Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH MIKROBIOLOGI

Sel Eukariotik Yang Mikroskopis

DisusunOleh :

KELOMPOK 7

1. NIA HERIANI G 701 14 005


2. FITRA G 701 14 131
3. WIWIT YUNI KATRIKA G 701 14 152
4. NINING ANGRIANA G 701 12 068
5. MOH RONALDI G 701 14 188

JURUSAN FARMASI

UNIVERSITAS TADULAKO

TAHUN AKADEMIK 2015 / 2016

KATA PENGANTAR

1
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesainya
makalah yang berjudul "mikroskop dan mikroskopis " ini tepat pada waktunya. Makalah
ini kami susun berdasarkan arahan dan bimbingan dosen pembimbing mikrobiologi.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat
secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini bisa terselesaikan
sebagaimana mestinya. Tak lupa pula kami mengucapkan terimakasih kepada dosen
pembimbing kimia atas bimbingan dan arahannya dalam pengerjaan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari dosen, rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak sangat kami
butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini. Terimakasih.

Palu, 20 September 2015

KELOMPOK 7

BAB I

2
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Pengembangan ilmu pada zaman dewasa ini sudah sangat luas dan banyak hal yang
terungkap oleh tangan-tangn ilmuan modern. Sudah banyak yang mengetahui klasifikasi
makhluk hidup yang ada di alam semesta ini, bahkan luar angkasa sedikit banyak sudah
bisa dipelajari. Namun setiap ilmu yang telah kita peroleh baik dari tingkat sekolah
maupun kuliah harus tetap diingat dan diterapkan serta diulas kembali demi memperkaya
ilmu pengetahuan. Diantara banyaknya ilmu pengetahuan salah satunya adalah tentang
sel. Satuan terkecil dari kehidupan adalah sel. Dan sel itu sendiri sangat bervariasi mulai
dari sel prokariotik dan eukariotik, dan masing-masing dari sel tersebut masih terdapat
beberapa macam sel, yakni sel eukariotik adalah penyusun dari sel hewan, sel tumbuhan
dan sel fungi. Tiap sel mempunyai organel yang berbeda-beda. Sel eukariotik sendiri
merupakan sel yang memiliki membrane inti yang dapat memisahkan daerah inti dengan
daerah lain diluar daerah inti. Selain itu sel eukariotik memiliki struktur yang lebih
kompleks dengan ukuran yang lebih besar pula terhadap sel prokariotik.

Adanya banyak membran intraseluler yang menyekat sel menjadi sejumlah organel
yang terpisah merupakan sifat utama sel eukariot. Tiap organel mempunyai fungsi
khusus yang diperlukan untuk memelihara sel. Retikulum endoplasma yang halus dan
kasar adalah struktur membran yang bertindak sebagai tempat-tempat biosintesis protein
nonsitoplasma dan hormon tertentu. Kompleks golgi terdiri atas susunan membran yang
licin dan terlibat dalam pengolahan protein sekresi. Lisosom adalah struktur yang terkait
membran yang mengandung berbagai enzim hidrolitik yang penting bagi perombakan
bahan kompleks, antara lain pemusnahan mikroorganisme yang masuk kedalamnya.
(volk & wheeler edisi kelima)

I.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana morfologi dan anatomi sel eukariotik ?


2. Apa saja Biologi, distribusi dan pengelompokan fungi ?

BAB II

3
PEMBAHASAN

II.1 SEL EUKARIYOTE


Sel yang merupakan penyusun dari mahluk hidup khususnya pada hewan,
tumbuhan dan fungi adalah sel eukariotik. Eukariotik adalah organisme dengan sel
kompleks, didalamnya terdapat bahan-bahan genetika yang kemudian disusun menjadi
nuclei yang terikat oleh membrane. Eukariotik sendiri berasal dari bahasa yunani, eu
dan karyon yang memiliki arti sebenarnya dan inti (sel yang memiliki membrane inti
sejati ), sehingga Sel ini memiliki membrane plasma yang dapat memisahkan antara
daerah inti sel dengan daerah lainya. struktur tubuhnya terbentuk secara kompleks dan
lebih besar dari pada sel prokariotik. Secara umum ukuran pada sel eukariotik
berdiameter 10-100 . Selain itu, sel eukariotik juga bisa hidup dalam keadaan
lingkungan yang basa dan melakukan pembelahan sel secara aseksual maupun
reproduksi seksual melalui proses fusi sel. Sel eukariotik yang terdapat pada hewan
dan tumbuhan berbeda khususnya pada organel-organel didalam sel , seperti sentrosom,
lisosom dan sentriol flagella( namun ada pada beberapa jenis sperma tumbuhan) adalah
organel yang dimiliki sel hewan namun tidak ada dalam sel tumbuhan. Selain itu, ada
beberapa organel lainya yang dimiliki oleh sel tumbuhan namun tidak dimiliki oleh sel
hewan yakni kloroplas, dinding sel dan vakuola. Berikut adalah gambaran dari sel
hewan dan sel tumbuhan :

II.2 ANATOMI SEL HEWAN DAN TUMBUHAN

4
Struktur sel pada sel prokariotik dan sel eukariokit berbeda, pada sel eukariotik
sendiri yakni sel hewan, sel tumbuhan dan sel fungi juga memiliki perbedaan. Berikut
adalah anatomi dari sel tumbuhan dan sel hewan :

SEL HEWAN

SEL TUMBUHAN
II.3 ORGANEL-ORGANEL PADA SEL EUKARIOTIK

5
1. Nukleus
Nukleus ( Terdapat pada sel
hewan maupun tumbuhan serta
fungsinya yang sama) Nukleus
merupakan organel yang berperan
penting dalam pengontrolan seluruh
aktivitas yang terjadi didalam sel,
sehingga sering disebut sebagai pusat
kendali atau otak. Didalam inti sel ini
terdapat materi genetic yang berfungsi
sebagai pembawa sifat keturunan yakni DNA(asam deoksiribonukleat) dan
Kromosom. DNA eukariota disimpan dalam kumpulan kromosom yang tersimpan di
dalam nukleus yang terbungkus membran nucleus. nucleus ini terbentuk atas :
Nukleolus merupakan daerah yang berwarna gelap yang berfungsi dalam
pembentukan protein dari RNA(asam ribonukleat) serta ikut berperan dalam
produksi ribosom
Kromatin merupakan materi dalam nucleus yang tersusun atas protein dan DNA
yang akan tampak sebagai kromosom ketika sel mengalami pembelahan.
Membran nuklir adalah selubung berpori yang berguna sebagai tempat
masuknya zat dan pelindung dari inti itu sendiri serta menjadi ciri khas dari sel
hewan dan bersambung dengan RE
Nukleoplasma merupakan cairan padat dari protein yang ada dalam nucleus
yang mengandung kromatin dan ketika memadat membentuk kromosom
sekaligus gen yang membawa informasi turun-temurun.

