Anda di halaman 1dari 15

TUGAS INDIVIDU (Utama)

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN/KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESMAVET

LARANGAN PEMOTONGAN
SAPI BETINA PRODUKTIF

OLEH :

ARISMAN
I111 13 503

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
PENDAHULUAN

Ternak sapi merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi
cukup besar sebagai ternak penghasil daging dan menjadi prioritas dalam
pembangunan peternakan di Indonesia. Menurut (Rohaneni dkk., 2003) disamping
berperan sebagai penghasil daging,sapi potong juga berperan sebagai sumber
pendapatan, sarana investasi, tabungan, fungsi sosial, sumber pupuk, sumber
tenaga kerja dalam pengolahan tanah dan pemanfaatan limbah pertanian.
Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani semakin
meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk dan meningkatnya daya
beli masyarakat (Anonim, 2006). Tingginya permintaan daging sapi tidak
berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan peternak. Rendahnya daya saing
daging sapi lokal dapat dilihat dari mutu dan standar daging sapi lokal yang belum
memenuhi standar pasar modern dan industri, disamping itu harga daging sapi
impor lebih kompetitif dibandingkan harga daging sapi lokal. Untuk mengurangi
kesenjangan ini, diperlukan berbagai upaya yang mampu meningkatkan
produktivitas, khususnya pada peternakan sapi potong rakyat.
Salah satu langkah operasional dari program tersebut adalah melaksanakan
kegiatan Insentif dan Penyelamatan Sapi Betina Produktif. Dasar Hukum
Larangan Pemotongan Sapi Betina Produktif adalah Undang-Undang No. 18
Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pasal 18 ayat (2) bahwa
ternak ruminansia betina produktif. Berdasarkan data Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, secara nasional setiap
tahun diperkirakan terjadi pemotongan sapi/kerbau betina produktif sebanyak
200.000, (dua ratus ribu ekor) dari kebutuhan pemotongan sebanyak 2.300.000,
(dua juta tiga ratus ribu ekor).
Pentingnya pelarangan pemotongan sapi betina produktif dilatarbelakangi
oleh kondisi saat ini, yaitu terlalu banyak sapi betina dipotong oleh jagal di RPH
bahkan sering dijumpai sapi yang dipotong dalam keadaan bunting

PEMBAHASAN
A. Sapi Betina Produktif
Sapi betina produktif adalah sapi yang melahirkan kurang dari 5 (lima)
kali atau berumur dibawah 8 (delapan) tahun, atau sapi betina yang berdasarkan
hasil pemeriksaan reproduksi dokter hewan atau petugas teknis yang ditunjuk di
bawah pengawasan dokter hewan dan dinyatakan memiliki organ reproduksi
normal serta dapat berfungsi optimal sebagai sapi induk.
B. Alasan Penyebab terjadinya Pemotongan Sapi Betina Produktif
Pemotongan sapi betina produktif dilakukan karena ada berbagai penyebab dan
alas an, jagal, sebagai satu-satunya pelaku pemotongan sapi betina produktif,
mempunyai alsan utama yaitu mencari keuntungan jangka pendek sebesar-
besarnya. Disamping itu, jagal juga mempunyai banyak pertimbangan mengapa
melakukan pemotongan sapi betina produktif terutama Alasan utama dari jagal
adalah mencari keuntungan, beberapa alasan lain yaitu :
1) Sulit mencari sapi kecil untuk dipotong
2) Dilokasi setempat semua sapi jantan sudah diantar pulaukan atau dibawa
ke kota besar
3) Harga sapi betina lebih murah disbanding sapi jantan dengan ukuran yang
sama
4) Pengawasan dari petugas sangat lemah
5) Tidak ada kesadaran untuk menyelamatkan populasi dan jagal tidak paham
bila hal tersebut melanggar undang-undang
6) Peternak akan menjual apa saja termasuk sapi betina produktif bila
memerlukan uang cash.
C. Dasar Hukum Larangan Pemotongan Sapi Betina Produktif
Dasar Hukum Larangan Pemotongan Sapi Betina Produktif adalah
Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
pasal 18 ayat (2) bahwa ternak ruminansia betina produktif dilarang disembelih
karena merupakan penghasil ternak yang baik, kecuali untuk keperluan
penelitian, pemuliaan atau untuk keperluan pengendalian dan penanggulangan
penyakit hewan.

