukum karena dalam perkara ini, Eyre selama masa jabatannya sebagai
Gubernur Jamaica itu telah melakukan perbuatan sewenang-wenang
terhadap penggugat dengan mempenjarakannya tanpa alasan yang sah.

e. Titik Taut Sekunder


Dalam kasus diatas, karena kasus tersebut dikualifikasikan ke dalam
hukum perbuatan melawan hukum, maka

f. Lex Causae

g. Penyelesaian Sengketa
Penyelesaian kasus ini menggunakan kombinasi antara Lex Loci
Delicti dan Lex Fori, Sebenarnya kasus ini sudah dinyatakan bukan perbuatan
melawan hukum di Jamaica (lex loci delicti) dan ketika gugatan diajukan ke
inggris (lex fori) maka terdapat pertimbangan-pertimbangan dari hakim Willes
J. Yang ternyata menggunakan prinsip similarity/similitude yang dimana hakim
menekankan pada syarat yang harus dipenuhi yaitu syarat actionable dan
syarat justifiable. Syarat Actionable berarti seseorang penggugat dihadapan
pengadilan di Inggris harus dapat membuktika bahwa tindakan sengketa dari
tergugat apabila dilakukannya diwilayah inggris akan merupakan suatu
perbuatan pula yang membawa pula kewajiban untuk mengganti rugi.
Kemudian syarat justifiable perbuatan yang disengketakan harus juga
merupakan perbuatan melawan hukum ditempat ia melakukan perbuatan.
Ternyata syarat-syarat itu tidak terpenuhi. Untuk iu maka pengadilan Inggris
(lex fori) mnolak gugatan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


Sunaryati Hartono, 1995, Pokok-pokok Hukum Perdata Internasional, Bandung:
Penerbit Binacipta.

Gautama Sudargo, 2002, Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid III Bagian 2
Buku ke-8, Bandung: Alumni.

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/9446/SKRIPSI
%20LENGKAP-PIDANA-MARDEWIWANTI.pdf?sequence=1