2. Sistem endomembran
Sel eukariotik memiliki beragam struktur yang dibatasi membrane yang
sering disebut system endomembran. System endomembran berfungsi membentuk
membrane untuk membatasi sel dan membrane plasma. Sistem ini terdiri dari
beberapa komponen, tiap komponen menghubungkan dengan membrane plasma
baik satu waktu maupun lain waktu. Komponen endomembrane : Reticulum
endoplasma, Badan golgi, Lisosom, peroksisom
a) Retikulum endoplasma

6
Retikulum endoplasma ( Terdapat pada sel hewan maupun tumbuhan serta
fungsinya yang sama) Jejaring kantong dan tabung bermembrane berbentuk jala
adalah bentuk dari RE. Kantung ini disebut cisternae, organel ini berasal dari kata
reticulum jaringandan endoplasmic yang berarti didalam sel,organel ini
juga berperan aktif dalam sintesis membrane dan proses sintesis sekaligus proses
metabolic lain. RE memiliki bagian yang halus atu agranuler (berperan untuk
mensintesis lipid, glikogen, kolesterol, dan gliserida, serta membantu dalam
detoksifikasi zat-zat berbahaya dalam sel) dan kasar atu granuler (ditempeli oleh
ribosom sehingga bertanggung jawab untuk memegang protein terbentuk di
ribosom).

b) Badan Golgi
Badan golgi ( Terdapat pada sel hewan
maupun tumbuhan serta fungsinya yang sama)
Badan golgi atau aparatus golgi adalah organel
polimorfik yang membranya berbentuk
kantong pipih yakni pembuluh, gelembung
kecil dan bentukan seperti mangkok. Organel
ini aktif dalam sintesis , modifikasi, pemilahan
dan sekresi produk-produk sel. Setiap sel hewan terdapat 10 hingga 20 badan
golgi sedangkan pada sel tumbuhan terdapat ratusan badan golgi. Pada sel
tumbuhan badan golgi sering disebut sebagai diktiosom, Lebih spesifikainya
adalah berperan :

7
Pembentukan vesikula ekskretorius (kantong pembungkus zat yang akan di
keluarkan dari sel)
Pembentukan membrane plasma, dinding sel (pektin, hemiselulosa, dan
selulosa yang dibentuk dalam badan golgi), pembentukan akrosom pada sperma,
kuning telur pada sel telur dan lisosom.
Tempat memodifikasi protein serta menyortir dan memaket molekul-molekul
untuk sekresi sel.

c) .Lisosom
Lisososm (Terdapat pada sel hewan )
Lisosom adalah organel pencerna berupa
kantong sebagai tempat makromolekul
dihidrolisis dan tersusun atas enzim yang
terpisah menjadi komponen yang dapat
digunakan pada tingkat sel. Masalah sampah
dan partikel makanan bias dicerna dalam
lisosom dan diekskresikan melalui vakuola.

d) Peroksisom
Peroksisom (Terdapat pada sel
hewan maupun tumbuhan serta fungsinya
yang sama) Organel seperti kantong-
kantong yang memiliki membrane tunggal
adalah peroksisom. Organel ini berisi
berbagai enzim dan yang paling khas enzim
katalase yang berfungsi mengkatalis
perombakan hydrogen peroksida menjadi
air. Organel ini merupakan salah satu
organel yang berperan dalam berbagai fungsi metabolic yang terspesialisasi serta
perubahan lemak menjadi karbohidrat.
3. Ribosom
Ribosom ( Terdapat pada sel hewan maupun tumbuhan serta fungsinya yang
sama) Ribosom merupakan kompeks (titik-titik coklat kecil) yang berguna dalam

8
sintesis protein (transkripsi dan translasi). Biasanya ribosom mengambang bebas
dalam sitosol atau menempel
pada RE kasar maupun selaput nucleus.
Tempat di mana ribosom terletak adalah salah
satu perbedaan antara ribosom bebas dan
terikat. Ribosom bebas terletak di
dalam sitoplasma sel. Mereka tidak melekat
pada struktur apapun, tetapi mereka
mungkin mengelompokkan bersama-sama dengan ribosom lain untuk membentuk
polysomes. Dalam sitoplasma, ribosom adalah mengambang bebas. Mereka bisa
bergerak di sekitar sel.

Ribosom terikat terletak pada permukaan retikulum endoplasma. Retikulum


endoplasma yang mengandung ribosom digambarkan sebagai retikulum endoplasma
kasar karena permukaan bergelombang. Ribosom terikat tidak bisa bergerak ke area
lain dari sel. Mereka yang melekat pada sisi sitosol dari retikulum endoplasma.

Jenis-jenis protein yang diproduksi oleh ribosom lain adalah salah satu
perbedaan antara ribosom bebas dan terikat. Ribosom bebas menghasilkan protein
yang digunakan oleh sel. Ini termasuk protein yang digunakan untuk metabolisme
makanan. Ribosom bebas menghasilkan enzim yang terlibat dalam metabolisme
glukosa.

Ribosom terikat memproduksi protein yang diangkut keluar dari sel. Ini
termasuk protein yang diperlukan untuk fungsi tertentu, seperti enzim pencernaan.
Ribosom terikat juga memproduksi hormon polipeptida. Beberapa protein yang
diproduksi oleh ribosom terikat digunakan dalam membran sel dan pada permukaan
luar sel. Reseptor permukaan dan protein sel sinyal yang diproduksi oleh ribosom
terikat.

4. Mitokondria
Mirokondria ( Terdapat pada sel hewan maupun tumbuhan serta fungsinya
yang sama) Tempat berlangsungnya respirasi sel sekaligus menjadi penghasil

9
sebagian besar ATP merupakan beberapa fungsi dari mitokondria. Organel ini adalah
organel yang independen yang memiliki DNA, RNA dan ribosom yang merupakan
replikasi dan duplikasi diri. Organel ini disebut rumah mesin dari sel sekaligus
menjadi organel paling besar dalam sel. Membran mitokondria tersusun atas dua
bagian ruang, yakni :

Ruang intermembran : ruangan diantara membrane luar dan membrane dalam.


Membrane terluar dari organel ini berstruktur halus sedangkan pada bagian
membrane dalam berupa lekukan yang sering disebut kista. Semua molekul
kecil bisa melewati membrane luar tapi tidak bisa untuk protein dan molekul
besar.
Matriks mitokondria : merupakan ruangan yang berada dalam membrane dalam
mitokondria yang dijadikan tempat metabolisme serta mengandung enzim untuk
proses siklus kreb dan oksidasi lemak. Selain enzim, di dalamnya terdapat
butiran protein yang disintesis sendiri dengan bantuan DNA, ribosom dan
beberapa jenis RNA.

