Anda di halaman 1dari 11

STROCYTOMA

A. Pengertian

Adalah tumor jinak (neoplasma) pada sistem syaraf pusat dimana sel
yang predominan

diturunkan dari astrosit yang tidak bisa mati. Ada 2 kelas tumor
astrocytic, yaitu: zona infiltrasi

yang sempit (spt pilocitic astrocytoma, astyrocytoma sel giant


subependymal, dan pleomorphic

xanthoastrocytoma) dan zona infiltrasi yang difuse (spt astrocytoma


derajat rendah, astrocytoma

anaplastik, dan glioblastoma)

B. Patofisiologi

Efek regional dari astrocytoma adalah penekanan, invasi dan kerusakan


parenkim otak.

Hipoksia arteri dan vena, perebutan nutrisi, pelepasan produk metabolik


(spt. radikal bebas) dan

pelepasan mediator seluler (spt cytokenes) merusak fungsi normal


parenkim. Peningkatan TIK

mungkin muncul karena adanya massa, peningkatan volume darah dan


peningkatan cairan

serebrospinal mungkin akan meninggalkan sekuel sekunder. Tanda-


tanda neurologis dari

astrocytoma muncul karena penekanan fungsi sistem saraf pusat.


Defisit neurologis fokal (spt

kelemahan, paralisis, defisit sensori, syaraf kranial palsy) dan demam


yang berbagai tipe

menunjukkan letak lesi


C. Pemeriksaan yang diperlukan

- Pemeriksaan fisik, terutama status neurologis dan pemeriksaan


peningkatan TIK

- Pengkajian faktor penyebab

- Pemeriksaan laboratorium tidak ada yang spesifik mengidentifikasi


adanya astrocytoma

- Pemeriksaan CT scan dan MRI

- Pemeriksaan EEG terkait dengan kejang yang sering, EKG untuk


persiapan operasi

- Pemeriksaan lumbal punksi untuk mengkaji resiko adanya herniasi


akibat peningkatan TIK,

secara histologi akan ada 4 varian astrocytoma derajat rendah, yaitu:


protoplasmik,

gemistocytik, fibriller dan mixed

D. Penatalaksanan

1. Perawatan medis, biasanya dirawat oleh neuroonkolog.

- pasien dengan riwayat kejang, biasanya diberi terapi


antikonvulsan

- pemberian kortikosteroid, seperti dexamethason mengurangi


pertumbuhan tumor

2. Prosedur operasi

- mengeluarkan tumor

- mengambil jaringan histologi untuk pemeriksaan laboratorium

- hampir tidak mungkin untuk mengangkat semua tumor karena


tumor sering invasi ke

dalam otak dan hanya bisa dideteksi dengan stetoskop. Karena


itu prosedur operasi
hanya bisa untuk memperpanjang kemampuan bertahan dan
tidak untuk

menyembuhkan.

3. Aktivitas

- tidak ada pembatasan aktivitas, hanya saja aktivitas disesuaikan


dengan kondisi

peryarafan dan ketidakmampuan

- terapi kerja dan fisioterapi mungkin diperlukan

4. Obat-obatan yang biasa digunakan

- Antikonvulsan, seperti Carbamazepine dan Phenytoin, untuk


mencegah kejang

berulang

- Kortikosteroib, seperti dexamethasone, untuk mengurangi edema


di sekitar tumor,

secara umum mengurangi gejala dan meningkatkan status


generalis

E. Masalah Perawatan yang Mungkin Muncul

1. PK. Resiko kejang berulang

2. PK. Resiko peningkatan TIK

3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

4. Resiko kelebihan volume cairan

5. Perfusi jaringan (serebral) tidak efektif

6. Resiko infeksi bd penurunan kekebalan tubuh dan prosedur operasi

F. Daftar Pustaka
Closkey JC & Bulechek. 1996. Nursing Intervention Classification. 2nd
ed. Mosby Year Book

Johnson M, dkk. 2000. Nursing Outcome Classification (NOC). Second


edition. Mosby.

NANDA. 2005-2006. Nursing Diagnosis: Deffinition & Classification.


Philadhelphia.

Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak 2004. Edisi I. Ikatan Dokter


Anak Indonesia.

www.eMedicine.com. Astrocytoma: Article by Jeffrey N Bruce, MD/


tanggal akses 9 Oktober

2006 jam 15.30 WIB

DOCUMENT INFO
Astrositoma
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi

Astrositoma adalah neoplasma yang berasal dari salah satu sel-sel penyokong di
otak yaitu sel-sel astrosit.
Astrositoma
merupakan tumor susunan saraf pusat yang paling sering dijumpai. Pada orang
dewasa tumbuh di hcmisfer serebri. Pada anak-anak dan dewasa muda di
serebelum, dan pada umumnya kistik.