Ketentuan larangan tersebut tidak berlaku apabila hewan besar betina :


1. Berumur lebih dari 8 (delapan) tahun atau sudah beranak lebih dari 5
(lima) kali
2. Tidak produktif (majir) dinyatakan oleh dokter hewan atau tenaga asisten
kontrol teknik reproduksi di bawah penyeliahan dokter hewan
3. Mengalami kecelakaan yang berat
4. Menderita cacat tubuh yang bersifat genetis yang dapat menurun pada
keturunananya sehingga tidak baik untuk ternak bibit.
5. Menderita penyakit menular yang menurut Dokter Hewan pemerintah
harus dibunuh/dipotong bersyarat guna memberantas dan mencegah
penyebaran penyakitnya, menderita penyakit yang mengancam jiwanya
6. Membahayakan keselamatan manusia (tidak terkendali)

Pelanggaran pasal 18 (2) juga termasuk pelanggaran yang dikenakan


sanksi administrative antara lain:
a) Peringatan secara tertulis
b) Penghentian sementara ijin pemotongan (jagal)
c) Pencabutan ijin pemotongan/jagal
d) Pengenaan denda
Dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
pasal 18 ayat (4) meyebutkan bahwa Setiap Orang dilarang menyembelih Ternak
ruminansia kecil betina produktif atau Ternak ruminansia besar betina produktif.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa jika larangan pemotongan ternak
betina produktif tetap dilanggar maka ada sanksi hukumnya dan ini berlaku pula
untuk pemotongan ternak ruminansia kecil.
Ketentuan Pidana pada Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 pasal 86 sebagai
berikut :
Setiap orang yang menyembelih :
1. Ternak ruminania kecil betina produktif sebagaimana dimaksud pada pasal
18 ayat 2 dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan
dan paling lama 6 (enam) bulan dan atau denda paling sedikit
Rp.1.000.000,-(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.5.000.000,-(lima
juta rupiah).
2. Ternak ruminansia besar betina produktif sebagaimana dimaksud dalam
pasal 18 ayat 2 dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 3 (tiga)
bulan dan paling lama 9 (Sembilan) bulan dan atau denda paling sedkit
Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp.25.000.000,-(dua
puluh lima juta rupiah).

Ketentuan Pidana pada Undang-Undang No. 41 Tahun 2014 pasal 86 sebagai


berikut :
Setiap orang yang menyembelih:
a. Ternak ruminansia kecil betina produktif sebagaimana dimaksud dalam
Pasal18 ayat (4) dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu)
bulan dan paling lama 6 (enam)bulan dan denda paling sedikit
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000,00 (lima
juta rupiah); atau
b. Ternak ruminansia besar betina produktif sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah).

Berdasarkan UU No. 41 tahun 2014 pasal 18 ayat 5, Larangan sebagaimana


dimaksud pada ayat (4) peraturan diatas dikecualikan dalam hal pemotongan sapi
betina produktif itu digunakan untuk :
a. penelitian;
b. pemuliaan;
c. pengendalian dan penanggulangan Penyakit Hewan;
d. ketentuan agama;
e. ketentuan adat istiadat; dan/atau
f. pengakhiran penderitaan Hewan

D. Usaha Pencegahan Pemotongan Sapi Betina Produktif


Usaha yang dilakukan pemerintah di daerah dalam mengendalikan
pemotongan betina produktif adalah melakukan sosialisasi (pemberian informasi
dan edukasi kepada jagal / pelaku pemotongan di RPH, petugas keurmaster dan
dokter hewan di RPH ; pemasangan spanduk/papan pengumuman larangan
pemotongan sapi betina produktif di tempat-tempat strategis termasuk RPH),
intensifikasi pemeriksaan sapi yang akan dipotong, pembinaan terhadap RPH
yang rawan pemotongan sapi betina produktif, bekerjasama dengan kelompok
penyelamatan sapi betina produktif, meningkatkan pengawasan lalu lintas
hewan/ternak , dan melaksanakan program kegiatan intensif dan penyelamatan
betina produktif dari pemerintah pusat.
KESIMPULAN

Dasar Hukum Larangan Pemotongan Sapi Betina Produktif adalah


Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
pasal 18ayat (2), atau Undang-Undang No. 41 Tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan
Hewan pasal 18 ayat (4).