5. Plasma Membran
Plasma membran (Terdapat pada sel hewan maupun tumbuhan serta fungsinya yang
sama). Membrane sel merupakan bagian paling luar dari sel yang bersifat
semipermeable dan selektifpermeable yakni mengatur setiap zat yang akan keluar
dan masuk kedalam sel. Membrane sel terdiri atas fosfolipid (orange) dan protein
(biru). Pada fosfolipid sendiri disusun atas kepala hidrofilik (suka air) dan dua ekor
hidrofobik(sukar air). Selain itu protein juga dibagi atas dua macam yakni protein
integral dan protein porifer.

10
6. Sitoplasma
Matriks atau gel zat atau cairan yang mengisi
ruang sel yang bersifat koloid yakni tidak cair
maupun padat dan tersusun atas air dan protein
material. Sitoplasma adalah lokasi utama dimana
proses kehidupan terjadi.

7. Flagella dan Silia


Flagella dan silia ( Terdapat pada sel hewan ) Merupakan organel lokomosi
yang biasanya terdapat pada sel hewan yang berfungsi sebagai alat gerak pada sel.
Organel ini disusun dari kumpulan mikrotubulus yang menjulur keluar pada
membrane plasma. Zat silia bergerak dalam pernapasan dan pencernaan pada hewan
multiseluler. Silia juga bekerja pada Pendengaran dan sel-sel reproduksi untuk
bergerak dan sensasi. Pada sel tumbuhan tidak terdapat alat gerak seperti flagella
atau silia.

8. Sentrosom

11
Sentrosom (Terdapat pada sel
hewan ) Sentrosom merupakan wilayah
dalam sel sebagai tempat mikrotubulus sel
bermula. organel ini mengandung dua
sentriol berbentuk bintang yang berfungsi
memulai pembelahan sel yakni dalam
penarikan kromosom ke arah kutub baik
secara mitosis maupun meiosis. Sentriol
juga berperan dalam mengatur geometri sel dan orientasi, karakteristik ini menjadi
sangat penting selama perkembangan embrio organisme.

9. Mikrovili
Mikrovili (Terdapat pada sel hewan ) : Penjuluran yang meningkatkan luas
permukaan sel. Mikrovili adalah bentuk pural; Microvillus adalah bentuk
tunggal. Mikrovili adalah bentuk seperti jari yang berproyeksi di luar permukaan sel.
Tidak semua sel memiliki mikrovili. Fungsi mereka adalah untuk meningkatkan luas
permukaan sel, yang merupakan daerah di mana difusi material baik ke dalam, dan
keluar dari sel bisa dilakukan

10. Sitoskeleton

Sitoskeloton (Terdapat pada sel hewan ) Sitoskeleton ikut berperan dalam


pergerakan sel dan memperkuat bentuk sel. Komponen organel ini tersusun atas
protein serta mencakup : mikrofilamen, filament intermediet dan mikrotubulus. sel-
sel hewan yang mengandung sitoskeleton fleksibel terdiri dari filamen aktin, antara
filament tebal dan mikrotubulus berongga.
11. Vakuola

12
Vakuola (Terdapat pada sel tumbuhan ) Vokuola
merupakan tempar cadangan makanan, menyimpan
pigmen dan menyimpan sisa metabolisme. Vakuola pada
sel tumbuhan sangat besar serta bersifat menetap.
Vakuola dibatasi oleh membrane yang disebut sebagai
tonoplas. Mekanisme pertahanan hidup tumbuhan
bergantung bagaimana kemempuan vakuola menjaga
konsentrasi zat-zat terlarut didalamnya.

12. Plastida
Plastida (Terdapat pada sel tumbuhan ) Organel pada sitoplasma memiliki
ukuran dan bentuk yang berfariasi. Pad asel tumbuhan berbunga biasnya berbentuk
piringan kecil bikonfeks.beberapa macam organel ini berdasarkan warna :
eukoplast(tidak berwarna) : biasanya
terdapat pada sel yang jarang terkena
oleh sinar matahari sepertidibagian paling
dalam atau bewah tanah. Organel
berperan sebagai pusat sintesis dan
penyimpanan cadangan makanan seperti pat
kloroplas( berklorofil) : pigmen hijau yang berasal
dari berbagai campuran zat pada tumbuhan. Perananya menangkap energy
cahaya yang digunakan sebagai fotosintesis.
Kromoplas : pigmen selain hijau yang menimbulkan warna pada bagian-bagian
tumbuhan

13. Plasmodesmata
Plasmodesmata (Terdapat pada sel tumbuhan ) Noktah pada bagian dinding
sel yang tidak mengalami penebalan yang tersusun atas benang-benang
protoplasmic halus merupakan bentuk plasmodesmata.Organel ini dapat menembus
pori-pori kecil pada dinding sel prime sekaligus dengan adanya lamella tengah yang
berdekatan antar sel dapat menyambugkan kedu sel tersebut. Plasmodesmata
merupakan organel yang mempermudah jalanya transportasi bahan-bahan dari satu
sel ke sel lainya tanpa harus melalui selput-selaput hidup.

13
14. Dinding sel

Dinding sel (Terdapat pada sel tumbuhan ) Dinding sel tersusun atas selulosa
dan derivat-derivatnya. Dinding sel tumbuhan memiliki struktur yang kompleks
karena mempunyai tiga bagian fundamental yang dapat dibedakan yaitu lamella
tengah, dinding sel primer dan dinding sel sekunder, namun pada dinding sel
sekunder tidak semua sel mempunyainya, hanya terdapat pada tipe-tipe tertentu.
Lapisan perekat yang menyekat antara dinding primer sel satu dengan yang lain
yang bersebelahan adalah lamella, sedangkan dinding sel primer itu sendiri adalah
dinding sel sejti yang tebentuk pertama kali oleh sel baru. Dinding sel primer ini
tersusun atas selulosa dan hemiselulosa.
15. Glioksisom

14
Glioksisom berada pada bagian tanaman seperti jaringan penyimpanan lemak
dari biji yang sedang berkecambah. Organel ini tersusun atas enzim yang mampu
mengubah lemak menjadi gula, pada proses ini pula terbentuk energy yang
diperlukan dalam perkecambahan.

II.4 PENGERTIAN FUNGI (JAMUR)


Fungi(jamur) adalah organisme eukariotik yang
bersel tunggal atau banyak dengan tidak memiliki klorofil. Sel
jamur memiliki dinding yang tersusun atas kitin.
Karena sifat-sifatnya tersebut dalam klasifikasi
makhluk hidup, Jamur dipisahkan dalam kingdom
nya tesendiri,ia tidak termasuk dalam kindom protista,monera,
maupun plantae. Karena tidak berklorofil, jamur temasuk
ke dalam makhluk hidup heterotof (memperoleh
makanan dari organisme lainnya), dalam hal ini jamur hidup dengan jalan
menguraikan bahan-bahan organik yang ada di lingkungannya.
Umumnya jamur hidup secara saprofit (hidup dengan menguai sampah oganik seperti
bankai menjadi bahan anoganik). Ada juga jamur yang hidup secara parasit
(memperoleh bahan organik dari inangnya), adapula yang hidup dengan simbiosis
mutualisme(yaitu hidup dengan organisme lain agar sama-sama mendapatkan untung).

