Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH MIKROBIOLOGI

MIKROSKOP DAN MIKROSKOPIS

DisusunOleh :

KELOMPOK 7

1. NIA HERIANI G 701 14 005


2. FITRA G 701 14 131
3. WIWIT YUNI KATRIKA G 701 14 152
4. NINING ANGRIANA G 701 12 068
5. MOH RONALDI G 701 14 188

JURUSAN FARMASI

UNIVERSITAS TADULAKO

TAHUN AKADEMIK 2015 / 2016

KATA PENGANTAR

1
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesainya
makalah yang berjudul "mikroskop dan mikroskopis " ini tepat pada waktunya. Makalah
ini kami susun berdasarkan arahan dan bimbingan dosen pembimbing mikrobiologi.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat
secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini bisa terselesaikan
sebagaimana mestinya. Tak lupa pula kami mengucapkan terimakasih kepada dosen
pembimbing kimia atas bimbingan dan arahannya dalam pengerjaan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari dosen, rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak sangat kami
butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini. Terimakasih.

Palu, 11 September
2015

KELOMPOK
7

2
BAB 1

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini telah


banyak ditemukan alat bantu untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satu
penemuan itu adalah mikroskop. Mikroskop merupakan salah satu alat penting
dalam kegiatan biologi. Dengan menggunakan mikroskop kita dapat mengamati
dengan jelas benda-benda yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang (kurang dari 0.1 mm), misalnya bagian-bagian dari sebuah sel.
Keterampilan menggunakan mikroskop dapat membantu kita mengamati dan
membandingkan struktur sel hewan denga sel tumbuhan.

Hal dapat di dapat dicapai dengan mengenali baik-baik bagian-bagiannya,


fungsinya, serta cara penggunaan dan pemulihannya. Semakin ahli kita dalam
menggunakan mikroskop maka akan semakin baik pula hasil pengamatan
mikroskopis yang kita lakukan dengan menggunakan mikroskop. Mikroskop
sederhana yang biasa kita gunakan umumnya menggunakan cahaya dari alam atau
juga dapat menggunakan cahaya lampu sebagai sumber cahaya pengganti matahari.
Cahaya masuk kemudian dipantulkan dengan suatu cermin datar ataupun cekung,
cermin inilah yang akan mengarakan cahaya dari luar kedalam mikroskop. Namun
setiap mikroskop pada dasarnya terdiri atas bagian-bagian optik dan bagian-bagian
merkanik. Dua nilai penting sebuah mikroskop ialah daya pembesaran dan
penguraiannya, atau resolusi. Pembesaran mencerminkanberapa kali lebih besar
objeknya terlihat dibandingkan ukuran sebenarnya.

I.2 RUMUSAN MASALAH


1. Pengertian mikroskop dan mikroskopis ?
2. Bagaimana Reagen pewarnaan mikroorganisme ?
3. Apa yang dimaksud dengan pewarnaan sederhana ?
4. Apa yang dimaksud dengan pewarnaan negatif ?
5. Bagaimana pewarnaan diferensial; pewarnaan gram, tahan asam, kapsul, spora, dan
flagel ?
BAB II

3
PEMBAHASAN

II.1 PENGERTIAN MIKROSKOP

Mikroskop adalah alat bantu yang digunakan untuk melihat dan mengamati
benda-benda yang berukuran sangat kecil yang tidak mampu dilihat dengan mata
telanjang. Kata Mikroskop berasal dari bahasa latin, yaitu mikro yang berarti kecil
dan kata scopein yang berarti melihat. Benda kecil dilihat dengan cara
memperbesar ukuran bayangan benda tersebut hinga berkali-kali lipat. Bayangan
benda dapat dibesarkan 40 kali, 100 kali, 400 kali, bahkan 1000 kali, dan perbesaran
yang mampu dijangkau semakin meningkat seiring dengan perkembangan
teknologi . Ilmu yang mempelajari objek-objek berukuran sangat kecil dengan
menggunakan mikroskop disebut Mikroskopi. Mikroskop ditemukan oleh Anthony
Van Leewenhoek, penemuan ini sangat membantu peneliti dan ilmuan untuk
mengamati objek mikroskopis.