Referensi

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan


Dan Kesehatan Hewan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Perubahan


Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2oo9 Tentang Peternakan Dan
Kesehatan Hewan.

Inovasi Teknologi Ternak dan Veteriner. Badan Penelitian dan Perkembangan Pertanian

http://disnak.pamekasankab.go.id/index.php/berita/117-sosialisasi-larangan-
pemotongan-sapi-betina-produktif. diakses pada tanggal 7 April 2016.

http://pertanian.magelangkota.go.id/informasi/artikel-pertanian/95-larangan-
pemotongan-sapi-betina-produktif. diakses pada tanggal 7 April 2016.
TUGAS INDIVIDU (kedua)
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN/KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESMAVET

R AB I E S

OLEH :

ARISMAN
I111 13 503

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
PENDAHULUAN

Indonesia bukanlah negara yang bebas dari penyakit Rabies, terbukti

dengan adanya korban meninggal yang terinfeksi oleh penyakit ini di beberapa

Rumah Sakit di Indonesia. Salah satunya adalah provinsi Bali yang telah dklaim

bebas rabies justru telah banyak korban berjatuhan baik yang suspect maupun

yang telah positif terjangkit virus rabies.

Penyakit Anjing Gila atau Rabies adalah penyakit hewan menular yang

bersifat akut dan menyerang susunan syaraf pusat, disebabkan oleh Rabies virus

dari family Rhabdoviridae dapat menyerang semua makhluk hidup yang berdarah

panas, termasuk manusia. Penyakit ini ditularkan oleh kelompok hewan penular

Rabies (HPR) yang dapat membawa dan menularkan virus Rabies, yaitu anjing,

kucing, kera dan hewan sebangsanya.

Rabies merupakan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan II

berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009

tentang Penggolongan Jenis-Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina,

Penggolongan Dan Klasifikasi Media Pembawa. Penyakit ini perlu dicegah

masuk, tersebar dan keluarnya dengan menerapkan pelaksanaan tindakan

karantina hewan secara optimal..


PEMBAHASAN

A. Pengertian Rabies

Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No.