II.5 REPRODUKSI FUNGI


Jamur uniseluler berkembangbiak secara aseksual dengan membentuk tunas,
dan secara seksual dengan membentuk spora askus. Sedangkan jamur multiseluler
yang terbentuk dari rangkaian sel membentukbenang seperti kapas, yang disebut
benang hifa. Dalam perkembangbiakkannya secara aseksual ia memutuskan benang
hifa (fragmentasi), membentuk spora aseksual yaitu zoospora, endospora, dan konidia.

15
Secara seksual melalui pelebuan anatara inti jantan dan inti bentina sehingga
terbentuk spora askus atau spora sidium.

Zoospora atau spora kembara adalah spoa yang dapat bergerak di dalam air
dengan menggunakan flagela. Jadi jamur penghasil zoospora biasanya hidup di
lingkungan yang lembab atau berair.

Endospora adalah spoa yang dihasilkan oleh sel dan spora tetap tinggal di
dalam sel tesebut, hingga kondisi memungkinkan untuk tumbuh.

Spora askus atau askospora adalah spora yang dihasilkan melalui perkawinan
jamur ascomycota. Askospora terdapat dalam askus, biasanya berjumlah 8 spora.
Spora yang dihasilkan dari perkawinan kelompok jamur Basidimycota disebut
basidispora. Basidispoa terdapat di dalam basidium, dan biasanya berjumlah empat
spora.
Konidia adalah spora yang dihasilkan dengan jalan membentuk sekat
melintang pada ujung hifa atau dengan diferensiasi hingga terbentuk banyak konidia.
Jika telah masak konidia paling ujung dapat melepaskan diri.

II.6 Ciri-Ciri Umum Divisi Dalam Kingdom Fungi


1. Tubuh uniseluler atau multiseluler,
2. Dinding sel mengandung kitin,
3. Fungi atau jamur termasuk organisme eukariotik yang tidak berkhlorofil, bersifat
heterotrofik.
4. Jamur multiseluler tersusun atas rangkaian sel-sel yang membentuk benang dengan
sekat ( septa ) atau tanpa sekat melintang, disebut hifa. Hifa dapat berfungsi sebagai
: penyerap makanan yang dilakukan oleh miselium (kumpulan hifa).
5. Berdasarkan sumber makanannya Fungi ada yang bersifat parasitik dan ada yang
bersifat saprofitik.
6. Fungi yang hidup parasitik mendapat makanannya dari bahan organik yang masih
menjadi bagian dari inang yang hidup. Beberapa Fungi ini menyebabkan penyakit
pada tanaman, hewan dan manusia.
7. Beberapa fungi mampu bersimbiosis mutualisme dengan organisme lain yaitu hidup
bersama dengan organisme lain agar saling mendapatkan keuntungan, misalnya akar
dari kebanyakan tanaman mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan

16
untuk membentuk mikoriza. Mikoriza mampu meningkatkan kapasitas penyerapan
nutrient dari akar tanaman.
8. Dengan alat reproduksi, misalnya sporangium dan konidium Reproduksi jamur
uniseluler secara : aseksual membentuk tunas, atau membentuk spora. Sedangkan
seksual dengan membentuk spora askus / askuspora.
9. Reproduksi jamur multiseluler secara aseksual dengan cara fragmentasi
menghasilkan spora aseksual. Sedangkan reproduksi seksual dengan peleburan inti
jantan dan betina, akhirnya membentuk spora askus atau spora basidium.

II.7 PENGELOMPOKKAN FUNGI


1. Divisi Zygomycota
Tubuh Zygomycota terdiri dari benng hifa yang bersekat melintang, ada pula
yang tidak bersekat melintang. Hifa bercabang-cabang banyak dan dinding selnya
mengandung kitin.

Contoh jamur ini adalah jamur


yang tumbuh pada tempe, selain itu
ada juga yang hidup secara saprofit
pada rotin, nasi, dan bahan makanan
lainnya. Ada pula yang hidup secara
parasit, misalnya penyebab penyakit
busuk pada ular jalar.

Jamur Zygomycota berkembangbiak secara aseksual dengan spora. Beberapa


hifa akan tumbuh ke atas dan ujungnya menggembung membentuk spoangium.
Sporangium yang masuk berwarna hitam. Spoangium kemudian pecah dan spora
tersebar, spora jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh membentuk benang baru.

Reproduksi secara seksual dilakukan sebagai berikut :


dua hifa yakni hifa betina (hifa -) dan hifa jantan (hifa +) betemu, kemudian inti
jantan dan inti betina melebu, terbentuk zigot yang berdinding tebal. Zigot
menghasilkan kota spora yang disebut zigosporangium dan sporanya disebut
zygospora. Zygospora mengalamai dormansi (istirahat) selama 1-3 bulan. Setelah itu
zigospora akan berkecambah membentuk hifa. Hifa jantan dan betina hanya istilah

17
saja , dan disebut jantan, jika hifanya memberi isi sel, disebut betina kalau menerima
isi sel.

2. Divisi Ascomycoata
Ciri Khusus dari jamur Ascomycota
adalah dapat menghasilkan spora askus
(askospora), yaitu spora hasil repoduksi
seksual, berjumlah 8 spora yang tersimpan
di dalam kotak spoa. Kotak spora ini
menyerupai kantong sehigngga disebut
askus, untuk mengetahui bentuk dan stuktu
askus dibutuhkan pengamatan yang teliti.

a.Reproduksi secara sesksual

Reproduksi secara seksual dapat dijelaskansecara ingkas sebagai berikut.


Hifa yang bercabang-cabang ada yang berdifensiasi membentuk alat reproduksi
betina yang ukurannya menjadi lebh besar, yang disebut askogonium. Di
dekatnya , dari ujung hifa lain terbentuk alat repoduksi jantan yang disebut
anteridium berinti haploid(n kromosom). Dari askogonium tumbuh saluran yang
menghubungkan antara askogonium dan anteridum. Saluran itu disebut trikogin.
Melalui saluran trikogin inilah inti sel dari anteidium pindah dan masuk ke dalam
askogonium. Selanjutnya, inti anteridium dan inti askogonium berpasanga.
Setelah terbentuk pasangan inti, dari askogonium tumbuh beberapa hifa. Hifa ini
disebut sebagai hifa askogonium . Nah inin yang berpasangan itu masuk ke dalam
askogonium ,kemudian membelah secara mitosis, namun tetap saja berpasangan.
Setelah memasuki inti hifa askogonium teus tumbuh, membentuk sekat
melintang, dan bercabang-cabang banyak. Di ujung-ujung hifa askogonium ini
terdapat dua int. Ujung hifainilah yang kelak akan membentuk askus. Cabang-
cabang hifa itu dibungkus oleh miselium, bentuknya kompak,yang mudah
menjadi tubuh buah atau askokarp.