II.2 FUNGSI MIKROSKOP

Mikroskop memiliki fungsi sebagai berikut :

a) Fungsi utamanya adalah untuk melihat dan mengamati objek dengan ukuran sangat
kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
b) Fungsi lainnya dari mikroskop tetap akan berakar pada fugsi utamanya, bedanya
beberapa jenis mikroskop dibuat untuk fungsi yang lebih detail, contohnya ada jenis
mikroskop yang dibuat hanya untuk mengamati satu jenis objek mikroskopis saja.

II.2 BAGIAN-BAGIAN MIKROSKOP

Bagian Mikroskop terbagi menjadi bagian Optik dan bagian Mekanik (Non-Optik)

4
Bagian-Bagian Optik

a) Lensa Okuler, yaitu lensa yang terdapat di bagian ujung atas tabung pada gambar,
pengamat melihat objek melalui lensa ini. Lensa okuler berfungsi untuk
memperbesar kembali bayangan dari lensa objektif. Lensa okuler biasanya memiliki
perbesaran 6, 10, atau 12 kali.
b) Lensa Objektif, yaitu lensa yang dekat dengan objek. Biasanya terdapat 3 lensa
objektif pada mikroskop, yaitu dengan perbesaran 10, 40, atau 100 kali. Saat
menggunakan lensa objektif pengamat harus mengoleskan minyak emersi ke bagian
objek, minyak emersi ini berfungsi sebagai pelumas dan untuk memperjelas
bayangan benda, karena saat perbesaran 100 kali, letak lensa dengan objek yang
diamati sangat dekat, bahkan kadang bersentuhan.
c) Kondensor, yaitu bagian yang dapat diputar naik turun yang berfungsi untuk
mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan memusatkannya ke objek.
d) Diafragma, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya
yang masuk dan mengenai preparat.

5
e) Cermin, yaitu bagian yang berfungsi untuk menerima dan mengarahkan cahaya
yang diterima. Cermin mengarahkan cahaya dengan cara memantulkan cahaya
tersebut.

Bagian-Bagian Mekanik (Non-Optik)

a) Revolver, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif
yang diinginkan.
b) Tabung Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk menghubungkan lensa
objekti dan lensa okuler mikroskop.
c) Lengan Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat pengamat
memegang mikroskop.
d) Meja Benda, yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat menempatkan objek yang
akan diamati, pada meja benda terdapat penjepit objek, yang menjaga objek tetap
ditempat yang diinginkan.
e) Makrometer (pemutar kasar), yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau
menurunkan tabung secara cepat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari
gambaran objek yang diinginkan.
f) Mikrometer (pemutar halus), yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau
menurunkan tabung secara lambat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari
gambaran objek yang diinginkan.
g) Kaki Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi sebagai penyagga yang menjaga
mikroskop tetap pada tempat yang diinginkan, dan juga untuk tempat memegang
mikroskop saat mikroskop hendak dipindahkan.

II.3 PEWARNAAN BAKTERI

Pewarnaan bakteri pada umumnya bertujuan untuk mempermudah dalam


pengamatan morfologi bakteri dengan bantuan mikroskop. Bakteri umumnya tidak
berwarna dan hampir tidak terlihat karena kurang kontras dengan air dimana mereka
mungkin berada. Pewarnaan sangat dibutuhkan untuk melihat bakteri dengan sangat
jelas baik untuk pengamatan intraseluler maupun morfologi keseluruhan. Pewarnaan
terhadap bakteri secara garis besar, dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Pewarnaan bakteri hidup

6
Pewarnaan bakteri hidup dilakukan dengan menggunakan bahan warna yang
tidak toksis tetapi jarang dikerjakan karena bakteri hidup sukar menyerap warna.
Pewarnaan bakteri hidup dilakukan untuk melihat pergerakan bakteri, serta
pemeriksaannya dilakukan dengan menggunakan tetes gantung (hanging drop)

b) Pewarnaan bakteri mati


Pewarnaan terhadap bakteri yang telah dimatikan disebut fixed state pewarnaan
bakteri mati bertujuan untuk melihat struktur luar bahkan struktur dalam bakteri,
memperjelas ukuran bakteri dan melihat reaksi bakteri terhadap pewarna yang
diberikan sehingga dapat diketahui sifat-sifat fisik dan kimia dari bakteri tersebut.