87/Kpts/Kr.120/L/1/2016 Tentang Petunjuk Teknis Tindakan Karantina Hewan
Terhadap Hewan Penular Rabies bahwa Penyakit Anjing Gila yang selanjutnya
disebut Rabies adalah penyakit hewan menular yang bersifat akut dan menyerang
susunan syaraf pusat, disebabkan oleh Rabies virus dari family Rhabdoviridae
yang dapat menyerang semua makhluk hidup yang berdarah panas, termasuk
manusia.
Hewan yang rentan dengan virus rabies ini adalah hewan berdarah panas.
Penyakit rabies secara alami terdapat pada bangsa kucing, anjing, kelelawar, kera
dan karnivora liar lainnya.
Rabies merupakan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan II
berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009
tentang Penggolongan Jenis-Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina,
Penggolongan Dan Klasifikasi Media Pembawa. Penyakit ini perlu dicegah
masuk, tersebar dan keluarnya dengan menerapkan pelaksanaan tindakan
karantina hewan secara optimal.
Penyakit rabies merupakan penyakit Zoonosa yang sangat berbahaya dan
ditakuti karena bila telah menyerang manusia atau hewan akan selau berakhir
dengan kematian. Mengingat akan bahaya dan keganasan terhadap kesehatan dan
ketentraman hidup masyarakat, maka usaha pencegahan dan pemberantasan
penyakit ini perlu dilaksanakan secara intensif.
B. Penyebab Rabies
Penyebab rabies adalah virus rabies yang termasuk family Rhabdovirus.
Bentuknya menyerupai peluru yang berukuran 180 nm dengan panjang 75 nm,
dan pada permukaannya terlihat struktur seperti paku dengan panjang 9 nm. Virus
ini tersusun dari Protein, lemak, RNA dan karbohidrat. Virus rabies tidak dapat
bertahan lama di luar jaringan hidup. Virus mudah mati oleh sinar matahari dan
sinar ultraviolet. Dengan pemanasan 60 derajat Selsius selama 5 menit, virus
rabies akan mati. Virus ini tahan terhadap suhu dingin, bahkan dapat bertaha
beberapa bulan pada suhu -40 Celsius.
Pada suhu kamar, virus dapat bertahan hidup selama beberapa minggu
pada larutan gliserin pekat. Bila konsentrasi gliserinnya hanya 10%. Maka virus
akan cepat mati. Virus tidak akan bertahan hidup lama pada pelarut lemak seperti
air sabun, detergen, kloroform, atau eter.
Secara patogenesis, setelah virus rabies masuk lewat gigitan, selama 2
minggu virus akan tetap tinggal pada tempat masuk dan disekitrnya. Kemudian,
virus akan bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterios tanpa
menunjukan perubahan-perubahan fungsinya. Sesampainya di otak, virus akan
memperbanyak diri dan menyebar luas dalam semua bagian neuron-neuron,
terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel sistem limbic,
hipotalamus dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron
sentral, virus kemudian bergerak kea rah perifer dalam serabut saraf eferen,
volunteer dan otonom. Dengan demikian virus ini menyerang hamper tiap organ
dan jaringan di dalam tubuh dan berkembang biak dalam jaringan-jaringab seperti
kelenjar ludah, ginjal, dan sebagainya.
C. Hewan Pembawa Rabies
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor :
87/Kpts/Kr.120/L/1/2016 bahwa Hewan Penular Rabies yang selanjutnya disebut
HPR adalah hewan yang dapat membawa dan menularkan virus Rabies, yaitu
anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya..
Hewan sebangsanya adalah semua hewan dan/atau satwa liar jenis
carnivora dan/atau jenis kera/primata yang dapat bertindak sebagai pembawa
penyakit Rabies, tertular Rabies serta menularkan Rabies.
HPR Organik adalah HPR yang dilatih dan dipelihara secara intensif guna
membantu tugas-tugas kedinasan milik Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian
Republik Indonesia, milik instansi pemerintah lainnya antara lain Bea Cukai dan
Badan Karantina Pertanian.
D. Gejala Rabies
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi,
tetapi masa inkubasinya sangat bervariasi dari 10 hari sampai 1 tahun. Pada 20%
penderita, rabies dimulai dengan kelumpuhan pada tungkai bawah yang menjalar
ke seluruh tubuh. Tetapi penyakit ini biasanya dimulai dengan periode yang
pendek dari depresi mental, keresahan, tidak enak badan, dan demam. Keresahan
akan meningkat menjadi kegembiraan yang tak terkendali dan penderita akan
mengeluarkan air liur. Kejang otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebabkan
rasa sakit yang luar biasa. Kejang ini terjadi akibat adanya gangguan pada daerah
otot yang mengatur proses menelan dan pernafasan. Angin sepoi-sepoi dan
mencoba minum air bisa menyebabkan kekejangan ini. Oleh karena itu penderita
rabies tidak dapat minum. Karena hal inilah, maka penyakit ini kadang-kadang
juga disebut hidrofobia (takut air).
Pada salah satu sumber menyebutkan beberapa ciri-ciri dari korban yang
telah terinfeksi virus rabies diamana korban tersebut akhirnya meninggal akibat
terlambat mendapat pertolongan, yaitu :
a. Keluar keringat yang deras
b. Dada sakit seperti tertusuk-tusuk dan sakit
c. Sesak nafas
Beberapa minggu setelah digigit anjing, korban akan takut air dan angin
namun sering menggigil dan kehausan. (Bali Post,2009).
E. Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan
Gejala penyakit dikenal dalam 3 bentuk :
a. Bentuk ganas (Furious Rabies)
Masa eksitasi panjang, kebanyakan akan mati dalam 2-5 hari setelah
tanda-tanda terlihat.
Tanda-tanda yang sering terlihat :
- Hewan menjadi penakut atau menjadi galak
- Senang bersembunyi di tempat-tempat yang dingin, gelap dan
menyendiri tetapi dapat menjadi agresi
- Tidak menurut perintah majikannya
- Nafsu makan hilang
- Air liur meleleh tak terkendali
- Hewan akan menyerang benda yang ada disekitarnya dan memakan
barang, benda-benda asing seperti batu, kayu dsb.
- Menyerang dan menggigit barabg bergerak apa saja yang dijumpai
- Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan
- Ekor diantara 2 (dua)paha
b. Bentuk diam (Dumb Rabies)
Masa eksitasi pendek, paralisa cepat terjadi.
Tanda-tanda yang sering terlihat :
- Bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk
- Kejang-kejang berlangsung sangat singkat, bahkan sering tidak terlihat
- Lumpuh, tidak dapat menelan, mulut terbuka
- Air liur keluar terus menerus (berlebihan)
- Mati
c. Bentuk Asystomatis
Hewan tidak menunjukan gejala sakit, hewan tiba-tiba mati.