3.2. Insidensi

Astrositoma terjadi pada semua usia, tersering antara 40-60 tahun. Perbandingan
kejadian astrositoma antara pria dan wanita adalah 2 : 1. Tumor otak ini merupakan tipe
tumor otak yang paling banyak ditemukan pada anak-anak maupun pada orang-orang yang
berumur antara 20 sampai 40 tahun. Walaupun berkembang lambat, namun bukan merupakan
tumor jinak karena kualitas dan lokasinya yang bersifat invasif didalam ruang tulang
calvarium. Astrositoma anaplastik dapat ditemukan pada pasien berumur antara 30 sampai 50
tahun dengan jumlah yang meningkat dan glioblastoma multiforme, bentuk astrositoma yang
paling ganas, diderita oleh pasien yang kebanyakan berumur 50 tahun keatas namun dapat
menyerang segala umur.

3.3. Etiologi

Penyebab Astrositoma hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti,
walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang
perlu ditinjau, yaitu :

1.
Herediter

Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-
anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat
dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor
familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti
yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada
neoplasma.
2.
Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)

Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang


mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi
ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat
terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.

3.
Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya
suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya
suatu radiasi.

4.
Substansi-substansi Karsinogenik

Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini
telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik
seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan
yang dilakukan pada hewan.

3.4. Klasifikasi

Astrositoma, secara umum dan yang paling banyak dipakai, menurut World Health
Organization dibagi didalam beberapa tipe dan grade:

1. Astrositoma Pilositik (Grade I)

Tumbuh lambat dan jarang menyebar ke jaringan disekitarnya. Tumor ini biasa terjadi pada
anak-anak dan dewasa muda. Mereka dapat disembuhkan secara tuntas dan memuaskan.
Namun demikian, apabila mereka menyerang pada tempat yang sukar dijangkau, masih dapat
mengancam hidup.

2. Astrositoma Difusa (Grade II)

Tumbuh lambat, namun menyebar ke jaringan sekitarnya. Beberapa dapat berlanjut ke tahap
berikutnya. Kebanyakan terjadi pada dewasa muda.

3. Astrositoma Anaplastik (Grade III)

Sering disebut sebagai astrositoma maligna. Tumbuh dengan cepat dan menyebar ke jaringan
sekitarnya. Sel-sel tumornya terlihat berbeda dibanding dengan sel-sel yang normal. Rata-rata
pasien yang menderita tumor jenis ini berumur 41 tahun.
4. Gliobastoma multiforme (Grade IV)

Tumbuh dan menyebar secara agresif. Sel-selnya sangat berbeda dari yang normal.
Menyerang pada orang dewasa berumur antara 45 sampai 70 tahun.

Tumor ini merupakan salah satu tumor otak primer dengan prognosis yang sangat buruk.

Grade I dan II juga dikenal sebagai Astrositoma berdifrensiasi baik (Well differentiated
astrocytomas).

3.5. Manifestasi Klinis

Gejala-gejala yang umumnya terjadi pada tumor astrositoma ialah hasil daripada peningkatan
tekanan intracranium. Gejala-gejala tersebut antara lain sakit kepala, muntah, dan perubahan
status mental. Gejala lainnya, seperti mengantuk, letargi, penurunan konsentrasi, perubahan
kepribadian, kelainan konduksi dan kemampuan mental yang melemah terlihat pada awal-
awal timbulnya gejala. Biasanya terdapat pada satu dari empat penderita tumor otak maligna.

Pada anak kecil, peningkatan intra cranium yang disebabkan oleh tumor astrositoma bisa
memperbesar ukuran kepala. Perubahan-perubahan (seperti pembengkakkan) dapat
diobservasi di bagian belakang retina mata, dimana terdapat bintik buta, yang disebabkan
oleh terjepitnya Nn.Optici. Biasanya tidak terdapat perubahan pada temperatur, tekanan
darah, nadi atau frequensi pernafasan kecuali sesaat sebelum meninggal dunia. Kejang-kejang
juga dapat ditemukan pada astrositoma diferensiasi baik.

Walaupun spektrum dari gejala-gejala sama pada semua jenis tumor glia namun frekuensi
dari gejala-gejala yang berbeda bervariasi tergantung dari apakah lesinya grade rendah atau
tinggi. Sebagai contoh, glioma grade rendah dimulai dengan kejang-kejang terdapat pada
sekitar 80% dari pasien dan kebanyakan dari mereka tidak memiliki kelainan pada
pemeriksaan neurologis; sekitar 25% pasien-pasien dengan glioblastoma mengalami kejang-
kejang tetapi yang paling banyak memiliki gejala-gejala sensoris atau motoris terlateralisasi
yang jelas terlihat.