Teknik Pewarnaan pada bakteri dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

a) Pewarnaan Sederhana
Pewarnaan sederhana adalah pewarnaan yang menggunakan pewarna
tunggal. Pewarna tunggal yang biasanya digunakan dalam pewarnaan sederhana
adalah Methylene Blue, Basic Fuchsin, dan Crystal Violet kromoforiknya
bermuatan positif), sedangkan sitoplasma bakteri bersifat basofilik (suka terhadap
basa) sehingga terjadilah gaya tarik antara komponen kromofor pada pewarna
dengan sel bakteri, hal tersebut menyebabkan bakteri dapat menyerap pewarna
dengan baik. Pewarnaan sederhana bertujuan untuk memberikan kontras antara
bakteri dan latar belakang. Pewarnaan sederhana dilakukan ketika kita ingin
mengetahui informasi tentang bentuk dan ukuran sel bakteri.
Gambar dibawah ini adalah prosedur pewarnaan sederhana :

Berikut adalah contoh hasil pengamatan morfologi bakteri dengan pewarnaan


sederhana, dilihat menggunakan mikroskop elektron

7
b) Pewarnaan Negatif
Pewarnaan Negatif adalah pewarnaan yang menggunakan pewarna asam
seperti Negrosin, Eosin, atau Tinta India sebagai pewarna utama. Pewarnaan
negatif dilakukan pada bakteri yang sukar diwarnai oleh pewarna sederhana
seperti spirochaeta. Pewarnaan negatif bertujuan untuk memberi warna gelap
pada latar belakang dan tidak memberi warna pada sel bakteri. Hal tersebut dapat
terjadi karena pada pewarnaan negatif, pewarna yang digunakan adalah pewarna
asam dan memiliki komponen kromoforik yang bermuatan negatif, yang juga
dimiliki oleh sitoplasma bakteri. Sehingga pewarna tidak dapat menembus atau
berpenetrasi ke dalam sel bakteri karena negatif charge pada permukaan sel
bakteri. Pada pewarnaan negatif ini, sel bakteri terlihat transparan (tembus
pandang). Berikut ini adalah prosedur pewarnaan negatif : Berikut ini adalah hasil
pengamatan preparat pada pewarnaan negatif :

Berikut ini adalah hasil pengamatan preparat pada pewarnaan negatif :

Bacillus megaterium Sphirocheta pengamatan dengan


menggunakan tinta Spirochaeta menggunakan mikroskop elektron

c) Pewarnaan Diferensial

8
Pewarnaan Diferensial adalah teknik pewarnaan yang dilakukan untuk
mengetahui perebedaan antara sel-sel dari tiap-tiap mikroba. Pewarnaan diferensial
menggunakan dua pewarna atau lebih. Pewarnaan diferensial antara lain meliputi :

Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram digunakan untuk membedakan bakteri gram positif dan
bakteri gram negatif berdasarkan sifat fisik dan kimia dinding sel bakteri.
Pewarnaan gram menggunakan pewarna utama Kristal Violet dan pewarna
tandingan Safranin.

Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada dinding sel, maka dari
itu metode ini tidak dapat dilakukan pada bakteri yang tidak memiliki dinding sel
seperti genus nacordia dan mycoplasma. Metode ini diberi nama berdasarkan
penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853 1938) yang
mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara
pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae

Tujuan dari pewarnaan adalah untuk memudahkan melihat bakteri dengan


mikroskop, memperjelas ukuran dan bentuk bakteri, untuk melihat struktur luar
dan struktur dalam bakteri seperti dinding sel dan vakuola, menghasilkan sifat-
sifat fisik dan kimia yang khas daripada bakteri dengan zat warna, serta
meningkatkan kontras mikroorganisme dengan sekitarnya. Pewarnaan ini dapat
membagi bakteri menjadi gram positif dan gram negatif berdasarkan
kemampuannya untuk menahan pewarna primer (kristal ungu) atau kehilangan
warna primer dan menerima warna tandingan (safranin). Bakteri gram positif
menunjukkan warna biru atau ungu dengan pewarnaan ini, sedangkan bakteri
gram negatif menunjukkan warna merah. Perbedaan respon terhadap mekanisme
pewarnaan gram pada bakteri adalah didasarkan pada struktur dan komposisi
dinding sel bakteri. Bakteri gram positif mengandung protein dan gram negatif
mengandung lemak dalam presentase lebih tinggi dan dinding selnya tipis.
Pemberian alkohol (etanol) pada praktikum pewarnaan bakteri, menyebabkan
terekstraksi lipid sehingga memperbesar permeabilitas dinding sel. Pewarnaan
safranin masuk ke dalam sel dan menyebabkan sel menjadi berwarna merah pada