F. Situasi Rabies di Indonesia


Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor :
87/Kpts/Kr.120/L/1/2016
a. Daftar Area Bebas Rabies tanpa Vaksinasi:
1) Provinsi Kepulauan Riau
2) Provinsi Bangka Belitung;
3) Provinsi Papua;
4) Provinsi Papua Barat; dan
5) Provinsi Nusa Tenggara Barat.
b. Daftar Area Bebas Rabies dengan Vaksinasi:
1) Provinsi DKI Jakarta;
2) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;
3) Provinsi Jawa Tengah; dan
4) Provinsi Jawa Timur;
c. Daftar Area Tertular Rabies:
1) Seluruh Provinsi di Pulau Sumatera;
2) Seluruh Provinsi di Pulau Sulawesi dan Maluku; dan
3) Seluruh Provinsi di Pulau Kalimantan.
d. Daftar Area Wabah Rabies:
1) Provinsi Bali;
2) Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kecuali daratan Kupang yang
bebas); dan
3) Pulau Nias
G. Tindakan Karantina Hewan Terhadap Pemasukan HPR Ke Dalam
Wilayah Negara Republik Indonesia
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor :
87/Kpts/Kr.120/L/1/2016. Petugas karantina hewan melakukan tindakan karantina
hewan penolakan terhadap HPR apabila:
a) berasal dari Negara bebas Rabies dengan vaksinasi ke area bebas Rabies
dengan tidak menerapkan vaksinasi;
b) berasal dari Negara tertular Rabies ke area bebas Rabies dengan tidak
menerapkan vaksinasi; atau
c) Area tujuan merupakan kawasan karantina.
Tindakan Karantina Hewan Terhadap HPR
a. Tindakan Karantina Hewan meliputi:
1) pemeriksaan;
2) pengasingan;
3) pengamatan;
4) perlakuan;
5) penahanan;
6) penolakan;
7) pemusnahan; dan/atau
8) pembebasan.
b. Tindakan karantina hewan dilakukan oleh petugas karantina hewan di
tempat pemasukan ataupun di dalam instalasi karantina hewan milik
pemerintah.

H. Tindakan Karantina Hewan Terhadap Pemasukan Dan Pengeluaran


Hpr Di Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor :
87/Kpts/Kr.120/L/1/2016, bahwa :
Tindakan Karantina Hewan
Petugas karantina hewan memeriksa pengeluaran dan pemasukan HPR
antar area di dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang memenuhi
peryaratan sebagai berikut:
a. dilengkapi dengan Sertifikat Veteriner yang diterbitkan oleh dokter
hewan berwenang di daerah asal;
b. dilengkapi dengan Sertifikat Kesehatan Hewan yang diterbitkan oleh
Dokter Hewan Karantina di tempat pengeluaran;
c. dilengkapi dengan buku vaksin, bagi HPR yang berasal dari area bebas
Rabies dengan menerapkan vaksinasi dan area tertular Rabies;
d. melalui tempat pengeluaran dan pemasukan yang ditetapkan; dan
e. dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat
pengeluaran dan pemasukan untuk dilakukan tindakan karantina.
KESIMPULAN

Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No.


87/Kpts/Kr.120/L/1/2016 Tentang Petunjuk Teknis Tindakan Karantina Hewan
Terhadap Hewan Penular Rabies bahwa Penyakit Anjing Gila yang selanjutnya
disebut Rabies adalah penyakit hewan menular yang bersifat akut dan menyerang
susunan syaraf pusat, disebabkan oleh Rabies virus dari family Rhabdoviridae
yang dapat menyerang semua makhluk hidup yang berdarah panas, termasuk
manusia.

Referensi

Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 87/Kpts/Kr.120/L/1/2016


Tentang Petunjuk Teknis Tindakan Karantina Hewan Terhadap Hewan
Penular Rabies.

http://akurniaaa.blogspot.co.id/2014/04/makalah-rabies.html . diakses
pada tanggal 8 April 2016

http://ayonktrisna.blogspot.co.id/2010/10/makalah-rabies.html. diakses pada


tanggal 8 April 2016