18
Dua inti di dalam askus yang berasal dari ujung hifa itu membelah secara
meiosis membentuk 8 buah spoa. Jadi, spoa tersebut terbentuk di dalam askus,
karena itulah disebut spora askus. Spora askus dapat tersebar kemana-mana
karena angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai spora askus akan tumbuh menjadi
benag hifa baru.

b.Reproduksi Secara Aseksual


Selain reproduksi secara seksual, jamur ini juga melakukan
perkembangbiakkan secara aseksual melalui pembentukan tunas, pembentukan
konidia, fragmentas. Warna spora dan konidia bemacam-macam. Ada yang
hitam,coklat, bahkan kebiruan, dan juga ada yang merah oranye.

Ukuran tubuh Ascomycota ada yang mikroskopis (satu sel), ada yang
makroskopis (dapat dilihat dengan mata). Golongan jamur ini ada yang hidup
saprofit, parasit dan ada pula yang bersimbiosis.

3. Divisi Basidiomycota
Jamur Basidiomycota umumnya
merupakan jamur makroskopik, dapat
dilihat dengan mata karena ukuannya
yang besar. Pada musim penghujan
dapat kita temukan pada pohon,
misalnya jamur kuping, jamur pohon,
atau di tanah yang banyak mengandung
bahan oganik, misalnya jamur barat.

Bentuk tubuh buahnya kebanyakan mirip payung misalnya pada jamur


merang yang kalian amati. Basidiomycota ada yang dibudayakan misalnya jamur
merang, jamur tiram, jamur shiltake, dan lainnya, jamur-jamur tersebut merupakan
makan yang bergizi tinggi.

Hifa Basidiomycota memiliki sekat melintang, berinti satu (monokaiotik)


atau dua (dikariotik). Miseliumnya berada pada substrat. Dari hifa dikariotik dapat
muncul tubuh buah berbentuk payung atau bentuk lain yang menjulang di atas
substrat. Bagian tubuh buah inilah yang enak dimakan. Tubuh buah atau basidiokarp

19
merupakan tempat tumbuhnya basidium. Setiap basidium menghasilkan 4 spora
basidum.

4. Divisi Deuteromycota
Telah dibahas sebelumnya bahwa jamu yang epoduksi seksualnya
menghasilkan askus digolongkankedalam Ascomycota dan yang menghasilkan
basidium digolobgkan kedalam Basidiomycota.
Akan tetapi belum semua jamu yang dijumpai di
alam telah diketahui cara repoduksi seksualnya.
Kira-kira terdapat sekitar 1500 jenis jamur yang
belum diketahui cara reproduksi seksualnya.
Akibat dari hal ini Tidak ada yang bisa
menggolongkan 1500 jamur tersebut. Jamur yang demikian untuk sementara waktu
digolongkan ke dalam Deuteromycota atau jamur tak tentu. Jadi Deuteromycota
bukanlah penggolongan yang sejati atau bukan takson. Jika kemudian menurut
penelitian ada jenis dari jamu ini yang diketahui proses reproduksi seksualnya,maka
akan dimasukkan ke dalam ascomycota atau Basidiomycota. Sebagai cotnoh adalah
jamur oncom yang mula-mula jamur ini berada di divisi deuteromycota dengan
nama Monilla Sithophila. Namun setelah diteliti ternyata jamur ini menghasilkan
askus sehingga dimasukkan ke dalam Ascomycota.

BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
1. Sel eukariotik merupakan sel penyusun dari jaringan hewan, jaringan tumbuhan dan
jaringan fungi. Setiap masing-masing sel berbeda baik organelnya maupun struktur
bentuknya, misalnya organel pada sel hewan seperti sentrosom, lisosom dan sentriol
flagella hanya terdapat pada sel hewan dan tidak ditemukan organel tersebut pada
sel tumbuhan. Dan sebaliknya sel tumbuhan juga memiliki organel yang tidak
dimiliki oleh sel hewan yakni kloroplas, dinding sel dan vakuola.

20
2. Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik
heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi
ke dalam sel-selnya. Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual.
Perbanyakan seksual dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu
membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan
aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur
memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat
spora. Jamur juga berperan dalam kehidupan yaitu sebagai pengurai atau
dekompuser jasad yang sudah mati dan membebaskan zat zat kimia kea lam selain
itu jamur juga berperan dalam kehidupan manusia seperti pembuatan temped an
sebagainya

II.2 SARAN
Seperti karya ilmiah pada umumnya sudah pasti tidak lepas dari yang
namanya kritik dan kesalahan dalam pembuatan dan penulisanya. Ini semua
dikarenakan keterbatasan kemampuan penyusun dalam memnyusun makalah ini.
Namun penyusun akan berjanji dan berusaha untuk belajar dan merperbaiki
kesalahan dalam pembuatan makalah. Oleh karena itu penyusun mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun agar dalam pembuatan makalah yang
selanjutnya dapat lebih baik baik lagi. Penyusun siap menerima kritik dan saran
yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

Mitchell,Reece.2003. Biologi.Jakarta:Erlangga
Campbell,Reece.2008. Biolog i.Jakarta:Erlangga
STRUKTUR SEL TUMBUHAN DAN FUNGSINYA Informasi Tanaman Kehutanan.htm
Gambar Organel Sel Hewan dan Fungsinya - Artikel Biologi sel.htm Fungsi Sel Tumbuhan
dan Hewan.htm Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm
http://vlial.wordpress.com/2009/09/10/jamur/
pdfsearch.kq5.org/doc/pdf-jamur-ascomycota
http://www.scribd.com/doc/47439500/DIVISI-ASCOMYCOTA
http://www.lintas.me/article/ardianrisqi.com/divisi-ascomycota/1