9
bakteri gram negatif sedangkan pada bakteri gram positif dinding selnya
terdehidrasi dengan perlakuan alkohol, pori-pori mengkerut, daya rembes dinding
sel dan membran menurun sehingga pewarna safranin tidak dapat masuk
sehingga sel berwarna ungu, yang merupakan warna dari Kristal Violet.
Berikut ilustrasinya :

Perbedaan dinding sel bakteri gram positif dan bakteri gram negatif :

10
Hasil pengamatan preparat bakteri gram postif dan gram negatif pada mikroskop :

S.aureus, gram positif E.coli, gram negatif

Pewarnaan Tahan Asam

Beberapa spesies bakteri pada genus Mycobacterium Cryptosporidium dan


Nocardia tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan sederhana. Namun,
mikroorganisme ini dapat diwarnai dengan menggunakan Karbol Fuchsin yang
dipanaskan. Panas membuat pewarna dapat terserap oleh sel bakteri karena panas
dapat menghilangkan lapisan lilin pada dinding sel bakteri. Sekali bakteri tahan
asam menyerap karbol fuchsin, maka akan sangat sulit untuk dilunturkan dengan
asam-alkohol, oleh karena itu merka disebut bakteri tahan asam. Bakteri tahan asam
memiliki kadar lemak (asam mycolic) yang tinggi pada dinding sel mereka. Pada
pewarnaan bakteri asam menggunakan metode Ziehl-Neelsen (juga disebut Hot
Stain), bakteri tahan asam akan berwarna merah karena menyerap pewarna karbol
fuchsin yang dipanaskan, karena pada saat pemanasan dinding sel bakteri yang
memiliki banyak lemak membuka sehingga pewarna dapat terserap. Namun tidak
dapat dilunturkan dengan asam alkohol karena pada saat suhu normal lemak pada
dinding sel bakteri kembali menutup, sehingga ketika diwarnai dengan pewarna
tandingan, yaitu Methylene Blue, warnanya tetap merah. Berbeda dengan bakteri
tidak tahan asam, ia akan menyerap pewarna tandingan yaitu methylene blue
sehingga berwarna biru. Pada metode Kinyoun-Gabbet, tidak perlu dilakukan
pemanasan, maka dari itu metode Kinyoun-Gabbet juga disebut Cold Stain

11
Metode Kinyoun-Gabbet tidak perlu dilakukan dengan pemanasan karena
pada pewarna Kinyoun terdapat alkali fuchsin dengan konsentrasi yang tinggi,
sehingga walau tanpa pemanasan dapat menghilangkan lapisan lilin pada dinding sel
bakteri tahan asam. Komposisi Kinyoun antara lain: alkali fuchsin, fenol, alkohol
95%, dan aquades. Sebagai pewarna tandingan adalah Gabbet, yang memiliki
komposisi antara lain : methylene blue, asam sulfat 96%, alkohol murni, dan
aquades. Sama seperti pada metode Ziehl-Neelsen, bakteri tahan asam akan
berwarna merah, sedangkan bakteri tidak tahan asam akan berwarna biru. Berikut
adalah ilustrasinya :

Prosedur pewarnaan bakteri tahan asam :

12
Hasil pengamatan preparat pewarnaan bakteri tahan asam :

Keterangan :

Merah = Bakteri Tahan Asam (Fast-Acid)


Biru = Bakteri Tidak Tahan Asam (Non Fast-Acid)

d) Pewarnaan Struktural
Pewarnaan struktural ditujukan untuk melihat bagian tertentu bakteri. Yang
termasuk dalam pewarnaan struktural ialah :

Pewarnaan Spora
Ada dua genus bakteri yang dapat membentuk endospora, yaitu genus
Bacillus dan genus Clostridium. Strukturspora yang terbentuk di dalam tubuh
vegetatif bakteri disebut sebagai endospora (endo=dalam, spora=spora) yaitu spora
yang terbentuk di dalam tubuh. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa endospora
merupakan sel yang mengalami dehidrasi dengan dinding yang mengalami
penebalan serta memiliki beberapa lapisan tambahan.