Gejala-gejala daripada tumor astrositoma juga memiliki variasi yang tergantung pada bagian
mana dari otak yang terkena. Terkadang tipe dari kejang-kejangnya dapat membantu untuk
menentukkan lokasi mana tumor tersebut berada.

3.6. Prosedur Diagnostik.

a. Computed Tomography (CT)- scan

1. Astrositoma Gradasi Rendah :

Dapat memperlihatkan gambaran hipodens dengan bentuk yang ireguler dan


tepinya bergerigi. Astrositoma yang lain ber bentuk bulat atau oval dengan tepi
yang tegas yang
dapat disertai dengan kista. Adanya tumor kistik akan lebih nyata bila
ditemukan fluid level di dalam lesi atau adanya kebocoran kontras media ke dalam
tumornya. Kalsifikasi tampak pada 81% dan efek masa tampak pada
50%. Enhancement terlihat pada 50%, biasanya merata dan tidak tajam.

2. Astrositoma Anaplastik :

CT polos, tampak sebagai gambaran hipodens atau densitas campuran yang


heterogen.Enhancement media kontras tampak pada 78%, dapat berupa gambaran
lesi yang homogen, noduler atau pola cincin yang kompleks.

3. Glioblastoma Multiforme:

Gambaran CT bervariasi, hal ini merefleksikan gambaran patologinya yang


heterogen. Pola yang khas, lesi berdensitas campuran yang heterogen atau
hipodens, yang pada pemeriksaan paseakontras menunjukkan bentuk yang ireguler
dengan pola enhancementcincin yang ketebalannya bervariasi, dan biasanya ada
efek masa. Adanya penebalan dan pelebaran dari septum pelusidum yang tampak
path enhanced sean sangat spesifik untuk neoplasma intraaksial. Hal ini tampak
pada glioma dan metastasis tetapi tidak tampak pada meningioma atau adenoma
hipofisis.

b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI Scan dengan penampakan tumor pada potongan axial dan sagital ialah metode
pilihan pada kasus-kasus curiga astrositoma. MRI memberikan garis batas tumor
lebih akurat dibandingkan dengan CT Scan, dan MRI Scan yang teratur dapat
dilakukan sebagai follow up pasca penatalaksanaan. Dengan CT Scan, Astrositoma
biasanya terlihat sebagai daerah dengan peningkatan densitas dan menunjukkan
peningkatan setelah penginfusan dari bahan kontras. Pergeseran struktur-struktur
garis tengah dan penipisan daripada dinding ventrikel lateralis di sisi tumor dapat
terlihat.

3.7.Diagnosis Diferensial

Tanda khas glioma berupa lesi yang bentuknya ireguler, berdensitas heterogen
denganenhancement cincin yang tebalnya bervariasi biasanya dapat dibedakan dari
suatu meningioma yang bentuknya lebih reguler dan densitasnya lebih homogen
(pada pemeriksaan dengan media kontras).

Bila lesinya tunggal, tidak selalu dapat dibedakan antara glioma dari metastasis,
limfoma atau sarkoma.Pada beberapa kasus, pola CT dari infark serebri dapat
menyerupai suatu glioma. Bila di ferensiasinya tidak dapat dibuat pada CT polos,
ulangan CT dapat dilakukan 7- 10 hari kemudian.
Hal-hal penting dalam diagnosis diferensial suatu infark adalah : bentuknya reguler
dibatasi vaskuler, efek masa kurang dibanding dengan glioma. Pada umumnya
menyebabkan gyral enhancement dan jarang menunjukkan enhancement noduler
atau cincin tipis di bagian perifernya.

3.8. Penatalaksanaan.

Tumor pilositik hemisfer harus dieksisi sebisa mungkin, karena hampir seratus persen pasien
dapat bertahan hidup sepuluh tahun setelah dioperasi. Garis tengah astrositoma harus dieksisi
sebisa mungkin, tetapi tumor-tumor yang anaplasia cenderung untuk menyebar didalam
neuraxis, dan direkomendasikan penatalaksanaan lanjutan berupa radiasi lokal sampai radiasi
craniospinal ditambah dengan kemoterapi.

Semua model utama pengobatan kanker,yaitu operasi, radiasi, dan kemoterapi,


dipakai untuk menatalaksana astrositoma maligna. Pendekatan ini identik baik
untuk astrositoma anaplastik maupun glioblastoma, namun memiliki prognosis yang
berbeda. Dengan penatalaksanaan yang identik, median lamanya bertahan untuk
pasien dengan astrositoma anaplastik ialah 3 tahun, dengan beberapa pasien yang
masih bisa bertahan sampai satu dekade atau lebih. Namun demikian, angka
bertahan hidup secara keseluruhan untuk pasien glioblastoma ialah hanya sekitar 1
tahun, dan jarang sekali yang dapat bertahan sampai 3 tahun.

Terdapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap angka bertahan hidup pasien.


Dewasa muda secara signifikan dapat bertahan hidup lebih lama daripada pasien
yang tua, walaupun memakai metode terapi yang identik Dapat dikatakan, pasien
berumur 65 tahun memiliki prognosis yang buruk. Keadaan umum juga
menunjukkan suatu pengaruh yang kuat. Pasien dengan keadaan umum baik dapat
bertahan hidup lebih lama daripada yang kurang baik. Pasien dengan riwayat
gejala-gejala yang banyak, seperti kejang-kejang, dapat bertahan hidup lebih lama
daripada yang gejalanya minimal.

Operasi, radioterapi, kemoterapi dapat membantu mengontrol penyakit dalam satu


waktu, tapi tumor timbul kembali pada kebanyakan pasien, terutama pada tempat
yang sebelumnya.

Penatalaksanaan yang dilakukan pada astrositoma maligna:

Operasi:

Reseksi agresif dengan pengangkatan seluruh massa yang mengganggu ialah


tujuan utama dari operasi. Pada kebanyakan pasien, eksisi total secara umum
meningkatkan fungsi neurologis, mengurangi oedema didaerah sekitar dan
memperpanjang ketahanan hidup. Walau ketika tumor melibatkan area yang
penting di otak, evaluasi pre-operasi dengan fungsional MRI (fMRI) dan
pemetaan intra-operatif terkadang dapat memudahkan ahli bedah saraf yang
terampil untuk mengeksisi lesi-lesi ini secara keseluruhan. Eksisi total juga
memudahkan ahli Patologi Anatomi untuk menegakkan diagnosis yang akurat.
Batas reseksi harus diukur dengan post-operatif MRI, dilakukan 72 jam post-
operatif, karena pengangkatan tumor intra-operatif terkadang tidak akurat.
Tumor yang bersifat multifokal, bilateral, atau yang melibatkan struktur yang
peka seperti thalamus, tidak boleh diangkat pada operasi. Pada pasien-pasien
tersebut dilakukan biopsy stereotaktis pada jaringan tumor.

Radioterapi:

Merupakan penatalaksanaan non operatif yang paling penting untuk glioma


grade tinggi.

Kemoterapi:

Dari penelitian yang dilakukan para ahli, 20% dari pasien yang memakai
kemoterapi nitrosourea terlihat memiliki angka ketahanan hidup yang lebih
panjang. Namun banyak dokter sekarang ini memakai temozolomide.
Temozolomide ialah obat yang bersifat alkylating agent, diberikan per oral.
Secara empiris sangat baik pengaruhnya untuk perawatan pasien yang
menderita glioma ganas yang kambuh kembali dan telah menjadi standard
pengobatan untuk kasus-kasus seperti itu.

3.9. Prognosis

Pasien dengan Astrositoma grade rendah dapat bertahan hidup sampai lima tahun.
Rentang kemampuan untuk bertahan hidup bervariasi, dimana beberapa pasien
hanya dapat bertahan selama satu tahun, tetapi ada yang sanggup untuk bertahan
hidup hingga sepuluh tahun ke depan. Sebagian besar pasien meninggal karena
tumor yang telah berkembang ke grade yang lebih tinggi.

Pasien yang menderita glioblastoma multiform sebagian besar hanya dapat


bertahan sampai satu tahun, sedangkan pada anaplastic astrocytoma rata-rata
dapat bertahan hidup sampai tiga tahun. Tumor sering kali muncul kembali lokal
dan secepatnya harus diterapi kembali. Namun, sebagian pasien dapat hidup
sampai sepuluh tahun tanpa adanya tumor rekuren.

DAFTAR PUSTAKA

Japardi, I. 2002. Gambaran CT-scan pada Tumor Otak Benigna. Medan : Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.http://www.USU-digitallibrary.com
American Brain Tumor Association. 2007. Low Grade Astrocytoma. Illinois :
American Brain Tumor Association.
Rowland, Lewis P. 2005. Merritt's Neurology, 11th Edition. Lippincott Williams &
Wilkins. Hal: 394-405.

Ropper, Allan H. 2005. Adam and Victor Principles of Neurology eigth edition.
McGraw-Hill.546-590.
MacDonald T,2006.Astrocytoma.Available From http//www.eMedicine.com/ ped/
topic154.htm
Gilroy J.2000.Basic Neurology.3rd ed.New York : McGraw-Hill.
Kleihues P, Cavanee WK editor.2000. World Health Organization.Classification of
tumours. Pathology and genetics-tumours of the nervous system. Lyon: IARC Press.
Rich JN.Malignant Neural Tumors.In: Johnson RT,Griffin JW,McArthur JC,Current
Theraphy in Neurologic Disease. 6th ed.London