21
http://www.scribd.com/doc/96589896/Divisi-Basidiomycota

22
Ascomycotina disebut juga sebagai the sac fungi. Merupakan fungi yang reproduksi
seksualnya dengan membuat askospora di dalam askus (ascus = sac atau kantung/pundi-
pundi). Askus adalah semacam sporangium yang menghasilkan askospora. Beberapa askus
biasanya mengelompok dan berkumpul membentuk tubuh buah yang disebut askorkarp atau
askoma (kalau banyak disebut askomata). Askomata bisa berbentuk mangkok, botol, atau
seperti balon). Hifa dari Ascomycotina umumnya monokariotik (uninukleat atau memiliki
inti tunggal) dan sel-sel yang dipisahkan oleh septa sederhana.
Jadi, askus merupakan struktur umum yang dimiliki oleh anggota Divisi
Ascomycotina. Tubuhnya ada yang berupa uniseluler dan ada pula yang multiseluler. Hidup
sebagai saprofi t dan parasit. Beberapa jenis diantaranya dapat juga bersimbiosis dengan
makhluk hidup ganggang hijau-biru dan ganggang hijau bersel satu membentuk lumut
kerak. Siklus hidup Ascomycotina dimulai dari askospora yang tumbuh menjadi benang
(hifa) yang bercabang-cabang. Kemudian, salah satu dari beberapa sel pada ujung hifa
berdiferensiasi menjadi askogonium, yang ukurannya lebih lebar dari hifa biasa. Sedangkan
ujung hifa yang lainnya membentuk Anteridium. Anteridium dan Askogonium tersebut
letaknya berdekatan dan memiliki sejumlah inti yang haploid.
Pada askogonium tumbuh trikogin yang menghubungkan askogonium dengan
anteredium. Melaui trikogin ini inti dari anteredium pindah ke askogonium dan kemudian
berpasangan dengan inti pada askogonium. Selanjutnya pada askogonium tumbuh sejumlah
hifa yang disebut hifa askogonium. Inti-inti membelah secara mitosis dan tetap
berpasangan. Hifa askogonium tumbuh membentuk septa bercabang. Bagian askogonium
berinti banyak, sedangkan pada bagian ujungnya berinti 2. Bagian ujung inilah yang akan
tumbuh menjadi bakal askus.
Hifa askogonium ini kemudian berkembang disertai pertumbuhan miselium
vegetatif yang kompak, membentuk tubuh buah. Dua inti pada bakal askus membentuk inti
diploid yang kemudian membelah secara meiosis untuk menghasilkan 8 spora askus
(askospora). Apabila askospora tersebut jatuh pada lingkungan yang sesuai maka ia akan
tumbuh membentuk hifa atau miselium baru.

1. Ciri-ciri
Lebih dari 600.000 spesies Ascomycota telah dideskripsikan.Tubuh jamur ini tersusun
atas miselium dengan hifa bersepta. Pada umumnya jamur dari divisio ini hidup pada

23
habitat air bersifat sebagai saproba atau patogen pada tumbuhan. Akan tetapi, tidak sedikit
pula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lichenes (lumut kerak). Ciri
khas Ascomycota adalah cara perkembangbiakan seksualnya dengan membentuk askospora.
Sedangkan, reproduksi aseksual terjadi dengan membentuk konidium. Konidium ini dapat
berupa kumpulan spora tunggal atau berantai. Konidium merupakan hifa khusus yang
terdapat pada bagian ujung hifa penyokong yang disebut konidiofor.
Ciri-ciri umum Ascomycota :
Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multi seluler.
Memiliki hifa yang bersekat-sekat, dan berinti banyak
Ascomycotina, multiseluler, hifanya bersekat dan berinti banyak.
Hidupnya: ada yang parasit, saprofit, ada yang bersimbiosis
dengan ganggang membentuk Lichenes (Lumut kerak).
Ciri khas Ascomycota berkembang biak secara seksual dengan struktur pembentuk spora
yang disebut Askus. Contoh ascomycota adalah Penicilium, Aspergillus, dan
Saccharomyces

2. Siklus Hidup
Ascomycotina disebut juga sebagai the sac fungi. Merupakan fungi yang reproduksi
seksualnya dengan membuat askospora di dalam askus (ascus = sac atau kantung/pundi-
pundi). Askus adalah semacam sporangium yang menghasilkan askospora. Siklus hidup
Ascomycotina dimulai dari askospora yang tumbuh menjadi benang (hifa) yang bercabang-
cabang. Kemudian, salah satu dari beberapa sel pada ujung hifa berdiferensiasi menjadi
askogonium, yang ukurannya lebih lebar dari hifa biasa. Sedangkan ujung hifa yang
lainnya membentuk Anteridium. Anteridium dan Askogonium tersebut letaknya berdekatan
dan memiliki sejumlah inti yang haploid.

Pada askogonium tumbuh trikogin yang menghubungkan askogonium dengan


anteredium. Melaui trikogin ini inti dari anteredium pindah ke askogonium dan kemudian
berpasangan dengan inti pada askogonium. Selanjutnya pada askogonium tumbuh sejumlah
hifa yang disebut hifa askogonium. Inti-inti membelah secara mitosis dan tetap
berpasangan. Hifa askogonium tumbuh membentuk septa bercabang. Bagian askogonium
berinti banyak, sedangkan pada bagian ujungnya berinti 2. Bagian ujung inilah yang akan
tumbuh menjadi bakal askus. Hifa askogonium ini kemudian berkembang disertai
pertumbuhan miselium vegetatif yang kompak, membentuk tubuh buah. Dua inti pada bakal
askus membentuk inti diploid yang kemudian membelah secara meiosis untuk

24
menghasilkan 8 spora askus (askospora). Apabila askospora tersebut jatuh pada lingkungan
yang sesuai maka ia akan tumbuh membentuk hifa atau miselium baru. Reproduksi aseksual
pada Ascomycotina adalah dengan cara membentuk tunas dan spora aseksual. Pembentukan
tunas terjadi pada jamur uniseluler dan spora aseksual pada jamur terjadi pada jamur
multiseluler. Spora aseksual tersebut terbentuk pada ujung hifa khusus yang disebut
konidiofor dan sporanya disebut konidia. Konidia merupakan spora yang dihasilkan secara
eksternal, yaitu di luar kotak spora atau sporangium.
3. Reproduksi
a. Perkembangbiakan Aseksual (Vegetatif)
Pada jamur bersel banyak berlangsung dengan membentuk Konida atau
Konidiospora yang merupakan spora vegetatif. Konidia terbentuk pada ujung hifa yang
tegak, bersekat dan berjumlah empat butir, misalnya Fusarium. Pada beberapa Fusarium ada
juga yang membentuk tak beraturan. Pada jamur bersel satu berlangsung dengan cara
membentuk Tunas (blastospora). Pada waktu masih muda, tunas menempel pada sel induk
dan setelah dewasa, tunas melepaskan diri dari sel induk, misalnya Saccharomyces
b. Perkembangbiakan Seksual (Generatif)
Pada jamur bersel satu (misalnya Saccharomyces) berlangsung dengan cara
Konjugasi dan menghasilkan zigot diploid (2n). Zigot kemudian tumbuh menjadi askus
(berbentuk kantong panjang berisi askospora). Di dalam askus terjadi pembelahan meiosis
yang menghasilkan empat sel askospora haploid (n) yang merupakan spora generatif. Pada
jamur bersel banyak konidiospora/askospora tumbuh menjadi benang hifa. Hifa bercabang
membentuk miselium dan ujung miselium yang vegetatif berubah fungsi membentuk
askogonium (oogonium) dan ujung lain dari miselium membentuk anteridium. Askogonium
membentuk tonjolan (trikogen) yang menghubungkan askogonium dan anteridium. Plasma
dan inti anteridium berpindah ke askogonium. Inti-inti askogonium berpasangan dengan
inti-inti anteridium. Askogonium yang memiliki pasangan inti membelah secara mitosis
membentuk hifa dikarion yang diploid (2n). Hifa dikarion memanjang dan membelah
menjadi miselium yang akan membentuk badan buah. Ujung-ujung hifa dikarion
membentuk askus, dua inti pada bakal askus membentuk inti diploid (2n) dan membelah
secara meiosis) menghasilkan 8 spora askus (askospora) yang haploid (n).
4. Klasifikasi
a) Genus Saccharomyces
Jamur ini tidak memiliki hifa sebagaimana jamur yang lain. Tubuhnya terdiri atas sel
bulat atau oval. Spesies yang terkenal dari genus Saccharomyces ini adalah jenis
Saccharomyces cerevisiae. Sel-sel Saccharomyces cerevisiae dapat bertunas sehingga