Dengan adanya kemampuan untuk membentuk spora ini, bakteri tersebut


dapat bertahan pada kondisi yang ekstrim.Menurut Pelczar (1986) bakteri yang
dapat membentuk endospore ini dapat hidup dan mengalami tahapan-tahapan

13
pertumbuhan sampai beberapa generasi, dan spora terbentuk melalui sintesis
protoplasma baru di dalam sitoplasma sel vegetatifnya. Menurut Volk & Wheeler
(1988), dalam pengamatan spora bakteri diperlukan pewarnaan tertentu yang dapat
menembus dinding tebal spora. Contoh dari pewarnaan yang dimaksudkan tersebut
adalah dengan penggunaan larutan Hijau Malakit 5%, dan untuk memperjelas
pengamatan, sel vegetatif juga diwarnai dengan larutan Safranin 0,5% sehingga sel
vegetatif ini berwarna merah, sedangkan spora berwarna hijau.

Dengan demikian ada atau tidaknya spora dapat teramati, bahkan posisi
spora di dalam tubuh sel vegetatif juga dapat diidentifikasi. Namun ada juga zat
warna khusus untuk mewarnai spora dan di dalam proses pewarnaannya melibatkan
proses pemanasan, yaitu; spora dipanaskan bersamaan dengan zat warna tersebut
sehingga memudahkan zat warna tersebut untuk meresap ke dalam dinding
pelindung spora bakteri. Beberapa zat warna yang telah disebutkan di atas, dapat
mewarnai spora bakteri, tidak lepas dari sifat kimiawi dinding spora itu sendiri.
Semua spora bakteri mengandung asam dupikolinat, yang mana subtansi ini tidak
dapat ditemui pada sel vegetatif bakteri, atau dapat dikatakan, senyawa ini khas
dimiliki oleh spora. Dalam proses pewarnaan, sifat senyawa inilah (asam
dupikolinat) yang kemudian dimanfaatkan untuk diwarnai menggunakan pewarna
tertentu, dalam hal ini larutan hijau malakit. Sedangkan menurut Pelczar (1986),
selain subtansi di atas, dalam spora bakteri juga terdapat kompleks Ca2+ dan asam
dipikolinan peptidoglikan.
Terdapat beberapa metode pewarnaan spora bakteri, diantaranya yaitu
metode Schaeffer-Fulton dan metode Dorner. Pada metode Schaeffer-fulton,
pewarna yang digunakan adalah hijau malaksit dan safranin, sedangkan pada metode
Dorner, pewarna yang digunakan adalah carbol fuchsin yang dipanaskan dan
negrosin. Berikut adalah prosedur pewarnaan spora menggunakan kedua metode
tersebut :

14
Hasil pengamatan preparat pewarnaan spora bakteri :

15
A B
Keterangan :

A. Pewarnaan Spora menggunakan metode Schaeffer-Fulton. Pada pewarnaan ini,


spora berwarna hijau dan vegetatif berwarna merah
B. Pewarnaan spora menggunakan metode Dornen. Pada pewarnaan ini, spora
berwarna merah sedangkan vegetatif tidak berwarna (transparan)

Pewarnaan Kapsul
Beberapa jenis bakteri mengeluarkan bahan-bahan yang amat berlendir dan
lengket pada permukaan selnya, dan melengkungi dinding sel. Bila bahan berlendir
tersebut kompak dan tampak sebagai suatu bentuk yang pasti ( bundar/lonjong)
maka disebut kapsul, tetapi bila bentuknya tidak teratur dan kurang menempel
dengan erat pada sel bakteri disebut selaput lendir.

Kapsul dan lendir tidaklah esensial bagi kehidupan sel, tapi dapat berfungsi
sebagai makanan cadangan, perlindungan terhadap fagositosis (baik dalam tubuh
inang maupun dialam bebas) atau perlindungan terhadap dehidrasi. Kemampuan
menghasilkan kapsul merupakan sifat genetis, tetapi produksinya sangat dipengaruhi
oleh komposisi medium tempat ditumbuhkannya sel-sel yang bersangkutan.
Komposisi medium juga dapat mempengaruhi ukuran kapsul. Ukuran kapsul
berbeda-beda menurut jenis bakterinya dan juga dapat berbeda diantara jalur-jalur
yang berlainan dalam satu spesies. Pada beberapa jenis bakteri adanya kapsul
sebagai petunjuk virulensi. Semua kapsul bakteri tampaknya dapat larut dalam air.

