Anda di halaman 1dari 4

Misi dibalik Ambisi

Surga yang tak terindahkan merupakan satu ungkapan yang


layak dijadikan cermnan terhadap apa yang kita hadapi saat ini.
Indahnya Islam sebagai petunjuk kehidupan agaknya sudah terodai
dengan adanya berbagai kecaman. Sulit digambarkan memanglah
demikian. Bagaimana bisa agama yang disebut-sebut sebagai benteng
spiritualitas kini semakin dipandang sebelah mata oleh manusia.
bahkan lebih mirisnya lagikini Islam cenderung dihindari tanpa adanya
klarifikasi terhaap nilai agama sendiri secara ontologis. Islam yang
disebut-sebut sebagai rahmatan lil alamin baru-baru ini danggap
sebagai sesuatu yang kontroversional. Bukan hanya itu, dalam dekade
ini keberadaan muslim seolah dikecam, dihindari, bahkan dianggap
sebagai oknum penyebab munculnya teror di berbagai belahan bumi.
Masyarakat seolah menorehkan catatan merah kepada pemeluk Islam.
muslimah yang mengenakan hijab seolah dicap sebagai teroris yang
sangat perlu diwaspadai. Kebutuhan seorang muslim untuk
melaksanakan kewajiban ibadah sebagaimana perintah Tuhannya
menjadi suatu perkara yang harus dijaga ketat kaerena dikhawatirkan
akan menimbulkan kerusuhan.

Masyaallah ini agama, ini cahaya mengapa dijadikan sumber


malapetaka. Mengapa mereka yang jelas-jelas melanggar peraturan
kepemerintahan yang sah justru dibiarkan berkeliaran. Mereka yang
jelas-jelas meluluhlantahkan hak rakyat untuk kepentingan pribadi
dibiarkan senang-senang sendiri tanpa adanya ganjaran yang sesuai
dengan apa yang telah diperbuatnya. Justru yang hanya ingin hidup
tenang damai sesuai perintah ilahi dikecam, diawasi, seolah mereka
adalah tersangka kasus pembunuhan yang hendak melarikan diri
padahal mereka sama sekali tak berniat mencelakai.
Berbagai macam aksi teror baru-baru ini memang sangat
menggemparkan penduduk bumi. Tak hanya aksi lokal seperti halnya
bom Bali, tapi kini pengeboman kelas dunia menjadi hal yang lazim.
Lebih parahnya lagi mereka tak pandang bulu dalam beraksi. Tak
tanggung-tanggung salah satu negara adikuasa, Amerika Serikat
tercatat sebagai salah satu korban aksi teror yang begitu mencekam.
Seolah menyisakan trauma tersendiri bagi penduduk Amerika sendiri.
Aksi teror 11 september sudah bukan rahasia Ilahi. Pengeboman
gedung kembar WTC di Amerika menjadi titik balik semua. Ribuan
nyawa menjadi korban, jutaan barang berharga luluh lanta, entah
berapa dolar kerugiannya. Sejak saat itu, Islam di Amerika dianggap
sebagai petaka. Se;uruh pemeluknya dipandang sebagai teroris.
Posoisi Amerika yang memegang peranan begitu kuat dalam
akomodasi dunia menyebabkan Islam sejak adanya peristiwa 11
september tersebut menjadi sangat buruk di mata dunia. Berbagai
negara mengecam keberadaan muslim. Pemeluk Islam erat kaitannya
dengan terorisme, pemakai jilbab terlihat seperti monster, apapun
yang berkaitan dengan Islam seolah bertitle garis merah.