25
membentuk rantai sel yang menyerupai hifa atau hifa semu. Saccharomyces cerevisiae
dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual.
b) Genus Neurospora
Neurospora mudah ditemukan di bekas kayu terbakar pada musim penghujan,
konidianya berwarna oranye. Jika dengan mikroskop, konidia jamur ini tampak berderet
membentuk rangkaian spora yang tumbuh menurut arah jari-jari. Di Jawa Barat, jamur ini
digunakan untuk pembuatan oncom, yaitu tempe dengan bahan dari ampas tahu atau
bungkil kacang tanah. Jamur ini banyak digunakan para ahli sebagai bahan penelitian
sitogenetika.
c) Genus Aspergillus
Fase perkembangbiakan aseksual Aspergillus menghasilkan konidium yang
disangga konodiofor. Ujung konidiofornya berbentuk seperti bola dengan sejumlah cabang
yang masing-masing menyangga ranting konidium. Jamur ini tumbuh sebagai saproba pada
berbagai macam bahan organik, seperti roti, olahan daging, butiran padi, kacangkacangan,
makanan dari beras atau ketan, dan kayu.
d) Genus Penicillium
Pada tempat-tempat yang ditumbuhi Aspergillus dapat juga ditemukan Penicillium.
Fase aseksual jamur ini menghasilkan konidium yang disangga oleh konidiofor. Berbeda
dengan Aspergillus, konidiofor Penicillium bercabang-cabang, dan masing-masing
menyangga sekumpulan cabang yang lebih pendek. Beberapa spesies Penicillium digunakan
dalam pembuatan keju, seperti P.camemberti dan P.requoforti yang memberikan aroma khas
pada keju. P.notatum dan P.chrysogenum menghasilkan penisilin. P.digitarum dan P.italicum
dapat menyebabkan kerusakan pada buah jeruk. P.expansum menyebabkan buah apel
membusuk di tempat penyimpanan.

B. Divisi Basidiomycota
Divisi Basidiomycotina sering disebut juga sebagai the club fungi atau yang sering
disebut jamur pada umumnya (cendawan atau mushrooms). Jamur ini bereproduksi secara
seksual dengan membentuk basidia yang kemudian menghasilkan basidiospora di dalam
tubuh buah yang disebut basidioma atau basidiokarp. Basidia tersebut bisa berkembang
dalam bentuk seperti insang, pori-pori, seperti gigi, atau struktur lain. Hifa dari
Basiomycotina umumnya dikaryotik (binukleat, dengan 2 inti) dan terkadang memiliki
hubungan yang saling mengapit. Sel-sel tersebut dipisahkan oleh septa yang kompleks.
Anggota nya kebanyakan berupa jamur makroskopis. Kelompok ini memiliki miselium
yang bersekat dan memiliki tubuh buah (basidiokarp) yang panjang, berupa lembaran-

26
lembaran, yang berliku-liku atau bulat. Jamur ini umumnya hidup saprofi t dan parasit,
umumnya berkembang biak secara aseksual dengan konidium.
1. Ciri-ciri
Multiseluler
Miselium Bersekat
Tubuh Buah/ Basidiokarp Berbentuk Panjang, Lembaran-lembaran yang berliku- liku,
atau Bulat
Hidup Sebagai Saprofit dan Parasit
Heterotrof
Dinding sel dari kitin
Miselia dikariotik berumur panjang
Memiliki tahapan diploid sement

2. Siklus Hidup

o Hifa (+) dan hifa (-) yang berinti haploid (n) berkecambah dari basidiospora. Kedua hifa ini
saling bersinggungan.
o Plasmogami terjadi antara hifa (+) dan hifa (-) sehingga inti salah satu hifa pindah ke hifa
lainnya membentuk hifa dengan dua inti haploid (n) yang berpasangan (dikariotik)
o Hifa haploid dikariotik akan tumbuh menjadi miselium haploid dikariotik
o Miselium dikariotik tumbuh dan membentuk badan buah yang disebut basidiokarp.
o Pada ujung-ujung hifa basidiokarp terjadi kariogami sehingga membentuk basidium yang
berinti diploid (2n).

27
o Inti diploid dalam basidium akan membelah secara meioisis menjadi empat inti yang
haploid (n).
o Basidium membentuk empat tonjolan yang disebut sterigma pada ujungnya.
o Satu inti haploid pada basidium kemudian masuk ke dalam salah satu sterigma dan
berkembang menjadi basidiospora
o Jika basidiospora terlepas dari basidium dan jatuh pada tempat yang sesuai, akan tumbuh
menjadi hifa yang haploid

3. Reproduksi
a. Reproduksi aseksual
Yaitu dengan cara membentuk spora konidia. Pertemuan dua hifa berbeda, hifa (+) dan hifa
(), terjadi di dalam tanah, menghasilkan hifa dikariotik yang dengan cepat tumbuh menjadi
tubuh buah (basidiokarp). Perkembangan basidiokarp terjadi di atas permukaan tanah
sampai dengan dihasilkannya basidiospora. Pembentukan basidiospora terjadi di dalam
basidium yang terletak di permukaan bawah tudung basidiokarp. Basidiomycota
bereproduksi secara aseksual dengan permulaan pembentukan spora aseksual. Budding
terjadi ketika suatu perkembangan sel induk dipisahkan menjadi sel baru. Setiap sel dalam
organisme dapat kuncup.Pembentukan spora aseksual yang paling sering terjadi di ujung
struktur khusus yang disebut conidiophores.
b. Reproduksi Seksual
Reproduksi seksualnya yaitu dengan cara pembentukan basidiospora pada basidium
atau di luar basidium melalui suatu tangkai yang disebut strerigma. Ada bermacam-macam
badan buah pembentuk spora pada Basidiomycetes. Uredinales adalah salah satu contoh
dari anggota Basidiomycetes yang dikenal sebagai jamur karat dapat membentuk 5 macam
stadium pembentuk spora, yakni : pycnia, aecia, uredinia, telia dan basidium.