Komposisi kimiawi kapsul ada yang berupa glukosa ( misalnya dektrosa


pada leokonostok mesendteroides), polimer gula amino (misalnya asam hialuronat
pada Staphylococcus piogenik), polipeptida (misalnya polimer asam D-glutamat
pada Bacillus antraksis) atau kompleks polisakarida, dan glikoprotein ( misalnya B
disentri). Pewarnaan kapsul tidak dapat dilakukan sebagaimana melakukan
pewarnaan sederhana, pewarnaan kapsul dilakukan dengan menggabungkan
prosedur dari pewarnaan sederhana dan pewarnaan negatif. Masalahnya adalah
ketika kita memanaskan prepat dengan suhu yang sangat tinggi kapsul akan hancur,
sedangakan apabila kita tidak melakukan pemanasan pada preparat, bakteri akan

16
tidak dapat menempel dengan erat dan dapat hilang ketika kita mencuci preparat.
Pewarnaan kapsul menggunakan pewarna Kristal Violet dan sebagai pelunturnya
adalah Copper Sulfate. Kristal violet memberikan warna ungu gelap terhadap sel
bakteri dan kapsul. Namun kapsul bersifat nonionic, sehingga pewarna utama tidak
dapat meresap dengan kuat pada kapsul bakteri. Copper sulfate bertindak sebagai
peluntur sekaligus counterstain, sehingga mengubah warna yang sebelumnya ungu
gelap menjadi biru muda atau pink. Maka dari itu pada pewarnaan kapsul, kapsul
akan transparan sedangakan sel bakteri dan latar belakangnya akan berwarna biru
muda atau pink. Berikut ini adalah prosedur pewarnaan kapsul bakteri:

Hasil pengamatan preparat pada pewarnaan bakteri berkapsul :

Pewarnaan Granulla

17
Ada beberapa metode pewarnaan granula, diantaranya adalah Loeffler,
Albert dan Neisser. Dari ketiga metode tersebut, metode yang sering digunakan
adalah metode Neisser, sedangkan metode Albert dan Loeffler kurang popular
karena tidak diajarkan pada praktikum mikrobiologi. Tetapi, pewarnaan metode
Albert sering dibahas pada buku-buku terbitan WHO.

Granula metakromatik disebut jga granula volutin. Granula metakromatik


tidak hanya ditemukan pada Corynebacterium diphteriae tetapi juga di beberapa
bakteri selain bakteri tersebut, fungi, algae, dan protozoa. Granula metakromatik
mengandung polifosfat, asam ribonukleat, dan protein. Granula metakromatik sangat
mungkin mempunyai fungsi sebagai sumber cadangan energi. Metode Neisser
menggunakan pewarna neisser A, neisser B, dan neisser C. Neisser A mengandung
biru metilen, alkohol 96%, asam pekat dan aquades. Neisser B mengandung kristal
violet, alkohol 96%, dan aquades. Sedangkan neisser C mengandung crysoidine dan
aquades. Pada metode neisser, granula bakteri
berwarna biru gelap atau biru hitam (warna
dari neisser A ditambah neisser B), sedangkan
sitoplasma bakteri berwarna kuning
kecoklatan (warna dari neisser C). berikut
adalah hasil pengamatan preparat pewarnaan
bakteri bergranula:

Pewarnaan Flagella
Flagel merupakan salah satu alat gerak bakteri. Flagel mengakibatkan bakteri
dapat bergerak berputar. Penyusun flagel adalah sub unit protein yang disebut
flagelin, yang mempunyai berat molekul rendah. Berdasarkan jumlah dan letak
flagelnya, bakteri dibedakan menjadi monotrik, lopotrik, amfitrik, peritrik dan atrik.
Prinsip pewarnaan flagella adalah membuat organel tersebut dapat dilihat dengan
cara melapisinya dengan mordant dalam jumlah yang cukup. Dua metode
pewarnaan flagella, yaitu metode Gray dan metode Leifson. Metode Gray
digunakan untuk mendapat hasil yang lebih baik dan mengena walaupun dalam
metode ini tidak dilakukan pencelupan yang khusus. Pada pewarnaan flagella
larutan kristal violet bertindak sebagai pewarna utama, sedangkan asam tannic dan