Keadaan yang seperti demikian tentu mempersulit bagi seorang


muslim untuk menjalankan kewajibannya dalam berupaya menjadi
hamba yang senantiasa taat kepada Tuhannya. Agama islam sendiri
mensyariatkan kepada pemeluknya untuk memelihara diri serta
tunduk dan patuh akan perintah Tuhannya. Saalah satu bentuk
pemeliharaannya dengan cara menutup aurat. Ya bagi seorang
musliamh mengenakan hijab memang sudah menjadi kewajiban.
Namun dalam hal ini, muslimah yang hidup di negara-negara sekuler
cenderung kesusahan mengamalkannya. Banyak kantor-kantor,
sekolah, sekolah, perguruan tinggi, ataupun lembaga lain yang
melarang pemakaian hijab bagi seorang wanita. Mereka lebih memilih
mengeluarkan muslimah dari daftar keanggotaan lembaga jika tetap
bersikeras mengenakan hijab. Tidak hanya itu, pelaksanaan ibadah
yang sudah sepatutnya tak dapat ditinggalkan oleh seorang muslim
menjadi terhambat akibat larangan-larangan beribadah.

Memang benar adanya jika peristiwa 11 september menyipan


tanda tanya besar. Bagaimana tidak, jika dengan adanya kecaman dari
berbagai arah justru setiap tahunnya lebih dari 25 ribu orang menjadi
pemeluk Islam. apakah mereka tak takut dicap sebagai teroris? Apakah
mereka tak takut akan mengalami hal yang sama dengan muslim-
muslim lainnya. 11 september seolah menyimpan misteri besar di
Amerika. Ternyata ini yang menjadi garis bawah jawabannya. Usai
pengeboman gedung kembar WTC, di tengah maraaknya islam adalah
teroris, ribuan penduduk dunia semakin merasa penasaran akan Islam
sendiri. dengan demikian merek berbondong-bondong mencari tahu
tentang Islam, konsep Islam sebagai rahmatan lil alamin memang
benar adanya. Dengan mengetahui Islam secara mendalam, mereka
mengenal Islam bukanlah teroris tapi Islam adalah agama rahmat,
penyebar kedamaian. Bukan pencetus kerusuhan. Sehingga yang
terjadi mereka menyatakan diri untuk memeluk Islam. seolah tak
menghairaukan berbagai kecaman yang ada dihalangi seperti apapun
mereka tetap mengucapkan syahadat dan berusaha menjadi muslim
sejati.

Sudah bukan waktunya lagi kita menyebut diri sendiri sebagai


pembela agama Allah jika pada kenyataannya yang kita lakukan
adalah mengeluarkan bom bunuh diri. Jihad fii sabilillah. Di era
semacam ni dapat kita wujudkan dengan cara menebar kebaikan dan
perdamaian. Perkembangan zaman dari masa ke masa memang tak
mungkin dapat dibendung layaknya aliran air. Sehingga zaman yang
dihadapi Islampun berbeda antara zaman dahulu dengan saat ini. jihad
sebagaimana yang dilakukan rasulullah dalam menyebarkan syiar
Islam ialah memerangi kaum-kaum yang membangkang perintah
rasulullah. Itupun Allah juga memerintahkan kepada rasulullah untuk
memerangi mereka yang meninggikan pedang dengan maksud
mengajak berperang kepada kaum musliam. Sedangkan jika yang
terjadi sebaliknya, jika mereka dalam menerima dakwah Islam tidak
menerima dakwah rasulullah tapi mereka memilih berdamai Allah
melarang untuk memerangi mereka. Dalam ayat alin Allah juga
memerintahkan rasulullah serta kaum muslim untuk berperang dengan
catatan tidak berlebih-lebihan.

Hal tersebut bukanlah hambatan. Islam adalah agama yang


moderat. Keadilan sebagai salah satu ajarannya agaknya juga menjadi
harga pas yang tak dapaat ditawar dengan kecurangan-kecurangan
apalagi dengan jalan membinasakan pihak lain demi kehendak pribadi.
Dengan demikian Islam yang toleran akan perkembangan zaman,
Islam yang sesuai dengan kehidupan pemeluknya sudah bukan hal
yang baru lagi. Maka sangatlah naif mereka yang mengaku berjihad di
jalan Allah tapi secara faktual mereka tetaplah berambisi
memenangkan egoisme pribadi. Demi kepentingan politisi
mengatasnamakan agama Ilahi. Sungguh bukanlah tidakan yang
terpuji.