4. Klasifikasi
Basidiomycotina dibagi menjadi Hombasidiomycotina (jamur yang sebenarnya) dan
Heterobasidimycetes.
a. Holobasidiomycetes
Dalam golongan ini termasuk cendawan-cendawan yang dikalangan umum dikenal
dengan jamur, yang terdapat pada kayu-kayu yang lapuk atau ditempat-tempat lain. Dalam
Holobasidiomycetes ada beberapa jenis yang memiliki jenis kelamin campuran dan
terjadinya fase dikariotik tidak didahuliui olek kopulasi. Ada pula yang memperlihatkan
perbedaan ukuran mengenai hifa yang berbeda jenis kelaminnya, dan didalam hal ini inti sel
yang kecil masuk kedalam sel yang lebih besar. Miselium yang tumbuh dari spora yang
berbeda jenis kelaminnya itu dapat kita samakan dengan gametofit tetapi olehnya tidak

28
dibentuk alat-alat kelamin yang khusus. Fase dikariotik disamakan dengan sporofitnya, dan
basidium dapat disamakan dengan sporangium.
b. Heterobasidiomycetes
Menghasilkan spora diujung benang mencolok. Mekanisme perkembangan jamur terus
berlanjut untuk menjamin pembebasan spora yang efisien.

C. Divisi Deuteromycota
Beberapa jamur yang belum diketahui alat reproduksi generatifnya dimasukkan ke
dalam Deuteromycotina. Kelompok jamur ini juga sering disebut sebagai jamur tidak
sempurna atau the imperfect fungi. Jamur ini tidak mengalami reproduksi seksual atau
mereka menunjukkan tahap aseksual (anamorph) dari jamur yang memiliki tahap seksual
(teleomorph). Jamur ini menyerupai Ascomycotina (septanya sederhana). Jadi, kelompok ini
bisa dikatakan sebagai keranjang sampah, tempat sementara untuk menampung jenis-jenis
jamur yang belum jelas statusnya. Apabila pada penelitian berikutnya ditemukan cara
reproduksi seksualnya, maka suatu jenis jamur anggota Deuteromycotina akan bisa
dikelompokkan ke dalam Divisi Ascomycotina atau Divisi Basidiomycotina. Contohnya
adalah Neurospora crassa yang saat ini dimasukkan ke dalam kelompok Ascomycotina.

1. Ciri-ciri
Disebut sebagai jamur tidak sempurna/ fungi imperfecti
Multiseluler mikroskopis dengan hifa bersekat
Reproduksi seksual Tidak / belum diketahui dengan jelas
Reproduksi aseksual dengan membentuk konidia
Arthrospora (pembentukan spora dengan hifa)
Hidup sebagai saprofit, hifa bersekat (asenositik)

2. Siklus hidup
Reproduksi aseksual dengan menghasilkan konidia atau menghasilkan hifa khusus
disebut konidiofor. Kemungkinan jamur ini merupakan suatu perkembangan jamur yang
tergolong Ascomycocetes ke Basidiomicetes tetapi tidak diketahui

29
Gambar : Siklus hidup deuteromycota

Jamur ini bersifat saprofit dibanyak jenis materi organic, sebagai parasit pada
tanaman tingkat tinggi , dan perusak tanaman budidaya dan tanaman hias. Jamur ini juga
menyebabkan penyakit pada manusia , yaitu dermatokinosis (kurap dan panu) dan
menimbulkan pelapukan pada kayu. Contoh klasik jamur ini adalah monilia sitophila , yaitu
jamur oncom. Jamur ini umumnya digunakan untuk pembuatan oncom dari bungkil kacang.
Monilia juga dapat tumbuh dari roti , sisa- sisa makanan, tongkol jagung , pada tonggak
tonggak atau rumput sisa terbakar, konodiumnya sangat banyak dan berwarna jingga.
Fase pembiakan secara vegetative pada monilia sp. Ditemukan oleh dodge (1927)
dari amerika serikat, sedangakan fase generatifnya ditemukan oleh dwidjoseputro (1961),
setelah diketahui fase generatifnya, kenudian jamur ini dimasukkan golongan
ascomycocetes dan diganti namanya menjadi Neurospora sitophilla atau Neurospora crassa.
Reproduksi generative monilia sp dengan menghasilkan askospora. Askus askus
yang tumbuh pada tubuh buah dinamakan peritesium, tiap askus mengandung delapan
spora. Contoh lain jamur yang tidak diketahui alat reproduksi seksualnya antara lain :
chalado sporium, curvularia, gleosporium, dan diploria. Untuk memberantas jamur ini
digunakan fungisida , misalnya lokanol dithane M-45 dan copper Sandoz.

3. Reproduksi
Deuteromycota memiliki hifa yang bersekat. Fungi ini sering disebut
fungi tak sempurna. Hal in disebabkan anggota fungi ini belum diketahui
cara reproduksi seksualnya. Reproduksi deuteromycota dilakukan secara
aseksual (secara vegetative) dengan membentuk Konida atau Konidiospora yang
merupakan spora vegetatif. Konidia terbentuk pada ujung hifa yang tegak, bersekat dan

30
berjumlah empat butir, misalnya Fusarium. Pada beberapa Fusarium ada juga yang
membentuk tak beraturan.

4. Klasifikasi
Beberapa jamur Deuteromycota lainnya yang diklasifikasi ulang menjadi Ascomycota
antara lain jamur dari genus Aspergillus, Candida, dan Penicillium. Oleh ahli mikologi,
nama genus Aspergillus diubah menjadi Eurotium, Candida menjadi Pichia, dan
Penicillium menjadi Talaromyces. ontoh jamur yang tergolong Deuteromycota adalah Tinea
versicolor penyebab panu dan Epidermophyton floocossum penyebab penyakit kaki atlet.
Berbagai penyakit jamur pada manusia banyak diakibatkan oleh jamur Deuteromycota.
Demikian pula penyakit pada hewan. Jamur Deuteromycota juga ada yang bermanfaat,
yaitu Aspergillus. Aspergillus ada yang telah memasukkannya ke dalam Ascomycota. Akan
tetapi, ada pula yang memasukkannya ke dalam Deuteromycota. Aspergillus bersifat
saprofit dan terdapat di mana-mana, baik di negara tropika maupun subtropika. Aspergillus
hidup pada makanan, sampah, kayu, dan pakaian. Hifa Aspergillus bercabang-cabang. Pada
hifa tertentu muncul konidior (pembawa konidia) yang memiliki konidiaspora yang tumbuh
radial pada konidiofor. Coba perhatikan jamur berwarna kekuningan atau kecokelatan pada
roti dan periksalah dengan mikroskop.

31

Anda mungkin juga menyukai