18
alumunium kalium sulfat bertindak sebagai mordant. Kristal violet akan membentuk
endapan disekitar flagel, sehingga meningkatkan ukuran nyata flagel. Berikut ini
adalah prosedur dan hasil pengamatan preparat pewarnaan bakteri berflagel:

BAB III

PENUTUP
III.1 KESIMPULAN

1. Mikroskop adalah alat bantu yang digunakan untuk melihat dan mengamati benda-
benda yang berukuran sangat kecil yang tidak mampu dilihat dengan mata telanjang.
2. Fungsi utama mikroskop adalah untuk melihat dan mengamati objek dengan ukuran
sangat kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.Pewarnaan bakteri pada
umumnya bertujuan untuk mempermudah dalam pengamatan morfologi bakteri
dengan bantuan mikroskop. Pewarnaan terhadap bakteri secara garis besar, dibagi
menjadi dua, yaitu: pewarnaan bakteri hidup dan pewarnaan bakteri mati

19
3. Teknik Pewarnaan pada bakteri dibedakan menjadi empat macam, yaitu pewarnaan
sederhana, pewarnaan negatif, Pewarnaan Diferensial, dan Pewarnaan Tahan Asam

III.2 KESIMPULAN DAN SARAN


Seperti karya ilmiah pada umumnya sudah pasti tidak lepas dari yang
namanya kritik dan kesalahan dalam pembuatan dan penulisanya. Ini semua
dikarenakan keterbatasan kemampuan penyusun dalam memnyusun makalah ini.
Namun penyusun akan berjanji dan berusaha untuk belajar dan merperbaiki
kesalahan dalam pembuatan makalah. Oleh karena itu penyusun mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun agar dalam pembuatan makalah yang
selanjutnya dapat lebih baik baik lagi. Penyusun siap menerima kritik dan saran
yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Prescot, Harley. Laboratory Exercise in Microbiology fifth edition Benson. Microbiological
Application: Laboratory Manual in General Microbiology eight edition

http://www.academia.edu/8884921/PEWARNAAN_BAKTERI

http://softilmu.blogspot.com/2015/01/Pengertian-Fungsi-Macam-Bagian-Mikroskop-
Adalah.html

http://classes.midlandstech.edu/carterp/courses/bio225/chap04/lecture2.
htm http://www.anneahira.com/pewarnaan-gram-bakteri.htm file:///C:/Do
cuments%20and%20Settings/user/My
%20Documents/Downloads/Documents/mikrobiologi-pewarnaan.pdf

20
http://lh5.ggpht.com/f9g2jBx_gHQ/UitOMBKRcsI/AAAAAAAAAQw/jwFaG9S
arwo/s1600-h/bakteri-gram-positif-dan-negatif_thu
%25255B2%25255D.png

http://artikelteknikkimia.blogspot.com/2011/12/mengapa-bakteri-gram-
positif-dapat.html http://www.scribd.com/doc/8965686/ngecet-bakter

http://www.environmentalleverage.com/Staining.htm http://aguskrisnoblo
g.wordpress.com/2011/01/12/macam-macam-teknik-pewarnaan- bakteri/

http://biobakteri.wordpress.com/2009/06/07/7-pewarnaan-gram-gram-
positif-dan-gram-negatif/ http://mediblock.blogspot.com/2012/10/pewarn
aan-gram.html http://mulyadiveterinary.wordpress.com/2011/07/06/147/

http://neozgx.blogspot.com/2011/01/bakteri-gram-positif-bakteri-
gram.html http://3.bp.blogspot.com/-GKLjY-
Ia2Yg/UIPp3a6GhVI/AAAAAAAAAJA/Sjty-
vEur5Y/s1600/acid+fast+vs+non.gif

http://www.thehindu.com/sci-tech/health/rx/indias-tb-treatment-strategy-
stands-vindicated/article21138.ece http://analis-
eksis.blogspot.com/2013/01/jenis-pewarnaan-basil-tahan-asam.html

http://chitunkgomez.blogspot.com/2011/07/komposisi-ziehl-neelsen-
kinyoun-gabbet.html http://erickbio.wordpress.com/2011/07/03/pewarna
an-spora-bakteri-2/

http://www.studyblue.com/notes/note/n/lab-exercise-6--
staining/deck/5757134 http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/03/p
ewarnaan-kapsul-bakteri.html http://biology.uco.edu/Microbiology/lab_15
Spores.htm

21